5 Penyebab dan Penghalang Mendapatkan Warisan Menurut Hukum Islam dan Perdata.



Makalah Sebab Mendapat warisan? Sebab Penghalang Mewarisi?  Makalah Pengertian Hukum waris islam? Arti Ahli waris? Arti Pembagian warisan? Arti Pembagian warisan menurut islam? Arti pembagian harta warisan? Makalah Sebab Mendapat warisan? Sebab Penghalang Mewarisi menurut hukum islam & Undang- Undang?  


A.      SEBAB- SEBAB PENGHALANG KEWARISAN

a.       Penghalang Pewaris (Mawani’ Al-Irs)

Pengertian Pewaaris ialah penghalang terlaksananya warist mewarisi, dalaam istilah ulama’ faroid ialah suatu keadaan atau sifat yan g menyebabkan orang tersebut tidakk dapt menerima warisan padahal sudah cukup syarat-syarat dan ada hubungan pewarisan. Pada awalnya seseorang sudah berhak mendapt warisan tetapi oleh karena ada suatu keadaan tertentu berakibat dia tidakk mendapt harta warisan.

b.       Menurut Hukum Islam

Ada bermacam-macam sebab penghalang seorang menerima warisan antara lain:

1)       Perbudakan

Seorang budak ialah milik dariii tuannya secara mutlak, karena ia tidakk berhak untukk memiliki harta, sehingga ia tidakk berhak untukk memiliki harta, dan ia tidakk bisa menjadi orang yan g mewariskan dan tidakk akan mewarisi dariii siapapun.[1] sesuai dengaan firman Allah dalaam surat Al-Nahl (16): 75.
“Allah membuat perumpamaan dengaan seorang hamba sahaya yan g dimiliki yan g tidakk dapt bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yan g Kami beri rezeki yan g baik dariii Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dariii rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui"

2)       Karena Pembunuhan

Seseorang yan g membunuh ahli warisnya atau seseorang yan g membunuh orang lain (dengaan cara) yan g tidakk di benarkan oleh hukum, maka ia tidakk dapt mewarisi harta yan g terbunuh itu, sebagaimana sabda rasulullah SAW:
“Dariii amr bin syu’aib dariii ayahnya dariii kakeknya ia berkata: rasulullah SAW, bersabda: orang yan g membunuh tidakk dapt mewarisi suatupun dariii harta warisan orang yan g di bunuhnya." 
Ketentuan ini mengandung kemaslahatan agar orang tidakk mengambil jalan pintas untukk mendapt harta warisan dengaan membunuh orang yan g mewariskan. Pada dasarnya pembunuhan itu ialah merupakan tindak pidana kejahatan namun dalaam beberapa hal tertentu pembunuhan tersebut tidakk di pandang sebagai tindak pidana dan oleh karena itu tidakk di pandang sebagai dosa. Untukk lebih mendalaami pengertiannya ada baiknya di kategorikan sebagai berikut:
a)       Pembunuhan secara hak dan tidakk melawan hukum, seperti pembunuhan di medan perang, melaksanakan hukuman mati, dan membela jiwa, harta dan kehormatan.
b)       Pembunuhan secara tidakk hak dan melawan hukum (tindak pidana kejahatan), seperti: pembunuhan dengaan sengaja dan pembunuhan tidakk sengaja. Tentang bentuk-bentuk pembunuhan yan g menjadi penghalang untukk mendaptkan warisan ini, tidakk ada kesamaan pendapt, dan pendapt yan g berkembang ialah sebagai berikut:
a)       Menurut imam syafi’i, bahwa pembunuhan dalaam bentuk apapun menjadikan penghalang bagi si pembunuh untukk mendaptkan warisan.
b)       Menurut imam maliki, pembunuhan yan g menghalangi hak kewarisan hanyalah pembunuhan yan g di sengaja.
c)       Menurut imam hambali, pembunuhan yan g menghalangi hak kewarisan ialah pembunuhan tidakk dengaan hak, sedangkan pembunuhan dengaan hak tidakk menjadi penghalang, sebab pelakunya bebas dariii sangsi akhirat.
d)       Menurut iamam hanafi, bahwa pembunuhan yan g menghalangi hak kewarisan ialah pembunuhan yan g di kenai sangsi qishos, sedangkan pembunuhan yan g tidakk berlaku padanya qishos (kalaupun disengaja seperti yan g di lakukan anak-anakatau dalaam keadaan terpaksa tidakk menghalangi kewarisan). Terhalangnya si pembunuh untukk mendaptkan hak kewarisan dariii yan g di bunuhnya, di sebabkan alasan-alasan berikut:
a)       Pembunuhan itu memutuskan silaturrahmi yan g menjadi sebab adanya kewarisan, dengaan terputusnya sebab tersebut maka terputus pula musababnya.
b)       Untukk mencegah seseorang mempercepat terjadinya proses pewarisan.
c)       Pembunuhan ialah suatu tindak pidana kejahatan yan g di dalaam istilah agama di sebut dengaan perbuatan ma’siat, sedangkan hak kewarisan merupakan nikmat , maka dengaan bsendirinya ma’siat tidakk boleh di pergunakan sebagai suatu jaln untukk mendaptkan nikmat.

