Metode Profesional, efektif, conditional, dan cepat dipahami (Dalam Mengajar Matematika)




Makalah Pengertian guru profesionalisme? Tunjangan profesi guru? Profesionalisme? Profesionalisme guru? Kompetensi guru? Profesi? Kompetensi profesional? 


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakng
Dlam kegiatan belajar mengajar yg berlangsung telah terjadi interaksi yg bertujuan. Interaksi yg bertujuan itu disebabkan guruu yg memaknainya dngan menciptakn lingkungan yng bernilai edukatif demi kepentingan anak didik dlam belajar. Guruu ingin memberikan layanan yg terbaik bagi anak didik, dngan menyediakn lingkungan yg menyenangkan dan menggairahkan. Guruu berusaha menjadi pembimbing yg baik dngan peranan yg arif dan bijaksana sehingga tercipta hubungan yg harnonis antara guruu dngan anak didiknya.
Ketika kegiatan belajar mengajar itu berproses, guruu harus dngan ikhlas dlam bersikap dan berbuat, serta mau memahami anak didiknya dngan segala konsekuensinya. Semua kendala yg terjadi dpat menjadi penghambat jalannya proses belajar mengajar, baik yg berpangkal darii prilaku anak didik maupun yg bersumber darii luar diri anak didik guruu harus hilangkan dan bukan membiarkannya karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh guruu dlam mengelola kelas.
Dlam mengajar guruu harus pandai menggunakn pendekatan secara bijaksana, bukan yg bisa merugikan anak didik. Pandangan guruu terhadp anak akn menentukan sikap dan perbuatan, setiap guruu tidak mempunyai pandangan yg sama dlam menilai anak didiknya. Hal ini akn mempengaruhi pendekatan yg guruu ambil dlam pengajarannya.
Guruu yg memandang anak didik sebagai pribadi yg berbeda dngan anak didik lainnya akn berbeda dlam guruu yg memandang anak didik sebagai makhluk yg mempunyai persamaan. Makaa guruu penting meluruskan pandangan yg keliru dlam menilai anak didik sebagai individu yg berbeda, sehingga mudah melakukan pendekatan dlam pengajaran.

1.2  Rumusan Masalah
Darii uraian diatas, makaa penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana menjadi seorang guruu yg profesional dan menyenangkan?
2.      Bagaimana keterampilan dasar mengajar yg harus diterapkan atau dilaksanakn oleh seorang guruu ketika mengajar (di dlam kelas)?
3.      Bagaimana metode mengajar yg efektif, conditional, dan cepat dipahami oleh siswa dlam mengajar matematika?
4.      Bagaimana metode pembelajaran yg harus diterapkan guruu dlam mengajar matematika yg kebanyaknnya tidak disenangi oleh siswa?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan yg dilakukan penulis ialah :
1.      Untk mengetahui Bagaimana menjadi seorang guruu yg profesional dan menyenangkan bagi siswa ketika di kelas.
2.      Untk mempelajari keterampilan dasar mengajar yg harus diterapkan atau dilaksanakn oleh seorang guruu ketika mengajar (di dlam kelas).
3.      Untk mempelajari metode mengajar yg efektif, conditional, dan cepat dipahami oleh siswa dlam mengajar matematika.
4.      Untk mengetahui dan mempelajari metode pembelajaran yg harus diterapkan guruu dlam mengajar matematika yg kebanyaknnya tidak disenangi oleh siswa.

1.4  Metode dan Teknik Penulisan
Metode dan teknik penulisan makaalah yg dilakukan penulis ialah sebagai berikut :
1.    Study ke perpustakaan
2.    Mendownload di internet

1.5  Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makaalah yg berjudul “Keterampilan Dasar Mengajar Matematika” terdiri darii tiga bab, yaitu :
1.      BAB I Pendahuluan, berisi latar belakng masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode dan teknik penulisan, serta sistematika penulisan.
2.      BAB II Pembahasan, berisi tentang materi/inti dlam makaalah ini, yaitu keterampilan dasar mengajar matematika.
3.      BAB III Penutup, terdiri darii kesimpulan dan saran atas makaalah ini.
4.      Dihalaman terakhir, penulis mencantumkan “Daftar Pustaka” yaitu sumber/rujukan yg digunakn penulis dlam penyusunan makaalah ini.



