Pengertian Doktrin dalam Islam (Kepercayaan, Wahyu & Eskatologi)



Makalah Pengertian Doktrin dalaam Islam adalah? Arti Doktrin? ,Arti Wahyu? ,Arti Eskatologi? Macam Doktrin dalaam Islam?  Arti Kepercayaan?


A.    Pendahuluan

1.     Latar Belakang

Doktrin merupakan ajaran-ajaran atau azas untukk mendirikan suatu agama atau organisasi-organisasi lain yanggg ajaran-ajarannya bersifat absolute dan tidakk bisa diganggu gugat. Banyak sekali doktrin yanggg ada dalaam islam dan memang tidakk ada tuntutan untukk mengetahui semua doktrin dalaam islam, tapi ada beberapa doktrin sentral yanggg seharusnya diketahui oleh seorang muslim, doktrin sentral tersebut meliputi: Allah, Wahyu, Rosul, Manusia, Alam Semesta, serta Eskatologi (hari kiamat). Karena kita seorang muslim setidakknya kita harus mengetahui enam doktrin sentral yanggg ada dalaam agama Islam.

2.     Rumusan Masalah

1.     Apakah doktrin yanggg paling utama dalaam Islam?
2.     Apakah yanggg dimaksud dengaan wahyu?
3.     Siapakah rasul itu?
4.     Bagaimanakah pandangan Islam mengenai manusia?
5.     Apa manfaat darii alam semesta yanggg Allah ciptakan?
6.     Apakah yanggg dimaksud dengaan eskatologi?

3.     Tujuan Penulisan Makalah
1.     Mahasiswa dapatt mengetahui doktrin yanggg paling utama dalaam Islam.
2.     Mahasiswa mengetahui pengertian wahyu.
3.     Mahasiswa mengetahui siapakah rasul Allah dan hubungannya dengaan turunnya wahyu.
4.     Mahasiswa mengetahui pandangan Islam mengenai manusia.
5.     Mahasiswa dapatt mengetahui manfaat alam semesta yanggg Allah ciptakan dan menjaga alam ini.
6.     Mahasiswa mengetahui pengertian darii eskatologi.

Pengertian Doktrin dalam islam
Pengertian Doktrin dalam islam

B.     Pengertian Doktrin

Kata doktrin berasal darii bahasa inggris yaitu “doctrine”  yanggg berarti ajaran . Oleh karena itu doktrin lebih dikenal dengaan dengaan ajaran-ajaran yanggg bersifat absolute yanggg tidakk boleh diganggu-gugat. Kata doktrin berarti dalil-dalil darii suatu ajaran. Kesesuaian pengertian ini dapatt kita temukan di lapangan bahwa suatu ajaran dalaam agama maupun yanggg lainya pasti mempunyai dasar atau dalil-dalil.
Pengertian yanggg sama juga dapatt ditemukan dalaam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu “doktrin ialah ajaran atau asas suatu aliran politik, keagamaan; pendirian segolongan ahli ilmu pengetahuan, keagamaan, ketatanegaraan secara bersistem, khususnya dalaam penyusunan kebijakan negara”. Doktrin ialah ajaran-ajaran atau pendirian suatu agama atau aliran atau segolongan ahli yanggg tersusun dalaam sebuah sistem yanggg tidakk bisa terpisahkan antara yanggga satu dengaan yanggg lainnya.
Darii uraian pengertian di atas dapatt disimpulkan bahwa doktrin merupakan ajaran-ajaran atau azas untukk mendirikan suatu agama atau organisasi-organisasi lain yanggg ajaran-ajarannya bersifat absolute dan tidakk bisa diganggu gugat.

