PERAN PENGEMBANG KURIKULUM SEKOLAH



Pengembangan kurikulum? Kurikulum? Kurikulum 2013? Kurikulum 13? Implementasi kurikulum 2013? Isi kurikulum 2013? Landasan pengembangan kurikulum? peranan kepala sekolah, guru, dan masyarakat dalam penegmbangan kurikulum? Bagaimana peranan komite sekolah dan masyarakat dalam penegmbangan kurikulum?



BAB I

PENDAHULUAN


1.1          Latar Belakang Masalah

Kurikulum memegang peranan penting dalam pendidikan, sebab berkaitan dengaan penentuan arah, isi dan proses pendidikan yangg pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Seiring dengaan perkembangan zaman dan tuntutan darii masyarakat, maka dunia pendidikan harus melakukan inovasi dalam pendidikan. Sebagai salah satu komponen dalam sistem pendidikan, pengembangan kurikulum memiliki peranan-peranan penting.
Perubahan kebijakan pengelolaan pendidikan darii sentralistik menjadi desentralistik, semarak sekaligus menjadi kompleks. Apabila pada awalnya dunia  persekolahan terkesan sebatas dunia pemerintah (kepala sekolah dan guru), sekarang menjadi dunia yangg demikian terbuka dan sekolah dapatt mengembangkan kurikulum yangg tepat bagi sekolahnya masing-masing sehingga  menjadikan banyak pihak dapatt terlibat. Dalam kondisi seperti ini, persoalan kurikulum tidak semata urusan sekolah (kepala sekolah dan guru), melainkan pula menjadi urusan banyak pihak lainnya seperti orang tua murid dan masyarakat. Artinya pengembangan sebuah kurikulum sekolah melibatkan berbagai pihak dengaan perannya masing-masing. Pihak-pihak yangg terlibat dalam pengembangan kurikulum ini sangat penting bagi terciptanya kurikulum yangg sesuai dengaan kebutuhan belajar siswa. Pihak tersebut diantaranya para administrator pendidikan, para ahli, kepala sekolah, guru, komite sekolah, orang tua murid dan masyarakat.
Dalam makalah ini penulis akan mengkaji peran pengembangan kurikulum sekolah yangg melibatkan berbagai pihak-pihak diatas.

1.2          Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, ada beberapa rumusan masalah yangg akan dibahas dalam makalah ini, diantaranya yaitu :
1)       Bagaimana peran pengembangan kurikulum sekolah ?
2)       Bagaimana peranan kepala sekolah, guru, dan masyarakat dalam penegmbangan kurikulum?
3)       Bagaimana peranan komite sekolah dan masyarakat dalam penegmbangan kurikulum?

1.3          Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dalam makalah ini meliputi :
1)       Untukk menjelaskan peran pengembangan kurikulum sekolah.
2)       Untukk menjelaskan peranan kepala sekolah, guru, dan masyarakat dalam penegmbangan kurikulum.
3)       Untukk memahami peranan komite sekolah dan masyarakat dalam penegmbangan kurikulum.



BAB II

PERAN PENGEMBANG KURIKULUM


Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 69 (2013) Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah menyatakan bahwa struktur kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah merupakan pengorganisasian kompetensi inti, mata pelajaran, beban belajar dan kompetensi dasar pada setiap Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.
Sebagai salah satu komponen dalam sistem pendidikan, menurut Oemar Hamalik (2011) kurikulum memiliki tiga peran, yaitu peran konservatif, peranan kreatif, serta peran kritis dan evaluatif :

1)         Peran Konservatif

Salah satu tugas dan tanggung jawab sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan ialah mewariskan nilai-nilai dan budaya masyarakat kepada generasi muda yakni siswa. Siswa perlu memahami dan menyadarii norma-norma dan pandangan hidup masyarakatnya, sehingga ketika mereka kembali ke masyarakat, mereka dapatt menjunjung tinggi dan berperilaku sesuai dengaan norma-norma tersebut.
Peran konservatif kurikulum ialah melestarikan berbagai nilai budaya sebagai warisan masa lalu. Dikaitkan dengaan era globalisasi sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, yangg memungkinkan mudahnya pengaruh budaya asing menggerogoti budaya lokal, maka peran konservatif dalam kurikulum memiliki arti yangg sangat penting. Melalui peran konservatifnya, kurikulum berperan dalam menangkal berbagai pengaruh yangg dapatt merusak nilai-nilai luhur masyarakat, sehingga keajegan dan identitas masyarakat akan terpelihara dengaan baik.

