Makalah Pengertian Prinsip & Macam ( Validitas )



Makalah Pengertian validitas? Validitas? Instrumen validitas? Uji validitas? Prinsip validitas? Macam macam validitas? Cara menghitung validitas?



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ketepatan pengujian suatu hipotesa tentang hubungan variable penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang dipakai dalam pengujian tersebut. Hal-hal yang menyebabkan data yang dikumpulkan tidak valid dan tidak reliabel, merupakan prasyarat agar hasil penelitian yang dicapai dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah.
Persoalan alat ukur yang digunakan evaluator ketika melakukan kegiatan evaluasi sering dihadapkan pada persoalan akurasi, konsisten dan stabilitas sehingga hasil pengukuran yang diperoleh bisa mengukur dengan akurat sesuatu yang sedang diukur. Instrumen ini memang harus memiliki akurasi ketika digunakan. Konsisten dan stabil dalam arti tidak mengalami perubahan dari waktu pengukuran satu ke pengukuran yang lain.
Data yang kurang memiliki validitas , akan menghasilkan kesimpulan yang bisa kurang sesuai dengan yang seharusnya, dan bahkan bisa saja bertentangan dengan kelaziman. Untuk membuat alat ukur instrumen itu, diperlukan kajian teori, pendapat para ahli serta pengalaman-pengalaman yang kadangkala diperlukan bila definisi operasional variabelnya tidak kita temukan dalam teori. Alat ukur atau instrumen yang akan disusun itu tentu saja harus memiliki validitas , agar data yang diperoleh dari alat ukur itu bisa reliabel, valid dan disebut dengan validitas.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1.     Apa yang dimaksud Validitas?
2.     Apa sajakan prinsip dari Validitas?
3.     Apa sajakah macam-macam dari Validitas?
4.     Bagaimana cara mengitung Validitas dengan konsep kolerasi?

C.    Tujuan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah:
1.     Mengetahui apa yang dimaksud dengan Validitas.
2.     Mengetahui prinsip dari Validitas.
3.     Mengetahui macam-macam dari Validitas.
4.     Memahami cara menghitung Validitas dengan konsep kolerasi.


















