Makalah Bimbingan & Konseling (Peran, Landasan & Prinsip)



Makalah Pengertian Bimbingan dan Konseling Pembelajaran siswa? Arti bk? Arti konseling? Arti Pembelajaran? Makalah Arti Model Pembelajran? Art Metode? Arti Metode Mengajar? Arti Metode Belajar? Arti Metode Pembelajaran Kurikulum 2013? Arti Strategi Pembelajaran? Arti Pendekatan Pembelajaran? Arti Siswa sma? Makalah Peran bimbingan dan konseling dalam pembelajran siswa?



BAB I

PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

Keberadaan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan suatu wadah ataupun tempat yang mampu membantu siswa dalam mengatasi permasalahan- permasalahan yang sedang dialaminya. Dengan bimbingan dan konseling siswa akan diarahkan kepada bentuk pribadi yang lebih baik guna mencapai prestasi yang dicita- citakan. Oleh karenanya perlu diketahui peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa.
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen pendidikan, yang secara terpadu dan bersinergi dengan dua komponen lainnya, yaitu administratif dan pengajaran berupaya mencapai tujuan pendidikan yang bermutu. Bimbingan dan konseling memiliki landasan- landasan serta prinsip- prinsip yang mendasarinya dalam mencapai tujuan yang ingin dicapainya.

B.       Rumusan Masalah

1.       Apakah peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa ?
2.       Apakah landasan bimbingan dan konseling ?
3.       Apakah prinsip- prinsip operasional bimbingan dan konseling di sekolah ?

C.       Tujuan

1.       Mengetahui peranan bimbingan dan konseling dalam pembelajaran siswa.
2.       Mengetahui landasan bimbingan dan konseling.
3.       Mengetahui prinsip- prinsip operasinal bimbingan dan konseling di sekolah.

Bimbingan & Konseling

BAB II

PEMBAHASAN

A.       Pengertian Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari “guidance” dan “counseling” dalam bahasa Inggris. Secara harfiyah istilah “guidance” dari akar kata “guide”  berarti:
1.     Mengarahkan (to direct)
2.     Memandu (to pilot)
3.     Mengelola (to manage)
4.     Menyetir (to steer)
Bimbingan mempunyai beberapa makna, namun dapat diambil makna[1] :
1.       Bimbingan merupakan suatu proses, yang berkesinambungan, bukan kegiatan yang seketika atau kebetulan. Bimbingan merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang sistematis dan berencana yang terarah kepada pencapaian tujuan.
2.       Bimbingan merupakan “helping”, yang identik dengan “aiding assisting, atau availing,” yang berarti bantuan atau pertolongan. Makna bantuan dalam bimbingan menunjukkan bahwa yang aktif dalam mengembangkan diri, mengatasi masalah, atau mengambil keputusan adalah individu atau peserta didik sendiri. Dalam proses bimbingan, pembimbing tidak memaksakan kehendak sendiri, tetapi berperan sebagai fasilitator. Istilah bantuan dalam bimbingan dapat juga dimaknai sebagai upaya untuk:
a.       Menciptakan lingkungan (fisik, psikis, sosial dan spiritual) yang kondusif bagi perkembangan siswa
b.       Memberikan dorongan dan semangat
c.        Mengembangkan keberanian bertindak dan bertanggung jawab
d.       Mengembangkan kemampuan untuk memperbaiki dan mengubah perilakunya sendiri
3.       Individu yang dibantu adalah individu yang sedang berkembang dengan segala keunikannya. Bantuan dalam bimbingan diberikan dengan pertimbangan keragaman dan keunikan individu. Tidak ada teknik pemberian bantuan yang berlaku umum bagi setiap individu. Teknik bantuan seyoginya disesuaikan dengan pengalaman, kebutuhan dan masalah individu. Untuk membimbing individu diperlukan pemahaman yang komprehensif tentang karakteristik, kebutuhan atau masalah individu.
4.       Tujuan bimbingan adalah perkembangan optimal, yaitu perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan benar.
Konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu. Maksud bantuan yaitu sebagai upaya untuk membantu orang lain agar ia mampu tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu menghadapi krisis- krisis yang dialami dalam kehidupannya.                               

