Macam Aliran Kalam dalam Islam (Fiqih, Filsafat & Metafisika)



Makalah Pengertian ilmu kalam adalah? Arti ilmu kalam? Makalah Pengertian Aliran Aliran Kalam adalah? Arti Aliran? ,Arti Kalam? ,Arti Aliran Fiqih ? Macam Aliran Fiqih? ,Arti Aliran Metafisika? Macam Aliran Metafisika? ,Arti Aliran Filsafat umum? Macam Aliran Filsafat? Arti Aliran Filsafat naturalisme? Dan Sejarah Aliran Kalam? Pengertian Ajaran Pokok Mutazilah?


PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang

B.       Rumusan Masalah

1.       Apa  yangg dimaksud dengaan aliran-aliran kalam dan apa saja yangg termasuk aliran-aliran kalam?
2.       Apa yangg dimaksud dengaan aliran-aliran fiqih dan apa saja yangg termasuk aliran fiqih?
3.       Apa yangg dimaksud dengaan aliran-aliran Metafisika dan apa saja yangg termasuk aliran metafisika?
4.       Apa yangg dimaksud dengaan aliran-aliran filsafat dan apa saja yangg termasuk aliran filsafat?

C.       Tujuan

1.       Dapatt mengetahui aliran-aliran dalaam islam
2.       Mengetahui ajaran-ajaran dalaam aliran islam tersebut

Macam Aliran Kalam Islam
Macam Aliran Kalam Islam

PEMBAHASAN

1.         ALIRAN-ALIRAN KALAM

Islam agama yangg diyakini sebagai  agama rahmat li-‘alamin oleh penganutnya ternyata tidak selamanya bersifat positif. Salah satu buktinya  ialah tahkim. Peristiwa ini membuat bencana bagi umat islam sehingga terpecah belah menjadi 3 kelompok : umat islam kelompok pertama ialah pendukung Mu’Awiyah diantaranya ialah Amr bin Ash.  Sedangkan umat islam kedua ialah pendukung Ali bin Abi thalib. Kelompok Ali bin Abi thalib menjelang dan setelah tahkim terpecah menjadi dua, umat islam yangg senantiasa  setia terhadap kekhalifahan Ali bin Abi Thalib diantaranya ialah Abu Musa Al-Asy’ari, yangg kedua ialah umat islam yangg membelok ( keluar darii barisan Ali bin Abi Thalib), mereka menarik dukungannya terhadap Ali dan bersikap menentang terhadap Ali bin Abi thalib dan Mu’awiyah bin Abi sufian, kelompok ini dikenl dengaan nama khawarij, kelompok ini dipelopori oleh ‘Atab bin A’war dan ‘Urwah bin Jarir . (al-Syahrastani, t.th: 114-6)
Pada awalnya khawarij merukapan aliran atau fraksi politik, karena pada dasarnya kelompok itu terbentuk karena persoalan kepemimpinan umat islam. Akan tetapi mereka membentuk suatu ajaran yangg kemudian menjadi ciri utama aliran mereka, yaitu ajaran tentang pelaku dosa besar ( murtakib al-kaba’ir ).
Menurut khawarij orang-orang yangg terlibat dan menyetujui hasil tahkim  telah melakukan dosa besar, orang islam yangg melakukan dosa besar dalaam pandangan mereka berarti orang kafir, kafir setelah memeluk islam berarti murtad dan orang murtad (keluar darii islam) halal dibunuh berdasarkan sebuah hadis yangg menyatakan bahwa nabi Muhamad saw bersabda , “man abaddala Dinah faktuluh”. Oleh karena itu, mereka membunuh Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufian, Abu Musa al-Asy’ari, Amr bin Ash, dan sahabat-sahabat lain yangg menyetujui tahkim.  