Makalah Perkembangan Kurikulum dari Masa Kemasa ( Tahun 1947- 2013 )




Makalah Pengertian perkembangan kurikulum darii masa kemasa? Kurikulum 1947? Implementasi kurikulum 2013? Pengertian Kurikulum? Pengembangan kurikulum? Kurikulum? Kurikulum 2013? Kurikulum 13? Isi kurikulum 2013? Pengertian Reformasi? Kurikulum masa reformasi? Era reformasi? Agenda reformasi? Masa reformasi? Orde baru? Masa orde baru? Kurikulum orde baru?



BAB I

PENDAHULUAN


A.       Latar Belakang

Membahas mengenai kurikulum, tentu semua pihak sepakat bahwa soal kebijakan yangg sangat strategis karena semua perubahan kurikulum yangg terjadi di Indonesia merupakan rancangan pembelajaran yangg memiliki kedudukan yangg sangat strategis dalam keseluruhan kegiatan pembelajaran yangg akan menentukan proses dan hasil sebuah pendidikan yangg dilakukan.
Dalam hal ini sekolah sebagai pelaksana pendidikan sangat berkepentingan menjadi lahan utama. Darii semua pihak baik itu orang tua, masyarakat dan semua pihak yangg terkait dengaan perubahan-perubahan kurikulum itu. Oleh karena itu perubahan kurikulum itu harus disikapi secara positif dengaan mengkaji dan memahami implementasinya di sekolah. Keberhasilan implementasi kurikulum ini juga dipengaruhi oleh kemampuan guru terutama berkaitan dengaan pengetahuan.

B.       Rumusan Masalah

1.     Bagaimana Kurikulum pada Masa Awal Kemerdekaan /Masa Orde Lama (Kurikulum 1947, 1952 dan 1964) ?
2.     Bagaimana Kurikulum Orde Baru (1968,  1975, 1984, 1994) ?
3.     Bagaimana Kurikulum Masa Reformasi  (Kurikulum Tahun 2004, 2007 dan 2013) ?

C.       Tujuan Penulisan

1.     Mengetahui dan memahami perkembangan Kurikulum pada Masa Awal Kemerdekaan /Masa Orde Lama (Kurikulum 1947, 1952 dan 1964 )
2.     Mengetahui dan memahami perkembangan Kurikulum Orde Baru (1968,  1975, 1984, 1994)
3.     Mengetahui dan memahami perkembanagan Kurikulum Masa Reformasi  (Kurikulum Tahun 2004, 2007 dan 2013)


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Perkembangan Kurikulum Darii Masa Ke Masa

