LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM



Makalah Pengertian Landasan Pengembangan Kurikulum? Landasan pendidikan? Pengembangan kurikulum? Kurikulum? Kurikulum 2013? Kurikulum 13?



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan mempunyai peranan sangat penting dalaam kesuluruhan aspek kehidupan manusia. Hal itu disebabkan pendidikan berpengaruh langsung terhadap perkembangan manusia, perkembangan seluruh aspek kepribadian manusia. Kalau bidang-bidang lain seperti ekonomi, pertanian, arsitektur, dan sebagainya berperan menciptakan sarana dan prasarana bagi kepentingan manusia, pendidikan berkaitan langsung dengaan pembentukan manusia. Pendidikan “menentukan” model manusia yangg akan dihasilkannya.
Dengaan demikian landasan merupakan ketentuan utama yangg harus diperhatikan ketika mengembangkan kurikulum. Dengaan landasan yangg kokoh kurikulum yangg dihasilkan akan kuat, yaitu program pendidikan yangg dihasilkan akan dapatt menghasilkan manusia terdidik sesuai dengaan hakikat kemanusiannya, baik untukk kehidupan masa kini maupun menyongsong kehidupan jauh kemasa yangg akan datang.
B.       Rumusan Masalah
1.       Seberapa pentingkah landasan kurikulum dalaam proses pengembangan kurikulum?
2.       Apa yangg dimaksud dengaan landasan Filosofis?
3.       Apa yangg dimaksud dengaan landasan Sosial Budaya?
4.       Apa yangg dimaksud dengaan landasan Psikologi?
C.       Tujuan
1.     Untukk mengetahui seberapa penting landasan kurikulum dalaam proses pengembangan kurikulum.
2.     Untukk mengetahui apa yangg dimaksud dengaan landasan Filosofis.
3.     Untukk mengetahui apa yangg dimaksud dengaan landasan Sosial Budaya.
4.     Untukk mengetahui apa yangg dimaksud dengaan landasan Psikologis?

BAB II
PEMBAHASAN
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum ialah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yangg digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untukk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yangg pertama ialah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yangg kedua ialah cara yangg digunakan untukk kegiatan pembelajaran.
Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2013  Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar Dan Menengah, Menetapkan :
Pasal 1
1.       Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.
2.       Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.     Kompetensi Lulusan SD/MI/SDLB/Paket A;
b.     Kompetensi Lulusan SMP/MTs/SMPLB/Paket B; dan
c.     Kompetensi Lulusan SMA/MA/SMK/MAK/SMALB/Paket C
3.       Standar Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalaam Lampiran yangg merupakan bagian yangg tidak terpisahkan dariii Peraturan Menteri ini.
Standar Kompetensi Lulusan ialah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yangg mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

A.    Landasan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai peran yangg sangat penting dalaam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalaam pendidikan dan dalaam perkembangan kehidupan manusia, maka dalaam penyusunan kurikulum tidak dapatt dilakukan tanpa menggunakan landasan yangg kuat.
Bila kurikulum dikaitkan pada hal-hal yangg praktis dan bersifat aplikatif, maka lebih cenderung berkenaan dengaan usaha-usaha yangg dilakukan oleh perencanaan kurikulum dalaam menyusun bidang-bidang studi apa saja yangg harus dipelajari oleh anak didik pada jenjang/ tingkatan sekolah tertentu, misalnya pada tingkat sekolah dasar, bidang studi apa saja yangg disajikan, demikian halnya pada tingkat SLTP, SLTA, dan sebagainya.
Agar kurikulum mampu berdiri tegak, yaitu kurikulum yangg dikembangkan mampu mengembangkan potensi peserta didik, menciptakan para siswa agar bisa “hidup” (life skill), sesuai dengaan harapan masyarakat (user), dapatt menjadi inspirasi bagi pembaharuan (inovasi) kearah yangg lebih baik, maka kurikulum harus dikembangkan dengaan menggunakan fondasi (Landasan) yangg kuat dan tepat, bahkan harus lebih kuat dan tepat dibandingkan dengaan landasan yangg dipakai membangun sebuah gedung.