Namun, yangg berhasil mereka bunuh hanya Abi bin Abi Thalib, Mu’awiyah tidak nerhasil mereka bunuh. Disamping itu mereka juga mencela Usman bin Affan, orang-orang yangg terlibat dalaam perang jamal dan perang sifin. ( al-Syahrastani,t.th:117). Mereka beranggapan bahwa membunuh Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Suffian, Amr bin Ash, dan Abu Musa al-Asy’ari  sebagai kegiatan yangg diperintahkan oleh Agama. Bagi mereka membunuh orang-orang yangg dinilai kafir ialah ibadah.
Kahawarij merupakan aliran teologi pertama dalaam islam. Berkenaan dengaan itu ulama ‘Amir al-Najjar (1990:59) berkesimpulan bahwa penyebab tumbuh dan berkembang aliran kalam ialah pertentangan dalaam bidang politik, yakni mengenai imamah dan khalifah. Sebagai umat islam khawatir terhadap gagasan khawarij yangg megkafirkan Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bi Abu Sufian, Amr bin Ash, Abu Musa al-Asy’ari. Oleh karena itu sebagai ulama mencoba bersikap netral secara politik dan tidak mau mengkafirkan para sahabat yangg terlibat dan menyetujui tahkim. Umat islam yangg tergabung dengaan kelompok ini disebut dengaan Murji’ah. Kelompok ini dipelopori dengaan Ghilan al-Dimasyqi. (al-Syahrastani,t.th:139)
Dalaam ajaran utama aliran murji’ah, orang islam yangg melakukan dosa besar tidak boleh dihukumi (ditentukan) kedudukannya dengaan hukum dunia. mereka tidak boleh ditentukan akan tinggal di neraka atau di surga, kedudukan mereka ditentukan dengaan hukum akhirat. Sebab, bagi mereka perbuatan maksiat tidak merusak iman sebagaimana perbuatan taat tidak bermanfaat bagi yangg kufur ( la tadlurru ma’a al-iman al-ma’shiyyah kama ta tanfa’ ma’a al-kufr tha’a ). Disamping itu juga bagi mereka iman ialah pengetahuan tentang Allah secara mutlak (al-jahl bi Allah ‘ala al-ithlaq ). Sedangkan kufur ialah ketidaktahuan tentang tuhan secara mutlak ( al-jahl bi Allah ‘ala al-ithlaq). Oleh karena itu menurut murji’ah , iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang (al-iman la yazid ma la yanqush). (al-Syahrastani,t,th:145:lihat ahmad Amin, III,t.th:318)
Selain dua aliran yangg telah dijelaskan diatas, terdapatt ajaran yangg mencoba menjelaskan kedudukan manusia dengaan Tuhan dengaan penjelasan yangg sangat berbeda, Menurut aliran pertama, manusia memiliki kemerdekaan dan kebebasan dalaam menentukan perjalanan hidupnya. Menurut paham ini, manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untukk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Oleh karena itu, aliran ini kemudian dikenal dengaan qadariiyah karena memandang bahwa manusia memiliki kekuatan (qudrah) untukk menentukan perjalanan hidupnya dan untukk mewujudkan perbuatannya. (M.Yunan  Yusuf, 1990:21-2). Aliran ini pertama kali diperkenalkan oleh Ma’bad al-Juhani yangg wafat terbunuh dalaam perang melawan kekuasaan Bani Umayah (w.80 H) dan Ghilan al-Dimasyqi (A’li Mushthafa al-Ghurabi, 1985:21)Ghilan mengajarkan aliran ini di Damaskus. 