Banyaknya perubahan yangg terjadi tentu saja ada kekurangan dalam implementasinya karena kurangnya pengetahuan serta kemampuan guru dalam memahami tugas-tugas yangg harus di laksanakan. Dengaan persepsi yangg berbeda diantara kompenen-kompenen pelaksana yaitu kepala dinas, pengawasan, kepala sekolah, dan guru karena kurangnya kemampuan menerjemahkan kurikulum ke dalam operasi pembelajaran.
E. Mulyasa (2004:13) mengungkapkan bahwa keberhasilan sebuah kurikulum melalui tahapan :
1.          Adanya sosialisasi yangg menyeluruh
Penting sekali melakukan sebuah sosialisasi yangg sistematis pada setiap perubahan kurikulum yangg terjadi dan penyebaran informasi tersebut tentu saja dimulai darii pemerintah yangg ditujukan kepada seluruh warga sekolah, bahkan terhadap siswa dan orang tua. Kepala sekolah harus mengambil peran penting dalam hal ini dengaan cara menghadirkan mereka yangg mengerti  dengaan perubahan kurikulum baru yangg akan diterapkan.
Sosialisasi yangg terstruktur dan sistematis akan sangat menunjang kemudahan dalam memahami kurikulum yangg ditawarkan dan dapatt diterapkan secara optimal. Setelah sosialisasi pihak sekolah bisa mengadakan rapat untukk mendapattkan persetujuan bersama komite sekolah dan tenaga kependidikan agar implementasi kurikulum yangg baru dapatt terlaksana dengaan baik dan maksimal.
2.         Selalu menghadirkan lingkungan yangg kondusif
Sekolah sebagai sarana pendidikan haruslah menjadi tempat yangg kondusif, aman, nyaman dan tertib. Dengaan menciptakan kondisi belajar yangg kondusif dapatt menjadi faktor pendukung dan memberikan daya tarik sendiri bagi prose pembelajaran.
Kondisi belajar yangg kondusif tentu harus ditunjang dengaan berbagai fasilitas belajar yangg menyenangkan seperti saran, laboratorium, lingkungan, penampilan, sikap guru, hubungan yangg harmonis antara siswa dengaan guru, guru dengaan komite serta penataan organisasi dan pembelajaran yangg tepat sesuai dengaan kemampuan siswa.
3.         Selalu mengembangkan fasilitas dan sumber belajar
Fasilitas dan sumber belajar tentu akan membantu mempercepat proses tercapainya tujuan kurikulum, fasilitas tersebut diantaranya laboratorium, pusat sumber belajar dan perpustakaan. Pemberdayagunaan fasilitas dan sumber belajar dapatt meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar siswa.
4.         Selalu mengembangkan kemandirian sekolah
Mengembangkan kemandirian sekolah lebih identik dengaan mengembngakan kemandirian kepala sekolah terutama dalam hal mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyelaraskan semua sumber daya pendidikan yangg tersedia serta memberikan arahan dan mengimplementasikan kurikulum baru.
Kemandirian ini juga ditunjang dengaan profesionalisme kepala sekolah sehingga dapatt mendorong sekolah intuk menwujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yangg dilaksanakan secara terencana dan bertahap.
5.         Meluruskan paradigma (pola pikir) guru
Semua guru perlu diberikan sebuah pelatihan serta penataran khusus mengenai bagaimana pelaksanaan kurikulum yangg baru tersebut. Kegiatan diadakan oleh semua pihak sekolah, sehingga guru sebagai pihak yangg paling banayak menhabiskan waktu dikelas selama proses pembelajaan lebih mengerti dan paham dengaan kurikulum.
6.         Memberdayakan semua tenaga kependidikan
Manajemen tenaga kependidikan ialah pihak yangg paling bertanggung jawab untukk menciptakan perubahan tersebut sehinnga semua berjalan secara efektif dan efesien demi mencapai hasil yangg optimal.
Pelaksanaan manajemen tenaga kependidikan di indonesia mencakup tujuh kegiatan utama yaitu perencanaan tenaga kepentingan, pengadaan tenaga kependidikan, pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan, promosi dan mutasi, pemberhentian tenaga kependidikan, kompensasi dan penilaian tenaga kependidikan. Semua itu dilakukan dengaan baik dan benaragar apa yangg diharapkan tercapai yakni tersedianya tenaga kependidikan yangg diperlukan sesuai dengaan kemampuan serta dapatt melaksanakan kerja dengaan baik. Oleh karena itu pemberdayaan tenaga kependidikan merupakan faktor pendukung dalam implementasi kurikulum batu di Indonesia.
Menurut Hamalik (2000: 19-23) pengembangan kurikulum harus berlandaskan pada faktor-faktor  :
1.         Tujuan filsafat dan pendidikan nasional yangg dijadikan sebagai dasar untukk merumuskan tujuan institusional.
2.         Sosial budaya dan agama yangg berlaku dalam masyarakat.
3.         Perkembangan peserta didik yangg menunujuk pada karakteristik perkembangan peserta didik.
4.         Keadaan lingkungan dalam arti luas yangg meliputi lingkungan kebudayaan, hidup dan alam, termasuk ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
5.         Kebutuhan pembangunan mencakup kebutuhan pembangunan dibidang ekonomi, kesejahteraan rakyat, hukum dan lain-lain.
6.         Perkembangan ilmu pengetahuan, seni dan teknologi yanggs esuai dengaan sistem nilai kemanusiaan budaya dan bangsa.


B.         Kurikulum pada Masa Awal Kemerdekaan / Masa Orde Lama

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia kurikulum yangg diterapkan sudah mengalami beberapa pergantian yaitu :

1.     Kurikulum 1947 (Rentjana pelajaran 1947)

Pada awal kemerdekaan istilah kurikulum dikenal dengaan leer plan. Dalam bahasa Belanda artinya rencana pelajaran. Dalam kurikulum ini terdapatt dua hal pokok antara lain :
a.        Daftar mata pelajaran dan jam pengajaran
b.       Garis garis besar pengajaran
Bahwa kurikulum pada masa-masa ini di pengaruhi oleh sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang sehingga hanya meneruskan kurikulum yangg pernah digunakan oleh Belanda.
Rentjana pembelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda dan kurilkulum ini tujuannya tidak menekan pada pikiran, tetapi diutamakan ialah pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat.
Kemudian materi-materi pelajaran sangat dekat dengaan kejadian sehari-hari perhatian terhadap kesenian, jasmani dan lain-lain. Untukk kurikulum SD juga masih dipengaruhi kolonial Belanda dan Rencana pelajaran 1947 baru dilaksanakan di sekolah-sekolah tahun 1950. Sebagian menyebutkan sejarah perkembangan kurikulum diawali darii kurikulum 1950.
                                            
  1. Kurikulum 1952 (Rentjana peladjaran Terurai 1952)

Pada tahun ini Mentri P dan K yangg pada waktu itu dijabat oleh Mr. Soewandi melakukan usaha untukk mengubah sistem pendidikan dan pengajaran sehingga akan lebih sesuai dengaan keinginan dan cita-cita bangsa indonesia pada saat itu.
Kemudian dibentuklah Panitia Penyelidik Pengajaran dalam rangka mengubah sistem pendidikan kolonial kedalam sistem pendidikan nasional. Maka kurikulum pada semua tingkat pendidikan mengalamiperubahan, sehingga diorientasikan kepada kepentingan kolonial diubah dengaan kebutuhan bangsa yangg merdeka.                             
Salah satu hasil darii panitia tersebut ialah menyanggkut kurikulum (rencana pelajaran) pada setiap tingkat pendidikan harus memperhatikan hal-hal berikut :
a.     Pendidikan pikiran harus dikurangi
b.     Isi pelajaran harus dihubungkan terhadap kesenian
c.     Pendidikan watak
d.     Pendidikan jasmani
e.     Kewarganegaraan dan masyarakat
Maka setelah Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran No.04 tahun 1950 maka lahirlah hal-hal penting :
a.        Kurikulum pendidikan rendah ditujukan untukk menyiapkan anak memiliki dasar-dasar pengetahuan kecakapan dan ketangkasan baik lahir maupun batin serta mengembangkan bakat dan kesukaannya.
b.       Kurikulum pendidikan menengah ditujukan untukk menyiapkan pelajar kependidikan tinggi serta mendidik tenaga-tenaga ahli dalam berbagai lapangan khusus sesuai dengaan bakat masingmasing dan kebutuhan masyarakat.
c.        Kurikulum pendidikan tinggi  ditujukan untukk menyiapkan pelajaran agar dapatt menjadi pimpinan dalam masyarakat dan dapatt memelihara kemajuan ilmu dan kemajuan kemasyarakatan.