3)       Karena Berlainan Agama (Ikhtilafu Ad-Din)

Adapun yan g di maksut berlainan agama ialah berbedanya agama yan g di anut antara pewaris dan ahli waris, artinya seorang seorang muslim tidakklah mewarisi dariii yan g bukan muslim, begitu pula sebaliknya seorang yan g bukan muslim tidakklah mewarisi dariii seorang muslim. Ketentuan ini di dasarkan pada bunyi sebuah hadits sabda rasulullah SAW,:
“dariii usamah bin zaid ra, bahwa rasulullah SAW brsabda, “ tidakk mewarisi orang islam kepada orang kafir dan orang kafir tidakk akan mewarisi kepada orang islam. (HR. Al jamaah, kecuali muslim dan Al-Nasa’i).”

Menurut jumhurul ulama’ fiqih, yan g menjadi ukuran dalaam penetapan perbedaan agama ialah pada saat meninggal orang yan g mewariskan. apabila meninggal seorang muslim, maka ia terhalang mendapt warisan walaupun kemudian ia masuk islam agama islam sebelum pembagian harta warisan di laksanakan. Apabila pembunuh dapt memutuskan hubungan kekerabatan hingga mencabut hak kewarisan, maka demikian jugalah hanya dengaan perbedaan agama, sebab wilayah hukum islam (khususnya hukum waris)tidakk mempunyai daya berlaku bagi orang-orang non muslim.
Selain itu hubungan antara kerabat yan g berlainan agama dalaam kehidupan sehari-hari hanya terbatas dalaam pergaulan dan hubungan baik (hubungan kemasyarakatan), dan tidakk termasuk dalaam hal pelaksanaan hukum syari’ah (termasuk hukum waris), hal ini sejalan dengaan ketentuan Alquran surah Luqman ayat 15 sebagai berikut:
“ Dan jika keduanya memaksamu untukk mempersekutukan dengaan Aku sesuatu yan g tidakk ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengaan baik, dan ikutilah jalan orang yan g kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yan g telah kamu kerjakan Majlis Ulama’ Indonesia (MUI), dalaam Musyawarah

Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H 26-29 juli 2005 M menetapkan fatwa tentang kewarisan beda agama bahwa
“Hukum waris islam tidakk memberikan hak salaing mewarisi antara orang-orang yan g berbeda agama (antara muslim dengaan non muslim). Pemberian harta antara orang yan g berbeda agama hanya dapt di lakukan dalaam bentuk hibah, wasiat, dan hadiah.

