Pengertian Aliran Tarikat (Sejarah, Pengaruh & Macam)



Makalah Pengertian Tarikat/ Tariqah/ Thariqah? Sejarah Tariqah/ Tarekat? Aliran Tarikat? ,Arti Eskatologi? Pengaruh Tarekat di Dunia Islam? Makalah Pengertian Syariat? Pengertian Iman? Arti Islam? ,Arti Ihsan?  


I.  PENDAHULUAN


Allah  menurunkan  ajaran  Islam  kepada  Nabi  Muhammad  Saw.
dalaam  nilai  dengaan  kesempurnaan  yangg  tertinggi.  Kesempurnaan  itu
meliputi  segi  fundamental  tentang  berbagai  aspek  kehidupan  manusia
berupa  hukum  dan  norma,  untukk  mengantarkannya  ke  pintu  gerbang
kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, ajaran Islam bersifat eternal
dan universal sesuai dengaan fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Dimensi Islam mencakup syarî’ah, tariqah, islam, iman dan ihsan.
Dimana syarî’ah sebagai hukum Allah, tariqah sebagai jalan menuju Allah,
sedangkan iman, islam dan ihsan menjadi dasar kepercayaan umat muslim. 

II.  SYARÎAH


Menurut pengertian bahasa, jika disebut kata “syarîah”, maka ia
mengandung satu di antara dua makna:

a.  Jalan yangg lurus. Sebagai mana firman Allah Swt.:

آَهْعِبَّتآَف ِرْمَْلْآ َنِّم ٍةَعْيِرَش ىَلَع َكَنْلَعَج َّمُث
Kemudian  Kami  jadikan  kamu  berada  di  atas  suatu  syarîah  darii
urusan, maka ikutilah syarîah itu. (QS. Al-Jâtsiyah (45): 18)
  Artinya, Kami jadikan engkau (Muhammad) berada dalaam jalur
yangg jelas dalaam urusan agama.

b.  Sumber  air  yangg  mengalir  yangg  biasa  dipakai  untukk  minum.

Contohnya ucapan orang Arab “Syar’ati al-ibil”, artinya unta berjalan
mencari mata air.
Sedangkan  menurut  terminologi  kalangan  ahli  fiqh,  ia  berarti
hukum-hukum  yangg  ditetapkan  oleh  Allah  kepada  hamba-Nya  melalui
lisan seorang Rasul darii para Rasul-Nya agar mereka beriman dan beramal
dengaan semua konsekuensi sehingga mereka bahagia di dunia dan akhirat.
Hukum-hukum  ini  dinamakan  syarîah  karena  ia  lurus  dan  paten,
aturannya tidak menyimpang, tidak melenceng darii tujuan asalnya seperti
jalan besar  yangg lurus tidak ada  yangg berkelok dan bengkok,  atau  syarîah
juga  mirip  seperti  sumber  air  yangg  merupakan  jalan  bagi  hidupnya  jasad.
Dengaan  definisi  syarîah  seperti  inilah  kemudian  datangnya  asal  kata
“syara’a”  dengaan  Ra’  berbaris  atas  yangg  berarti  membuat  syarîah,
sikatakan  “syara’a  ad-dîn  yasyra’uhu”  jika  ia  membuat  kaidah  dan
menjelaskan aturan hukumnya, seperti dalaam firman Allah pada QS. Asy-Syûara (42) ayat 13 yangg artinya:
Dia  telah  mensyariatkan  bagi  kamu  tentang  agama  apa  yangg  telah
diwasiatkan-Nya  kepada  Nuh  dan  apa  yangg  telah  Kami  wahyukan
kepadamu dan apa yangg telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan
Isa  yaitu:  Tegakkanlah  agama  dan  janganlah  kamu  berpecah  belah
tentangnya.
Darii  penjelasan  di  atas  dapatt  disimpulkan  bahwa  syarîah  Islam
ialah kumpulan darii beberapa hukum yangg ditetapkan oleh Allah kepada
semua  manusia  melalui  lisan  rasul-Nya  (Muhammad)  baik  dalaam  kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya. (Abdul Aziz Muhammad Azzam, 2010: 2) 

