Makalah Dinasti Umayyah, Abbasiah dan Fatimah (Kemunduran dan Kebangkitan)




Makalah Sejarah Dinasti Umayyah? Sejarah Dinasti Abbasiah? ,Sejarah Dinasti Fatimah? ,Sejarah Islam Pada Masa Nabi Muhammad adalah? ,Sejarah islam pada masa Khulafaur Rasyidin? ,Sejarah Kemajuan Islam dinasti Umayyah dan Penyebab runtuhnya? Sejarah Islam dinasti Abbsiah dan Fatimah? Awal Kebangkitan Islam? ,Sejarah Kemunduran Dunia Islam? ,Faktor kemunduran, runtuhnya, kemajuan dan kebangkitan Dinasti Umayyah? Faktor kemunduran, runtuhnya, kemajuan dan kebangkitan Dinasti Abbasiah dan Fatimah? Sebab kemunduran dan kebangkitan Dinasti Umayyah, Abbasiah dan Fatimah?



1.    PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Nabi Saw mendapatt berbagai macam perintah dalaam firman Allah, yanggartinya : “Hai orang yangg berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan, dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengaan maksud) memperoleh (balasan) yangg lebih banyak, dan untukk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah” ( Al-Muddatstsiar : 1 - 7 ).
Sepintas lalu ini merupakan perintah-perintah yangg sederhana dan remeh. Namun pada hakikatnya mempunyai tujuan yangg jauh, berpengaruh sangat kuat dan nyata. Ayat-ayat ini sendiri mengandung materi-materi dakwah dan tabligh. Dan semua ayat ini menuntut tauhid yangg jelas darii manusia, penyerahan urusan kepada Allah, meninggalkan kesenangan diri sendiri dan keridhaan manusia, untukk dipasrahkan kepada keridhaan Allah.
Sungguh ini merupakan perkataan yangg besar dan menakutkan, yangg membuat beliau melompat darii tempat tidurnya yangg nyaman dirumah yangg penuh kedamaian, lalu siap terjun ke kancah diantara arus dan gelombang kehidupan. Setelah beliau bangkit darii tempat tidurnya itu, dimulailah beban yangg besar yangg harus dilaksanakan beliau. Mulai saat itu, hingga ia wafat, ia tidakk pernah istirahat dan diam. Tidakk hidup untukk diri sendiri dan keluarga beliau. Beliau bangkit dan senantiasa bangkit untukk berdakwah kepada Allah, memanggul beban yangg berat diatas pundaknya, tidakk mengeluh dalaam melaksanakan beban amanat yangg besar di muka bumi ini, memikul beban kehidupan semua manusia, beban akidah, perjuangan dan jihad di berbagai medan. Kita bisa membagi masa dakwah Rasulullah SAW menjadi dua periode, yaitu : Periode atau fase Mekkah, Periode atau fase Madinah


B.       Rumusan Masalah

a.     Bagaiman sejarah Islam pada masa Nabi Muhammad SAW ?
b.     Bagaimana sejarah Islam pada masa Khulafaur Rasyidin ?
c.     Mengetahui sejarah kemajuan islam pada dinasti Umayyah, dan penyebab runtuhnya dinasti tersebut ?
d.     Mengetahui sejarah islam pada dinasti Abbsiah dan dinasti fatimah ?
e.     Mengetahui penyebab runtuhnya peradaban islam ?
f.      Bagaimana awal kebangkitan dunia baru islam ?

C.       Tujuan Penulisan

a.     Untukk mengetahui sejarah Islam pada masa Nabi Muhammad SAW.
b.     Untukk mengetahui sejarah Islam pada masa Khulafaur Rasyidin.
c.     Untukk mengetahui sejarah kemajuan islam pada dinasti Umayyah, dan penyebab runtuhnya dinasti tersebut.
d.     Untukk mengetahui sejarah islam pada dinasti Abbsiah dan dinasti fatimah.
e.     Untukk mengetahui penyebab runtuhnya peradaban islam.
f.      Untukk mengetahui Bagaimana awal kebangkitan dunia baru islam












2.    PEMBAHASAN

A.      Sejarah Islam pada masa Nabi Muhammad SAW

Sejarah pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad saw terdapatt 2 periode. Yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Nabi Muhammad saw merima wahyu I di Gua Hira’ pada tahun 610 M dan diperintahkan untukk menyampaikannya kepada umat sekaligus sebagai pendidikan I umat Islam. Nabi menyediakan rumah Al-Arqam bin Abil Arqam untukk tempat pertemuan para sahabat dan pengikut-pengikutnya, Mahmud Yunus dalaam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, menyatakan pembinaan pendidikan Islam pada masa Makkah antara lain, Pendidikan Keagamaan (yangg berhubungan dengaan ketauhidan), Pendidikan Akliyah dan Ilmiah (yangg berhubungan dengaan proses terjadinya manusia dan alam semesta), Pendidikan Akhlak dan Budi Pekerti  (tentang akhlak), Pendidikan Jasmani  (yangg membahas tentang kebersihan). Semuanya ialah inti darii Pendidikan Islam yangg disampaikan Nabi Muhammad selama periode Makkah. Kurikulum yangg digunakan Nabi pada periode makkah ialah materi yangg diajarkan hanya berkisar pada ayat-ayat Makkiyah dan petunjuk-petunjuknya yangg dikenal dengaan sebutan Sunnah dan Hadits, materi yangg diajarkan menerangkan tentang kajian keagamaan yangg menitik beratkan pada Iman, Ibadah dan Akhlak. Berbeda dengaan periode Makkah, pada periode Madinah Nabi lebih mengutamakan pada pembentukan dan pembinaan masyarakat baru, menuju satu kesatuan sosial dan politik yangg akhirnya terbentuklah “Piagam Madinah”, pendidikan sosial politik dan kewarganegaraan dan pendidikan anak dalaam Islam.
Setelah Nabi wafat, perjuangan beliau diteruskan oleh para Khalifah. Pada zaman Khulafa al-Rasyidin seakan-akan kehidupan Rasulullah terulang kembali, pendidikan Islam masih tetap memantulkan al-QurĂ¡n dan Sunnah. Pola pendidikan pada masa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq masih seperti pada masa Nabi, beliau mendirikan Kuttab yangg menurut Ahmad Syalabi ialah lembaga untukk belajar membaca dan menulis, dan yangg bertindak sebagai tenaga pendidik ialah para sahabat Rasul terdekat.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, pendidikan sudah lebih meningkat dimana guru-guru sudah diangkat dan digaji untukk mengajar ke daerah-daerah yangg baru ditaklukan. Dilanjutkan pada masa Khalifah Usman bin Affan, pendidikan diserahkan pada rakyat dan sahabat tidakk hanya terfokus di Madinah saja, tetapi sudah diperbolehkan kedaerah-daerah untukk mengajar. Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, pendidikan kurang mendapatt perhatian, disebabkan pemerintahan Ali bin Abi Thalib selalu dilanda konflik yangg berujung pada kekacauan.
Adapun pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafa Al-Rasyidin antara lain: Makkah, Madinah, Basrah, Kuffah, Damsyik (Syam) dan Mesir. Sistem pendidikan Islam yangg digunakan ialah secara mandiri tidakk dikelola oleh pemerintah, kecuali pada masa Khalifah Umar bin Khattab yangg turut serta dalaam menambahkan materi kurikulum pada lembaga Kuttab.

