Makalah Dalalah Ayat Al-Qur’an ( Qath’i dan Zhanni )



Makalah Pengertian Dalalah ayat al-qur’an Qath’i dan Zanni? Dalalah ayat al-qur’an? Ayat ayat al-qur’an? Contoh ayat qath’i al-wurud? Contoh ayat zanni? pengertian al qur an? sumber hukum islam? macam dalalah qath'i? macam dalalah zanni?



Nash-nash Al-Qur’an, seluruhnya bersifat qath’i (pasti) darii segi kehadirannya dan ketetapannya, dan periwayatannya darii Rasulullah saw. kepada kita. Maksudnya, kita memastikan bahwa setiap nash Al-qur’an yangg kita baca itu ialah hakekat nash Al-Qur’an yangg diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya. Kemudian Rasul yangg makshum itu menyampaikannya kepada ummatnya tanpa da perubahan dan tidakk pula ada penggantian.Lantaran Ma’sumnya Rasulullah saw, maka ketika turun surat atau ayat disampaikannya oleh rasulullah saw kepada para sahabat dan dibacakan untukk ditulis (ada pula yangg menulis untukk dirinya sendiri) serta untukk dihafal dan dibaca waktu melakukan shalat. Meraka juga beribadah dengaan cara membaca pada setiap saat.[1]Akan tetapi, hukum-hukum yangg dikandung Al-Qur’an ada kalanya bersifat qath’i dan ada kalanya bersifat zhanni.[2]
Adapun nash-nash Al-Quran itu darii segi dalalahnya terhadap hukum-hukum yangg dikandungnya, maka ia terjadi menjadi dua bagian, yaitu:
a.        Nash yangg qoth’i dalalahnya terhadap hukumnya
b.       Nash yangg zhanni dalalahnya terhadap hukumnya.[3]
Istilah qath’i dan zhanni masing masing terdiri atas dua bagian, yaitu yangg menyanggkut al-tsubut (kebenaran sumber) dan al-dalalah(kandungan makna). Tidakk terdapatt perbedaan pendapatt dikalangan umatIslam menyanggkut kebenaran sumber al-Qur’an. Semua bersepakat meyakini bahwa redaksi ayat-ayat al-Qur’an yangg terhimpun dalaam mushaf dan dibaca kaum muslim diseluruh penjuru dunia ialah sama tanpa sedikit perbedaan dengaan yangg diterima Nabi Muhammad saw darii Allah melalui malaikat jibril.
Al-Qur’an jelas qath’iy al-tsabut. Hakikatnya merupakan salah satu darii apa yangg dikenal dengaan istilah Ma’lum min al din bi al dharurah(sesuatu yangg sudah sangat jelas, aksomatik, dalaam ajaran agama). Tidakk ada perbedaan pendapatt dalaam hal ini, bahkan diyakini bahwa hal ini telah memasuki lapangan teologi, artinya pengingkaran qath’i al-tsubutnya al-Qur’an akan membawa sejumlah konsekuensi teologis. Namun demikian, darii sisi al-dalalah, ayat al-Qur’an ada yangg qath’i dan ada pula yangg zhanni. yangg menjadi persoalan ialah yangg menyanggkut kandungan makna redaksi ayat ayat al Qur’an ini.[4]
Nash atau ayat yangg bersifat qath’i ialah lafal-lafal yangg mengandung pengertian tunggal dan tidakk bisa dipahami makna lain dariinya. Adapun menurut definisi Prof. Abdul Wahhab Khallaf dalil qath’i ialah suatu teks yangg menunjukkan pada makna tertentu yangg  dapatt di pahami dariinya, tidakk ada kemungkinan untukk di ta’wilkan, dan tidakk ada peluang untukk memahami makna selain darii makna tekstualnya.[5] Dalil-dalil qath’i dapatt dipahami begitu saja dan penolakan terhadapnya berarti bentuk kekufuran. Misalnya, masalah akidah, seperti keyakinan terhadap surga dan neraka, serta yaumul hisab, ialah masalah-masalah agama yangg tidakk dapatt dibantah lagi kepastiannya sehingga kita tidakk punya alasan untukk tidakk meyakininya.
Misalnya firman Allah SWT:
QS. An-Nisa’: 12:

ولكم نِصفُ ما ترك ازواجُكم ان لم يكن لهنَّ ولدٌ
Artinya: “Dan bagimu (suami-suami) seperdua darii harta yangg ditinggalkan oleh istri-istri kamu jika mereka tidakk mempunyai anak.”