Apabila gedung roboh karena diakibatkan tidak menggunakan landasan yangg kuat, kerugiannya tidak seberapa karena hanya menyanggkut dengaan materi saja. Akan tetapi apabila kurikulum pendidikan rusak karena tidak berpijak pada landasan yangg kuat dan tepat, kerugiannya tidak ternilai karena menyanggkut dengaan pembentukan siswa (manusia), dan berarti kegagalan “memanusiakan manusia”.
Oleh karena itu landasan yangg digunakan untukk mengembangkankan kurikulum harus dicari dengaan seleksi yangg ketat agar menghasilkan landasan yangg kuat dan tepat. Adapun beberapa landasan yangg harus dijadikan acuan dalaam mengembangkan kurikulum, sebagai berikut.
1.          Landasan Filosofis,
2.          Landasan Sosial Budaya, dan
3.          Landasan Psikologis

B.     Landasan Filosofis
Pendidikan berintikan interaksi antarmanusia, terutama antar pendidik dan terdidik untukk mencapai tujuan pendidikan. Di dalaam interaksi tersebut terlibat isi yangg diinteraksikan serta proses bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Apakah yangg menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik dan terdidik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut, merupakan pertanyaan-pertanyaan yangg membutuhkan jawaban yangg mendasar, yangg esensial yaitu jawaban-jawaban filosofis.
Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti “cinta akan kebijakan” (love of wisdom). Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yangg mengerti dan berbuat secara bijak, ia harus tahu atau berpengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir yaitu berpikir secara sistematis, logis, dan mendalaam. Pemikiran demikian dalaam filsafat sering disebut sebagai pemikiran radikal, atau berpikir sampai ke akar-akarnya (radic berarti akar). Secara akademik, filsafat berarti upaya untukk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yangg sistematis dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalaamnya. Berfilsafat berarti  menangkap sinopsis peristiwa-peristiwa yangg simpang siur dalaam pengalaman manusia. Suatu cabang ilmu pengetahuan mengkaji satu bidang pengetahuan manusia, daerah cakupannya terbatas. Filsafat mencakup keseluruhan pengetahuan manusia, berusaha melihat segala yangg ada ini sebaga satu kesatuan yangg menyeluruh dan mencoba mengetahui kedudukan manusia didalaamnya. Sering dikatakan bahwa filsafat merupakan ibu dariii segala ilmu.
Tahap berikutnya filsafat mempersoalkan tentang hidup dan eksistensi manusia, pandangan hidup manusia, sebagai makhluk beragama, makhluk sosial dan makhluk yangg berbudaya. Dariii telaah tersebut, filsafat mencoba mengkaji tiga pokok persoalan, yakni; hakikat benar-salah (logika), hakikat baik-buruk (etika), dan hakikat indah jelek (estetika). Hakikat pandangan hidup manusia mencakup ketiga hal tersebut (logika, etika, dan estetika). Kaitanya dengaan kurikulum dariii ketiga pandangan tersebut sangat diperlukan terutama dalaam menetapkan arah dan tujuan pendidikan. Dengaan pengertian lain, ke arah mana pendidikan akan dibawa, untukk itu perlu adanya kejelasan megenai pandangan hidup manusia atau suatu bangsa. Setiap bangsa atau Negara mempunyai tatanan dan pandangan hidup masing-masing yangg berbeda-beda sesuai dengaan ideologi yangg mereka anut. Bagi kita bangsa Indonesia, sudah tentu menganut azas falsafah bangsa kita, yakni falsafah Pancasila yangg menjadi acuan dasar kita dalaam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, termasuk di dalaamnya dalaam menentukan arah pendidikan.
Pendidikan sebagai upaya sadar dalaam membina manusia (anak didik) tidak terlepas dariii pandangan hidup dan azas Pancasila tersebut, oleh karena itu segala upaya sadar yangg dilakukan oleh pendidik kepada anak didiknya harus mampu menjadikan manusia Indonesia yangg taqwa kepada Tuhan Yangg Maha Esa sesuai dengaan sila pertama dariii Pancasila, berbudi luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan trampil, serta sehat jasmani dan rohani (lebih jelasnya dapatt dilihat pada rumusan GBHN 1993 tentang arah pendidikan nasional).
