EVALUASI KURIKULUM



Makalah Pengertian evaluasi kurikulum? Pengertian evaluasi? Evaluasi pembelajaran? Evaluasi pendidikan? Peran evaluasi kurikulum? Aspek yang dinilai dalam sebuah kurikulum? Model evaluasi kurikulum? Implementasi kurikulum 2013? Pengembangan kurikulum? Kurikulum? Kurikulum 2013? Kurikulum 13?



BAB I

PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

Evaluasi adalah salah satu bagian dari rangkaian sistem manajemen meliputi perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Sebagaimana kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring  dan evaluasi. Dengan demikian tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi  kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Evaluasi kurikulum memegang peranan penting baik dalam penentuan kebijakan pendidikan umumnya mau pun pada tingkat pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan  dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan model kurikulum dan pendekatan yang digunakan.
 Makalah ini akan  membahas mengenai pengertian evaluasi kurikulum, aspek kurikulum yang dinilai, serta model-model dalam evaluasi kurikulum. Selama ini model kurikulum yang berlaku adalah model kurikulum yang bersifat akademik. Kurikulum yang demikian cenderung terlalu berorientasi pada  isi atau bahan pelajaran. Berdasarkan hasil beberapa penelitian ternyata model  kurikulum yang demikian kurang mampu meningkatkan kemampuan anak didik secara optimal. Hal ini tentu menjadikan kurikulum kita baru-baru ini beralih ke dalam kurikulum 2013 dengan mengedepankan kretifitas siswa peningkatan akhlak guna mencapai kualitas pendidikan yang baik. Namun, beralihnya kurikulum masih belum dapat diketahui perubahan yang signifikan  maka dengan adanya evaluasi diharapkan dapat memperbaiki aspek-aspek diatas sehingga model kurikulum yang diterapkan atau yang diimplementasikan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan.

B.       Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah yang penulis buat, yaitu pengertian dari evaluasi kurikulum pendidikan serta aspek-aspek yang dinilai dalam kurikulum dan model-model evaluasi kurikulum.

C.       Tujuan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini anatara lain:
1.       Mengetahui pengertian dan peranan evaluasi kurikulum.
2.       Memahami aspek-aspek yang dinilai dalam sebuah kurikulum.
3.       Memahami model-model evaluasi kurikulum.


BAB II

EVALUASI KURIKULUM


A.       Pengertian dan Peranan evaluasi kurikulum

1.       Pengertian Evaluasi Kurikulum

Terdapat beberapa pengertian evaluasi, sejalan dengan pendapat Guba dan Lincoln yang dikutif oleh Hamid Hasan dan dikutif kembali oleh Wina Sanjana mendefinisikan evaluasi sebagai suatu proses memberikan pertimbangn mengenai nilai dan arti dari sesuatu yangdapat dipertimbangkan.
Dari konsep evaluasi di atas, maka evaluasi kurikulum dimaksudkan suatu proses mempertimbangkan untuk memberi nilai dan arti terhadap suatu kurikulum tertentu. Adapun dengan hal yang dimaksud dengan kurikulum adalah rencana untuk yang mengatur tentang isi dan tujuan pendidikan serta cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dengan kata lain dalam konteks ini adalah kurikulum sebagai sebuah dokumen atau kurikulum tertulis.
Pengembangan kurikulum merupakan proses yang tidak pernah berakhir, proses tersebut meliputi orientasi, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Merujuk pada hal tersebut maka, dalam konteks pengembangan kurikulum, evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pengembangan kurikulum itu sendiri. Melalui evaluasi, dapat ditentukan nilai dan arti suatu kurikulum, sehingga dapat dijadikan baha pertimbangan apakah suatu kurikulum perlu dipertahankan atau tidak, atau hanya menyempurkan bagian-bagian tertentu saja.
Sejalan dengan hal tersebut Cronbach memendang bahwa evaluasi kurkulum merupakan komponen dalam proses membuat keputusan…. curriculum evaluation as the sompnent in the decisions process…Evaluation broadly as the collection and use information to make decisions about an educational program. (dalam Miller dan Seller 1985:302 yang dikutip kembali oleh Wina Sanjana) Bagi Cronbach, evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah sebagai suatu proses menggumpulkan berbagai informasi dalam rangka membuat suatu keputusan tentang program pendidikan. Artiny, melalui evaluasi apakah suatu program pendidikan perlu ditambahkan, dikurangi atau mungkin diganti.

