Alat Bukti Saksi Dalam Hukum Acara Perdata

 


Makalah Pengertian Bukti dan Saksi ? ,Pengertian Alat Bukti Saksi ? ,Pengertian Alat Bukti Saksi Ahli ? ,Jelaskan Arti Bukti Saksi ?  Macam- Macam Alat Bukti Saksi? Syarat Formil Alat Bukti Saksi ? ,Syarat Materil Alat Bukti Saksi ? Undang- undang Alat Bukti Saksi ?

 Alat Bukti Saksi


1. Arti dan dasar alat bukti saksi

Berikut Alat Bukti Saksi Dalam Hukum Acara Perdata Jika bukti tulisan tidak ada, maka dala m perkara perdata orang berusaha mendapattkan saksi-saksi yan g dapatt membenarkan atau menguatkan dalil-dalil yan g diajukan dimuka sidang hakim.

Saksi-saksi itu ada yan g kebetulan melihat atau yan g mengalami sendiri suatu peristiwa yan g harus dibuktikan di muka hakim, ada keterangan saksi yan g diperoleh darii orang lain, ia tidak mendengar atau melihat sendiri, hanya ia dengar darii orang lain tentang kejadian tersebut atau hal-hal tersebut, ini disebut testimonium de auditu, dan ada yan g dulu dengn sengaja diminta menyaksikan suatu perbuatan hukum yan g sedang dilakukan, misalnya menyaksikan pembagian warisan, menyaksikan suatu pernikahan dan lain sebagainya.

Wirjono Prodjodikoro dala m bukunya Hukum Acara Perdata di Indonesia menyatakan bahwa :
“Sementara orang berpendapatt dengn adanya Pasal 171 ayat (2), maka kesaksian darii orang lain (testimonium de auditu) tidak dibolehkan. Sebenarnya testimonium de auditu bukan merupakan suatu pendapatt atau persangkaan yan g didapatt secara berpikir, karena itu tidak dilarang. Hanya saja harus diingat bahwa yan g dikemukakan oleh saksi ialah kenyataan, bahwa orang ketiga diluar sidang pengadilan pernah mengatakan sesuatu. Tidak ada larangan untok mempergunakan perkataan orang tersebut guna menyusun suatu alat bukti berupa persangkaan.” [i]
Keterangan yan g diberikan saksi haruslah tentang peristiwa atau sesuatu yan g dilihat sendiri, didengar sendiri, atau dialami sendiri. Jadi yan g dimaksud bukti dengn saksi atau kesaksian ialah keterangan yan g diberikan oleh seorang saksi didepan sidang pengadilan tentang suatu peristiwa, kejadian atau keadaan tertentu yan g ia dengar sendiri, lihat sendiri dan dialami sendiri.

Dala m Pasal 300 ayat (1) HIR mengatakan bahwa hakim Pengadilan Negeri tidak boleh menjatuhkan pidana kepada terdakwa jika terdakwa menyan gkal kesalahannya dan hanya ada seorang saksi saja yan g mmberatkan terdakwa sedangkan tidak ada alat bukti lain.


Artinya yan g dimaksut pasal tersebut bahwa keterangan seorang saksi saja tanpa adanya bukti yan g lain, tidak cukup untok membuktikan, harus dilengkapi dengn bukti-bukti lain.  Kalau didasarkan atas keterangan itu saja, maka dalil yan g harus dibuktikan itu masih belum terbukti, inilah yan g disebut asas unus testis nullus testis yaitu satu saksi bukan saksi .

2. Syarat bukti keterangan saksi

Seperti halnya pada Alat bukti pada umumnya, Alat Bukti Saksi pun mempunyai syarat formil dan materiil, antara kedua sifat ini bersifat komulatif, bukan alternatif. Oleh karena itu, apabila salah satu syarat mengandung cacat, mengakibatkan alat bukti itu tidak sah sebagai alat bukti saksi. 

Sekiranya syarat formil terpenuhi menurut hukum, tetapi salah satu syarat materiil tidak lengkap, tetap saksi yan g diajukan tidak sah sebagai alat bukti. Atau sebaliknya, syarat materiil terpenuhi, tetapi syarat formil tidak, hukum tidak menolerirnya, sehingga saksi itu tidak sah sebagai alat bukti.