4)       Karena murtad (riddah)

Murtad artinya bila seseorang pindah agama atau keluar dariii agama islam. Di sebabkan tindakan murtadnya itu maka seseorang batal dan kehilangan hak warisnya. Berdasarkan hadits rosul riwayat abu bardah, menceritakan bahwa saya telah di utus oleh rasulullah SAW kepada seorang laki-laki yan g kawin dengaan istri bapaknya, rasulullah menyuruh supaya di bunuh laki-laki tersebut dan membagi hartanya sebagai harta rampasan karena ia murtad (berpaling dariii agama islam).

5)       Karena hilang tanpa berita

Karena seseorang hilang tanpa berita tak tentu dimana alamat dan tempat tinggal selama 4 (empat) tahun atau lebih , maka orang tersebut di anggap mati karena hukum (mati hukmy) dengaan sendirinya tidakk mewarist dan menyatakan mati tersebut harus dengaan putusan hakim.

c.        Menurut Undang-Undang Hukum Perdata

Di dalaam Kompilasi Hukum Islam (Inpres No.1/1991) pada Buku II, Pasal 173 menyatakan seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengaan putusan Hakim yan g telah mempunyai kekuatan hukum yan g tetap, dihukum karena :
1.       Dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris.
2.       Dipersalahkan secara menfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yan g diancam dengaan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yan g lebih besar.
Menurut UU perdata dalaam KUH Per yan g membahas kewarisan ada beberapa kelompok orang yan g tidakk berhak mendapt waris atau disebut ahli waris yan g tidakk patut/terlarang menerima waris (onwaardig). Hukum kewarisan menurut KUH Per mengenai ahli waris yan g Tidakk Patut Menerima Warisan (Onwaardig). Terdaptnya sebab-sebab menurut Undang-undang ahli waris tidakk patut atau terlarang (onwaardig) untukk menerima warisan dariii si pewaris.( Pasal 838,.. untukk ahli waris karena undang-undang dan Pasal 912 untukk ahli waris karena adanya wasiat ). Ahli waris menurut undang-undang yan g dinyatakan tidakk patut untukk menerima warisan, dalaam Pasal 838 KUH Perdata, ialah:
a)       Mereka yan g telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh si pewaris.
b)       Mereka yan g dengaan putusan hakim pernah dipersalahkan karena secara fitnah telah melakukan pengaduan terhadap si pewaris, ialah suatu pengaduan telah melakukan kegiatan kejahatan yan g diancam hukuman penjara lima tahun lamanya atau lebih berat.
c)       Mereka yan g dengaan kekerasan atau perbuatan telah mencegah si pewaris untukk membuat atau mencabut surat wasiat.
d)       Mereka yan g telah menggelapkan, merusak atau memalsukan surat wasiat si pewaris.
Ahli waris menurut wasiat yan g dinyatakan tidakk patut untukk menerima warisan dalaam Pasal 912 KUH Perdata, ialah :
a)       Mereka yan g telah dihukum karena membunuh si pewaris.
b)       Mereka yan g telah menggelapkan, membinasakan atau memalsukan surat wasiat si pewaris.
c)       Mereka yan g dengaan paksaan atau kekerasan telah mencegah si pewaris untukk mencabut atau mengubah surat wasiatnya.