  1. Kurikulum 1964 (Rentjana Peladjaran 1964)

Sesuai dengaan keputusan MPRS NO. II/MPRS/1960 telah dirumuskan mengenai manusia sosialis Indonesia sebagai suatu bagian darii sosialisme indonesia yangg menjadi tujuan pembangunan nasional yakni tata masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. (Tilaar, 1995 : 254)
Maka pelaksaan keputusan tersebut di sekolah diimplementasikan kedalamkurikulum yangg dapatt menjiwai keputusan MPRS. Melaui keputusan Presiden Republik Indonesia No. 145 tahun 1965 tentang Nama dan Rumusan Induk Sistem Pendidikan Nasional antara lain dirumuskan mengenai pembinaan manusia Indonesia :
a.        Manusia Indonesia baru yangg berjiwa Pancasila Manipol atau USDEK dan sanggup berjuang untukk mencapai citacita tersebut.
b.       Manpower yangg cukup untukk melaksanakan pembangunan.
c.        Kepribadian kebudayaan nasional yangg luhur
d.       Ilmu dan teknologi yangg tinggi
e.       Pergerakan kekuatan rakyat dalam pembangunan dan revolusi
Dan sesuai ketetapan MPRS NO. II/MPRS/1960 maka pendidikan berfungsi sebagai :
a.        Pendidikan sebagai pembina manusia indonesia baru yangg berakhlak tinggi
b.       Pendidikan sebagai produsen tenaga kerja dalam semua bidang dan tingkatan
c.        Pendidikan sebagai lembaga pengembangan ilmu pengetahuan teknik dan fisik
d.       Pendidikan sebagai lembaga penggerak seluruh kekuatan rakyat.
Pada masa itu kurikulum 1960 ini memiliki kaitan yangg sangat erat dengaan situasi politik di Indonesia pada zaman itu sehingga dirumuskan bahwa “pendidikan sebagai alat revolusi dalam suasana mengharuskan pembantingan dalam segala bidang khususnya bidang pendidikan”. (Tilaar, 1995 : 255)

C.       Kurikulum Orde Baru

Macam kurikulum pada masa orde baru yaitu :

1.       Kurikulum 1968

Kurikulum 1968 merupakan realisasi darii TAP MPRS No. XXVII/MPRS/1966, Bab II pasal 2 ayat (3) berbunyi : “Pendidikan agama menjadi pelajaran di sekolah-sekolah mulai darii sekolah dasar sampai dengaan universitas negeri.” Dengaan tujuan pendidikannya dirumuskan dalam pasal 3 yangg berbunyi : “Membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yangg dikehendaki oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan isi Undang-Undang 1945.”
Pada kurikulum ini lebih menitik beratkan pada mempertinggi mental-moral-budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, membina atau mengembangkan fisik yangg kuat dan sehat, sebagaimana tercantum dalam pasal 4 yangg berbunyi :
“Untukk mencapai dasar dan tujuan, maka isi pendidikan ialah sebagai berikut :
a.        Mempertinggi mental moral budi pekerti dan memperkuat keyakinan agama
b.       Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan
c.        Membina/mengembangkan fisik yangg kuat dan sehat.”
Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan darii Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum darii Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 sebagai perwujudan darii perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Pada prinsipnya, kelahiran kurikulum 1968 sangatlah bersifat politis : mengganti Rencana Pendidikan 1964 yangg dicitrakan sebagai produk Orde Lama, dengaan tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati.
Kurikulum 1968 bersifat correlated subject curriculum, artinya materi pelajaran pada tingkat bawah mempunyai korelasi dengaan kurikulum sekolah lanjutan. Jumlah mata pelajarannya 9, yangg memuat hanya mata pelajaran pokok saja. Muatan materi pelajarannya sendiri hanya teoritis, tak lagi mengkaitkannya dengaan permasalahan faktual di lingkungan sekitar. Metode pembelajaran sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pendidikan dan psikologi pada akhir tahun 1960-an. Salah satunya ialah teori psikologi unsur. Contoh penerapan metode pembelajan ini ialah metode eja ketika pembelajaran membaca. Begitu juga pada mata pelajaran lain, “anak belajar melalui unsur-unsurnya dulu”.
Struktur kurikulum 1968[1]
a.        Pembinaan Jiwa Pancasila
Kelompok jiwa pancasila ialah kelompok segi pendidikan yangg terutama ditujukan kepada pembentukkan mental dan moral Pancasila serta pengembangan manusia yangg sehat dan kuat fisiknya dalam rangka pembinaan bangsa.
1)       Pendidikan agama
2)       Pendidikan kewarganegaraan
3)       Bahasa Indonesia
4)       Bahasa daerah
5)       Pendidikan olahraga
b.       Pengembangan pengetahuan dasar
Kelompok pengembangan pengetahuan dasar ialah kelompok mata pelajaran yangg ditujukan pada penguasaan pengetahuan dasar untukk melanjutkan pendidikan dan pembinaan kecakapan khusus.
1)       Berhitung
2)       IPA
3)       Pendidikan kesenian
4)       Pendidikan kesejahteraan keluarga
c.        Pembinaan kecakapan khusus
Kelompok pembinaan kecakapan khusus ialah mata pelajaran yangg terutama ditujukan kepada penguasaan ketrampilan yangg praktis fungsional.
Sebagai alat formal dipergunakan mata pelajaran yangg terbagi dalam tiga kejuruan, yaitu :
1)       Kejuruan agraria, dengaan segi pendidikan pertanian, peternakan, dan perikanan
2)       Kejuruan teknik, dengaan segi pendidikan pekerjaan tangan dan perbengkelan
3)       Kejuruan ketatalaksanaan/ jasa, dengaan segi pendidikan koperasi, tabungan dan PKK.