B.    Sejarah Islam pada masa Khulafa Rasyidin

1.    Khalifah Abu bakar

a)     Musyawarah Saqinah Bani Sa’idah

Nabi Muhammad SAW. Wafat tanpa menentukan pengganti, terutama dalaam perannya sebagai pemimpin masyarakat dan pemimpin politik yangg secara konseptual masih diperdebatkan dan ditentang oleh Ali Abd al-Raziq. Pernyataan ini berbeda dengaan keyakinan umat Islam yangg tergabung dalaam kelompok Syi’ah yangg berkeyakinan bahwa sebelum wafat, Nabi SAW. Telah menentukan penggantinya, yaitu Ali Ibn Abi Thalib dengaan jalur wasiat. Akan tetapi, keyakinan kelompok syi’ah ini tidakk terungkap dalaam proses perdebatan dalaam musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah. Oleh karena itu, musyawarah dalaam rangka menentukan pengganti Nabi SAW. Sebagai pemimpin politik yangg dilakukan di Saqifah Bani Sa’idah atas dasar keyakinan bahwa Nabi SAW. Tidakk menentukan penggantinya hingga wafat.
Muhajirin dan Anshar yangg pada awalnya merupakan varian dalaam proses pembentukan masyarakat di Madinah Berubah menjadi faksi politik dalaam rangka menetukan pengganti Nabi SAW. Muhajirin dan Anshar yangg dipersatukan oleh Nabi SAW. Dalaam ikatan keyakinan agama, dihadapkan pada situasi kritis dan censerung kembali pada situasi sebelum mereka dipersatukan, yaitu bertikai dan saling bermusuhan.
Setelah Nabi SAW. Wafat dan Abu Bakar berpidato untukk meyakinkan masyarakat islam bahwa Nabi Muhammad SAW. Telah wafat, sahabat Nabi. Terpencar-pencar: Pertama, sahabat Nabi SAW darii kalangan Anshar telah bergabung dengaan Sa’ad Ibn Ubadah dipertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Kedua, sahabat darii kalangan Muhajirin Ali Ibn Abi Thalib, Zubair Ibn al-Awwam, dan Thalib Ibn ‘Ubaidillah tinggal dirumah Fatimah ra. Dan ketiga, kalangan Muhajirin selain tiga tokoh tersebut bergabung dengaan Abu Bakar.
Dalaam situasi terpencar- pencar, tiba-tiba seseorang datang yangg memberi kabar kepada Abu Bakar dan Umar yangg menyatakan bahwa kalangan Anshar telah berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untukk mengangkat politik, padahal jenazah Nabi SAW belum dikuburkan.
Sahabat Nabi SAW darii kalangan Anshar yangg berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah telah sepakat untukk mengangkat Sa’ad Ibn Ubaidillah untukk menjadi pemimpin umat islam tanpa dihadiri kalangan Muhajirin.setelah Sa’ad Ibn Ubaidillah selesai berpidato, sahabat Nabi SAW darii kalangan Anshar berkata : “kami serahkan persoalan ini ke tanganmu; demi kepentingan umat islam, engkaulah pemimpin kami.” Akan tetapi, darii segi historis kalangan Anshar juga terdiri atas dua faksi : Aus dan Khazrj yangg senantiasa terlibat permusuhan permusuhan yangg berkepanjangan sebelum mereka disatukan dalaam ikatan agama dan politik oleh Nabi SAW. Sa’ad Ibn Ubaidillahialah pemimpin yangg berasal darii kalangan khazrj. Oleh karena itu, Sa’ad mendapatt dukungan. Dalaam situasi yangg demikian, seseorang datang untukk menemui Umar dan memberitahukan bahwa Anshar telah melakukan musyawarah untukk mengangkat pengganti Nabi SAW dan diantara mereka sudah ada yangg menyatakan bahwa darii kalangan  Quraisy terdapatt pemimpin dan darii kalangan Anshar juga terdapatt pemimpin.
Abu Bakar dan Umar akhirnya datang ke SaqifahBani Sa’idah. Kemudian Abu Bakar berbicara dihadapan Anshar yangg sedang musyawarah dengaan memberikan tawaran yangg berupa pembagian wewenang agar umat islam tidakk pecah-pecah dengaan mengatakan :
Yangg artinya “Kami yangg menjadi Amir (pemimpin) dan darii kalian yangg menjadi menteri.”
Salah seorang darii kalangan Anshar  menanggapi tawaran Abu Bakar dengaan emosi dengaan berkata :
Yangg artinya “darii kami diangkat seorang pemimpin, dan darii kalian diangkat pulaseorang pemimpin wahai sekalian orang Quraisy”
Setelah ketegangan mulai mereda, akhirnya Abu Bakar menawarkan Umardan Abu Ubaidah (keduanya darii kalangan muhajirin) dan mempersilahkan para sahabat darii kalangan Anshar untukk membai’atsalah satu diantar mereka. Akan tetapi keduanya menolak dan berkata : “engkau (Abu Bakar) ialah muhajirin yangg paling utama , engkaulah yangg menyertai Nabi SAW selama di Gua Tsaur dan menggantikan Nabi SAW menjadi imam shalat ketika Nabi SAW berhalangan , shalat ialah pekerjaan ibadah yangg paling utama bagi umat islam, maka engkau layak untukk diutamakan. Akhirnya, Abu Bakar diangkat menjadi khalifah pertama setelah melalui musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah.
Musyawarah Saqifah Bani Sa’idah yangg dilakukan oleh Muhajirindan Anshar menunjukan bahwa posisiNabi SAW semacam primus interpares mendekati kebenaran, karena pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah ternyata masih menggunakan pendekatan kesukaan yangg merupakan warisan Arab pra islam. Dilihat darii cara pemilihan. Kepemimpinan Abu Bakar dalaam bidang politik mirip dengaan corak otokratik, karena beliau diangkat hanya oleh kalangan pembesar darii Muhajirin dan Anshar.

b)       Kepemimpinan dan Tindakan Abu Bakar

Kepemimpinan Abu Bakar dimulai setelah dilakukan dua Bai’at (sumpah setia), pertama, bai’at dilakukan oleh kalangna terkemuka darii kalangan Muhajirin dan Anshar di Saqifah Bani Sa’idah, dan kedua bai’at umum yangg dilakukan oleh umat islam  yangg hadir di masjid.
Di awal kepemimpinan, Abu Bakar dihadapkan pada ikhtilaf antara dirinya dengaan Fatimah, putri Rasulullah Saw, dan Ali Bin Abi Thalib mengenai warisan Nabi Saw. Dan Ali Bin Abi Thalib tidakk memperoleh harta peninggalan darii Nabi Saw. Dan Ali Bin Abi Thalib tidakk membai’at Abu Bakar kecuali setelah isterinya, Fatimah, meninggal dunia. Selain memimpin umat islam, Abu Bakar dihadapkan pada beberapa persoalan keagamaan dan kenegaraan.