2.     Peranan Evaluasi Kurikulum

Kurikulum dapat dipandang dari dua sisi. Sisi pertama kurikulum sebagai suatu program pendidikan atau kurikulum sebagai suatu dokumen, dan sisi kedua kurikulum sebagai suatu proses atau kegiatan. Dalam proses penidikan keua sisi ini sama pentingnya, seperti dua sisi satu uang logam. Apa artinya sebuah program tanpa diemplementasikan, dn apa artinya emplementasi tanpa acuan. Evaluasi kurikulum haruslah mencapai kedua sisi tersebut, baik kurikulum sebagai suatu dokumen, maupun kurikulum sebagai suatu proses, yakni implementasi dokumen rencana tersebut.
a.       Evaluasi Kurikulum sebagai Suatu Program atau Dokumen
Sebagai suatu program atau dokumen, kurikulum memimiliki beberapa kompnen pokok, yaitu tujuan yang ingin dicapai, isi atau materi kurikulum itu sendiri, strategi pembelajaran yang direncanakan, serta rencana evaluasi keberhasilan.
b.       Evaluasi Pembelajaran sebagai Implementasi Kurikulum
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa kurikulum sebagai suatu dokumen memiliki keterkaitan yang tidak terpisahkan dengan implementasi dokumen tersebut dalam kegiatan pembelajaran. Kurikulum dan pembelajaran bagai dua sisi dari satu mata uang logam yang masing-masing sama pentingnya.