2.       Kurikulum 1975

a.        Latar Belakang
Dalam Kata Pengantar Kurikulum 1975, Menteri Pendidikan Republik Indonesia Sjarif  Thajeb, menjelaskan tentang latar belakang ditetapkanya Kurikulum 1975 sebagai pedoman pelaksanaan pengajaran di sekolah. Penjelasan tersebut sebagai berikut :
1)    Sejak Tahun 1969 di Negara Indonesia telah banyak perubahan yangg terjadi sebagai akibat lajunya pembangunan nasional, yangg mempunyai dampak baru terhadap program pendidikan nasional. Hal-hal yangg mempengaruhi program maupun kebijaksanaan pemerintah yangg menyebabkan pembaharuan itu ialah :
a)        Selama Pelita I, yangg dimulai pada tahun 1969, telah banyak timbul gagasan baru tentang pelaksanaan sistem pendidikan nasional.
b)       Adanya kebijaksanaan pemerintah di bidang pendidikan nasional yangg digariskan dalam GBHN yangg antara lain berbunyi : “Mengejar ketinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untukk mempercepat lajunya pembangunan.
c)       Adanya hasil analisis dan penilaian pendidikan nasional oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaaan mendorong pemerintah untukk meninjau kebijaksanaan pendidikan nasional.
d)       Adanya inovasi dalam system belajar-mengajar yangg dianggap lebih efisien dan efektif yangg telah memasuki dunia pendidikan Indonesia.
e)       Keluhan masyarakat tentang mutu lulusan pendidikan untukk meninjau sistem yangg kini sedang berlaku.
2)    Pada Kurikulum 1968, hal-hal yangg merupakan faktor kebijaksanaan pemerintah yangg berkembang dalam rangka pembangunan nasional tersebut belum diperhitungkan, sehingga diperlukan peninjauan terhadap Kurikulum 1968 tersebut agar sesuai dengaan tuntutan masyarakat yangg sedang membangun.
Atas dasar petimbangan tersebut maka dibentuklah kurikulum tahun 1975 sebagai upaya untukk mewujudkan strategi pembangunan di bawah pemerintahan orde baru dengaan program Pelita dan Repelita.
b.       Prinsip Pelaksanaan Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan prinsip-prinsip di antaranya sebagai berikut :
1)    Berorientasi pada tujuan. Dalam hal ini pemerintah merumuskan tujuan-tujuan yangg harus dikuasai oleh siswa yangg lebih dikenal dengaan khirarki tujuan pendidikan, yangg meliputi : tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
2)    Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yangg menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yangg lebih integratif.
3)    Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.
4)    Menganut pendekatan sistem instruksional yangg dikenal dengaan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yangg senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yangg spesifik, dapatt diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.
5)    Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengaan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (Drill). Pembelajaran lebih banyak menggunaan teori Behaviorisme, yakni memandang keberhasilan dalam belajar ditentukan oleh lingkungan dengaan stimulus darii luar, dalam hal ini sekolah dan guru.
c.        Komponen Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 memuat ketentuan dan pedoman yangg meliputi unsur-unsur :
1)     Tujuan institusional.
Berlaku mulai SD, SMP maupun SMA.Tujuan Institusional ialah tujuan yangg hendak dicapai lembaga dalam melaksanakan program pendidikannya.
2)     Struktur Program Kurikulum.
Struktur program ialah kerangka umum program pengajaran yangg akan diberikan pada tiap sekolah.
3)     Garis-Garis Besar Program Pengajaran
Sesuai dengaan namanya, Garis-Garis Besar Program Pengajaran, pada bagian ini dimuat hal-hal yangg berhubungan dengaan program pengajaran, yaitu :
a)       Tujuan Kurikuler, yaitu tujuan yangg harus dicapai setelah mengikuti program pengajaran yangg bersangkutan selama masa pendidikan.
b)       Tujuan Instruksional Umum, yaitu tujuan yangg hendak dicapai dalam setiap satuan pelajaran baik dalam satu semester maupun satu tahun.
c)       Pokok bahasan yangg harus dikembangkan untukk dijadikan bahan pelajaran bagi para siswa agar mencapai tujuan pendidikan yangg telah ditetapkan.
d)       Urutan penyampaian bahan pelajaran darii tahun pelajaran satu ke tahun pelajaran berikutnya dan darii semester satu ke semester berikutnya.
4)       Sistem Penyajian dengaan Pendekatan PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).
Sistem PPSI ini berpandangan bahwa proses belajar-mengajar sebagai suatu system yangg senantiasa diarahkan pada pencapaian tujuan. Sistem pembelajaran dengaan pendekatan sistem instruksional inilah yangg merupakan pembaharuan dalam system pengajaran di Indonesia.
PPSI ialah sistem yangg saling berkaitan darii satu instruksi yangg terdiri atas urutan, desain tugas yangg progresif bagi individu dalam belajar (Hamzah B.Uno, 2007). Oemar Hamalik mendefinisikan PPSI sebagai pedoman yangg disusun oleh guru dan berguna untukk menyusun satuan pelajaran.
5)     Sistem Penilaian
Dengaan melaksanakan PPSI, penilaian diberikan pada setiap akhir pelajaran atau pada akhir satuan pelajaran tertentu. Inilah yangg membedakan dengaan kurikulum sebelumnya yangg memberikan penilaian pada akhir semester atau akhir tahun saja.
6)     Sistem Bimbingan dan Penyuluhan
