Makalah Pengertian Syarat Macam Hujjah & Kaidah ( ‘Urf )



Makalah Pengertian al-‘urf? Macam macam urf? Syarat urf? Kehujjahan urf? Kaidah kaidah urf? Syarat syarat urf? Contoh urf dalam kehidupan sehari hari? Contoh urf dalam masyarakat? Contoh urf dalam ekonomi islam? Makala pengertian maslahah mursalah? 



‘Urf
Makalah Ini di Ajukan Untukk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
“Ushul Fiqh”






Disusun Oleh:
____________ (21_______________)


Dosen Pembimbing:
_______________

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI  PENDIDIKAN BAHASA ARAB
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)
MEI 2010

BAB I

PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

Ilmu ushul fiqh sebenarnya merupakan suatu ilmu yangg tidaak bisa di abaikan oleh seorang mujtahid dalaam upayanya memberi penjelasan mengenai nash-nash syari’at Islam, dan dalaam menggali hukum yangg tidaak memiliki nash.
Dalaam ilmu ushul fiqh ini terdapatt banyak sekali pembahasan, diantaranya ialah ‘urf yangg akan saya coba diskusikan yangg mana budaya atau ‘urf sebagai salah satu bagian darii ushul fiqh, apa yangg mendasari ulama untukk menjadikan hal tersebut sebagai salah satu pijakan hukum, bagaimana mereka mengaplikasikannya di dalaam kehidupan nyata masyarakat. Hal tersebut  tentunya tidaak semudah yangg kita diskusikan, karena tidaak semua ulama’ setuju tentang urf ini, akan tetapi tidaak sedikit juga yangg menjadikannya sebagai pijakan hukum.

B.       Rumusan Masalah

1.       Apa penngertian ‘urf ?
2.       Apa saja macam-macam ‘urf ?
3.       Bagaimana Kehujjahan ‘urf ?
4.       Apa saja kaidah-kaidah ‘urf ?
5.       Apa saja syarat-syarat ‘urf ?



BAB II

PEMBAHASAN

A.       Pengertian ‘Urf

Kata urf berasal darii kata arafa ya’rifu sering di artikan dengaan al-ma’ruf dengaan arti sesuatu yangg dikenal.[1] Menurut istilah ialah segala sesuatu yangg telah dikenal dan menjadi kebiasaan manusia baik berupa ucapan, perbuatan atau tidaakmelakukan sesuatu.
Sebagian Ushuliyyin, seperti Al-Nafasidarii kalangan Hanafi, Ibnu Abidin,Al-Rahawi dalaam Syarah kitab Al-Mannar dan Ibnu Ujaim dalaam kitab Al-Aisbah wa al-Nazhair berpendapatt bahwa urf sama dengaan adat tidaak ada perbedaan antara keduanya. Namun sebagian Ushuliyyin, seperti Ibnu Humamdan al-Bazdawi membedakan antara adat dengaan urf dalaam membahas kedudukannyasebagaisalah satu dalil untukk menetapkan hukum syara’. Adat didefinisikan sebagai sesuatu yangg dikerjakan berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional. Sedangkan ‘urf ialah kebiasaan mayoritas kaum,baik dalaam perkataan atau perbuatan. Dalaam pengertianini adat lebih luas dariipada urf. Adat mencakup seluruh jenis ‘urf. Tetapitidaak sebaliknya. Kebiasaan individu-individu atau kelompok tertentu dalaam makan, berpakaian, tidur dan sebagainya dinamakan adat tidaak dikatakan ‘urf. Tetapi, darii sisi yangg lain, urf lebih umum dariipada adat, sebab adat hanya menyanggkut perbuatan , sedangkan ‘urf menyanggkut perbuatan dan ucapan sekaligus.[2]
Darii adanya ketentuan bahwa ‘urf atau adat itu sesuatu yangg harus dikenali, diakui, dan diterima oleh orang banyak, terlihat ada kemiripannya dengaan ijma’. Namun antara keduanya terdapatt beberapa perbedaaan yangg di antaranya ialah sebagai berikut:
1.       Darii segi ruang lingkupnya, ijma’ harus diterima semua pihak.  Sedangkan ‘urf atau adat sudah dapatt tercapai bila ia telah dilakukan dan dikenal oleh sebagian orang saja.
2.       Ijma’ ialah kesepakatan (penerimaan) di antara orang-orang tertentu, yaitu para mujtahid, dan yangg bukan mujtahid tidaak diperhitungkan kepakatan ataupun penolakannya. Sedangkan ‘urf  atau adat yangg mengakui ialah seluruh lapisan manusia baik mujtahid atau bukan.
3.       ‘Urf atau adat itu dapatt mengalami perubahan karena berubahnya orang-orang yangg menjadi bagian darii umat itu. Sedangkan ijma’ tidaak akan mengalami perubahan.[3]

