Hukum Waris Ashabah (Macam, Penghitungan & Pentashihan)



Makalah Apa Pengertian Ashabah? Hukum Waris Islam? Pembagian Warisan Menurut Islam? Macam Ashabah ? Penghitungan dan Pentashihan Ashabah? Makalah Pengertian 'ashabah bin nafs? Arti 'ashabah bil ghair? Arti 'ashabah ma'al ghair? Contoh Masalah Ashabah?




A.      Ashabah

Ashabah ialah ahli waris yangg tidakk disebutkan banyaknya bagian di dalaam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengaan tegas
Kata 'ashabab dalaam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dariii pihak bapak. Disebut demikian, dikarenakan mereka --yakni kerabat bapak-- menguatkan dan melindungi. Sedangkan pengertian 'ashabah menurut istilah para fuqaha ialah ahli waris yanggg tidakkk disebutkan banyaknya bagian di dalaam Al-Qur'an dan As-Sunnah dengaan tegas. Pengertian 'ashabah yanggg sangat masyhur di kalangan ulama faraid ialah orang yanggg menguasai harta waris karena ia menjadi ahli waris tunggal. Selain itu, ia juga menerima seluruh sisa harta warisan setelah ashhabul furudh menerima dan mengambil bagian masing-masing.

1)       Macam-macam 'Ashabah

'Ashabah terbagi dua yaitu: 'ashabah nasabiyah (karena nasab) dan 'ashabah sababiyah (karena sebab). Jenis 'ashabah yanggg kedua ini disebabkan memerdekakan budak. Oleh sebab itu, seorang tuan (pemilik budak) dapatt menjadi ahli waris bekas budak yanggg dimerdekakannya apabila budak tersebut tidakkk mempunyai keturunan. Sedangkan 'ashabah nasabiyah terbagi tiga yaitu: (1) 'ashabah bin nafs (nasabnya tidakkk tercampur unsur wanita), (2) 'ashabah bil ghair (menjadi 'ashabah karena yanggg lain), dan (3) 'ashabah ma'al ghair (menjadi 'ashaba bersama-sama dengaan yanggg lain).

a.       'Ashabah bin nafs

1)       Arah anak, mencakup seluruh laki-laki keturunan anak laki-laki mulai cucu, cicit, dan seterusnya.
2)       Arah bapak, mencakup ayah, kakek, dan seterusnya, yanggg pasti hanya dariii pihak laki-laki, misalnya ayah dariii bapak, ayah dariii kakak, dan seterusnya.
3)       Arah saudara laki-laki, mencakup saudara kandung laki-laki, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki keturunan saudara kandung laki-laki, anak laki-laki keturunan saudara laki-laki seayah, dan seterusnya. Arah ini hanya terbatas pada saudara kandung laki-laki dan yanggg seayah, termasuk keturunan mereka, namun hanya yanggg laki-laki. Adapun saudara laki-laki yanggg seibu tidakkk termasuk 'ashabah disebabkan mereka termasuk ashhabul furudh.
4)       Arah paman, mencakup paman (saudara laki-laki ayah) kandung maupun yanggg seayah, termasuk keturunan mereka, dan seterusnya.

b.       'Ashabah bi Ghairihi

'Ashabah bi ghairihi hanya terbatas pada empat orang ahli waris yanggg kesemuanya wanita:
1)       Anak perempuan, akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengaan saudara laki-lakinya (yakni anak laki-laki).
2)       Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan menjadi 'ashabah bila berbarengan dengaan saudara laki-lakinya, atau anak laki-laki pamannya (yakni cucu laki-laki keturunan anak laki-laki), baik sederajat dengaannya atau bahkan lebih di bawahnya.
3)       Saudara kandung perempuan akan menjadi 'ashabah bila bersama saudara kandung laki-laki.
4)       Saudara perempuan seayah akan menjadi 'ashabah bila bersamaan dengaan saudara laki-lakinya, dan pembagiannya, bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan.

c.        'Ashabah ma'al Ghair

'Ashabah ma'al Ghair ini khusus bagi para saudara kandung perempuan maupun saudara perempuan seayah apabila mewarisi bersamaan dengaan anak perempuan yanggg tidakkk mempunyai saudara laki-laki. Jadi, saudara kandung perempuan ataupun saudara perempuan seayah bila berbarengan dengaan anak perempuan –atau cucu perempuan keturunan anak laki-laki dan seterusnya—akan menjadi 'ashabah. Jenis 'ashabah ini di kalangan ulama dikenal dengaan istilah 'ashabah ma'al ghair.


