Makalah Pengertian Macam & Contoh ( Muradif dan Musytarak )



Makalah Pengertian Muradif dan Musytarak? Contoh muradif dan Musytarak? Hukum Lafal Muradif dan Musytarak? Macam Muradif dan Musytarak? Syarat Muradif dan Musytarak?


A.      Pengertian Muradhif dan Musytarak

Muradif menurut bahasa artinya ialah : membonceng / ikut serta. Muradif yangg dimaksudlan oleh ahli ushul fiqih ialah : “beberapa lafaz terpakai untukkk satu makna.”
Contoh:لليث = الاسد    “singa”
Musytarak artinya menurut bahasa ialah, berserikat, berkumpul. Musytarak dalaam ushul fiqih ialah : “lafaz yangg dibentuk untukkk dua arti atau lebih yangg berbeda-beda.”[1]
Muradif ialah lafalnya banyak sedang artinya sama (synonym). Seperti lafal asad dan allaits (artinya singa), hintah dan qamhu (artinya gandum).
Musytarak, ialah suatu lafal yangg mempunyai dua arti yangg sebenarnya dan arti-arti tersebut berbeda-beda. Seperti lafal jaun yangg artinya putih atau hitam. Apabila arti yangg sebenarnya hanya satu dan yangg lain ati majaz, maka tidak dikatakan musytarak.[2]

B.      Hokum lafal

Hokum muradif

Hokum muradif yangg dimaksudkan disini ialah tentang timbulnya persoalan yangg dikarenakan adanya lafaz-lafaz muradif, dalaam hal demikian, para ulama mempersoalkan hokumnya, seperti misalnya apakah boleh satu lafal diganti dengaan lafal lain yangg maknanya sama. Seperti lafaz الاسد diganti dengaan lafaz لليث .
Para ulama umunya berpendirian bahwa bacaan Al-Qur’an yangg bersifat TA’ABUDI, tidak boleh diganti dengaan lafaz murafif-nya karena Al-Qur’an dan seluruh lafaznya ialah mengandung mukjizat, sedang muradif satu lafaz dalaam Al-Qur’an bukanlah teks Al-Qur’an yangg dengaan sendirinya tidak mengandung mu’jizat.
Sehubungan dengaan masalah muradif ada juga para ulama yangg berselisih pendapatt dalaam hal-hal tertentu, seperti dalaam masalah zikir. Dalaam masalah zikir itu pun bagi golongan yangg membenarkan muradif, memberikan dua syarat yangg harus dipenuhi, yakni :
1)       Boleh dipakai lafaz muradif, bila penggantian lafaz muradif tersebut tidak mendapatt halangan dariiii Agama, baik secara jelas atau samar-samar.
2)       Boleh dipakai lafaz muradif, bila penggantian lafaz boleh dipakai lafaz muradif-nya itu berasal dariiii satu bahasa, yakni sama-sama bahasa Arab misalnya.

Hokum Musytarak

Yangg dimaksudkan dengaan hokum musytarak. Disini ialah tentang boleh tidaknya menggunakan lafaz musytarak. Tentang hal ini para ulama berselisih, pendapatt satu pihak membolehkan, sedang di pihak lain sebaliknya.
Menurut jumhur ulama ialah :

اِسْتِعْمَالُ الْمُشْتَرَكِ فيِ مَعْنَيْهِ يَجُوْزُ.
“menggunakan lafaz musytarak dalaam dua makna atau beberapa makna ialah boleh.”

Mereka ini beralasan dengaan firman Allah yangg berbunyi :
“ Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yangg ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yangg melata dan sebagian besar dariiiipada manusia? .” (QS. Al-Hajj : 18)
Lafaz  sujud  ialah  musytarak, karena bisa berarti meletakkan dahi di tanah dan bisa berarti tunduk. Dan dalaam ayat tersebut ditujukan pada manusia dan makhluk yangg tidak berakal seperti bumi, langit, bulan dan lain-lain.
Disamping itu, memang ada juga Ulama yangg beranggapan bahwa menggunakan lafaz musytarak dalaam dua makna atau lebih ialah tidak boleh (لا يَجُوْزُ  ).

DAFTAR PUSTAKA

*       Djalil, Basiq. 2010.  Ilmu Ushul Fiqih(satu dan dua). Jakarta: Kencana
*       Karim, Syafi’i. 1997. Fiqih/Ushul Fiqih. Bandung : pustia Studio
*       Ash Shiddieqy, Teungku. 2001. Pengantar Hokum Islam. Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra
*       Effendi, Satria dkk. 2008 .Ushul Fiqh. Jakarta : Kencana



[1] Ibid, hal.116-117
[2] Drs. H. A. Syafi’I Karim, Fiqih/Ushul Fiqih, Bandung : pustia Studio, juli 1997, hal.197

Visitor