Aliran kedua berpendapatt sebaliknya, bahwa dalaam hubungan dengaan manusia, Tuhan itu Mahakuasa. Karena itu, Tuhanlah yangg menetukan perjalanan hidup manusia dan yangg mewujudkan perbuatannya. Mereka hidup dalaam keterpaksaan (jabbar). Oleh Karena itu aliran ini disebut dengaan nama Jabariyah. (al-Syahrastani,t.th:85) aliran ini pertama kali diajarkan oleh Al-ja’d bin Dirham.
Dengaan demikian dalaam aliran kalam terdapatt empat aliran yaitu; aliran khawarij, Murji’ah , Qadariiyah dan Jabariyah. Qadariiyah dan Jabariyah pada dasarnya lebih mendekati gagasan (paham) bukan aliran, sebab kedua ajaran yangg ekstrem itu, karena yangg pertama bersifat antroposentris dan yangg kedua teosentris, diajarkan dan disebarkan oleh penganut khawarij.
Setelah empat aliran itu muncul dan berkembang, kemudian berkembang suatu ajaran teologi yangg didasarkan analisis filosofi. Dalaam menjelaskan teologi, kelompok ini banyak menggunakan kekuatan akal sehingga mereka digelari kaum rasionalis islam. Mereka dikenal dengaan nama Muktazilah. Aliran ini didirikan dan disebarluaskan pertama kali oleh Washil bin Atha.
Ajaran pokok aliran Muktazilah ialah panca-ajaran atau Pancasila Muktazilah. Lima ajaran tersebut ialah sebagai berikut :
1)       Keesaan Tuhan (al-Tauhid)
2)       Keadilan Tuhan (al-‘adl)
3)       Janji dan ancaman (al-wa’d wa al-waid)
4)       Posisi diantara dua tempat (al-manzilah bain al-manzilatin)
5)       Amar makruf nahi munkar (al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy’an al-munkar)
Imam al-Asy’ari (260-324 H), menurut abu bakar isma’il al-qarawani, ialah seorang penganut Muktazilah selama 40 tahun. Kemudian ia menyatakan diri keluar darii Muktazilah. Setelah itu ia mengembangkan ajaran yangg merupakan counter terhadap gagasan-gagasan Muktazilah. Ajarannya kemudian dikenal dengaan sebagai aliran ahl al-sunnah wa al-jama’ah. (Harun Nasution, 1986:61).  Ajaran pokok aliran ini ialah Kemahakuasaan Tuhan yangg Keadilan-Nya telah tercakup dalaam kekuasaan-Nya. Suatu gagasan yangg mirip dengaan gagasan Jabariyah. Dalaam perkembangannya aliran ini tidak sepenuhnya sejalan dengaan gagasan Imam Al-Asy’ari. Para pelanjutnya, antara lain Imam Abu Ma  nshur al-Maturidi, mendirikan aliran Maturidiyyahyangg ajarannya menurut Hasan Nasution (1986: 76) lebih dekat dengaan Muktazilah.
Aliran kalam terakhir yangg dikemukakan oleh Ibnu Taimiah ialah aliran Salafi. Aliran ini tidak selamanya sejalan dengaan gagasan-gagasan Imam Asy’Ari, terutama karena aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah menggunakan logika (manthiq) dalaam menjelaskan teologi, sedangkan aliran salafi menghendaki teologi apa adanya tanpa dimasuki oleh unsur ra’y.

