Makalah Aul dan Radd (8 Contoh Masalah & Syarat)



Makalah Pengertian Aul dan Radd? Pengertian Aul? Syarat Aul? Contoh Masalah Aul? Makalah Pengertian Radd ?  Syarat Radd? Contoh Masalah Radd? 



Aul dan Radd


1.       Definisi al-'Aul

Al-'aul dalaam bahasa Arab mempunyai banyak arti, di antaranya bermakna azh-zhulm (aniaya) dan tidakk adil, seperti yangg difirmankan- Nya:
"... Yangg demikian itu ialah lebih dekat kepada tidakk berbuat aniaya." (an-Nisa': 3)
Sedangkan definisi al-'aul menurut istilah fuqaha yaitu “bertambahnya jumlah bagian fardh dan berkurangnya nashib (bagian) para ahli waris”. Hal ini terjadi ketika makin banyaknya ashhabul furudh sehingga harta yangg dibagikan habis, padahal di antara mereka ada yangg belum menerima bagian.
Misalnya 
“bagian seorang suami yangg semestinya mendapatt setengah (1/2) dapatt berubah menjadi sepertiga (1/3) dalaam keadaan tertentu, seperti bila pokok masalahnya dinaikkan darii semula enam (6) menjadi sembilan (9). Maka dalaam hal ini seorang suami yangg semestinya mendapatt bagian 3/6 (setengah) hanya memperoleh 3/9 (sepertiga).”
Begitu pula halnya dengaan ashhabul furudh yangg lain, bagian mereka dapatt berkurang manakala pokok masalahnya naik atau bertambah.

2.       Pokok Masalah yangg Dapatt dan Tidakk Dapatt Di-'aul- kan

Pokok masalah yangg ada di dalaam ilmu faraid ada tujuh. Tiga di antaranya dapatt di-'aul-kan, sedangkan yangg empat tidakk dapatt.
Ketiga pokok masalah yangg dapatt di-'aul-kan ialah enam (6), dua belas (12), dan dua puluh empat (24). Sedangkan pokok masalah yangg tidakk dapatt di-'aul-kan ada empat, yaitu dua (2), tiga (3), empat (4), dan delapan (8).
Sebagai contoh pokok yangg dapatt di-'aul-kan :
"Seseorang wafat dan meninggalkan suami serta seorang saudara kandung perempuan. Maka pembagiannya sebagai berikut :
Pokok masalahnya darii dua (2).
Bagian suami setengah berarti satu (1),
dan bagian saudara kandung perempuan setengah, berarti mendapatt bagian satu (1). “

Maka dalaam masalah ini tidakk menggunakan 'aul. Sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya, angka-angka pokok masalah yangg dapatt di-'aul-kan ialah angka enam (6), dua belas (12), dan dua puluh empat (24).
Namun, ketiga pokok masalah itu masingmasing berbeda dan mempunyai sifat tersendiri. Sebagai misal, angka enam (6) hanya dapatt di-'aul-kan hingga angka sepuluh (10), yakni dapatt naik menjadi tujuh, delapan, sembilan, atau sepuluh. Lebih darii angka itu tidakk bisa. Berarti pokok masalah enam (6) hanya dapatt dinaikkan empat kali saja.
Kemudian pokok masalah dua belas (12) hanya dapatt dinaikkan hingga tujuh belas (17), namun hanya untukk angka ganjilnya. Lebih jelasnya, pokok masalah dua belas (12) hanya dapatt dinaikkan ke tiga belas (13), lima belas (15), atau tujuh belas (17). Lebih darii itu tidakk bisa. Maka angka dua belas (12) hanya dapatt di-'aul-kan tiga kali saja.
Sedangkan pokok masalah dua puluh empat (24) hanya dapatt di-'aul-kan kepada dua puluh tujuh (27) saja, dan itu pun hanya pada satu masalah faraid yangg memang masyhur di kalangan ulama faraid dengaan sebutan "masalah al-mimbariyyah".

3.       Definisi ar-Radd

Ar-radd dalaam bahasa Arab berarti 'kembali/ kembalikan' atau juga bermakna 'berpaling/palingkan'. Seperti terdapatt dalaam firman Allah berikut:
"Musa berkata: 'Itulah (tempat) yangg kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. " (al-Kahfi: 64) "Dan Allah menghalau orang-orang yangg kafir itu yangg keadaan mereka penuh kejengkelan ..." (al-Ahzab: 25)
Dalaam sebuah doa disebutkan "Allahumma radda kaidahum 'annii" (Ya Allah, palingkanlah/halaulah tipu daya mereka terhadapku).
Adapun ar-radd menurut istilah ulama ilmu faraid ialah berkurangnya pokok masalah dan bertambahnya/lebihnya jumlah bagian ashhabul furudh. Ar-radd merupakan kebalikan darii al-'aul. Sebagai misal, dalaam suatu keadaan (dalaam pembagian hak waris) para ashhabul furudh telah menerima haknya masing-masing, tetapi ternyata harta warisan itu masih tersisa --sementara itu tidakk ada sosok kerabat lain sebagai 'ashabah-- maka sisa harta waris itu diberikan atau dikembalikan lagi kepada para ashhabul furudh sesuai dengaan bagian mereka masing-masing.

4.       Syarat-syarat ar-Radd

Ar-radd tidakk akan terjadi dalaam suatu keadaan, kecuali bila terwujud tiga syarat seperti di bawah ini:
a.        adanya ashhabul furudh
b.       tidakk adanya 'ashabah
c.        ada sisa harta waris.

5.       Ahli Waris yangg Berhak Mendapatt ar-Radd

Ar-radd dapatt terjadi dan melibatkan semua ashhabul furudh, kecuali suami dan istri. Artinya, suami atau istri bagaimanapun keadaannya tidakk mendapatt bagian tambahan darii sisa harta waris yangg ada.
Adapun ashhabul furudh yangg dapatt menerima ar-radd hanya ada delapan orang:
a.        anak perempuan
b.       cucu perempuan keturunan anak laki-laki
c.        saudara kandung perempuan
d.       saudara perempuan seayah
e.       ibu kandung
f.         nenek sahih (ibu darii bapak)
g.        saudara perempuan seibu
h.       saudara laki-laki seibu

6.       Ahli Waris yangg Tidakk Mendapatt ar-Radd

Adapun ahli waris darii ashhabul furudh yangg tidakk bisa mendapattkan ar-radd hanyalah suami dan istri. Hal ini disebabkan kekerabatan keduanya bukanlah karena nasab, akan tetapi karena kekerabatan sababiyah (karena sebab), yaitu adanya ikatan tali pernikahan. Dan kekerabatan ini akan putus karena kematian, maka darii itu mereka (suami dan istri) tidakk berhak mendapattkan ar-radd. Mereka hanya mendapatt bagian sesuai bagian yangg menjadi hak masing-masing. Maka apabila dalaam suatu keadaan pembagian waris terdapatt kelebihan atau sisa darii harta waris, suami atau istri tidakk mendapattkan bagian sebagai tambahan.


Sekian dariiii kami mengenai Pengertian A’ul dan Radd, Pokok Masalah A’ul dan Radd, Syarat A’ul dan Radd beserta Ahli Waris yangg berhak mendapattkan dan tidakk berhak mendapattkan A’ul dan Radd.   semoga bisa bermanfaat untok anda para kaula muda mudi yan g haus akan pengetahuan.


Visitor