KONSEP DAN PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM




Makalah Pengertian Landasan Pengembangan Kurikulum? Landasan pendidikan? Pengembangan kurikulum? Kurikulum? Kurikulum 2013? Kurikulum 13? Implementasi kurikulum 2013? Isi kurikulum 2013? Makalah Pengertian Konsep kurikulum 2013? Pengembangan kurikulum? Prinsip pengembangan kurikulum? 




BAB I
PENDAHULUAN

A.         Latar Belakang
Kurikulum merupakan suatu hal yangg pokok dalaam dunia pendidikan. Kurikulum ialah seperangkat rencana dan pengaturan yangg mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara-cara yangg digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untukk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Sedangkan Pengembangan kurikulum ialah prosedur pelaksanaan pembuatan konstruksi kurikulum. Dalaam  proses pengembangan kurikulum, mencakup dua hal pokok yaitu landasan pengembangan kurikulum dan komponen-komponen kurikulum.  
Dalaam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yangg terkait langsung dengaan dunia pendidikan saja, namun di dalaamnya melibatkan banyak orang. Seorang pelaksana kurikulum perlu mengetahui dan melaksanakan prinsip-prinsip apa saja yangg terdapatt dalaam kurikulum. Apabila seorang pelaksana pengembangan kurikulum mengabaikan pelaksanaan kuikulum, maka pencapaian tujuan pendidikan tidak akan optimal atau bahkan melenceng darii tujuan sebenarnya.
Oleh karena itu agar pencapaian pendidikan secara optimal maka akan dijelaskan pelaksanaan kurikulum, prinsip, serta fungsi dan tujuan pengembangan kurikulum itu sendiri.
B.         Rumusan Masalah
Darii penjelasan  latar belakang di atas maka ada beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.       Bagaimana konsep pengembangan kurikulum?
2.       Apa sajakah prinsip-prinsip pengembangan kurikulum?
3.       Bagaimana fungsi dan peranan kurikulum?
C.         Tujuan
Adapun tujuan darii penulisan makalah ini sebagai berikut:
1.       Untukk memahami konsep pengembangan kurikulum
2.       Untukk mengetahui prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
3.       Untukk memahami fungsi dan peranan kurikulum



BAB II
PEMBAHASAN

A.        Konsep Pengembangan Kurikulum
1.         Pengertian Kurikulum
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum ialah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yangg digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untukk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[1]
Kurikulum ialah program pendidikan yangg disediakan oleh lembaga pendidikan (sekolah) bagi siswa. Berdasarkan program pendidikan tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga mendorong perkembangan dan pertumbuhannya sesuai dengaan tujuan pendidikan yangg telah ditetapkan. Dengaan program kurikuler tersebut, sekolah/ lembaga pendidikan menyediakan lingkungan pendidikan bagi siswa untukk berkembang. Oleh karena itu, kurikulum disusun sedemikian rupa yangg memungkinkan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar. Kurikulum tidak terbatas pada pada sejumlah mata pelajaran, namum meliputi segala sesuatu yangg dapatt mempengaruhi perkembangan siswa seperti: bangunan sekolah, alat pelajaran,  perlengkapan sekolah, perpustakaan, karyawan tata usaha, gambar-gambar, halaman sekolah, dan lain-lain.
Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses activities, and experiences which pupils have under the direction of school, whether in the classroom or not.
Berdasarkan rumusan di atas, kegiatan-kegiatan kurikuler tidak terbatas dalaam ruangan kelas, melainkan mencakup juga kegiatan di luar kelas. Pandangan modern menjelaskan, bahwa antara kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler tidak ada pemisahan yangg tegas. Seluruh kegiatannya bertujuan untukk memberikan pengalaman pendidikan kepada siswa yangg tercakup dalaam kurikulum.
Meskipun pandangan tersebut diterima, namun pada umunya guru-guru tetap berpandangan bahwa kegiatan-kegiatan dalaam kelas saja yangg termasuk kurikulum, sedangkan kegiatan di luar kelas darii segi nilai edukatif yangg diberikan oleh kurikulum itu. Penganut pandangan ini tetap menyadarii, bahwa kegiatan-kegiatan ekstra merupakan bagian khusus dalaam program pendidikan sekolah.
Pandangan yangg dikemukakan oleh I. P. Simanjuntak juga mendapatt perhatian dilihat darii pola pikir sistematik yangg ilmiah dan rasional, dimana kurikulum dikaji darii berbagai aspek, yakni sebagai berikut:[2]
a.       Kurikulum berkenaan dengaan fungsi
Pada garis besarnya, suatu kurikulum diperuntukkkan bagi warga negara (calon warga negara), calon anggota/ pembentuk keluarga yangg baru, calon anggota masyarakat, calon anggota profesi, dan sebagainya.
b.       Kurikulum itu disediakan untukk siapa?
Pertanyaan tersebut berkenaan dengaan siapa yangg akan mendapatt dan mengikuti kegiatan-kegiatan kurikulum tersebut. Jadi secara langsung berkenaan dengaan siswa. karena itu kurikulum harus mempertimbangkan aspek perkembangan, kemampuan, intelegensi, kebutuhan, minat dan permasalahan yangg dihadapi siswa. implikasinya, isi kurikulum atau bahan pelajaran harus bersumber dan sesuai dengaan lingkungan anak tersebut.
c.          Kurikulum itu diberikan untukk membantu menjadi apa?
Pertanyaan di atas berkenaan dengaan tujuan kurikulum. Secara khusus perlu dipertanyakan apakah kurikulum itu ditujukan untukk mempersiapkan anak melanjutkan sekolah ke tingkat yangg lebih tinggi, atau untukk mempersiapkan anak ke lapangan kerja yangg tersedia dalaam masyarakat, atau kedua-duanya. Bertalian dengaan masalah tersebut, selanjutnya perlu dipertimbangkan apakah kurikulum itu bersifat educable  atau trainable, di samping mempertimbangkan juga usaha membentuk kepribadian yangg terintegrasi dalaam semua aspek (kognitif, afektif dan psikomotorik). Implikasinya ialah berkenaan dengaan penentuan program pendidikan umum, program pendidikan khusus dan program-program lainnya yangg diperlukan.