BAB II
PEMBAHASAN

Keterampilan Dasar Mengajar Matematika
Seorang guruu harus mempunyai keterampilan dasar mengajar, hal ini sangatlah penting sebagai syarat menjadi seorang guruu. Seorang guruu professional telah mengikuti beberapa pelatihan yg berkaitan dngan keterampilan dasar mengajar. Turney (1973) mengemukakn 8 (delapan) keterampilan dasar mengajar, yakni: keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan memberikan penguatan, keterampilan mengadkan variasi, keterampilan menjelaskan, ketrampilan membimbing diskusi, ketrampilan mengajar kelompok dan individual, keterampilan mengelola kelas,  keterampilan bertanya.
A.    Keterampilan Membuka Dan Menutup Pelajaran
Dlam konteks ini, guruu perlu mendesain situasi yg beragam sehingga kondisi kelas menjadi dinamis. Yg dimaksud dngan membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yg dilakukan oleh guruu dlam kegiatan belajar mengajar untk menciptakn prokondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pad apa yg akn dipelajarinya sehingga usaha tersebut akn memberikan efek yg positif terhadp kegiatan belajar. Sedangkan menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yg dilakukan oleh guruu untk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Komponen ketrampilan membuka pelajaran meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, dan membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yg akn dipelajari. Komponen ketrampilan menutup pelajaran meliputi: meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dngan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, dan mengevaluasi.
1.         Pengertian
Pad umumnya, kegiatan pelajaran di kelas dimulai dngan guruu melakukan kegiatan rutin seperti menertibkan siswa, mengisi daftar hadir, menyampaikan pengumuman, menyuruh menyiapkan alat-alat pengajaran dan buku yg akn dipakai. Kemudian di akhiri dngan memberi tugas rumah. Namun kegiatan-kegiatan seperti itu disebut bukan kegiatan membuka dan menutup pelajaran, kegiatan-kegiatan tersebut memng harus dikerjakn oleh guruu, tetepi bukan merupakn kegiatan membuka dan menutup pelajaran. Pusat perhatian dlam waktu membuka dan menutup pelajaran ialah kegiatan yg ad kaitannya langsung dngan penyampaikan bahan pelajaran.
Jadi pengertian membuka dan menutup pelajaran ialah kegiatan yg dilakukan oleh guruu untk mencipatakn suasana siap mental dan untk menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pad hal-hal yg akn dipelajari.
Siswa yg siap mental untk belajar ialah siswa yg menetahui:
1.              Tujuan pelajaran yg akn dicapai,
2.              Masalah-masalah pokok yg harus diperhatikan,
3.              Langkah-langkah belajar yg akn dilakukan,
4.              Batas-batas tugas yg harus dikerjakn untk menguasai pelajaran.
Untk menimbulkan perhatian dan motivasi siswa terhadp hal-hal yg akn dipelajari, guruu dpat melakukan berbagai macam usaha, antara lain:
1.              Menimbulkan rasa ingin tahu,
2.              Bersikap hangat dan antusias,
3.              Memvarisikan gaya belajar,
4.              Menggunakn berbagai macam media pembelajarn,
5.              Memvariasikan pola interaksi belajar-mengajar.
Menutup pelajaran ialah kegiatan yg dilakukan oleh guruu untk mengakhiri kegiatan inti pelajaran dngan maksud untk :
1.              Memberika gambaran menyeluruh tentang apa yg telah dipelajari,
2.              Menetahui tingakat pencapaian siswa, dan
3.              Tingkat keberhasilan guruu dlam proses belajar-mengajar.
Usaha yg dilakukan oleh guruu untk menutup pelajaran antara lain:
1.              Merangkum kembali bahan pelajarn yg sudah disampaikan,
2.              Menyuruh siswa membuat ringkasan bahan yg sudah dipelajari,
3.              Mengadkan evaluasi tentang bahan pelajarn yg baru diberikan.
Kegiatan membuka dan menutup pelajaran harus dilakukan pad awal dan akhir pelajaran, dan juga pad awal dan akhir setiap penggal inti pelajaran yg diberikan selama jam pelajaran itu.
2.      Rasionel
Ad beberapa dasar pemikiran, mengapa kita harus melakukan kegiatan membuka dan menutup pelajaran serta melatih keterampilan “membuka dan menutup pelajaran”