Dalaam rumusan tujuan pendidikan nasional terkadang nilai-nilai yangg mendasar, yangg berkenaan dengaan iman, budi pekerti, dan ilmu. Dalaam konteksnya yangg lebih luas menyanggkut masalah moral, ilmu, dan amal, yangg kesemuanya itu bermuara pada azas Pancasila sebagai sumber dan pandangan hidup manusia Indonesia. Implikasi bagi pelaksana pendidikan, yakni bagi guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya yangg bertugas sebagai pelaksana, pembina, dan pengembang kurikulum di sekolah, sehingga dapatt mempedomani tujuan pendidikan nasional sebagaimana yangg tertuang dalaam GBHN tersebut, dalaam rangka mewujudkan anak didik untukk menjadi manusia yangg beriman dan bertakwa, berilmu dan beramal, dan mengabdi pada nusa dan bangsa.
Menurut Donald Butler, filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap praktik pendidikan, sedangkan praktik pendidikan memberikan bahan-bahan bagi pertimbangan-pertimbangan filosofis. Keduanya sangat berkaitan erat, malah menurut Butler menjadi satu : 1) Philosophy is primary and basic to an educational philosophy, 2) philosophy is the flower not root of education, 3) educational philosophy is an independent discipline which might benefit from contact with general philosophy, but this contact is not essential, 4) philosophy and the theory of education is one (Butler, 1957: 12).
Secara rinci menurut Nasution bahwa filsafat pendidikan berfungsi:
1.     Menentukan arah akan kemana siswa harus dibawa (Tujuan)
2.     Mendapattkan gambaran yangg jelas hasil pendidikan yangg harus dicapai
3.     Menentukan isi yangg akurat yangg harus dipelajari oleh para siswa
4.     Menentukan cara dan proses untukk mencapai tujuan
5.     Memungkinkan untukk menilai hasil yangg telah dicapai secara akurat
Landasan filosofis dalaam pengembangan kurikulum menentukan kualitas peserta didik yangg akan dicapai kurikulum, sumber dan isi dariii kurikulum, proses pembelajaran, posisi peserta didik, penilaian hasil belajar, hubungan peserta didik dengaan masyarakat dan lingkungan alam di sekitarnya.
Sebagaimana tercantum dalaam Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar Dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah, Kurikulum 2013 dikembangkan dengaan landasan filosofis yangg memberikan dasar bagi pengembangan seluruh potensi peserta didik menjadi manusia Indonesia berkualitas yangg tercantum dalaam tujuan pendidikan nasional.
Kurikulum 2013 menggunakan filosofi sebagaimana di atas dalaam mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalaam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi inteligensi yangg sesuai dengaan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa dan ummat manusia.
Sebagaimana Kurikulum 2013 yangg bertujuan untukk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yangg beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
C. Landasan Sosial dan Budaya
Landasan sosiologis pengembangan kurikulum ialah asumsi-asumsi yangg berasal dariii sosiologi yangg dijadikan titik tolak dalaam pengembangan kurikulum. Mengapa pengembangan kurikulum harus mengacu pada landasan sosiologis? Anak-anak berasal dariii masyarakat, mendapattkan pendidikan baik informal, formal, maupun non formal dalaam lingkungan masyarakat, dan diarahkan agar mampu terjun dalaam kehidupan bermasyarakat. Karena itu kehidupan masyarakat dan budaya dengaan segala karakteristiknya harus menjadi landasan dan titik tolak dalaam melaksanakan pendidikan.
Pengembangan kurikulum hendaknya memperhatikan kebutuhan masyarakat dan perkembangan masyarakat. Tyler (1946), Taba (1963), Tanner dan Tanner (1984) menyatakan bahwa tuntutan masyarakat ialah salah satu dasar dalaam pengembangan kurikulum. Calhoun, Light, dan Keller (1997) memaparkan tujuah fungsi sosial pendidikan, yaitu:
1.     Mengajar keterampilan.
2.     Mentransmisikan budaya.
3.     Mendorong adaptasi lingkungan.
4.     Membentuk kedisiplinan.
5.     Mendorong bekerja berkelompok.
6.     Meningkatkan perilaku etik, dan
7.     Memilih bakat dan memberi penghargaan prestasi.
Dikatakan bahwa pendidikan juga merupakan proses sosialisasi dariii pewarisan budaya dariii generasi ke generasi selanjutnya dalaam upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia, baik sebagai individu, kelompok masyarakat, maupun dalaam konteks yangg lebih luas yaitu budaya bangsa. Untukk itu melalui pendidikan pewarisan budaya bangsa akan terealisir dengaan baik. Oleh karena itu anak didik dihadapkan pada budaya manusia, dibina dan dikembangkan sesuai dengaan nilai budayanya, dan mengarahkan kemampuan diri anak tersebut ke arah manusia yangg berbudaya.