Setiap siswa memiliki tingkat kecepatan belajar yangg tidak sama. Di samping itu mereka mereka memerlukan pengarahan yangg akan mengembangkan mereka menjadi manusia yangg mampu meraih masa depan yangg lebih baik. Dalam kaitan ini maka perlu adanya bimbingan dan penyuluhan bagi para siswa dalam meniti hidupnya meraih masa depan yangg diharapkanya.
7)     Supervisi dan Administrasi
Sebagai suatu lembaga pendidikan memerlukan pengelolaan yangg terarah, baik yangg digunakan oleh para guru, administrator sekolah, maupun para pengamat sekolah. Bagaimana teknik supervisi dan administrasi sekolah ini dapatt dipelajari pada Pedoman pelaksanaan kurikulum tentang supervise dan administrasi.Ketujuh unsur tersebut merupakan satu kesatuan yangg mewarnai Kurikulum 1975 sebagai suatu sistem pengajaran.
d.       Mata Pelajaran dalam Kurikulum 1975
1)    Pendidikan agama
2)    Pendidikan Moral Pancasila
3)    Bahasa Indonesia
4)    IPS
5)    Matematika
6)    IPA
7)    Olah raga dan kesehatan
8)    Kesenian
9)    Keterampilan Khusus
e.       Kelemahan Kurikulum 1975
Kelemahan yangg terdapatt dalam kurikulum 1975 ialah[2] :
1)        Pada kurikulum ini diberlakukan sistem sentralistik yangg menganggap bahwa para guru di sekolah- sekolah sampai ke daerah- daerah terpencil mengerti dengaan sendirinya tujuan kurikulum
2)        Tidak meratanya informasi, sehingga setiap adanya pembaruan pendidikan, pemerintah tidak mengikutsertakan guru sejak awal, bahkan guru hanya dianggap subjek dan bukanlah objek darii proses pembelajaran tersebut
3)        Dengaan digunakannya sistem instruksional, maka dalam tiap mata pelajaran, diberikan tujuan kurikulum, dan tiap bahasan, diberikan pula tujuan instruksional bagi guru dan siswa apa yangg harus dicapai. Jadi dalam pengajaran sudah ditentukan tujuan-tujuan yangg setelah proses belajar yangg harus dicapai oleh siswa. Dan hal ini mengakibatkan bahan ajar tidak dapatt berkembang
4)        Proses belajar ditentukan terlebih dahulu oleh pembuat kebijakan tentang output yangg ingin dihasilkan
5)        Siswa dan guru akan cenderung lebih pasif dalam proses belajar mengajar


3. Kurikulum 1984

a.        Latar Belakang
Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sidang umum MPR 1983 yangg produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratkan keputusan politik yangg menghendaki perubahan kurikulum darii kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984.Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya ialah sebagai berikut :
1)       Terdapatt beberapa unsur dalam GBHN 1983 yangg belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
2)       Terdapatt ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengaan kemampuan anak didik.
3)       Terdapatt kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah.
4)       Terlalu padatnya isi kurikulum yangg harus diajarkan hampir di setiap jenjang.
5)       Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yangg berdiri sendiri mulai darii tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah.
6)       Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untukk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.
b.       Ciri-ciri Kurikulum 1984
Atas dasar perkembangan itu maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan atau tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan dalam kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi, oleh karena itu diperlukan perubahan kurikulum. Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1)       Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yangg sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yangg pertama harus dirumuskan ialah tujuan apa yangg harus dicapai siswa.
2)       Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA ialah pendekatan pengajaran yangg memberikan kesempatan kepada siswa untukk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengaan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
3)       Materi pelajaran dikemas dengaan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral ialah pendekatan yangg digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yangg diberikan.
4)       Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Konsep-konsep yangg dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian, baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. Untukk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untukk membantu siswa memahami konsep yangg dipelajarinya.
5)       Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengaan menggunakan pendekatan induktif darii contoh-contoh ke kesimpulan. Darii yangg mudah menuju ke sukar dan darii sederhana menuju ke kompleks.
6)       Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses ialah pendekatan belajar-mengajar yangg memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran.
c.        Kelemahan Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 memiliki kelemahan-kelemahan yaitu[3] :
1)       Diberlakukannya sistem sentralistik sehingga memerlukan penyesuaian-penyesuaian di daerah
2)       Pada masa itu, adanya keterbatasan dana yangg menjadi alasan klasikal dalam pelaksanaan kurikulum tersebut
3)       Seringnya didapatti kompetensi guru yangg tidak sesuai dengaan yangg semestinya
4)       Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA)