C.     Doktrin Kepercayaan Dalaam Islam

1.     Allah
a.     Iman Kepada Allah
Imam Ibnu Hibban dan al-Hakim meriwayatkan darii Abu Sa’id al-Khudri darii Rasulullah Saw bersabda yanggg artinya:
“Musa berkata: “Wahai Tuhanku, ajarkanlah kepadaku sesuatu yanggg dapatt kupergunakan untukk memuji dan menyebut-Mu.” Allah menjawab:”Wahai Musa, ucapkanlah  la ilaha illa Allah!” Musa berkata: “Wahai Tuhanku, semua hamba-Mu telah mengucapkannya.” Tuhan berkata: “tidakk apa-apa. Sekiranya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi beserta isinya, selain Aku, diletakan pada satu sisi timbangan dan pada sisi timbangan lainnya diletakan kalimat la ilaha illa Allah, niscaya timbangan yanggg berisi kalimat la ilaha illa Allah akan lebih berat darii sisi timbangan yanggg satunya lagi.”
Kalimat la ilaha illa Allah atau sering disebut kalimat thayyibah ialah suatu pernyataan pengakuan tentang keberadaan Allah Yanggg Maha Esa: Tiada Tuhan selain Dia. Ia merupakan bagian darii lafad syahadatain yanggg harus diucapkan oleh seseorang yanggg akan masuk dan memeluk agama Islam. Bentuk pernyataan pengakuan terhadap Allah berimplikasi pada pengakuan-pengakuan lainnya yanggg berhubungan dengaan-Nya, seperti zat Allah, sifat-sifat Allah, kehendak Allah, perbuatan (af-al Allah), malaikat Allah, dan utusan Allah, hari kiamat, serta surga dan neraka. Ia merupakan refleksi darii tauhid Allah yanggg menjadi inti ajaran Islam. Oleh karena itu, ia yanggg merupakan kalimat yanggg terdapatt dalaam hadits qudsi ini sangat sarat nilai. Pengakuan terhadap keberdaan Allah berarti menolak keberadaan tuhan-tuhan lainnya yanggg dianut oleh para pengikut agama selain Islam.[1]
Iman kepada Allah ialah doktrin utama dalaam Islam yanggg tidakk dapatt ditawar-tawar lagi. Ia ialah dimensi ta’abudi yanggg terkait dengaan petunjuk dan pertolongan Allah atas hamba-Nya.  Tanpa hidayah darii Allah, akan sulit bagi siapapun untukk mempercayai-Nya.
Terminologi iman tidakk hanya sekedar kepercayaan dan pengakuan akan adanya Allah, tetapi mencakup dimensi pengucapan dan perbuatan (tashdiq bi al-qalb wa qaul bi al-lisan wa af’al bi al-jawarih). Keyakinan atau pengakuan merupakan gerbang pertama keimanan. Keyakinan itu adanya di hati. Ia merupakan bentuk pengakuan yanggg sungguh-sungguh tentang kebenaran adanya Allah Ynag Maha Esa. Keyakinan ini, selanjutnya diikuti dengaan suatu pernyataan lisan dalaam bentuk melafalkan dua kalimah syahadat: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad ialah utusan Allah.”
Dua unsur iman, keyakinan dan pernyataan lisan, disempurnakan oleh unsur yanggg ketiga, yaitu perbuatan (‘amal). Unsur ketiga menunjukan bahwa iman memerlukan perbuatan atau kerja yanggg nyata. Dengaan demikian, orang yanggg mengaku beriman kepada Allah tidakk cukup dengaan adanya keyakinan akan adanya Allah yanggg selanjutnya diucapkan dengaan lisan, tetapi harus sampai pada bentuk-bentuk pengamalan segala ajaran-Nya.
Dalaam doktrin keimanan ini, kita menemukan beberapa doktrin lain yanggg dinyatakan dalaam Al-Qur’an: Allah itu Esa dan tidakk ada sekutu bagi-Nya, dan segala makhluk mengabdi dan meminta pertolongan. Oleh karena itu, doktrin Islam menyatakan bahwa Allah ialah Pencipta, Pemelihara, Penguasa, dan Pemberi Rezeki kepada hamba-Nya.
Konsekuensi logis darii iman kepada Allah dan segala yanggg datang dan bersumber darii Allah, seperti mengimani malaikat Allah, kitab-kitab Allah, hal-hal yanggg gaib seperti hari kiamat, alam kubur, surga dan neraka.