(1)       Penolakan Zakat

Suku atau kabilah yangg menolak zakat ialah Abs dan Zubyan. Penolakan mereka menurut muhammad Husein Haikal kemungkinan didasarkan pada dua alasan, kikir atau karena mereka menganggap bahwa zakat merupakan upeti yangg tidakk berlaku lagi ketika Nabi Saw wafat. Disamping itu mereka juga menunjukan sikap politik pembangkangan, yaitu mereka menyatakan tidakk tunduk lagi kepada Abu Bakar. Jadi, penolakan pembayaran zakat merupakan simbol ketidakktundukan secara politik. Abu Bakar dihadapkan pada situasi sulit, dan akhirnya diadakan musyawarahyangg dihadiri para sahabat  besar untukk mengatasi  para pembangkang. Dalaam musyawarah tersebut muncul dua pendapatt, pertama, membiarkan mereka dan diharapkan dapatt membantu umat islam dalaam menghadapi musuh lain dan berarti mentolelir pembangkangan dan sekaligus menambah musuh umat islam. Umar cenderung untukk tidakk memerangi mereka, sedangkan Abu Bakar bersikukuh akan memerangi mereka. Kabilah Abs, Zubyan, Banu Kinanah, Gatafan, dan Fazarah mengutus  utusan kepada Abu Bakar dengaan mengatakan bahwa kami akan melaksanakan  shalat tapi tidakk akan menunaikan zakat. Abu Bakar menjawab bahwa ia akan memerangi  siapa pun yangg tidakk menunaikan zakat.

(2)       Nabi Palsu dan Riddat

Pada zaman kepemimpinan Abu Bakar terdapatt sejumlah umat islam yangg melakukan pelanggaran  agama dengaan mengaku sebagai nabi seperti Musailamah al Kadzdzab (musailamah sang pembohong) dan beberapa suku yangg murtad. Sejumlah negeri yangg penduduknya murtad dijadikan sasaran oleh Abu Bakar dala rangka mengembalikan mereka kepada islam, al ‘Ala’ Ibn al Hadhrami ke Bahrain, Ikrimah Ibn Abi Jahl diutus ke Amman, al Muhajir Ibn Abi Umayah diutus ke Nujair, dan Ziyad Ibn Lubaid al Anshari diutus ke beberapa daerah  yangg terdapatt orang yangg murtad. Di samping itu, Abu Bakar telah memperluas wilayah dengaan menaklukan Irak dan Syam, dan bahkan sudah mulai bertempur  melawan Byzantium (Romawi).
Khalifah Abu Bakartelah melakukan peraturan berperang yangg dijadikan pegangan bagi paraperwira militer dan pejabat lainnya. Di antara peraturan tersebut ialah : (a) orang tua, wanita, dan anak-anak tidakk boleh dibunuh, (b) biarawan tidakk boleh dianiaya dan tempat ibadah mereka tidakk boleh dirusak, (c) mayat yangg gugur tidakk boleh dirusak, (d) pohon-pohon ridak boleh ditebang, hasil panen tidakk boleh dibakar, dan tempat tinggal tidakk boleh dirusak, (e) perjanjian-perjanjian dengaan agama lain harus dihormati, dan (f) orang-orang yangg menyerah harus diberi hak yangg sama dengaan hak-hak penduduk islam.

(3)     Pembagian wilayah

Pada masa kepemimpinan Abu Bakar, perluasan wilayah telah dilakukan dan disetiap wilayah dibentuk semacam gubernur (penguasa daerah) yangg memerintah pada wilayah tertentu yangg disertai dengaan pasukan perang.
Pada masa khalifah Abu Bakar telah ada tiga gelar kepemimpinan yangg didasarkan pada cakupan wilayah. Pemimpin politik umat islam tertinggi disebut khalifah. Pemimpin wilayah disebut wali atau amir. Tidakk terdapatt penjelasan yangg rinci mengenai  perbedaan wilayah yangg dipimpin oleh wali dan oleh amir.

(4)       Pengumpulan Mushhaf Alquran

Kelebihan pengumpulan ayat Alquran pada fase ini terletak pada dua peristiwa, pertama, pada waktu itu ditemukan ayat Alquran yangg hanya ada di tangan  Khuzaimah Ibn Tsabit al Anshari yangg tidakk terdapatt dalaam tulisan ulama lain, yaitu QS. al Taubah (9) : 128-129 ), dan kedua, ditemukannya QS. al Ahzab (33): 23 yangg juga hanya ada di tangan Khuzaimah Ibn Tsabit al Anshari.
Lembaran-lembaran yangg berisi tulisan Alquran yangg telah dikumpulkan, disimpan di sisi Abu Bakar hingga beliau wafat, kemudian ia disimpan di sisi Umar juga hingga beliau wafat, dan akhirnya ia disimpan di rumah Hafshah binti Umar ra. Menurut Abu Abdullah al Janjani pengumpulan Alquran pada zaman Abu Bakar dilakukan dengaan cara mengumpulkan ayat-ayat Alquran yangg ditulis di tulang, pelepah (kulit) kayu, dan batu kemudian disalin oleh Zaid Ibn Tsabit di atas kulit hewan yangg telah disamak.

2.    Khalifah Umar Bin Khatab

a)       Pengangkatan khalifah dengaan penunjukan 

Abu Bakar diangkat menjadi khalifah oleh Muhajirin dan Anshar melalui musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah. Akan tetapi, pengangkatan Umar Ibn Khattab menjadi khalifah dilakukan melalui penunjukan (tidakk melalui musyawarah yangg menggambarkan prestise para pembesar Muhajirin dan Anshar).

b)       Kepemimpinan dan tindakan Umar Ibn al Khaththab

(1)       Perluasan wilayah
Pada zaman Umar, ekspansi dilakukan secara bertahap. Damaskus ibu kota Syiria jatuh dan dapatt dikuasai oleh islam (635 M). Setahun kemudian, Bizantium dikalahkan oleh tentara islam dalaam pertempuran di Yarmuk dan akibatnya seluruh wilayah Syiria dikuasai oleh tentara islam. Darii Syiria, ekspensi dilanjutkan ke Mesir di bawah pimpinan Amr Ibn Ash, dan ke irak di bawah pimpinan Sa’ad Ibn Abi Wasaqh. Iskandariiyah ibu kota Mesir berhasil ditaklukan pada tahun 641 M. Al Qadisiyah sebuah kota deket Hirah di Irak berhasil dikuasai oleh tentara islam pada tahun 637 M. Darii Hirah, serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al Mada’in dan kota itu dapatt dikuasai dan pada tahun 641 M, Mosul dapatt dikuasai oleh tentara islam. Jadi, pada zaman pemerintahan Umar kekuasaan wilayah islam telah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syiria, sebagian wilayahPersia dan Mesir.