Pendidikan sebagai proses budaya ialah upaya membina dan mengembangkan daya cipta, karsa, dan rasa manusia menuju ke peradaban manusia yangg lebih luas dan tinggi, yaitu manusia yangg berbudaya. Kebudayaan itu sifatnya ada yangg universal, artinya berlaku umum bagi setiap manusia, dan ada kebudayaan yangg bersifat khusus, artinya kebudayaan yangg universal tersebut ada unsure-unsur yangg khusus di dalaamnya. Sebagai contoh bahasa secara universal bahasa dimiliki oleh setiap manusia, tetapi setiap kelompok manusia atau bangsa memiliki bahasa sendiri yangg berbeda antara bangsa yangg satu dengaan yangg lainnya.
Semakin meningkatnya perkembangan sosial budaya manusia akibat majunya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yangg merupakan bagian dariii budaya itu sendiri, akan menjadi tuntutan hidup manusia yangg semakin tinggi pula. Untukk itu diperlukan kesiapan sekolah atau lembaga pendidikan dalaam menjawab segala tantangan akibat perkembangan kebudayaan tersebut. Oleh karena itu pendidikan harus dapatt mengantisipasinya dengaan jalan menyiapkan anak didik (siswa) untukk hidup secara wajar sesuai dengaan perkembangan sosial budaya masyarakatnya. Dalaam hal ini diperlukan inovasi-inovasi pendidikan terutama yangg menyanggkut kurikulum pendidikan.
Kurikulum pendidikan harus dan sewajarnya pula disesuaikan dengaan kondisi masyarakat saat ini, bahkan harus dapatt mengantisipasi kondisi-kondisi yangg bakal terjadi. Untukk itu pula guru dituntut dapatt membina dan melaksanakan kurikulum, agar apa yangg diberikan kepada anak didiknya berguna dan relevan dengaan kehidupan dalaam masyarakat.
Kurikulum 2013 memiliki karakteristik yaitu mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengaan kemampuan intelektual dan psikomotorik; sekolah merupakan bagian dariii masyarakat yangg memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yangg dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar; mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalaam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat .
C.     Landasan Psikologis
Pendidikan ialah proses interaksi antara individu manusia dengaan manusia lain dan lingkungannya. Manusia sebagai mahluk individu dan sosial memiliki aspek psikologis yangg komplek dan taraf lebih tinggi dibandingkan dengaan mahluk lain yangg memiliki aspek psikologis. Berkat aspek psikologis yangg tinggi inilah, maka manusia lebih maju dan modern dibandingkan mahluk lain.
Apa yangg dimaksud dengaan kondisi psikologis itu? Kondisi psikologis merupakan karakteristik psiko-fisik seseorang sebagai individu, yangg dinayatakan dalaam berbagai bentuk perilaku dalaam interaksi dengaan lingkungannya. Perilaku-perilaku tersebut merupakan manifestasi dariii cirri-ciri kehidupannya, baik yangg tampak maupun yangg tidak tampak, perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.
Kondisi psikologis setiap individu berbeda, karena perbedaan tahap perkembangannya, latar belakang sosial-budaya, juga karena perbedaan faktor-faktor yangg dibawa dariii kelahirannya. Kondisi ini pun berbeda pula bergantung pada konteks, peranan, dan status individu di antara individu-indvidu yangg lainnya. Interaksi yangg tercipta dalaam situasi pendidikan harus sesuai dengaan kondisi psikologis para peserta didik maupun kondisi pendidikannya. Interaksi pendidikan di rumah berbeda dengaan di sekolah, interaksi antara anak dan guru pada jenjang sekolah dasar berbeda dengaan jenjang sekolah lanjutan pertam dan sekolah lanjutan atas.
