Makalah Ayat ayat Manthuq Mujmal Mubayyan & Mafhum



Makalah Pengertian mantuq dan mafhum? Pengertian ayat mantuq? ayat mafhum? ayat mujmal? ayat mubayyan?  Macam macam ayat mantuq dan mafhum? macam ayat mujmal? macam ayat mubayyan? Makakah Pengertian Ushul fiqh?



A.       Pengertian Manthuq dan Mafhum.
Mantuq( المنطوق ) artinya ialah, yangg diucapkan, yangg tersurat atau teks, dan lain-lain. Mantuq dalaam istilah ilmu ushul fiqih ialah :
“Sesuatu yangg ditunjuk oleh lafaz sesuai dengaan teks ucapan itu.”[1]
Menurut Drs. H. Syafi’I Karim, Mantuq ialah sesuatu yangg ditunjuki lafal dan ucapan lafal itu sendiri. Jadi Mantuq, ialah pengertian yangg ditunjukkan oleh lafal di tempat pembicaraan.[2]
Mafhum secara bahasa ialah “sesuatu yangg dipahami darii suatu teks”, dan menurut istilah ialah “pengertian tersirat darii suatu lafal (mafhum muwafaqah) atau pengertian kebalikan darii perngertian lafal yangg diucapkan (mafhum mukhalafah)”.[3]
Al-Mafhum( المفهوم ) artinya ialah, yangg diucapkan, yangg difaham, dan yangg tersirat. Mafhum yangg dimaksudkan ialah istilah ushul fiqih ialah :
“Sesuatu yangg ditunjuk oleh lafaz di luar teks ucapan itu.”[4]
Mafhum, sesuatu yangg ditunjuk oleh lafal, tetapi bukan darii ucapan lafal itu sendiri. Mafhum ialah pengertian yangg ditunjukkan oleh lafal tidak di tempat pembicaraan, tetapi darii pemahaman terdapat ucapan tersebut.
Seperti firman Allah :

Artinya : “ maka jangan kamu katakana kepada dua orang ibu bapakmu perkataan yangg keji”. QS. Al Isra’: 23
Dalaam ayat tersebut terdapat pengertian mantuq dan mafhum, pengertian mantuq yaitu ucapan lafal itu sendiri (yangg nyata = uffin) jangan kamu katakana perkataan yangg keji kepada dua orang ibu bapakmu. Sedangkan mafhum yangg tidak disebutkan yaitu memukul dan menyiksanya (juga dilarang), karena lafal-lafal yangg mengandung kepada arti, diambil darii segi pembicaraan yangg nyata dinamakan mantuq dan tidak nyata disebut mafhum.[5]
Jadi yangg dinamakan lafaz ialah cetusan darii makna-makna. Terkadang maksud darii suatu lafaz sesuai dengaan yangg terucap atau yangg tersurat secara jelas, yangg demikian dinamakan “Mantuq”. Dan terkadang yangg dimaksudkan oleh suatu lafaz, bukanlah yangg terucap atau yangg tersurat, tetapi yangg dimaksudkannya ialah yangg tersirat, yangg demikian dinamakan “Mafhum”.
B.       Pembagian Mantuq dan Mafhum
Pembagian Mantuq
Dilihat darii segi jenisnya, mantuq dapat dibagi dalaam dua macam:
a.       An-Nash ( النس) atau Sarih ( صريح) artinya Jelas atau Tegas.
Maksudnya ialah, lafaz yangg tidak memungkinkan untukk di takwil.
Sebagai contoh, firman Allah hal kafarat sumpah bagi orang tidak mampu, berbunyi :

…Maka hendaklah berpuasa tiga hari…(QS. Al-Maaidah :89).
Ayat tersebut tidak memungkinkan pemalingan artinya kepada arti yangg lain, karena jelas menunjukkan wajib puasa tiga hari.
b.       Az Zahir ( الظاهر) artinya yangg tampak atau yangg nyata.
Maksudnya ialah, lafaz yangg memungkinkan untukk di takwil. Yangg demikian ini sering juga disebut dengaan nama ghairu sarih ( غيرصريح) artinya, tidak jelas maksudnya. Sebagai contoh firman Allah :