b.     Kemustahilam Menemukan Zat Allah
Allah ialah Maha Esa, baik dalaam zat, sifat maupun perbuatan. Esa dalaam zat artinya Allah itu tidakk tersusun darii beberapa bagian yanggg terpotong-potong dan Dia pun tidakk mempunyai sekutu. Esa dalaam sifat berarti bahwa tak seorang pun yanggg memiliki sifat-sifat yanggg dimiliki oleh Allah. Dan Esa dalaam perbuatan (af’al) ialah bahwa tidakk ada seorang pun yanggg mampu mengerjakan sesuatu yanggg menyerupai perbuatan Allah.
Allah dengaan sifat  rahman dan rahim-Nya, telah membekali manusia dengaan akal dan pikiran untukk digunakan dalaam melakukan kehidupannya. Akal pikiran itu merupakan ciri keistimewaan manusia, sekaligus faktor pembeda antara manusia dan makhluk lainnya. Manusia dapatt mencapai taraf kehidupan yanggg mulia melalui aka pikirannya; sebaliknya, manusia pun dapatt terpuruk ke kehidupan yanggg hina melalui akalnya. Akal, sekalipun telah dipergunakan dengaan sunggu-sungguh, keberadaannya tetap dalaam ruang lingkup yanggg terbatas. Artinya, ada sejumlah persoalan yanggg tidakk dapatt diselesaikan oleh akal. Salah satu persoalan yanggg tidakk bisa diselesesaikan oleh akal ialah zat Allah.[2] Dalaam Al-Qur’an, Allah berfirman:
ۖ الْخَبِيرُ اللَّطِيفُ وَهُوَ الْأَبْصَارَ يُدْرِكُ وَهُوَ لْأَبْصَارُا تُدْرِكُهُ لَا
Allah tidakk dapatt dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapatt melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yanggg Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”(Q.S. Al-An’am 6:103)

