10 Asas Asas Hukum Kewarisan Islam



Makalah Azaz hukum waris islam? arti asas hukum kewarisan? arti rukun waris islam? arti syarat waris islam? Makalah Pengertian Hukum waris islam? Arti Ahli waris? Arti Pembagian warisan? Arti Pembagian warisan menurut islam? Arti pembagian harta warisan?

 


1.       Azas – Azas Hukum Kewarisan

Dalaam penjelasan pasal 49 huruf b UU No. 3 Tahun 2006 dijelaskan bahwa yangg dimaksud dengaan Waris ialah penentuan siapasiapa yangg menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris dan pelaksanaan pembagian harta peninggalan tersebut serta penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yangg menjadi ahli waris, penentuan bagian masing-masing ahli waris.

Dariii hal-hal tersebut di atas maka dalaam pelaksanaan pembagian waris tidak dapatt dipisahkan dengaan azas-azas hukum waris Islam yangg meliputi :

1.       Azas Integrity : Ketulusan

Integrity artinya : Ketulusan hati, kejujuran, keutuhan. Azas ini mengandung pengertian bahwa dalaam melaksanakan Hukum Kewarisan dalaam Islam diperlukan ketulusan hati untukk mentaatinya karena terikat dengaan aturan yangg diyakini kebenarannya. Hal ini juga dapatt dilihat dariii keimanan seseorang untukk mentaati hukum Allan SWT, apalagi penjelasan umum angka 2 alinea keenam Undangundang Nomor 7 tahun 1989 Tentang Peradilan Agama memberi hak opsi kepada para pihak untukk bebas menentukan pilihan hukum waris mana yangg akan dipergunakan dalaam menyelesaikan pembagian waris, telah dinyatakan dihapus oleh UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. Penghapusan tersebut berarti telah membuka pintu bagi orang Islam untukk melaksanakan hukum waris Islam dengaan kaffah yangg pada ahirnya ketulusan hati untukk mentaati hukum waris secara Islam ialah pilihan yangg terbaik, landasan kesadarannya ialah firman Allah SWT surat Ali Imran ayat 85 :
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)dariiipadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yangg rugi"

2.       Azas Ta' abbudi : Penghambaan diri

Yangg dimaksud azas Ta'abbudi ialah melaksanakan pembagian waris secara hukum Islam ialah merupakan bagian dariii ibadah kepada Allah SWT, yangg akan berpahala bila ditaati seperti layaknya mentaati pelaksanaan hukum-hukum Islam lainnya. Ketentuan demikian dapatt kita lihat, setelah Allah SWT menjelaskan tentang hukum waris secara Islam sebagaimana dijelaskan dalaam surat an-Nisa' ayat 11 dan 12, kemudian dikunci dengaan ayat 13 dan 14 :
“Hukum-hukum tersebut) itu ialah ketentuan-ketentuan dariii Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalaam surga yangg mengalir didalaamnya sungai15 sungai, sedang mereka kekal di dalaamnya; dan itulah kemenangan yangg besar Dan barangsiapa yangg mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalaam api neraka sedang ia kekal di dalaamnya; dan baginya siksa yangg menghinakan

3.       Azas Hukukul Maliyah : Hak-hak Kebendaan

Yangg dimaksud dengaan Hukukul Maliyah ialah hak-hak kebendaan, dalaam arti bahwa hanya hak dan kewajiban terhadap kebendaan saja yangg dapatt diwariskan kepada ahli waris, sedangkan hak dan kewajiban dalaam lapangan hukum kekeluargaan atau hak-hak dan kewajiban yangg bersifat pribadi seperti suami atau istri, jabatan, keahlian dalaam suatu ilmu dan yangg semacamnya tidak dapatt diwariskan. Kewajiban ahli waris terhadap pewaris diatur dalaam Kompilasi Hukum Islam pasal 175 yangg berbunyi :
a.        Mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai;
b.       Menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan termasuk
c.        kewajiban pewaris maupun menagih piutang;
d.       Menyelesaikan wasiat pewaris;
e.       Membagi harta warisan diantara anti waris yangg berhak

4.       Azas Hukukun Thabi’iyah : Hak-Hak Dasar

Pengertian hukukun thabi’iyah ialah hak-hak dasar dariii ahli waris sebagai manusia, artinya meskipun ahli waris itu seorang bayi yangg baru lahir atau seseorang yangg sudah sakit menghadapi kematian sedangkan ia masih hidup ketika pewaris meninggal dunia, begitu juga suami istri yangg belum bercerai walaupun sudah pisah tempat tinggalnya, maka dipandang cakap untukk mewarisi. Hak-hak dariii kewarisan ini ada empat macam penyebab dan seagama. Hubungan keluarga yaitu hubungan antar orang yangg mempunyai hubungan darah (genetik) baik dalaam garis keturunan lurus ke bawah (anak cucu dan seterusnya) maupun ke samping (saudara). Kebalikan dariii ketentuan tersebut, hukum Islam menentukan beberapa macam penghalang kewarisan yaitu Murtad, membunuh dan hamba sahaya, sedangkan dalaam Kompilasi Hukurn Islam penghalang kewarisan kita jumpai pada pasal 173 yangg berbunyi:
“Seseorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengaan putusan hakim yangg telah mempunyai kekuatan hukum yangg tetap, dihukum karena : dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris; dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yangg diancam dengaan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yangg lebih berat”.