(2)       Kepemimpinan Umar ra
Kepemimpinan Umar disederhanakan oleh Imam al Asykari dengaan mengatakan bahwa Umar Ibn al Khaththabra ialah orang yangg pertama yangg bergelar amir al mu’minin menentukan tanggal bagi umat islam dengaan hijrah Nabi Saw ke madinah sebagai ugeran (tahun hijrah) membuat lembaga pembendaharaan negara, menganjurkan shalat berjamaah pada bulan Ramadhan, menghukum orang yangg meminum minuman keras (khamr) dengaan 80 kali dera, megharamkan nikah mut’at, melarang penjualan hamba umm alwalad , mengumpulkan umat islam untukk melaksanakan shalat jenazah dengaan empat kali takbir, menahan (tidakk membagikan) shadaqah, membagikan harta pusaka (warisan) dengaan cara ‘awl.
Di samping itu, Umar pun telah mengatur dan menertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Untukk menjaga keamanan dan ketertiban, ia membentuk jawatan kepolisian, ia pun membentuk jawatan pekerjaan umum, mendirikan Bayt al Mal, dan menciptakan mata uang sendiri.
(3)       Meletakan prinsip keadilan
Umar Ibn al Khaththab mengirim surat kepada Abu Musa al-Asy’ari (hakim kufah) yangg isinya mengandung pokok-pokok atau prinsip-prinsip berperkara di persidangan dalaam lingkungan peradilan. Isi surat tersebut ialah : pertama, memutuskan perkara dipengadilan ialah kewajiban yangg harus dikokkohkan dan sunah yangg harus diikuti. Kedua, sebelum sebuah perkara diputuskan, ia harus dipahami terlebih dahulu  agar (hakim) dapatt bertindak adil. Ketiga, pihak-pihak yangg berperkara harus diperlakukan sama, baik dalaam persidangan maupun dalaam menetapkan keputusan, sehingga pejabat tidakk mengharap menang dan orang-orang yangg lemah tidakk putus asa dalaam  memperjuangkan keadilan. Keempat, alat bukti dibebankan kepada penggugat, sedangkan sumpah  dibebankan kepada pihak tergugat. Kelima, damai sebagai jalan keluar darii persengketaan  dibolehkan selama tidakk menghalalkan yangg haram atau mengharamkan yangg halal. Keenam, berilah waktu kepada penggugat untukk mengumpulkan alat-alat bukti dan persengketaan diputuskan harus berdasarkan alat-alat bukti. Ketujuh, hakim harus berani mengakui kesalahan apabila ternyata dalaam keputusannya terdapatt kekeliruan. Kedelapan, kesaksian muslim dapatt diterima kecuali muslim yangg pernah memberikan kesaksian palsu, pernah dijatuhi hukuman had atau yangg asal usulnya diragukan. Kesembilan, seorang hakim dibenarkan melakukan analogi (qiyas)  dalaam memutuskan perkara apabila perkara yangg hendak diselesaikan tidakk terdapatt dalaam Alquran dan Sunah, dan kesepuluh, dalaam proses menyelesaikan dan memutuskan perkara hakim tidakk boleh dalaam keadaan marah, berpikiran kacau, jemu, bersikap keras, dan hendaklah memutuskan perkara dilakukan dengaan ikhlas hati dan berharap pahala darii Allah SWT.
Surat Umar ra. Yangg berisi tentang prinsip-prinsip peradilan merupakan kebudayaan tinggi, salah satu alasannya karena prinsip itu masih dipergunakan hingga sekarang meskipunn setelah dilakukan beberapa perubahan.

3.     Khalifah Utsman Ibn Affan

Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah atas dasar musyawarah dan keputusan sidang Panitia enam, yangg anggotanya dipilih oleh khalifah Umar bin khatab sebelum beliau wafat. Keenam anggota panitia itu ialah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah.
Tiga hari setelah Umar bin khatab wafat, bersidanglah panitia enam ini. Abdurrahman bin Auff memulai pembicaraan dengaan mengatakan siapa diantara mereka yangg bersedia mengundurkan diri. Ia lalu menyatakan dirinya mundur darii pencalonan. Tiga orang lainnya menyusul. Tinggallah Utsman dan Ali. Abdurrahman ditunjuk menjadi penentu. Ia lalu menemui banyak orang meminta pendapatt mereka. Namun pendapatt masyarakat pun terbelah.
Konon, sebagian besar warga memang cenderung memilih Utsman. Sidangpun memutuskan Ustman sebagai khalifah. Ali sempat protes. Abdurrahman ialah ipar Ustman. Mereka sama-sama keluarga Umayah. Sedangkan Ali, sebagaimana Muhammad, ialah keluarga Hasyim. Sejak lama kedua keluarga itu bersaing. Namun Abdurrahman meyakinkan Ali bahwa keputusannya ialah murni darii nurani. Ali kemudian menerima keputusan itu.
Maka Utsman bin Affan menjadi khalifah ketiga dan yangg tertua. Pada saat diangkat, ia telah berusia 70 tahun. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram tahun 24 H. Pengumuman dilakukan setelah selesai Shalat dimasjid Madinah.
Masa kekhalifannya merupakan masa yangg paling makmur dan sejahtera. Konon ceritanya sampai rakyatnya haji berkali-kali. Bahkan seorang budak dijual sesuai berdasarkan berat timbangannya.
Beliau ialah khalifah kali pertama yangg melakukan perluasan masjid al-Haram (Mekkah) dan masjid Nabawi (Madinah) karena semakin ramai umat Islam yangg menjalankan rukun Islam kelima (haji). Beliau mencetuskan ide polisi keamanan bagi rakyatnya, membuat bangunan khusus untukk mahkamah dan mengadili perkara. Hal ini belum pernah dilakukan oleh khalifah sebelumnya. Abu Bakar dan Umar bin Khotob biasanya mengadili suatu perkara di masjid.
Pada masanya, khutbah Idul fitri dan adha didahulukan sebelum sholat. Begitu juga adzhan pertama pada sholat Jum’at. Beliau memerintahkan umat Islam pada waktu itu untukk menghidupkan kembali tanah-tanah yangg kosong untukk kepentingan pertanian.
Di masanya, kekuatan Islam melebarkan ekspansi. Untukk pertama kalinya, Islam mempunnyai armada laut yangg tangguh. Muawiyah bin Abu Sofyan yangg menguasai wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal dipakai untukk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur. Konstantinopelpun sempat dikepung.
Prestasi yangg diperoleh selama beliau menjadi Khalifah antara lain:
1.     Menaklukan Syiria, kemudian mengakat Mu’awiyah sebagai Gubernurnya.
2.     Menaklukan Afrika Utara, dan mengakat Amr bin Ash sebagai Gubernur disana.
3.     Menaklukan daerah Arjan dan Persia.
4.     Menaklukan Khurasan dan Nashabur di Iran.
5.     Memperluas Masjid Nabawi, Madinah dan Masjidil Haram, Mekkah.
6.     Membakukan dan meresmikan mushaf yangg disebut Mushaf Utsamani, yaitu kitab suci Al-qur’an yangg dipakai oleh seluruh umat islam seluruh dunia sekarang ini. Khalifah Ustman membuat lima salinan darii Alquran ini dan menyebarkannya ke berbagai wilayah Islam.

7.     Setiap hari jum’at beliau memerdekakan seorang budak (bila ada)

4.       Khalifah Ali Ibn Abi Thalib

a)       Pengangkatan sebagai khalifah

Setelah Utsman Ibn Affan wafat Ali Ibn Abi Thalib dibai’at oleh masyarakat untukk mejadi khalifah keempat. Mahmudunnasair menginformasikan bahwa yangg pertama memproklamasikan Ali menjadi khalifah sebagai pengganti Utsman Ibn Affan ialah Abd Allah Ibn Saba. Pada awalnya, Ali Ibn Abi Thalib keberatan diangkat menjadi khalifah. Akan tetapi, setelah mempertimbangkan kepentingan islam adanya kekosongan, Ali Ibn Abi Thalib akhirnya bersedia menjadi khalifah keempat.

b)       Penggantian Amir (Gubernur)

Ali memecat kepala-kepala wilayah (amir) yangg diangkat oleh Utsman dan menetapkan penggantinya mungkin karena tuntutan darii pihak mesir yangg dipimpin oleh Muhammad Ibn Abi Bakar dan mengambil kembali tanah-tanah yangg dibagikan Utsman kepada keluarga-keluarganya dengaan cara yangg dipandang salah oleh Ali.
Ali mengangkat Utsman Ibn Hanif sebagai amir Bashrah menggantikan Ibn Amir Qais yangg dikirim ke mesir untukk menjadi amir menggantikan Abd Allah Ibn Abi Syarh dan Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan menolak untukk diganti. Oleh karena itu, Ali mengalami  kesulitan dalaam menghadapi Mu’awiyah.

