Makalah Sistem Pembelajaran di Pondok Pesantren



Makalah Pengertian Sistem Pembelajaran di Pondok Pesantren Terpadu Al- Multazam Kuningan ?  ,Pengertian Pondok Pesantren ? ,Arti Pondok ? ,Arti Pesantren ? ,Arto Ponpes ? ,Pesantren darunnajah ? ,Kehidupan di Pondok Pesantren ? ,Perbedaan Pesantren Tradisional dan Moderen ? ,Metode yang digunakan di Pesanten ? ,Sistem Pembelajarannya ?



MAKALAH
SISTEM PEMBELAJARAN DI PONDOK PESANTREN: PONDOK PESANTREN TERPADU AL- MULTAZAM KUNINGAN

Diajukan sebagai tugas Mandiri untuk Mata Kuliah MetodeStudi Islam
Dosen Pengampu : ________

SISTEM PEMBELAJARAN DI PONDOK PESANTREN: PONDOK PESANTREN
SISTEM PEMBELAJARAN DI PONDOK PESANTREN: PONDOK PESANTREN

Disusunoleh :

     Fakultas / Jurusan : Tarbiyah / Tadris Matematika
Kelas / Semester : C / III
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SYEKH NURJATI CIREBON
2013
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................................ i
DAFTAR ISI......................................................................................................................................... ii
I PENDAHULUAN 1
A.       LatarBelakang.................................................................................................................... 1
B.       Tujuan Masalah................................................................................................................. 3
C.       RumusanMasalah.............................................................................................................. 3

II PEMBAHASAN
1.       Terminologi Pesantren.................................................................................................... 4
2.       Tujuan Pesantren............................................................................................................. 6
3.       Transformasi Kurikulum Pesantren............................................................................... 7                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            
4.       Tipe Pendidikan Pesantren............................................................................................. 8
5.       Sejarah Pesantren Terpadu Al- Multazam.................................................................... 9
6.       Sistem Pendidikan Pesantren Terpadu Al- Multazam............................................... 11
7.       Sistem Pembelajaran Pesantren Terpadu Al- Multazam............................................ 16

BAB III PENUTUP
1.       Kesimpulan........................................................................................................................ 17
2.       Kritikdan Saran.................................................................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................................. 18



KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan berbagai kenikmatan yang tiada terhingga banyaknya, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini. Shalawat beserta salam semoga tetap tercurah limpahkan pada baginda alam Nabi besar Muhammad Saw. Semoga kita termasuk umat yang mendapat syafaat darinya, aamiin. Tak ada gading yang tak retak, begitulah perumpamaan manusia yang takk bisa lepas dari kekhilafan dan kealfaan.
                Makalah ini yang berjudul SISTEM PEMBELAJARAN DI PONDOK PESANTREN: PONDOK PESANTREN TERPADU AL- MULTAZAM KUNINGANdisusun untuk memenuhi tugas mandiri pada mata kuliah Metedologi Studi Islam, dengan dosen pengampu bapak Prof. Dr.H. JamaliSahrodi
Dalam pembuatan makalah ini penyusun menyadari bahwasanya tulisan ini masih banyak kekurangan dan jauh pula dari kesempurnaan karena kesempurnaan itu sesungguhnya hanyalah milik Allah semata. Akhir kata penyusun ucapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca. Tak lupa kritik dan saran yang sifatnya membangun sangatlah penyusun nantikan.