2)         Peran Kreatif

Tugas dan tanggung jawab sekolah tidak hanya sebatas mewariskan nilai-nilai lama. Sekolah memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan hal-hal baru sesuai dengaan tuntutan zaman. Sebab pada kenyataannya masyarakat tidak bersifat statis, akan tetapi dinamis yangg selalu mengalami perubahan. Dalam rangka inilah kurikulum memiliki peran kreatif. Kurikulum harus mampu menjawab setiap tantangan sesuai dengaan perkembangan dan kebutuhan masyarakat yangg cepat berubah.
Dalam peran kreatifnya, kurikulum harus mengandung hal-hal baru sehingga dapatt membantu siswa untukk dapatt mengembangakan setiap potensi yangg dimilikinya agar dapatt berperan aktif dalam kehidupan social masyarakat yangg senantiasa bergerak maju secara dinamis. Kurikulum harus berperan kreatif, sebab manakala kurikulum tidak mengandung unsur-unsur baru maka pendidikan selamanya akan tertinggal, yangg berarti apa yangg diberikan di sekolah pada akhirnya akan kurang bermakna, karena tidak relevan lagi dengaan kebutuhan dan tuntutan sosial masyarakat.

3)         Peran Kritis dan Evaluatif

Kurikulum harus berperan dalam menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu yangg dianggap bermanfaat untukk kehidupan anak didik. Dengaan ini, masyarakat menjadi salah satu pengguna jasa pendidikan yangg menaruh harapan besar terhadap sekolah untukk dapatt mengangkat derajat mereka pada tempat yangg lebih baik karena sekolah menjadikan masyarakat sebagai manusia terdidik. Dalam buku Oemar Hamalik, Berdasarkan studi yangg dilakukan oleh banyak ahli dapatt disimpulkan bahwa pengertian kurikulum dapatt ditinjau darii dua sisi yangg berbeda, yakni menurut pandangan lama dan pandangan baru.
Menurut pandangan lama kurikulum ialah sejumlah mata pelajaran yangg harus ditempuh murid untukk memperoleh ijazah. Sedangkan menurut pandangan baru kurikulum bukan hanya terdiri atas mata pelajaran tetapi meliputi semua kegiatan dan pengalaman yangg menjadi tanggung jawab sekolah.
Kurikulum merupakan salah satu konsep sistematis yangg disusun untukk mencapai satu tujuan pendidikan. Akan tetapi, Di dalam kelas, kurikulum ialah benda hidup yangg dinamis, karena seorang guru harus menerjemahkan kurikulum itu dalam bentuk interaksi hidup antara guru dan siswa.
Pengembangan kurikulum ialah proses perencanaan kurikulum agar menghasilkan rencana kurikulum yangg luas dan spesifik.[1] Pengembangan kurikulum dilihat darii segi Pengelolaannya dapatt dibedakan menjadi beberapa bagian, seperti Sentralisasi dan desentralisasi.[2] Sentralisasi ialah kurikulum yangg disusun oleh tim khusus di tingkat pusat. Sedangkan, desentralisasi ialah kurikulum yangg disusun oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau daerah. Jadi, dalam pengembangan kurikulum desentralisasi, sekolah mempunyai peran penting untukk mengembangkan dan melaksanakan kurikulum agar sesuai dengaan kebutuhan dan perkembangan anak dalam masyarakat, yangg tentu memerlukan peserta lain diantaranya ialah kepala sekolah, guru dan komite sekolah.
Mereka berperan sebagai unsur yangg setiap hari terlibat dalam kurikulum.