BAB II
VALIDITAS
A.    Definisi Validitas
Saifuddin Azwar 2005,dalam buku evaluasi pendidikan mengatakan bawa Validitas berasal dari kata “Validity” yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melaksanakan fungsi ukurnya. Suatu alat evaluasi (tes) dikatakan mempunyai validitas yang tinggi (disebut valid ) jika alat evaluasi atau tes itu dapat mengukur apa yang sebenarnya akan di ukur atau memberikan hasil ukur yang tepat dan akurat sesuai dengan maksud dikenakannya tes tersebut. Sedangkan suatu tes yang menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan diadakannya pengukuran dikatakan sebagai tes yang memiliki validitas rendah.
Pengertian validitas sangat erat berkaitan dengan tujuan pengukuran. Tidak ada validitas yang berlaku secara umum untuk semua tujuan pengukuran. Suatu tes hanya menghasilkan ukuran yang sangat valid untuk satu tujuan pengukuran saja yang spesifik. Oleh karena itu, suatu tes yang valid guna pengambilan suatu keputusan dapat saja tidak valid sama sekali guna mengambil keputusan yang lain.
B.    Prinsip Validitas
1.       Interpretasi (interpretation) yang kita berikan terhadap asesmen siswa hanya valid terhadap   yang kita arahkan ke suatu bukti yang mendukung kecocokan dan kebenarannya.
2.        Kegunaan (use) yang bisa kita buat dari hasil asesment hanya valid terhadap derajat yang kita arahkan ke suatu bukti yang mendukung kecocokan dan kebenarannya.
3.       Interpretasi dan kegunaan dari hasil asesment hanya valid ketika nilai (values) yang dihasilkan sesuai.
4.       Interpretasi dan kegunaan dari hasil asesment hanya valid ketika konsekuensi (consequences) dari interpretasi dan kegunaan ini konsisten dengan nilai kecocokan.
C.         Macam-macam Validitas
Di dalam buku Encyklopedia of  Educational Evaluation yang di tulis oleh scarvia B. Anderson dan kawan-kawan disebutkan:
A test valid if it measure what it purpose to measure. Atau jika diartikan lebih kurang demikian: sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur. Dalam bahasa Indonesia “valid” disebut dengan istilah “sahih”.
Validitas ini bukan ditekankan pada tes itu sendiri tetapi pada hasil pengetesan atau skornya.
Validitas tes dapat kita ketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengalaman. Hal yang pertama akan diperoleh validitas logis ( logical Validity) dan hal yang kedua diperoleh validitas empiris (empirical logical).
Secara garis besar ada tiga  macam Validitas, yaitu Validitas Isi, Validitas Konstruk dan validitas Kriteria.
a.        Validitas Isi
Validitas isi dari suatu tes hasil belajar adalah validitas yang diperoleh setelah dilakukan penganalisisan penelusuran atau pengujian terhadap isi yang terkandung dalam tes hasil belajar tersebut. Validitas isi adalah validitas yang dilihat dari segi isi tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar yaitu: sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representative terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran yang seharusnya di teskan.
Validitas Isi dapat dibagi menjadi dua macam yaitu Validitas muka dan validitas logis.
a.     Validitas Muka
Validitas  muka  merupakan  tingkat  kecocokan  antara  face (tampilan) alat ukur dengan responden yang akan menanggapinya. Misalnya alat ukur untuk anak kecil lebih cocok berbicara tentang boneka,  gundu, atau permainan.  Contoh lain alat ukur untuk para manajer lebih cocok berbicara tentang saham, produksi, atau kurs valuta asing. Bahasa di dalam alat ukur perlu  sesuai dengan bahasa usahawan.  Tulisan berukuran biasa  (terbaca).  Bahasa di dalam alat ukur perlu  sederhana dan mudah dipahami.  Kecocokan wajah  atau tampilan  instrumen  ini  bermanfaat  untuk  meningkatkan  minat responden  dalam  menanggapi  pertanyaan  yang  terdapat  pada instrumen. Bukti  validitas  muka  diperoleh  melalui  pemeriksaan terhadap  item-item  tes  untuk  membuat  kesimpulan  bahwa  tes tersebut  mengukur  aspek  yang  relevan.  Dasar  penyimpulannya lebih  banyak  didasarkan  pada  akal  sehat.  Kesimpulan  ini  dapat diperoleh  oleh  siapa  saja  walaupun  tentu  tidak  semua  orang diharapkan  setuju  menyatakan  bahwa  test  A,  misalnya  memiliki validitas  muka  yang  baik.  Akan  tetapi,  seseorang  yang  ingin menggunakan  tes  tersebut  harus  punya  keyakinan  terlebih  dahulu bahwa  dari  segi  isi,  tes  itu  adalah  valid  untuk  tujuan  pengukuran tertentu.
b.     Validitas logis
Secara istilah “Validitas logis” mengandung kata “Logis” yang berasal dari kata “Logika”, yang berarti penalaran. Dengan makna demikian maka Validitas logis untuk sebuah instrumen evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah instrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang terpenuhi karena instrumen yang bersangkutan sudah dirancang secara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada. sebagaimana pelaksanaan sebuah karangan, jika penulis sudah mengikuti aturan mengarang, tentu secara logis karangannya sudah baik. Berdasarkan penjelasan tersebut maka instrumen yang sudah disusun berdasarkan teori penyusunan instrumen, secara logis sudah valid.  Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa validitas logis tidak perlu diuji kondisinya, tetapi berlangsung diperoleh sesudah instrumen tersebut selesai disusun.
2.       Validitas Konstruksi
Secara etimologis, kata “Konstruksi” mengandung arti susunan, kerangka atau rekaan. Adapun secara terminologis suatu tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tes yang telah memiliki validitas konstruksi, apabila tes hasil belajar tesebut ditinjau dari segi susunan, kerangka atau rekaannya telah dapat dengan secara tepat mencerminkan suatu konstruksi dalam teori psikologis.
Sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang mebangun tes tersebut mengukur setiap aspek berpikir seperti yang disebutkan dalam tujuan instruksional khusus dengan kata lain jika butir-butir soal mengukur aspek berpikir tersebut sudah sesuia dengan aspek berpikir yang menjadi tujuan instruksional.
Contoh jika rumusan Tujuan Intruksional Khusus (TIK) “murid dapat menbandingkan antara efek biologis dan efek psikologis”, maka butir soal pada tes merupakan perintah agar murid membedakan antara dua efek tersebut.
“Konstruksi” dalam pengertian ini bukanlah susunan seperti yang sering dijumpai dalam teknik tetapi merupakan rekaan psikologis, yaitu suatu rekaan yang dibuat oleh para ahli ilmu jiwa yang dengan suatu cara tertentu “Memerinci” isi jiwa atas beberapa aspek seperti: ingatan (pengetahuan), pemahaman, aplikasi dan seterusnya. Dalam hal ini meraka menganggap seolah-olah jiwa dapat dibagi-bagi tetapi sebenarnya tidak demikian. Pembagian ini hanya merupakan tindakan sementara untuk mempermudah mempelajari.

