PERDEBATAN BENARKAH IJMA DAN QIYAS TERMASUK SUMBER HUKUM ISLAM



Makalah Dapatkah Ijma dan Qiyas Menjadi Sumber Hukum Islam? ,Pengertian ijma’ itu ialah kesepakatan, dan yang sepakat di sini ialah muhtahid muslim, berlaku dalaam suatu masa tertentu sesudah wafatnya Nabi., Apa Fungsi Qiyas? ,Apa Macam-macam Qiyas? ,Apa Perbedan Qiyas dengan Ijma? Apa Fungsi Ijma? ,Sebutkan Macam macam Ijma? ,  Apa Saja Ruang lingkup Qiyas dan Ijma? ,Jelaskan Objek Kajian Qiyas dan Ijma?


Sebuah tanya jawab di eramuslim. Menarik untukk disimak,
Assalamualaikum, Wr. Wb.
Baru-baru ini ana menghadiri taklim mingguan di madjid kita di perumahan. Setelah menyimak apa yangg disampaikan oleh guru atau penceramah waktu itu, ada sedikit 
Pertanyaan/permasalahan yangg mengganjal dalaam hati ana.
1. Apa memang benar ada hadist Nabi, SAW yangg melarang para ulama “ulama mazhab” untukk mengkiaskan suatu perkara dalaam mentukan hukum syariah, sebagai mana disampaikan oleh seorang ustadz “A” dalaam tasiahnya tersebut, Beliau mengutip hadist Nabi SAW, yangg artinya kira-kira ” Janganlah kalian mengiaskan suatu perkara dalaam Islam, karena kias itu hanyalah bangkai”, bagaimana ustadz??
2. Beliau, ustadz tersebut juga melarang kita mengikuti ijtihad para ulama “termasuk ulama mazhab”, sepanjang masih kita temukan hadits shoheh dalaam perkara tesebut. Dengaan alasan para Imam mazhab selalu mengatakan “apabila ada hadits shoheh itulah mazhabku, tinggalkan pendapattku.”
Ana jadi tambah bingung ustadz. Bukankah yangg menyimpulkan suatu hadist itu shoheh atau dhoif ialah para ulama hadist yangg merupakan hasil ijtihad mereka RA? Bagai menyikapinyaustadz?? Terimakasih.
Wassalamualikum, Wr. Wb.
S.harist
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Menarik sekali persoalan yangg anda angkat ini dan memang sepanjang sejarah seolah telah menjadi bahan polemik berkepanjangan, antara ‘kubu’ ahli hadits dan ‘kubu’ ahli fiqih.
Padahal sebenarnya kalau kita dudukkan secara seksama permasalahannya, tidak ada yangg perlu diributkan.

Metodologi Qiyas

Pengertian Qiyas ialah satu di antara empat sumber pengambilan hukum Islam yangg telah disepakati oleh seluruh lapisan ulama sepanjang zaman. Dan qiyas ini juga diakui dan digunakan oleh para tokoh muhadditsin yangg besar.
Tidak ada satu pun ulama fiqih atau pun ulama hadits yangg menentang kedudukan qiyas dalaam agama, kecuali orang-orang zindiq atau musuh-musuh Islam. Atau kemungkinan besar yangg terjadi hanyalah sekedar kesalahan dalaam memahami istilah qiyas.
Salah satu bukti bahwa qiyas telah digunakan dengaan damai oleh seluruh lapisan umat ialah ketika kita mengeluarkan zakat fithr dengaan beras atau uang. Dalaam kasus itu, jelas sekali kita pakai qiyas.
Sebab tidak ada satu pun nash baik Quran maupun sunnah darii Rasulullah SAW bahwa beliau dahulu mengeluarkan zakat dengaan beras atau uang. Dalaam hal ini, diakui atau tidak, sebenarnya qiyas sudah kita pakai dan kita dijalankan tanpa kita sadarii. Dan diakui oleh semua kalangan ulama manapun.
Dan kalau tidak digunakan qiyas, maka bangsa Indonesia terpaksa mengeluarkan zakat fithr dengaan kurma atau gandum. Dan rasanya kami belum pernah melihat ada yangg melakukannya di negeri kita. Lagian, siapa yangg mau makan siang hanya kurma doang?

Hakikat Qiyas

Qiyas terjadi karena adanya kesamaan ‘illat dalaam dua kasus. Ada al-ashlu (pokok) yangg sudah punya hukum karena ada nashnya, dan ada al-far’u (cabang) yangg belum punya hukum karena tidak ada nashnya.Lalusetelah diteliti dengaan seksama, didapatt bahwa antara keduanya ada ‘illat yangg sama. Maka hukumnya perkara far’u pun diqiyaskan dengaan hukum al-ashl. Dalaam hal zakat fithr ini ‘illat-nya ialah quth yaitu makanan pokok.