4.   Kurikulum 1994

a.        Latar Belakang
Adapun yangg menjadi latar belakang diberlakukanya kurikulum 1994 ialah sebagai berikut :
1)       Bahwa sesuai dengaan Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan upaya untukk mencerdaskan kehidupan bangsa serta agar pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yangg diatur dengaan Undang-Undang.
2)       Bahwa untukk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan, diperlukan peningkatan dan penyempurnaan pentelenggaraan pendidikan nasional, yangg disesuaikan dengaan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, perkembangan masyarakat, serta kebutuhan pembangunan.
3)       Dengaan berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional maka Kurikulum Sekolah Menengah Umum perlu disesuaikan dengaan peraturan perundang-undangan tersebut.
Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yangg berorientasi pada teori belajar mengajar dengaan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yangg salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapattkan materi pelajaran yangg cukup banyak.
Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengaan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengaan mengubah darii sistem semester ke sistem caturwulan. Dengaan sistem caturwulan yangg pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapatt memberi kesempatan bagi siswa untukk dapatt menerima materi pelajaran cukup banyak.
b.       Pokok Kurikulum 1994
Terdapatt ciri-ciri yangg menonjol darii pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut :
1)       Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengaan sistem caturwulan.
2)       Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yangg cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)
3)       Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yangg memberlakukan satu sistem kurikulum untukk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yangg khusus dapatt mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
4)       Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yangg melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapatt memberikan bentuk soal yangg mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih darii satu jawaban), dan penyelidikan.
5)       Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengaan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapatt keserasian antara pengajaran yangg menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yangg menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
6)       Pengajaran darii hal yangg konkrit ke hal yangg abstrak, darii hal yangg mudah ke hal yangg sulit, dan darii hal yangg sederhana ke hal yangg komplek.
7)       Pengulangan-pengulangan materi yangg dianggap sulit perlu dilakukan untukk pemantapan pemahaman siswa.
Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat darii kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut :
1)       Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran.
2)       Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengaan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengaan aplikasi kehidupan sehari-hari.
3)       Permasalahan di atas terasa saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untukk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengaan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu :
a)       Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengaan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
b)       Penyempurnaan kurikulum dilakukan untukk mendapattkan proporsi yangg tepat antara tujuan yangg ingin dicapai dengaan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.
4)       Penyempurnaan kurikulum dilakukan untukk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengaan tingkat perkembangan siswa.
5)       Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait, seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran.
6)       Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikan dan tetap dapatt menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yangg tersedia di sekolah. Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.