3.       Validitas Kriteria
Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menguji bahwa sebuah instrumen memang valid. Pengujian tersebut dilakukan dengan membandingkan kondisi instrumen yang bersangkutan dengan kriterium atau sebuah ukuran. Ditinjau dari kriterium dalam membandingkan kondisi instrumen, Validitas Kriteria terdiri dari dua bagian :
a)          Validitas “ada sekarang” ( concurrent validity)
Validitas ini lebih umum dikenal dengan validitas empiris. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas empiris jika hasilnya sesuai dengan pengalaman. Jika ada istilah”sesuai”tentu ada dua hal yang dipasangkan. Dalam hal ini, hasil tes dipasangkan dengan hasil pengalaman. Pengalaman selalu mengnai hal yang telah lampau sehingga data pengalaman tersebut sekarang sudah ada (concurrent).
Dalam membandingkan hasil sebuah tes maka diperlukan suatu kriterium atau alat banding. Maka hasil tes merupakan sesuatu yang dibandingkan. Sebagai Contoh, misalnya: seorang guru ingin mengetahui apakah tes sumatif yang disusun sudah valid atau belum, untuk ini diperlukan sebuah kriterium masa lalu yang sekarang datanya dimiliki. Misalnya nilai ulangan harian atau nilai ulangan sumatif yang lalu.
b)       Validity Prediksi (predictive Validity)
Memprediksi artinya meramal, dengan meramal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebuah tes dikatakan memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Sebagai contoh : tes masuk perguruan tinggi adalah sebuah tes yang diperkirakan mampu meramalkan keberhasilan peserta tes dalam mengikuti kuliah dimasa yang akan datang. Calon yang tersaring berdasarkan hasil tes diharapkan mencerminkan tinggi rendahnya kemampuan mengikuti kuliah. Jika nilai tesnya tinggi tentu menjamin keberhasilannya kelak. Sebaliknya seorang calon dikatakan tidak dikatkan lulus tes karena memiliki nilai tes yang rendah jadi diperkirakan akan tidak mampu mengikuti perkuliahan yang akan datang.
Sebagai alat pembanding validitas prediksi adalah nilai-nilai yang diperoleh setelah peserta tes mengikuti pelajaran di perguruan Tinggi. Jika ternyata siapa yang memiliki nilai tes lebih tinggi