B.       Peranan Bimbingan dan Konseling bagi Pembelajaran Siswa

Dalam proses pembelajaran siswa setiap guru mempunyai keinginan agar semua siswanya dapat memperoleh hasil belajar yang baik dan memuaskan. Harapan tersebut seringkali kandas dan tidak bisa terwujud, karena banyak siswa tidak seperti yang diharapkan. Maka sering mengalami berbagai macam kesulitan dalam belajar. Peranan bimbingan dan konseling dapat memberikan layanan :
1.     Bimbingan belajar
Bimbingan ini dimaksudkan untuk mengatasi masalah-masalah yang  berhubungan dengan kegiatan belajar baik di sekolah maupun di luar sekolah. Bimbingan ini antara lain meliputi:
a.     Cara belajar, baik secara  kelompok ataupun individual
b.     Cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar
c.     Efisiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran
d.     Cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu
e.     Cara, proses dan prosedur tentang mengikuti pelajaran
Menurut Santrock yang dikutip oleh Eti Nurhayati (2011:88-90) menjelaskan ada 14 prinsip yang harus diperhatikan untuk keberhasilan dan kelancaran belajar dengan sistem learner centered, yaitu :
a.       Sifat proses belajar..
b.       Tujuan proses pembelajaran..
c.        Konstruksi pengetahuan
d.       Pemikiran strategis.
e.        Motivasi dan emosi.
f.         Efek motivasi terhadap usaha.
g.        Pengaruh perkembangan pada pembelajaran.
h.       Pengaruh sosial terhadap pembelajaran.
i.         Perbedaan individual terhadap pembelajaran.
j.         Diversitas dalam pembelajaran
k.        Standar penilaian.
2.     Bimbingan sosial
Dalam proses belajar dikelas siswa juga harus mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok. Bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam memecahkan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan masalah sosial, sehingga terciptalah suasana belajar mengajar yang kondusif. Bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk :
a.     Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuai
b.     Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai
c.     Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk memecahkan masalah tertentu
3.     Bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.
Bimbingan dimaksudkan untuk membantu siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadinya, yang dapat mengganggu kegiatan belajarnya. Siswa yang mempunyai masalah dan belum dapat diatasi/ dipecahkannya, akan cenderung mengganggu konsentrasinya dalam belajar, akibatnya prestasi belajar yang dicapai rendah.

C.       Landasan- Landasan Bimbingan dan Konseling

Bimbingan di sekolah mengikuti prinsip atau landasan yang akan menentukan pendekatan dalam membantu klien, yaitu:
1.     Memperhatikan perkembangan siswa sebagi individu mandiri yang berpotensi
2.     Bimbingan berkisar pada dunia subjektif individu
3.     Bimbingan dilaksanakan atas kesepakatan dua pihak
4.     Bimbingan berlandaskan pengakuan atas hak asasi
5.     Bimbingan bersifat ilmiah dengan mengintegrasikan ilmu-ilmu psikologis
6.     Pelayan untuk semua siswa, tidak hanya yang bermalah saja
7.     Bimbingan merupakan proses, terus menerus, berkesinambungan dan mengikuti tahapan perkembangan anak.
Landasan Filosofis
Kata filosofi atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: philos berarti cinta, dan shopos berarti bijaksana. Jadi filosofis berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan. Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis.
Landasan Religius
Dalam landasan religius Bimbingan dan Konseling diperlukan penekanan pada 3 hal pokok, yaitu :
1.     Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam adalah mahluk tuhan
Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Sisi-sisi kemanusiaan tersebut tdiak boleh dibiarkan agar tidak mengarah pada hal-hal negatif. Perlu adanya bimbingan yang akan mengarahkan sisi-sisi kemanusiaan tersebut pada hal-hal positif.
2.     Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama
Agama yang menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari sikap keberagamaan. Sikap keberagamaan tersebut pertama difokuskan pada agama itu sendiri, agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup, nilai-nilainya harus diresapi dan diamalkan. Kedua, menyikapi peningkatan iptek sebagai upaya lanjut dari penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat.
3.       Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan pemecahan masalah individu.
Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar, tidak dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak mengambil keputusan sendiri sehingga agama dapat berperan positif dalam konseling yang dilakukan agama sebagai pedoman hidup ia memiliki fungsi memelihara fitrah, memelihara jiwa, memelihara akal dan memelihara keturunan.
Landasan Psikologis
Psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan, diantaranya :
1.       Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu
2.       Teori dari Freud tentang dorongan seksual
3.       Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial
4.       Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif
5.       Teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral
6.       Teori dari Zunker tentang perkembangan karier
7.       Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial
8.       Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan.

Landasan sosial budaya
Kebudayaan akan bimbingan timbul karena terdapat faktor yang menambah rumitnya keadaan masyarakat dimana individu itu hidup.
Landasan Ilmiah dan Teknologis
Salah satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial.

