MODEL DAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM



Makalah Pengertian Model dan Pendekatan Pengembangan kurikulum? Model kurikulum?  Pengembangan kurikulum? Kurikulum? Kurikulum 2013? Kurikulum 13? Implementasi kurikulum 2013? Isi kurikulum 2013? Landasan pengembangan kurikulum?

                                                                               
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pengembangan kurikulum  tidak dapatt  lepas  darii  berbagai  aspek  yangg mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya,  dan  sosial),  proses  pengembangan,  kebutuhan  peserta  didik,  kebutuhan masyarakat  maupun  arah  program  pendidikan. Aspek-aspek tersebut  akan menjadi bahan  yangg perlu  dipertimbangkan  dalaam  suatu pengembangan  kurikulum. Model  pengembangan  kurikulum  merupakan  suatu alternatif  prosedur  dalaam rangka mendesain (designing), menerapkan (implementation), dan  mengevaluasi (evaluation) suatu kurikulum. Oleh karena itu, model pengembangan kurikulum harus dapatt  menggambarkan  suatu proses  sistem  perencanaan  pembelajaran  yangg dapatt memenuhi berbagai kebutuhan dan standar keberhasilan pendidikan. (Ruhimat, T. dkk 2009: 74).
Berbagai macam model kurikulum telah dikembangkan oleh para ahli kurikulum, pendidikan dan psikologi. Sudut pandang ahli yangg satu terkadang berbeda dengaan sudut pandang ahli yangg lain. Ada yangg memandang darii sudut isinya dan ada juga yangg memandang darii sisi pengelolaanya (sentralisitik/desentralistik). Tidak sedikit pula ahli yangg mengembangkan model kurikulum darii sisi proses penggunaan kurikulum tersebut. Namun demikian, jika anda teliti lebih lanjut, para ahli tersebut mempunyai satu tujuan atau arah yaitu mengoptimalkan kurikulum.

B.    Rumusan Masalah
1.     Apa sajakah model pengembangan kurikulum ?
2.     Apa sajakah pendekatan yangg digunakan dalaam pengembangan kurikulum ??

C.    Tujuan Penulisan
1.       Mengetahui macam-macam model pengembangan kurikulum
2.       Mengetahui macam-macam pendekatan pengembangan kurikulum



BAB II
MODEL DAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

A.    Model Kurikulum

1.       Model Zais
Model ini dikembangkan oleh seorang ahli kurikulum yaitu Robert S. Zais. Berikut beberapa model pengambangan yangg dikategorikan dalaam model Zais.
a.       Model administrasi (line staff)
Model administrasi disebut juga dengaan model “top down approach” atau “line staff”.  Model administrasi dilakukan oleh kalangan atas atau praktisi pendidikan kemudian dilaksanakan sepenuhnya oleh guru dan pihak sekolah (Imas Kurniasih, 2014 : 28).  Praktisi pendidikan yangg mencakup Dirjen, Direktur atau kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan membentuk suatu komisi atau Tim Pengarah Pengembangan Kurikulum (Nasution, 1989: 161).
Adapun langkah-langakah perumusan pengembangan kurikulum administratif diantaranya :
1)     Ide awal datang darii para pemangku kebijakan yangg memikirkan mengenai pengembangan kurikulum mulai darii konsep-konsep umum, landasan, maupun srtategi dalaam pelaksanaan pengajarannya
2)     Dibentuk tim pelaksana yangg terdiri darii ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, tokoh masyarakat, tim pelaksana pendidikan, dan pihak dunia kerja atau industry
3)     Konsep-konsep yangg ada dikembangkan dengaan membuat landasan ide, konsep umum, rujukan, maupun strategi pengembangan kurikulum yangg merujuk kepada tujuan pendidikan, penyusunan isi atau materi pelajaran
4)     Setalah konsep dikembangkan, langkah selanjutnya dalah diujicobakan dan pengakjian tingkat validitas ke beberapa sekolah yangg representative
5)     Selama proses uji coba pelaksanaan, diberikan adanya monitoring dan evaluasi darii kurikulum
6)     Setelah didapattkan hasil, akan dilakukan sosialisasi kepada seluruh sekolah diseluruh wilayah seraca serntak sehingga bersifat sentralistik
7)     Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kurikulum.