Cirebon, 22 Oktober  2013


Penyusun




I.                PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

Pondok pesantren merupakan tempat dimana didalamnya terdapat santri (murid), kyai (guru)  dan pondok (tempat tinggal).
Dewasa ini, banyak para orang tua menitipkan anaknya di pondok pesantren karena alasan tertentu. Sebagian besar mereka menginginkan agar anaknya kelak menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada orang tuanya, dan sebagian lagi beralasan karena mereka sibuk bekerja sehingga tak punya banyak waktu untuk mengasuh dan mendidik anak, sehinggan menitipkan anaknya di pondok pesantren agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang buruk.
Dari hasil analisa tersebut, sebuah pertanyaan pun muncul, apakah seorang anak yang belajar dan tinggal di pondok pesantren akan mempunyai ilmu agama yang tinggi,? Apakah seorang santri akan menjadi anak yang soleh serta berbakti kepada kedua orang tuanya? Semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut tergantung dari santrinya.
Ada pepatah mengatakan, “jika anda berteman dengan tukang minyak wangi maka anda akan berbau harum, dan jika anda bergaul dengan tukang penjual kambing maka anda akan berbau kambing”. Dari pepatah tersebut seorang santri dapat digolongkan orang-orang yang bergaul dengan tukang minyak wangi (kyai), dan mereka akan ketularan harumnya, artinya mereka akan tertular ilmunya. Tapi apa semua santri akan berakhlak mulia? Tidak semua, berdasarkan pepatah tersebut, jika santri itu bergaul dengan tukang penjual kambing (anak nakal di daerah tersebut), maka mereka ia akan berbau kambing, artinya ia akan menjadi orang yang akhlaknya buruk dan keilmuannya sangat rendah dan bahkan kosong sama sekali.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan tema dan judul makalah yang ada, rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1)       Apa itu pondok pesantren?
2)       Bagaimana kehidupan di pondok pesantren?
3)       Apa perbedaan pesantren tradisional dan modern?
4)       Metode apa saja yang digunakan di pesantern?
5)       Bagaimana kurikulum yang digunakan di pesantren?
6)       Dimana pondok pesantren Al-Hikmah 1 Benda?
7)       Bagaimana sistem pembelajarannya?
8)       Bagaimana analisa tentang pondok pesantren Al-Hikmah 1 Benda?

C.       Tujuan Penulisan

Makalah ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut:
1)       Memenuhi tugas mata kuliah
2)       Memahami tentang pembelajaran di pondok pesantren
3)       Mengetahui reformasi kurikulum di pesantren
4)       Mempelajari pola pikir santri
5)       Mendalami kajian kitab klasik para santri
6)       Menjadikan pengalaman sebagai pelajaran
D.       Metode Penelitian
Metode penelitian yang saya lakukan untuk penulisan makalah ini adalah dengan menjalaninya langsung tinggal dan belajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah 1 Benda selama 3 tahun, sehingga apa yang saya tulis dalam makalah ini adalah sebuah pengalaman dan analisa saya secara langsung.
Selain itu, untuk menambah wawasan dan pengetahuan, saya tambahkan beberapa materi dari buku-buku referensi yang sesuai dengan tema dan judul makalah.



II.               LANDASAN TEORI

A.       Terminologi Pesantren

Dalam pemakaian sehari-hari, istilah pesantren bisa disebut dengan pondok saja atau kedua kata ini digabung menjadi pondok pesantren. Secara esensial, semua istilah ini mengandung makna yang sama, kecuali sedikit perbedaan. Asrama yang menjadi penginapan santri sehari-hari dapat dipandang sebagai pembeda antara pondok dan pesantren.
Pada pesantren santrinya tidak disediakan asrama (pemondokan) di komplek pesantren tersebut. Mereka tinggal di seluruh penjuru desa sekeliling pesantren (santri kalong) dimana-mana dan metode pendidikan dan pengajaran agama islam diberikan dengan sistem wetonan yaitu para santri datang berduyun-duyun pada waktu-waktu tertentu.
Dalam perkembangannya, perbedaan ini ternyata mengalami kekaburan. Asrama (pemondokan) yang seharusnya sebagai penginapan santri-santri yang belajar di pesantren untuk memperlancar proses belajarnya dan menjalin hubungan guru-murid secara lebih akrab, yang terjadi di beberapa pondok justru  hanya sebagai tempat tidur semata bagi pelajar-pelajar sekolah umum. Mereka menempati pondok bukan thalab ‘ilm ad-din, melainkan karena alasan ekonomis. Istilah pondok juga sering kali digunakan bagi perumahan-perumahan kecil di sawah atau ladang sebagai tempat peristirahatan sementara bagi para petani yang sedang bekerja.
Sebaliknya, tempat pengkajian kitab-kitab islam klasik yang memiliki asrama (pemondokan) oleh masyarakat terkadang disebut pesantren. Pemakaian istilah pesantren juga menjadi kecenderungan para penulis dan peneliti tentang kepesantrenan belekangan ini baik yang berasal dari Indonesia maupun orang-orang mancanegara, baik yang berbasis pendidikan pesantren maupun mereka yang baru mengenalnya secara lebih dekat ketika mengadakan penelitian. Maka pondok pesantren dapat diartika sebagai tempat tinggal santri atau murid.