2.         Aliran-aliran fikih

Secara historis, hukum Islam telah menjadi dua aliran pada zaman sahabat Nabi Muhammad SAW . Dua aliran tersebut ialah Madrasat al Madinah dan Madrasat al Baghdad atau Madrasat al Hadits dan Madrasat al Ra’y. Sedangkan Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah menyebutnya sebagai Ahl al-Zhahir dan Ahl Ma’na.
Aliran Madinah terbentuk karena sebagian sahabat tinggal di Madinah dan aliran Baghdad atau Kufah juga terbentuk karena sebagian sahabat tinggal di kota tersebut. Atas jasa sahabat Nabi Muhammad SAW yangg tinggal di Madinah, terbentuklah fuqaha sab’ah yangg juga mengajarkan dan mengembangkan gagasan guru-gurunya darii kalangan sahabat. Di antara fuqaha sab’ah ialah Sa’id bin al Musayyab. Salah satu murid Sa’id bin al Musayyab ialah Ibnu Syihab al-Zuhri. Sedangkan di antara murid Ibnu Syihab al-Zuhri ialah Imam Malik , pendiri aliran Maliki. Di antara ajaran Imam Malik yangg paling terkenal ialah ia menjadikan ijma’ dan amal ulama Madinah sebagai hujjah.
Atas jasa sahabat Nabi Muhammad SAW yangg tinggal di Baghdad, terbentuklah aliran ra’yu. Di antara sahabat yangg tinggal di Kuffah ialah Abdullah bin Mas’ud; salah satu muridnya ialah al Aswad bin Yazid al Nakha’i; ialah salah satu muridnya ialah Amir bin Syarahil al Sya’bi; dan salah satu murid beliau ialah Abu Hanifah yangg mendirikan Aliran Hanafi. Salah satu ciri fikih Abu Hanifah ialah sangat ketat dalaam penerimaan hadis dan banyak menggunakan ra’yu. Di antara pendapattnya ialah bahwa benda wakaf boleh dijual, diwariskan dan dihibahkan – kecuali wakaf tertentu – karena ia berpendapatt bahwa benda yangg telah diwakafkan masih tetap menjadi milik yangg mewakafkan. Istinbath al Ahkam yangg digunakannya ialah analogi (qiyas); ia menganalogikan wakaf kepada pinjam meminjam (al-‘ariyyah).
Murid Imam Malik dan Muhammad al-Syaibani (sahabat dan penerus gagasan Abu Hanifah) ialah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, pendiri aliran hukum yangg dikenal Syafi’iyah atau aliran al-Syafi’i. Imam ini sangat terkenal dalaam pembahasan perubahan hukum Islam karena ia golongkan menjadi qaul qadim dan qaul jadid.
Salah satu murid Imam al-Syafi’I ialah Ahmad bin Hanbal, pendiri aliran Hanabilah. Di samping itu, masih ada aliran Zhahiriyah yangg didirikan oleh Imam Daud al Zhahiri, dan aliran Jaririyah yangg didirikan oleh Ibnu Jarir al Thabari.
Dengaan demikian, kita telah mengenal sejumlah aliran hukum Islam, yaitu Madrasah Madinah, Madrasah Kuffah, aliran Hanafi, aliran Maliki, aliran Syafi’i, aliran Hanbali, aliran Zhahiriyah, dan aliran Jaririyah. Tidak terdapatt informasi yangg lengkap mengenai aliran aliran hukum Islam, karena banyak aliran yangg muncul kemudian menghilang karena tidak ada yangg mengembangkannya.
Thaha  Jabir Fayadl al Ulwani menjelaskan bahwa mazhab fikih Islam yangg muncul setelah sahabat dan kibar al tabi’in berjumlah 13 aliran. Tiga belas aliran itu berafilasi dengaan aliran Ahl al Sunnah. Akan tetapi, tidak semua aliran itu dapatt diketahui dasar-dasar dan metode istinbath hukum yangg digunakannya. Berikut di antara pendiri ketiga belas aliran itu.
1.       Abu Sa’id al-Hasan bin Yasar al-Bashri (w.110H)
2.       Abu Hanifah al-Nu’man bin Tsabit bin Zuthi (w.150H)
3.       Al-Auza’I Abu ‘Amr ‘Abd al-Rahman bin ‘Amr bin Muhammad (w.157H)
4.       Sufyan bin Sa’id bin Masruq al Tsauri (w.160H)
5.       Al-Laits bin Sa’d (w.175H)
6.       Malik bin Anas al-Bahi (w.179H)
7.       Sufyan bin ‘Uyainah (w.198H)
8.       Muhammad bin Idris al-Syafi’i (w.204H)
9.       Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (w.241H)
10.     Daud bin ‘Ali al-Ashbahani al-Baghdadi (w.270H)
11.    Ishaq bin Rahawaih (w.238H)
12.    Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid al Kalabi (w.240H) (lihat pada Mun’im Sirri, 1995: 79-80)
Aliran hukum Islam yangg terkenal dan masih ada pengikutnya hingga sekarang hanya beberapa aliran, diantaranya Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Akan tetapi, yangg sering dilupakan dalaam sejarah hukum Islam ialah bahwa buku-buku sejarah hukum Islam cenderung memunculkan aliran-aliran hukum yangg berafilasi dengaan aliran Sunni, sehingga para penulis sejarah hukum Islam cenderung mengabaikan pendapatt Khawarij dan Syiah dalaam bidang hukum Islam.