b.       Model Grass Roots (bottom-up)
Model ini mengutamakan peranan darii kalangan bawah (guru) yangg melakukan pengembangan kurikulum. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa guru ialah perencana, pelaksana dan penyempurna darii pengajaran disekolah. sehingga gurulah yangg mengetahui kondisi lingkungan sekolah (Nasution, 1989: 163).  Model Grass-roots  berkembang dalaam system pendidikan yangg bersifat desentalisasi. Dengaan konsep melakukan kerjasama dengaan kepala sekolah, pihak stakeholder, kemudian beberapa praktisi pendidikan mereka mengembangkan kurikulum yangg akan diimplementasikan.
Smith, Stanley dan Shores (1957: 429) dalaam buku Pengembangan dan Pengajaran mengatakan ada beberapa prinsip-prinsip pengembangan kurikulum Grass Roots, yaitu:
1)    The curriculum will improve only as the professional competence of teachers improves
2)    The competende of teachers will be improved only as the teachers become involved personally in the problems of curriculum revision
3)    If teachers share in shaping the goals to be attained, in selecting, defining, and solving the problems to be encountered, and in judging and evaluating the results, their involvement will be most nearly assured
4)    As people meet in face-to-face groups, they will be able to understrang one another better and to reach a consensus on basic principles, goals and plans.
Dalaam proses pengembangannya, hanya beberapa bagian atau aspek tertentu saja yangg mengalami perubahan dan hanya berlakuuntukk beberapa bidang studi dan sekolah-sekolah tertentu. Adapun langkah-langkah dalaam proses pengembangan kurikulum model Grass-Roots, diantaranya:
1)       Guru mengambil peran dalaammenentukan ide awal yangg berkaitan dengaan pengembangan kurikulum
2)       Dilakukan pengembangan secara kooperatif mulai darii tujuan, pemilihan bahan materi, proses pembelajaran dan evaluasi hasil belajar
3)       dilakukan uji coba validasi
4)       merevisi dan mengevaluasi darii hasil uji coba tersebut
5)       setelah didapattkan hasil yangg sesuai, maka akan diminta pengesahan hukum darii pemerintah mengenai pelaksanaan kurikulum tersebut
6)       pelaksanaan kurikulum di lapangan
7)       monitoring dan evaluasi pelaksanaan kurikulum
Pengembangan kurikulum dengaan model ini memungkinkan terjadinya kompetisi di dalaammeningkatkan mutu dan system pendidikan, yangg pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yangg lebih mandiri dan kreatif.