c.     Argumen Keberadaan Allah
Ada tiga teori yanggg menerangkan asal kejadian alam semesta yanggg mendukung keberadaan Tuhan. Pertama, paham yanggg mengatakan bahwa alam semesta ini ialah darii yanggg tidakk ada (creatio ex-nihilo). Ia terjadi dengaan sendirinya. Kedua, paham yanggg mengatakan bahwa alam semesta ini berasal darii sel (jauhar) yanggg merupakan inti. Ketiga, paham yanggg mengatakan bahwa alam semesta itu ada yanggg menciptakan. (Atang Abd. Hakim, 2000: 111)
Teori pertama tampaknya sudah sangat tidakk relevan. Ia dapatt ditolak dengaan teori sebab-akibat (causality theory). Menurut teori kausalitas, adanya sesuatu itu disebabkan adanya sesuatu yanggg lain. Dengaan demikian, menurut teori ini, alam semesta tidakk terjadi dengaan sendirinya tetapi melalui proses penciptaaan yanggg karenanya tentua ada yanggg menciptakan.
Al-Farabi, dengaan teori pancaran (emanasi)-nya, mengatakan bahwa alam semesta ini ialah hasil pancaran darii wujud kesebelas atau akal kesepuluh. Jika diturut secara vertikal, maka akal kesepuluh itu secara hierarkis ialah kelanjutan darii akal-akal sebelumnya yanggg berawal darii akal pertama. Akal pertama (first intelligence) ialah sebab pertama (prima causa). Ia merupakan wujud pertama (al-wujud al-awwal) yanggg melahirkan wujud-wujud berikutnya. Wujud pertama itu ialah Tuhan.
Selain al-Farabi, Ibnu Sina membangun sebuah teori yanggg disebut teori wujud (filsafat wujud). Teori wujud dibangun dalaam rangka membuktikan eksistensi Tuhan. Menurut teori ini, sifat wujud lebih penting darii sifat-sifat lainnya, meskipun sifat esensi (mahiyah) sendiri. Esensi, menurutnya, terdapatt pada akal sedangkan wujud berada diluar akal. Wujud menjadikan esensi yanggg berada didalaam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Oleh karena itu, masih menurut teori ini, esensi itu ada yanggg mustahil berwujud (mumtani’ al-wujud), ada yanggg mungkin berwujud (mumkin al-wujud) atau tidakk mungkin berwujud (gair mumkin al-wujud), dan ada pula yanggg mesti berwujud (wajib al-wujud). Dalaam wajib al-wujud, esensi tidakk mungkin berpisah darii wujud. Wajib al-wujud ialah Tuhan yanggg terjadi dengaan sendirinya. Oleh karena itu, Tuhan itu mesti adanya. Ada pun yanggg mustahil wujud, mungkin wujud, dan tidakk mungkin wujud adala setiap selain Tuhan.
Adapun teori ketiga yanggg mengatakan bahwa alam semesta ada yanggg menciptakan ialah teori yanggg bersesuaian dengaan pemikiran akal yanggg sehat. Oleh karean itu, ia baik secara ‘aql mupun naql dapatt diterima. Masalah yanggg kemudian muncul darii teori ketiga ialah: siapakah yanggg menciptakan alam semesta ini? Menurut doktrin Islam, yanggg hal ini pun menjadi akidah dan keyakinan umat Islam, pencipta alam semesta ini ialah Tughan. Jawaban itu membawa pada pengertian bahwa Tuhan itu ada.
Ada beberapa argumen yanggg mendukung keabsahan teori ketiga, diantaranya argumen kosmologis seperti yanggg sudah dibicarakan terdahulu, argumen ontologis, argumen moral dan argumen epistimologis.[3]
Ontologis mulai dikembangkan oleh Plato (428-348 SM). Dalaam kajian ontologis, segala sesuatu yanggg ada di alam ini mempunyai idea. Idea ialah konsep universal darii segala sesuatu. Manusia umpamanya, mempunyai konsep universal atau idea.
Idea merupakan hakikat sesuatu. Ia merupakan dasar adanya sesuatu. Ia berada di alam tersendiri, yaitu alam idea yanggg besrsifat kekal. Idea-idea itu tidakk berdiri sendiri, bersatu pada idea tertinggi yanggg disebut Idea Kebaikan atau The absolute Good, yaitu Ynag Maha Mutlak Baik. Ia ialah sumber, tujuan dan sebab darii segala yanggg ada. Dia itulah Tuhan.
Alam semesta ini ialah teleologis, artinya diatur menurut tujuan-tujuan tertentu. Alam dalaam pandangan teleologis tersusun darii bagian-bagian yanggg satu sama lain erat sekali hubungannya. Bagian-bagian yanggg saling berhubungan itu bergerak dan bekerja sama atau berevolusi menuju tujuan tertentu. tujuan tertentu itu ialah kebaikan alam secara totalitas. Penggerak alam sehingga berevolusi ialah zat yanggg maha sempurna, zat yanggg lkebih tinggi darii alam itu sendiri. Zat inilah yanggg disebut Tuhan.
Dalaam Al-Qur’an terdapatt beberapa ayat yanggg menjelaskan bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Sebagai contoh, berikut ini dikemukakan ayat-ayat yanggg mendukung pernyataan tersebut.
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالَّذِينَ مَقَالِيدُ لَهُ (62) وَكِيلٌ شَيْءٍ كُلِّ عَلَى وَهُوَ شَيْءٍ كُلِّ خَالِقُ اللَّهُ
 (63) الْخَاسِرُونَ هُمُ أُولَئِكَ للَّهِا بِآيَاتِ كَفَرُوا
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nya-lah (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yanggg kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yanggg merugi.” (Q.S. al-Zumar 39:62-63)
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
Dia-lah Allah yanggg tiada Tuhan (yanggg berhak disembah) selain Dia. Yanggg Maha Mengetahui yanggg gaib dan yanggg nyata. Dia-lah Yanggg Maha Pemurah lagi Maha Penyayanggg.” (Q.S. al-Hasr 59:22)

2.     Wahyu

Wahyu berasal darii kata Arab al-wahy, dan ialah kata asli Arab dan bukan kata pinjaman darii bahasa asing. Kata itu berarti suara, api dan kecepatan. Di samping itu ia juga mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Al-wahy selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara tersembunyi dan dengaan cepat. Tetapi kata itu dikenal dalaam arti “apa yanggg disampaikan tuhan kepada nabi-nabi”. Dalaam kata wahyu dengaan demikian arti penyampaian sabda tuhan kepada orang pilihannya agar diteruskan kepada umat manusia untukk dijadikan pegangan hidup. Sabda Tuhan itu mengandung ajaran, petunjuk dan pedoman yanggg diperlukan umat manusia dalaam perjalanan hidupnya baik di dunia ini maupun diakhirat nanti. Dalaam islam wahyu atau sabda tuhan yanggg di sampaikan kepada Nabi Muhammad saw. terkumpul semuanya dalaam al-qur’an.[4]
Penjelasan tentang cara terjadinya komunikasi antara Tuhan dan nabi-nabi, diberikan oleh Al-qur’an sendiri. Ayat 51 dalaam surat As-Syura menjelaskan bahwa:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلّمَهُ اللّهُ إِلاّ وَحْياً أَوْ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَآءُ إِنّهُ عَلِيّ حَكِيمٌ
“Tidakk terjadi bahwa Allah berbicara kepada manusia kecuali dengaan wahyu, atau darii belakang tabir, atau dengaan mengirimkan seorang utusan, untukk mewahyukan apa yanggg ia kehendaki dengaan seizinnya. Sungguh ia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”.