5.       Azas Ijbari : Keharusan, kewajiban

Yangg dimaksud Ijbari ialah bahwa dalaam hukum kewarisan Islam secara otomatis peralihan harta dariii seseorang yangg telah meninggal dunia (pewaris) kepada ahli warisnya sesuai dengaan ketetapan Allah SWT tanpa digantungkan kepada kehendak seseorang baik pewaris maupun ahli waris. Unsur keharusannya (ijbari/compulsory) terutama terlihat dariii segi di mana ahli waris (tidak boleh tidak) menerima berpindahnya harta pewaris kepadanya sesuai dengaan jumlah yangg telah ditentukan oleh Allah. Oleh karena itu orang setelah ia meninggal dunia kelak, karena dengaan kematiannya, secara otomatis juga dilihat dariii segi yangg lain yaitu :
a.        Peralihan harta yangg pasti terjadi setelah orang meninggal dunia.
b.       Jumlah harta sudah ditentukan untukk masing-masing ahli waris.
c.        Orang-orang yangg akan menerima harta warisan itu sudah ditentukan dengaan pasti yakni mereka yangg mempunyai hubungan darah dan perkawinan.

6.       Azas Bilateral

Azas ini mengandung makna bahwa seseorang menerima hak kewarisan dariii kedua belah pihak yaitu dariii kerabat keturunan laki-laki dan dariii kerabat keturunan perempuan. Azas bilateral ini dapatt dilihat dalaam al-Qur'an surat an-Nisa' ayat 7 :
“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dariii harta peninggalan ibubapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dariii harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yangg telah ditetapkan"

7.       Azas Individual : Perorangan

Azas ini menyatakan bahwa harta warisan dapatt dibagi-bagi pada masing masing ahli waris untukk dimiliki secara perorangan. Dalaam pelaksanaannya seluruh harta warisan dinyatakan dalaam nilai tertentu yangg kemudian dibagi-bagikan kepada ahli waris yangg berhak menerimanya menurut kadar bagian masing-masing. Azas Individual ini dapatt dilihat dalaam al-Qur'an surat an-Nisa' ayat 7 :
“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dariii harta peninggalan ibubapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dariii harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yangg telah ditetapkan"

Dalaam surat an-Nisa ayat 8 :
“ Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dariii harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yangg baik"

Kemudian surat an-Nisa' ayat 33 :
“ Bagi tiap-tiap harta peninggalan dariii harta yangg ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yangg kamu telah bersumpah setia dengaan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu"

8.       Azas Keadilan yangg Berimbang

Azas ini mengandung pengertian bahwa harus ada keseimbangan antara hak yangg diperoleh seseorang dariii harta warisan dengaan kewajiban atau beban biaya kehidupan yangg harus ditunaikannya. Laki-laki dan perempuan misalnya, mendapatt bagian yangg sebanding dengaan kewajiban yangg dipikulnya masing-masing (kelak) dalaam kehidupan keluarga dan masyarakat. Seorang laki-laki menjadi penanggung jawab dalaam kehidupan keluarga, mencukupi keperluan hidup anak dan isterinya sesuai (QS.2:233) dengaan kemampuannya.

Dalaam surat Al-Baqarah ayat 233 :
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yangg ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengaan cara ma´ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengaan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yangg patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yangg kamu kerjakan"

Tanggung jawab tersebut merupakan kewajiban yangg harus dilaksanakan, terlepas dariii persoalan apakah isterinya mampu atau tidak, anak-anaknya memerlukan bantuan atau tidak. Berdasarkan keseimbangan antara hak yangg diperoleh dan kewajiban yangg harus ditunaikan, sesungguhnya apa yangg diperoleh seseorang laki-laki dan seorang perempuan dariii harta warisan manfaatnya akan sama mereka rasakan.

9.       Azas Kematian

Makna azas ini ialah bahwa kewarisan baru muncul bila ada yangg meninggal dunia. Ini berarti kewarisan semata-mata sebagai akibat dariii kematian seseorang. Menurut ketentuan hukum Kewarisan Islam, peralihan harta seseorang kepada orang lain yangg disebut kewarisan terjadi setelah orang yangg mempunyai harta itu meninggal dunia, artinya harta seseorang tidak dapatt beralih kepada orang lain (melalui pembagian harta warisan) selama orang yangg mempunyai harta itu masih hidup, dan segala bentuk peralihan harta-harta seseorang yangg masih hidup kepada orang lain, baik langsung maupun yangg akan dilaksanakan kemudian sesudah kematiannya, tidak termasuk ke dalaam kategori kewarisan menurut hukum Islam.