D.    Konsep Korelasi pada Validitas
Pengujian validitas melibatkan perhitungan statistik korelasi sehingga perlu dibahas mengenai konsep korelasi pada validitas. Korelasi berasal dari kata ko yang berarti saling dan relasi yang berarti berhubungan, sehingga korelasi berarti saling berhubungan. Dua hal atau lebih dikatakan mempunyai saling hubungan apabila di antara mereka terdapat kesejajaran nilai. Korelasi berhubungan dengan tingkat sejauh mana dua hal atau lebih memiliki kesejajaran nilai. Kesejajaran nilai mengandung pengertian bahwa bervariasinya suatu gejala diikuti oleh bervariasinya gejala yang lain. Misalnya: bertambahnya prestasi belajar siswa berhubungan dengan menurunnya kesulitan siswa dalam belajar matematika.
Tingkat hubungan atau yang biasa disebut koefisien korelasi digunakan notasi r (relasi) dan hubungan antara data X dan data Y dinotasikan rxy. Dalam memberikan penafsiran koefisien korelasi pada validitas yang bisa disebut koefisien validitas, rxy akan dibandingkan dengan rtabel, nilai rtabel akan menjadi penentu apakah hubungan antara X dan Y yang signifikan atau tidak. Besar rtabel bergantung pada banyaknya peserta (N) dan taraf kesalahannya (α).
Korelasi dapat terjadi pada berbagai keadaan:
a.     Bila bertambahnya nilai suatu gejala (X) diikuti pula dengan bertambahnya nilai gejala lain (Y) maka kedua gejala cenderung mempunyai korelasi yang positif, dimana setiap bertambahnya X diikuti bertambahnya Y dan berkurangnya X diikuti bertambahnya Y, maka pada keadaan paling sempurna korelasi X dan Y adalah +1,00.
b.     Bila bertambahnya nilai suatu gejala (X) diikuti dengan berkurangnya nilai gejala lain (Y) maka kedua gejala tersebut cenderung mempunyai korelasi negatif, dimana setiap bertambahnya X diikuti berkurangnya Y dan berkurangnya X diikuti dengan bertambahnya Y, maka pada keadaan paling sempurna korelasi X dan Y adalah -1,00.
c.     Bila hubungan X dan Y tidak mempunyai pola, yaitu bertambahnya nilai suatu gejala (X) kadang diikuti dengan bertambahnya nilai gejala lain (Y) dan kadang diikuti dengan berkurangnya nilai gejala lain (Y) pula, maka kedua gejala tersebut tidak mempunyai hubungan yang bermakna (signifikan). Pada keadaan paling sempurna, korelasi X dan Y adalah 0,00.
Pengujian signifikansi korelasi dilakukan dengan membandingkan antara korelasi hitung (rxy) dengan r pada tabel (rtabel) yang ada pada lampiran. Pada korelasi positif, bila rxy > rtabel maka dapat disimpulkan bahwa X dan Y mempunyai korelasi positif yang signifikan atau disebut valid. Pada korelasi negatif, bila rxy < -rtabel maka dapat disimpulkan bahwa X dan Y mempunyai korelasi negatif yang signifikan atau disebut valid. Sebaliknya pada keadaan dimana korelasi positif rxy < rtabel atau korelasi negatif rxy > -rtabel maka dapat disimpulkan bahwa X dan Y tidak mempunyai korelasi yang signifikan atau disebut tidak valid.
Rumusan korelasi product moment ada 2 macam, yaitu:
a.        Korelasi product moment dengan simpangan,
b.       Korelasi product dengan angka kasar.
Rumus kolerasi product moment dengan simpangan:

Dimana :          
                                    = Koefisien kolerasi antara variable X dan variable Y, dua variable
yang dikolerasikan  (x = X -  dan y = Y - )
                 = Jumlah perkalian x dengan y.
                     = Kuadrat dari x
                     = Kuadrat dari y
Rumus kolerasi product moment dengan angka kasar:

Keterangan dimana:
 Koefisien kolerasi antara variable X dan variable Y, dua variable yang dikolerasikan.

Contoh perhitungan product moment dengan simpangan:
Misalnya akan menghitung validitas tes prestasi belajar matematika. Sebagai kriterium diambil rata-rata ulangan yang akan dicari validitasnya diberi kode X dan rata-rata nilai harian diberi kode Y. Kemudian dibuat tabel persiapan sebagai berikut.



TABEL PERSIAPAN UNTUK MENCARI VALIDITAS TES PRESTASI
MATEMATIKA
No
Nama
X
Y
x
y
x2
y2
xy
1
Budi Darmawan
8
9
-0,2
+1,2
0,04
1,44
-0,24
2
Nurul Khilda
7
8
-1,2
+0,2
1,44
0,04
-0,24
3
Indah Nur’aena
9
8
+0,8
+0,2
0,64
0,04
0,16
4
Nurdiana
8
7
-0,2
-0,8
0,04
0,64
0,16
5
Wida Widaningsih
9
7
+0,8
-0,8
0,64
0,64
-0,64

Jumlah
41
39


2,8
2,8
-0,8

Untuk mencari :  x = X -  dan y = Y -
x2  = kuadrat dari x
y2  = kuadrat dari y

 