Jadi ada tiga cara, pertama melalui jantung hati seseorang dalaam bentuk ilham, kedua, darii belakang tabir sebagaimana yanggg terjadi dengaan nabi Musa, dan ketiga melalui utusan yanggg dikirimkan dalaam bentuk nabi.
Sabda Tuhan yanggg disampaikan kepada nabi Muhammad s.a.w. ialah dalaam bentuk ketiga, dan itu ditegaskan oleh ayat-ayat Al-qur’an. Dalaam surat As-Syura ayat 192-195 dijelaskan:
عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (193) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (192) وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
(195) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (194)
 Sesungguhnya Al-qur’an diturunkan oleh Tuhan semesta alam; dibawa turun oleh Roh Suci (jibril), ke dalaam kalbumu (Muhammad) agar kamu membeir peringatan (kepada manusia); dalaam bahasa Arab yanggg jelas”.

Dalaam surat An-Nahl 102 disebut:
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
Katakanlah: Roh Suci menurunkannya darii Tuhanmu dengaan sebenarnya, untukk meneguhkan (hati) orang-orang yanggg beriman dan untukk menjadi bimbingan dan berita gembira bagi orang-orang muslim”.

Selanjutnya dalaam Al-Baqarah 97 dijelaskan:
قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيْلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَ هُدًى وَ بُشْرَى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
 Katakanlah: Barang siapa memusuhi jibril, maka ialah yanggg menurunkan (Al-Qur’an) kedalaam kalbumu dengaan seizin Allah, dengaan membenarkan apa yanggg diturunkan sebelumnya dan untukk menjadi bimbingan dan kabar gembira bagi orang-orang yanggg beriman”.
Ayat-ayat ini dengaan jelas menggambarkan bahwa firman Tuhan sampai kepada nabi Muhammad s.a.w. melalui jibril sebagai utusan Tuhan, jadi bukan melalui ilham ataupun darii belakang tabir.
Sebagai telah digambarkan di atas dalaam konsep wahyu terkandung pengertian adanya komunikasi antara Tuhan, yanggg bersifat imateri dan manusia yanggg bersifat materi. Falsafat dan tasawuf atau mistisisme dalaam Islam mengakui adanya komunikasi itu.
Komunikasi antara seorang nabi dengaan Tuhan dilakukan bukan melalui akal dalaam derajat perolehan tetapi melalui akal dalaam derajat materil. Seorang nabi kata Ibnu Sina, dianugerahi Tuhan akal yanggg mempunyai daya tangkap luar biasa, sehingga tanpa latihan ia dapatt mengadakan komunikasi langsung dengaan jibril. Akal demikian mempunyai kekuatan suci (qudsiah) dan diberi nama hads. Tidakk ada akal yanggg lebih kuat darii akal demikian, dan hanya nabi-nabi yanggg memperoleh akal demikian kuat. Akal yanggg mempunyai kekuatan suci demikianlah yanggg membuat seorang nabi, dalaam pengertian falsafat Islam, dapatt mengadakan komunikasi dengaan Jibril sebagai utusan darii Tuhan.
Adanya komunikasi antara orang-orang tertentu dengaan Tuhan bukanlah hal yanggg ganjil. Oleh karena itu adanya dalaam Islam wahyu  darii Tuhan kepada Nabi Muhammad s.a.w, bukanlah pula suatu hal yanggg tidakk dapatt diterima akal.
Sebagaimana telah disebut wahyu yanggg disampaikan Tuhan kepada Nabi Muhammad melalui Jibril mengambil bentuk Al-qur’an. Al-qur’an mengandung sabda Tuhan dan wahyu, sebagai disebut salah satu ayat di atas, diturunkan dalaam bahasa Arab. Ayat-ayat al-qur’an dengaan demikian merupakan sabda Tuhan bukan hanya dalaam isi, tetapi juga dalaam kata-katanya. Dengaan kata lain, teks Arab yanggg mengandung isi dan arti-arti itu ialah diwahyukan Tuhan kepada Nabi Muhammad melalui Jibril. Baik jiwa maupun kata-kata, baik isi maupun bentuknya ialah suci dan diwahyukan.
Yanggg diwahyukan dalaam Islam bukanlah hanya isi tetapi juga teks arab darii ayat-ayat sebagai terkandung dalaam Al-qur’an. Kebenaran datangnya Al-qur’an dalan teks arabnya darii Tuhan ialah bersifat absolute. Dengaan kata lain yanggg diakui wahyu dalaam Islam ialah teks arab Al-qur’an sebagai yanggg diterima nabi Muhammad saw darii Jibril. Kalau telah dirubah susunan kata ataupun diganti kata dengaan sinonimnya, itu tidakk lagi wahyu. Itu sudah merupakan penafsiran darii ayat Al-qur’an. Penafsiran bukanlah wahyu, tetapi ialah hasil ijtihad atau pemikiran manusia.[5]