2. 1         Peranan administrator pendidikan dalam Pengembangan Kurikulum

Dalam buku Nana Syaodih Sukmadinata, Para administrator pendidikan terdiri atas: direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala kantor wilayah, kepala kantor kabupaten dan kecamatan serta kepala sekolah. Peranan para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum ialah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun dasar serta program inti kurikulum. Kerangka dasar dan progam inti akan menentukan minimum course yangg dituntut.
Administrator tingkat pusat bekerja sama dengaan para ahli pendidikan dan ahli bidang studi di Perguruan Tinggi serta meminta persetujuannya terutama dalam penyusunan kurikulum sekolah. Atas dasar kerangka dasar dan program inti tersebut para administrator daerah (kepala kantor wilayah) dan administrator lokal (kabupaten, kecamatan, dan kepala sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yangg sesuai dengaan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam memmbuat operasionalisasi system pendidikan pada masing-masing sekolah para kepala ini sesungguhnya  yangg secara terus menerus terliabat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru. Walaupun guru dapatt mengembangkan kurikulum sendiri, tetapi dalam pelaksanaannya sering harus didorong dan di bantu oleh para administrator.
Administrator lokal harus bekerja sama dengaan kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yangg sesuai dengaan kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan sistem pendidikan kepada masyarakat, serta mendorong pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru dikelas.

2. 2         Peranan para ahli dalam Pengembangan Kurikulum

Mengacu kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan yangg ditetapkan pemerintah, baik kebijaksanaan secara umum maupun pembangunan pendidikan, perkembangan tuntutan masyarakat dan masukan-masukan darii pelaksananan pendidikan dan kurikulum yangg sedang berjalan, para ahli pendidikan dan kurikulum memberikan alternative konsep pendidikan dan model kurikulum yangg dipandang paling sesuai dengaan keadaan dan tuntutan diatas. Pengembangan kurikulum bukan hanya sekedar memilih dan menyusun bahan pelajaran dan metode mangajar, tetapi menyanggkut penentuan arah dan orientasi pendidikan, pemilihan system dan model kurikulum, baik model konsep, model desain, model pembelajaran, model media, model pengelolaan maupun model evaluasinya serta berbagai perangkat dan pedoman pembelajaran serta pedoman implementasi darii model-model tersebut.[3]
Partisipasi para ahli pendidikan dan ahli kurikulum terutama sangat dibutuhkan dalam pengembangan kurikulum pada tingkat pusat. Apabila pengembangan kurikulum sudah banyak dilakukan pada tingkat daerah atau local, maka partisipasi mereka pada tiingkat daerah lokalbahkan sekolah juga sangat diperlukan, sebab apa yangg dipahami oleh para pengembang dan pelaksana kurikulum di daerah.
Pengembangan kurikulum juga membutuhkan partisipasi para ahli bidang studi/bidang ilmu yangg juga mempunyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat. Sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu, yangg mutakhir dan sesuai dengaan perkembangan kebutuhan masyarakat sangat diperlukan. Mereka juga sangat diharapkan partisipasinya dalam menyusun materi ajaran yangg sesuai dengaan struktur keilmuan akan tetapi sangat memudahkan para siswa untukk mempelajarinya.


