Pengertian Ashabul Furudh Beserta Macam- Macamnya.



Makalah Pengertian Ashabul Furud? Ahli waris? Pembagian warisan? Pembagian Ashabul Furud? Pembagian harta warisan? Macam Ashabul Furud? Persamaan & Perbedaan sistem hukum Islam dengan KUH Perdata?


Pembagian Waris

1.       Menurut Al Qur’an

Jumlah bagian yangg telah ditentukan Al-Qur'an ada enam macam, yaitu setengah (1/2), seperempat (1/4), seperdelapan (1/8), dua per tiga (2/3), sepertiga (1/3), dan seperenam (1/6). Kini mari kita kenali pembagiannya secara rinci, siapa saja ahli waris yangg termasuk ashhabul furudh dengaan bagian yangg berhak ia terima.

a.       Ashhabul Furudh yang Berhak Mendapatt Setengah

Ashhabul furudh yangg berhak mendapattkan separo dariii harta waris peninggalan pewaris ada lima, satu dariii golongan laki-laki dan empat lainnya perempuan. Kelima ashhabul furudh tersebut ialah suami, anak perempuan, cucu perempuan keturunan anak laki-laki, saudara kandung perempuan, dan saudara perempuan seayah. Rinciannya seperti berikut:
1)       Seorang suami berhak untukk mendapattkan separo harta warisan, dengaan syarat apabila pewaris tidakk mempunyai keturunan, baik anak laki-laki maupun anak perempuan, baik anak keturunan itu dariii suami tersebut ataupun bukan. Dalilnya ialah firman Allah:
"... dan bagi kalian (para suami) mendapatt separo dariii harta yangg ditinggalkan istri-istri kalian, bila mereka (para istri) tidakk mempunyai anak ..." (an-Nisa': 12)
2)       Anak perempuan (kandung) mendapatt bagian separo harta peninggalan pewaris, dengaan dua syarat :
a.        Pewaris tidakk mempunyai anak laki-laki (berarti anak perempuan tersebut tidakk mempunyai saudara laki-laki, penj.).
b.       Apabila anak perempuan itu ialah anak tunggal. Dalilnya ialah firman Allah: "dan apabila ia (anak perempuan) hanya seorang, maka ia mendapatt separo harta warisan yangg ada". Bila kedua persyaratan tersebut tidakk ada, maka anak perempuan pewaris tidakk mendapatt bagian setengah.
3)       Cucu perempuan keturunan anak laki-laki akan mendapatt bagian separo, dengaan tiga syarat:
a.        Apabila ia tidakk mempunyai saudara laki-laki (yakni cucu lakilaki dariii keturunan anak laki-laki).
b.       Apabila hanya seorang (yakni cucu perempuan dariii keturunan anak laki-laki tersebut sebagai cucu tunggal).
c.        Apabila pewaris tidakk mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki.
4)       Saudara kandung perempuan akan mendapatt bagian separo harta warisan, dengaan tiga syarat :
a.        Ia tidakk mempunyai saudara kandung laki-laki.
b.       Ia hanya seorang diri (tidakk mempunyai saudara perempuan).
c.        Pewaris tidakk mempunyai ayah atau kakek, dan tidakk pula mempunyai keturunan, baik keturunan laki-laki ataupun keturunan perempuan.
5)       Saudara perempuan seayah akan mendapatt bagian separo dariii harta warisan peninggalan pewaris, dengaan empat syarat:
a.        Apabila ia tidakk mempunyai saudara laki-laki.
b.       Apabila ia hanya seorang diri.
c.        Pewaris tidakk mempunyai saudara kandung perempuan.
d.       Pewaris tidakk mempunyai ayah atau kakak, dan tidakk pula anak, baik anak laki-laki maupun perempuan.

b.   Ashhabul furudh yangg Berhak Mendapatt Seperempat

Adapun kerabat pewaris yangg berhak mendapatt seperempat (1/4) dariii harta peninggalannya hanya ada dua, yaitu suami dan istri. Rinciannya sebagai berikut :
1)       Seorang suami berhak mendapatt bagian seperempat (1/4) dariii harta peninggalan istrinya dengaan satu syarat, yaitu bila sang istri mempunyai anak atau cucu laki-laki dariii keturunan anak lakilakinya, baik anak atau cucu tersebut dariii darah dagingnya ataupun dariii suami lain (sebelumnya). Hal ini berdasarkan firman Allah berikut :
"... Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapatt seperempat dariii harta yangg ditinggalkannya É" (an-Nisa': 12)
2)       Seorang istri akan mendapatt bagian seperempat (1/4) dariii harta peninggalan suaminya dengaan satu syarat, yaitu apabila suami tidakk mempunyai anak/cucu, baik anak tersebut lahir dariii rahimnya ataupun dariii rahim istri lainnya. Ketentuan ini berdasarkan firman Allah berikut :
"... Para istri memperoleh seperempat harta yangg kamu tinggalkan jika kamu tidakk mempunyai anak ..." (an-Nisa': 12)