D.       Kurikulum Masa Reformasi

1.              Kurikulum 2004  kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Kurikulum 1994 yangg dilengkapi dengaan  kurikulum suplemen 1998, masih dirasakan kurang, untukk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Setelah berjalannya Kurikulum 1994, Kalau dilihat darii hasil ebtanas, memang hasilnya sangat tidak memuaskan. pergantian kekuasaan kembali terjadi, dan kurikulum pun kembali berubah. Dan mulai tahun 2004 lahirlah kurikulum baru dengaan nama Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) diterapkan di Indonesia. Lahir sebagai respon darii tuntutan reformasi, diantaranya UU No 2 1999 tentang pemerintahan daerah, UU No 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom, dam Tap MPR No IV/MPR/1999 tentang arah kebijakan.j pendidikan nasional. [4]
Kurikulum ini mengharapkan agar siswa yangg mengikuti pendidikan disekolah memilki kompetensi yangg diinginkan, karena konsentrasi kompetensi ialah pada perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, nilai serta sikap yangg ditunjukkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ) bermakna suatu perangkat pemahaman tentang kapasitas dan standar program pendidikan yangg diharapkan dapatt mengantarkan siswa menjadi kompeten dalam  berbagai bidang kehidupan yangg dipelajari melalui pendidikan disekolah, yangg memuat sejumlah kompetensi maupun sub kompetensi yangg harus dikuasai siswa sebagai gambaran hasil belajarnya ( Learning – Outcomes). Siswa yangg memilki kompetensi berarti ia mapu atau dapatt melakukan suatu pekerjaan tertentu, setelah melalui suatu proses pembelajaran bermakna.
Pada dasarnya ingin menekankan pada adanya pendelegasian kewenangan yangg lebih besar kepada sekolah dalam hal pelaksanaan dan pengembangan pencapaian sasaran kurikulum. Disebut Kurikulum Berbasis Kompetrnsi karena sekolah diberi kewenangan  untukk menyusun silabus yangg dikehendaki, yangg disesuaikan dengaan kebutuhan nyata sekolah .tidak ada lagi kurikulum yangg tidak sesuai dengaan kebutuhan sekolah karena sekolah menyiapkannya sendiri sessuai dengaan kebutuhan. Kondisi seperti inilah yangg menyebabkan mengapa KBK sering disebut sebagai kurikulum berbasis sekolah.[5]
KBK ini mencakup beberapa kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran yangg harus dicapai siswa. Dan kegiatan pembelajaran pun diarahkan untukk membantu siswa mengyasai kompetensi – kompetensi agar tujuan pembelajaran tercapai.
Depdiknas mengemukakan katakteristik KBK ialah sebagai berikut:
a.        Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa yangg baik secara individual maupun klasikal.
b.       Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman
c.        Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode bervariasi
d.       Sumber belajar bukam hanya guru tetapi juga sumber belajar lainnya yangg memenuhi unsur edukatif
e.       Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.[6]
Kebijakan tentang KBK sebagai sebuah Sistem Kurikulum Nasional, KBK terdiri darii dua buah bagian penting yangg mencakup:
a.        Kebijakan KBK yangg disusun oleh Depdiknas
b.       Silabus-silabus yangg disusun oleh dinas pendidikan atau sekolah
Dengaan adanya kebijakan pembuatan silabus didaerah atau sekolah berarti bahwa daerah kabupaten dan atau sekolah menjadi lokasi penyusun silabus oleh dinas pendidikan atau para guru disekolah, yangg dapatt berimplikasi terjadinya hal-hal sebagai berikut:
a.        Dinamika baru dalam pemecahan masalah kurikulum, dapatt secara langsung ditangani pada tingkat daerah atau sekolah.
b.       Pengelolaan kurikulum sepenuhnya ditangani oleh skolah sesuai dengaan kemampuan dan kebutuhanya.
c.        Pemberdayaan tenaga – tenaga kependidikan yangg potensial didaerah untukk dilibatkan dalam penyusunan silabus
d.     Pemanfaatan sumber – sumber daya pendidikan lainnya yangg terdapatt didaerah yangg bersangkutan dimana sekolah itu berada, untukk penyusunan silabus.
e.     Penggunaan sumber – sumber informasi darii luar negeri berkeenaan dengaan kurikullum untukk memperkaya penyusunan silabus.
f.      Pembentukan tim pengembang kurikulum ( curriculum developer ) dan pembuatan jaringan kurikulum ( curriculum networking ).
Beberapa keunggulan KBK dibandingkan kurikulum 1994 ialah.
a.     KBK yangg dikedepankan Penguasaan materi Hasil dan kompetenasiParadigma pembelajaran versi UNESCO: learning to know,learning to do, learning to live together, dan learning to be.
b.     Silabus ditentukan secara seragam, peran serta guru dan siswa dalam proses pembelajaran, silabus menjadi kewenagan guru.
c.     Jumlah jam pelajaran 40 jam per minggu 32 jam perminggu, tetapi jumlah mata pelajaran belum bisa dikurangi.
d.     Metode pembelajaran Keterampilan proses dengaan melahirkan metode pembelajaran PAKEM dan CTL,
e.     Sistem penilaian Lebih menitik beratkan pada aspek kognitif, penilaian memadukan keseimbangan kognitif, psikomotorik, dan afektif, dengaan penekanan penilaian berbasis kelas.
f.      KBK memiliki empat komponen, yaitu kurikulum dan hasil belajar (KHB), penilaian berbasis kelas (PBK), kegiatan belajar mengajar (KBM), dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah (PKBS). KHB berisi tentang perencaan pengembangan kompetensi siswa yangg perlu dicapai secara keseluruhan sejak lahir sampai usia 18 tahun. PBK ialah melakukan penilaian secara seimbang di tiga ranah, dengaan menggunakan instrumen tes dan non tes, yangg berupa portofolio, produk, kinerja, dan pencil test. KBM diarahkan pada kegiatan aktif siswa dala membangun makna atau pemahaman, guru tidak bertindak sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi sebagai motivator yangg dapatt menciptakan suasana yangg memungkinkan siswa dapatt belajar secara penuh dan optimal.

2.                KURIKULUM 2006 ( KTSP )

Kurikulum tingkat satuan Pendidikan ( KTSP ) ini disusun untukk menjalankan amanah yangg tercantum dalam Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Otonomi penyelenggaraan pendidikan tersebut pada gilirannya berimplikasi pada perubahan sistem menejemen pendidikan darii pola sentralisasi ke disentralisasi dalam pengelolaan pndidikan, dimana guru memiliki otoritas dalam mngmbangkan kurikulum secara bebas dngan mmperhatikan karaktristik siswa dan lingkungan disekolah masing – masing.
Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yangg tidak terpisahkan darii SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengaan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP terdiri darii tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL. ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan darii komite sekolah. Dengaan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, dalam arti tidak ada intervensi darii Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional. Penyusunan KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli darii perguruan tinggi setempat. Dengaan keterlibatan komite sekolah dalam penyusunan KTSP maka KTSP yangg disusun akan sesuai dengaan aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

Standar Isi ialah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yangg dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yangg harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar isi merupakan pedoman untukk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan yangg memuat.
a.        Kerangka dasar dan struktur kurikulum,
b.       Beban belajar,
c.        Kurikulum tingkat satuan pendidikan yangg dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan
d.       Kalender pendidikan.
SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik darii satuan pendidikan.SKL meliputi kompetensi untukk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran.Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yangg mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengaan standar nasional yangg telah disepakati.
Secara khusus tujuan diterapkannya KTSP ialah.
a.     Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yangg tersedia.
b.     Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
c.     Meningkatkan kompetisi yangg sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yangg akan dicapai.