d.         Hal-hal apa saja yangg harus tercakup dalaam kurikulum?
Pertanyaan tersebut berkenaan dengaan isi kurikulum. Untukk memilih dan menentukan isi kurikulum harus berdasarkan tujuan yangg hendak dicapai. Tujuan-tujuan itu dilihat darii segi:
a.          Aspek hakikat manusia
b.          Tuntutan dalaam pembangunan
c.          Tuntutan bagi setiap warga negara dengaan nilai-nilai dasar dalaam konstitusi, aspirasi masyarakat, dan kebudayaan nasional.
Isi kurikulum senantiasa disusun dalaam bentuk program pengajaran bidang studi. Materi kurikulum secara struktural memiliki keseimbangan, serasi dengaan lingkungan, keluwesan, berkesinambungan, yangg disusun dalaam urutan topik-topik pelajaran dalaam ruang lingkup tertentu.
e.         Bagaimana melaksanakan kurikulum?
Pertanyaan tersebut berkenaan dengaan aspek metodologi pengajaran. Masalah ini erat pertaliannya dengaan tujuan yangg hendak dicapai, anak yangg belajar, guru yangg mengajar, bahan pelajaran, alat bantu pengajaran. Pendekatan metodologi umumnya telah digariskan dalaam kurikulum. Misalnya dalaam kurikulum tahun 1975 telah ditegaskan, bahwa metode yangg digunakan ialah pendekatan “Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI)”. Dewasa ini telah dikembangkan sistem instruksional berdasarkan tujuan yangg spesifik, dapatt diukur dan berdasarkan perubahan tingkah laku yangg diharapkan, guru lebih banyak berperan sebagai pembimbing dan fasilitator. Murid lebih aktif, bahan yangg serasi dengaan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak, alat peraga sederhana dan sesuai dengaan tingkat perkembangan, kebutuhan anak dan sesuai dengaan tujuan yangg hendak dicapai serta mudah diperoleh, di samping menggunakan teknologi pendidikan yangg lebih maju sesuai dengaan kemungkinan yangg ada. Untukk itu, dianjurkan agar guru-guru lebih banyak menggunakan metode- metode, seperti: diskusi, pemecahan masalah, karya wisata, pengajaran berprogram dan sistem modul, selain model ceramah yangg sampai sekarang masih dipakai oleh sebagian besar guru.


f.          Bagaimana cara mengetahui hasil kurikulum?
Pertanyaan tersebut berkenaan dengaan sistem evaluasi. Dalaam pedoman pelaksanaan kurikulum umumnya telah ditentukan sistem dan alat evaluasi yangg perlu digunakan guru. Evaluasi yangg digunakan secara formatif maupun secara summatif. Bentuk evaluasi yangg digunakan secara objektif dan komprehensif. Di samping evaluasi hasil belajar juga dikembangkan prosedur evaluasi kurikulum dan evaluasi program pendidikan.

Dalaam sistem pendidikan nasional, dinyatakan bahwa kurikulum ialah seperangkat rencana dan pengaturan isi dan lahan pelajaran serta cara yangg digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegitan belajar mengajar. Rumusan ini lebih spesifik yangg mengandung pokok-pokok pikiran, sebagai berikut:
1)         Kurikulum merupakan perencanaan
2)         Kurikulum merupakan pengaturan, berarti mempunyai sistematika dan struktur tertentu.
3)         Kurikulum memuat isi dan bahan pelajaran, menunjuk kepada perangkat mata ajaran tertentu.
4)         Kurikulum mengandung cara, atau metode atau strategi penyampaian pengajaran.
5)         Kurikulum merupakan pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar
6)         Meskipun tidak tertulis, namun telah tersirat di dalaam kurikulum, yakni kurikulum dimaksudkan untukk mencapai tujuan pendidikan.
7)         Berdasarkan poin 6, maka kurikulum sebenarnya ialah suatu alat pendidikan.