c.   Ashhabul furudh yangg Berhak Mendapatt Seperdelapan

Dariii sederetan ashhabul furudh yangg berhak memperoleh bagian seperdelapan (1/8) yaitu istri. Istri, baik seorang maupun lebih akan mendapattkan seperdelapan dariii harta peninggalan suaminya, bila suami mempunyai anak atau cucu, baik anak tersebut lahir dariii rahimnya atau dariii rahim istri yangg lain. Dalilnya ialah firman Allah SWT :
"... Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dariii harta yangg kamu tinggalkan sesudah dipenuh, wasiat yangg kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu ..." (an- Nisa': 12)"

d.       Ashhabul furudh yangg Berhak Mendapatt Bagian Dua per Tiga

Ahli waris yangg berhak mendapatt bagian dua per tiga (2/3) dariii harta peninggalan pewaris ada empat, dan semuanya terdiri dariii wanita:
1.       Dua anak perempuan (kandung) atau lebih.
2.       Dua orang cucu perempuan keturunan anak laki-laki atau lebih.
3.       Dua orang saudara kandung perempuan atau lebih.
4.       Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih.
Ketentuan ini terikat oleh syarat-syarat seperti berikut :
1)       Dua anak perempuan (kandung) atau lebih itu tidakk mempunyai saudara laki-laki, yakni anak laki-laki dariii pewaris. Dalilnya firman Allah berikut:
"... dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dariii dua, maka bagi mereka dua per tiga dariii harta yangg ditinggalkan ..." (an-Nisa': 11) 
Ada satu hal penting yangg mesti kita ketahui agar tidakk tersesat dalaam memahami hukum yangg ada dalaam Kitabullah. Makna "fauqa itsnataini" bukanlah 'anak perempuan lebih dariii dua', melainkan 'dua anak perempuan atau lebih', hal ini merupakan kesepakatan para ulama. Mereka bersandar pada hadits Rasulullah saw. yangg diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yangg mengisahkan vonis Rasulullah terhadap pengaduan istri Sa'ad bin ar-Rabi' r.a. --sebagaimana diungkapkan dalaam bab sebelum ini. Hadits tersebut sangat jelas dan tegas menunjukkan bahwa makna ayat itsnataini ialah 'dua anak perempuan atau lebih'. Jadi, orang yangg berpendapatt bahwa maksud ayat tersebut ialah "anak perempuan lebih dariii dua" jelas tidakk benar dan menyalahi ijma' para ulama. Wallahu a'lam.
2)       Dua orang cucu perempuan dariii keturunan anak laki-laki akan mendapattkan bagian dua per tiga (2/3), dengaan persyaratan sebagai berikut:
a.        Pewaris tidakk mempunyai anak kandung, baik laki-laki atau perempuan.
b.       Pewaris tidakk mempunyai dua orang anak kandung perempuan.
c.        Dua cucu putri tersebut tidakk mempunyai saudara laki-laki.
3)       Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) akan mendapatt bagian dua per tiga dengaan persyaratan sebagai berikut:
a.        Bila pewaris tidakk mempunyai anak (baik laki-laki maupun perempuan), juga tidakk mempunyai ayah atau kakek.
b.       Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) itu tidakk mempunyai saudara laki-laki sebagai 'ashabah.
c.        Pewaris tidakk mempunyai anak perempuan, atau cucu perempuan dariii keturunan anak laki-laki. Dalilnya ialah firman Allah:
"... tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua per tiga dariii harta yangg ditinggalkan oleh yangg meninggal ..." (an-Nisa': 176)
4)       Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) akan mendapatt bagian dua per tiga dengaan syarat sebagai berikut:
a.        Bila pewaris tidakk mempunyai anak, ayah, atau kakek.
b.       Kedua saudara perempuan seayah itu tidakk mempunyai saudara laki-laki seayah.
c.        Pewaris tidakk mempunyai anak perempuan atau cucu perempuan dariii keturunan anak laki-laki, atau saudara kandung (baik laki-laki maupun perempuan).