c.        Model terbalik (Inverted Model)
Secara umum, model kurikulum dikembangkan secara deduktif. Akan tetapi, kurikulum yangg dikembangkan oleh Taba ini menggunakan cara pengembangan induktif. Oleh karena itu dinamakan Model Terbalik.
Pengembangan model inidiawali dengaan melakukan percobaan dan penyusunan teori serta diikuti dengaantahapan implemen-tasi. Hal dilakukan guna mempertemukan teori dan praktek. Sukmadinata (2005:166) dan Ahmad (1998: 57) merangkum lima langkah yangg menjadi dasar dalaam pengembangan kurikulum model Taba.
1.     Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru
Penyusunan unit diawali dengaan mendiagnosis kebutuhan serta dilanjutkan dengaan merumuskan tujuan. Dalaam hal ini diadakan studi yangg seksama tentnag hubungan antara teori dengaan praktik. Perencanaan didasarkan atas teori yangg kuat dan pelaksanaan eksperimen didalaam kelas menghasilkan data-data untukkmenguji landasan teori yangg digunakan. Langkah-langkah dalaam kegiatan unit eksperimen , diantaranya:
a)       Mendiagnosis kebutuhan
b)       Merumuskan tujuan-tujuan khusus
c)       Memilih isi
d)       Mengorganisasi isi
e)       Memilih pengalaman belajar
f)        Mengorganisasi pengalaman belajar
g)       Mengevaluasi
h)       Melihat eksekusi dan keseimbangan (Taba, 1962: 347-379)
2.     Menguji unit eksperimen
Setelah unit-unit dibuat, langkah selanjutnya ialah mengujicobakan unit tersebut. Tujuan darii uji coba unit untukk melihat kelayakan serta validitas unit-unit dalaam pengajaran. Darii hasil ini dapatt diketahui layak atau tidak suatu unit diimplementasikan.
3.     Mengadakan revisi dan konsolidasi
Langkah ini dilakukan jika hasil pada langkah kedua menunjukkan perlunya perbaikan dan penyempurnaan unit-unit yangg telah disusun. Selain itu, diadakan juga adanya penarikan kesimpulan tentang hap\l-hal yangg lebih bersifat umum yangg berlaku dalaam lingkungan yangg lebih luas. Untukk itu perlu diadakan kegiatan konsolidasi.
4.     Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum
Apabila proses penyempurnaan telah dilakukan secara menyeluruh maka langkah berikutnya mengkaji kerangka kurikulum yangg dilakukan oleh para ahli kurikulum dan profesional lainnya. Hal ini dilakukan untukk mengetahui apakah konsep-konsep dasar atau landasarn teori yangg dipakai sudah masuk dan sesuao.
5.     Melakukan implementasi dan desiminasi
Yaitu menerapkan kurikulum baru ini pada daerah atau sekolah-sekolah yangg lebih luas (desiminasi).
Model pengembangan kurikulum ini sesuai jika diterapkan di Indonesia, karena dalaam pengembangannya, Model Terbalik Hilda Taba realitas dengaan pelaksanaannya, yaitu malalui pengujian terlebih dahulu oleh staf pengajar yangg professional.  Dengaan demikian, model ini memadukan antara teori dan praktik.

d.       Model pemecahan masalah (The Systematis Action Research Model)
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan social. Hal itu mencakup suatu proses yangg melibatkan kepribadian orang tua, siswa, guru, struktur system sekolah, pola hubungan insane, sekolah dan organisasi masyarakat serta wibawa darii pengetahuan professional. Kurikulum dikembangkan dalaam rangka memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholder) yangg meliputi orang tua, masyarakat dan lain-lain. Penyusunan kurikulum dilakukan dengaan mengikuti prosedur action research.
Sukmadinata (2005: 169) menyebutkan ada dua langkah dalaam penyusunan kurikulum pemecahan masalah, yaitu:
1)     Melakukan kajian secara seksama tentang maslah-masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yangg bersifat menyeluruh dan mengidentifikasi factor-faktor, kekuatan dan konsisi yangg mempengaruhi masalah tersebut. Data yangg dikumpulkan hendaknya valid dan reliable sehingga dapatt digunakan sebagai dasar yangg kuat dalaam pengambilan keputusan penyusunan kurikulum. Berdasarkan keputusan ini, disusunlah rencana menyeluruh (komprehensig) tentang cara-cara mengatasi masalah yangg ada.
2)     Melakukan implementasi darii keputusan yangg diambil pada langkah pertama. Tindakan ini diikuti dengaan kegiatan pengumpulan data dan fakta. Kegiatan ini berfungsi untukk:
a)       Menyiapkan data bagi evaluasi tindakan
b)       Bahan pemahaman tentang masalah yangg dihadapi
c)       Bahan untukk menilai kembali dan mengadakan modifikasi/perbaikan
d)       Bahan untukk menentukan tindakan lebih lanjut