Ganja tidak pernah diharamkan di dalaam Al-Quran dan As-Sunnah. Yangg disebutkan keharamnnya hanyalah khamar. Dan secara pisik, khamar dikenal sebagai minuman perasan buah anggur yangg telah mengalami fermentasi tertentu. Sedangkan ganja bukan minuman, ganja ialah daun tanaman ganja yangg dikeringkan dan dihisap asapnya.
Tapi kita semua sepakat mengharamkan ganja, karena punya ‘illat yangg sama dengaan khamar, yaitu al-iskar (memabukkan). Pada hakikatnya kita sebenarnya bukan sekedar menerima konsep qiyas, bahkan sudah mempraktekkannya.

Sebaliknyakalau kita tidak pakai qiyas, ganja tidak haram untukk digunakan. Sebab tidak ada satu pun nash baik di Quran maupun di Sunnah yangg menyebutkan keharaman daun ganja.

Maksud Larangan Menggunakan Qiyas

Sebenarnya ketika ada larangan untukk menggunakan qiyas, yangg dimaksud bukanlah qiyas yangg dikenal dalaam ilmu ushul fiqih. Tetapi maksudnya penggunaan akal atau logika padahal secara tegas dan jelas-jelas telah bertentangan darii nash Quran atau Sunnah, tanpa bisa ditafsiri lagi. Itulah maksud darii larangan, “Janganlah kalian mengiyaskan agama.”

Contoh Qiyas yang dilarang :


Contoh sederhananya, ketika Allah SWT melarang kita makan babi, maka jadikanlah larangan darii Allah itu sebagai sebab darii kita tidak memakannya. Dan jangan mendahulukan logika dan menjadikan nash hanya sebagai isyarat keharaman. Misalnya, kita mengubah dasar pelarangan darii nash menjadi logika, lalu kita bilang bahwa haramnya babi karena binatang itu jorok, kotor dan mengandung cacing pita.
Padahal ketika diharamkan, tidak ada keterangan sedikit pun bahwa penyebab haramnya semata-mata karena babi itu hewan yangg jorok, kotor dan mengandung cacing pita.

Dan cara itu justru akan jadi titik masalah sendiri, sebab sangat dimungkinkan ke depan orang bisa melakukan rekayasa genetika hewan babi dan menghasilkan varitasbabi yangg higienis, bulunya putih bersih, keringatnya wangi, tinggalnya di dalaam rumah bukan dikandang, tiap hari creambath, pedikure, dan ditangani oleh para dokter ahli. Intinya, sama sekali jauh darii sifat kotor dan jorok. Bahkan teknologi pangan telah berhasil mematikan cacing pita, virus dan segala jenis penyakit di dalaam daging babi, maka apakah saat itu babi menjadi halal dimakan?
Jawabnya tetap tidak halal, karena nash Quran telah tegas menyebutkan bahwa babi itu haram dimakan. Haramnya bukan karena apa-apa, tetapi karena ‘kebabian’-nya itu sendiri. Semata-mata karena nash Quran dan Sunnah yangg mengharamkan, bukan sekedar akal manusia.

2. Tidak Mengikuti Ulama Mazhab dan Ikuti Hadits Shahih

Ungkapan seperti ini ada sisi benarnya tapi juga ada sisi tidak benarnya. Sisi benarnya, kita memang harus mendahulukan hadits shahih darii pada perkataan manusia. Itu jelas dan tegas sekali, seterang matahari di siang bolong yangg cerah.
Tapi pernyataan itu akan jadi tidak benar kalau kemudian dipahami bahwa ulama mazhab itu tidak menggunakan hadits shahih. Ini ialah sebuah tuhmah (tuduhan) yangg teramat keji kepada para ulama. Seolah-olah ulama mazhab itu goblok, bodoh dan tolol karena tidak paham membedakan mana hadits shahih dan dhaif.
Rupanya di zaman sekarang ini ada oknum-oknum yangg ingin menjatuhkan citra para ulama fiqih. Dan kemudian dikesankan kalau ulama fiqih itu tidak paham hadits, atau malah dituduh sebagai orang yangg kerjanya memakai hadits yangg dhaif.