Rumusan tersebut menunjukkan, faktor-faktor yangg harus diperhatikan dalaam penyusunan suatu kurikulum, yaitu:
a)         Tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi tujuan-tujuan institusional, selanjutnya dirinci menjadi tujuan kurikuler, yangg pada gilirannya dirumuskan menjadi tujuan-tujuan instruksional (Umum dan Khusus), yangg mendasari perencanaan pengajaran.
b)         Tahap perkembangan peserta didik merupakan landasan psikologis, yangg mencakup psikologi perkembangan dan psikologi belajar, yangg mengacu pada proses pembelajaran.
c)         Kesesuaian dengaan lingkungan menunjuk pada landasan sosiologis (kemasyarakatan) atau lingkungan sosial masyarakat dibarengi oleh landasan biokologis dan kultur ekologis.
d)         Kebutuhan pembangunan nasional yangg mencakup pengembangan sumber daya manusia dan pembangunan semua sektor ekonomi.
e)         Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesesuaian merupakan landasan kultural dan budaya bangsa dengaan multidimensionalnya.
f)          Jenis dan jenjang satuan pendidikan merupakan landasan organisatoris di bidang pendidikan. Jenis pendidikan ialah pendidikan yangg dikelompokkan sesuai dengaan sifat dan kekhususan tujuan.

Darii penjelasan pengertian kurikulum di atas dapatt disimpulkan bahwa kurikulum ialah perangkat program pendidikan yangg di dalaamnya memuat perencanaan pendidikan, bahan pelajaran dan strategi pembelajaran serta bentuk penilaian pembelajaran sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

2.       Perekayasaan Kurikulum
Perekayasaan kurikulum yangg dilaksanakan dalaam situasi nyata di sekolah berlangsung melalui 3 proses, yakni:
1)       Konstruksi kurikulum ialah proses pembuatan keputusan yangg menentukan hakikat dan rancangan kurikulum. Proses konstruksi kurikulum pada umunya mendapatt perhatian luas dalaam pembahasannya, karena menjadi landasan dalaam pembuatan keputusan.
2)       Pengembangan kurikulum ialah prosedur pelaksanaan pembuatan konstruksi kurikulum. Dalaam proses pengembangan kurikulum, mencakup 2 hal pokok yaitu: (1) fondasi atau landasan pengembangan kurikulum dan (2)komponen-komponen kurikulum.
3)       Implementasi kurikulum ialah proses pelaksanaan kurikulum yangg dihasilkan oleh konstruksi dan pengembangan kurikulum. Implementasi lebih banyak memperhatikan berbagai faktor yangg mempengaruhi pelaksanaan dan perubahan kurikulum.
Rekayasa kurikulum berkenaan dengaan bagaimana proses memfungsi­kan kurikulum di sekolah, upaya-upaya yangg perlu dilakukan para pengelola kurikulum agar kurikulum dapatt berfungsi sebaik-baiknya. Pengelola kurikulum di sekolah terdiri atas para pengawas/penilik dan kepala sekolah, sedangkan pada tingkat pusat ialah Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum Balitbang Dikbud dan para Kasubdit/Kepala Bagian Kurikulum di Direktorat. Dengaan menerima pelimpahan wewenang darii Menteri atau Dirjen, para pejabat pusat tersebut merancang, mengembangkan, dan mengadakan penyempurnaan kurikulum. Juga mereka memberi tugas dan tanggung jawab menyusun dan mengembangkan berbagai bentuk pedoman dan petunjuk pelaksanaan kurikulum. Para pengelola di daerah dan sekolah berperan melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan kurikulum.
3.       Asas Pengembangan
Pengembangan kurikulum merupakan inti dalaam penyelenggaraan pendidikan, dan oleh karenanya pengembangan dan pelaksanaan harus berdasarkan pada asas-asas pembangunan secara makro. Sistem pengembangan kurikulum harus berdasarkan asas-asas sebagai berikut:
1)       Kurikulum dan teknologi pendidikan berdasarkan pada asas keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yangg Maha Esa.
2)       Kurikulum dan teknologi pendidikan berdasarkan dan diarahkan pada asas demokrasi pancasila
3)       Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan berdasarkan dan diarahkan pada asas keadilan dan pemerataan pendidikan
4)       Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas keseimbangan, keserasian dan keterpaduan
5)       Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas hukum yangg berlaku
6)       Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas kemandirian dan pembentukan manusia mandiri
7)       Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas nilai-nilai kejuangan bangsa
8)       Pengembangan kurikulum dan teknologi pendidikan dilandasi dan diarahkan berdasarkan asas pemanfaatan, pengembangan, penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

