Makalah Analisa Dalil Ijtihad Metode ( Takhrijul Manath )



Makalah Pengertian Teori Ijtihad Metode Takhrijul Manath? Metode Analisa Dalil? Metode darii analisa dalil? Syarat Takhrijul Manath? Macam Takhrijul Manath? Contoh Takhrijul Manath? Makalah pengertian ijtihad? Contoh ijtihad? Ijtihad adalah? Macam ijtihad? Kedudukan ijtihad dalam sumber hukum islam? 



BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

Ijtihad merupakan upaya untukk menggali suatu hukum yangg sudah ada pada zaman Rasulullah SAW. Hingga dalaam perkembangannya, ijtihad dilakukan oleh para sahabat, tabi’in serta masa-masa selanjutnya hingga sekarang ini. Meskipun pada periode tertentu apa yangg dikenal dengaan masa taqlid, ijtihad tidak diperbolehkan, tetapi pada masa periode tertentu pula (kebangkitan atau pembaharuan), ijtihad mulai dibuka kembali. Karena tidak bisa dipungkiri, ijtihad ialah suatu keharusan, untukk menanggapi tantangan kehidupan yangg semakin kompleks problematikanya. Sepanjang fiqih mengandung pengertian tentang hukum syara’ yangg berkaitan dengaan perbuatan mukallaf maka ijtihad akan terus berkembang.[1] Ijtihad pada dasarnya merupakan usaha untukk memahami, menemukan dan merumuskan hukum syara’ dengaan pengerahan nalar secara maksimal. Pengerahan daya nalar tersebut dilakukan oleh seseorang yangg berkualitas faqih, yangg dicapai dengaan pengerahan daya nalar tersebut ialah dugaan yangg kuat tentang hukum Allah. Yangg dilakukan dengaan beberapa cara, diantaranya melaui istinbat.[2]
Di dalaam perkembangan sejarahnya, para mujtahid dalaam melaksanakan tugasnya sebagai “penafsir” wahyu Allah telah menyusun seperangkat pola dan metode penetapan hukum syara’. Salah satunya ialah metode penetapan dalil-dalil hukum syara’. Secara umum metode penetapan dalil-dalil hukum syara’ ini diketahui darii dialog Nabi dengaan Mu’adz bin Jabal ketika ia dikirim ke Yaman sebagai qadhi. Bagi hukum yangg tidak tersurat secara jelas, cara kerja ijtihad ialah mencari apa yangg berada dibalik nash tersebut, kemudian merumuskannya dalaam bentuk hukum.[3] darii segi mungkin atau tidaknya berlaku sepanjang masa ijtihad terbagi menjadi dua, yakni tahkikul manath dan takhrijul manath. Ijtihad yangg mungkin berhenti kegiatannya karena ketiadaan mujtahid yangg mungkin melakukannya. Ijtihad ini berlaku pada ijtihad istinbati atau takhrijul al-manath.[4]
Menganalisis dalil dalaam ijtihad terdapatt tiga macam teori, yakni takhrijul manath, tahqiqul manath dan tanqihul manath. Namun, dalaam makalah ini akan dibahas mengenai teori ijtihad takhrijul manath.

B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapatt dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1.     Bagaimana metode darii analisa dalil ?
2.     Bagaimana teori ijtihad takhrijul manath ?
3.     Bagaimana contoh tahrijul manath ?

C.    Tujuan

1.     Mengetahui metode analisa dalil
2.     Mengetahui teori ijtihad takhrijul manath
3.     Mengetahui contoh takhrijul manath