Ayat ini ialah qath’i dalalahnya bahwa bagian suami (bila ditinggal mati istri) ialah seperdua atau separuh, tidakk bisa lainnya. (yakni yangg lain darii seperdua) atau dipahami dengaan versi lain.
 QS. An-Nur : 2

الزَّانِيَةُ وَالزَّنِى فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِاْئَةً جَلْدَةٍ
Artinya: “ Perempuan yangg berzina dan laki-laki yangg berzina, maka deralah tiap-tiap orang darii keduannya seratus kali dera”. (Q.S An Nur : 2)


Kata “seratus kali” tidakk mengandung kemungkinan ta’wil atau pemahaman lain. Dengaan demikian ayat ini bersifat qath’i al-dalalah maksudnya bahwa had zina itu seratus kali dera, tidakk lebih, dan tidakk kurang.[6]
Sedangkanayat yangg mengandung hukum zhanni ialah lafadz lafadz yangg dalaam al-Qur’an mengandung pengertian lebih darii satu dan memungkinkan untukk di-ta’wilkan.[7]Nash yangg zhanni dilalahnya yaitu nash yangg menunjukkan suatu makna yangg dapatt di-ta’wilatau nash yangg mempunyai makna lebih darii satu, baik karena lafazhnya musytarak (homonim) ataupun karena susunan kata-katanya dapatt dipahami dengaan berbagai cara, seperti dilalah isyarat-nya, iqtidha-nya dan sebagainya.[8]
Contoh ayat yangg zhanni, misalnya:
QS. Al Baqarah : 228

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَر بصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَثَةَ قُرُوْءٍ
Artinya : “Wanita-wanita yangg ditalak hendaklah menahan diri(menunggu) tiga kali quru”. (Q.S. Al Baqarah : 228).


Lafadz qurudalaambahasa arab ialah musytarak (satu kata dua artinya atau lebih).  Di dalaam ayat tersebut bisa berarti bersih (suci) dan kotor (masa haidh) pada nash tersebut memberitahukan bahwa wanita-wanita yangg ditalak harus menunggu tiga kali quru’. dengaan demikian, akan timbul dua pengertian yaitu tiga kali bersih atau tiga kali kotor. jadi adanya kemungkinan itu, maka ayat tersebut tidakk dikatakan qath’i. karena itu dalaam hal ini para imam mujtahid berbeda pendapatt tentang masa menunggu  (‘iddah) bagi wanita yangg dicerai, ada yangg mengatakan tiga kali bersih dan ada yangg mengatakan tiga kali haidh.[9]
 Q.S. Al Maidah : 3
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ المَيْتَةُ وَالدَّمُ
Artinya: “ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai dan darah”. (Q.S. Al-Maidah : 3).
Lafadz Al-Maitatu di dalaam ayat tersebut ‘Am, yangg mempunyai kemungkinan mengharamkan setiap bangkai atau keharaman itu dikecualikan selain bangkai binatang laut/air. karenanya nash yangg dimaksud ganda atau lafadz ‘Am mutlak dan yangg seperti itu maka disebut zhanni dalalahnya. hal ini disebabkan karena lafadz tersebut mempunyai suatu arti tetapi juga mungkin berarti lain.[10]
Sementara itu Al-Syatibhi menulis demikian : ”Tidakk atau jarang sekali ada sesuatu yangg pasti dalaam dalil-dalil syara’ yangg sesuai dengaan penggunaan (istilah) yangg populer.” yangg dimaksudkan ialah istilah yangg dinukil diatas, atau yangg semakna dengaannya, seperti dijelaskan oleh Ali abdul wahhab, mereka merumuskan definisi populer tersebut dengaan tidakk adanya kemungkinan untukk memahami darii suatu lafadz kecuali maknanya yangg dasar itu.
Tidakk atau jarang sekali ada sesuatu yangg pasti dalaam dalil-dalil syara’ (jika berdiri sendiri) ini karena apabila dalil-dalil syara’ tersebut bersifat ahad, maka ia tidakk dapatt memberi kepastian. Sedangkan bila dalil tersebut bersifat mutawattir lafadznya maka untukk menarik makna yangg pasti dibutuhkan premis-premis (muqoddimah) yangg tentunya harus bersifat pasti (qath’i) pula. Dalaam hal ini premis premis tersebut harus bisa mutawatir. Ini tidakk mudah ditemukan, karena kenyataan membuktikan bahwa premis-premis tersebut kesemuanya atau sebagian besar bersifat ahad dalaam arti zhanniy (tidakk pasti).
Muqaddimat yangg dimaksud al-Syatibhi diatas ialah yangg dikenal dengaan al-ihtimalat al ‘asyrah (sepuluh kemungkinan) yakni:
2.             Riwayat-riwayat yangg berkaitan dengaan gramatikal (nahw)
3.             Riwayat-riwayat yangg berkaitan dengaan perubahan kata (shorof)
4.             Redaksi yangg dimaksud bukan kata bertimbal (Ambigu, musytarak)
5.             Redaksi yangg dimaksud bukan kata metafonis (majaz)
6.             Tidakk mengandung peralihan makna
7.             Sisipan (idhmar)
8.             Pendahuluan dan pengakhiran (taqdim wa ta’khir)
9.             Pembatalan hukum (Nasikh)
10.          Tidakk mengandung penolakan yangg logis (‘Adam al-mu’aridh al-‘aqliy)