B.       Aspek Kurikulum yang Dinilai

Agar tercipta kurikulum yang sesuai dengan karakteristik pendidikan di Indonesia, kurikulum perlu dievaluasi. Adapun aspek kurikulum yang perlu dievaluasi antara lain:
1.       Evaluasi Tujuan Pendidikan
Rumusan tujuan adalah salah satu komponen yang ada dalam dokumen kurikulum. Evaluasi kurikulum sebagai dokumen adalah evaluasi terhadap tujuan, setiap mata pelajaran terhadap sejumlah kriteria untuk menilai tujuan ini.
a.       Apakah tujuan setiap mata pelajaran berhubungn dan diarahkan untuk mencapai tujuan lembaga sekolah yang bersangkutan.
Setiap sekolah memiliki visi dan misi yang berbeda, sekolah menengah umum berbeda dengan sekolah kejuruan, walaupun sama-sama berada dalam tingkat sekolah lanjutan. Demikian juga antara sekolah kejuruan rumpun yang satu berbeda dengan rumpun yang lain. Oleh karena itu, maka setiap mata paelajaran yang diberikan di setiap sekolah harus dapat mendukung pencapaian tujuan sekolah. Misalkan, walaupun setiap SMU dan Keguruan mempelajari mata pelajaran matematika, akan tetapi tujuan pembelajaran di kedua sekolah itu mestilah berbeda.
b.       Apakah tujuan itu mudah dipahami oleh setiap guru.
Sebagai suatu dokumen, kurikulum tidak akan memiliki makna apapun tanpa diimplementasikan oleh guru. Oleh karena itu, guru perlu memahami setiap tujuan mata pelajaran yang dibinanya. Dengan demikian, maka sebaiknya tujuan dirumuskan dalam bahasa sederhana danmudah dipahami.
c.        Apakah tujuan yang dirumuskan dalam dokumen itu sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
Kurikulum disusun pada dasarnya untuk mengembangkan setiap potensi yang dimiliki siswa. Siswa bukanlah orang dewasa dalam bentuk ini, mereka adalah organisme yang sedang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Dengan demikian, tujuan dalam kurikulum haruslah sesuai dengan taraf perkembangan siswa itu sendiri.
2.       Evaluasi terhadap Isi/Materi Kurikulum
Bahwa yang dimaksud dengan isi atau materi kurikulum adalah seluruh pokok bahasan yang iberikan dalam setiap mata pelajaran. Sejumlah pertanyaan yang dapat dijadikan kriteria untuk menguji isi atau meteri kurikulum di anataranya adalah:
a.       Apakah isi kurikulum sesuai atau dapat mendukung pencapaian seperti yang telah ditetapkan.
Isi pelajaran bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, akan tetapi disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan demikian isi pelajaran harus berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai.
b.       Apakah isi atau materi kurikulum sesuai pandangan-pandangan atau penemuan-penemuan yang mutakhir.
Muatan kurikulum pada dasarnya berisikan tetang berbagai disiplin ilmu. Setiap ilmu tidakalah bersifat statis, melainkan bersifat dinamis, artinya ilmu itu terum mengalami perkembangan. Suatu teori dalam disiplin ilmu bisa terjadi tidak berlaku lagi apabila ditemukan teori bru. Oleh karena itu, setiap materi pembelajaran harus sesuai dengan pandangan-pandangan baru.
c.        Apakah isi kurikulum sesuai dengan pengalaman dan karakteristik lingkungan di mana anak tinggal.
Pendidikan berfugsi untuk mempersiapkan anak didik agar mereka dapat “hidup” di lingkungn masyarakatnya sendiri. Oleh karena itu, kurikulum sebagai alat pendidikan haruslah berisikan dan memberi pengalaman kepada peserta didik sesuai dengan karakteristik lingkungan di mana mereka tinggal. Terutama dalam masyarakat majemuk, penidikan harus sesuai dengan kemajemukan madyarakat, isi kurikulum yang tidak sesui dengan karakteristik di mana sisea berasal dan tempat mereka kembali, akan tidak bermakna.
d.       Apakah turunan isi kurikulum sesuai dengan karakteristik isi atau materi kurikulum
Setiap mata pelajaran memiliki system berfikir yang berbeda, yang ditunjukan oleh turunan isi. Ada mata pelajaran yang memiliki urutan yang sistematis dan logis, artiny urutan bahan pelajaran tersusun sedemikian rupa sesuai dengan karakteristik bahan itu sendiri.
3.       Evaluasi terhadap Strategi Pembelajaran
Sebagai suatu pedomn bagi guru, kurikulum juga seharusnya memuat petunjuk-peatunjuk bagaimana cara mengimplementasika kurikulum di dalam kelas. Salah satu aspek yang berhubungan dengan implementasi kurikulum adalah aspek pedoman perumusan strategi belajar mengajar di antaranya:
a.       Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan susuai dan dapat mendukung untuk keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan.
Bagaimanapun idealnya suatu dokumen kurikulum yang memuat tujuan-tujuan yang ingin dicapai, maka efektifitas pencapaiannya dangat ditentukan oleh strategi yang diterapkan. Strategi pencapaian tujuan bidang kognitif akan berbeda dengan strategi pencapaian tujuan biang afektif dan psikomotor. Masing-masing tujuan berdampak pada strategi yang harus digunakan.