3.         Aliran-aliran dalaam Filsafat

                Dalaam mendefinisikannya “filsafat” ditinjau darii dua sisi, yaitu :
a.       Ditinjau darii sisi semantik atau arti katanya, filsafat berasal darii bahasa Arab “falsafah” yangg berasal darii bahasa Yunani “philosophia”, yaitu “philos” yangg berarti cinta dan “sophia” yangg berarti pengetahuan atau hikmah. Dapatt disimpulkan “philosophia” ialah kecintaan kepada kebijaksanaan atau kecintaan kepada kebenaran.
b.       Ditinjau darii sisi praktis atau sisi kegunaannya, filsafat diartikan sebagai befikir. Yaitu berfilsafat berarti berfikir yangg sangat mendalaam utuk mengetahui satu hal. Orang yangg sedang berfilsafat berarti orang yangg sedan memikirkan hakikat darii suatu hal.
Dapatt disimpulkan, filsafat ialah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalaam konsep mendasar.
Disamping itu, filsafat tidak didalaami dengaan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengaan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untukk itu, memberikan argumentasi dan alasan yangg tepat untukk solusi tertentu. Akhir darii proses-proses itu dimasukkan ke dalaam sebuah proses dialektika. Untukk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.
Logika merupakan sebuah ilmu yangg sama-sama dipelajari dalaam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yangg pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yangg paling dalaam, sesuatu yangg biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengaan sikap skeptis yangg mempertanyakan segala hal.[1]
Dalaam perkembangannya, ilmu yangg dikenal sejak abad ke 7 S.M. ini membangun tradisi yangg antara satu orang dan orang lainnya saling mengajukan pertanyaan, menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengaan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun.
Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut latar belakang agama dan menurut wilayah.
Menurut latar belakang agama, filsafat dibagi menjadi: filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen. Sementara menurut wilayah, filsafat bisa dibagi menjadi:, filsafat timur, filsafat timur tengah, dan filsafat barat.[2]

1)       Menurut latar belakang agama, filsafat dibagi menjadi:

a)       Filsafat Islam
Filsafat Islam merupakan filsafat yangg seluruh cendekianya ialah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengaan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf[3] muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengaan ajaran Islam.
Kedua, Islam ialah agama tauhid. Maka, bila dalaam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalaam filsafat Islam justru Tuhan sudah ditemukan, dalaam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas lagi, namun filsuf Islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yangg tak pernah ada finalnya.
b)       Filsafat Budha
        Filsafat hanya memandang berdasarkan eksperimen yangg dilakukan oleh para ahli yangg menyatakan hasil darii beberapa pertanyaan yangg nantinya akan dijadikan sebuah teori yangg berasal darii jawaban eksperimen pengalaman orang lain yangg bersifat prediksi. Dalaam ajaran sang Budha, berdasarkan bacaan sang Budha tidak memandang semua itu sebagai sesuatu yangg hanya dipandang berdasarkan tafsiran tetapi dipandang sebagai suatu kenyataan yangg didapatt sendiri berdasarkan realita yangg dialami. Gambaran lengkap darii budhinisme dibentuk darii sutta-sutta, sehingga muncul dua tradisi yaitu Hinayan dan Mahayana. Anlisis doktrin Budha awal muncul secara alami tanpa menggunakan perspektif Hinayana ataupun Mahayana.[4]
c)       Filsafat Hindu
        Ajaran agama dan filsafat yangg terangkum dalaam Hindu, memiliki cakupan dan jangkauan yangg amat luas, awalnya didirikan serta diajarkan di anak benua India. Semua ajaran tersebut bermuara pada ajaran yangg terkandung dalaam Weda dan juga termasuk enam ajaran filsafat, yangg dikenal dengaan aliran astika dalaam filsafat Hindu. Samkhya, Yoga, Bhakti, Tantra merupakan bagian penting dalaam ajaran Hindu. Sebagaimana pula contohnya Jyotisha, Ayurveda ialah ajaran yangg diambil sistem dan konsep darii filsafat hindu.
d)       Filsafat Kristen
                Filsafat Kristen mulanya disusun oleh para bapa gereja untukk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yangg Kristen tengah berada dalaam zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya. Filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen ialah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinasdan Santo Bonaventura

2)       Menurut wilayah, filsafat dibagi menjadi :

a)       Filsafat Timur
                Filsafat Timur ialah tradisi falsafi yangg terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Republik Rakyat Cina dan daerah-daerah lain yangg pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengaan agama. Meskipun dalaam hal ini kurang lebih bisa dikatakan untukk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat ’an sich’ masih lebih menonjol dariipada agama.
b)       Filsafat Timur Tengah
                Filsafat Timur Tengah dilihat darii sejarahnya merupakan para filsuf yangg bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat. Sebab para filsuf Timur Tengah yangg pertama-tama ialah orang-orang Arab atau orang-orang Islam dan juga beberapa orang Yahudi, yangg menaklukkan daerah-daerah di sekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaan Yunani dengaan tradisi falsafah mereka.
Lalu mereka menterjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani. Bahkan ketika Eropa setalah runtuhnya kekaisaran Romawi masuk ke abad pertengahan dan melupakan karya-karya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yangg sama dan bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa.