III.  TARIQAH


A.  Pengertian 

Secara  etimologis,  kata  tarekat  berasal  darii  bahasa  Arab,  thariqah
yangg berarti “jalan, keadaan, aliran atau garis pada sesuatu”. Tarekat
ialah “jalan”  yangg ditempuh para sufi. Yaitu jalan yangg berpangkal darii
syari’at, sebab jalan utama disebut syar’,  sedangkan  anak  jalan  disebut
thariq. Kata turunan ini menunjukkan bahwa menurut anggapan para sufi,
pendidikan  mistik  merupakan  cabang  darii  jalan  utama  yangg  terdiri  darii
hokum ilahi (syari’at), tempat berpijak bagi setiap muslim.
Menurut  Harun  Nasution,  tarekat  berasal  darii  kata  thariqoh  yangg
artinya  jalan  yangg  harus  ditempuh  oleh  seorang  calon  sufi  agar  ia  berada
sedekat  mungkin  dengaan  Allah.  Thariqoh  kemudian  mengandung  arti
“organisasi perkumpulan sufi” (tarekat). Tiap thariqoh mempunyai syeikh,
upacara ritual dan bentuk dzikir tersendiri. Sejalan dengaan ini, Martin Van
Bruinessan menyatakan bahwa istilah “tarekat” paling tidak dipakai untukk
dua  hal  yangg  secara  konseptual  berbeda.  Maknanya  yangg  asli  merupakan
paduan  yangg  khas  darii  doktrin,  metode  dan  praktek  ritual.  Tetapi,  istilah
inipun  sering  dipakai  untukk  mengacu  pada  organisasi  yangg  menyatukan
pengikut-pengikut “jalan” tertentu.
Menurut  Barmawi  Umari,  tarekat  ialah  jalan  atau  sistem  yangg
ditempuh  menuju  keridhaan  Allah  semata-mata.  Adapun  ikhtiar
menempuh  jalan  itu  disebut  suluk,  sedangkan  pelakunya  bernama  salik.
Jadi, tarekat ialah “saluran” darii tasawuf. Dalaam pembahasan ini, tarekat
dipahami sebagai “organisasi kaum sufi”

B. Asal Usul Historis Kelahiran Tarekat

Menurut  Barmawi  Umari,  penyebab  timbulnya  tarekat  ialah:
pertama,  karena  dalaam  diri  manusia  terselip  bakat  atau  potensi  yangg
cenderung  pada  kehidupan  kerohanian.  Semacam  fitrah  spiritual.  Kedua,
karena  reaksi  zaman  atau  tempat,  misalnya  setelah  adanya  suatu  revolusi
setempat  atau  penguasa  bertindak  sewenang-wenang,  sehingga  banyak
orang  bersikap  apatis  atau  masa  bodoh  kemudian  menerjunkan  diri
memasuki  tarekat  sebagai  pelopor  atau  pioneer  di  tempat  ini.  Ketiga,
karena  jemunya  orang  dengaan  kehidupan  yangg  enak  di  dunia,  ingin
menyendiri dan hidup secara sederhana.
Secara  historis,  kapan  dan  tarekat  mana  yangg  mula-mula  timbul
sebagai  suatu  “lembaga”,  sulit  diketahui  dengaan  pasti.  Namun,  Haru
Nasution  menyatakan  bahwa  setelah  al-Ghazali  menghalalkan  tasawuf
yangg  sebelumnya  dikatakan  sesat,  tasawuf  berkembang  di  dunia  Islam,
tetapi  perkembangannya  melalui  tarekat.  Tarekat  ialah  organisasi
pengikut  sufi-sufi  besar  yangg  bertujuan  untukk  melestariakn  ajaran-ajaran
tasawuf  gurunya.  Tarekat  ini  memakai  suatu  tempat  pusat  kegiatan  yangg
disebut  ribat  (disebut  juga  zawiyyah,  hangkah  atau  pekir).  Ini  merupakan
tempat  para  murid  berkumpul  melestarikan  ajaran  tasawuf  nya,  ajaran
tasawuf walinya dan ajaran tasawuf syeikhnya.
Organisasi  serupa  mulai  timbul  pada  abad  XII  M,  tetapi  tampak
perkembangannya  pada  abad-abad  berikutnya.  Disamping  untukk  pria,  ada
juga  tarekat  untukk  wanita,  tetapi  tidak  berkembang  dengaan  baik,  seperti
halnya tarekat pria.