c)       Konflik intern islam

(1)     Perang jamal
Jalal al Dinal al Suyuthi menginformasikan sebagian pendapatt yangg menyatakan bahwa Thalhah dan Zubaer ra melakukan Bai’at kepada Ali Ibn Abi Thalib dengaan terpaksa dan bukan atas dasar ketaatan. Kemudian mereka berangkat ke mekah bersama A’isyah ra. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Bashrah dan mengajukan tuntutan kepada Ali ra agar menangkap dan mengadili para pembunuh Utsman. Karena tuntutan itu, Ali Ibn Abi Thalib beserta pasukannya berperang dengaan pasukan Thalhah, Zubaer, dan Aisyah. Perang ini disebut perang jamal (unta). Thalhah mati terbunuh dala perang tersebut, sedangkan Aisyah ra dikembalikan oleh Ali Ibn Abi Thalib.
(2)     Perang Shifin
Pembangkangan yangg dilakukan oleh Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan melahirkan konflik senjata antara pasukan Ali Ibn Abi Thalib dengaan pasukan Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan. Pasukan Ali Ibn Abi Thalib hampir berhasil mematahkan pertahanan pasukan Mu’awiyah. Dalaam situasi yangg demikian, pasukan Mu’awiyah mengangkat mushhaf Alquran sebagai tanda bahwa perang harus diakhiri dengaan melakukan perdamaian. Perdamaian dilakukan melalui musyawarah dan kemudian hasil musyawarah kesepakatan dua juru damai disampaikan kepada khalayak ramai di Adzrah. Dan yangg menyampaikan hasil perdamaian tersebut ialah Abu Musa al Asy’ari, isi pidatonya ialah menurunkan Ali Ibn Abi Thalib darii jabatannya sebagai khalifah, dan pembicara kedua ialah ‘Amr Ibn al’Ash, dalaam pidatonya ia menerima penurunan Ali Ibn Abi Thalib ssebagai khalifah dan menetapkan Mu’awiyah sebagai penggantinya dan ia membai’at Mu’awiyah sebagai khalifah.
d)       Pembelotan pendukung Ali dan akhir kekhalifahan Ali ra
Hasil tahkim karena kejujuran dan kelemahan Abu Musa al Asy’ari dan juga karena kecerdikan dan ketidakkjujuran ‘Amr Ibn al Ash merugikan pihak Ali. Pasukan Ali sangat kecewa dengaan hasil tahkim,  karena kemenangan perang Shifin yangg sudah hampir di tangan, telah hilang dan tidakk dapatt diharapkan lagi. Oleh karena itu, pendukung Ali Ibn Abi Thalib terpecah menjadi dua : kelompok yangg tetap mendukung kekhalifahan Ali Ibn Abi Thalib dan kelompok yangg melakukan pembelotan dengaan menentang kekhalifahan Ali Ibn Abi Thalib. Sedangkan di sisi lain, Mu’awwiyah dan pengikutnya tetap bersatu dan berarti lebih kuat darii pada pendukung Ali.
Kelompok Ali yangg kecewa dengaan hasil tahkim berkumpul dimekah dan melakukan kesepakatan yangg dipimpin oleh Abdal Rahman Ibn Muljam al Maradi, al Bark Ibn ‘Abd Allah al Tamimi, dan ‘Amr Ibn Bakir al Tamimi untukk menentang kepemimpinan Ali Ibn Abi Thalib dan Mu’awiyahmereka ialah Khawarij. Oleh karena itu, umat islam terbagi menjadi tiga kelompok politik : Ali, Mu’awiyah dan khawarij.
Ali dihadapkan pada dua lawan yaitu Mu’awiyah dan Khawarij, Ali dan pasukannya disibukkan  dengaan melawan Khawarij, Mu’awiyah memanfaatkan kesempatan dengaan mengirim pasukan di bawah pimpinan Amr Ibn al ‘Ash ke mesir dan berhasil mengalahkan pasukan Qais yangg menjadi amir Mesir. Pasukan Khawarij dikalahkan oleh pasukan Ali Ibn Abi Thalib ketika bertempur di Nahrawan. Sisa-sisa Khawarij melarikan diri ke Bahrain dan Afrika Utara. Akan tetapi, pasukan Ali Ibn Abi Thalib kelelahan dalaam berperang sehingga khalifah Ali tidakk dijaga ketat. Sedangkan di sisi lain, penjagaan Mu’awiyah begitu ketat. Khawarij merencanakan untukk membunuh Ali Ibn Abi Thalib dan Mu’awiyah. Yangg berhasil mereka bunuh hanya Ali Ibn Abi Thalib, sedangkan Mu’awiyah gagal mereka bunuh. Pada tanggal 17 Ramadhan 40 H, Ali ra dibunuh oleh Abd al Rahman Ibn Muljam ketika beliau akan melakukan shalat subuh. Oleh karena itu, Mu’awiyah lebih populer darii pada sanak keluarga Ali Ibn Abi Thalib dalaam memimpin masyarakat. Secara perlahan tapi pasti, umat islam mendukung Mu’awiyah sebagai pemimpin umat islam.

5.       Akhir masa khilafah

Pada zaman al Khulafa al-Rasyidin terdapatt sejumlah peninggalan berharga yangg sangat penting bagi umat islam. Pertama, pada waktu itu telah lahir sejumlah cara (metode) pengangkatan kepemimpinan, musyawarah terbatas, penunjukan, dan team formatur. Kedua, pada waktu itu terdapatt sejumlah mushhaf Alquran yangg dijadikan rujukan dalaam penyalinan dan kodifikasi Alquran pada zaman Abu Bakar dan Utsman Ibn Affan sehingga melahirkan mushhaf Utsmani (resmi) yangg digandakan dan dikirim ke beberapa wilayah. Ketiga, umat islam telah dihinggapi sikap saling curiga dan saling tidakk percaya sehingga melahirkan sejumlah pertempuran internal umat islam. Di samping itu, perluasan wilayah dilakukan sejak zaman Abu Bakar dan terhenti pada zaman Ali Ibn Abi Thalib. Keempat, khawarij yangg melakukan pembelotan terhadap Ali pada dasarnya didasari atas keyakinan bahwa Ali Ibn Abi Thalib dan Mu’awiyah serta semua pihak yangg telah terlibat dalaam tahkim dianggap telah melakukandosa besar, seorang muslim yangg melakukan dosa besar berarti telah murtad, dan orang murtad harus dibunuh. Oleh karena itu, pada waktu itu telah ada konsep iman, dosa besar, dan murtad yangg digagas oleh khawarij. Dan kelima, pada waktu wilayah sudah dibagi-bagi dan setiap wilayah memiliki gubernur (wali atau amir) dan bahkan diantara wilayah telah memiliki pasukan militer tersendiri, termasuk Umar ra telah meletakkan prinsip-prinsip peradilan yangg hingga kini masih relevan.