3.     Rasul-Rasul Allah

 Doktrin Islam mengajarkan agar setiap orang Islam beriman kepada setiap rasul yanggg diutus oleh Allah Swt tanpa membedakan antara satu rasul dengaan rasul lainnya. Secara bahasa, rasul (Inggris; messenger, apostle) ialah orang yanggg diutus. Artinya, ia diutus untukk menyampaikan berita rahasia, tanda-tanda yanggg akan datang, dan misi atau risalah. Secara terminologi, rasul berarti orang yanggg diutus oleh Allah Swt untukk menyampaikan wahyu kepada umatnya.
Dalaam mengartikan rasul dan nabi, para ulama terbagi dua kelompok. Kelompok pertama mempersamakan arti keduanya; dan kelompok kedua membedakannya. Menurut kelompok yanggg disebutkan terdahulu, baik rasul maupun nabi sama-sama menerima wahyu yanggg harus disampaikan kepada umatnya. Adapun menurut kelompok yanggg disebutkan terakhir, hanya rasul yanggg mempunyai kewajiban untukk menyampaikan wahyu kepada umatnya, sementara nabi tidakk dibebani kewajiban itu (Atang Abd. Hakim, 2000: 121).
 Rasul ialah manusia biasa yanggg dipilih oleh Allah Swt darii keturunan yanggg mulia yanggg diberi berbagai keisimewaan, baik akal pikiran maupun kesucian ruhani. Keistimewaan para rasul merupakan bekal agar mereka cukup kuat mengemban berbagai kewajiban yanggg dikandung dalaam risalah, disamping agar mereka menjadi suri tauladan bagi umatnya. Sebagai manusia biasa, rasul ialah seperti layaknya manusia lainnya yanggg suka makan minum, tidur, hubungan seksual, terkena penyakit seperti Nabi Ayub a.s. Hanya saja, dilihat darii aspek gender, para rasul itu pasti laki-laki (Q.S. al-Anbiya: 7).
Diantara tugas yanggg diemban para rasul ialah pertama, mengajarkan tauhid dengaan segala sifat-sifat-Nya; kedua, mengajak manusia agar hanya menyembah dan meminta pertolongan kepada Allah Swt; ketiga, mengajarkan kepada manusia agar memiliki moral atau akhlak yanggg mulia; keempat, mengajarkan kepada manusia norma-norma kehidupan agar selamat di dunia dan di akhirat; kelima, mengajak manusia agar bersemangat dalaam bekerja dan berusaha serta menjauhkan sifat-sifat malas sehingga terjadi keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat; keenam, mengajak manusia agar tidakk mengikuti hawa nafsu; dan ketujuh, menyampaikan berita-berita ynag bersifar gaib, sepert malaikat, surga dan neraka, alam kubur dan alam akhirat.
Dalaam rangka menyampaikan tugas risalahnya, para rasul dilengkapi dengaan berbagai bekal keutamaan seperti kitab, mukjizat, dan sifat-sifat kemuliaan. Adapun sifat-sifat yanggg diberikan Allah kepada rasul ialah sebagai berikut.
a.     Shidiq, artinya jujur dan benar serta terhindar darii sifat dusta (al-kidzb) atau bohong.
b.     Amanah, artinya dapatt dipercaya dan terhindar darii sifat khianat.
c.     Tabligh, artinya menyampaikan dan terhindar darii sifat al-kitman atau menyembunyikan sesuatu.
d.     Fathanah, artinya bijaksana dan brilian serta terhindar darii sifat al-jahl atau bodoh.
e.     Ma’shum, artinya senantiasa mendapattkan bimbingan darii Allah sehingga apabila melakukan kekeliruan, langsung mendapatt teguran dan koreksi darii Allah Swt.
Jumlah nabi dan rasul tidakk diketahui secara pasti, karana ada sebagian darii mereka yanggg diceritakan dan disebutkan nama-namanya secara langsung oleh allah Swt, teapi ada juga yanggg tidakk diceritakan (Q.S. an-Nisa:164). Namun, ada sebagian ulama yanggg mengatakan bahwa jumlah nabi itu ialah 124.000 orang dan rasul sebanyak 313 orang. Adapun jumlah nabi dan rasul yanggg pada umumnya diketahui berjumlah 25 orang.