B.       Macam-Macam ‘Urf

Para Ulama Ushul fiqih membagi ‘urf dalaam tiga macam:
1.       Darii segi objeknya, ‘urf di bagi dalaam al-urf al-lafdzi (kebiasaan yangg menyanggkut ungkapan) dan al-‘urf al-amali (kebiasaan yangg berbentuk perbuatan).
a.        Al-urf al-lafdzi ialah kebiasaan masyarakat dalaam mempergunakan lafal atau ungkapan tertentu untukk mengungkapkan sesuatu, sehingga makna ungkapan itulah yangg dipahami dan terlintas dalaampikiran masyarakat. Misalnya, ungkapan daging yangg berarti daging sapi; padahal kata daging mencakup seluruh daging yangg ada. Apabila seorang mendatangi penjual daging, saya beli daging satu kilogram pedagang itu langsung mengambilkan daging sapi, karena kebiasaan masyarakat setempat yangg mengkhususkan penggunaan kata daging pada daging sapi.
b.       Al-‘urf al-amali ialah kebiasaan masyarakat yangg berkaitan dengaan perbuatan biasa atau muamalah keperdataan. Yangg dimaksud perbuatan biasa  ialah perbuatan masyarakat dalaam masalah kehidupan mereka yangg tidaak terkait dengaan kepentingan orang lain, sepertikebiasaan libur kerja pada hari-hari tertentudalaam satu minggu, kebiasaan masyarakat tertentu memakan makanan khusus atau meminum minuman tertentu dan kebiasaan masyarakat dalaam memakai pakaian tertentudalaamacara khusus..
2.       Darii segi cakupannya,urf di bagi dua, yaitu al-urf al-‘am (kebiasaan yangg bersifat umum) dan al-urf al-khas (kebiasaan yangg besifat khusus).
a.        Al-urf al-am, ialah kebiasaan tertentu yangg berlaku secara luas di seluruh daerah. Misalnya dalaam jual beli mobil, seluruh alat yangg diperlukan untukk memperbaiki mobil,seperti kunci,tang, dongkrak, dan ban serep termasuk dalaamharga jual, tanpa akad sendiri,dan biaya tambahan. Contoh lain ialah kebiasaan yangg berlaku bahwa berat barang bawaan bagi penumpang pesawat terbang ialah dua puluh kilogram.
b.       Al-‘urf al-khas, ialah kebiasaan yangg berlaku di daerah dan masyarakat tertentu. Misalnya, dikalangan para pedagang apabila terdapatt cacat tertentu padabarang yangg dibeli dapatt dikembalikan, sedangkan untukk cacat lainnya dalaam barang itu, tidaak dapatt dikembalikan. Atau juga kebiasaan mengenai penentuan masagaransi terhadap barang tertentu. Contoh lain ialah kebiasaan yangg berlaku d kalangan pengacara hukum bahwa jasa pembelaan hukum yangg akan dia lakukan harus di bayar duluoleh kliennya. Urf al-khas seperti ini,menurut Mustafa Ahmad Al-Zarqa, tidaak terhitung jumlahnya dan senantiasa berkembang sesuai perubahan  situasi dan kondisi masyarakat.
3.       Darii segi keabsahannya darii pandangan syara’,’urf terbagidua yaitu al-‘urfal shahih (kebiasaan yangg di anggap sah) dan al-‘urf  al-fasid (kebiasaan yangg dianggap rusak).
a.        Al-‘urf al shahih, ialah kebiasaan yangg tidaak bertentangan dengaan nash (ayat atau hadist) tidaak menghilangkan kemaslahatan mereka, dan tidaak pula membawa madarat bagi mereka. Misalnya, dalaam masa pertunangan pihak laki-laki memberikan hadiah kepada pihak wanita dan hadiah ini di anggapsebagaimas kawin.
b.       Al-‘urf al-fasid, ialah kebiasaan yangg beretentangan dengaan dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah dasar yangg ada dalaam syara’.
Misalnya, kebiasaan menghalalkan riba,sepertipeminjam uang antara sesama pedagang. Uang yangg dipinjam sebesar sepuluh juta rupiah dalaam tempo satu bulan harus di bayar sebanyak sebelas juta rupiah apabila jatuh tempo, dengaan perhitungan bunganya 10%. Dilihat darii segi keuntungan yangg diraih peminjam, penambahan utang sebanyak 10% tidaaklah memberatkan, karena keuntngan sepuluh juta rupiah tersebut mungkin melebihi bunganya yangg 10%. Akan tetapi, praktek seperti ini bukanlah kebiasaan yangg bersifat tolong menolong dalaam pandangan syara’, karena pertukaran barang sejenis, menurut syara’ tidaak boleh saling melebihi (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad Ibnu Hanbal). Selain itu praktek seperti ini ialah praktek peminjaman yangg berlaku di jaman jahiliyyah, yangg dikenal dengaan sebutan ribal-nasi’ah (riba yangg muncul darii utang piutang). Oleh sebab itu, kebiasaan seperti ini,menurut ulama ushul fiqih termasuk dalaam kategori al-‘urf al-fasid.[4]