B.         Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yangg merangkum semua pengalaman yangg disediakan bagi siswa disekolah. Dalaam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha serta unsur-unsur masyarakat lainnya.
Dalaam usaha untukk mengembangkan kurikulum ada beberapa prinsip dasar yangg harus kita perhatikan. agar kurikulum yangg kita jalankan benar-benar sesuai dengaan apa yangg diharapkan. Prinsip-prinsip dasar yangg akan digunakan dalaam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yangg akan menjiwai suatu kurikulum.
Suatu kurikulum diharapkan memberikan landasan, isi, dan menjadi pedoman bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengaan tuntutan dan tantangan perkembangan masyarakat.
1.         Prinsip-prinsip umum
Ada beberapa prinsip umum dalaam pengembangan kurikulum, yakni sebagai berikut:
Prinsip Pertama relevansi, ada dua macam relevansi yangg harus dimiliki kurikulum, yaitu relevan keluar dan relevansi didalaam kurikulum itu sendiri.
Relevansi keluar maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yangg yangg tercakup dalaam kurikulum hendaknya relevan dengaan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Sedangkan suatu kurikulum juga harus memiliki relevansi di dalaam yangg dimaksud dengaan relevansi di dalaam yaitu kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian, dan penilaian. Relevansi internal ini menunjukkan keterpaduan suatu kurikulum.[3]
Dengaan kata lain relevansi ialah kesesuaian, keserasian pendidikan dengaan tuntutan masarakat. Pendidikan dikatakan relevan jika hasil pendidikan tersebut berguna secara fungsional bagi masarakat. Masalah relevansi pendidikan dengaan masarakat dalaam pembicaraan ini ialah berkenaan dengaan:
a.       Relevansi pendidikan dengaan lingkungan kehidupan peserta didik
Relevansi pendidikan dengaan lingkungan kehidupan pesertadidik berarti bahwa dalaam mengembangkan kurikulum atau dalaam menetapkan bahwa pengajaran yangg diajarkan hendaknya dipertimbangkan atau disesuaikan dengaan kehidupan nyata disekitar pesertadidik. Misalnya sekolah yangg berada di daerah  perkotaan, maka kondisi perkotaan hendaknya diperkenalkan kepada pesertadidik. Seperti keramaian lalu lintas di kota dan sebagaimya.
b.       Relevansi pendidikan dengaan kehidupan sekarang dan kehidupan yangg akan datang
Apa yangg diajarkan kepada pesertadidik pada saat ini hendaknya bermanfaat baginya untukk menghadapi kehidupan di masa yangg akan datang (ingat kurikulum harus bersifat anticipatory). Misalnya cara yangg  dipergunakan untukk berhitung angka, kalau dahulu masih menggunakan lidi atau jari, setelah adanya kalkulator atau komputer, maka segala perhitungan yangg rumit dapatt dihitung dengaan kalkulator atau komputer.
c.        Relevansi pendidikan dengaan tuntutan dunia kerja
Relevansi ialah berkenaan dengaan relevansi segi kegiatan belajar. Kurangnya relevansi segi kegiatan belajar ini sering mengakibatkan sukarnya lulusan dalaam menghadapi tuntutan darii dunia pekerjaan. Misalnya, sekolah (STM) harus menyesuaikan kurikulumnya dengaan perkembangan apa yangg sedang terjadi di dunia pekerjaan.
d.       Relevansi pendidikan dengaan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini bekembang dengaan laju begitu cepat. Oleh karena itu, pendidikan harus dapatt menyesuaikan diri dan bahkan dapatt memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut.
Prisip kedua ialah fleksibilitas, kurikulum hendaknya memilih sifat lentur atau fleksibel. Suatu kurikulum yangg baik ialah yangg berisi hal-hal yangg solid, tetapi dalaam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu, maupun kemampuan dan latar belakang anak.[4] Prinsip feksibilitas menunjukan bahwa kurikulum ialah tidak kaku. Tidak kaku dalaam arti bahwa ada semacam ruang gerak yangg akan memberikan sedikit kebebasan dalaam bertindak. Fleksibilitas dalaam  memilih program pendidikan dapatt berupa dibukanya program-program pendidikan pilihan misalnya: jurusan atau program spesialisai atau  program keterampilan yangg dapatt dipilih peserta didik atas dasar kemampuan dan minatnya, sistem kredit semester, dan sebagainya.
Prinsip ketiga ialah kontinuitas yaitu kesinambungan. Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti. Oleh karena itu pengalaman-pengalaman belajar yangg disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas, dengaan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengaan jenjang pendidikan lainnya, juga antara jenjang pendidikan dengaan pekerjaan. Kurikulum harus disusun dengaan mempertimbangkan:
a.          Bahan pelajaran yangg diperlukan untukk sekolah yangg lebih tinggi harus sudah diajarkan di sekolah sebelumnya, misalnya pelajaran tentang harus sudah diajarkan ditingkat sekolah dasar dan sebagainya.
b.          Bahan pelajaran yangg sudah diajarkan di sekolah yangg lebih rendah tidak perlu diajrakan lagi di sekolah yangg lebih tinggi. Hal ini akan mengundang kejenuhan peserta didik dalaam mengikuti proses pembelajaran.
Prinsip ke empat ialah praktis atau efisiensi yaitu mudah dilaksanakan, menggunakan alat sederhana dan biayanya juga murah. Untukk menyelesaikan suatu proram, kita memerlukan waktu, tenagadan biaya yangg kadang-kadang sangat besar jumlahnya kesemuanya itu sangat bergantung kepada banyaknya program yangg akan di selesaikan. Dalaam kaitanyadengaan pelaksanaan kurikulum atau proses belajar - mengajar, maka proses balajar-mengajar dikatakan efesiensi jika usaha tersebut dapatt merealisaikan hasil dengaan optimal.
Prinsip kelima ialah efektivitas, walaupun kurikulum tersebut harus murah, sederhana, dan mudah tetai keberhasilannya tetap harus diperhatikan. Efektivitas belajar peserta didik terutama berkenaan dengaan sejauh mana tujuan pembelajaran yangg diinginkan telah di capai melalui kegiatan belajar – mengajar. Kemampuan peserta didik dalaam menguasai tujuan yangg telah ditetapkan oleh guru secara optional sangat bergantung pada kemampuan guru dalaam menyediakan suasana pelajaran yangg kondusif.
Hubungan kurikulum dengaan pembangunan pendidikan[5]
situasi yangg ada                               =
situasi yangg seharusnya =