3.       Kurikulum 2013

Menteri Pendidikan dan kebudayaan, Prof.Ir. Muhammad Nuh, DEA mengatakan bahwaKurikulum 2013 ini lebih ditekankan pada kompetensi dengaan pemikiran kompetensi berbasis sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:
a.          Tantangan Internal
Tantangan internal antara lain terkait dengaan kondisi pendidikan dikaitkan dengaan tuntutan pendidikan yangg mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yangg meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Tantangan internal lainnya terkait dengaan perkembangan penduduk Indonesia dilihat darii pertumbuhan penduduk usia produktif.
b.          Tantangan Eksternal
Tantangan eksternal antara lain terkait dengaan arus globalisasi dan berbagai isu yangg terkait dengaan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional.
Adapun ciri kurikulum 2013 yangg paling mendasar ialah:
a.        Menuntut pengetahuan Guru dalam berpengetahuan dan mencari tahu pengetahuan sebanyak – banyaknya karena siswa zaman sekarang telah  mudah mencari informasi dengaan bebas melalui perkembangan teknologi dan informasi.
b.       Siswa lebih didorong untukk memiliki tanggung jawab kepada lingkungan, kemampuan interpersonal, antar personal, maupun memiliki kemampuan berpikir kritis.
c.        Memiliki tujuan agar terbentuknya genenrasi produktif, kreatif, inovativ, dan avektif.
d.       Khusus tingkat SD, pendekatan tematik integrative memberi kesempatan siswa untukk mengenal dan memahami suatu tema dalam berbagai pelajaran.[7]
Kurikulum 2013 dirancang dengaan karakteristik sebagai berikut:
a.          mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengaan kemampuan intelektual dan psikomotorik;
b.         sekolah merupakan bagian darii masyarakat yangg memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yangg dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar;
c.          mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat;
d.         memberi waktu yangg cukup leluasa untukk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
e.         kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yangg dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar matapelajaran;
f.           kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untukk mencapai kompetensi yangg dinyatakan dalam kompetensi inti;
g.          kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antarmatapelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).
Tujuan Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 bertujuan untukk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yangg beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. [8]


BAB III

PENUTUP


Kesimpulan

Dalam sebuah perubahan yangg terjadi itu pasti mempunyai sebuah kekurangan dalam implementasinya, sehingga perubahan kurikulum yangg terus  terjadi pun tak bisa dihindarii demi mewujudkan tujuan yangg lebih baik.
Darii masa kemasa sudah sering kali kurikulum di Indonesia ini berganti dan berkembang darii Masa Awal Kemerdekaan /Masa Orde Lama (Kurikulum 1947, 1952 dan 1964), Kurikulum Orde Baru (1968,  1975, 1984, 1994), dan  Kurikulum Masa Reformasi  (Kurikulum Tahun 2004, 2007 dan 2013) darii semua kurikulum ini memiliki memilki tujuan sama yakni untukk memajukan pendidikan di Indonesia dan mencetus generasi yangg Baik.
Dalam masa Revormasi terdapatt tiga kali perubahan kuruikulum yakni Kurikulum 2004 atau biasa disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi ( KBK ), yangg dilahirkan untukk menyempurnakan kurikulum sebelumnya yangg dianggap memilki kelemahan, kemudian pada tahun 2007 lahir juga Kurikulum yangg biasa disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


DAFTAR PUSTAKA


Ahmad, Muhammad. 1997. Pengembangan Kurikulum. Bandung : Pustaka Setia,
Imas . berlin, sani . 2014. Implementasi Kurikulum 2013 konsep dan penerapan. Surabaya : Kata Pena
Salinan-Lampiran-Permendikbud-No.-68-th-2013-ttg-Kurikulum-SMP-MTs
Sujanto, Bedjo. 2007. Mengorek Kegelisahan Guru. Jakarta :Sagung Seto Kurnia



[1] Ahmad, Muhammad. 1997. Pengembangan Kurikulum. Bandung : Pustaka Setia halaman 174
[3] Ibid, halaman 18
[4] Sujanto, Bedjo. 2007. Mengorek Kegelisahan Guru. Jakarta :Sagung Seto halaman 39
[5]  Ibid, halaman 46
[6] Kurnia, Imas . berlin, sani . 2014. Implementasi Kurikulum 2013 konsep dan penerapan. Surabaya : Kata Pena, halaman 20

[7] Ibid.  halaman 21
[8] Salinan-Lampiran-Permendikbud-No.-68-th-2013-ttg-Kurikulum-SMP-MTs

Visitor