C.    Kemajuan dan Kemunduran Peradaban Islam serta Penyebarannya

1.    Sejarah Kemajuan Dunia Islam

a)  Dinasti Umayah (661-750 M)

Bani Umayah ialah keturunan Umayah bin Abdul Syams, salah satu suku Quraisy. Dalaam sejarah Islam Bani Umayah mendirikan dalaam dua periode: Damascus dan Cordoba. Dinasti umayah dimulai dengaan naiknya Muawiyah sebagai khalifah pada tahun 661 M. Bani Umayah berhasil mengokohkan kekhalifahan di Damascus selama 90 tahun (661 – 750).
Penyebutan ”Dinasti” pada kekhalifahan Bani Umayah karena Muawiyah mengubah sistem suksesi kepemimpinan darii yangg bersifat demokratis dengaan cara pemilihan kepada yangg bersifat keturunan.
Kemajuan-kemajuan diberbagai bidang mulai diraih kekhalifahan Islam diantaranya ialah :
1)       Bidang ekspansi wilayah
2)       Bidang bahasa dan sastra Arab
3)       Bidang pembangunan fisik sarana prasarana penunjang    kebudayaan dan pemerintahan seperti masjid-masjid, istana-istana peristirahatan.
Di masa ini gerakan-gerakan ilmiyah telah berkembang pula, seperti dalaam bidang keagamaan, sejarah dan filsafat. Kekuasaan dan kejayaan Dinasti Bani Umayah  mencapai puncaknya di zaman al-Walid. Sesudah itu kekuasaan mereka menurun.
Pada awal abad ke-8 (720 M) sentimen anti-pemerintahan Bani Umayah telah tersebar secara intensif. Kelompok yangg merasa tidakk puas bermunculan.
Gerakan oposisi yangg pertama-tama dinamakan Hasyimiyah dan kemudian Abbasiyah dipimpin oleh Muhammad bin Ali. Gerakan ini mendapatt dukungan terbesar darii orang-orang khurasan. Di bawah pimpinan panglimanya yangg tangkas, Abu Muslim al-Khurasani, gerakan ini dapatt menguasai wilayah demi wilayah kekuasaan Bani Umayah. Pada Januari 750 Marwan II, Khalifah terakhir Bani Umayah, dapatt dikalahkan di pertempuran Zab Hulu, sebuah anak Sungai Tigris sebelah timur Mosul. Ia kemudian melarikan diri ke Mesir. Sementara itu, pasukan Abbasiyah membunuh semua anggota keluarga Bani Umayah yangg berhasil mereka tawan. Ketika mereka mencapai Mesir, sebuah kesatuan menemukan dan membunuh Marwan II pada Agustus 750. Maka berakhirlah kekuasaan Bani Umayah di Damaskus. Namun satu-satunya anggota keluarga Bani Umayah, Abdurrahman (cucu Hisyam), berhasil meloloskan diri ke Afrika Utara, kemudian menyeberang ke Spanyol. Disinilah selanjutnya ia membangun kekuasaan Dinasti Bani Umayah yangg baru dengaan berpusat di Cordoba.

b.  Penyebab runtuhnya Dinasti Bani Umayyah :

1)       Mendapatt perlawanan darii kaum Khawarij.
2)       Mendapattkan pertentangan pula darii Talhah dan Zubeir darii Mekkah.
3)       Pertentangan darii golongan Syiah.
4)       Pertentangan tradisional antara suku Arab Utara dan suku Arab Selatan.
5)       Persaingan antara kalangan anggota Dinasti Bani Umayyah.
6)       Kehidupan mewah pihak istana, sehingga membuat anak-anak Khalifah kurang sanggup memikul beban berat.
7)       Munculnya Khalifah Bani Hasyim (satu cabang lain darii Quraisy). Bekerjasama dengaan kaum Syiah untukk melakukan serangan kepada Bani Umayyah.
Setelah masa pemerintahan Bani Umayyah berakhir pemerintahan kemudian di pimpin oleh Dinasti Bani Abbas (750 – 754 M ). Perbedaan antara kedua dinasti ini ialah, kalau masa Bani Umayyah merupakan ekspansi daerah kekuasaan Islam, maka saat dinasti Bani Abbas ialah masa pembentukan dan perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam.

b) Dinasti Abasiyah (750-1258 M)

Dinasti Abbasiyah yangg menguasai daulah (negara) pada masa klasik dan pertengahan Islam. Pada masa pemerintahan Abbasiyah tercapai zaman keemasan Islam. Daulah ini disebut Abbasiyah karena pendirinya ialah keturunan al-Abbas (paman Nabi SAW) yakni Abu Abbas as-Saffah. Walaupun Abu Abbas ialah pendiri daulah ini, pemerintahannya hanya singkat (750 – 754). Pembina daulah ini yangg sebenarnya ialah Abu Ja’far al-Mansur (khalifah ke-2). Dua khalifah inilah peletak dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah.
Para sejarawan membagi Daulah Abbasiyah dalaam lima periode;
(1)   Periode Pertama (132 H – 232 H / 750 M – 847 M)
(2)    Periode kedua (232 H – 334 H / 847 M – 945 M)
(3)    Periode ketiga (334 H – 447 H / 945 M – 1055 M)
(4)    Periode keempat (447 H – 590 H / 1055 M – 1199 M)
(5)    Periode kelima (590 H – 656 H / 1199 M – 1258 M)

c)  Dinasti Umayah di Spanyol (757-1492 M)

Di belahan Barat (eropa) berdiri megah Khalifah Umayah di Spanyol dengaan sebelumnya tentara Islam pimpinan Thariq Ibnu Ziyad  pada tahun 711 M menaklukkan kerajaan Visigothic yangg diperintah oleh raja Roderick. Dalaam memperluas wilayah kekuasaannya kekuatan Islam ini pada tahun 732 menyeberangi pegunungan pirenia (perbatasan Perancis), dan pastilah akan mengubah sejarah Eropa seandainya mereka tidakk dikalahkan dengaan menyedihkan sekali oleh Charles Mortel atau yangg sering dipanggil Karel Martel.

d) Dinasti Fatimiyah (919-1171 M)