Contoh perhitungan product moment dengan angka kasar:
TABEL PERSIAPAN UNTUK MENCARI VALIDITAS TES PRESTASI
MATEMATIKA
No
Nama
X
Y
X2
Y2
XY
1
Budi Darmawan
8
9
64
81
72
2
Nurul Khilda
7
8
49
64
56
3
Indah Nur’aena
9
8
81
64
72
4
Nurdiana
8
7
64
49
56
5
Wida Widaningsih
9
7
81
49
63

Jumlah
41
39
339
307
319


Jika diperbandingkan dengan validitas soal yang dihitung dengan rumus simpangan, ternyata terdapat perbedaan sebesar 0,005, lebih besar yang dihitung dengan rumus simpangan. Hal ini wajar karena dalam mengerjakan perkalian atau penjumlahan jika diperoleh 3 atau angka dibelakang koma dilakukan pembulatan ke atas. Perbedaan ini sangat kecil sehingga dapat diabaikan.
E.     Validitas Butir Soal atau Validitas Item
Disamping mencari validitas soal perlu juga mencari validitas item. Jika seorang peneliti atau seorang guru mengetahui bahwa validitas soal tes misalnya terlalu rendah atau rendah saja, maka selanjutnya ingin mengetahui butir-butir tes manakah yang menyebabkan soal secara keseluruhan tersebut menjadi jelek karena memiliki validitas rendah, untuk keperluan inilah dicari validitas butir soal.
Definisi Validitas item secara umum adalah demikian item dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Skor pada item menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah. Dengan kata lain dapat dikemukakan disini bahwa sebuah item memiliki validitas yang tinggi jika skor pada item mempunyai kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikan dengan korelasi sehingga untuk mengetahui validitas item digunakan rumus korelasi seperti sudah diterangkan diatas.
Untuk soal-soal bentuk objektif skor untuk item biasa diberikan dengan 1 (bagi item yang dijawab benar) dan 0 (bagi item yang dijawab salah), sedangkan skor total selanjutnya merupakan jumlah dari skor untuk semua item yang membangun soal tersebut.
Contoh perhitungan:






TABEL ANALISIS ITEM UNTUK PERHITUNGAN VALIDITAS ITEM
NoNo
Nama
Butir Soal / item
Skor
Total
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
Hartati
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1
8
2
yoyok
0
0
1
0
1
0
0
1
1
1
5
3
Oktaf
0
1
0
0
0
1
0
1
0
1
4
4
Wendi
1
1
0
0
1
1
0
0
1
0
5
5
Diana
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
6
6
Paul
1
0
1
0
1
0
1
0
0
0
4
7
Susana
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
7
8
Helen
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
8

Misalnya akan dihitung validitas item nomor 6 , maka skor item tersebut disebut dengan variabel X dan skor total disebut variabel Y. Selanjtnya perhitungan dikakukan dengan menggunakan rumus korelasi Product moment, baik dengan rumus simpangan maupun rumus angka kasar.
Penggunaan masing-masing rumus tersebut ada keuntungannya masing-masing. Menggunakan rumus simpangan angkanya kecil-kecil, tetapi kadang-kadang pecahannya rumit. Penggunaan rumus angka kasar bilangannya besar-besar tetapi bulat.
Contoh perhitungan mencari validitas item:
Untuk menghitung validitas item nomor 6, dibuat terlebih dahulu tabel persiapannya sebagai berikut.







TABEL PERSIAPAN UNTUK MENGHITUNG
VALIDITAS ITEM NOMOR 6
No
Nama
X
Y
X2
Y2
XY
1
Hartati
1
8
1
64
8
2
Oktaf
0
5
0
25
0
3
Diana
1
4
1
16
4
4
Wendi
1
5
1
25
5
5
Paul
1
6
1
36
6
6
Yoyo
0
4
0
16
0
7
Susana
1
7
1
49
7
8
Helen
1
8
1
64
8
jumlah
6
46
6
295
38

Keterangan:
X       = Skor item nomor 4          
t         = Rerata skor total
Y        = Skor total
       = Rerata skor dari subjek yang menjawab betul bagi item yang dicari validitasnya.
        