2. 3         Peranan Kepala Sekolah dalam Pengembangan Kurikulum

Kepala sekolah merupakan tokoh kunci dalam manajemen sekolah. Para kepala sekolah mempunyai wewenang dalam membuat operasionalisasi sistem pada masing-masing sekolah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya yangg secara terus menerus terlibat dalam pengembangan dan implementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru. Peranan kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengaan implementasi kurikulum disekolahnya. Kepala sekolah juga mempunyai peranan penting dalam menciptakan kondisi untukk pengembangan kurikulum di sekolahnya.
Secara umum, peran dan fungsi kepala sekolah ialah sebagai berikut.
Pertama, peran sebagai manajer. Sebagai manajer mengkepala sekolah bertanggung jawab atas manajemen sekolah. Kepala sekolah mengkordinasikan kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin, dan mengendalikan segenap usaha pencapaian tujuan pendidikan.
Dalam aspek perencanaan, kepala sekolah merupakan pelaku yangg selalu terlibat bahkan sering menjadi tumpuan dalam kegiatan perencanaan dan pengembangan kurikulum. Dalam aspek pengorganisasian, kepala sekolah mengorganisasikan unsur–unsur,baik unsur manusia maupun unsur nonmanusia.
Dalam aspek pelaksanaan, kepala sekolah juga sebagai pelaksana lapangan. Ia ialah orang yangg mengkordinasikan pengembangan kurikulum, dan sekaligus menerjadikan atau menerapkan kurikulum. Kepala sekolah bertugas sebagai pemimpin dan berperan sebagai penanggung jawab atas pengembangan kurikulum.
Kedua, Peran sebagai Inovator, Sebagai tokoh penting di sekolah, kepala sekolah harus mampu melahirkan ide – ide baru yangg kreatif. Pengembangan kurikulum sering kali bermula darii gagasan kepala sekolah. Kepala sekolah harus mampu menghadirkan insiparsi dan ide pembaharuan, sehingga program sekolah (kurikulum) yangg dijalankan senantiasa actual/ mutakhir.
Ketiga, peran sebagai fasilitator, dalam pengembangan kurikulum, pelaksana teknis pengembangan biasanya tidak langsung oleh kepala sekolah, melainkan oleh tim khusus yangg ditunjuk. Namun demikian, kepala sekolah terus melakukan komunikasi dengaan tim itu dan memfasilitasinya untukk mengatasi berbagai persoalan yangg muncul.
Kepala sekolah mempunyai kedudukan strategis dalam pengembangan kurikulum. Sebagai pemimpin professional, ia menerjemahkan perubahan masyarakat dan kebudayaan, termasuk generasi muda, ke dalam kurikulum. Dialah tokoh utama yangg mendorong guru agar senantiasa melakukan upaya – upaya pengembangan, baik bagi diri guru maupun tugas keguruannya.
Masih banyak pihak lain selain kepala sekolah yangg dapatt membantu pengembangan kurikulum. Namun demikian, kepala sekolah dan guru merupakan pemeran utama yangg perlu menerima, mempertimbangkan, dan memutuskan apa yangg akan dimasukkan dalam kurikulum sekolah.[4]