B.       DERAJAT AHLI WARIS

Antara ahli waris yan g satu dan lainnya ternyata mempunyai perbedaan derajat dan urutan. Berikut ini akan disebutkan berdasarkan urutan dan derajatnya:
1)       Ashhabul furudh. Golongan inilah yan g pertama diberi bagian harta warisan. Mereka ialah orang-orang yan g telah ditentukan bagiannya dalaam Al-Qur'an, As-Sunnah, dan ijma'.
2)       Ashabat nasabiyah. Setelah ashhabul furudh, barulah ashabat nasabiyah menerima bagian. Ashabat nasabiyah yaitu setiap kerabat (nasab) pewaris yan g menerima sisa harta warisan yan g telah dibagikan. Bahkan, jika ternyata tidakk ada ahli waris lainnya, ia berhak mengambil seluruh harta peninggalan. Misalnya anak laki-laki pewaris, cucu dariii anak laki-laki pewaris, saudara kandung pewaris, paman kandung, dan seterusnya.
3)       Penambahan bagi ashhabul furudh sesuai bagian (kecuali suami istri). Apabila harta warisan yan g telah dibagikan kepada semua ahli warisnya masih juga tersisa, maka hendaknya diberikan kepada ashhabul furudh masing-masing sesuai dengaan bagian yan g telah ditentukan. Adapun suami atau istri tidakk berhak menerima tambahan bagian dariii sisa harta yan g ada. Sebab hak waris bagi suami atau istri disebabkan adanya ikatan pernikahan, sedangkan kekerabatan karena nasab lebih utama mendaptkan tambahan dibandingkan lainnya.
4)       Mewariskan kepada kerabat. Yan g dimaksud kerabat di sini ialah kerabat pewaris yan g masih memiliki kaitan rahim --tidakk termasuk ashhabul furudh juga 'ashabah. Misalnya, paman (saudara ibu), bibi (saudara ibu), bibi (saudara ayah), cucu laki-laki dariii anak perempuan, dan cucu perempuan dariii anak perempuan. Maka, bila pewaris tidakk mempunyai kerabat sebagai ashhabul furudh, tidakk pula 'ashabah, para kerabat yan g masih mempunyai ikatan rahim dengaannya berhak untukk mendaptkan warisan.
5)       Tambahan hak waris bagi suami atau istri. Bila pewaris tidakk mempunyai ahli waris yan g termasuk ashhabul furudh dan 'ashabah, juga tidakk ada kerabat yan g memiliki ikatan rahim, maka harta warisan tersebut seluruhnya menjadi milik suami atau istri. Misalnya, seorang suami meninggal tanpa memiliki kerabat yan g berhak untukk mewarisinya, maka istri mendaptkan bagian seperempat dariii harta warisan yan g ditinggalkannya, sedangkan sisanya merupakan tambahan hak warisnya. Dengaan demikian, istri memiliki seluruh harta peninggalan suaminya. Begitu juga sebaliknya suami terhadap harta peninggalan istri yan g meninggal.
6)       Ashabah karena sebab. Yan g dimaksud para 'ashabah karena sebab ialah orang-orang yan g memerdekakan budak (baik budak laki-laki maupun perempuan). Misalnya, seorang bekas budak meninggal dan mempunyai harta warisan, maka orang yan g pernah memerdekakannya termasuk salah satu ahli warisnya, dan sebagai 'ashabah. Tetapi pada masa kini sudah tidakk ada lagi.
7)       Orang yan g diberi wasiat lebih dariii sepertiga harta pewaris. Yan g dimaksud di sini ialah orang lain, artinya bukan salah seorang dan ahli waris. Misalnya, seseorang meninggal dan mempunyai sepuluh anak. Sebelum meninggal ia terlebih dahulu memberi wasiat kepada semua atau sebagian anaknya agar memberikan sejumlah hartanya kepada seseorang yan g bukan termasuk salah satu ahli warisnya. Bahkan mazhab Hanafi dan Hambali berpendapt boleh memberikan seluruh harta pewaris bila memang wasiatnya demikian.
8)       Baitulmal (kas negara). Apabila seseorang yan g meninggal tidakk mempunyai ahli waris ataupun kerabat seperti yan g saya jelaska maka seluruh harta peninggalannya diserahkan kepada baitulmal untukk kemaslahatan umum.

Sekian dariii kami mengenai Sebab Dan Penghalang Mewarisi dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Perdata semoga bisa bermanfaat untok anda para kaula muda mudi yan g haus akan pengetahuan.



.

Visitor