C.       Kehujjahan ‘Urf

Ada beberapa argumentasi yangg menjadi alasan para ulama berhjjah dengaan ‘urf danmenjadikannya sebagai sumber hukum fiqih,yaitu:
1.       Firman Allah

Artinya:
Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yangg ma'ruf, serta berpalinglah darii pada orang-orang yangg bodoh.


Yangg menurut Al-Qarafy bahwa setiap yangg diakui adat, ditetapkanhukum menurutnya,karena zohir ayat ini.
2.       Sabda Rasulullah SAW yangg diriwayatkan Imam Ahmad dan Abdullah bin Mas’ud :

مَارَاهُالمسلمُونَحَسَنًافَهُوَعندَاللهاَمْرٌحَسَنٌ.
Yangg menunjukkan bahwa hal-hal yangg sudah berlaku menurut adat kaum muslimin dan di pandangnya baik ialah pula baik disisi Allah.

3.       Sabda Nabi Muhammad SAW kepada Hindun istri Abi Sufyan ketika iamengadukan suaminya kepada Nabi bahwa suaminya bakhil memberi nafkah:
. خذى من مال ابىسفيانمايليكوولدَكِ بالمعروف
(ambil darii harta Abu Sufyan secukup keperluanmu dan anakmu menurut ‘urf).
Al Qurthuby mengomentari bahwa dalaam hadis ini terdpat ‘urf dalaam penetapan hukum.
4.       Dilakukannya kebiasaan manusia terhadap suatu hal menunjukkan bahwa dengaan melakukannya, mereka akan memperoleh maslahat atau terhindar darii mafsadat.
Sedang maslahat ada dalil syar’i sebagaimana menghilangkan kesusahan merupakan tujuan syara’.[5]
Adapun alasan ulama yangg memakai ‘urf dalaam menentukan ‘urf antara lain:
1.       Banyak Hukum Syari’at, yangg ternyata sebelumnya telah merupakan kebiasaan orang Arab, seperti adanya wali dalaam pernikahan dan susunan keluarga dalaam pembagian waris.
2.       Banyak kebiasaan orang Arab, baik berbentuk lafaz maupun perbuatan, ternyata dijadikan pedoman sampai sekarang.[6]
Secara umum ‘urf itu di amalkan oleh semua ulama fiqh terutama dikalangan ulama madzhab Hanafiyah dab Malikiyah.
Ulama’ Hanafiyah menggunakan istihsan dalaam berijtihad dan salah satu bentuk istihsan itu ialah istihsan al ‘urf (istihsan yangg menyandar pada ‘urf). Oleh ulama’ Hanafiyah, ‘urf itu di dahulukan atas qiyas kahfi khafi dan juga di dahulukan atas nash yangg umun, dalaam arti umum, dalaam arti ‘urf itu men-takhsis umum nash.
Ulama Malikiyah menjadikan ‘urf atau tradisi yangg hidup dikalangan ahli Madinah sebagai dasar dalaam menetapkan hukum dan mendahulukannya darii hadist ahad.
Ulama’ Syafi’iyah banyak menggunakan ‘urf dalaam hal-hal tidaak menemukan ketentuan batansannya dalaam syara’ maupun dalaam penggunaan bahasa.[7]