c)       Filsafat Barat

                Filsafat Barat ialah ilmu yangg biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang darii tradisi filsafat orang Yunani kuno.
Dalaam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalaam filsafat yangg menyanggkut tema tertentu, diantaranya:
(1)     Metafisika mengkaji hakikat segala yangg ada. Dalaam bidang ini, hakikat yangg ada dan keberadaan (eksistensi) secara umum dikaji secara khusus dalaam Ontologi. Adapun hakikat manusia dan alam semesta dibahas dalaam Kosmologi.
(2)     Epistemologi mengkaji tentang hakikat dan wilayah pengetahuan (episteme secara harafiah berarti “pengetahuan”). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.
(3)     Aksiologi membahas masalah nilai atau norma yangg berlaku pada kehidupan manusia. Darii aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yangg membahas aspek kualitas hidup manusia: etika dan estetika.
(4)     Etika, atau filsafat moral, membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan bagaimana kebenaran darii dasar tindakan itu dapatt diketahui. Beberapa topik yangg dibahas di sini ialah soal kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, suara hati, dan sebagainya.
(5)     Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Darii estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni darii berbagai macam hasil budaya.
Selain darii dua sudut pandang di atas, aliran filsafat dipandang juga darii segi teoritis. Adapun pembagian filsafat menurut sudut pandang teoritis yangg paling berpengaruh di dunia ialah[5] :
1)       Pragmatisme 
                Pragmatisme ialah aliran filsafat yangg mengajarkan bahwa yangg benar ialah segala sesuatu yangg membuktikan dirinya sebagai benar dengaan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yangg bermanfaat secara praktis. Dengaan demikian, bukan kebenaran objektif darii pengetahuan yangg penting melainkan bagaimana kegunaan praktis darii pengetahuan kepada individu-individu.
Dasar darii pragmatisme ialah logika pengamatan, di mana apa yangg ditampilkan pada manusia dalaam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yangg muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengaan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengaan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yangg bersifat metafisik. 
2)       Vitalisme
                Vitalisme ialah suatu doktrin yangg mengatakan bahwa suatu kehidupan terletak di luar dunia materi dan karenanya kedua konsep ini, kehidupan dan materi, tidak bisa saling mengintervensi. Dimana doktrin ini menghadirkan suatu konsep energi, elan vital, yangg menyokong suatu kehidupan dan energi ini bisa disamakan dengaan keberadaan suatu jiwa.
Pada awal perkembangan filosofi di dunia medis, konsep energi ini begitu kental sehingga seseorang dinyatakan sakit karena adanya ketidakseimbangan dalaam energi vitalnya.
3)       Fenomenologi
                Fenomenologi ialah sebuah studi dalaam bidang filsafat yangg mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalaam filsafat biasa dihubungkan dengaan ilmu hermeneutik, yaitu ilmu yangg mempelajari arti dariipada fenomena ini.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Johann Heinrich Lambert (1728 – 1777), seorang filsuf Jerman. Dalaam bukunya Neues Organon (1764). ditulisnya tentang ilmu yangg tak nyata. Dalaam pendekatan sastra, fenomenologi memanfaatkan pengalaman intuitif atas fenomena, sesuatu yangg hadir dalaam refleksi fenomenologis, sebagai titik awal dan usaha untukk mendapattkan fitur-hakekat darii pengalaman dan hakekat darii apa yangg kita alami. G.W.F. Hegel dan Edmund Husserl ialah dua tokoh penting dalaam pengembangan pendekatan filosofis ini.
4)       Eksistensialisme
Eksistensialisme ialah aliran filsafat yangg pahamnya berpusat pada manusia individu yangg bertanggung jawab atas kemauannya yangg bebas tanpa memikirkan secara mendalaam mana yangg benar dan mana yangg tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yangg benar dan mana yangg tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yangg menurutnya benar.