e.       Ashhabul furudh yangg Berhak Mendapatt Bagian Sepertiga

Adapun ashhabul furudh yangg berhak mendapattkan warisan sepertiga bagian hanya dua, yaitu ibu dan dua saudara (baik laki-laki ataupun perempuan) yangg seibu. Seorang ibu berhak mendapattkan bagian sepertiga dengaan syarat:
1)       Pewaris tidakk mempunyai anak atau cucu laki-laki dariii keturunan anak laki-laki.
2)       Pewaris tidakk mempunyai dua orang saudara atau lebih (laki-laki maupun perempuan), baik saudara itu sekandung atau seayah ataupun seibu. Dalilnya ialah firman Allah :
"... dan jika orang yangg meninggal tidakk mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapatt sepertiga..." (an-Nisa': 11) Juga firman-Nya:
"... jika yangg meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapatt seperenam..." (an-Nisa': 11)

f.        Asbhabul Furudh yangg Mendapatt Bagian Seperenam

Adapun asbhabul furudh yangg berhak mendapatt bagian seperenam (1/6) ada tujuh orang. Mereka ialah (1) ayah, (2) kakek asli (bapak dariii ayah), (3) ibu, (4) cucu perempuan keturunan anak laki-laki, (5) saudara perempuan seayah, (6) nenek asli, (7) saudara laki-laki dan perempuan seibu.

2.       Persamaan dan perbedaan antara sistem hukum Islam dengaan sistem KUH Perdata (BW).

Sistem hukum kewarisan menurut KUH Perdata tidakk membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan, antara suami dan isteri, mereka berhak semua mewaris, dan bagian anak laki-laki sama dengaan bagian anak perempuan, bagian seorang isteri atau suami sama dengaan bagian anak.
Apabila dihubungkan dengaan sistem keturunan, maka KUH Perdata menganut system keturunan Bilateral, dimana setiap orang itu menghubungkan dirinya dengaan keturunan ayah mapun ibunya, artinya ahli waris berhak mewaris dariii ayah jika ayah meninggal dan berhak mewaris dariii ibu jika ibu meninggal, berarti ini ada persamaan dengaan hukum Islam. Persamaanya apabila dihubungkan antara sitem hukum waris menurut Islam dengaan sistem kewarisan menurut KUH Perdata, baik menurut KUH Perdata maupun menurut hukum kewarisan Islam sama-sama menganut system kewarisan individual, artinya sejak terbukanya waris (meninggalnya pewaris) harta warisan dapatt dibagi-bagi pemilikannya antara ahli waris. Tiap ahli waris berhak menuntut bagian warisan yangg menjadi haknya. Jadi sistem kewarisan yangg dianut oleh KUH Perdata ialah sistem kewarisan individul bilateral (Subekti, 1953: 69), sedangkan perbedaannya ialah terletak pada saat pewaris meninggal dunia, maka harta tersebut harus dikurangi dulu pengluaran-pengluaran antara lain apakah harta tersebut sudah dikeluarkan zakatnya, kemudian dikurangi untukk membayar hutang atau merawat jenazahnya dulu, setelah bersih, baru dibagi kepada ahli waris, sedangkan menurut KUH Perdata tidakk mengenal hal tersebut, perbedaan selanjutnya ialah terletak pada besar dan kecilnya bagian yangg diterima para ahli waris masing-masing, yangg menurut ketentuan KUH Perdata semua bagian ahli waris ialah sama, tidakk membedakan apakah anak, atau saudara, atau ibu dan lain-lain, semua sama rata, sedangkan menurut hukum Islam dibedakan bagian antara ahli waris yangg satu dengaan yangg ahli waris yangg lain.
Persamaan tersebut disebabkan karena pola dan kebutuhan masyarakat yangg universal itu ialah sama, sedangkan perbedaanperbedaan itu disebabkan karena cara berfikir orang-orang barat ialah abstrak, analistis dan sistematis, dan pandangan hidup mereka ialah individulaistis dan materialistis, sedangkan hukum Islam dilatar belakangi oleh cara berfikir yangg logis, riil dan konkrit, dan pandangan hidup dalaam hukum Islam didasarkan pada sistem kekeluargaan dan bersifat rohani (magis).


Sekian dariiiii kami mengenai Pembagian Ahli Waris semoga bisa bermanfaat untok anda para kaula muda mudi yan g haus akan pengetahuan.


Visitor