2.         Prinsip khusus
Ada beberapa prinsip yangg lebih khusus dalaam pengembangan kurikulum, prinsip - prinsip ini berkanaan dengaan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar, dan penilaian.
Pertama, prinsip berkenaan dengaan tujuan pendidikan yaitu menjadi pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencangkup tujuan yangg bersifat umum atau berjangka panjang, jangkka menengah, dan jangka pendek (tujuan khusus).
Kedua, prinsip berkenaan dengaan pemilihan isi pendidikan yangg sesuai dengaan kebutuhan pendidikan yangg telah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal:
a)         Perlu penjabaran tujuan pendidikan ke dalaam bentuk perbuatan hasil belajar yangg khusus dan sederhana;
b)         Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan;
c)         Unit-unit kurikulum harus disusun dalaam urutan yangg logis dan sistematis.
Ketiga, prinsip berkenaan dengaan pemilihan proses belajar mengajar, pemilihan proses belajar mengajar hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
a)         Apakah metode/teknik belajar mengajar yangg digunakan cocok untukk mengajarkan bahan pelajaran?
b)         Apakah metode/teknik tersebut memberikan kegiatan yangg bervariasi sehingga dapatt melayani perbedaan individual siswa?
c)         Apakah metode/teknik tersebut memberikan urutan kegiatan yangg bertingkat-tingkat?
d)         Apakah metode/teknik tersebut dapatt menciptakan kegiatan untukk mencapai tujuan kognitif, afektif dan psikomotor?
e)         Apakah metode/teknik tersebut lebih mengaktifkan siswa, atau mengaktifkan guru atau keduanya?
f)          Apakah metode/teknik tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru?
g)         Apakah metode/teknik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, juga mendorong penggunaan sumber yangg ada di rumah dan masyarakat?
h)         Untukk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yangg menekankan “learning by doing” disamping “learning by seeing and knowing”.
Keempat, prinsip berkenaan dengaan pemilihan media dan alat pengajaran. Proses belajar mengajar yangg baik perlu didukung olehpenggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yangg tepat:
a)          Alat/media pengajaran apa yangg diperlukan, apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada apa penggantinya?
b)         Kalau ada alat yangg harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana pembuatannya, siapa yangg membuat, pembiyaannya, waktu pembuatan?
c)          Bagaimana pengorganisasian alat dalaam bahan pelajaran, apakah dalaam bentuk modul, paket belajar, dan lain-lain?
d)         Bagaimana pengintegrasiaannya dalaam keseluruhan kegiatan belajar?
e)         Hasil yangg baik akan diperoleh dengaan menggunakan multimedia.
Dan yangg kelima, prinsip berkenaan dengaan pemilihan kegiatan penilaian. Penilain merupakan bagian integral darii pengajaran:
a)          Dalaam menyusun alat penilaian (test) hendaknya diikuti langkah-langkah sebagai berikut: rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yangg umum, dalaam ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Uraikan ke dalaam bentuk tingkah laku murid yangg dapatt diamati. Hubungkan dengaan bahan pelajaran.
b)         Dalaam merencanakan suatu penilaian hendaknya diperhatikan beberapa hal:
(1)            Bagaimana kelas, usia dan tingkat kemampuan kelompok yangg akan dites?
(2)            Berapa lama waktu dibuthkan untukk pelaksanaan tes?
(3)            Apakah tes tersebut berbentuk uraian atau objektif?
(4)            Berapa banyak butir test perlu disusun?
(5)            Apakah tes tersebut diadministrasikan oleh guru atau oleh murid?
c)          Dalaam pengolahan suatu hasil penilaian hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
(1)            Norma apa yangg dignakandi dalaam pengolahan hasil test?
(2)            Apakah digunakan formula quessing?
(3)            Bagaiman pengubahan skor ke dalaam skor masak?
(4)            Skor standar apa yangg digunakan?
(5)            Untukk apakah hasil-hasil test digunakan?[6]