Peserta didik ialah individu yangg sedang berada dalaam proses perkembangan. Tugas utama yangg sesungguhnya dariii para pendidik ialah membantu perkembangan peserta didik secara optimal. Sejak kelahiran sampai menjelang kematian, anak selalu berada dalaam proses perkembangan, perkembangan seluruh aspek kehidupannya. Tanpa pendidikan di sekolah, anak tetap berkembang, tetapi dengaan pendidikan di sekolah tahap perkembangannya menjadi lebih tinggi dan lebih luas. Apa yangg dididikkan dan bagaimana cara mendidiknya, perlu disesuaikan dengaan pola-polu perkembangan individu menjadi kajian psikologi perkembangan.
Perkembangan atau kemajuan-kemajuan yangg dialami anak sebagian besar terjadi karena usaha belajar, baik berlangsung melalui proses peniruan, pengingatan, pembiasaan, pemahaman, penerapan, maupun pemecahan masalah. Pendidik atau guru melakukan berbagai upaya, dan menciptakan berbagai kegiatan dengaan dukungan berbagai alat bantu pengajaran agar anak-anak belajar. Cara belajar-mengajar mana yangg dapatt memberikan hasil secara optimal serta berbagai proses pelaksanaannya membutuhkan studi yangg sistematik dan mendalaam. Studi yangg demikian merupakan bidang pengkajian dariii psikologi belajar.
Jadi, minimal ada dua bidang psikologi yangg mendasari pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Keduanya sangat diperlukan, baik di dalaam merumuskan tujuan, memilih dan menyusun bahan ajar, memilih dan menerapkan metode pembelajaran serta teknik-teknik penilaian.
1.     Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan spermatozoid dengaan sel telur sampai dengaan dewasa.
a.     Metode dalaam psikologi perkembangan
Pengetahuan tentang perkembangan individu diperoleh melalui studi yangg bersifat longitudinal, cross sectional, psikoanalitik, sosiologik, atau studi kasus. Studi longitudinal menghimpun informasi tentang perkembangan individu melalui pengamatan dan pengkajian perkembangan sepanjang masa perkembangan, dariii saat lahir sampai dengaan dewasa, seperti yangg pernah dilakukan oleh Williard C. Olson. Metode cross sectional pernah dilakukan oleh Arnold Gessel. Ia mempelajari beribu-ribu anak dariii berbagai tingkatan usia, mencatat ciri-ciri fisik dan mental, pola-pola perkembangan dan kemampuan, serta perilaku mereka. Stud psikoanalitik dilakukan oleh Sigmund Frued beserta para pengikutnya. Studi ini lebih banyak diarahkan mempelajari perkembangan anak pada masa-masa sebelumnya, terutama pada masa kanak-kanak (balita). Menurut mereka, pengalaman yangg tidak menyenangkan pada masa balita ini dapatt menggangu perkembangan pada masa-masa berikutnya. Metode sosiologik digunakan oleh Robert Havighurst. Ia mempelajari perkembangan anak dilihat dariii tuntutan akan tugas-tugas yangg harus dihadapi dan dilakukan dalaam masyarakat. Tuntutan akan tugas-tugas kehidupan masyarakat ini oleh Havighurst disebut sebagai tugas-tugas perkembangan (developmental tasks). Ada seperangkat tugas-tugas perkembangan yangg harus dikuasai individu dalaam setiap tahap perkembangan. Metode lain yangg sering digunakan untukk mengkaji perkembangan anak ialah studi kasus. Dengaan mempelajari kasus-kasus tertentu, para ahli psikologi perkembangan menarik beberapa kesimpulan tentang pola-pola perkembangan anak. Studi demikian pernah dilakukan oleh Jean Piaget tentang perkembangan kognitif anak.
b.     Teori Perkembangan
Dikenal ada tiga atau pendekatan tentang perkembangan individu, yaitu pendekatan pentahapan (stage approach), pendekatan diferensial (differential approach), dan pendekatan ipsatif (ipsative approach). Menurut pendekatan pentahapan, perkembangan individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan. Setiap tahap perkembangan mempunyai karakteristik tertentu yangg berbeda dengaan tahap yangg lainnya. Pendekatan diferensial melihat bahwa individu memiliki persamaan dan perbedaan. Atas dasar persamaan dan perbedaan tersebut individu dikategorikan atas kelompok-kelompok yangg berbeda. Kita mengenal ada kelompok individu berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, status social-ekonomi, dan sebagainya. Pengelompokkan individu adakalanya juga didasarkan atas kesamaan karakteristiknya.