Saksi yan g akan diperiksa sebelumnya harus bersumpah menurut cara agamanya atau berjanji, bahwa ia akan menerangkan yan g sebenarnya. Setelah disumpah saksi wajib memberi keterangan yan g benar, apabila ia dengn sengaja memberi keterangan palsu, maka saksi dapatt dituntut dan dihukum untok sumpah palsu.

Dala m memberikan nilai kesaksian pasal 172 HIR memberikan petunjuk sebagai berikut :

Dala m hal menimbang harga kesaksian haruslah hakim memperhatikan benar kecocokan saksi-saksi yan g satu dengn yan g lain atau persetujuan persaksian-kesaksian dengn yan g diketahui darii tempat lain tentang perkara yan g diperselisihkan segala sebab yan g kiranya ada pada saksi-saksi untok menceritakan perkara itu, cara hidup, adat dan martabat saksi dan pada umumnya segala hal ihwal yan g boleh berpengaruh sehingga saksi itu dapatt dipercaya atau kurang dipercayai.

Berikut Syarat- syarat Alat Bukti Formil dan Materiil saksi ialah:

Syarat formil saksi :

  1. Berumur 15 tahun keatas;
  2. Sehat akalnya;
  3. Tidak ada hubungan keluarga sedarah dan keluarga semenda darii salah satu phak menurut keturunan yan g lurus, kecuali Undang-Undang menentukan lain;
  4. Tidak ada hubungan perkawinan dengn salah satu pihak meskipun bercerai (pasal 145 (1) HIR);
  5. Tidak ada hubungan kerja dengn salah satu pihak dengn menerima upah (pasal 144(2) HIR), kecuali undang-undang menentukan lain;
  6. Menghadap di persidangan;
  7. Mengangkat sumpah menurut agamanya (pasal 147 HIR)
  8. Berjumlah sekurang-kurangnya 2 orang untok kesaksian suuatu peristiwa atau dikuatkan dengn alat bukti lain (pasal 169 HIR), kecuali dala m perzinaan;
  9. Dipanggil diruang sidang satu demi satu (pasal 144 (1) HIR);
  10. memberi keterangan secara lisan.

Syarat materiil saksi:

  1. Menerangkan apa yan g dilihat, ia dengar, dan ia alami sendiri (pasal 171 HIR);
  2. Diketahui sebab-sebab ia mengetahui peristiwa (pasal 171 (1) HIR);
  3. Bukan merupakan pendapatt atau kesimpulan saksi sendiri (pasal 171 (2) HIR);
  4. Saling bersesuaian satu sama lain (pasal 170 HIR);
  5. Tidak bertentangan dengn akal sehat. 

Alat bukti saksi diatur dala m Pasal 139-Pasal 152, Pasal 168-Pasal 172 HIR/Pasal  165-179, Pasal 309 RBg/Pasal 1895, Pasal 1902-Pasal 1908 BW.

Menurut Pasal 140, Pasal 141, dan Pasal 148 HIR/Pasal 166, Pasal 167, dan Pasal 176 RBg, seseorang yan g tanpa alasan yan g sah tidak memenuhi panggilan menjadi saksi dapatt dikenakan sanksi-sanksi sebagai berikut :

  1. Dihukum untok membayar biaya-biaya yan g telah dikeluarkan untok memanggilnya menjadi saksi;
  2. Secara paksa dibawa menghadap pengadilan, kalau perlu dengn bantuan polri;
  3. Dimasukan dala m penyanderaan.



Sekian dari kami mengenai Alat Bukti Saksi Dalam Hukum Acara Perdata semoga bisa bermanfaat untok anda para kaula muda mudi yang haus akan pengetahuan





[i] . Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, S.H. op.cit., hal. 118.

Sumber :
H. Riduan Syahrani, S.H., Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata, PT. Citra Aditya Bakti Bandung, Cet. V,  2009
http://id.shvoong.com/law-and-politics/criminal-law/2171410-alat-bukti-saksi/#ixzz1QzgAvhsH
Share this article :

Visitor