Syahruddin El-Fikriasa Kejayaan Islam (the golden age of Islam) ditandai dengaan penyebaran agama Islam hingga ke benua Eropa. Pada masa itulah berdiri sejumlah pemerintah atau kekha-lifahan Islamiyah. Seperti dinasti Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, Turki Utsmani dan Ayyubiyah.
Selain penyebaran agama, kemajuan Islam juga ditandai dengaan kegemilangan peradaban Islam. Banyak tokoh-tokoh Muslim yangg muncul sebagai cendekiawan dan memiliki pengaruh besar dalaam dunia peradaban hingga saat ini. Namun, setelah perebutan kekuasaan dan kepemimpinan yangg kurang fokus, akibatnya pemerintahan Islam dikalahkan. Salah satunya ialah dinasti Fatimiyah.
Imperium Ismailiyah yangg didirikan oleh Ubaidillah al-Mahdi ini hanya mampu bertahan selama lebih kurang dua setengah abad (909-1171 M). Ubaidillah al-Mahdi ialah pengikut sekte Syiah Ismailiyah. Dinamakan sekte Ismailiyah, karena sepeninggal Jafar As-Shadiq, anggota sekte Syiah Ismailiyah berselisih pendapatt mengenai sosok pengganti sang imam (Jafar as-Shadiq). Dan Ismail selaku putra Jafar yangg sedianya akan dijadikan pengganti, telah meninggal terlebih dahulu. Di saat yangg sama, mayoritas pengikut Ismailiyah menolak penunjukan Muhammad yangg merupakan putra Ismail. Padahal, menurut mereka masih terdapatt sosok Musa Al-Kazhim yangg dinilai lebih pantas memegang tampuk kepemimpinan spiritual.
Maka disaat itulah, tampil Abdullah atau Ubaidillah Al-Mahdi mengambil kepemimpinan spiritual langsung (darii jalur Ali melalui Ismail). Bersama keluarga dan para pengikutnya, Ismailiyah menyebar di wilayah Salamiyah, sebuah pusat kaum Ismailiyah di Suriah. Maka pada tahun 297 H atau 909 M, ia dilantik menjadi khalifah.
Pada masa kepemimpinannya, pemerintahan Dinasti Fatimiyah berpusat di Maroko, dengaan ibukotanya al-Manshur-iyah. Dinasti Fatimiyah menjalankan roda pemerintahan di Maroko selama 24 tahun yangg di pimpin oleh empat orang khalifah, termasuk Ubaidillah al-Mahdi. Tiga orang khalifah Dinasti Fatimiyah lainnya yangg pernah memerintah di Maroko ialah al-Qaim (322-323 H/934-946 M), al-Manshur (323-341 H/946-952 M), dan al-Muizz (341-362 H/952-975 M).
Maka sejak saat itulah, dinasti Fatimiyah berhasil menjadi salah satu pusat pemerintahan Islam yangg disegani. Puncaknya, terjadi pada masa Al-Aziz (365-386 H/975-996 M). Ia ialah putra darii Al-Muizz yangg bernakma Nizar dan bergelar al-Aziz (yangg perkasa). Al-Aziz, berhasil mengatasi persoalan keamanan di wilayah Suriah dan Palestina. Bahkan, pada masanya ini pula, ia membangun istana kekhalifahan yangg sangat megah hingga mampu menampung tamu sebanyak 30 ribu orang. Tempat-tempat ibadah, pusat perhubungan, pertanian maupun industri mengalami perkembangan pesat.
Sementara dalaam bidang pemerintahan, Khalifah al-Aziz berhasil meredam berbagai upaya pemberontakan yangg terjadi di wilayah-wilayah kekuasaannya. Dinasti ini dapatt maju antara lain karena didukung oleh militer yangg kuat, administrasi pemerintahan yangg baik, ilmu pengetahuan berkembang, dan ekonominya stabil. Namun setelah masa al-Aziz Dinasti Fatimiyah mengalami kemunduran dan akhirnya runtuh, setelah berkuasa selama 262 tahun.

2.    Sejarah Kemunduran Dunia Islam

Kemundruan umat Islam dalaam peradabannya terjadi pada sekitar tahun 1250  s/d tahun 1500 M. Kemunduran itu terjadi pada semua bidang terutama dalaam bidang Pendidikan Islam. Di dalaam Pendidikan Islam, kemunduran itu oleh sebagai diyakini karena berasal darii berkembangnya secara meluas pola pemikiran tradisional.
Dunia islam saat ini mempunyai luas wilayah mencapai sekitar 31,8 juta km atau 25% darii seluruh luas dunia, darii Indonesia sebelah timur hingga sinegal sebelah barat dan darii utara Turkestan hingga keselatan mozambik, dan jumlah kaum muslimin lebih darii 1,3 miliyar orang.
Tapi kuantitas umat islam yangg begitu besar belum di imbangi dengaan kualitasnya, sehimgga kondisi umat islam sangat tertinggal oleh dunia barat (Kristen).
Kelemahan umat islam tersebut disebabkan oleh faktor-faktor berikut:
a.     Umat islam kurang menjalankan akidah islam yangg luas.
b.     Umat islam kurang melaksanakan hukum Allah.
c.     Umat islam kurang menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar.
d.     Umat islam kurang menjalankan jihad.
e.     Umat islam telah terjebak dalaam perbedaan-perbedaan internal ketamakan duniawi.
f.      Umat islam terlalu santai dan kurang memperhatikan kepentingan umat.
g.     Umat islam terpengaruh arus pemikiran barat yangg merusak.
h.     Umat islam mengalami perpecahan dan pertikaian.
i.       Upaya keras non Islam dalaam mengalahkan umat islam.


Secara garis besar umat islam mengalami kemunduran dikarenakan kurang memperhatikan pelaksanaan ajaran agamanya dan dominasi Negara-negara barat dalaam bidang politik dan peradaaban. Menyadarii kondisi yangg demikian umat islam berusaha bangkit untukk mengejar ketinggalan.

a) Krisis dalaam Bidang Sosial Politik

Awalnya ialah rapuhnya penghayatan ajaran Islam, terutama yangg terjadi dikalangan para penguasa. Bagi mereka ajaran Islam hanya sekedar diamalkan darii segi formalitasnya belaka, bukan lagi dihayati dan diamalkan sampai kepada hakekat dan ruhnya. Pada masa itu ajaran Islam dapatt diibaratkan bagaikan pakaian, dimana kalau dikehendaki baru dikenakan, akan tetapi kalau tidakk diperlukan ia bisa digantungkan. Akibatnya para pengendali pemerintahan memarjinalisasikan agama dalaam kehidupannya, yangg mengakibatkan munculnya penyakit rohani yangg sangat menjijikkan seperti keserakahan dan tamak terhadap kekuasaan dan kehidupan duniawi, dengki dan iri terhadap kehidupan orang lain yangg kebetulan sedang sukses. Akibat yangg lebih jauh lagi ialah muncullah nafsu untukk berebut kekuasaan tanpa disertai etika sama sekali. Kepada bawahan diperas dan diinjak, sementara terhadap atasan berlaku menjilat dan memuji berlebihan menjadi hiasan mereka.
”Syariat Islam ialah demokratis pada pokoknya, dan pada prinsipnya musuh bagi absolutisme” (Stoddard, 1966: 119) Kata Vambrey,” Bukanlah Islam dan ajarannya yangg merusak bagian Barat Asia dan membawanya kepada keadaan yangg menyedihkan sekarang, akan tetapi ke-tanganbesi-an amir-amir kaum muslimin yangg memegang kendali pemerintahan yangg telah menyeleweng darii jalan yangg benar. Mereka menggunakan pentakwilan ayat-ayat al-Quran sesuai dengaan maksud-maksud despotis mereka”.

b) Krisis dalaam Bidang Keagamaan

Krisis ini berpangkal darii suatu pendirian sementara ulama jumud (konservatif) yangg menyatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Untukk menghadapi berbagai permasalahan kehidupan umat Islam cukup mengikuti pendapatt darii para imam mazhab. Dengaan adanya pendirian tersebut mengakibatkan lahirnya sikap memutlakkan semua pendapatt imam-imam mujtahid, padahal pada hakekatnya imam-imam tersebut masih tetap manusia biasa yangg tak lepas darii kesalahan.
Kondisi dunia Islam yangg dipenuhi oleh ulama-ulama yangg berkualitas dibuatnya redup dan pudarnya nur Islam yangg di abad-abad sebelumnya merupakan kekuatan yangg mampu menyinari akal pikiran umat manusia dengaan terang benderang.


c)        Krisis bidang Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan

Krisis ini sesungguhnya hanya sekedar akibat darii adanya krisis dalaam bidang sosial politik dan bidang keagamaan. Pusat-pusat ilmu pengetahuan baik yangg berupa perpustakaan maupun lembaga-lembaga pendidikan diporak-porandakan dan dibakar sampai punah tak berbekas. Akibatnya ialah dunia pendidikan tidakk mendapattkan ruang gerak yangg memadai. Lembaga-lembaga pendidikan tinggi yangg ada sama sekali tidakk memberikan ruang gerak kepada para mahasiswanya untukk melakukan penelitian dan pengembangan ilmu. Kebebasan mimbar dan kebebasan akademik yangg menjadi ruh atau jantungnya pengembangan ilmu pengetahuan Islam satu persatu surut dan sirna. Cordova dan Baghdad yangg semula menjadi lambang pusat peradaban dan ilmu pengetahuan beralih ke kota-kota besar Eropa.

