Taukah anda Alasan Gelar Haji di Indonesia dan 5 Tanda Haji Mabrur ?


Artikel ini memaparkan Alasan Penamaan Gelar Haji di Indonesia dan ciri- ciri Haji Mabrur. Pengertian Haji Mabrur ialah haji yang diterima oleh Allah Subhanahu waTa’ala.”  (Bukhari-Muslim)


Taukah anda selain di indonesia ternyata pemberian gelar Haji ( H ) juga diberikan di negara Malaysia. Gelar tambahan di depan namanya dengan sebutan haji (untuk laki-laki) dan hajjah (untuk perempuan). Terkesan lucu memang, dari sekian banyak negara, hanya orang-orang Indonesia dan Malaysia saja yangg menambahkan gelar haji di depan namanya. Namun jika kita melihatnya darii sudut pandang sejarah, terasa dapatt dipahamilah mengapa orang-orang Indonesia mengenakan gelar haji di depan namanya.
Alasan lain pemakaian gelar haji bagi mereka yangg kembali pulang adalah, karena susahnya menempuh perjalanan pulang pergi Indonesia-Makkah, sehingga agar kesan itu tidakk hilang, maka dipakailah gelar haji sebagai tanda perjuangan ibadah. Penambahan gelar ini tentu sangat dapatt dimaklumi.

Mengenal Asal Usul Gelar Haji di Indonesia.

Dahulu di zaman penjajahan Belanda, Belanda sangatt membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah, segala sesuatu yang berhubungan dengaan penyebaran agama terlebih dahulu harus mendapat izin darii pihak pemerintah Belanda. Mereka sangatt khawatir apabila nanti timbul rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan rakyat pribumi, yang akaan menimbulkan pemberontakan, karena itulah segala jenis acara peribadatan sangat dibatasi. Pembatasan ini juga diberlakukan terhadap ibadah haji. Bahkan untukk yang satu ini Belanda sangat berhati-hati, karena padaa saat itu mayoritas orang yang pergi haji, ketika ia pulang ke tanah air maka dia akan melakukan perubahan.

Berikut Para Tokoh yang memberikan perubahan sepulang haji :

1.       Kyaî H. Hasyîm Asyarî
Membentuk Akhlaq dan kekuatan Jati dari bangsa indonesia melalui para Santri santrinya dan  Mendirikan Nahdhlatul Ulama.
2.       Muhammad Darwis
Yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah
3.       Pangeran Dîpenogoro
Melakukan Pergerakan perlawanan kepada Penjajah setelah sepulang haji.
4.       Imam Bonjol
Yang pergi haji dan ketika pulang Melakukan Perlawanan terhadap Penjajah Belanda dengan Pasukan Paderinya.
5.       Samanhudi
Yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam
6.       Cokroaminoto
Yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam.
Hal-hal seperti inilah yangg merisaukan pihak Belanda. Maka salah satu upaya belanda untukk mengawasi dan memantau aktivitas serta gerak-gerik ulama-ulama ini adalah dengan mengharuskan penambahan gelar haji di depan nama orang yangg telah menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903.
Di Kepulauan Seribu, di Pulau Onrust dan Pulau Khayangan (sekarang Pulau Cipir), orang-orang yang pulang haji, banyak yangg di karantina di sana. Ada yang memang untukk dirawat dan diobati karena sakit akibat jauhnya perjalanan naik kapal, dan ada juga yangg disuntik mati kalau dipandang mencurigakan. Karena itu gelar haji menjadi semacam cap yangg memudahkan pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi mereka yang dipulangkan ke kampung halaman.

TIDAK SEMUA ORANG MERAIH HAI MABRUR

Setiap orang yangg pergi berhaji mencita citakan haji yangg mabrur. Haji mabrur bukanlah sekedar haji yangg sah. Mabrur artinya diterima oleh Allah, dan sah artinya menggugurkan kewajiban. Bisa jadii haji seseorang sah sehingga kewajiban berhaji baginya telah gugur, namun belum tentu hajinya diterima oleh Allah .
Jadi, tidakk semua yangg hajinya sah terhitung sebagai haji mabrur. Ibnu Rajab aluHanbali mengatakan :
 “Yangg hajinya mabrur sedikit, tapi mungkin Allah Azza wa Jalla memberikan karunia kepada jama`ah haji yangg tidak baik dikarenakan jama’ah haji yangg baik.”[3]

TANDA TANDA HAJI MABRUR

Bagaimanakah mengetahui mabrurnya haji seseorang? Apa perbedaan antar haji yangg mabrur dengan yangg tidak mabrur? Tentunya yangg menilai mabrur tidaknya haji seseorang ialah Allah semata. Kita tidakk bisa memastikan bahwa haji seseorang ialah haji yangg mabrur atau tidak. Para Ulama menyebutkan ada tandautanda mabrurnya haji, berdasarkan keterangan aluQur`ân dan Hadits. Namun, itu tidakk bisa memberikan kepastian mabrur tidaknya haji seserang.
Sebagian darii tandautanda ini barangkali berhubungan dengan pembahasan cara meraih haji mabrur, karena cara kita menjalankan ibadah haji juga bisa dijadikan cermin dalaam hal ini.