D.       Prinsip- Prinsip Operasional Bimbingan dan Konseling

Prinsip bimbingan dan Konseling menguraikan tentang pokok – pokok dasar pemikiran yang dijadikan pedoman program pelaksanaan atau aturan main yang harus di ikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan dapat juga dijadikan sebagai seperangkat landassan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Yang mana prinsip tersebut berasal dari kajian filosofis, hasil penelitian dan pengalaman praktis tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks social budayanya, pengertian, tujuan, fungsi, dan proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling
Terdapat beberapa prinsip dasar  yang dipandang sebagai fondasi atau landasan bagi layanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari kosep-kosep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian layanan bantuan atau bimbingan, baik disekolah maupun diluar sekolah. Prinsip-prinsip itu adalah[2]:
1.       Bimbingan diperuntukan bagi semua siswa (guidance is for all).
Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua siswa atau peserta didik, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita; baik anak-anak remaja maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan lebih bersifat preventif dan pengenmbangan dari penyembuhan (kuratif); dan lebih di utamakan bimbingan  kelompok dari pada perseorangan (individu).
2.       Bimbingan bersifat Individuasi.
Setiap siswa bersifat unik (berbeda satu sma lainnya), dan malalui bimbingan siswa dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah siswa, meskipun layanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok.

3.       Bimbingan menekankan hal yang positif.
Dalam kenyataan masih ada siswa yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan, karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. Sangat berbeda dengan pandangn tersebut, BK sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan, karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri, memberikan dorongan dan peluang untuk berkembang.
4.       Bimbingan Merupakan Usaha Bersama.
BK bukan hanya tugas atau tangggung jawab konselor, tetapi juga tugas guru-guru dan kepala sekolah. Mereka sebagai teamwork terlibat dalam proses bimbingan.
5.       Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang esensial dalam Bimbingan.
BK diarahkan untuk membantu siswa agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. Bimbingan mempunyai peranan untuk  memberikan informasi dan nasihat kepada siswa, yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. Kehidupan siswa diarahkan oleh tujuannya, dan bimbingan memfasilitasi siswa untuk mempertimbangkan, menyesuaikan diri, dan penyempurnakan tujuan melalui pengambilan  keputusan yang tepat. Jones et.al (1970) dalam program BK di sekolah oleh syamsu yusuf, berpendapat bahwa kemampuan untuk  membuat pilihan secara tepat bukan kemapuan bawaan, tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama BK adalah mengembangkan kemampuan siswa  untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan.
6.       Bimbingan Beralngsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan.
Pemberian layanan BK tidak hanyya belangsung disekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga, perusahaan/industri, lembaga-lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat pada umumnya. Bidang layanan bimbingan pun bersifat multi aspek, yaitu meliputi aspek pribadi, sosial, pendidikan dan pekerjaan.
Senada dengan prinsip-prinsip di atas, Biasco dalam  program BK di sekolah oleh  syamsu yusuf, mengidentifikasi lima prinsip Bimbingan yaitu sebagai berikut:
1.       BK, baik sebagai konsep maupun proses merupakan bagian integral program pendidikan di sekolah. Oleh karen itu bimbingan dirancang untuk melayani semua siswa, bukan hanya anak yang berbakat atau yang mempunyai masalah.
2.       Program BK, akan berlangsung dengan efektif apabila ada upaya kerjasama antar personel sekolah, juga dibantu oleh personel luar sekolah, seperti orang tua siswa atau para spesialis.
3.       Layanan BK didasarkan kepada asumsi bahwa siswa mamiliki peluang yang lebih baik untuk berkembang melalui pemberian bantuan yang terncana.
4.       BK, berasumsi bahwa siswa, termasuk anak-anak mamiliki hak untuk menentukan  sendiri dalam melakukan pilihan. Pengalaman dalam melakukan pilihan sendiri tersebut berkontribusi kepada perkembangan rasa tanggung jawabnya.
5.       BK, ditujukan kepada perkembangan pribadi setiap siswa, baik menyangkut aspek akademik, sosial, pribadi, maupun vokasional.

Adapun yang termasuk prinsip- prinsip operasional bimbingan dan konseling yaitu :