Dari Perhitungan diperoleh data sebagai berikut    :
    = 6                                   = 6
    =  46                                                = 295
    = 38
    
       Sesudah diketahui , , ,  dan  tinggal memasukan bilangan-bilangan tersebut ke dalam rumus korelasi product moment dengan rumus angka kasar.

Koefisien validitas item nomor 6 adalah 0,517. Dilihat secara sepintas sehingga ini memang sesuai dengan kenyataannya. Hal ini dapat diketahui dari skor-skor yang tertera baik pada item maupun skor total. Oktaf yang hanya memiliki skor total 4 dapat memperoleh skor 1 pada item. Sedangkan yoyok dan wendi mempunyai skor total yang sama, yaitu 5 skor pada item tidak sama. Validitas item tersebut kurang meyakinkan, tentu saja validitasnya tidak tinggi.
F.     Tes Terstandar sebagai Kriterium dalam Menentukan Validitas
Tes terstandar adalah tes yang dicobakan berkali-kali sehingga dapat dijamin kebaikannya. Dinegara-negara berkembang biasa tersedia tes semacam ini, dan dikenal dengan nama standardized test. Sebuah ter terstandar biasanya memiliki identitas antara lain: sudah dicobakan berapa kali dan dimana, berapa koefisien validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, daya pembeda dan lain-lain keterangan yang dianggap perlu. Cara menentukan validitas soal yang menggunakan tes terstandar sebagai kriterium dilakukan dengan mengalikan validitas yang diperoleh dengan koefisien validitas tes terstandar tersebut.
Contoh Perhitungan:
TABEL PERSIAPAN PERHITUNGAN VALIDITAS MATEMATIKA DENGAN KRITERIUM TES TERSTANDAR MATEMATIKA
No
Nama
X
Y
X2
Y2
XY
Keterangan
1
Nining
5
7
25
49
35

X = hasil tes matematika yang dicari validitasnya
Y= hasil tes standar
2 
Maruti
6
6
36
36
36
3
Bambang
5
6
25
36
30
4
Seno
6
7
36
49
42
5
Hartini
7
7
49
49
49
6
Heru
6
5
36
25
30

Dimasukkan ke dalam rumus kolerasi product moment dengan angka kasar sebagai berikut:
Jika dari tes diatas diketahui bahwa validitasnya 0,89 maka bilangan 0,108 ini belum merupakan validitas soal matematika yang dicari. Validitas tersebut harus dikalikan dengan 0,89 yang hasilnya 0,108  0,89 = 0,096












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Saifuddin Azwar 2005,dalam buku evaluasi pendidikan mengatakan bawa Validitas berasal dari kata “Validity” yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melaksanakan fungsi ukurnya.  Secara garis besar validitas di bagi menjadi dua macam yaitu validitas logis dan validitas empiris. Validitas logis dibagi lagi menjadi dua macam yaitu validitas isi dan validitas konstruksi. Validitas empiris juga dibagi menjadi dua macam yaitu validitas Concurrent (ada sekarang) dan validitas prediksi. 
Pengujian validitas melibatkan perhitungan statistik korelasi sehingga perlu dibahas mengenai konsep korelasi pada validitas. Korelasi berasal dari kata ko yang berarti saling dan relasi yang berarti berhubungan, sehingga korelasi berarti saling berhubungan. Rumusan korelasi product moment ada 2 macam, yaitu:
c.        Korelasi product moment dengan simpangan,
d.       Korelasi product dengan angka kasar.
Rumus kolerasi product moment dengan simpangan:

Rumus kolerasi product moment dengan angka kasar:
Disamping mencari validitas soal perlu juga mencari validitas item. Definisi Validitas item secara umum adalah demikian item dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Untuk mengetahui validitas item juga menggunakan rumus korelasi. Cara menentukan validitas soal yang menggunakan tes terstandar sebagai kriterium dilakukan dengan mengalikan validitas yang diperoleh dengan koefisien validitas tes terstandar tersebut.













Daftar Pustaka
Atikunto,Suharsimi.2012.Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta:bumi Aksara.
Mulyadi.2010.Evaluasi Pendidikan.UIN:Maliki Press.
Sudijono,Anas.2001.pengantar Evaluasi Pendidikan.Jakarta:PT Raja GrafindoPersada






Visitor