Dalaam pendekatan pentahapan, dikenal dua variasi. Pertama, pendekatan yangg bersifat menyeluruh mencakup segala segi perkembangan, seperti perkembangan fisik dan gerakan motorik, social, intelektual, moral, emosional, religi, dan sebagainya. Kedua, pendekatan yangg bersifat khusus mendeskripsikan salah satu segi atau aspek perkembangan saja. Dalaam pentahapan yangg bersifat menyeluruh dikenal tahap-tahap perkembangan dariii Jean Jacques Rousseau, G. Stanley Hall, Havighurst, dan lain-lain.
Rousseau membagi seluruh masa perkembangan anak atas empat tahap perkembangan. Masa bayi (infancy), usia 0-2 tahun merupakan tahap perkembangan fisik, menurut Rousseau sebagai binatang yangg sehat. Masa anak (childhood), usia 2-12 tahun, masa perkembangan sebagai manusia primitif. Masa remaja awal (pubescence), usia 12-15 tahun, masa bertualang yangg ditandai dengaan perkembangan intelektual dan kemampuan nalar yangg pesat. Masa remaja (adolescene), usia 15-25 tahun masa hidup sebagai manusia yangg beradab, masa pertumbuhan seksual, sosial, moral, dan kata hati.
Stanley Hall ialah salah seorang ahli Psikologi Perkembangan peganut teori evolusi. Hall menerapkan teori rekapitulasi, salah satu konsep dalaam teori evolusi, pada perkembangan anak. Menurut teori rekapitulasi, perkembangan individu merupakan rekapitulasi dariii perkembangan spesiesnya (ontogeny recapitulates philogeny). Hall membagi keseluruhan masa perkambangan anak atas empat tahap. Masa kanak-kanak (infancy), usia 0-4 tahun, merupakan masa kehidupan sebagai binatang melata dan berjalan. Masa anak (childhood), usia 4-8 tahun, masa manusia pemburu. Masa Puer (youth), usia 8-12 tahun, masa manusia belum beradab. Masa remaja (adolescence), usia 12/13 tahun sampai dewasa, merupakan masa manusia beradab.
Robert J. Havighurst menyusun fase-fase perkembangan atas dasar problema-problema yangg harus dipecahkannya dalaam setiap fase. Tuntutan akan kemampuan memecahkan problema dalaam setiap fase perkembangan ini oleh Havighurst disebutnya sebagai tugas-tugas perkembangan (developmental tasks). Havighurst membagi seluruh masa perkembangan anak atas lima fase yaitu masa bayi (infancy) dariii 0-1/2 tahun, masa anak awal (early childhood) 2/3-5/7 tahun, masa anak (late childhood) dariii 5/7 masa pubesen, masa adolesen awal (late adolescence) dariii masa pubertas sampai dewasa. Untukk setiap fase, perkebangan Havighurst menghimpun sejumlah tugas-tugas perkembangan yangg harus dikuasai anak. Dikuasai atau tidak dikuasainya tugas-tugas perkembangan pada suatu fase berpengaruh bagi penguasaan tugas pada fase-fase berikutnya.
Ada sepuluh kelompok tgas perkembangan yangg harus dikuasai anak pada setiap fase yangg membentuk pola, yaitu pola:
1)    Kebergantungan-keberdirisendirian,
2)    Member-menerima kasih sayangg,
3)    Hubungan sosial,
4)    Perkembangan kata hati,
5)    Peran bio-sosio dan psikologis,
6)    Penyesuaian dengaan perubahan badan,
7)    Penguasaan perubahan badan dan motorik,
8)    Belajar memahami dan mengontrol lingkungan fisik,
9)    Pengembangan kemampuan konseptual dan sistem simbol,
10) Kemampuan melihat hubungan dengaan alam semesta.
Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap perkembangan dariii kemampuan kognitif anak. Dalaam perkembangan kognitif menurut Piaget, yangg terpenting ialah penguasaan dan kategori konsep-konsep. Melalui penguasaan konsep-konsep itu, anak mengenal lingkungan dan memcahkan berbagai problema yangg dihadapi dalaam kehidupannya.