B.       Tujuan Pesantren

Sebagimana yang kita ketahui ketahui bahwa pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan swasta yang didirikan oleh seorang Kyai sebagai figure sentral yang berdaulat menetapkan tujuan pendidikan pondoknya.
Tujuan pendidikan pesantren menurut Mastuhu adalah menciptakan kepribadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlak mulia bermanfaat bagi masyarakat atau berhikmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau menjadi abdi masyarakat mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia. Idealnya pengembangan kepribadian yang ingin di tuju ialah kepribadian mukhsin, bukan sekedar muslim.
Sedangkan menurut M. Arifin bahwa tujuan didirikannnya pendidikan pesantren pada dasarnya terbagi pada dua, yaitu:
-          Tujuan Khusus
Yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang ‘alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh Kyai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat.
-          Tujuan Umum
Yakni membimbing anak didik agar menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar dan melalui ilmu dan amalnya.

C.       Transformasi Kurikulum Pesantren

Transformasi kurikulum pesantren adalah proses perubahan bentuk, karakter, dan materi kurikulum suatu pesantren dengan tanpa menghilangkan ciri khas aslinya (salafi), yang disebabkan karena dua faktor, yaitu:
1)       Faktor Eksternal
Faktor eksternal karena para kiai (pengasuh) pesantren menyadari adanya berbagai transformasi di Indonesia, yang diakibatkan arus modernisasi dan sekularisasi yang hampir merasuk ke segala bidang kehidupan.
2)       Faktor internal
Faktor internal karena kebutuhan pesantren untuk mempertahankan kuantitas santrinya dan menetapkan eksistensinya pondok pesantrennya.

D.       Tipe Pendidikan Pesantren

Pada umumnya, Pesantren memiliki 2 tipe, yatiu:

1)       Pesantren Tradisional

Menurut istilah, pesantren tradisional adalah sistem pendidikan Islam  yang bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang al-Qur'an dan Sunnah Rasul, dengan mempelajari bahasa Arab dan kaidah-kaidah tata bahasa-bahasa Arab, dengan konsetrasi pada kitab-kitab klasik.[1]
Dalam memberikan pembelajaran kepada santrinya, pesantren tradisional menggunakan kitab-kitab tertentu, sesuai cabang ilmunya. Kitab-kitab tersebut harus di pelajari sampai tuntas, sebelum naik ke kitab lain yang lebih tinggi tingkat kesukarannya. Dengan demikian tamatnya progam pembelajaran tidak di ukur dengan satuan waktu, juga tidak di dasarkan pada penguasaan terhadap silabi tertentu, tetapi didasarkan pada tuntasnya santri dalam  mempelajari kitab yang telah di tetapkan. Kompetensi dasar bagi tamatan pesantren tradisional adalah kemampuan menguasai (memahami, menghayati, mengamalkan dan mengajarkan) isi kitab tertentu yang telah di tetapkan.[2]