C. Fungsi dan Peranan Kurikulum
Kurikulum dalaam pendidikan mempunyai beberapa fungsi.
1.     Fungsi bagi sekolah yangg bersangkutan
Kurikulum sekolah dasar berfungsi bagi sekolah dasar, kurikulum SMA berfungsi bagi SMA dan sebagainya. Fungsi kurikulumuntukk sekolah bersangkutan sekurang-kurangnya memiliki dua fungsi:
a.          Sebagai alat untukk mencapai tujuan-tujuan yangg diinginkan. Kurikulum suatu sekolah atau madrasah pada dasarnya merupakan suatu alat atau upaya untukk mencapai tujuan pendidikan yangg diinginkan oleh sekolah atau madrasah yangg bersangkutan. Tujuan intitusional SMA/MA berbeda dengaan tujuan intisional SMK/MAK, walaupun keduanya sama-sama SLTA. SMA/MA tidak bisa menggunakan SMK/MAK atau sebaliknya. Walaupun dalaam hal tersebut mungkin ada materi pembelajaran SMK/MAK berbeda, sedangkan kurikulum merupakan instrumental input (masukan alat) untukk mencapai tujuan pendidikan.
b.          Sebagai pedoman dalaam mengatur segala pendidikan setiap hari.

Kurikulum suatu sekolah atau madrasah berisi uraian tentang jenis-jenis program apa yangg diselenggarakan di sekolah atau di madrasah tersebut, bagaimana menyelenggarakan setiap jenis program, siapa yangg bertanggung jawab dalaam penyelenggaraannya dan perlengkapan apa yangg dibutuhkan.
Atas dasar itu sekolah atau madrasah akan dapatt merencanakan secara lebih tepat tentang apa yangg diperlukan untukk mencapai tujuan sekolah itu.
2.    Fungsi kurikulum bagi guru
Kurikulum sebagai alat pedoman bagi guru dalaam melaksanakan program pembelajaran dalaam rangka mencapai tujuan pendidikan atau tujuan sekolah/madrasah dimana guru itu mengajar
Sejalan dengaan penerapan manajemen pendidikanberbasis sekolah/madrasah, guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum tetapi juga sebagai perancang dan penilai kurikulum itu sendiri. Dengaan demikian guru selalu dituntut untukk meningkatkan kemampuannya sesuai dengaan perkembangan kurikulum, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, penguasaan kurikulum bagi guru merupakan suatu hal yangg mutlak dan menjadi kewajibannya.
3.    Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah
Kepala sekolah dan madrasah selaku penanggung jawab seluruh penyelenggaraan pendidikan di sekolah dan madrasah memegang peranan strategis dalaam mengembangkan kurikulum di sekolah dan madrasah.
Jone, dkk. Sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) yangg dikutip lagi oleh Soleh Hidayat dalaam buku pengembangan kurikulum baru (2013) bahwa “menghadapi kurikulum yangg berisi perubahan-perubahan pengajarnya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan darii kepala sekolah mereka”. Dalaam hal ini kepala sekolah harus menguasai tentang kurikum sekolah.Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah antara lain ialah:
a.          Sebagai pedoman dalaam memperbaiki situasi belajar, sehingga lebih kondusif, dan untukk menunjang situasi belajar kea rah yangg lebih baik.
b.          Sebagai pedoman dalaam memberikan bantuan kepada pendidik (guru) dalaam memperbaiki situasi belejar.
c.          Sebagai pedoman dalaam mengemabangkan kurikulum serta dalaam mengadakan evaluasi kemajuan kegiatan pembelajaran.
d.          Bagi kepala sekolah, kurikulum berfungsi untukk menyusun perencanaan dan program sekolah. Dengaan demikian, penyusunan kalender sekolah, pengajuan sarana dan prasarana sekolah kepala Komite Sekolah dan madrsah, penyusunan berbagai kegiatan sekolah dan madrasah baik yangg menyanggkut kegiatan ekstrakulikuler dan kegiatan-kegiatan lainnya, harus didasarkan pada kurikulum.
e.          Kurikulum merupakan pedoman atau alat bagi kepala sekolah dan madrasah untukk mengukur keberhasilan program pendidikan di sekolah dan madrasah yangg ia pimpin.
Kepala sekolah dan madrasah dituntut memahami kurikulum dengaan demikian ia akan mengontrol, apakah kegiatan proses kurikulum yangg berlaku telah dilaksanakan sebagaimana yangg diharapkan. Apabila terdapatt penyimpangan yangg berkaitan dengaan pelaksanaan kurikulum akan segera diketahui dan dicegah.