Dan langit itu kamu bangun dengaan tangan…(QS. Azd-Dzariyat: 47).
Arti “tangan” ( ايد) di ayat tersebut itu ditakwilkan artinya dengaan “kekuasaan” atau “kekuatan”, karena tidak mungkin Allah bertangan seperti manusia.[6]
Pembagian Mafhum
Mafhum juga dapat dibedakan kepada 2 bagian:
a.        Mafhum Muwafaqah; yaitu pengertian yangg dipahami sesuatu menurut ucapan lafal yangg disebutkan. Mafhum Muwafaqah dapat dibedakan kepada :
1.       Fahwal khitab, yaitu apabila yangg dipahamkan lebih utama hokumnya dariipada yangg diucapkan. Seperti memukul orang tua lebih tidak boleh hokumnya, firman Allah yangg artinya: “jangan kamu katakana kata-kata yangg keji kepada dua orang ibu bapakmu.” Sedangkan kata-kata yangg keji saja tidak boleh (dilarang) apalagi memukulnya.
2.       Lahnal khitab, yaitu apabila yangg tidak diucapkan sama hokumnya dengaan yangg diucapkan, seperti firman Allah SWT:
3.       Artinya: “sesungguhnya orang-orang yangg memakan harta benda anak yatim secara aniaya sebenarnya memakan api ke dalaam perut mereka.” (QS. An-Nisa: 10).[7]
b.       Mafhum Mukhalafah ialah, mafhum yangg didapati dengaan jalan mengambil kebalikan darii mantuq-nya. Macam-macam Mafhum Mukhalafah :
1.       Mafhum Sifat ( مفهوم الصفة) yakni hubungan hokum terhadap salah satu sifat darii beberapa sifat sesuatu. Contoh : firman Allah yangg berbunyi :
...فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ.(النساء:٩٢)
… Maka hendaklah engkau yangg memerdekakan seorang hamba sahaya yangg beriman (QS. An-Nisaa’: 93)
2.       Mafhum Illat ( مفهوم العلة) yakni hubungan hokum dengaan illat (sebab hokum). Contoh firman Allah yangg berbunyi :
...اِنَّما الْخَمْرُ...رِجْسٌ مِنْ عَمَلٍ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنبُوْهُ...(المائدة:.٩ )
… sesungguhnya (meminum) khamar…ialah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Karena itu jauhilah perbuatan-perbuatan itu…(QS. Al-Maaidah: 90)
3.       Mafhum Adad ( مفهوم العدد) yakni hubungan hokum dengaan bilangan tertentu. Contoh firman Allah yangg berbunyi :
4.       Dan orang-orang yangg menuduh wanita-wanita yangg baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yangg menuduh itu) delapan puluh kali dera…(QS. An-Nur: 4)
5.       Mafhum Ghayah ( مفهوم الغاية) yakni batas yangg dijangkau oleh hokum. Contoh firman Allah yangg berbunyi :
 apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengaan siku…(QS. Al-Maidah: 6)
6.       Mafhum Hashar ( مفهوم الحصر) yakni pengkhususan hokum dengaan memakai alat pengkhususan, (alat pengkhusus antara lain ialah satu kalimat naïf atau memindahkan, kemudian diiringi dengaan istina’ atau pengecualian). Sebagai contoh : firman Allah yangg berbunyi :

Katakanlah: "Tiialah aku peroleh dalaam wahyu yangg diwahyukan kepadaKu, sesuatu yangg diharamkan bagi orang yangg hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yangg mengalir atau daging babi …”(QS. Al-An’am: 145)

PENUTUP
A.      Kesimpulan
1.       Mafhum muwafaqah bisa menjadi hujjah (pegangan). Semua mafhum mukhalafah bisa menjadi hujjah, kecuali mafhum laqab.

DAFTAR PUSTAKA

*       Djalil, Basiq. 2010.  Ilmu Ushul Fiqih(satu dan dua). Jakarta: Kencana
*       Karim, Syafi’i. 1997. Fiqih/Ushul Fiqih. Bandung : pustia Studio
*       Ash Shiddieqy, Teungku. 2001. Pengantar Hokum Islam. Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra
*       Effendi, Satria dkk. 2008 .Ushul Fiqh. Jakarta : Kencana



[1] Drs. H. A. Basiq Djalil, S.H., M.A., Ilmu Ushul Fiqih(satu dan dua), Jakarta: Kencana ,2010, hal.99
[2] Drs. H. A. Syafi’I Karim, Fiqih/Ushul Fiqih, Bandung : pustia Studio, juli 1997, hal.177
[3] Prof. Dr. Satria Effendi, M. Zein, M.A., Ushul Fiqh, Jakarta : Kencana, 2008, hal. 214
[4] Drs. H. A. Basiq Djalil, S.H., M.A., Ilmu Ushul Fiqih(satu dan dua), Jakarta: Kencana ,2010, hal.99
[5] Drs. H. A. Syafi’I Karim, Fiqih/Ushul Fiqih, Bandung : pustia Studio, juli 1997, hal.177
[6] Drs. H. A. Basiq Djalil, S.H., M.A., Ilmu Ushul Fiqih(satu dan dua), Jakarta: Kencana ,2010, hal.99-101
[7] Drs. H. A. Syafi’I Karim, Fiqih/Ushul Fiqih, Bandung : pustia Studio, juli 1997, hal.178-179

Visitor