BAB II

PEMBAHASAN



A.    Metode Analisa Dalil

Ijtihad menurut istilah ushul fiqih yaitu melakukan segala upaya dalaam menyimpulkan hukum syari’at darii dalil-dalil secara terperinci. Adapun pengertian yangg lebih umum yaitu istinbat (penalaran deduksi) atas dalil-dalil. Pengertian tersebut diperluas hingga meliputi takhrij (ekspansi) atau tahqiq al-manat (identifikasi masalah) yangg kemudian dilakukan istinbat sebagaimana sebelumnya.[5]
Darii dialog antara Nabi dan Mu’adz bin Jabal, dapatt dipahami bahwa tahapan-tahapan yangg harus ditempuh dalaam menetapkan hukum Islam secara umum ialah sebagai berikut:
1.     Mencari dalil yangg terdapatt di dalaam nash-nash al-Qur’an
2.     mencari dalil yangg terdapatt di dalaam sunnah Rasul (baik yangg bersifat fi’ly, qauly, maupun taqriry)
3.     melakukan ijtihad dengaan tetap memperhatikan ruh syari’at yangg terdapatt dalaam Qur’an dan Sunnah Nabi.
Masing-masing tahapan harus dilalui dengaan penelitian yangg sungguh-sungguh. Sebab bukan tidak mustahil ada sebagian mujtahid yangg tanpa penelitian mendalaam cepat mengambil kesimpulan bahwa masalah yangg dihadapinya tidak disinggung dalaam al-Qur’an dan Sunnah Nabi.
Usaha pemahaman, penggalian makna dan perumusan hukum baik darii Al-Qur’an maupun sunnah dikalangan ulama’ ushul fiqih disebut dengaan istinbath. Baik darii tekstual maupun kontekstual. Pada dasarnya, hukum syara’ (titah Allah dan penjelasan Nabi) berbentuk umum dan garis besar, sehingga menurut apa adanya, belum dapatt dilaksanakan secara praktis, sehingga dapatt dilakukan ijtihad (menggali hukum dariinya dan merumuskannya dalaam bentuk hukum yangg dapatt dijadikan pedoman dalaam beragama).
Wafatnya Rasulullah yangg pada mulanya beliaulah yangg menjelaskan secara langsung mengenai suatu hukum tertentu menjadi berakhir. Sedangkan masalah kehidupan yangg memerlukan jawaban hukum semakin berkemban. Hal ini menuntut usaha ijtihad dalaam menemukan hukum Allah agar tingkah laku manusia selalu berada dalaam naungan hukum Allah. Maka dengaan demikian ijtihad semakin diperlukan.
Ijtihad mempengaruhi dan pada saat yangg sama harus dipengaruhi oleh realita. Ijtihad harus menyesuaikan diri dengaan realita sama halnya realita harus diarahkan oleh ijtihad. Perlu dipertegas bahwa dialog ijtihad dan realita seperti itu sama sekali tidak berarti penegasan perlunya ijtihad memenuhi semua kebutuhan realita, seperti yangg dipahami darii kupasan-kupasan sebagian kalangan. Karena yangg diinginkan tidak lebih darii sebuah penegasan bahwa ijtihad yangg benar ialah ijtihad yangg realistis yangg memahami kecenderungan realita, selalu melirik realita dan tidak berpaling dariinya, ijtihad yangg memperdayakan realita dan tidak mengabaikannya, ijtihad yangg membangun atas dasar realita dan tidak berangkat darii sesuatu yangg hampa.
Takhrijul manath dapatt ditemukan dalaam beberapa teori seperti dalaam masalik al-‘llat. Masalik al-’illat merupakan cara atau metode untukk mengetahui ‘illat dalaam suatu hukum atau hal-hal yangg memberi petunjuk pada kita adanya ‘illat dalaam suatu hukum. adapun masalik al-‘illat diantaranya ialah nash, ijma’, al-ima’ wa at tanbih, as-sabru wa at-taqsim, takhrij al-manath, tanqih al-manath, tahrd, syabah, dawran, dan ilgahu al-fariq. Selain itu, takhrijul manath dapatt ditemukan pula dalaam ijtihad darii segi penerapan metode yangg telah dirintis ulama’ sebelumnya yangg mana ijtihad terbagi menjadi dua, yakni takhrijul manath dan ijtihad tarjih. Takhrijul manath dapatt pula ditemukan dalaam pembagian ijtihad darii segi mungkin atau tidaknya berlaku sepanjang masa. Takhrijul manat tidak ditemukan dalaam semua teori ijtihad ulama’ terdahulu seperti halnya Al-Syatibi. Al-Syatibi dalaam kitabnya al-Muwafaqot melihat bentuk darii ijtihad darii segi mungkin atau tidak mungkin terhenti suatu kegiatan. Pada hal ini ia membagi ijtihad ke dalaam dua macam, yakni tahqiqul manath dan tanqihul manath.[6]