C. Aliran-aliran Tarekat

Pada  awal  kemunculannya,  tarekat  berkembang  darii  dua  daerah,
yaitu  Khurasan  (Iran)  dan  Mesopotamia  (Irak).  Pada  periode  ini  mulai
timbul beberapa aliran tarekat, diantaranya:
Tarekat  Yasawiyah,  yangg  didirikan  oleh  Ahmad  al-Yasavi  (w.  562
H/1169  M)  dan  disusul  oleh  Tarekat  Khawajagawiyah  yangg  disponsori
oleh  Abdul  Khalik  al-Ghuzdawani  (w.  617  H/1220  M).  kedua  tarekat  ini
menganut  paham  tasawuf  Abu  Yazid  al-Busthami  (w.  425  H/1034  M),
dilanjutkan oleh Abu al-Farmahi (477 H/1084 M) dan Yusuf bin Ayyub al-Hamadhani  (w.  535  H/1140  M)  .  Tarekat  Yasaviyah  berkembang  ke
berbagai  daerah  diantaranya  Turki.  Di  sana,  tarekat  ini  berganti  nama
dengaan  Tarekat  Bektashiya  yangg  dinisbatkan  kepada  pendirinya
Muhammad Atha’ bin Ibrahim Hajji Bektasyi (w. 1335 M). Tarekat ini
sangat  populer  dan  pernah  memegang  peranan  penting  di  Turki  yangg
dikenal dengaan “Korp enissari” yangg diorganisir oleh Sultan Murrad I pada
masa Turki Usmani.
Tarekat  Naqsyabandiyah  yangg  didirikan  oleh  Muhammad
Bahauddin  al-Naqsyabandi  al-Bukhari  (w.  1389  M)  di  Turkistan.  Dalaam
perkembangannya,  tarekat  ini  menyebar  ke  Anatolia  (Turki)  kemudian
meluas  ke  India  dan  Indonesia  dengaan  berbagai  nama  baru  yangg
disesuaikan  dengaan  pendirinya  di  amsing-masing  daerah,  seperti  tarekat
Khaladiyah, Muradiyah, Mujadidiyah dan Ahsaniyah.
Tarekat  Khalawatiyah  yangg  didirikan  oleh  Umar  al-Khalawati  (w.
1397  M)  dan  merupakan  salah  satu  tarekat  yangg  terkenal  diberbagai
negeri,  seperti  Turki,  Mesir,  Hijaz  dan  Yaman.  Di  Mesir  tarekat  ini
didirikan  oleh  Ibrahim  Gulsheni  (w.  490  H/1534  M)  yangg  terpecah  ke
dalaam  cabang,  yaitu  tarekat  Sammaniyahyangg  didirikan  oleh  Muhammad
bin Abdul Karim al-Samani(1718-1775M). tarekat ini juga dikenal dengaan
tarekat Hafniyah. Pertama kali muncul di Turki, tarekat ini didirikan oleh
Amir  Sultan  (w.  1439  M).  Darii  rumpun  Mesopotamia  yangg  berousat  di
Irak  paham  tarekat  Khalwatiyah  nya  bersumber  darii  Abul  Qosim  al-Junaedi (w. 298 H/ 910 M) yangg melahirkan beberapa tarekat darii berbagai
garis  silsilah  tetapi,  yangg  terkenal  ialah  Tarekat  Suhrawardiah  yangg
didirikan  oleh  Abu  Hafs  al-Suhrawardi  (w  632  H),  tarekat  kubrawiyah
yangg  didirikan  oleh  Najmudin  Kubra  (w  618  H/1221  M),  dan  tarekat
Maulawiyah yangg didirikan oleh Jalaluddin Rumi (1207-1273 M), seorang
sufi-penyair  (penyair-mistikus)  terbesar  yangg  pernah  dilahirkan  sejarah
Islam.
Tarekat  Safawiyah  yangg  didirikan  oleh  Safiyudin  al-Ardabili  (w.
1334 M)
Tarekat Bairaniyah yangg didrikan oleh Hajji Bairan (w. 1430 M). 
Di  daerah  Mesopotamia  masih  banyak  tarekat  yangg  muncul  dalaam
periode ini dan cukup terkenal, tetapi tidak termasuk rumpunan al-Junaid.
Tarekat itu antara lain: 
Tarekat Qadiriyah, yangg didirikan oleh Muhyiddin Abdul Qadir al-Jailani  (w.  471  H/  1078  M).  Tarekat  yangg  tergolong  dalaam  kelompok
Qodiriyah  ini  cukup  banyak  dan  tersebar  keseluruh  negeri  Islam,  di
antaranya tarekat Faridiyah di Mesir yangg dinisbatkan kepada Umar bin al-Farid  (w.  1234  M),  yangg  mengilhami  tarekat  Sanusiyah  (Muhammad  bin
Ali  as-Sanusi  w.  1787-1859  M)  melalui  tarekat  Idrisiyah  (Ahmad  bin
Idris)  di  Afrika  Utara,  merupakan  kelompok  Qadiriyah  yangg  amsuk  ke
India melalui Muhammad al-Gawath (w. 1517 M) yangg kemudian dikenal
dengaan  tarekat  al-Ghawathiyah  atau  al-Mi’rajiyah  dan  di  Turki
dikembangkan oleh Ismail al-Rumi (w. 1041 H/ 1631 M).
Tarekat  Syadziliyah  yangg  dinisbatkan  kepada  Nuruddin  Ahmad  al-Syadzili (w. 593656 H/ 11961258 M).
Tarekat Rifa’iyah yangg  didirikan  oleh  Ahmad  bin  Ali  al-Rifa’I (w.
1106-1182 M).

