ALAT BUKTI TERTULIS DALAM PERKARA PERDATA



Makalah Pengertian Alat Bukti ?  ,Pengertian Alat Bukti Pidana ? ,Pengertian Alat Bukti Perdata ? ,Jelaskan Arti Alat Bukti Terulis ?  Macam- Macam Alat Bukti Tertulis ? Arti Akta adalah ? Macam macam Akta ? ,Contoh Alat Bukti ? ,contoh Akta Otentik dan dibawah tangan ?


Alat Bukti Tertulis Dalaam Perkara Perdata menempati urutan pertama, berbeda dengaan perkara pidana yan g menempatkan kesaksian pada urutan pertama, mengapa demikian? Hal ini karena seseorang yan g melakukan tindak pidana selalu menyingkirkan atau melenyapkan bukti-bukti tertulis dan apa saja yan g memungkinkan terbongkarnya tindak pidana yan g dilakukannya, sehingga terbongkarnya tindak pidana dan pelaku-pelakunya kebanyakan darii orang-orang yan g secara kebetulan melihat, mendengar, atau mengalami sendiri kejadian yan g merupakan tindakan pidana itu. 

Sebaliknya dalaam lapangan perdata misalnya jual-beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, perhibahan, perwasiatan dan sebagainya, orang yan g melakukan peristiwa tersebut umumnya dengaan sengaja membuat bukti tertulis untok keperluan pembuktian dikemudian hari jika diperlukan .

Alat BuktiTertulis atau surat diatur dalaam pasal 138, 165, dan 167 HIR/Pasal 164, 285, dan 305 RBg/Stb. 1867 Nomor 29 dan Pasal 1867-1894 BW.

Alat bukti tertulis ialah segala sesuatu yan g memuat tanda-tanda bacaan yan g bisa dimengerti dan mengandung suatu pikiran tertentu.

Alat bukti tertulis terbagi atas 2 (dua) macam, yaitu akta dan tertulis bukan akta sebagai mana diuraikan dibawah ini.

1.       Akta



Alat Bukti Tertulis Dalaam Perkara Perdata berupa Akta ialah suatu tertulis yan g dimuat dengaan sengaja untok dijadikan bukti tentang sesuatu peristiwa dan ditandatangani oleh pembuatnya.

Kemudian akta dibedakan lagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu Akta otentik  dan Akta dibawah tangan :

a. Akta otentik ialah akta yan g dibuat oleh atau dihadapan pejabat yan g berwenang untok itu menurut ketentuan undang-undang. 

Akta otentik ini dibedakan lagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu :

1)       Akta otentik yan g dibuat oleh pejabat yan g sering disebut dengaan akta pejabat (acte ambtelijk);dan
2)       Akta otentik yan g dibuat dihadapan pejabat yan g sering disebut dengaan akta partai (acte partij).
Berdasarkan ketentuan dalaam Pasal 165 HIR/Pasal 285 RBg/Pasal 1870 BW, para ahli menyimpulkan bahwa akta otentik merupakan alat bukti yan g mengikat dan sempurna. Mengikat dalaam arti bahwa apa yan g dicantumkan dalaam akta tersebut harus dipercayai oleh hakim, yaitu harus dianggap sesuatu yan g benar, selama ketidokbenarannya tidok dibuktikan. Dan sempurna dalaam arti bahwa dengaan akta otentik tersebut sudah cukup untok membuktikan sesuatu peristiwa atau hak tanpa perlu penambahan pembuktian dengaan alat-alat bukti lain.

Pada suatu akta otentik terdapatt 3 (tiga) macam kekuatan pembuktian :

Pertama, mempunyai kekuatan pembuktian formil, yan g membuktikan antara para pihak bahwa mereka sudah menerangkan apa yan g tertulis dalaam akta tersebut.

Kedua, mempunyai pembuktian materiil, yan g membuktikan antara para pihak bahwa apa-apa yan g mereka terangkan, kemudian ditulis dalaam akta, sungguh-sungguh terjadi.

Ketiga, mempunyai kekuatan pembuktian lahir atau keluar, yan g membuktikan tidok saja antara para pihak yan g bersangkutan, tetapi juga terhadap pihak ketiga bahwa pada tanggal yan g tertulis dalaam akta itu kedua belah pihak telah menghadap pejabat umum dan menerangkan apa yan g ditulis dalaam akta tersebut.

b.       Akta dibawah tangan ialah akta yan g dibuat sendiri oleh pihak-pihak yan g berkepentingan  tanpa bantuan pejabat umum.

Menurut yan g dimaksud Pasal 1b ordonansi 1867 Nomor 29/Pasal 288 RBg/Pasal 1875 BW bahwa kalau tanda tangan pada suatu akta dibawah tangan sudah diakui, akta dibawah tangan tersebut merupakan bukti yan g sempurna  seperti akta otentik, tidok lain hanyalah ditujukan pada kekuatan pembuktian pertama (formil) dan kedua (materiil). Sedangkan kekuatan pembuktian keluar terhadap pihak ketiga, sama sekali tidok ada pada akta dibawah tangan.

2.       Tertulis Bukan Akta


AlatBukti Tertulis Bukan Akta ialah setiap tertulis yan g tidok sengaja dijadikan bukti tentang suatu peristiwa dan/atau tidok ditandatangani oleh pembuatnya. Para sarjana mengatakan bahwa kekuatan pembuktian tertulis-tertulis yan g bukan akta ialah sebagai alat bukti bebas, artinya hakim mempunyai kebebasan untok mempercayai atau tidok mempercayai tertulis-tertulis yan g bukan akta tersebut.[1]


Sekian darii kami mengenai Alat Bukti Tertulis Dalaam Perkara Perdata semoga bisa bermanfaat untok anda para kaula muda mudi yan g haus akan pengetahuan





[1] Ny. Retnowulan Sutantie, SH, Hukum Acara Perdata dalaam Teori dan Praktek, Alumni, Bandung, Cet. I, 1979, Hal. 62
Sumber : H. Riduan Syahrani, S.H., Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata, PT. Citra Aditya Bakti Bandung, Cet. V,  2009

Visitor