Di antara tandautanda haji mabrur yangg telah disebutkan para Ulama ialah:

1.       Pertama: Harta yangg dipakai untok haji ialah harta yangg halal, karena Allah Azza wa Jalla tidak menerima kecuali yangg halal, sebagaimana ditegaskan oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
Sungguh Allah baik, tidak menerima kecuali yangg baik.[4]

Orang yangg ingin hajinya mabrur harus memastikan bahwa seluruh harta yangg ia pakai untok haji ialah harta yangg halal, terutama bagi mereka yangg selama mempersiapkan biaya pelaksanaan ibadah haji tidak lepas darii transaksi dengan bank. Jika tidak, maka haji mabrur bagi mereka hanyalah jauh panggang darii api.
2.       Kedua: Amala amalannya dilakukan dengan baik, sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Paling tidak, rukun rukun dan kewajibannya dijalankan, dan semua larangan ditinggalkan. Jika terjadi kesalahan, maka hendaknya segera melakukan penebusan yangg telah ditentukan. Di samping itu, haji yangg mabrur juga memperhatikan keikhlasan hati, yangg seiring dengan majunya zaman semakin sulit dijaga. Mari merenungkan perkataan Syuraih aluQâdhi :

“Yangg (benar benar) berhaji sedikit, meski jama`ah haji banyak. Alangkah banyak orang yangg berbuat baik, tapi alangkah sedikit yangg ikhlas karena Allah Azza wa Jalla .”[6]

Pada zaman dahulu ada orang yangg menjalankan ibadah haji dengan berjalan kaki setiap tahun. Suatu malam ia tidur di atas kasurnya dan ibunya memintanya untok mengambilkan air minum. Ia merasakan berat untok bangkit memberikan air minum kepada sang ibu. Ia pun teringat perjalanan haji yangg selalu ia lakukan dengan berjalan kaki tanpa merasa berat. Ia mawas diri dan berpikir bahwa pandangan dan pujian manusialah yangg telah membuat perjalanan itu ringan. Sebaliknya saat meyendiri, memberikan air minum untok orang paling berjasa pun terasa berat. Akhirnya, ia pun menyadarii bahwa dirinya telah bersalah.[7]
3.       Ketiga : Hajinya dipenuhi dengan banyak amalan baik, seperti dzikir, shalat di Masjidil Haram, shalat pada waktunya, dan membantu teman seperjalanan.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Maka haji mabrur ialah yangg terkumpul di dalaamnya amalan amalan baik, dan menghindarii perbuatan perbuatan dosa.[8]

4.       Keempat: Tidak berbuat maksiat selama ihram.
Maksiat dilarang dalaam agama kita dalaam semua kondisi. Dalaam kondisi ihram, larangan tersebut menjadi lebih tegas, dan jika dilanggar, maka haji mabrur yangg diimpikan akan lepas.
5.       Kelima: Pulang darii haji dengan keadaan lebih baik.

Sekali lagi, yangg menilai mabrur tidaknya haji seseorang hanya Allah. Para Ulama hanya menjelaskan tanda tandanya sesuai dengan ilmu yangg telah Allah berikan kepada mereka. Biarlah gelar haji menjadi kekayaan budaya yang unik di Indonesia, karena ia juga merupakan tradisi yang tidakk disengaja sebelumnya. Selain itu juga merupakan Syiar Islam kepada masyarakat supaya orang tertarik untuk segera mengikuti menunaikan ibadah haji.


Sekian dariii kami mengenai Alasan Penamaan Gelar Haji di Indonesia dan ciri- ciri Haji Mabrur semoga bisa bermanfaat untok anda para kaula muda mudi yan g haus akan pengetahuan.

Referensi:

1.       Al-Qur`ân al-Karîm.
2.       Shahîh al-Bukhâri, Tahqîq Musthafa al-Bugha, Dâr Ibn Katsîr.
3.       Shahîh Muslim, Tahqîq Muhammad Fuâd `Abdul Bâqi, Dâr Ihyâ’ Turâts.
4.       Musnad Imam Ahmad, Tahqîq Syu’aib al-Arnauth, Muassasah Qurthûbah.
5.       Sunan al-Baihâqi al-Kubra, Cetakan Hyderabad, India.
6.       Silsilah al-Ahadîts ash-Shahîhah, Muhammad Nâshiruddin al-Albâni, Maktabah al-Ma’ârif.
7.       At-Târîkh al-Kabîr, al-Bukhâri, Tahqîq Sayyid Hâsyim an-Nadawi, Dârul Fikr.
8.       Lathaiful Ma’ârif fîma li Mawâsil ‘Am minal Wazhâif, Ibnu Rajab al-Hanbali, al-Maktabah asy-Syâmilah.Footnote
Foot Note
1.       HR. al-Bukhâri 3073) dan Muslim 2824.
2.       HR. al-Bukhâri 1683) dan Muslim 1349.
3.       Lathâiful Ma’ârif Fîma Li Mawâsimil ‘Am Minal Wazhâif 1/68.
4.       HR. Muslim 1015.
5.       Lathâiful Ma’ârif 2/49.
6.       Lathâiful Ma’ârif 1/257
7.       Ibid.[8]. Lathâiful Ma’ârif 1/67.
8.       HR. al-Baihaqi 2/413 (no. 10693), dihukumi shahîh oleh al-Hâkim dan al-Albâni dalaam Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah 3/262 (no. 1264)
9.       al-Baqarah 197.
10.    HR. Muslim (1350) dan yangg lain, dan ini ialah lafazh Ahmad di Musnad (7136)




Visitor