D. Pengaruh Tarekat di Dunia Islam

Dalaam  perkembangannya,  tarekat-tarekat  itu  bukan  hanya
memusatkan  perhatian  kepada  tasawuf  dan  ajaran-ajaran  gurunya,  tetapi
juga  mengikuti  kegiatan  politik.  Umpamanya  tarekat  Tijaniyah  yangg
dikenal  dengaan  gerakan  politik  yangg  menentang  penjajahan  Perancis  di
Afrika  Utara.  Tarekat  Sanusiyah  menentang  penjajahan  Italia  di  Libya.
Tarekat  Ahmadiyah  menentang  orang-orang  Salib  yangg  datang  ke  Mesir.
Jadi,  sungguhpun  mereka  memusatkan  perhatian  kepada  akhirat,  mereka
pun  ikut  bergerak  menyelamatkan  umat  Islam  darii  bahaya  yangg
mengancamnya.
Tarekat  mempengaruhi  dunia  Islam  mulai  darii  abad  ke  13.
Kedudukan tarekat pada saat itu sama dengaan “parpol” (Partai Politik).
Bahkan,  banyak  tentara  juga  menjadi  anggota  tarekat.  Penyokong  tarekat
Bektashi misalnya ialah tentara Turki. Oleh karena itu, waktu tarekat itu
dibubarkan  oleh  Sultan  Mahmud  II,  tentara  Turki  yangg  disebut  Jenissari
menentangnya.  Jad,  tarekat  tidak  hanya  bergerak  dalaam  persoalan  agama
saja, tetapi juga bergerak dalaam persoalan dunia yangg mereka pikirkan.
Tarekat-tarekat  keagamaan  meluaskan  pengaruh  dan  organisasinya
keseluruh  pelosok  negeri,  menguasai  masyarakat  melalui  suatu  jenjang
yangg terancang dengaan baik, dan memberikan otonomi kedaerahan seluas-luasnya. Setiap desa atau kelompok ada “wali lokalnya” yangg didukung
dan  dimuliakan  seumur  hidupnya,  bahkan  dipuja  dan  diagung-agungkan
setelah kematiannya.    