2)       Pesantren Modern




III.             PEMBAHASAN

A.       Sejarah Pondok Pesantren Al-Hikmah 1 Benda

1.       Periode Permulaan

Tahun 1911 M. merupakan periode perintisan berdirinya Pondok Pesantren Al Hikmah 1 yang dilakukan oleh
KH. Kholil bin Mahalli sepulangnya dari Tholabul ilmu di beberapa Pesantren dan yang terakhir belajar di Pesantren Mangkang Semarang, beliau melihat kondisi masyarakat yang masih awam akan pengetahuan agama, dengan metode Bil Hikmah Wal Mauidhotil Hasanah (metode bijaksana dan nasehat yang baik) serta keihlasan berda’wah beliau mengadakan pengajian dari rumah ke rumah penduduk, di Surau–surau dan di kediaman beliau sendiri yang sekaligus menjadi pusat kegiatan da’wah dan pondok bagi para Santrinya.
Menyusul kemudian pada tahun 1927 M, dibukalah secara resmi keberadaan pondok pesantren Al Hikmah oleh KH. Suhaimi bin Abdul Ghoni (putra kakak KH. Kholil) yang merupakan alumnus Ma’had al Haram, Makah Saudi Arabia, (yang kemudian menyempatkan Tabarrukan ngaji Al Qur’an kepada KH Munawwir Krapyak Yogyakarta), beliau bahu membahu dengan KH. Kholil berupaya merubah keadaan masyarakat desa Benda dari keterbelakangan menjadi setingkat lebih maju, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, terutama keagamaan.
Sebagai seorang hafidz (yang hafal sebanyak 30 Juz) Al-Qur’an maka KH. Suhaimi membangun Asrama dengan 9 kamar untuk menampung Santri Hufadl (yang belajar menghafal Al Qur’an). Dari sinilah kemudian kita kenal “PONDOK PESANTREN AL HIKMAH”.
Sebagai tindak lanjut pengembangan Pondok Pesantren Al Hikmah mulai di rintislah sistem pendidikan secara klasikal yaitu dengan mendirikan Madrasah Tamrinussibyan (sekarang Madrasah Ibtidaiyah Tamrinussibyan Al Hikmah) dengan ijin operasional yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan nomor 123/c tahun 1930.

2.       Periode Pertengahan

Dalam masa Revolusi kemerdekaan Pondok Pesantren Al Hikmah  mengalami kegoncangan bahkan kehancuran atau kefakuman. Pada saat itu para santri bersama masyarakat ikut berjuang, melawan dan mengusir penjajah Belanda, membela tanah Air dan dan mempertahankan Negara Proklamasi 17 Agustus 1945, sehingga beberapa pengasuh dan Asatidz ada yang gugur sebagai syahid, dan ada pula yang ditangkap dan diasingkan, mereka yang syahid antara lain : KH. Ghozali, H. Miftah, H. Masyhudi, Amin bin H. Aminah, Syukri, Daad, Wahyu, Siraj dll.
Setelah keadaan menjadi aman para pengasuh dan Kyai terutama KH. Kholil dan KH. Suhaemi membenahi dan membangun kembali pondok dan Madrasah yang hancur.Parasantri mulai kembali ke pondok melanjutkan belajar. Dalam menangani pendidikan tersebut beliau dibantu oleh KH. Ali Asy’ari (menantu KH. Kholil). Ustadz Abdul Jamil, K. Sanusi, KH. Aminudin, KH. Mas’ud dll. Pada tahun 1955, KH. Kholil pulang ke Rahmatullah dan beberapa tahun kemudian (1964) KH. Suhaemipun Wafat.

3.       Periode Pengembangan

Sepeninggal KH. Kholil dan KH. Suhaemi tampillah tunas muda sebagai penerus perjuangan yaitu KH. Shodiq Suhaemi dan KH. M. Masruri Mughni (cucu KH. Kholil). Di bawah asuhan ke dua beliau ini Pondok Pesantren Al Hikmah berkembang pesat, dengan didirikan lembaga lembaga pendidikan seperti:
a)       MTs I (Th 1964),
b)       Madrasah Diniyyah Awaliyyah Dan Wustho (1965)
c)       Madrasah Mu’allimin/ Mu’allimat (1978)
d)       Madrasah Aliyah I (1967)
e)       TK Radhatul Athfal (1978)
f)        SMP (1978)
g)       MTs II+III (1986)
h)       SMA (1987)
i)         Perguruan Takhasus Qiroatul Kutub (1988)
j)         MTs IV+V (1989)
k)       Madrasah Aliyah II (1990)
l)         STM (1993)
m)     SMEA (1996)
n)       Akper (2003)
o)       Ma’had Salafi (2005).