a)      Biasanya yg dilkukan oleh guruu pad awal jam pelajaran ialah menenangkan kelas, mengisi daftar hadir, menyiapkan alat-alat pelajaran, kemudian guruu lansung masuk pad pelajaran inti, misalnya dngan kata-kata, “ anak-anak hri ini ibu akn menerangkan tentang .....” kemudian ditutup dngan dngan kata-kata “ nah, lonceng sudah berbunyi, makaa pelajaran kita di akhiri sampai disini.”
        Prosedur  mengajar demikian itu tidak menyampaikan mental siswa untk menerima pelajaran, dan perhatian siswa belum terpusat pad hal-hal yg akn dipelajari. Akibatnya siswa akn merasa bahwa pelajaran membosankan, tidak bermakna baginya, sukar dipahami, dan juga siswa tidak ad gairah untk berusaha memahami.
b)      Jika guruu berhasil membuka pelajaran sehingga seiswa benar-benar siap mental untk belajar (timbul perhatian dan motivasi untk belajar), mka akn nampak siswa itu:
1.        Asyik dlam melakukan tugas,
2.        Semanagt dan responnya tinggi,
3.        Banyak yg mengajukan pertanyaan dngan tepat,
4.        Cepat bereaksi terhadp saran-saran guruu.
c)      Jika guruu berhasil menutup pelajaran dngan baik, makaa sekesai proses belajar, suwa benar-benar memperoleh pengetahuan yg bulat (utuh) sebagai hasil kegiatan belajar yg telah dilakukan.
d)     Guruu tidak atua belum melakukan kegiatan membuka dan menutup pelajaran, anatara lain karena lupa, tidak ad waktu atau belum menguasai keterampilan membuka dan mebutup pelajaran.
3.      Penggunaan dlam kelas
a.       Tujuan
Dilakukannya membuka dan menutup pelajaran dngan baik  di kelas ialah dngan maksud agar diperoleh pengaruh positif terhadp proses dan hasil belajar. Pengaruh positif tersebut ialah :
1.      Timbulnya perhatian dan motivasi siswa untk menhadpi tugas-tugas yg akn dikerjaknnya.
2.      Siswa tahu batas-batas tugas yg akn dikerjaknnya.
3.      Siswa mempunyai gambaran yg jelas tentang pendekatan-pendekatan yg mungkn diambil dlam mempelajari bagian-bagian darii mata pelajaran.
4.      Siswa  mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yg telah dikuasainya dngan hal-hal baru yg akn dipelajari atau yg belum dikenalnya.
5.      Siswa dpat menggabungkan fakta-fakta, keterampilan-keterampilan, atau konsep-konsep yg tercakup dlam suatu peristiwa.
6.      Siswa dpat mengetahui tingkat keberhasilannya dlam mempelajari pelajaran itu, sedankan guruu dpat mengetahui tingkat keberhasilannya dlam mengajar.
b.      Prinsip-prinsip penggunaan
Prinsip-prinsip yg harus digunakn dlam penggunaan keterampilan membuka dan menutup pelajarn ialah:
1.      Bermakna : Usaha untk  menarik perhatian atau memotivasi siswa harus sesuai dngan isi dan tujuan pelajaran. Cerita singkat atau lawakn yg tiadk ad hubungannya dngan pelajaran hendaknya dihindarkan.
2.      Berurutan dan berkesinambungan : Kegiatan yg dilakukan oleh guruu dlam mengenalkan dan merangkum kembali pokok-pokok penting pelajaran hendaknya meruapakn bagian darii satu kesatuan yg utuh.
4.      Komponen – komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran
a.       Membuka pelajaran
Komponen-komponen keterampilan membuak apelajaran meliputi menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan dan membuat kaitan. Setiap komponen terdiru darii beberapa kelompok asspek dan kegiatan yg saling berkesinambungan  dan bersifat integratif.
1.      Menarik perhatian siswa
Berbagai cara dpat digunakn oleh guruu untk menarik perhatian siswa, anatara lain:
a.       Gaya mengajar guruu
Untk menarik perhatian siswa, dpat diusahakn penggunaan gaya mengajar yg bervariasi. Misalnya pad suatu saat guruu memilih posisi dikelas serta memilih kegiatan yg berbeda darii yg biasa dilakukannya dlam membuka pelajaran. Guruu berdiri ditengah kelas, sambil berdeklamasi, dngan tenang dan dngan ekspresi wajah yg meyakinkan. Pad kesempatan lain, mungkin guruu membuka pelajaran dngan bercerita dngan ekspresi wajah dan gerakn badn yg menarik.
b.      Penggunaan media pembelajaran
Untk menarik perhatian siswa dpat digunakn berbagai macam media pengajaran seperti gambar, model, skema, dan sebagainya. Dngan pemilihan dan penggunaan media yg tepat, guruu dpat memperoleh beberapa keuntungan, yaitu siswa tertarik perhatiannya, timbul motivasinya untk belajar, dan terjadi kaitan antara hal-hal yg sudah diketahuinya dngan hal-hal baru yg akn dipelajari.