b.       Apakah strategi pembelajarna yang diusulkan dapat mendorong aktifitas dan minat siswa untuk belajar.
Suatu strategi yang digunakan harus dapat mendorong siswa untuk beraktivitas. Belajar tidak sama dengan duduk, mencatat, dan meghafal materi pelajaran. Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku berkat adanya pengalaman. Dengan demikian, proses pembelajaran pada dasarnya adalah memberikan pengalaman kepada siswa. Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus dirancang untuk memberi pengalaman belajar yaki medorong siswa untuk melakukan berbagai aktivitas sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
c.        Bagaimana keterbacaan guru terhadap pedoman pelaksanaan strategi pembelajaran yang direncanakan.
Rancangan stategi pembelajaran bukan berisi tentang uraian-uraian teoritis, akan tetapi berisi tentang uraian praktis, sehingga dapat dicerna dengan mudah oleh guru. Keterbacaan rancangan strategi ini sangat perlu, sebab pada praktiknya gurulah yang akan menjabarkan kurikulum menjadi praktik pembeajaran secara langsung di lapangan. Berkaitan dengan keterbacaan, pemahaman guru tentang strategi serta langkah-langkah perkembangan strategi sangatlah berperan penting karena sstrategi yang tidak dipahami hanya akan menjadi pedoman kurikulum yang tidak diaplikasikan.
d.       Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan dapat mendorong kreativitas guru.
Salah satu prinsip perkembangan kurikulum sebagai suatu pedoman adalah prinsip fleksibilitas, artinya bahwa kurikulum itu bersifat lentur yakni dapat digunakan dalam berbagai kondisi dan situasi. Dengan demikian, kurikulum harus dapat diterjemahkan oleh setia guru sesuai engan kondisi yang ada. Kurikulum harus dapat menorong guru agar berinovasi secara kreatif dalam pengimplementasiannya.
e.        Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
Siswa adalah organisme yang sedang berkembang, yang dalam setiap tahap perkembangannya memiliki karakteristik dan sifat-sifat tertentu. Strategi pembelajaran yang dirancang haruslah sesuai dengan tahap perkembangan tersebut.
f.         Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia.
Alokasi waktu merupakan aspek yang cukup penting dalam membuat keputusan teentang strategi yang diusulkan, karena suatu strategi tanpa kesesuaian dengan waktu yang dialokasikan tidak mungkin dapat diterapkan.
4.       Evaluasi terhadap Program Penilaian
Komponen yang keempat yang harus dijadikan sasaran penilaian terhadap kurikulum sebagai suatu program adalah evaluasi terhadap program penilaian. Beberapa kriteria yang dapat dijadikan acuan adalah:
a.       Apakah program evaluasi relevan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Tujuan merupakan inti dari suatu program kurikulum keberhasilan kurikulum pada dasarnya adalah keberhasilan mencapai tujua kurikulum itu sendiri. Oleh sebab itu, program evaluasi perlu diuji kerelevannya dengn tujuan yang ingin dicapai.
b.       Apakah evaluasi diprogramkan untuk mencapai fungsi evaluasi baik sebagai formatif maupun fungsi sumatif.
Evaluasi yang dirumuskan bukanlah evaluasi yang ada sekedar untuk melihat keberhsilan siswa saja yang kemudian dinmakan evaluasi belajar, akan tetapi juga perlu diuji evaluasi yang dapat menguji keberhsilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kedua fungsi ini sangat pentig, evaluasi hasil belajar dapat mengukur sejauh mana siswa dapat mencapai target kurikulum yang kemudin memiliki arti untuk melihat kedudukan siswa dalam kelompoknya, sedangkan melaluli evaluasi proses dapat dijadikan umpan balik bagi guru dalam menentukan keberhasilan kinerjanya sehingga guru dapat memerbaiki kelemahan dalam mengajar.
c.        Apakah program evaluasi yang direncanakan mudah dibaca dan dipahami oleh guru.
Alat evaluasi beserta pedoman pengolahnya harus dapat dibaca oleh guru, sehingga memungkinkan guru menjadikannya sebagai pedoman. Pedoman evaluasi dapat memberikan petunjuk bagi guru untuk memnentukan tingkat penguasaan dan pencapaian kompetensi yang pada akhirnya dapat menentukan kriteria kelulusan untuk setiap siswa.
d.       Apakah program evaluasi mencakup semua aspek perubahan perilaku.
Evaluasi yang baik bukan hanya mengukur kemampuan siswa dalam aspek tertentu saja, akan tetapi harus mengukur semua aspek baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Program evaluasi yang hanya mengukur salah satu aspek dapat menyebabkan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tidak optimal.