Eksistensialisme ialah salah satu aliran besar dalaam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaaan itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yangg berhubungan dengaan eksistensialisme ialah selalu soal kebebasan. Sesuai dengaan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.
Dalaam studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean Paul Sartre, yangg terkenal dengaan diktumnya “human is condemned to be free”, manusia dikutuk untukk bebas, maka dengaan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yangg lain dariipada yangg lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yangg berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yangg unik ataupun yangg baru yangg menjadi esensi darii eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan ialah inti darii eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yangg dipersoalkan oleh eksistensialisme ialah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri. Kaum eksistensialis menyarankan kita untukk membiarkan apa pun yangg akan kita kaji, baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untukk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapatt dilakukan dengaan membuka diri terhadap pengalaman, dengaan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengaan filsafat, teori, atau keyakinan kita. 
5)       Filsafat Analitis
Filsafat analitik ialah aliran filsafat yangg muncul darii kelompok filsuf yangg menyebut dirinya lingkaran Wina. Filsafat analitik lingkaran Wina itu berkembang darii Jerman hingga ke luar, yaitu Polandia dan Inggris. Pandangan utamanya ialah penolakan terhadap metafisika. Bagi mereka, metafisika tidak dapatt dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jadi filsafat analitik memang mirip dengaan filsafat sains.
Di Inggris misalnya, gerakan Filsafat analitik ini sangat dominan dalaam bidang bahasa. Kemunculannya merupakan reaksi keras terhadap pengikut Hegel yangg mengusung idealisme total. Darii pemikirannya, filsafat analitik merupakan pengaruh darii rasionalisme Prancis, empirisisme Inggris dan kritisisme Kant. Selain itu berkat empirisme John Locke pada abad 17 mengenai empirisisme, yangg merupakan penyatuan antara empirisisme Francis Bacon, Thomas Hobbes dan rasionalisme Rene Descartes. Teori Locke ialah bahwa rasio selalu dipengaruhi atau didahului oleh pengalaman. Setelah membentuk ilmu pengetahuan, maka akal budi menjadi pasif. Pengaruh ini kemudian merambat ke dunia filsafat Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Jerman dan wilayah Eropa lainnya.
6)       Strukturalisme
Strukturalisme ialah faham atau pandangan yangg menyatakan bahwa semua masyarakat dan kebudyaan memiliki suatu struktur yangg sama dan tetap. Strukturalisme juga ialah sebuah pembedaan secara tajam mengenai masyarakt dan ilmu kemanusiaan darii tahun 1950 hingga 1970, khususnya terjadi di Perancis. Strukturalisme berasal darii bahasa Inggris, structuralism; latin struere (membangung), structura berarti bentuk bangunan. Trend metodologis yangg menyetapkan riset sebagai tugas menyingkapkan struktur objek-objek ini dikembangkan olerh para ahli humaniora. Struktualisme berkembang pada abad 20, muncul sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis dengaan menggunakan metode-metode riset struktural yangg dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu lain.
7)       Postmodernisme
Postmodernisme ialah faham yangg berkembang setelah era modern dengaan modernisme-nya. Postmodernisme bukanlah faham tunggal sebuat teori, namun justru menghargai teori-teori yangg bertebaran dan sulit dicari titik temu yangg tunggal. Banyak tokoh-tokoh yangg memberikan arti postmodernisme sebagai kelanjutan darii modernisme. Namun kelanjutan itu menjadi sangat beragam. Bagi Lyotard dan Geldner, modernisme ialah pemutusan secara total darii modernisme. Bagi Derrida, Foucault dan Baudrillard, bentuk radikal darii kemodernan yangg akhirnya bunuh diri karena sulit menyeragamkan teori-teori. Bagi David Graffin, Postmodernisme ialah koreksi beberapa aspek darii moderinisme. Lalu bagi Giddens, itu ialah bentuk modernisme yangg sudah sadar diri dan menjadi bijak. Yangg terakhir, bagi Habermas, merupakan satu tahap darii modernisme yangg belum selesai.