Semua Ulama Mazhab Mendahulukan Hadits Shahih

Semua ulama mazhab sudah pasti mendahulukan hadits shahih. Bahkan para pendiri dan ulama seniornya banyak yanggberkapasitas sebagai muhaddits. Tidak ada rumusnya kalau ada ulama, apalagi mujtahid mutlak semacam Imam Asy-Syafi’i misalnya, kok dibilang tidak mengerti hadits atau tidak mau menggunakan hadits shahih.
Sementara jarak waktu yangg memisahkan antara beliau dengaan Rasulullah SAW hanya terpaut 140 tahun saja. Sementara era keemasan para muhadditsin seperti Al-Bukhari dan lainnya, baru dimulai 200 tahun sepeniggal Rasulullah SAW. Jadi era para imam mazhab yangg empat itu lebih dekat ke Rasulullah SAW darii pada era para muhaddits besar.
Secara nalar yangg sederhana, kemungkinan keselamatan periwayatan akan lebih baik kalau sanadnya tidak terlalu panjang.

Keshahihan Hadits: Khilafiyah

Kalau di dalaam ilmu fiqih kita mengenal istilah khilafiyah, maka di dalaam ilmu kritik hadits kita juga mengenal kejadian yangg sama. Ternyata para muhaddits itu pun tidak luput darii perbedaan pendapatt.
Makajangan dikira keshahihan suatu hadits ialah kebenaran yangg mutlak dan satu. Tiap hadits yangg dibilang shahih itu sebenarnya masih bersifat tentatif dan subjektif. Shahih menurut siapa dan dha’if menurut siapa?
Kita ambil contoh sederhana, sebuah hadits yangg dibilang shahih oleh seorang muhaddits, belum tentu dishahihkan oleh muhaddits lainnya. Belum tentu ketika Al-Bukhari menshahihkanhadits, lalu hadits itu dishahihkan juga oleh At-Tirmizy. Dan hal yangg sama berlaku juga sebaliknya.
Dan yangg lebih ajaib, ada tokoh yangg sering mengeluarkan statemen tentang keshahihan atau kedhaifan suatu hadits, terkadang dia mengoreksi lagi pernyataannya. Bahkan bukan mengoreksi tapi memang keluar darii kekurang-telitiannya dalaam mengeluarkan statemen.
Salah satu yangg bisa kita sebut misalnya Syeikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Beliau banyak berjasa dalaam meneliti hadits, sehingga kitab hadits yangg enam itu beliau pilah lagi berdasarkan mana yangg shahih dan mana yangg tidak shahih. Sehingga jumlah jilidnya menjadi lebih tebal dan banyak, tentu saja harganya lebih mahal.
Namun setelah diteliti, ternyata ada banyak juga muncul ketidak-konsistenan seorang Al-Albani. Di satu kitab, beliau menshahihkan suatu hadits, tapi hadits yangg sama di kitab lainnya dibilangnya dhaif. Lalu mana yangg benar? Wallahu a’lam. Hanya beliau dan Allah SWT saja yangg tahu.
Intinya, keshahihan suatu hadits sebenarnya juga masalah khilafiyah juga. Ketika ada seorang tokoh mengatakan bahwa suatu haditsi itu shahih, maka keshahihan hadits itu harus dipahami terbatas pada ijtihad dan pendapattnya. Belum tentu muhaddits lain mengatakannya shahih. Dan hal yangg sama berlaku pula ke balikannya.
Karena itulah ketika Al-Imam Asy-Syafi’i tetap mengatakan bahwa qunut pada shalat shubuh itu sunnah muakkadah, kita tidak bisa menuduh bahwa beliau sebagai ahli bid’ah, lantaran kita menganggap tidak ada hadits yangg shahih tentang qunut shubuh.
Meski para ulama lainnya banyak yangg mendhaifkan hadits tentang qunut shalat shubuh, namun As-Syafi’i punya alasan tersendiri mengapabeliau bersikeras mengatakan bahwa hadits itu shahih. Dan beberapa ratus tahun kemudian, hadits itu dishahihkan oleh Imam Al-Baihaqi, muhaddits besar di era tahun 300-a hijriyah. Beliau lahir tahun 384 hijriyah.

Kesimpulan

Mazhab dan para ulamanya tidak bisa dijadikan tandingan hadits shahih, tetapi sebaliknya, semua mazhab dan ulamanya ialah para pembela hadits shahih. Salah besar kalau kita punya paradigma keliru seperti itu. Kalau ternyata pendapatt ulama mazhab berbeda, harus diketahui bahwa pendapatt para ulama hadits dalaam menshahihkan hadits pun berbeda juga

Visitor