2.       Model Rogers/Roger’s Interpersonal Relation Model
Carl Rogers, seorang ahli prikologi yangg mengemukakan model pengembangan kurikulum yangg ita kenal dengaan Roger’s Interpersonal Relation Model atau model Relasi Interpersonal Rogers. Ia berpandangan bahwa manusia berada dalaamproses perubahan mempunyai kekuatan dan potensi untukk berkambang sendiri.
Nasution (1989) mengungkapkan terdapatt empat langkah dalaam pengembangan kurikulum model Rogers, yaitu:
a.     Pemilihan target darii sistem pendidikan
Salah satu criteria yangg menjadi pegangan ialah kesediaan darii pejabat pendidikan untukk ikut serta dalaam kegiatan kelompok yangg intensif.
b.     Partisipasi guru dalaam pengalaman kelompok yangg intensif
Keikutsertaan guru dalaam kelompom tersebut sebaiknya bersifat sukarela.
c.     Pengembangan pengalaman kelompok yangg intensfi utuk satu kelas atau unit pelajaran
d.     Partisipasi orang tua dalaam kegiatan kelompok
Kegiatan ini dapatt dikoordinasikan oleh BP3 masing-masing sekolah. Kegiatna ini bertujuan untukk memperkaya orang-orang dalaam hubungannya dengaan sesama orang tua, dengaan anak dan dengaan guru.
Dalaam mengembangkan model kurikulumnya, Rogers tidak mementingkan formalitas, rancangan tertulis, data, dan sebagainya. Bagi Rogers, yangg terpenting ialah aktivitas dan interaksi. Metode pendidikan yangg diutamakan ialah sensitivity training, encounter group dan  Training Group (T Group).








Secara umum, perbedaan antara model-model pengembangan kurikulum  yaitu sebagai berikut:
NO.
MODEL
PERBEDAANNYA
1.
Administratif (Line-Staff)
Orang-orang yangg terlibat dalaam pengembangan kurikulum diberikan penekanan dengaan uraian tugas dan fungsinya.
2.
Grass-Roots (darii bawah)
Diletakkan pada pengembangan kurikulum yangg diselenggarakan secara demokratis yaitu darii bawah.
3.
Demonstrasi
Mengutamakan pemberian contoh dan teladan yangg baik.
4.
Beauchamp’s System
Melihat darii segi keseluruhan proses kurikulum.
5.
Taba’s Inverted (terbalik)
Mendekatkan kurikulum dengaan realitas pelaksananya melalui pengujian terlebih dahulu oleh guru-guru profesional.
6.
Roger’s Interpersonal Relation’s
Mengutamakan hubungan antarpribadi dengaan harapan dapatt menghasilkan penerapan kurikulum dengaan baik dan sukses.
7.
Systematic Action-Research
Mengutamakan penelitian sistematis oleh orang lapangan tentang masalah-masalah kurikulum.

B.     Pendekatan Pengembangan Kurikulum
1.       Pendekatan Bidang Studi
Pendekatan ini menggunakan bidang studi atau matapelajaran sebagai organisasi kurikulum, misalnya matematika, sains, sejarah geografi, atau IPA, IPS, dan sebagainya seperti yangg lazim kita dapatti dalaam sistem pendidikan kita sekarang di semua sekolah dan universitas.
Di sini dapatt di bedakan “macro-organizer” “organizer”dan micro-organizer.” Misalnya :
Macro Organizer     : Matematika
Organizer  : Aljabar, Geometri, Kalkulus
Micro                         : Aljabar I, Aljabar II, dan sebagainya
Yangg diutamakan dalaam pendekatan ini ialah penguasaan bahan dan proses dalaam disiplin ilmu tertentu. Tipe organisasi ini sesuai dengaan falsafah realisme.