3.   Sejarah Kebangkitan Kembali Dunia Baru Islam

Benih pembaharuan dalaam dunia Islam sesungguhnya telah muncul di sekitar abad XIII Masehi, suatu masa yangg pada waktu itu dunia Islam tengah mengalami kemunduran dalaam berbagai bidang dengaan sangat drastisnya. Ditengah-tengah kemelut yangg melanda Baghdad disebabkan karena invasi yangg dilakukan oleh tentara Mongol di bawah komando Hulagu Khan.
Secara umum, ada tiga periode dalaam periodisasi yangg diakui sejarawan, yakni masa klasik (650-1250 M). Masa ini merupakan masa awal pertumbuhan serta perkembangan Islam dalaam seluruh aspek kehidupan. Sebagai pemimpin agam, saat itu Rasulullah masih dalaam masa dakwah dan penyebarluasan agama Islam, Islam pertengahan (1250-1800 M) setelah beberapa abad umat Islam menguasai dunia, di awal abad ke-13 kekuasaan Islam mulai terguncang. Banyak kerajaan-kerajaan kecil yangg mulai berani melakukan serangan-serangan karena merasa tidakk lagi diperhatikan dan ingin bebas darii kekuasaan kekhalifahan pada saat itu. Dan puncak darii keruntuhan kekhalifahan Islam pada masa itu ialah kehancuran Bagdad sebagai pusat pemerintahan oleh seragan Hulaghu khan (cucu Jengis Khan). Ia ialah, serta modern (1800-sekarang). Periode ini merupakan zaman kebangkitan umat Islam. Jatuhnya Mesir ke tangan Barat menginsafkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat Islam bahw di Barat telah timbul peradaban baru yangg lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi Islam.



3.    PENUTUP


A. Kesimpulan

1.       Sejarah Islam pada masa Nabi Muhammad SAW

Sejarah pendidikan Islam pada masa Nabi Muhammad saw terdapatt 2  periode. Yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Nabi Muhammad saw merima wahyu I di Gua Hira’ pada tahun 610 M dan diperintahkan untukk menyampaikannya kepada umat sekaligus sebagai pendidikan I umat Islam.
2.       Sejarah Islam pada masa Khulafa Rasyidin
a)       Khalifah Abu bakar
kelompok Syi’ah yangg berkeyakinan bahwa sebelum wafat, Nabi SAW. Telah menentukan penggantinya, yaitu Ali Ibn Abi Thalib dengaan jalur wasiat. keyakinan kelompok syi’ah ini tidakk terungkap dalaam proses perdebatan dalaam musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah. Oleh karena itu, musyawarah dalaam rangka menentukan pengganti Nabi SAW. Sebagai pemimpin politik yangg dilakukan di Saqifah Bani Sa’idah atas dasar keyakinan bahwa Nabi SAW. Tidakk menentukan penggantinya hingga wafat.
b)       Khalifah Umar Bin Khatab
Abu Bakar diangkat menjadi khalifah oleh Muhajirin dan Anshar melalui musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah. Akan tetapi, pengangkatan Umar Ibn Khattab menjadi khalifah dilakukan melalui penunjukan (tidakk melalui musyawarah yangg menggambarkan prestise para pembesar Muhajirin dan Anshar).
c)        Khalifah Utsman Ibn Affan
Utsman bin Affan diangkat menjadi khalifah atas dasar musyawarah dan keputusan sidang Panitia enam, yangg anggotanya dipilih oleh khalifah Umar bin khatab sebelum beliau wafat  Masa kekhalifannya merupakan masa yangg paling makmur dan sejahtera.
d)       Khalifah Ali Ibn Abi Thalib
Yangg pertama memproklamasikan Ali menjadi khalifah sebagai pengganti Utsman Ibn Affan ialah Abd Allah Ibn Saba. Pada awalnya, Ali Ibn Abi Thalib keberatan diangkat menjadi khalifah. Akan tetapi, setelah mempertimbangkan kepentingan islam adanya kekosongan, Ali Ibn Abi Thalib akhirnya bersedia menjadi khalifah keempat.
3.       Sejarah Kemajuan Dunia Islam
1)     Dinasti Umayyah (661-750 M)
Bani Umayah ialah keturunan Umayah bin Abdul Syams, salah satu suku Quraisy. Dalaam sejarah Islam Bani Umayah mendirikan dalaam dua periode: Damascus dan Cordoba. Dinasti umayah dimulai dengaan naiknya Muawiyah sebagai khalifah pada tahun 661 M. Bani Umayah berhasil mengokohkan kekhalifahan di Damascus selama 90 tahun (661 – 750).
2)       Dinasti Abasiyah (750-1258 M)
Dinasti Abbasiyah yangg menguasai daulah (negara) pada masa klasik dan pertengahan Islam. Pada masa pemerintahan Abbasiyah tercapai zaman keemasan Islam. Daulah ini disebut Abbasiyah karena pendirinya ialah keturunan al-Abbas (paman Nabi SAW) yakni Abu Abbas as-Saffah. Walaupun Abu Abbas ialah pendiri daulah ini, pemerintahannya hanya singkat (750 – 754). Pembina daulah ini yangg sebenarnya ialah Abu Ja’far al-Mansur (khalifah ke-2). Dua khalifah inilah peletak dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah.
3)       Dinasti Fatimiyah
pemerintahan Dinasti Fatimiyah berpusat di Maroko, dengaan ibukotanya al-Manshur-iyah. Dinasti Fatimiyah menjalankan roda pemerintahan di Maroko selama 24 tahun yangg di pimpin oleh empat orang khalifah, termasuk Ubaidillah al-Mahdi. Tiga orang khalifah Dinasti Fatimiyah lainnya yangg pernah memerintah di Maroko ialah al-Qaim (322-323 H/934-946 M), al-Manshur (323-341 H/946-952 M), dan al-Muizz (341-362 H/952-975 M).

4.       Sejarah Kemunduran Dunia Islam
Penyebab kemunduran islam diantaranya yaitu :
·       Umat islam kurang menjalankan akidah islam yangg luas.
·       Umat islam kurang melaksanakan hukum Allah.
·       Umat islam kurang menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar.
·       Umat islam kurang menjalankan jihad.
·       Umat islam telah terjebak dalaam perbedaan-perbedaan internal ketamakan duniawi.
·       Dan lain-lain.













DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Choirul Rofiq, Sejarah Perdaban Islam (darii masa klasik hingga modern). Ponorogo : STAIN Press, 2009.
A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta : Pustaka al-Husna, 1992.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT RajaGrasindo Persada, 1997.
Harun Nasution, Islam ditinjau darii berbagai aspeknya. Jakarta : UI Press, 1985.
Mubarok Jaih, Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004.
Munawir Syadzali,  Islam dan Tata Negara. Jakarta : UI Press, 1993.
Nizar Samsul, Sejarah Pendidikan Islam Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta : Kencana, 2007.

Visitor