Tiga yangg pertama kesemuanya bersifat zhanni, karena riwayat-riwayat yangg menyanggkut hal-hal tersebut kesemuanya ahad. Tujuh sisanya hanya dapatt diketahui melalui al istiqro’ al-tam (metode induktif yangg sempurna) dan hal ini mustahil. Yangg dapatt dilakukan hanyalah Al-istiqro’al-naqish (metode induktif yangg tidakk sempurna), dan hal ini tidakk menghasilkan kepastian. Dengaan kata lain yangg dihasilkan ialah sesuatu yangg bersifat zhanni.
Dengaan demikian menurut al-Syathibhi tidakk ada yangg qath’i dalaam al-Qur’an jika ditinjau darii sudut ayat-ayat tersebut secara berdiri sendiri.Kepastian makna (qath’iyah al-dalalah) suatu nash muncul darii sekumpulan dalil zhanni yangg kesemuanya mengandung kemungkinan makna yangg sama. Terhimpunnya makna yangg sam darii dalil-dalil yangg beraneka ragam itu memberi “kekuatan” tersendiri. Ini pada ahirnya berbeda darii keadaan masing-masing dalil tersebut ketika berdiri sendiri. Kekuatan darii himpunan tersebut menjadikannya tidakk bersifat zhanni lagi. Ia telah meningkat semacam mutawatir ma’nawiy, dan dengaan demikian dinamailah ia sebagai qath’i al-dalalah.[11]




Daftar Pustaka
1.       Quraisshsyihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung:Mizan, 1999), cet XIX
2.       Prof. Dr. Rachmat Syafe’i, MA, Ilmu Ushul Fiqih untukk UIN, STAIN, PTAIS (Bandung: Pustaka Setia, 1999)
3.       Prof. Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh (Semarang: Dina Utama, cek. 1, 1994)
4.       NasrunHaroen, UshulFiqih, (Ciputat: PT Lagos wacana ilmu,1997)


[1]Prof. Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh (Semarang: Dina Utama, cek. 1, 1994), h. 36
[2]Pengertian Ushul Fiqih dan Al-Ahkam: Modul Ushul Fiqh, ...
[3]Prof. Abdul Wahhab Khallaf, op.cit.,h. 37                                            
[4]QuraishSyihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung:Mizan, 1999), cet XIX, h. 137
[5]Prof. Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh (Semarang: Dina Utama, cek. 1, 1994), h. 38
[6]Ibid.
[7]NasrunHaroen, UshulFiqih, (Ciputat:PT Lagos wacana ilmu,1997), h. 33
[8]Prof. Dr. Rachmat Syafe’i, MA, Ilmu Ushul Fiqih untukk UIN, STAIN, PTAIS (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h. 56
[9]Prof. Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh (Semarang: Dina Utama, cek. 1, 1994), h. 38-39
[10]Ibid., h. 39
[11]QuraishSyihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung:Mizan, 1999), cet XIX, h. 139-140

Visitor