2.       Pendekatan Berorientasi Pada Tujuan
Pendekatan ini menempatkan rumusan atau penetapan tujuan yangg hendak dicapai dalaam posisi sentral, sebab tujuan ialah pemberi arah dalaam pelaksanaan proses belajar megajar . Penyusunana dengaan pendekatan berdasarkan tujuan bahwa tujuan pendidikan dicantumkan terlebih dahulu. Darii tujuan-tujuan ini menjadi tujuan yangg terperinci, yangg akhirnya ke tujuan yangg bersifat operasional.
Kelebihan darii pendekatan pengembangan kurikulum yangg berorientasi pada tujuan ialah
a.     Tujuan yangg ingin dicapai jelas bagi penyusunan kurikulum
b.     Tujuan yangg jelas pula didalaam meneptapkan materi pelajaran, metode, jenis kegiatan dan alat yangg diperlukan untukk mencapai tujuan
c.     Tujuan-tujuan yangg jelas itu juga akan memberikan arah dalaam mengadakan penilaian terhadap hasil yangg di capai.
d.     Hasil penilaian yangg terarah tersebut akan membantu penyusun kurikulum dalaam mengadakan perbaikan-perbaikan yangg di perlukan
Sedangkan kelemahan darii pendekatan pengembangan kurikulum yangg berorientasi pada tujuan yaitu kesulitan dalaam merumuskan tujuan itu sendiri (bagi guru).




3.       Pendekatan Dengaan Pola Orientasi Bahan
Mula-mula pelaksanan dalaam perencanaan dan pengembanagan kurikulum itu berdasarkan materi. Initi darii proses belajar megajara ialah ditentukan oleh pemilihan materi. Pendekatan ini diterapkan di Indonesia dalm kurikulum sebelum kurikulum 1975. Kelebihan pendekatan ini ialah bahan pengajaran lebih flexible dan bebas dalaam menyusunnya, sebab tidak ada ketentuan yangg pasti dalaam menentukan bahan pengajaran yangg sesuai dengaan tujuan. Kelemahannya ialah tujuan pengajaran kurang jelas, maka sukar ditentukan pedoman dalaam menentukan metode yangg sesuai untukk pengajaran.

4.       Pendekatan Rekonstruksionalisme
Pendekatan ini juga disebut rekontruksi Sosial karena memfokuskan kurikulum pada masalah-masalah penting yangg dihadapi dalaam masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk, rasialisme, interdependesi global, kemiskinan, malapetaka akibat kemajuan teknologi, perang dan damai, keadilan sosial, hak asasi manusia, dan lain-lain (Nana Saodi, 1997: 47).
Dalaam gerakan rekontruksionisme ini terdapatt dua kelompok utama yangg berbeda pandangannya tentang kurikulum, yakni rekontruksionisme konservatif dan rekontruksionisme radikal.
a.       Rekontruksionisme Konservatif
Aliran ini menginginkan agar pendidikan ditunjukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengaan mencari pemyelasaian masalah-masalah yangg paling mendesak yangg di hadapi masyarakat.
Masalah-masalah dapatt bersifat lokal dan dapatt dibicarakan di SD, adapula yangg bersifat daerah, nasional, regional, dan internasional bagi pelajar SD dan perguruan tinggi. Dalaam PBMnya metode problem solving memegang peranan utama dengaan menggunakan bahan darii berbagai disiplin ilmu.
Peranan guru ialah sebagai orang yangg menganjurkan perubahan (agent of change) mendorong siswa menjadi partisipan aktif dalaam proses perbaikan masyarakat. Pendekatan kurikulum ini konsisten dengaan falsafah pragmatisme.
b.       Rekontruksionisme Radikal
Pendekatan ini berpendapatt bahwa banyak negara yangg mengadakan pembangunan dengaan merugikan rakyat kecil yangg miskin merupakan mayoritas masyarakat. Elite yangg berkuasa ( sering golongan industri, militer, politik) mengadakan tekanan terhadap massa yangg tak berdaya memalui sistem pendidikan yangg diatur demi tujuan itu.  Golongan radikal ini menganjurkan agar pendidik formal maupun non formal mengabdikan diri demi tercapainya orde baru berdasarkan pembagian kekeuasaan dan kekayaan yangg lebih adil dan merata.
Kedua pendirian yangg saling beertentangan ini, baik yangg konservatif maupun yangg radikal, mempunyai unsur kesamaan. Masing-masing berpendirian bahwa misi sekolah, ialah untukk mengubah dan memperbaiki masyarakat.
Perbedaanya terletak dalaam definisi atau tafsiran masing-masing “perbaikan” dan cara pendekatan terhadap masalah itu. Golongan konservatif bekerja dalaam rangka struktur yangg ada untukk memperbaiki kualitas hidup. Mereka berasumsi bahwa masalah-masalah sosial ialah hasil ciptaan manusia dan karena itu dapatt diatasi oleh manusia. Sebaliknya golongan radikal ingin merombak tatasosial yangg ada danmerubah tatasosial yangg baru sama sekali untukk memperbaiki mutu hidup, oleh sebab itu tatasosial yangg ada tidak adil dan tetap tidak adil.