Sedangkan menurut Permendikbud No.81A tahun 2013 tentang implementasi kurikulum, evaluasi kurikulum mencakup:
1.       Evaluasi reflektif dilakukan dalam suatu proses diskusi intensif dalam kelompok pengembang kurikulum (tim pengarah dan tim teknis) dan tim nara sumber secara internal. Evaluasi reflektif tersebut dilaksanakan melalui diskusi mengenai landasan filosofi, teoritik, dan model yang digunakan dalam pengembangan kurikulum. Landasan filosofi yang digunakan adalah pemikiran yang bersifat eklektik yang berakar dari filosofi perenialisme, esensialisme, progresivisme, rekonstruksi sosial, dan humanisme dinyatakan sebagai landasan filosofi yang dipilih sebagai landasan dan kerangka pengembangan kurikulum. Dengan pandangan filosofis yang bersifat eklektik tersebut kurikulum dikembangkan dengan tetap berakar pada nilai dan moral Pancasila untuk mewarisi keunggulan bangsa, menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dan bangsa, mengembangkan potensi, bakat, dan minat peserta didik, dan memberikan kontribusi pada upaya pembangunan masyarakat, bangsa dan negara dalam menghadapi tantangan kehidupan abad ke 21. Desain kurikulum mengalami perubahan. Perubahan ini diyakini lebih memperkuat konsep kurikulum yang berbasis kompetensi, dan memperkuat organisasi vertikal (antar tingkat satuan pendidikan) dan horizontal (antarmuatan atau mata pelajaran) kurikulum. Keterkaitan konten kurikulum secara horizontal dan vertikal dilakukan melalui Kompetensi Inti (KI). Untuk memastikan bahwa disain kurikulum ini mampu menjawab berbagai tantangan abad ke 21, diperlukan evaluasi konseptual dilihat dari koherensi ide dengan kenyataan. Review dan revisi terhadap Kompetensi Dasar (KD) yang menjadi konten/kompetensi kurikulum dilakukan segera setelah KD selesai dikembangkan dan umpan balik untuk revisi segera diberikan. Evaluasi terhadap kesesuaian konten dengan tahap perkembangan psikologi anak dilakukan oleh para ahli psikologi anak dan psikologi pendidikan terutama untuk konten kurikulum SD. Perumusan ulang dan penyederhanaan KD-SD yang telah dikembangkan tim dilakukan untuk memberikan kepastian mengenai kesuaian antar materi kurikulum dengan kemampuan kognitif, sosial, dan afektif peserta didik SD. Di SMP dan SMA/SMK yang peserta didiknya telah memasuki tahap  kemampuan berpikir formal, evaluasi terhadap konten kurikulum dilakukan oleh para ahli dalam bidang materi pelajaran. Evaluasi  menghasilkan berbagai penyesuaian KD terhadap KI dan keterkaitan antara satu KD dengan KD lainnya. Hasil dari evaluasi ini memberikan keyakinan akan organisasi horizontal dan tata urutan konten kurikulum.Evaluasi terhadap kesinambungan konten antara satu kelas (tahun) dengan kelas lainnya dilakukan secara terbuka. Hasil evaluasi menjadi dasar untuk perubahan beberapa KD yang dianggap terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan dengan kelas sebelumnya. Pelaksanaan evaluasi sangat intensif dan dilakukan secara internal dalam pertemuan antartim pengembang. Evaluasi keterkaitan antara KD-SD dengan KD-SMP dan KD-SMP dengan KD-SMA dilakukan dengan menempatkan KD-SD sebagai dasar untuk mengembangkan KD-SMP dan KD-SMP sebagai dasar untuk mengembangkan KD-SMA. Evaluasi kesesuaian dilakukan secara terbuka dalam proses pengembangan kurikulum.
Evaluasi oleh tim eksternal dilakukan dengan mengundang para pakar dari 12 perguruan tinggi yang memiliki Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Temuan dari tim eksternal langsung dikomunikasikan kepada tim teknis pengembang. Masukan dari tim eksternal merevisi berbagai KD yang telah dirumuskan dan hasil
rumusan tersebut dianggap final.
2.       Evaluasi dokumen kurikulum mencakup kegiatan penilaian terhadap:
a.    dokumen kurikulum setiap satuan pendidikan atau program pedidikan (kerangka dasar dan struktur kurikulum);
b.    dokumen kurikulum setiap mata pelajaran (silabus);
c.     pedoman implementasi kurikulum (pedoman penyusunan dan pengelolaan KTSP, pedoman umum pembelajaran, pedoman pengembangan muatan lokal, dan pedoman kegiatan ekstrakurikuler);
d.    buku teks pelajaran;
e.     buku panduan guru; dan
f.      dokumen kurikulum lainnya
Evaluasi dilakukan untuk mengkaji ketersediaan, keterpahaman, dan kemanfaatan dari dokumen tersebut dilihat dari sisi/kelompok pengguna Evaluasi implementasi kurikulum dilakukan untuk mengkaji keterlaksanaan dan dampak dari penerapan kurikulum pada tingkat nasional, daerah, dan satuan pendidikan. Pada tingkat nasional mencakup penilaian implementasi kurikulum secara  nasional. Pada tingkat daerah penilaian implementasi kurikulum mencakup kajian pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan muatan lokal oleh pemerintah daerah. Sedangkan pada tingkat  satuan pendidikan evaluasi dilakukan pada tingkat satuan pendidikan. Evaluasi implementasi kurikulum pada tingkat nasional mencakup kajian kebijakan dalam penyiapan dan distribusi dokumen, penyiapan dan peningkatan kemampuan sumber daya yang diperlukan, dan pelaksanaan kurikulum, serta dampak kebijakan terhadap pengelolaan kurikulum pada tingkat daerah dan tingkat satuan pendidikan.
3.       Evaluasi implementasi kurikulum pada tingkat daerah mencakup kajian kebijakan dalam penyiapan dan distribusi dokumen muatan lokal, penyiapan dan peningkatan kemampuan sumber daya yang diperlukan, dan pelaksanaan kurikulum muatan lokal serta keterlaksanaannya pada tingkat satuan pendidikan.Evaluasi implementasi kurikulum pada tingkat satuan pendidikan mencakup kajian penyusunan dan pengelolaan KTSP, penyiapan dan peningkatan kemampuan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan, dan pelaksanaan pembelajaran secara umum sertamuatan lokal, dan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler.
4.       Evaluasi hasil implementasi kurikulum merupakan evaluasi ketercapaian standar kompetensi lulusan pada setiap peserta didik pada satuan pendidikan. Capaian standar kompetensi lulusan setiap peserta didik dikaji melalui:
a.       hasil penilaian individual yang bersifat otentik;
b.       hasil ujian sekolah; dan
c.        hasil ujian yang bersifat nasional.