D.       Kaidah-kaidah ‘urf

1.       العادة محكمة
(adat itu dapatt dijadikan hukum)
2.       لا ينكر تغيّر الأحكم بتغير الأزمنة والأمكنة
(tidaak di ingkari perubahan hukum disebabakan perubahan zaman dan tempat)
3.       المعروف عرفا كا المشروط شرطا
( yangg baik itu menjadi ‘urf, sebagaimana yangg disyaratkan itu menjadi syarat)
4.       الثابت باالعرف كاالثابت باالنّاصّ
(yangg ditetapkan melalui ‘urf sama dengaan yangg ditetapkan melalaui nash (nash atau hadist)[8]

E.        Syarat-Syarat ‘Urf

Para ulama yangg menggunakan ‘urf itu dalaam memahami dan meng-istinbath-kan hukum, menetapkan beberapa persyaratan untukk ‘urf tersebut,yaitu:
1.       ‘Adat atau ‘urf itu bernilai maslahat dan dapatt diterima akal sehat.Syarat ini merupakan kelaziman bagi ‘adat atau ‘urf yangg shahih, sebagai persyaratan untukk diterima secara umum. Umpamanya tentang kebiasaan istri yangg ditinggal mati suaminya dibakar hidup-hidup bersama pembakaran jenazah suaminya. Meski kebiasaan itu dinilai baik darii segi rasa agama suatu kelompok, namun tidaak dapatt diterima oleh akal yangg sehat. Demikian pula tentang kebiasaan memakan ular.
2.       Adat atau ‘urf itu berlaku umum dan merata di kalangan orang-orang yangg berada dalaam lingkungan ‘adat itu, atau di kalangan sebagian besar kalangannya. Dalaam hal ini al-Suyuthi mengatakan :

اِنّما تُعتَبَرُ العَادَةُ إذا اطّردَت فَإن لم يطّرِد فلا.
Sesungguhnya ‘adat yangg diperhitungkan itu ialah yangg berlaku secara umum. Seandainya kacau, maka  tidaak akan diperhitungkan.

Umpamanya : kalau alat pembayaran resmi yangg berlaku di suatu tempat hanya satu jenis mata uang, umpamanya dollar Amerika, maka suatu transaksi tidaak apa-apa untukk tidaak menyebutkan secara jelas tentang jenis mata uangnya, karena semua orang telah mengetahui dan tidaak ada kemungkinan lain darii penggunaan mata uang yangg berlaku. Tetapi bila ditempat itu ada beberapa alat pembayaran yangg sama-sama berlaku (ini yangg dimaksud dengaan : kacau), maka dalaam transaksi arus disebutkan mata uangnya.
3.       ‘Urf yangg dijadikan sandaran dalaam penetapan hukum itu telah ada (berlaku) pada saat itu; bukan ‘urf yangg muncul kemudian. Hal ini berarti ‘urf itu harus ada sebelum penetapan hukum. Kalau ‘urf itu datang kemudian, maka tidaak diperhitungkan. Dalaam hal ini ada kaidah yangg mengatakan :

العُرفُ الَذى تَحمِلُ عليه الألفَاظُ إنما هو المقارن السابقُ دون متأخِّرِ
‘urf yangg diberlakukan padanya suatu lafaz (ketentuan hukum) hanyalah datang beriringan atau mendahului, dan bukan yangg datang kemudian.
Dalaam hal ini, Badran memberikan contoh : Orang yangg melakukan akad nikah dan pada waktu akad itu tidaak dijelaskan apakah maharnya dibayar lunas atau dicicil, sedangkan ‘adat yangg berlaku waktu itu ialah melunasi seluruh mahar. Kemudian ‘adat ditempat itu mengalami perubahan, dan orang-orang terbiasa mencicil mahar. Lalu muncul suatu kasus yangg menyebabkan terjadinya suatu perselisihan antara suami istri tentang pembayaran mahar tersebut. Suami berpegang pada ‘adat yangg sedang berlaku (sesuai adat lama ketika akad nikah berlangsung). Maka berdasarkan pada syarat dan kaidah tersebut, si suami harus melunasi maharnya, sesuai dengaan ‘adat yangg berlaku pada saat berlangsungnya akad nikah dan tidaak menurut ‘adat yangg muncul kemudian.
4.       ‘Adat tidaak bertentangan dan melalaikan dalil syara’ yangg ada atau bertentangan dengaan prinsip yangg pasti.
Sebenarnya persyaratan ini hanya menguatkan persyaratan penerimaan ‘adat shahih; karena kalau ‘adat itu bertentangan dengaan nash yangg ada atau bertentangan dengaan prinsip syara’ yangg pasti, maka ia termasuk ‘adat dan fasid yangg telah disepakati ‘ulama untukk menolaknya.[9]