B.       Tingkat Motivasi Santri

Berdasarkan data yang saya himpun, pada Tahun 2012 jumlah santri Pondok Pesantren Al-Hikmah 1 kurang lebih berjumlah 1470 santri, dengan 1030 Santri putra dan 440 santri putri. Dari sekian banyak santri yang mondok, sebagian besar motivasi mereka adalah ingin membahagiakan orang tua. Mereka ingin membuktikan kepada orang tuanya bahwa anaknya kini telah menjadi santri yang berakhlak mulia dan berilmu ‘amaliah. Sebagian dari mereka juga termotivasi ingin seperti tokoh-tokoh muslim yang sudah mempunyai nama besar di negeri ini, seperti KH. A. Wahid (gus dur), H. Mahfudz MD (ketua MK), KH. Aqil Siraj (ketua NU) dan pra kyai-kyai yang memiliki kharismatik seperti mbah Idris, mbah dim, mbah dam, dan para pendiri pondok.

C.       Metode Pembelajaran

Sama seperti mayoritas pondok pesantren di Jawa lainnya, di sana juga memiliki metode-metode pembelajaran yang tidak jauh berbeda pada umumnya, seperti sorogan, bandongan/wetonan, musyawarah, bahtsul masa’il, hafalan (muhafadzah), dan praktek ibadah.
1)       Metode Sorogan
Metode sorogan merupakan suatu metode yang ditempuh dengan cara guru menyampaikan kepada santri secara individual, biasanya disamping di pesantren juga dilangsungkan di langgar, masjid bahkan terkadang di rumah-rumah. Penyampaian kepada santri yang di lakukan secara bergilir ini biasanya di praktekkan pada santri yang jumlahnya sedikit.[3]
Melalui metode ini perkembangan intelektual santri dapat di tangkap secara utuh. Kyai dapat memberikan bimbingan penuh kejiwaan sehingga dapat memberikan tekanan kepada santri-santri tertentu atas dasar observasi langsung pada kemampuan dasar dan kapasitas santri.penerapan metode ini membutuhkan kesabaran dan keuletan pengajar, selain itu santri dituntut memiliki disiplin yang tinggi.[4] Namun metode ini kurang efektif dan efisien, karena membutuhkan waktu yang lama.
2)       Metode Wetonan/Bandongan
Menurut Zamakhsari Dhofier metode wetonan adalah suatu metode pengajaran dengan cara guru membaca, menerjemahkan, menerangkan dan mengulas kitab berbahasa Arab dengan sekelompok santri yang mendengarkan. Para santri memperhatikan kitabnya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti ataupun keterangan) tentang kata-kata serta buah pikiran yang sulit.[5] Dalam penerjemahan kitab yang di ajarkan, seorang kyai dapat menggunakan berbagai bahasa yang menjadi bahasa utama para santri, misalnya: diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, sunda atau bahasa ndonesia.[6]
Metode ini sangat efektif dalam kedekatan relasi santri dan kyai, selain itu pencapaian dan percepatan kajian kitab.[7] Namun disisi lain metode ini mempunyai  kelemahan, yaitu mengakibatkan santri bersikap pasif, karena proses belajar mengajar di dominasi oleh kyai, sementara santri hanya mendengarkan dan memperhatikan dari kyai.[8]
3)       Metode Musyawarah
Metode musyawarah adalah kegiatan belajar secara kelompok untuk membahas bersama materi kitab yang telah diajarkan kyai atau ustadz. Metode ini merupakan kegiatan yang menjadi tradisi bagi pesantren tadisional, maka bagi mereka yang tidak mengikuti biasanya akan mendapatkan sanksi.[9]
Biasanya musyawarah dilakukan sesama santri, jadi bisa dikatakan musyawarah disini hanya berbagi pengetahuan antar santri tentang ilmu-ilmu agama.
4)       Bahtsul Masa’il
Metode bahtsul masa’il atau mudzakaroh merupakan pertemuan ilmiyah untuk membahas masalah diniyah, seperti ibadah, aqidah, dan permasalahan agama lainnya.[10] Dalam pelaksanaannya, para santri bebas mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau pendapatnya. Dengan demikian metode ini lebih menitik beratkan pada kemampuan perseorangan dalam menganalisis dan memecahkan suatu persoalan dengan argument logika yang mengacu pada kitab-kitab tertentu.[11]
Metode ini, biasanya diikuti oleh para kyai dan atau pada santri tingkat tinggi.Aplikasi dari metode ini dapat mengembangkan intelektual santri, mereka diajak berfikir menggunakan penalaran-penalaran ang disandarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah serta kitab-kitab Islam klasik.[12]