C.       Model-Model Evaluasi Kurikulum

1.     Evaluasi Model Penelitian
Model evaluasi kurikulum yang menggunakan model penelitian didasarkan atas teori dan metode tes psikologi serta eksperimen lapangan.
Tes psikologi atau tes psikomotorik pada umumnya mempunyai dua bentuk yaitu, tes inteligensi yang ditunjukan untuk mengukur kemampuan bawaan, serta tes hasil belajar yang mengukur perilaku skolastik.
Eksperimen lapangan dalam pendidikan, dimulai tahun 1930 dengan menggunakan metode yang biasa digunakan dalam penelitian botani pertanian. Para ahli botani pertanian mengadakan percobaan untuk mengetahui produktivitas bermacam-macam benih. Beberapa macam benih ditanam pada petak-petak tanah yang memiliki kesuburan dan lain-lain yang sama. Dari percobaan tersebut dapat diketahui benih mana yang paling produktif. Percobaan serupa dapat juga digunakan untuk mengetahui pengaruh tanah, pupuk dan sebagainya terhadap produktivitas suatu macam benih.
Model eksperimen dalam  botani pertanian dapat digunakan dalam pendidikan, anak dapat disamakan dengan benih, sedang kuikulum serta berbagai fasilitas serta sistem sekolah dapat disamakan dengan tanah dan pemiliharaannya. Untuk mengetahui tingkat kesuburan benih ( anak ) serta hasil yang dicapai pada akhir program percobaan dapat digunakan tes (pre test dan post tes).
Comparative approach dalam evaluasi. Ssalah satu pendekatan dalam evaluasi yang menggunakan eksperimen lapangan adalah mengadakan pembandingan antara dua macam kelompok anak, umpamanya yang menggunakan dua metode belajar yang berbeda. Kelompok pertama belajar membaca dengan metode global dan kelompok lain menggunakan metode unsur. Kelompok mana yang lebih baik atau lebih berhasil ? Apakah keberhasilan metode tersebut dapat ditransfer ke metode yaang lain? Rancangan penelitian lapangan ini membutuhkan persiapan yang sangat teliti dan rinci. Besarnya sampel, variabel yang terkontrol, hipotesis, treatment, tes hasil belajar dan sebagai, perlu dirumuskan serta tepat dan rinci.
Ada beberapa kesulitan yang dihadapi dalam eksperimen tersebut. Pertama, kesulitan administratif, sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen. Kedua, masalah teknis dan logis, yaitu kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama untuk kelomok-kelompok yang di uji, Ketiga, sukar untuk mencampurkan guru-guru untuk mengajar pada kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol, pengaruh guru-guru tersebut sukar dikontrol. Keempat, ada keterbatasan mengenai manipulasi eksperimen yang dapat dilakukan. Dalam botani pertanian dengan rancangan yang sangat sempurna dapat memanipulasi eksperimen sampai 25 treatment, tetapi dalampenelitian pendidikan tidak mungkin dapat melakukan treatment sebanyak itu.