2. 4         Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum

Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (1997: 198) Dilihat darii segi pengelolaannya, pengembangan kurikulum dapatt dibedakan antara yangg bersifat sentralisasi, desentralisasi, dan sentral-desentral. Dalam pengembangan kurikulum yangg bersifat sentralisasi, kurikulum disusun oleh sesuatu tim khusus ditingkat pusat. Kurikulum bersifat uniform untukk seluluh negara, daerah, atau jenjang/jenis sekolah.
Di indonesia dewasa ini terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, digunakan model ini. Kurikulum untukk sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah menengah umum, dan sekolah menengah kejuruan, pada prinsipnya sejajar. Pengembangan kurikulum tersebut sudah tentu memiliki tujuan dan latar belakang tertentu yangg sangat mendesak dan mendasar.
Tujuan utama pengembangan kurikulum yangg uniform ini ialah untukk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa serta memberikan standar penguasaan yangg sama bagi seluruh wilayah.
Nana Syaodih Sukmadinata (1997 : 200) dalam bukunya yangg berjudul “Pengembangan Kurikulum teori dan praktek” menyatakan bahwa peran guru dalam pengembangan kurikulum terbagi menjadi 2, yaitu:
1.       Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yangg bersifat sentralisasi.
Dalam kurikulum yangg bersifat sentralisasi, guru tidak mempunyai peranan dalam perancangan, dan evaluasi kurikulm yangg bersifat makro, mereka lebih berperan dalam kurikulum mikro. Kurikulummakro disusun oleh tim atau komisi khusus yangg terdiri atas para ahli. Penyusunan kurikulum mikro dijabarkan darii kurikulum makro. Guru menyusun kurikulum dalam bidangnya untukk jangka waktu satu tahun, satu semester, satu catur wulan, beberapa minggu atau beberapa hari saja. kurikulum untukk satu tahun, satu semester, atau satu catur wulan disebut juga program tahunan, semesteran, catur wulanan, sedangkan kurikulum untukk beberapa minggu atau hari disebut satuan pelajaran. Program tahunan, semesteran, catur wulanan ataupun satuan pelajaran memiliki komponen komponen yangg sama yaitu tujuan, bahan pelajaran, metodedan media pembelajaran, dan evaluasi, hanya keluasan dan kedalamannya berbeda-beda.
Menjadi tugas gurulah menyusun dan merumuskan tujuan yangg tepat, memilih dan menyusun bahan pelajaran yangg sesuai kebutuhan, minat dan tahap perkembangan anak,memiliki metode dan media mengajar yangg bervariasi, serta menyusun program dan alat evaluasi yangg tepat.  Suatu kurikulum yangg tersusun sistematis dan rinci akan sangat memudahkan guru dalam implementasinya. Walaupun kurikulum sudah tersusun dengaan berstruktur, tetapi guru masih memepunyaitugas untukk mengadakan penyempurnaan dan penyesuaian-penyesuaian.
Implementasi kurikulum hampir seluruhnya bergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan dan ketekunan guru. Guru hendaknya mampu memilih dan menciptakan situai-situasi belajar yangg menggairahkan siswa, mampu memilih dan melaksanakan metode mengajar yangg sesuai dengaan kemampuan siswa, bahan pelajaran dan banyak mengaktifkan siswa. Guru hendaknya mampu memilih, menyusun, dan melaksanakan evaluasi, baik untukkmengevaluasi perkembangan atau hasil belajar siswa untukk menilai efisiensi pelaksanaannya itu sendiri.
Guru juga berkewajiban untukk menjelaskan kepada para siswanya tentang apa yangg  akan dicapai dengaan pengajarannya. Ia juga hendaknya melakukan berbagai upaya untukk membangkitkan motivasi belajar, menciptakan situasi kompetitif dan kooperatif, memberikan pengarahan dan bimbingan. Guru memberikan tugas-tugas individual atau kelompok yangg akan memeperkaya dan memperdalam penguasaan siswa. Dalam kondisi ideal guru juga berperan sebagai pembimbing, berusaha memahami secara seksama potensi dan kelemahan siswa, serta membantu mengatasi kesulitan-kesulitan siswa.
2.       Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yangg bersifat desentralisasi.
Kurikulm desentarlisai disusun oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau daerah. Kurikulum ini diperuntukkkan bagi suatu sekolah atau lingkungan wilayah tertentu. Pengembangan kurikulum semacam ini didasarkan atas karakteristik, kebutuhan, perkembangan daerah serta kemampuan sekolah. Dengaan demikian kurikulum terutama isinya sanagt beragam, tiap sekolah atau wilayah mempunyai kurikulum sendiri, tetapi kurikulum ini cukup realistis.
Dalam kurikulum yangg dikelola secara desentralisasi peranan guru dalam pengembangan kurikulum lebih besar dibandingkan dengaan yangg dikelola secara sentralisasi. Guru-guru turut berpartisipasi, bukan hanya dalam penjabaran kurikulum induk ke dalam program tahunan/ semester/ catur wulan atau satuan pelajaran, tetapi juga didalam menyusun kurikulum yangg menyeluruh untukk sekolahnya. Guru-guru turut memberi andil dalam merumuskan setiap komponen dan unsure darii kurikulum. Dalam kegiatan seperti itu, mereka mempunyai perasaan turut memiliki kurikulum dan terdorong untukk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan dirinya dalam pengembangan kurikulum.
Karena guru-guru sejak awal penyusunan kurikulum telah diikutsertakan,mereka akan memahami dan benar-benar menguasai kurikulumnya, dengaan demikian pelaksanaan kurikulum didalam kelas akan lebih tepat dan lancar. Guru bukan hanya berperan sebagai pengguna, tetapi perencana, pemikir, penyusun, pengembang dan evaluator kurikulum.