IV.  IMAN, ISLAM DAN IHSAN


Dimensi-dimensi  Islam  yangg  dimaksud  pada  bagian  ini  ialah  sisi
keislaman  seseorang,  yaitu  iman,  islam  dan  ihsan.  Nurcholish  Madjid
menyebutnya sebagai trilogi ajaran Ilahi.
Dimensi-dimensi islam berawal darii sebuah hadis yangg diriwayatkan
oleh  Imam  al-Bukhari  dan  Imam  Muslim  yangg  dimuat  dalaam  masing-masing  kitab  sahinya  yangg  menceritakan  dialog  antara  Nabi  Muhammad
Saw dan Malaikat Jibril tentang trilogi ajaran Ilahi:
“Nabi  Muhammad  Saw  keluar  dan  (berada  di  sekitar  sahabat)
seseorang datang mnghadap beliau dan bertanya: “Hai rasul Allah, apakah
yangg di amksud dengaan iman?” Beliau menjawab: “Iman ialah engkau
percaya kepada Allah, Malaikat-Nya, pertemuan dengaan-Nya, para utusan-Nya, dan percaya kepada kebangkitan.” Laki-laki  itu  kemudian  bertanya
lagi: “Apakah yangg di maksud dengaan Islam?” Beliau menjawab: “Islam
ialah  engkau  menyembah  Allah  dan  tidak  musyrik  kepada-Nya,  engkau
tegakkan shalat wajib, engkau tunaikan zakat wajib, dan engkau berpuasa
pada bulan Ramadhan.” Laki-laki  itu  kemudian  bertanya  lagi: “Apakah
yangg  dimaksud  dengaan  Ihsan?”  Nabi  Muhammad  Saw  menjawab:
“Engkau sembah Tuhan seakan-akan engkau melihat-Nya, apabila engkau
tidak  melihat-Nya,  maka  (engkau  berkeyakinan)  bahwa  Dia
melihatmu…..” (Bukhari, I, t.th: 23). 
Hadis  di  atas  memberikan  ide  kepada  umat  Islam  Sunni  tentang
rukun iman yangg enam, rukun Islam yangg lima, dan penghayatan terhadap
Tuhan  Yangg  Maha  hadir  dalaam  hidup.  Sebenarnya,  ketiga  hal  itu  hanya
dapatt  dibedakan  tetapi  tidak  dapatt  dipisahkan.  Anatara  yangg  satu  dengaan
yangg lainnya memiliki keterkaitan.
Setiap pemeluk agama  Islam mengetahui dengaan pasti bahwa  Islam
tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa Ihsan. Sebaliknya,
ihsan  ialah  mustahil  tanpa  iman,  dan  iman  juga  mustahil  tanpa  Islam.
Dalaam  penelitian  lebih  lanjut,  sering  terjadi  tumpang  tindih  anatar  tiga
istilah tersebut. Dalaam iman terdapatt islam dan ihsan, dalaam islam terdapatt
iman dan ihsan, dan dalaam ihsan terdapatt iman dam islam. Darii sisi itulah,
Nurcholish  Madjid  (1994:  463)  melihat  iman,  islam  dan  ihsan  sebagai
trilogi ajaran Ilahi.
Ibnu  Taimiah  menjelaskan  bahwa  din  itu  terdiri  darii  tiga  unsure,
yaitu  islam,  iman  dan  ihsan.  Dalaam  tiga  unsur  itu  terselip  makna
kejenjangan (tingkatan): orang mulai dengaan Islam, kemudian berkembang
kearah iman, dan memuncak dalaam ihsan.
Rujukan  Ibnu  Taimiah  dalaam  mengemukakan  pendapattnya  ialah
surat  al-Fathir [35] ayat 32: “Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada
orang-orang  yangg  kami  pilih  di  antara  hamba-hamba  Kami,  lalu  di  antara
mereka  ada  yangg  menganiaya  diri  mereka  sendiri,  dan  di  antara  mereka
ada  yangg  pertengahan;  dan  dianatara  mereka  ada  pula  yangg  lebih  cepat
berbuat kebaikan dengaan izin Allah . . .”
Di  dalaam  al-Qur’an dan terjemahnya yangg diterbitkan Departemen
Agama  dijelaskan  sebagai  berikut:  pertama,  “orang-orang  yangg
menganiaya dirinya sendiri” (fa minhum zhalim li nafsih) ialah orang-orang  yangg  lebih  banyak  kesalahannya  dariipada  kebaikannya;  kedua,
“orang-orang pertengahan” (muqtashid) ialah orang-orang  yangg  antara
kebaikan  dan  kejelekannya  berbanding,  dan  ketiga, “orang-orang  yangg
lebih dulu berbuat kebaikan” (sabiq bi al-khairat) ialah orang-orang yangg
kebaikannya amat banyak dan jarang melakukan kesalahan. (Depag, 1985:
701)
Dengaan  penjelasan  yangg  agak  berbeda,  Ibnu  Taimiah  menjelaskan
sebagai  berikut:  pertama,  orang-orang  yangg  menerima  warisan  kitab  suci
dengaan  mempercayai  dan  berpegang  teguh  pada  ajaran-ajarannya,  namun
masih melakukan perbuatan-perbuatan zalim, ialah orang yangg baru ber-Islam,  suatu  tingkat  permulaan  dalaam  kebenaran;  kedua,  orang  yangg
menerima  warisan  kitab  suci  itu  dapatt  berkembang  menjadi  seorang
mukmin, tingkat menengah, yaitu orang yangg telah terbebas darii perbuatan
zalim  namun  perbuatan  kebajikannya  sedang-sedang  saja;  dan  ketiga,
perjalanan  mukmin  itu  (yangg  telah  terbebas  darii  perbuatan  zalim)
berkembang  perbuatan  kebajikannya  sehingga  ia  dapatt  pelomba  (sabiq)
perbuatan kebajikan, maka ia mencapai tingkat ihsan. “Orang yangg telah
mencapai tingkat ihsan,” kata Ibnu Taimiah, “akan masuk surga tanpa
mengalami azab.” (Nurcholis Madjid  dalaam  budhy  Munawar-Rachman
(ed.), 1994: 465)
Imam  al-Syahrastani  (t.  th:  40-1)  dalaam  kitabnya,  al-Milal  wa  al-Nihal,  menjelaskan  bahwa  Islam  ialah  menyerahkan  diri  secara  lahir.
Oleh  karena  itu,  baik  mukmin  maupun  munafik  ialah  Muslim.
Sedangkan  iman  ialah  pembenaran  terhadap  Allah,  para  utusan-Nya,
kitab-kitab-Nya,  hari  kiamat,  dan  menerima  qadla  dan  qadar.  Integrasi
antara  Islam  dan  iman  ialah  kesempurnaan  (al-kamal).  Atas  dasar
penjelasan  itu,  al-Syahrastani  juga  menunjukkan  bahwa  Islam  ialah
mabda’ (pemula); iman ialah menengah (wasath); dan ihsan ialah
kesempurnaan (al-kamal).
Meskipun tidak dapatt dikatakan sepenuhnya benar, umat Islam telah
memakai  suatu  kerangka  pemikiran  tentang  trilogi  ajaran  Ilahi  di  atas  ke
dalaam  tiga  bidang  pemikiran  Islam:  pertama,  iman  dan  berbagai  hal  yangg
berhubungan  dengaannya  diletakkan  dalaam  satu  bidang  pemikiran,  yatu
teologi  (ilmu  kalam);  kedua,  persoalan  Islam  djelaskan  dalaam  bidang
syariat  (fiqih);  dan  ketiga,  ihsan  dipandang  sebagai  akar  tumbuhnya
tasawuf  (Said  Aqiel  Siradj,  1998:  1).  Oleh  karena  itu,  pembahasan
berikutnya  berkenaan  dengaan  aliran-aliran  pemikiran  Islam  yangg  terbagi
dalaam tiga bidang: kalam, fikih, dan tasawuf.