Ada empat tahap perkembangan kognitif anak menurut konsep Piaget, yaitu:
1)    Tahap Sensorimotor, usia 0-2 tahun,
2)    Tahap Praoperasional, usia 2-4 tahun,
3)    Tahap Konkret Operasional, usia 7-11 tahun,
4)    Tahap Formal Operasional, usia 11-15 tahun.
Tahap Sensorimotor disebut juga masa discriminating and labeling. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahasa awal, waktu sekarang, dan ruang yangg dekat saja. Masa praoperasional atau prakonseptual disebut juga masa intuitif dengaan kemampuan menerima perangsang yangg terbatas. Anak mulai berkembang kemampuan bahasanya, pemikirannya masih statis dan belum dapatt berpikir abstrak, persepsi waktu dan tempat masih terbatas. Masa konkret operasional disebut juga masa performing operation. Pada tahap ini anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat dan membagi. Masa formal operasional disebut juga masa propotional thinking, pada masa ini anak sudah mampu berpikir tingkat tinggi. Mereka sudah mampu berpikir secara deduktif, induktif, manganalisis, menyintesis, mampu berpikir abstrak dan berpikir relektif, serta memecahkan berbagai masalah.
2.     Psikologi Belajar
 Pada kurikulum 2013 pemerintah menetapkan buku pelajaran yangg bisa digunakan dalaam proses pembelajaran berlangsung sebagai panduan guru dan siswa dalaam proses belajar mengajar, sebagaimana tercantum pada Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan  Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2013 Tentang Buku Teks Pelajaran Dan Buku Panduan Guru Untukk Pendidikan Dasar Dan Menengah Menetapkan :
Pasal 1
1.     Menetapkan Buku Teks Pelajaran sebagai buku siswa yangg layak digunakan dalaam pembelajaran tercantum dalaam Lampiran I yangg merupakan bagian yangg tidak terpisahkan dariii Peraturan Menteri ini.
2.     Menetapkan Buku Panduan Guru sebagai buku guru yangg layak digunakan dalaam pembelajaran tercantum dalaam Lampiran II yangg merupakan bagian yangg tidak terpisahkan dariii Peraturan Menteri ini.
Psikologi belajar merupakan suatu studi tentang bagaimana individu belajar. Banyak sekali definisi tentang belajar. Secara sederhana, belajar dapatt diartikan sebagai perubahan tingkah laku yangg terjadi melalui pengalaman. Segala perubahan tingkah laku baik yangg berbentuk kognitif, afektif, maupun psikomotor dan terjadi karena proses pengalaman dapatt dikategorikan sebagi perilaku belajar. Perubahan-perubahan perilaku yangg terjadi karena instink atau karena kematangan serta pengaruh hal-hal yangg bersifat kimiawi tidak termasuk belajar.
Menurut Gagne (1965, hlm. 5) perubahan tersebut berkenaan dengaan disposisi atau kapabilitas individu, “Laerning is a change in human dispotition or capability, which can be retained, and which is not simply ascribable to the process of growth. Hilgard dan Brower menambahkan bahwa perubahan itu terjadi karena individu berinteraksi dengaan lingkungannya, sebagai reaksi terhadap situasi yangg dihadapinya. Menurut mereka belajar ialah: The process by which an activity originates or is changed throught reacting to an encountered situation, provided that the characteristics of the change in activity cannot be explaned on the basis of native response tendencies, maturation, or temporary states of the organism (e.g, fatigue, drug etc.) (Hilgard dan Brower, 1966, hlm.2).
Menurut Morris L. Bigge dan Maurice P. Hunt (1980, hlm. 226-227) ada tiga keluarga atau rumpun teori belajar, yaitu teori disiplin mental behaviorisme, dan Cognitive Gestalt Field.
Menurut rumpun teori disiplin mental dariii kelahirannya atau secara herediter, anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Belajar merupakan upaya untukk mengembangakan potensi-potensi tersebut. Ada beberapa teori yangg termasuk rumpun disiplin mental yaitu: disiplin mental theistik, disiplin mental humanistik, naturalism dan apersepsi.