5.       Pendekatan Humanistic
Pendekatan kurikulum ini berpusat pada siswa atau yangg dikenal dengaan Student Centered serta mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan bagian integral darii proses belajar. Kesejahteraan mental dan emosional siswa harus dipandang sentral dalaam kurikulum (Nana saodi, 1997: 18).

Pendekatan humanistic dalaam kurikulum didasarkan atas asumsi-asumsi sebagai berikut:
a.       Siswa akan lebih giat belajar dan bekerja bila harga dirinya dikembangkan sepenuhnya
b.       Siswa yangg diturut-sertakan dalaam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran akan merasa bertanggungjawab atas keberhasilannya
c.        Hasil belajar akan meningkat dalaam suasana belajar yangg diliputi oleh rasa saling mempercayai, saling membantu, sailng mempedulikan dan bebas darii ketegangan yangg berlebihan
d.       Guru yangg berperan sebagai fasilitator belajar member tanggungjawab kepada siswa atas kegiatannya belajar dan memupuk sikap positif terhadap “apa sebab dan bagaimana” mereka belajar
e.        Kepedulian siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalaam penguasaan bahan pelajaran itu
f.         Evaluasi diri bagian penting dalaam proses belajar yangg memupuk harga diri.
Kurikulum humanistic didasarkan atas apa yangg kadang-kadng disebut :psikologi humanistic” yangg erat hubungannya dengaan psikologi lapangan (field psychology)  dan teori kepribadian (khususnya Maslow). Pendekatan humanistic tampak terutama dalaam proses interaksi dalaam kelas, suasana belajar, dan cara menyajikan pelajaran.

6.       Pendekatan Accountability
Accountability atau pertanggungjawaban lembaga pendidikan tentang pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat,akhir-akhir ini tampil sebagai pengaruh yangg penting dalaam dunia pendidikan. Namun, menurut banyak pengamat pendidikan Accountability initelah mendesak pendidikan dalaam arti sebenarnya menjadi latihan belaka. Akuntanbilitas yangg sistematis pertama kalinya diperkenalkan Frederick Taylor dalaam bidang industri pada permulaan abad ini.pendekatannya, yangg kelak dikenal sebagai “scientifik manajemen” atau manajemen ilmiah, menetapkan tugas-tugas spesifik yangg harus diselesaikan pekerja dalaam waktu tertentu. Tiap pekerja bertanggung jawab atas penyelesaian tugas itu.
Walaupun akuntanbilitas pendidikan bukan sesuatu yangg baru , pendekatan ini mulai mendominasi kurikulum dalaam seperempat abad akhir-akhir ini. Gerakan akuntabilitas dalaam 1960an, 1970an dan 1980an menyebar dengaan pesat dan mendesak sistem pendidikan diseluruh dunia agar lebih memperhatikan pengukuran efektifitas pendidikan berdasarkan standar akademis yangg ditetapkan lebih dulu secara cermat dengaan mempertimbangkan sumber yangg tersedia. Suatu sistem yangg accountable menentukan standar dan tujuan spesifik yangg jelas serta mengukur efektifitasnya berdasarkan taraf keberhasilan siswa mencapai standar itu.
Dalaam usaha mengembangkan standar yangg dapatt dipertanggung jawabkan, pendekatan kurikulum beralih kearah apa yangg disebut sistem tertutup atau model latihan.
Dibawah ini kami bandingkan sistem yangg accountable yangg bersifat tertutup dan sistem yangg lebih terbuka.