Apabila kepala sekolah merupakan tokoh kunci dalam manajemen sekolah, maka guru merupakan tokoh sentral dalam penyelenggaraan layanan pendidikan sekolah. Gurulah pemeran utama aktivitas sekolah. Karena itu tugas guru merupakan profesi yangg menuntut keahlian. Karena tugas guru sehari – hari terkait dengaan pelaksanaan kurikulum di sekolah, maka peran guru dalam pengembangan kurikulum sekolah diantaranya ialah sebagai berikut.
Pertama, guru sebagai pemberi pertimbangan. Keputusan mengenai kurikulum sekolah secara institusional terletak pada tangan kepala sekolah. Dalam konteks ini guru ialah pemberi pertimbangan dalam pengembangan kurikulum sekolah.
Kedua, guru sebagai pelaksana pengembangan kurikulum sekolah. Konsep ini dapatt ditarik kedalam dua konteks. Kesatu, guru sebagai pelaksana proses pengembangan kurikulum sekolah terlibat sebagai tim yangg ditunjuk untukk membuat kurikulum sekolah. Selanjutnya,  guru sebagai pelaksana kurikulum yangg dikembangkan sekolah. Peran ini berkaitan dengaan tugas pokok guru sebagai pengampu proses pembelajaran mata pelajaran tertentu. Disini guru menjabarkan kurikulum sekolah menjadi bentuk–bentuk program yangg lebih rinci (silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran).
Dalam melakukan perubahan kurikulum, hendaknya diselidiki dan dipertimbangkan sikap dan reaksi guru terhadap perubahan itu. Keberhasilan perubahan yangg terjadi bergantung pada kesusaiannya dengaan nilai–nilai guru dan taraf pertisipasinya dalam perubahan itu.
Penjelasan diatas menunjukkan bahwa yangg memegang peranan penting dalam proses pengembangan kurikulum ialah guru karena dialah yangg paling bertanggung jawab atas mutu pendidikan anak didiknya. Terkadang guru terkendala karena masalah profesionalitasmya, karena pembelajaran yangg dilakukannya tidak berbeda darii waktu kewaktu, hanya mengulang–ulang.
Profesinalisme guru akan dapatt berkembang, apabila ia membiasakan diri untukk :
1.       Berunding dan bertukar pikiran dengaan siswa, dan terbuka terhadap pendapatt mereka
2.       Belajar terus dengaan membaca literatur yangg terkait dengaan profesinya
3.       Bertukar pikiran dan penglaman dengaan teman guru – guru lainnya atau dengaan kepala sekolah.                
Perkembangan profesionalisme akan terbantu bila sekolah secara berkala mengadakan rapat atau diskusi khusus untukk membicarakan hal–hal yangg terkait dengaan kurikulum serta perbaikannya.


2. 5         Peranan Komite Sekolah dalam Pengembangan Kurikulum

Keberadaan komite sekolah kian bergulir dengaan diberlakukannya otonomi sekolah. Ini ditetapkan pada keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 044/U/2002. Dalam keputusan ini, komite sekolah dimaksudkan sebagai sebuah badan mandiri yangg mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efesiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan baik pada pendidikan prasekolah, jalur pendidikan sekolah, maupun jalur pendidikan luar sekolah.
Pembentukan komite sekolah bertujuan :
1.       Mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan sekolah.
2.       Meningkatkan tanggung jawab dan peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.
3.       Menciptakan suasana dan kondisi yangg transparan, akuntabel, dan demokratis dalam penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan sekolah yangg berkualitas Bertolak darii tujuan tersebut.
Komite sekolah memiliki peran sebagai berikut:
1.       Advisory agency, yaitu pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan sekolah.
2.       Suporting agency, yaitu pendukung baik yangg berwujud financial, pemikiran, maupun  tenaga, dalam penyelengaraan pendidikan sekolah.
3.       Controlling agency, yaitu pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan sekolah; serta
4.       Mediate agency, yaitu mediator antara pemerintah dan masyarakat