4.     Manusia

Islam memandang manusia baik laki-laki maupun perempuan darii segi dirinya sendiri sebagai makhluk yanggg berdiri dihadapan Tuhannya, baik sebagai hamba-Nya maupun sebagai khalifah di muka bumi ini. Allah menciptakan manusia pertama kali darii tanah liat (nabi adam) dan menghembuskan ruh kepadanya setelah itu Allah mengajarkan semua nama-nama benda padanya dan memerintahkan kepada seluruh makhluk Allah agar bersujud padanya, mereka bersujud kecuali iblis yanggg tidakk mau bersujud pada adam, yanggg akhirnya iblis dilaknat oleh Allah dan menjadi musuh para hamba allah hingga hari kiamat nanti.
Islam juga memandang hakikat manusia dalaam realitasnya yanggg permanen, manusia juga sebagai makhluk seperti yanggg kita ketahui sampai pada saat ini, tidakk berasal darii proses evolusi darii makhluk yanggg lebih rendah. Manusia juga diciptakan dengaan dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan, masing-masing telah diberi aturan oleh Islam dan akan diberi putusan sesuai dengaan amalnya di akhirat nanti. 

5.     Alam Semesta

Alam semesta yanggg juga dikatakan alam kosmos, jagat raya, alam universal, ialah ciptaan allah yanggg diciptakan sebagai tempat para mahluk Allah yanggg lain. Tanah, air, hewan, pepohonan merupakan pemberian Allah yanggg harus kita jaga.
Semua ciptaan Allah pasti memiliki manfaat tersendiri, entah manfaat yanggg sudah diketahui maupun manfaat yanggg belum diketahui, waktu-waktu shalat wajib yanggg dilakukan lima kali sehari ditentukan sesuai gerakan spesifik matahari, sebagaimana pula menunjukkan waktu permulaan dan berakhirnya puasa.

6.     Eskatologi
Eskatologi ialah cabang keilmuan islam yanggg mempelajari soal Yawn al-Qiyamah (Hari Kebangkitan) atau Yawn ad-Din (Hari Penghakiman). Eskatologi sangat berhubungan dengaan salah satu aqidah Islam, yaitu meyakini adanya hari akhir, kematian, kebangkitan mahsyar, pengadilan terakhir, surga, neraka dan keputusan seluruh nasib umat manusia dan lainnya.
Orang Islam percaya bahwa akhir jaman akan sangat dekat ketika orang-orang beriman sudah tidakk ada lagi di muka bumi. Dan kepada orang-orang jahat yanggg tersisa, pada hari itu Allah akan mengadakan penghakiman terakhir dengaan memusnahkan semua yanggg hidup, membangkitkannya kembali dan mengadilinya.
Banyak darii ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Hadist Nabi membahas subyek yanggg berkaitan dengaan persoalan-persoalan eskatologis atau hari akhir darii seluruh realitas , baik makrokosmik maupun mikrokosmik. Islam menyakini bahwa pada saat kematian, individu-individu memasuki suatu keadaan yanggg nantinya menjadi pembuktian kebenaran darii pokok-pokok keimanan mereka, darii hasil perbuatan mereka dalaam kehidupan, meskipun keyataannya akan selalu bergantung pada dimensi kasih Ilahi yanggg tidakk terhingga. Al-Qur’an dan Hadits memberikan deskripsi dengaan jelas tentang surga dan neraka.
Islam juga memiliki ajaran yanggg detail tentang peristiwa-peristiwa eskatologis pada dunia makrokosmik. Menurut Islam sejarah umat manusia dan kosmik mempunyai akhir, sebagai mana juga mereka memiliki awal. Akhir darii sejarah manusia akan ditandai dengaan saat kedatangan figure yanggg diberi gelar al-Mahdi yanggg akan menghapus penindasan, mengalahkan para musuh agama, dan mengembalikan rasa kedamaian dan keadilan di bumi.
Setelah periode yanggg hanya Tuhan sendiri dengaan pasti mengetahunya, bersamaan dengaan kedatangan kedua Isa Almasih ke Jerusalem, yanggg akan membawa sejarah umat manusia untukk menjelang dan menghadapi kedatangan hari pengadilan. Isa Almasih mempunyai peran sentral dalaam eskatologi ajaran islam, namun dia bukanlah krestus dalaam pengertian ajaran kristiani yanggg menjadi bagian darii trinitas, melainkan sebagai figure agung dan mata rantai genealogi nabi-nabi yanggg menganut ajaran Ibrahim a.s. yanggg menegaskan keesaan Allah.