B.    Pengertian Takhrijul Manath

Menurut tatabahasa (lughawi), kata takhrij merupakan bentuk mashdar  darii kata خرجيخرجتخريج  yangg berarti mengeluarkan, mengeluarkan darii sesuatu, juga berarti perbedaan dua warna. Takhrij sebagai mashdar darii kharraja menunjukkan bentuk fi’il muta’addi, yangg keluar itu bukanlah substansinya tetapi faktor eksternal, contohnya mengeluarkan sesuatu dan memintanya keluar berarti menggalinya dan menuntutnya keluar.
Takhrijul manath dapatt diartikan sebagai usaha menyatakan ‘illat dengaan cara mengemukakan adanya keserasian sifat dan hukum yangg beriringan serta terhindar darii sesuatu yangg mencatatkan. Takhrijul al-manath merupakan ijtihad yangg usahanya ialah menetapkan hukum terhadap suatu kejadian dengaan cara menghubungkannya kepada hukum yangg pernah ditetapkan oleh mujtahid sebelumnya.[7]
Cara penemuan´’illat dalaam bentuk ini berbeda dengaan ima’ dan tanbih [8]  karena disini dipersyaratkan adanya keserasian (munasabah), sedangkan pada ima’ dan tanbih tidak ada persyaratan keserasian tersebut.[9] Takhrijul Manath ialah usaha menyakatan ‘illat dengaan cara mengemukakan keserasian sifat dan hukum yangg beriringan serta terhindar darii sesuatu yangg mencacatkan.
Pekerjaan ulama’ mencari kemungkinan adanya persamaan ‘illat antara masalah yangg sedang dicari hukumnya dengaan masalah yangg sudah ada hukumnya melalui penelitian semua sifat yangg ada pada masalah yangg dicari hukumnya dan pada masalah yangg sama yangg sudah ada hukumnya.[10]

C.    Contoh Takhrijul Manath

Contoh dalaam pencarian’illat dalaam hadits yangg diriwayatkan oleh Imam Muslim حَرَامٌ مُسْكِرٍ كُلُّ (setiap yangg memabukkan ialah haram) yaitu sifat memabukkan. Sifat yangg memabukkan tersebut menghilangkan akal yangg dituntut syara’ untukk dijaga. Sifat ini sesuai dengaan hukum haramnya setiap yangg memabukkan tersebut. Kata “haram” pada nash dengaan kata yangg “memabukkan” diseiringkan.[11]
Asbabul wurud hadits tersebut darii Jabir bin Abdullah, ia menuturkan bahwa ada seorang laki-laki darii Jaysyan (darii Yaman) bertanya kepada Nabi saw. tentang minuman yangg mereka minum di tempat mereka, terbuat darii Shorghum yangg disebut al-mizru. Nabi saw. lalu bertanya, “Apakah memabukkan.” Laki-laki itu menjawab, “Benar.” Rasulullah saw. kemudian bersabda:

كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ إِنَّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَهْدًا لِمَنْ يَشْرَبُ الْمُسْكِرَ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ طِينَةِ
 الْخَبَال. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا طِينَةُ الْخَبَالِ قَالَ « عَرَقُ أَهْلِ النَّارِ أَوْ عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ
“Setiap yangg memabukkan ialah haram. Sesungguhnya Allah bakal memenuhi janji kepada orang yangg meminum minuman memabukkan untukk memberi dia minum darii thinatu al-khabâl.”  Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah thînatu al-khabâl itu?” Rasul menjawab, “Keringat penduduk neraka atau muntahan penduduk neraka.” (HR Muslim).