1.     Prinsip-prinsip umum
Dalam prinsip umum ini dikemukakan beberapa acuan umum yang mendasari semua kegiatan bimbingan dan konseling. Prinsip-prinsip umum ini antara lain:
a.          Karena bimbingan itu berhubungan dengan sikap dan tingkah laku dan individu, perlu diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet, sikap dan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh pengalaman-pengalamannya. Oleh karena itu dalam pemberian layanan perlu dikaji kehidupan masa lalu klien yang diperkirakan mempengaruhi timbulnya masalah tersebut.
b.          Perlu dikenal dan dipahami perbedaan individual daripada individu-individu
c.          Bimbingan diarahkan kepada bantuan yang diberikan supaya individu yang bersangkutan mampu membantu atau menolong dirinya sendiri dalam menghadapi kesulitan-kesulitannya.
2.       Prinsip-prinsip yang berhubung dengan individu yang dibimbing (siswa)
a.     Program bimbingan harus berpusat pada siswa. Program yang disusun harus berdasarkan kebutuhan siswa. Oleh sebab itu sebelum penyusunan program bimbingan perlu dilakukan analisis kebutuhan siswa tersebut.
b.     Pelayan bimbingan harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu yang bersangkutan secara serba ragam dan serba luas
c.      Keputusan terakhir dalam proses bimbingan ditentukan oleh individu yang dibimbing. Dalam pelaksanaan bimbingan, pembimbingan tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada individu yang dibimbing. Peranan pembimbing hanya memberikan arahan-arahan serba berbagai kemungkinannya, dan keputusan mana yang akan diambil diserahkan sepenuhnya kepada individu yang dibimbing. Dengan demikian klien mempunyai tanggung jawab penuh keputusan yang diambilnya itu
d.     Individu yang mendapat bimbingan harus berangsur-angsur dapat membimbing dirinya sendiri. Hasil pemberian layanan diharapkan tidak hanya berguna pada waktu pemberian layanan itu saja, tetapi jika individu mengalami masalah yang sama di kemudian hari ia akan dapat mengatasinya sendiri, sehingga tingkat ketergantungan individu kepada pembimbing semakin berkurang.
3.       Prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan individu yang memberikan bimbingan
Konselor di adalah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman dan kemampuannya. Karena pekerjaan bimbingan itu tidak dapat dilakukan oleh semua orang dengan demikian orang yang bertugas sebagai pembimbing di sekolah harus dipilih atas dasar-dasar tertentu, misalnya kepribadian, pendidikan, pengalaman dan kemampuannya di kualifikasi tersebut dapat mendukung keberhasilan pembimbing dalam melaksanakan tugasnya baik masalah-masalah yang dalam pemecahannya memerlukan dukungan pengalaman pembimbing, keluasan wawasan maupun kemampuan lainnya.
4.       Prinsip dalam organisasi dan administrasi bimbingan
Prinsip ini meliputi prinsip kesinambungan, ada kartu pribadi bagi setiap siswa, bimbingan harus disesuikan dengan kebutuhan sekolah. Ada pembagian waktu yang baik, berbagai metode bimbingan baik individual dan kelompok. Sekolah perlu bekerja sama dengan lembaga lain diluar sekolah dan kepala sekolah memegang tanggung jawab tertinggi dalam pelakasanaan bimbingan.


BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan

Bimbingan dan konseling dalam pembelajaran mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembelajaran siswa,yang meliputi bimbingan belajar,bimbingan social,serta bimbingan dalam mengatasi berbagai masalah pribadi.Dalam hal inididukung oleh berbagai landasan dan prinsip-prinsip operasional bimbingan konseling.landasan-landasan yang dibutuhkan sekolah dalam melakukan pendekatan yaitu Memperhatikan perkembangan siswa sebagi individu mandiri yang berpotensi, Bimbingan berkisar pada dunia subjektif individu, Bimbingan dilaksanakan atas kesepakatan dua pihak , Bimbingan berlandaskan pengakuan atas hak asasi , Bimbingan bersifat ilmiah dengan mengintegrasikan ilmu-ilmu psikologis , Pelayan untuk semua siswa, tidak hanya yang bermalah saja , Bimbingan merupakan proses, terus menerus, berkesinambungan dan mengikuti tahapan perkembangan anak. Untuk mendukung hal tersebut maka dibutuhkan suatu prinsip-prinsip yang mana terdapat beberapa prinsip dasar  yang dipandang sebagai fondasi atau landasan bagi layanan bimbingan. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian layanan bantuan atau bimbingan, baik disekolah maupun diluar sekolah.

B.       Saran
Dari paparan diatas mengenai peranan bimbingan konseling,landasan bimbingan konseling dan prinsip-prinsip operasional diharapkan mampu membantu siswa dalam menyelesaikan masalah-masalahnya dan mencapai prestasi belajar yang memuaskan.  Dalam pemberian bantuan kepada klien, seorang konselor harus mengerti seluk-beluk tentang bimbingan dan konseling itu sendiri,permasalahan yang dihadapi oleh klien harus dipahami oleh konselor,dan juga harus diperhatikan bagaimana konsep bimbingan dan konseling dalam pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Nurhayati, Eti. 2011. Bimbingan Konseling dan Psikoterapi Inovatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. 2006. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosdakarya.
Yusuf, Syamsu. 2006. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah.  Bandung: Pustaka Bani Quraisy.






[1] Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan. 2006. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Rosdakarya. Hal 6
[2]  Syamsu Yusuf. 2006. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah.  Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Hal 47

Visitor