Hasil diskusi “urf di kelas:

1.       Indoesia merupakan Negara yangg mayoritas pendudukya Islam namun banyak sekali tradisi atau adat yangg menyimpang darii ajaran islam , disini kami menemukan ‘urf  al-fasid, yangg cara mengatasinya adat itu tidaak bisa dihilangkan secara tiba-tiba namun harus melalaui proses yangg lama. Sebagai generasi Islam kita harus bersabar dalaam menghapusnya.
2.       Urf itu berlaku dimana seorang itu mengucapkan sumpah dan sesuai keyakinan orang tersebut  pada kasus “seorang yangg bersumpah tidaak  akan makan daging” ia berkeyakinan bahwa daging yangg dimaksud ialah hanya daging hewan yangg hidup di darat saja. Ia tidaak di anggap melanggar sumpah ketika makan ikan. Meskipun saksi atau teman yangg mendengarkna sumpah tersebut berkeyakinan bahwa daging yangg dimaksud ialah semua jenis daging hewan yangg hidup didarat maupun yangg hidup di laut.


BAB III

PENUTUP

A.       Kesimpulan

1.     Pengertian ‘urf
Segala sesuatu yangg telah dikenal dan menjadi kebiasaan manusia baik berupa ucapan, perbuatan atau tidaak melakukan sesuatu.
2.     Macam-macam ‘urf
a.        Darii segi objeknya, ‘urf di bagi dalaam al-urf al-lafdzi (kebiasaan yangg menyanggkut ungkapan) dan al-‘urf al-amali (kebiasaan yangg berbentuk perbuatan
b.       Darii segi cakupannya, urf di bagi dua, yaitu al-urf al-‘am (kebiasaan yangg bersifat umum) dan al-urf al-khas (kebiasaan yangg besifat khusus).
c.        Darii segi keabsahannya darii pandangan syara’,’urf terbagidua yaitu al-‘urfal shahih (kebiasaan yangg di anggap sah) dan al-‘urf  al-fasid (kebiasaan yangg dianggap rusak).
3.     Kehujjahan ‘urf
               
Artinya:
Jadilah Engkau Pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yangg ma'ruf, serta berpalinglah darii pada orang-orang yangg bodoh.
4.     Syarat-syarat ‘urf
a.        ‘Adat atau ‘urf itu bernilai maslahat dan dapatt diterima akal sehat.
b.       Adat atau ‘urf itu berlaku umum dan merata di kalangan orang-orang yangg berada dalaam lingkungan ‘adat itu, atau di kalangan sebagian besar kalangannya.
c.        ‘Urf yangg dijadikan sandaran dalaam penetapan hukum itu telah ada (berlaku) pada saat itu; bukan ‘urf yangg muncul kemudian.
d.       ‘Adat tidaak bertentangan dan melalaikan dalil syara’ yangg ada atau bertentangan dengaan prinsip yangg pasti.



DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, Sulaiman. Sumber Hukum Islam. Jakarta: Sinar Grafika.Djalil. 2007.
Basiq. Ilmu Ushul Fiqih Satu dan Dua. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2010.
Syarifudin,  Amin. Ushul Fiqh Jilid 2. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.
Suwarjin.Ushul Fiqh. Yogyakarta: Penerbit Teras.2012.
Umam, Khaerul. Ushul Fiqh-1. Bandung: CV Pustaka Setia.1998.





[1]Amir Sayrifuddin, Ushul Fiqh jilid 2 ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011) 387
[2]Suwarjin, Ushul Fiqh (Yogyakarta: Penerbit Teras, 2012) 148-149
[3] Amir Syarifudin, Ushul Fiqh Jilid 2, 389
[4] Khairul Umam dkk, Ushul Fiqih –I (Bandung: Pustaka Setia. 1998) 160-164
[5] Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islam ( Jakarta:Sinar Grafika Offset, 2007) 78-80
[6] Basiq Djalil, Ilmu Ushul Fiqih Satu dan Dua(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010) 162
[7] Amir Syarifudin, Ushul Fiqh Jilid 2, 399
[8] Khaerul Umam, Ushul Fiqih-1, 168
[9]Amir Syarifudin, Ushul Fiqh Jilid 2, 400-402

Visitor