Dalaam hadis tersebut, Rasulullah menjelaskan sifat khamr.  Rasulullah juga mengajari bagaimana mengidentifikasi minuman yangg termasuk khamr, yaitu dengaan men-tahqiq (meneliti) faktanya, apakah banyaknya memabukkan atau tidak. Jika memabukkan berarti khamr. Jika tidak maka bukan khamr. Ibn Umar ra menuturkan, Rasullullah bersabda:

كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ
Setiap yangg memabukkan ialah haram dan setiap yangg memabukkan ialah khamr.” (HR an-Nasai, Ahmad, Ibn Hibban, ad-Daraquthni dan ath-Thabarani)


 Penjelasan Rasul saw. itu merupakan jawaban atas pertanyaan tentang minuman. Beliau menjawab dengaan redaksi yangg bersifat umum.  Kaidah ushul menyatakan bahwa redaksi umum sebagai jawaban darii suatu pertanyaan berlaku umum pada topik yangg ditanyakan, bukan berlaku pada semua hal.  Itu artinya, jawaban Rasul saw. itu berlaku umum pada semua minuman.
Jika sesuatu telah disepakati ke-‘illat-tannya, lalui diselidiki apakah terdapatt dalaam peristiwa yangg dihadapi, tetapi masih diperselisihkan adanya dalaam cabang lalui dikeluarkannya ‘illat. Contoh menurut As-Syafi’i dan Maliki orang yangg mengambil harta secara sembunyi dinamakan mencuri maka ‘illat harus dipotong tangan tetapi kalau mengambil kapan darii dalaam kuburan sebagai cabang darii mencuri, maka menurut Imam Hanafi tidak dikatakan mencuri sebab dianggap bukan menyimpan tetapi dianggap membuang, maka dalaam hal ini terjadi perselisihan dan jalan keluarnya disamakan dengaan mencuri.


BAB III

PENUTUP


A.    Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di bab sebelumnya, maka dapatt disimpulkan sebagai berikut:
1.       Metode analisa dalil dalaam ijtihad dapatt meliputi takhrijul manath (ekspansi) atau tahqiq al-manat (identifikasi masalah), dan tanqihul manath.
2.       Takhrijul manath merupakan salah satu metode dalaam menemukan hukum yangg tidak ada dasar hukum sebelumnya dengaan jalan menyamakan ‘illat dengaan cara mengemukakan keserasian sifat dan hukum yangg beriringan serta terhindar darii sesuatu yangg mencacatkan
3.       Contoh seperti mengharamkan sesuatu dengaan menyamakan sifatnya dalaam hal memabukkan

B.     Saran

Adanya makalah ini diharapkan dapatt membantu dalaam memahami takhrijul manath yangg merupakan salah satu teori dalaam ijtihad. Hal tersebut dapatt membantu dalaam menggunakan ushul fiqih sebagai suatu metodologi penelitian dalaam hukum Islam.





DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Al-Raysun, dan Muhammad Jamal Barut, Ijtihad (antara teks, realitas dan kemaslahatan sosial), Erlangga, Jakarta, 2002.

Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Ushul Fiqih, Kencana, Jakarta, 2012.

--------, Ushul Fiqi Jilid I, Cetakan ke-4, Kencana, Jakarta, 2009.

--------, Ushul Fiqih Jilid 2, Kencana, Jakarta, 2008.

Masjfuk Zuhdi, Pengantar Hukum Syari’ah, CV Haji Masagung, Jakarta, 1987.

Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqih, Cet ke-IV, Bandung, Pustaka Setia, 2010



                [1] Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqih, Cet ke-IV, Bandung, Pustaka Setia, 2010, hlm. 100
                [2] Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Ushul Fiqih, Kencana, Jakarta, 2012, hlm. 144-145
                [3] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqih Jilid 2, Kencana, Jakarta, 2008, hlm. 282-283
                [4] Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Ushul Fiqih, Ibid, hlm. 149
                [5] Ahmad Al-Raysun, dan Muhammad Jamal Barut, Ijtihad (antara teks, realitas dan kemaslahatan sosial), Erlangga, Jakarta, 2002, hlm. 49
                [6] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqih Jilid 2, Kencana, Jakarta, 2008, hlm. 269
                [7] Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Ushul Fiqh, Kencana, Jakarta, 2012, hlm. 158
                [8] Ima’ wa tanbih ialah penyertaan sifat dalaam hukum
                [9] Amir Syarifuddin, Ushul Fiqi Jilid I, Cetakan ke-4, Kencana, Jakarta, 2009, hlm. 233
                [10] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Hukum Syari’ah, CV Haji Masagung, Jakarta, 1987, hlm. 128
                [11] Amir Syarifuddin, Loc.Cit, hlm, 233

Visitor