Dengaan demikian, kewarisan Islam ialah kewarisan yangg menurut Kitab Undangundang Hukum Perdata (BW) disebut kewarisan ab iIntestato dan tidak mengenal kewarisan atas dasar wasiat yangg disebut testamen.

10.   Azas Membagi Habis Harta Warisan

Membagi habis semua harta peninggalan sehingga tidak tersisa ialah azas dariii penyelesaian pembagian harta warisan. Dariii menghitung dan menyelesaikan pembagian dengaan cara : Menentukan siapa yangg menjadi Ahli waris dengaan bagiannya masingmasing, membersihkan/memurnikan harta warisan seperti hutang dan Wasiat, Sampai dengaan melaksanakan pembagian hingga tuntas.


2.       Rukun

Sebagaimana hukum lainnya, masalah warispun memiliki ketentuan khusus (rukun-rukun) yangg harus terpenuhi. Dengaan kata lain, hukum waris dipandang sah secara hukum Islam jika dalaam prosespenetapannya dipenuhi tiga rukun, yaitu: waris, muwarrits dan maurutus. Hal ini senada dengaan pendapatt Sayyid Sabiq, menurut beliau pewarisan hanya dapatt terwujud apabila terpenuhi 3 hal, yaitu:
a)       Al- Waris, yaitu orang yangg akan mewariskan harta peninggalan si muwaris lantaran mempunyai sebab-sebab untukk mempustakai seperti adanya ikatan perkawinan, hubungan darah (keturunan) dan hubungan hak perwalian dengaan si muwaris.
b)       Al –Muwarris, yaitu orang yangg meninggal dunia, baik mati haqiqy maupun mati hukmy, seperti orang yangg hilang kemudian dihukumi mati.
c)       Al–Maurus, disebut juga tirkah dan miras yaitu harta benda atau hak yangg akan dipindahkan dariii muwaris kepada al-waris.

3.       Syarat

Pusaka mempusakai ialah berfungsi sebagai menggantikan kedudukan dalaam memiliki harta benda antara orang yangg telah meninggal dunia dengaan orang yangg ditinggalkannya. Oleh karena itu pusak mempusakai memerlukan syarat-syarat sebagai berikut:
a)       Matinya mawarris (orang yangg mempusakakan). Meninggalnya pewaris merupakan conditio sine quanon untukk terbukanya harta waris, karenanya meninggalnya pewaris harus nyata adanya. Apabila tidak jelas kematiannya tetap menjadi miliknya yangg utuh sebagaimana dalaam keadaan yangg jelas hidupnya. Kematian pewaris menurut doktrin fikih dapatt dibedakan kepada tiga macam, yaitu:
1)       Mati haqiqy artinya tanpa melalui pembuktian dapatt diketahui dan dinyatakan bahwa seseorang telah meninggal dunia.
2)       Mati Hukmy ialah seseorang yangg secara yuridis melalui keputusan hakim dinyatakan telah meninggal dunia. Ini bisa terjadi seperti kasus seseorang dinyatakan hilang (mafqud) tanpa diketahui dimana dan bagaimana keadaannya. Melalui keputusan hakim, setelah melalui upaya-upaya tertentu, ia dinyatakan meninggal.
3)       Mati taqdiri yaitu anggapan bahwa seseorang talah meninggal dunia. Misalnya karena ada ikut ke medan perang atau tujuan lain yangg secara lahiriyah mengancam dirinya. Setelah sekian tahun tidak di ketahui kabar beritanya dan melahirkan dugaan kuat bahwa ia telah meninggal dunia, maka dapatt dinyatakan bahwa ia meninggal.
a.        Hidupnya waris (orang yangg mempusakai) di saat kematian muwaris, ketentuan ini merupakan syarat mutlak agar seseorang berhak menerima warisan, sebab orang yangg sudah meninggal dunia tidak mampu lagi membelanjakan hartanya, baik yangg diperoleh karena pewarsi maupun sebab-sebab lainnya. Hidupnya ahli waris itu baik secara hakiki maupun secara taqdir hidup secara hakiki berarti ketetapan tentang hidupnya ahli waris secara nyata dapatt diketahui dan dapatt diterima menurut syara, sedangkan hidup secara taqdir sebagaimana anak dalaam kandungan, ia tetap berhak menerima harta waris bila bapaknya meninggal.
b.       Tidak adanya penghalang-penghalang mempusakai (mawani’ul irsi). Dalaam kitab I’anat al-Tholibin dijelaskan bahwa penghalang mempusakai itu ada 3 macam yaitu pembunuhan, perbudakan dan perbedaan agama. Dengaan dipenuhinya rukun dan syarat kewarisan seperti tersebut di atas, maka harta waris yangg tertinggal dapatt dibagikan kepada para ahli waris sesuai dengaan bagian yangg telah ditentukan.



Sekian dariii kami mengenai Makalah Rukun, Syarat dan Asas- Asas Hukum Kewarisan Islam  semoga bisa bermanfaat untok anda para kaula muda mudi yangg haus akan pengetahuan


.

Visitor