4.         Aliran-aliran dalaam Metafisika

Dalaam pembahasan sebelumnya telah sedikit disinggung tentang Metafisika, lebih luasnya akan dibahas dalaam subbab ini. Metafisika ialah ilmu yangg mengkaji hakikat segala hal yangg ada.
Dilihat darii segi etimologis metafisika berasal darii bahasa Yunani μετά (meta) yangg berarti setelah atau dibalik, dan φύσικα (phúsika) yangg berarti hal-hal di alam. Metafisika ialah cabang filsafat yangg mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia.[6] Metafisika ialah studi keberadaan atau realitas, yangg menjawab berbagai pertanyaan tentang hal-hal yangg tidak bisa dijawab menggunakan nalar manusia.

        Menurut Prof. S. Takdir Alisyahbana, metafisika ini dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu :

a.       Mengenai kuantitas atau jumlah

Pembahasan mengenai metafisika yangg dipandang darii segi kuantitasnya, terdiri atas:
1)       Monoisme
        Monisme ialah aliran yangg mengemukakan bahwa unsur pokok segala yangg ada ini ialah esa atau satu. Menurut Thales unsur tersebur ialah air, menurut Anaximandros unsure itu ialah apeiron, sedangkan menurut Anaximenes unsure itu ialah udara.
2)       Dualisme
                Dualisme ialah aliran yangg berpendirian bahwa unsur pokok segala hal yangg ada ini ada dua, yaitu roh dan benda.
3)       Pluralisme
                Pluralisme ialah aliran yangg berpendapatt bahwa unsur pokok hakikat kenyataan ini banyak. Salah satu pengikutnya yaitu Empedokles yangg beranggapan bahwa unsur-unsur tersebut ialah udara, api, air, dan tanah.

b.       Mengenai kualitas atau sifat

Pembahasan mengenai metafisika yangg dipandang darii segi kualitas dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu:
1)       Memandang hakikat kenyataan itu ialah tetap.
Adapun aliran yangg termasuk ke dalaam golongan pertama ialah:
(a)     Spiritualisme
                Yakni aliran metafisika yangg berpendapatt bahwa hakikat segala sesuatu yangg ada ialah bersifat roh.
(b)     Materialisme
Yakni aliran metfisika yangg berpendapatt bahwa hakikat segala sesuatu yangg ada ialah bersifat materi.

2)       Memandang hakikat kenyataan itu sebagai suatu kejadian.
(a)     Mekanisme
                Yaitu aliran metafisika yangg berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini berlaku dengaan sendirinya menurut hukum sebab-akibat.



(b)     Teleologi
                Yaitu aliran metafisika yangg berkeyakinan bahwa kejadian yangg satu berhubungan dengaan kejadian yangg lain, bukan oleh hukum sebab-akibat, melainkan semata-mata oleh tujuan yangg sama.
(c)     Determinisme
                Yaitu aliran metafisika yangg mengajarkan bahwa kemauan manusia itu tidak merdeka dalaam mengambil putusan-putusan yangg penting, tetapi sudah terpasti lebih dahulu.
(d)     Indeterminisme
                Yaitu aliran metafisika yangg berpendirian bahwa kemauan manusia itu bebas dalaam arti yangg seluas-luasnya.


PENUTUP


1.       Kesimpulan

Aliran- aliran islam terbagi menjadi empat yaitu aliran-aliran kalam, aliran-aliran fiqih, aliran-aliran filsafat, aliran-aliran metafisika. Dalaam aliran kalam terdapatt empat aliran yaitu aliran khawarij, aliran murji’ah, aliran qadariiyah, dan aliran jabariyah. Dalaam aliran fiqih terdapatt delapan alira, diantaranya: madrasah madinah, madrasah kuffah, aliran hanafi, aliran maliki, aliran hanbali, aliran syafi’I, aliran Zhahiriyah, aliran jaririyah. Dalaam aliran filsafat terbagi menjadi tiga yaitu menurut latar belakang agama, wilayah dan sudut pandang teoritis.   Sedangkan dalaam aliran metafisika terbagi menjadi dua bagian yaitu pertama menurut segi kuantitas dan jumlah, kedua darii segi kualitas dan sifat.




[1] www.wikipedia.com
[2] www.wikipedia.com
[3] orang yangg berfilsafat
[5] www.wikipedia.com
[6] www.wikipedia.com

Visitor