V.  PENUTUP

A.  Kesimpulan
Menurut  bahasa  syarîah  berarti  jalan  lurus  atau  sumber  air  yangg
mengalir.  Sedangkan  menurut  istilah  syarîah  berarti  hukum-hukum  yangg
ditetapkan oleh Allah kepada hamba-Nya melalui lisan seorang Rasul darii
para  Rasul-Nya  agar  mereka  beriman  dan  beramal  dengaan  semua
konsekuensi sehingga mereka bahagia di dunia dan akhirat.
Secara  etimologis,  kata  tarekat  berasal  darii  bahasa  Arab,  thariqah
yangg berarti “jalan, keadaan, aliran atau garis pada sesuatu”. Tarekat
ialah “jalan”  yangg ditempuh para sufi. Yaitu jalan yangg berpangkal darii
syari’at, sebab jalan utama disebut syar’,  sedangkan  anak  jalan  disebut
thariq.
Setiap pemeluk agama  Islam mengetahui dengaan pasti bahwa  Islam
tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa Ihsan. Sebaliknya,
ihsan ialah mustahil tanpa iman, dan iman juga mustahil tanpa Islam.



VI.  DAFTAR PUSTAKA

Abd. Hakim Atang, Jaih Mubarok. Metodologi Studi Islam. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya. 2000.
Azzam, Abdul Aziz Muhammad. Fiqh Muamalat. Jakarta: AMZAH. 2010.
Mahfud. Akhlak Tasawuf. Cirebon: At-Tarbiyah Press.2011

Visitor