B.       Penghitungan dan Pentashihan

Mengetahui pokok masalah merupakan suatu keharusan bagi kita yanggg mengkaji ilmu faraid. Hal ini agar kita dapatt mengetahui secara pasti bagian setiap ahli waris, hingga pembagiannya benar-benar adil, tanpa mengurangi atau melebihkan hak masing-masing. Persoalan "pokok masalah" ini di kalangan ulama faraid dikenal dengaan istilah at-ta'shil, yanggg berarti usaha untukk mengetahui pokok masalah. Dalaam hal ini, yanggg perlu diketahui ialah bagaimana dapatt memperoleh angka pembagian hak setiap ahli waris tanpa melalui pemecahan yanggg rumit. Karena itu, para ulama ilmu faraid tidakkk mau menerima kecuali angka-angka yanggg jelas dan benar (maksudnya tanpa menyertakan angka-angka pecahan, penj.).
Untukk mengetahui pokok masalah, terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa-siapa ahli warisnya. Artinya, kita harus mengetahui apakah ahli waris yanggg ada semuanya hanya termasuk 'ashabah, atau semuanya hanya dariii ashhabul furudh, atau gabungan antara 'ashabah dengaan ashhabul furudh.
Apabila seluruh ahli waris yanggg ada semuanya dariii 'ashabah, maka pokok masalahnya dihitung per kepala --jika semuanya hanya dariii laki-laki. Misalnya, seseorang wafat dan meninggalkan lima orang anak laki-laki, maka pokok masalahnya dariii lima. Atau seseorang wafat meninggalkan sepuluh saudara kandung laki-laki, maka pokok masalahnya dariii sepuluh.
Bila ternyata ahli waris yanggg ada terdiri dariii anak laki-laki dan perempuan, maka satu anak laki-laki kita hitung dua kepala (hitungan), dan satu wanita satu kepala. Hal ini diambil dariii kaidah qur'aniyah: bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan. Pokok masalahnya juga dihitung dariii jumlah per kepala.
Kaidah ini sangat mudah sekaligus mempermudah kita untukk memahami pokok masalah ketika ahli waris terdiri dariii berbagai sahib fardh yanggg mempunyai bagian berbeda-beda. Para ulama faraid membagi kaidah tersebut menjadi dua bagian: Pertama: bagian setengah (1/2), seperempat (1/4), dan seperdelapan (1/8). Kedua: bagian dua per tiga (2/3), sepertiga (1/3), dan seperenam (1/6).
Apabila para ashhabul furudh hanya terdiri dariii bagian yanggg pertama saja (yakni 1/2, 1/4, 1/8), berarti pokok masalahnya dariii angka yanggg paling besar. Misalnya, bila dalaam suatu keadaan, ahli warisnya dariii sahib fardh setengah (1/2) dan seperempat (1/4), maka pokok masalahnya dariii empat (4).
Misal lain, bila dalaam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dariii para sahib fardh setengah (1/2), seperempat (1/4), dan seperdelapan (1/8) –atau hanya seperempat dengaan seperdelapan-- maka pokok masalahnya dariii delapan  (8). Begitu juga bila dalaam suatu keadaan ahli warisnya terdiri dariii sahib fardh sepertiga (1/3) dengaan seperenam (1/6) atau dua per tiga (2/3) dengaan seperenam (1/6), maka pokok masalahnya dariii enam (6). Sebab angka tiga merupakan bagian dariii angka enam. Maka dalaam hal ini hendaklah diambil angka penyebut yanggg terbesar.
Akan tetapi, jika dalaam suatu keadaan ahli warisnya bercampur antara sahib fardh kelompok pertama (1/2, 1/4, dan 1/8) dengaan kelompok kedua (2/3, 1/3, dan 1/6) diperlukan kaidah yanggg lain untukk mengetahui pokok masalahnya.
Pokok Masalah dan enam (6)
Suami Setengah (1/2)
3
Saudara laki- laki seibu seperenam (1/6)
1
Ibu Sepertiga (1/3)
2
Paman kandung, sebagai ‘ashabah
0
Pokok Masalah dariii dua belas (12)
Istri seperempat (1/4)
3
Ibu Seperenam (1/6)
2
Dua saudara laki- laki seibu sepertiga (1/3)
4
Saudara kandung laki- laki sebagai ‘ashabah (sisanya)
3

Pokok Masalah dariii 24
Bagian Istri seperdelapan (1/8)
Berarti
3
Bagian anak perempuan setengah (1/2)
Berarti
12
Cucu perempuan dariii anak laki- laki seperenam (1/6)
Berarti
4
Bagian ibu seperenam (1/6)
Berarti
4
Saudara kandung laki- laki sebagai ‘ashabah (sisa)

1


Sekian dariiiii kami mengenai Macam- Macam Ashabah dan Penghitungan dan Pentashihan semoga bisa bermanfaat untok anda para kaula muda mudi yan g haus akan pengetahuan.

Visitor