4.     Fungsi kurikulum bagi supervisor
Bagi pengawas, fungsi kurikulum dijadikan sebagai pedoman, patokan atau ukuran dalaam menetapkan bagian mana yangg memerlukan perbaikan dan penyempurnaan dalaam  usaha pelaksanaan fungsinya apabila ia memahami kurikulum.
5.    Fungsi kurikulum bagi pengawas akademik
Dalaam melaksanakan tugas pengawasan akademik, pengawas sekolah dan madrasah yaitu melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan kurikulum, pelaksanaan pembelajaran.
Bagi para pengawas, fungsi kurikulum dapatt dijadikan sebagai pedoman, patokan, atau ukuran menetapkan bagaimana yangg memerlukan penyempurnaan atau perbaikan dalaam usaha pelaksanaan kurikulum dan peningkatan mutu pendidikan.
Dalaam penyusunan dan pengembangan kurikulum di sekolah dan madrasah, pengawas sekolah dan madrasah memiliki fungsi sebagai berikut:
(1)     Membimbing guru dalaam menyusun silabus tiap mata pelajaran dalaam rumpun mata pelajaran yangg relevan di sekolah dan madrasah yangg sejenis berstandarkan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP
(2)      Membimbing guru dalaam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) untukk tiap mata pelajaran dalaam rumpun yangg relevandisekolah menengah yangg sejenis.
6.     Fungsi bagi sekolah/madrasah di atasnya
Kurikulum sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah berfungsi bagi penyusunan kurikulum SMP/MTs, kurikulum SMP/MTs berfungsi sebagai penyusunan kurikulum SMA/MA danseterusnya. Ada dua fungsi yangg dapatt ditinjau, yaitu:
a.          Pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan
Dengaan mengetahui kurikulum yangg digunakan oleh suatu sekolah tertentu, sekolah pada tingkat di atasnya dapatt mengadakan penyesuaian didalaam kurikulum sebagai berikut:
1)         Bila sebagian kurikulum sekolah dan madrasah tersebut telah dibelajarkan pada sekolah serta madrasah yangg berada dibawahnya, maka sekolah dan madrasah dapatt meninjau kembali perlu tidaknya bagian tersebut dibelajarkan lagi.
2)         Bila kecakapan-kecakapan tertentu dibutuhkan untukk mempelajari kurikulum suatu sekolah dan madrasah yangg berada dibawahnya, maka sekolah serta madrasah dapatt mempertimbangkan untukk suatu program kecakapan itu ke dalaam kurikulumnya.
b.          Penyiapan tenaga guru
Perguruan tinggi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) seperti FKIP/STKIP dan jurusan tarbiah berfungsi menyiapkan tenaga guru bagi sekolah dan madrasah yangg berada di bawahnya, maka perlu sekali perguruan tinggi LPTK itu mengetahui kurikulum sekolah dan madrasah yangg berada di bawahnya, baik menyanggkut isi program, organisasi maupun cara pembelajarannya.
7.    Fungsi bagi masyarakat dan pengguna lulusan
Dengaan mengetahui kurikulum tingkat satuan pendidikan, masyarakat dan pengguna lulusan dapatt ikut memberi bantuan guna memperlancar pelaksanaan program pendidikan yangg membutuhkan kerja sama dengaan pihak orang tua. Masyarakat dan pengguna lulusan juga dapatt memberikan kritikan yangg membangun dalaam rangka penyempurnaan program pendidikan disatuan pendidikan agar lebih serasi dengaan kebutuhan masyarakat. Selain itu, suatu sekolah dan madrasah sebagai satuan pendidikan berfungsi menyiapkan calon tenaga kerja dalaam bidang tertentu.
Dengaan perkataan lain kurikulum suatu pendidikan hendaknya relevan dengaan kebutuhan masyarakat dan dunia pekerjaan.
Selain fungsi-fungsi tersebut, kurikulum juga memiliki fungsi-fungsi antara lain sebagai berikut:
(1) Penyesuaian (the adjustive of adaptive function) yaitu kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan secara keseluruhan
(2)  Pengintegrasian (the integrating function) yaitu mendidik pribadi yangg terintegrasi dengaan msyarakat
(3)  Diferensiasi (the differensiating function) yaitu menberikan pelayanan terhadap perbedaan-perbedaan perorangan dalaam masyarakat
(4)  Persiapan (the propaedutic) yaitu mempersiapkan siswa untukk dapatt melanjutkan studi ke jenjang yangg lebih tinggi untukk suatu jangkauan yangg lebih jauh
(5) Pemilihan (the selective function) yaitu memberikan kesempatan kepada seseorang untukk memilih apa yangg diinginkannya dan menarik pehatiannya
(6) Diagnostic (the diagnostic function) yaitu membantu siswa memahami dan menerima dirinya sehingga dapatt mengembangkan semua potensi yangg dimilikinya.
Kurikulum sebagai program pendidikan dan pembelajaran yangg telah direncanakan secara sistematis, disamping memiliki fungsi sebagaimana diuraikan diatas juga mengemban peran yangg sangat penting bagi pendidikan para siswa. Menurut Oemar Hamalik (2007) sekurang-kurangnya ada tiga peranan kurikulum yaitu:
a) Peranan konsevatif yakni mentransmisikan dan menafsirkan warisan sosial kepada generasi muda
 b) Peranan kritis atau evaluative yaitu aktif berpartisipasi dalaam kontrol sosial dan menekankan pada unsur  berpikir kritis
c) Peranan kreatif yaitu mencipta danmenyusun sesuatu yangg baru sesuai dengaan kebutuhan masa sekarang dan masa mendatang dalaam masyarakat.
Ketiga peranan tersebut berjalan secara seimbang dalaam arti terdapatt keharmonisan diantara ketiganya. Dengaan demikian kurikulum akan dapatt memenuhi tuntutan waktu dan keadaan dalaam membawa para peserta menuju kepada kebudayaan dan peradaban masa depan.