D.    Kesimpulan

Doktrin merupakan ajaran-ajaran atau azas untukk mendirikan suatu agama atau organisasi-organisasi lain yanggg ajaran-ajarannya bersifat absolute dan tidakk bisa diganggu gugat.
Terdapatt enam doktrin sentral kepercayaan dalaam Islam, yanggg keenamnya memiliki kaitan yanggg sangat erat, doktrin yanggg paling utama dalaam Islam yaitu Allah, pengakuan terhadap Allah berimplikasi pada pengakuan-pengakuan lainnya yanggg berhubungan dengaan-Nya, seperti zat Allah, sifat-sifat Allah, kehendak Allah, perbuatan (af-al Allah), malaikat Allah, dan utusan Allah, hari kiamat, serta surga dan neraka. Setelah meyakini adanya Allah kita harus juga mempercayai adanya wahyu sebagai doktrin kedua yanggg disampaikan oleh Rasul Allah yanggg merupakan doktrin kepercayaan dalaam Islam yanggg ketiga, Allah menyampaikan wahyu kepada nabi dengaan tiga cara, pertama melalui jantung hati seseorang dalaam bentuk ilham, kedua, darii belakang tabir dan ketiga melalui utusan yanggg dikirimkan dalaam bentuk nabi.
Doktrin yanggg keempat yaitu manusia, Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini untukk menjaga alam semesta yanggg Allah ciptakan, yanggg merupakan doktrin kepercayaan dalaam Islam yanggg kelima. Doktrin sentral yanggg keenam yaitu Eskatologi (cabang keilmuan islam yanggg mempelajari soal Yawn al-Qiyamah (Hari Kebangkitan) atau Yawn ad-Din (Hari Penghakiman)). Eskatologi sangat berhubungan dengaan salah satu aqidah Islam, yaitu meyakini adanya hari akhir, kematian, kebangkitan mahsyar, pengadilan terakhir, surga, neraka dan keputusan seluruh nasib umat manusia dan lainnya. Setelah adanya kehidupan pasti akan ada akhir darii sejarah manusia yanggg akan ditandai dengaan saat kedatangan figure yanggg diberi gelar al-Mahdi yanggg akan menghapus penindasan, mengalahkan para musuh agama, dan mengembalikan rasa kedamaian dan keadilan di bumi.


DAFTAR PUSTAKA

Hakim, Atang Abd & Jaih Mubarok. 2000. Metodologi Studi Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Nasution, Harun. 1982. Akal dan Wahyu dalaam Islam. Jakarta: UI Press.
Saifuddin. 2010. Macam-macam Doktrin dalaam Sentral Islam. Yogyakarta: Risalah Gusti.







[1] Atang Abd. Hakim., Metodologi Studi Islam., hlm. 109.
[2] Ibid., hlm. 110.
[3] Ibid., hlm. 111.
[4] Harun Nasution., Akal dan Wahyu dalaam Islam., hlm. 15.
[5] Ibid., hlm. 23.

Visitor