5)       Metode Hafalan (Muhafadzah)
Metode hafalan adalah kegiatan belajar santri dengan cara menghafal suatu teks tertentu dibawah bimbingan dan pengawasan kyai atau ustadz.[13] Sebagai sebuah metodologi pengajaran, hafalan pada umumnya diterapkan pada pelajaran yang bersifat nadham (syair) dan terbatas pada ilmu kaidah bahasa Arab, seperti: Tuhafathul ‘athfal, ‘Aqidatul ‘awam, Al-Maqsud, Al-Imrithi, Alfiyah Ibn Malik, Al-Maqsud dan lain-lain.
Dan pada setiap tahunnya diadakan khataman, yaitu menampilkan hafalan-hafalan yang mereka hafal selama satu tahu. Biasanya setiap kelas diberi tugas menghafal masing-masing kitab yang berbeda sesuai tingkat kelasnya.
6)       Praktik Ibadah
Praktek ibadah adalah cara pembelajaran yang dilakukan dengan cara memperagakan suatu ketrampilan dalam hal pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan dengan cara perorangan maupun kelompok dibawah petuntuk dan bimbingan kyai atau ustadz. Metode ini biasanya diikuti oleh santri pada tingkat bawah, seperti halnya metode sorogan, metode ini dapat mengembangankan intelektual santri kyai dapat memperhatikan secara utuh. Seperti praktik mengkafani mayat, memandikan mayat, khutbah, pidato, sholat jenazah, sholat istisqa’ dan praktik sholat-sholat sunnah lainnya.

D.       Bentuk Evaluasi

Berdasarkan pengalaman saya, Pondok Pesantren Al-Hikmah 1 Benda memerlukan pengawasan yang ekstra ketat agar para santri tidak seenaknya keluar pondok pesantren tanpa izin, sehingga pergaulan mereka tidak terlewat batas.




IV.             HASIL ANALISIS

Berdasarkan analisa saya yang tinggal dan belajar selama tiga tahun di Pondok-Pesantren Al-Hikmah 1 Benda, santri yang badung (nakal) kebanyakan mereka yang mondok karena paksaan dari orang tuanya yang sibuk bekerja mencari nafkah dan tidak punya banyak waktu untuk mengasuh dan mendidik anaknya, sehingga santri tersebut tidak benar-benar mengikuti kegiatan-kegiatan di Pondok Pesantren dan bermalas-malasan dalam hal belajarnya. Salain itu juga, santri yang badung kebanyakan karena pergaulannya dengan anak-anak di daerah tersebut yang tidak baik, akibatnya dia berani melanggar dan menentang aturan-aturan di Pondok-Pesantren.



V.              PENUTUP

A.       Kesimpulan
B.       Kritik dan Saran



DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M. 1993. Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Agama RI. 2003. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jakarta: Departemen Agama RI.
Mastuhu. 1994. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Suatu Kajian Tentang unsur dan Nilai sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS.

Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag. Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi,

HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren: Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global,


[1] Departemen Agama RI, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah, hal. 29.
[2] Departemen Agama RI, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah, hal. 32.
[3] Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag. Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, hal. 142.
[4] Ibid, hal. 143.
[5] Ibid, hal. 143.
[6] Departemen Agama RI, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah, hal. 40.
[7] Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag. Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, hal. 144.
[8] Ibid, hal. 145.                                
[9] HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren: Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, hal. 19.
[10] Ibid. hal. 19.
[11] Departemen Agama RI, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah, hal. 42.
[12] Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag. Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, hal. 147.
[13] Departemen Agama RI, Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah, hal. 46.

Visitor