2.     Evaluasi Model Objektif
Evaluasi model objektik (model tujuan) berasal dari Amerika Serikat. Perbedaan model objektif dengan model komperatif adalah dalam dua hal. Pertama dalam model objektif, evaluasi merupakan bagian yang sangat penting dari proses pengembangan kurikulum. Para evaluator juga mempunyai peranan menghimpun pendapat-pendapat orang luar tentang inovasi kurikulum yang dilaksanakan. Evaluasi dilakukan pada akhir pengembangan kurikulum, kegiatan penilaian ini sering disebut evaluasi sumatif. Dalam hal-hal tertentu sering evaluator bekerja sebagai bagian dari tim pengembang. Informasi-informasi yang diperoleh dari hasil penilaiannya digunakan untuk penyempurnaan inovasi yang sedang berjalan. Evaluasi ini sering disebutt evaluasi formatif. Kedua, kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain tetapi diukur dengan seperangkat objektif (tujuan khusus). Keberhasilan pelaksanaan kurikulum diukur oleh penguasaan siswa akan tujuan-tujuan tersebut. Para pengembang kurikulum yang menggunakan sistem instruksional (model objektif) menggunakan standar pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Tujuan dari comparative approach adalah menilai apakah kegiatan yang dilakukan kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol. Oleh karena itu, kedua kelompok tersebut harus ekuivalen, tetapi dalam model objektif hal itu tidak menjadi soal.
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh tim pengembang model objektif.
a)    Ada kesepakatan tentang tujuan-tujuan kurikulum;
b)    Merumuskan tujuan-tujuan tersebut dalam perbuatan siswa;
c)     Menyusun materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut;
d)    Mengukur kesesuaian antara perilaku sissswa dengan hasil ynag di inginkan.
Pendekatan inilah yang digunakan oleh Ralph Tylor (1930) dalam menyusun tes dengan titik tolak pada perumusan tujuan tes, sebagai asal mula pendekatan sistem (system approach). Pada tahun 1950-an  Benyamin S. Bloom dengan kawan-kawannya munyusun klasifikasi sistem tujuan yang meliputi daerah-daerah belajar (cognitive domain). Mereka membagi proses mental yang berhubungan dengan belajar tersebut dalam 6 kategori, yaitu knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis dan evaluation. Mereka membagi-bagi lagi  pada tujuan-tujuan tersebut pada  sub-tujuan yang lebih khusus.  Perumusan tujuan-tujuan dari Bloom dan kawan-kawan belum sampai pada perumusan tujuan yang bersifat behavioral, untuk itu diperlukanperumusan lebih lanjut yang sangat khusus dan bersifat behavioral.
Dasar-dasar teori Tylor dan Bloom menjadi prinsip sentral dalam berbagai rancangan kurikulum, dan mencapai puncaknya dalam sistem belajar berprogram dan sistem instruksional. Sistem pengajran yang terkenal adalah IPI (Individually Prescribed Instruksioan), suatu program yang dikembangkan oleh Learning Research and Development Cntre Universitas Pittsburg. Dalam IPI anak mengikuti kurikulum yang memilki 7 unsur :
a)    Tujuan-tujuan pengajaran yang disusun dalam daerah-daerah, tingkat-tingkat dan unit-unit;
b)    Suatu prosedur program testing;
c)     Pedoman prosedur penulisan;
d)    Materi dan alat-alat pengajran;
e)     Kegiatan guru dalam kelas;
f)      Kegiatan murid dalam kelas, dan
g)     Prosedur pengelolaan kelas.
Tes untuk mengukur prestasi belajar anak merupakan bagian integral dari kurikulum. Tiap butir tes berkenaan dengan keterampilan, unit atau tingkat tertentu dari tujuan khusus. Untuk menikuti program pendidikan, siswa harus mengambil dulu tes penempatan , untuk menentukan di mana mereka harus mulai belajar. Kemajuan siswa dimonitor oleh guru dengan memberika tes yang mengukur tingkat penguasaan tujuan-tujuan khusus melalui pre test dan post tes. siswa dianggap menguasai suatu untit bila memperoleh skor minimal 80. Bila ini sudah dikuasai berarti penguasaan siswa sudah sesuai dengan kriteria.
3.     Model Campuran Muttivariasi
Evaluasi model perbandingan (comparative approach)  dan model Tylor dan Bloom melahirkan evaluasi model campuran multivariasi, yaitu strategi evaluasi yang menyatukan unsur-unsur dari kedua pendekatantersebut. Strategi ini memungkinkan perbandingan lebih dari satu kurikulum dan secara serempak keberhasilan tiap kurikulum diukur berdasarkan kriteria khusus dari masing-masing kurikulum.
Seperti halnya pada eksperimen lapangan serta usaha-usaha awal dari Tylor dan Bloom, metode ini pun terlepas dari proyek evaluasi. Metode-metode tersebut masuk ke bidang kurikulum setelah komputer  dan program paket berkembang yaitu tahun 1960. Program paket berisi program statistik yang sederhana yang tidak membutuhkkan pengetahuan komputer untuk menggunakannya. Dengan berkembangnya penggunaan komputer memungkinkan studi lapangan tidak dihambat oleh kesalahan dan kelambatan. Semua masalah pengolahan statistik dapat dikerjakan dengan komputer.
Langkah-langkah model multivariasi adalah sebagai berikut :
a)       Mencari sekolah yang berminat untuk dievaluasi/diteliti;
b)       Pelaksanaan program. Bila tidak ada pencampuran sekolah tekanannya pada partisipasi yang optimal;
c)       Sementara tim menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajaran umpamanya dengan metode global dan metode unsur, dapat disiapkan tes tambahan;
d)       Bila semua informasi yang diharapkan telah terkumpul, maka mulailah pekerjaan komputer;
e)       Tipe analisis dapat juga digunakan untuk mengukur pengaruh dari beberapa variabel yang berbeda.
Beberapa kesulitan dihadapi dalam model campuran multivariasi ini. Kesulitan pertama adalah  diharapkan memberikan tes statistik yang signifikan. Maka untuk itu diperlukan 100 kelas dengan 10 pengukuran, dan ini lebih memungkinkan daripada 10 kelas dengan 100 pengukuran. Jadi model multivariasi ini sesuai bagi evaluasi kurikulum skala besar. Kesulitan kedua adalah terlalu banyaknya variabel yang perlu dihitung
 pada suatu saat, kemampuan komputer hanya sampai 40 variabel, sedangkan dengan model ini dapat dikumpulkan sampai 300 variabel. Kesulitan ketiga, meskipun model multivariasi telah menguragi masalah kontrol berkenaan dengan eksperimen lapangan tetapi tetap menghadapi masalah-masalah pembandingan.
Model-model evaluasi kurikulum tersebut berkembang dari dan digunakan untuk mengevaluasi model atau pendekatan kurikuluk tertentu. Model perbandingan lebih sesuai untuk mengevaluasi pengembangan kurikulum yang menekankan isi (Content based curriculum), model tujuan lebih sesuai digunakan dalam pengembangan kurikulum yang menggunakan pendekatan tujuan (Goal based curriculum),  model campuran dapat digunakan untuk mengevaluasi baik kurikulum yang menekankan isi, tujuan maupun situasi (Situation based curriculum).
Di samping model-model evaluasi klurikulum di atas, dikenal pula beberapa model evaluasi kurikulum yang lebih bersifat umum, seperti model EPIC, CEMREL, dan model CDPP.
Model EPIC atau Evaluation Programs for Innovative Curriculums menggambarkan keseluruhan program evaluasi dalam sebuah kubus. Kubus tersebut mempunyai tiga bidang. Bidang pertama adalah behavioral atau perilaku yang menjadi sasaran pendidikan yang meliputi perilaku cognitive, affective, dan psychomotor. Bidang kedua adalah “Instruction” atau pengajaran, yang meliputi organization, content, method, facilities an cost, dan biang ketiga adalah kelembagaan yang meliputi student, teacher, administrator, educational spesialist, family and community.