Peran komite sekolah dalam pengembangan kurikulum tidak terlepas darii keempat peran tersebut. Keempat peran tersebut saling terkait satu sama lain dan berlangsung secara simultan. Sebagai advisory agence, komite sekolah dapatt memberikan/menyampaikan gagasan, usulan–usulan, atau pertimbangan–pertimbangan untukk penyempurnaan kurikulum yangg ada menuju kurikulum sekolah yangg lebih baik.
Walaupun secara pokok sudah tersedia kurikulum tingkat nasional, namun masih terbuka bagi pihak sekolah untukk melaksanakan eksplorasi, pengembangan, dan penajaman-penajaman, serta dikemas dalam program inti atau program tambahan, kegiatan intrakulikuler ataupun ekstrakulikuler. Dalam peran Advisory agence ini pula komite sekolah terlibat dalam pengesahan kurikulum sekolah.
Terkait dengaan peran sebagai advisory agence, maka komite sekolah berada dalam komitmen lanjutan. Muncullah peran berikutnya, yaitu supporting agence.  Pengembangan kurikulum berkait dengaan banyak persoalan baik yangg terkait secara langsung maupun tidak langsung, yangg bersifat manusia dan non manusia. Dalam hal ini, dukungan komite sekolah dapatt berwujud finansial, pemikiran, maupun tenaga.
Komite sekolah ialah sebuah badan mandiri yangg mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan, dan efisiensi pengelolaan pendidikan baik pada pendidikan pra sekolah, jalur pendidikan sekolah, maupun jalur pendidikan luar sekolah.
Kurikulum pada dasarnya ialah rencana program pendidikan. Karenanya dalam pengembangan kurikulum harus dipikirkan dan direncanakan segenap aspek kurikulum. Dengaan maksud mewadahi dan memaksimalkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, maka disinilah peran sebagai supporting agence  menjadi sangat menentukan.
Sebagai controlling agency, komite sekolah melakukan kontrol atas penyelenggaraan program pendidikan. Transparansi dan akuntabelitas penyelenggaraan dan hasil pendidikan sekolah harus diwujudkan.
Dalam konteks pengembangan kurikulum, peran kontrol komite sekolah ini bisa pula diarahkan pada pengawasan, misalnya, apakah proses pengembangan yangg ditempuh sudah memenuhi norma/ketentuan sebagaimana harusnya, apakah pengembangan kurikulum telah memperhatikan dan melibatkan pihak-pihak yangg terkait, apakah sudah terukur untukk kemajuan anak, dsb. Peran ini harus dapatt diterapkan agar pengembangan kurikulum benar-benar komprehensip.
Sebagai media agency,  komite sekolah bertindak sebagai mediator antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat. Dengaan peran komite sekolah sebagai mediator, maka pengembangan kurikulum sekolah menjadi lebih terbuka dalam mengeksplorasi sumber daya yangg ada disekitar sekolah. Program (kurikulum) sekolah pun menjadi lebih dinamis.
Pada akhirnya, dengaan bersinerginya kepala sekolah, guru, dan komite sekolah dalam pengembangan kurikulum, hal itu akan menjadi penyelenggaraan pendidikan di sekolah lebih dinamis dan semakin besar peluangnya untukk mencapai tujuan pendidikan.

2. 6         Peranan orang tua murid dalam Pengembangan Kurikulum

Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapatt berkenaan dua hal: pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum.[5] Dalam penyusunan kurikulum mungkin tidak semua orang tua dapatt ikut serta, hanya terbatas kepada beberapa orang saja yangg cukup waktu dan mempunyai latar belakang yangg memadai.
Dalam pelaksanaan kurikulm diperlukan kerja sama yangg  sangat erat antara guru atau sekolah dengaan para orang tua murid. Sebagian kegiatan belajar yangg dituntutkurikulum dilaksanakan di rumah, dan orang tua sewajarnya mengikuti atau mengamati kegiatan belajar anaknya dir rumah. Orang tua juga yangg secara berkala menerima lapor kemajuan anak-anaknya darii sekolah berupa rapor dan sebagainya. Rapor juga merupakan suatu alat komunikasi tentang program atau kegiatan pendidikan yangg dilaksanakan di sekolah. Orang tua juga dapatt tururt berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, loka karya, seminar, pertemuan orang tua/guru, pameran sekolah dan sebagainya. Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar di rumah, laporan sekolah, partisipasi dalam kegiatan sekolah orang tuadapatt turut serta dalam pengembangan kurikulum terutama dalam bentuk pelaksanaaan kegiatan belajar yangg sewajarnya, minat yangg penuh, usaha yangg sungguh-sungguh, penyelesaian tugas serta partisipasi dalam setiap kegiatan di sekolah, kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.