Sistem Tertutup-Latihan
Sistem Terbuka-Pendidikan




Tujuan
Hasil belajar lebih dahulu ditentukan berdasarkan standar yangg dirumuskan secara spesifik, siswa dilatih berkelakuan yangg sesuai dengaan yangg ditetapkan disekolah.
Siswa belajar tentang “cara belajar”, cara memecahkan masalah kompleks, mengambil keputusan secara mandiri dan memberi penilaian etis moral secara pribadi.
Membantu siswa menyesuaikan diri dengaan dunia sebagaimana adanya
Membantu siswa berpartisipasi dalaam proses pengembangan dunia, mencari kebenaran baru , dan membangun dunia yangg lebih baik darii pada yangg sekarang.

Proses
Mentransmisi informasi dan keterampilan melalui latihan, ulangan, hafalan berdasarkan teori stimulus-respon.
Menjalankan proses penelitian, menggunakan metode penemuan, mengajukan hipotesis untukk mengungkapkan “realitas” baru.


Peran Guru
Orang yangg berkedudukan otoriter yangg menyampaikan pengetahuan dan keterampilan
Orang yangg turut belajar mencari pengetahuan, kebenaran, dan keadilan universal yangg baru


Motivasi
Ekstrinsik, dengaan menggunakan angka-angka, pujian, hukuman, tekanan, dan paksaan
Intrisik, dengaan menumpuk hasrat belajar, meneliti, menemukan pengetahuan baru, melahirkan ide dan cara berpikir baru.
Metode Utama
Direktif : ceramah, demonstrasi, latihan, praktek
Interaktif-eksperimental
Domain (Ranah) Tingkatan
Kognitif, psikomotor, tingkat rendah
Kognitif, psikomotor, tingkat tinggi


Hasil Belajar Efektif
Siswa kaku, tidak mudah berubah atau menyesuaikan diri dengaan ide atau situasi baru, terikat dan tidak bebas untukk berubah
Siswa mempunyai kebebasan batin dan kemampuan untukk berubah bila menghadapi informasi, kenyataan atau situasi baru.



c.         
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Model dan pendekatan pengembangan kurikulum tidak banyak mengalami perubahan. Secara umum, terdapatt dua model pengembangan kurikulum, yaitu Model Raiz (model administrasi, model pemecahan masalah, model terbalik dan model graas roots) dan Model rogers/Roger’s Interpersonal Relation Model. Model pengembangan kurikulum erat kaitannya dengaan pendekatan yangg digunakan dalaam pengembangan kurikulum. Diantara pendekatan pengembangan kurikulum yangg kita tahu, yaitu Pendekatan Accountability, Pendekatan Humanistic, Pendekatan Rekonstruksionalisme, Pendekatan Dengaan Pola Orientasi Bahan, Pendekatan Berorientasi Pada Tujuan, Pendekatan Bidang Studi.
Model dan pendekatan pengembangan kurikulum diatas dalaam pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak, baik darii pihak pemerintah, sekolah maupun masyarakatnya. Untukk itu, dibutuhkan adanya kerjasama dan koordinasi yangg baik antar pihak sehingga pengembangan kurikulum dapatt tercapai dengaan baik, begitu juga dengaan tujuan pendidikan.

Visitor