BAB III

PENUTUP


A.       Kesimpulan

Evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah sebagai suatu proses menggumpulkan berbagai informasi dalam rangka membuat suatu keputusan tentang program pendidikan. Artinya, melalui evaluasi apakah suatu program pendidikan perlu ditambahkan, dikurangi atau mungkin diganti. Peranan Evaluasi Kurikulum meliputi evaluasi kurikulum sebagai suatu program atau dokumen dan evaluasi pembelajaran sebagai implementasi kurikulum. Adapun aspek kurikulum yang perlu dievaluasi antara lain evaluasi tujuan pendidikan, evaluasi terhadap isi/materi kurikulum, evaluasi terhadap strategi pembelajaran dan evaluasi terhadap program penilaian. Menurut Permendikbud No.81A tahun 2013 tentang implementasi kurikulum dan evaluasi kurikulum mencakup evaluasi reflektif, evaluasi dokumen, evaluasi implementasi, dan evaluasi hasil implementasi kurikulum. Sedang evaluasi model penelitian antara lain: evaluasi model penelitian, evaluasi model objektif dan model campuran muttivariasi.

B.       Saran

Melihat pentingnya evaluasi kurikulum maka kami menyarankan kepada evaluator untuk memahami benar teori-teori evaluasi kurikulum serta teori kurikulum yang sedang dijalankan oleh satuan pendidikan. Sehingga evaluasi kurikulum tersebut bermanfaat sebagaimana tujuan dari evaluasi kurikulum itu sendiri.




DAFTAR PUSTAKA

Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana
Salinan Lampiran Permendikbud No.81A tahun 2013 tentang implementasi kurikulum.
Muhammad Zaini. 2009. Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. Yogyakarta: TERAS
Sukmadinata, Nana S. 2002. Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Visitor