2. 7         Peranan masyarakat dalam Pengembangan Kurikulum

Berkaitan dengaan peranan masyarakat dalam pendidikan dalam UU No.20/2005 Sisdiknas pasal 54 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan menyebutkan :
1.       Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
2.       Masyarakat dapatt berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.
3.       Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengaan Peraturan Pemerintah.



BAB III

KESIMPULAN


1.       Sebagai salah satu komponen dalam sistem pendidikan, menurut Oemar Hamalik (2011) kurikulum memiliki tiga peran, yaitu peran konservatif, peranan kreatif, serta peran kritis dan evaluatif
2.       Peranan para administrator di tingkat pusat (direktur dan kepala pusat) dalam pengembangan kurikulum ialah menyusun dasar-dasar hukum, menyusun dasar serta program inti kurikulum. Kerangka dasar dan progam inti akan menentukan minimum course yangg dituntut.
3.       Pengembangan kurikulum membutuhkan partisipasi para ahli bidang studi/bidang ilmu yangg juga mempunyai wawasan tentang pendidikan serta perkembangan tuntutan masyarakat. Sumbangan mereka dalam memilih materi bidang ilmu, yangg mutakhir dan sesuai dengaan perkembangan kebutuhan masyarakat sangat diperlukan.
4.       Kepala sekolah mempunyai kedudukan strategis dalam pengembangan kurikulum. Sebagai pemimpin professional, ia menerjemahkan perubahan masyarakat dan kebudayaan, termasuk generasi muda, ke dalam kurikulum. Dialah tokoh utama yangg mendorong guru agar senantiasa melakukan upaya – upaya pengembangan, baik bagi diri guru maupun tugas keguruannya.
5.       Nana Syaodih Sukmadinata (1997 : 200) dalam bukunya yangg berjudul “Pengembangan Kurikulum teori dan praktek” menyatakan bahwa peran guru dalam pengembangan kurikulum terbagi menjadi 2, yaitu pengembangan yangg bersifta sentralisasi dan desentralisasi.
6.       Peran komite sekolah dalam pengembangan kurikulum tidak terlepas darii keempat peran tersebut. Keempat peran tersebut saling terkait satu sama lain dan berlangsung secara simultan. Sebagai advisory agence, komite sekolah dapatt memberikan/menyampaikan gagasan, usulan–usulan, atau pertimbangan–pertimbangan untukk penyempurnaan kurikulum yangg ada menuju kurikulum sekolah yangg lebih baik.
7.       Orang tua juga mempunyai peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapatt berkenaan dua hal: pertama dalam penyusunan kurikulum dan kedua dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum mungkin tidak semua orang tua dapatt ikut serta, hanya terbatas kepada beberapa orang saja yangg cukup waktu dan mempunyai latar belakang yangg memadai.
8.       Peranan masyarakat dalam pendidikan dalam UU No.20/2005 Sisdiknas pasal 54 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan menyebutkan :
a.        Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.
b.       Masyarakat dapatt berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.
c.        Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengaan Peraturan Pemerintah.




DAFTAR PUSTAKA

Sukmadinata, Nana Syaodih. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Oemar Hamalik. 2011. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah.
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional nomor 044/U/2002 Tentang Keberadaan komite sekolah dengaan diberlakukannya otonomi sekolah.
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, UU No.20/2005 pasal 54 Tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan.
Diunduh dalam web : http://iswandirangkuti.blogspot.com/2013/04/peran-komite-dalam-pengembangan.html.  pada tanggal 19 September 2014, pukul 10.29 WIB.


[1] Oemar Hamalik.2011.Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum.Bandung : PT Remaja Rosdakarya, hal.183
[2] Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikulumn : Teori dan Praktik. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. hal. 198
[3] Ibid., hal.156
[4] Diunduh dalam web : http://iswandirangkuti.blogspot.com/2013/04/peran-komite-dalam-pengembangan.html. pada tanggal 19 September 2014, pukul 10.29 WIB.
[5] Nana Syaodih Sukmadinata. Op.Cit., hlm. 157-158

Visitor