Rumpun atau kelompok teori belajar yangg kedua ialah Behaviorisme yangg biasa juga disebut S-R Bond, conditioning, dan Reinforcement. Kelompok teori ini berangkat dariii asumsi bahwa anak atau individu tidak memiliki atau membawa potensi apa-apa dariii kelahirannya. Perkembangan anak ditentukan oleh faktor-faktor yangg berasal dariii lingkungan. Lingkunganlah, apakah lingkungan keluarga, sekolah atau masyarakat; lingkungan manusia, alam, budaya, religi yangg membentuknya. Kelompok teori ini tidak mengakui sesuatu yangg bersifat mental. Perkembangan anak menyanggkut hal-hal nyata yangg dapatt dilihat, diamati.
Rumpun ketiga ialah Cognitive Gestalt Field. Teori belajar pertama dariii rumpun ini ialah teori insight. Aliran ini bersumber dariii psikologi Gestalt Field. Menurut mereka belajar ialah proses mengembangkan insight atau pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Pemahaman terjadi apabila individu menemukan cara baru dalaam meggunakan unsure-unsur yangg ada dalaam lingkungan, termasuk struktur tubuuhnya sendiri. Gestalt Field melihat bahwa belajar itu merupakan perbuatan yangg bertujuan, eksploratif, imajinatif, dan kreatif. Pemahaman atau insight merupakan citra dariii atau perasaan tentang pola-pola atau hubungan.
Teori belajar cognitive field bersumber pada psikologi lapangan (field psikology), dengaan tokoh utamanya Kurt Lewin. Individu selalu berada dalaam suatu lapangan psikologis yangg oleh Lewin disebut life space. Dalaam lapangan ini selalu ada tujuan yangg ingin dicapai, ada motif yangg mendorong pencapaian tujuan dan ada hambatan-hambatan yangg harus diatasi. Perbuatan individu selalu terarah kepada pencapaian sesuatu tujuan, oleh karena itu sering dikatakan perbuatan individu ialah purposive. Apabila ia telah berhasil mencapai sesuatu tujuan maka timbul tujuan lain yangg ingin dicapai dan berada dalaam life space baru. Setiap orang berusaha mencapai tingkat perkembangan dan pemahaman yangg terbaik, di dalaam lapangan psikologisnya masing-masing. Lapangan psikologis terbentuk oleh interelasi yangg simultan dariii orang-orang dan lingkungan psikologisnya di dalaam suatu situasi. Tingkah laku seseorang pada suatu saat merupakan fungsi dariii semua faktor yangg ada yangg saling bergantung pada yangg lain.
Istilah cognitive berasal dariii bahasa latin “cognoscre” yangg berarti ‘mengetahui (to know)’. Aspek ini dalaam teori belajar cognitive field berkenaan dengaan bagaimana individu memahami dirinya dan lingkungannya, bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan pengenalannya serta berbuat terhadap lingkungannya. Bagi penganut cognitive field, belajar merupakan suatu proses interaksi, dalaam interaksi tersebut ia mendapattkan pemahaman baru atau menemukan struktur kognitif lama. Dalaam membimbing proses belajar, guru harus mengerti akan dirinya dan orang lain, sebab dirinya dan orang lain serta lingkungannya merupakan suatu kesatuan.            



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum ialah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yangg digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untukk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yangg pertama ialah rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yangg kedua ialah cara yangg digunakan untukk kegiatan pembelajaran.
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai peran yangg sangat penting dalaam seluruh aspek kegiatan pendidikan, maka dalaam penyusunan kurikulum tidak dapatt dilakukan tanpa menggunakan landasan yangg kuat.
Pada pokoknya ada empat landasan utama dan bersifat umum berlaku dalaam setiap mengembangkan kurikulum, yaitu: landasan Filosofis, Sosial Budaya, dan landasan Psikologis. Penerapan setiap landasan pengembangan kurikulum, bukan hanya pada saat kurikulum dirancang atau di buat, tetapi yangg lebih penting penerapan setiap landasan pada pelaksanaan kurikulum yaitu pada setiap pembelajaran. Penerapan pada setiap pembelajaran tersebut ialah setiap guru ketika melaksanakan proses pembelajaran harus menjiwai makna dan fungsi masing-masing landasan terhadap setiap mata pelajaran yangg diajarkannya.




Visitor