BAB III
PENUTUP

A.        Kesimpulan
Darii pembahasan di atas maka dapatt disimpulkan bahwa:
1.          Kurikulum merupakan kunci darii pendidikan karena berkaitan dengaan penentuan arah, isi dan proses pendidikan yangg pada akhirnya menentukan macam kualifikasi lulusan suatu  lembaga pendidikan. Pada intinya kurikulum ialah suatu perangkat program pendidikan yangg didalaamnya memuat perencanaan pendidikan, bahan pelajaran dan strategi pembelajaran serta bentuk penilaian pembelajaran sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
2.          Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum ada 2 yakni prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip umum terdiri darii: (1) Prinsip Relevansi, (2) Prinsip fleksibilitas, (3) Prinsip kontinuitas, (4) Prinsip praktis dan (5) Prinsip efektivitas. Sedangkan prinsip khusus meliputi: prinsip berkenaan dengaan tujuan pendidikan, pemilihan isi pendidikan, pemilihan proses belajar mengajar, pemilihan media dan alat pengajaran serta pemilihan kegiatan penilaian.
3.          Pada dasarnya kurikulum berfungsi sebagai pedoman atau acuan. Fungsi kurikulum terbagi menjadi beberapa pihak seperti fungsi kurikulum bagi sekolah, guru, kepala sekolah, pengawas, masyarakat dan bagi lulusan atau alumninya.
Kurikulum sebagai program pendidikan dan pembelajaran yangg telah direncanakan secara sistematis juga mengemban peran yangg sangat penting bagi pendidikan para siswa. Ada 3 peranan kurikulum yakni peranan konservatif, peranan kritis dan peranan kreatif.

B.         Saran
Setelah membaca pembahasan di atas, sebaiknya para calon pendidik dan pendidiknya itu sendiri dapatt mengetahui dan memahami konsep pengembangan kurikulum, prinsip-prinsip kurikulum dan fungsi serta peranan kurikulum. Demi tercapainya tujuan pendidikan yangg diharapkan selama ini.



DAFTAR PUSTAKA

Ahmad. M, dkk. 1997.  Pengembangan Kurikulum. Bandung: Pustaka Setia.
Hamalik, oemar.  2008. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: RemajaRosda Karya.
Hidayat, Soleh. 2013. Pengembangan Kurikulum Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Permendikbud Nomor 70 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum.
Sukmadinata, Nana Syaudih. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek. Bandung: Remaja Rosda Karya.


[1]Permendikbud no 70 tahun 2013, hal.4.
[2]Oemar Hamalik. 2008. Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosda Karya.Hal.13.
[3]NanaSyaudih Sukmadinata. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori Dan Praktek. Bandung: Remaja Rosda Karya.Hal. 151.
[4]Ibid
[5]Ibid, hal. 152
[6]Ibid, hal 152-155

Visitor