c.       Pola interaksi yg bervariasi
Agar siswa selalu tertarik dan memusatkan perhatiannya pad pelajaran, guruu dpat menggunakn berbagai macam pola interaksi yg bervariasi, misalnya:
                                                                                i.      Guruu menerangkan dan mengajuka pertanyaan, siswa mendengarkan dan menjawab pertanyaan.
                                                                              ii.      Guruu mendemonstrasi, siswa mengamati.
                                                                            iii.      Guruu memberikan tugas, diskusi, dan sebagainya, dan kemudian mengawasinya.
2.      Menimbulkan motivasi
Dngan adnya motivasi, proses belajar mengajar menjadi dipermudah. Oleh karena itu, setelah anak tertarik perhatiannya pad pelajaran, guruu harus berusaha untk menumbulkan motivasi.
Ad beberapa cara untk menimbulkan motivasi, antara lain:
a.      Dngan kehangatan dan keantusiasan.
b.      Dngan menimbulkan rasa ingin tahu.
c.       Mengemukakn ide yg bertentangan.
d.      Dngan memperhatikan minat siswa.
3.      Memberi acuan
Dlam hubungannya membuka pelajaran, memberi acuan diaratikan sebagai usaha mengemukakn secara spesifik dan sinkat serangkaian alternatif yg memungkinkan siswa memperoleh gambaran yg jelas tentang hal-hal yg akn dipelajari dan cara yg hendak ditempuh dlam mempelajari bahan pelajaran. Usaha dan cara memberi acuab itu antara lain ialah:
a.      Mengemukakn tujuan dan batas-batas tugas.
b.      Menyarankan langkah-langkah yg akn dilakukan.
c.       Mengingatkan masalah pokok yg akn dibahas.
d.      Mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
4.      Membuat kaitan
Hal-hal yg telah dikenal, pengalaman-pengalaman, minat dan kebutuhan siswa merupakn bahan pengait untk mempermudah pemahaman. Makaa jika guruu akn mengajarkan bahan pelajaran yg baru, ia perlu menghubungkannya dngan bahan pengait (hal-hal yg diketahui oleh siswa) tersebut. Usaha guruu untk membuat kaitan itu misalnya dngan cara :
a.      Membuat kaiatan antara aspek-aspek yg relevan darii mata pelajaran yg telah dikenal oleh siswa. Dlam permulaan pelajaran  guruu meninjau kembali samapai berapa jauh pelajaran yg diberikan sebelumnya sudah dikuasai siswa. Caranya ialah dngan menajukan pertanyaan- pertanyyan atay merangkum bahan pelajaran terdahulu secara singkat.
b.      Guruu membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dngan pengetahuan yg telah diketahui siswa. Hal ini dilakukan oleh guruu jika bahan baru itu erat hubungannya dngan bahan yg akn diajarkan.
c.       Guruu menjelaskan konsep atau penertiannya terlebih dahulu sebelum bahan pelajaran tersebut dijelaskan secara rinci. Hal ini dilakkukan jika bahan yg akn diajarkan sam sekali bahan yg baru. Misalnya guruu menjelaskan pengertian media pengajaran dulu sebelum menguraikan jenis dan penggunaaan media.
b.      Menutup pelajaran
Menjelang akhir jam pelajaran atau pad akhir tiap penggal kegiatan belajar, guruu harus melakukan melakukan kegiatan menutup pelajaran agar siswa memperoleh ganbaran yg utuh tentang pokok-pokok bahan pelajaran yg sudah diketahuinya. Cara yg dpat dilakukan oleh guruu dlam menutup pelajaran ialah dngan cara:
1.        Meninjau kembali
Guruu meninjau kembali, apakah inti pelajaran yg telah diajarkan itu sudah dikuasai oleh siswa, adpun cara untk meninjau kembali itu ialah:
a.       Merangkum inti pelajaran
Kegiatan ini dpat dilakukan oleh guruu, guruu bersama siswa, atau siswa sendiri (disempurnakn oleh guruu).
b.      Membuat ringkasan
Dngan membuat ringkasan, siswa dpat memantapkan penguasaan pokok-pokok bahan pelajaran yg telah dipelajarinya. Disamping itu dngan ringkasan, siswa yg tidak memiliki buku sumber telah memiliki bahan untk dipelajari kembali.
2.        Mengevaluasi
Untk mengetahui apakah siswa telah memperoleh wawasan yg utuh tentang sesuatu yg telah diajarkan, guruu melakukan penelitian. Bentuk-bentuk evaluasi itu ialah:
a.         Mendemonstrasikan keterampilan.
Setelah selesai mengarang prosa atau puisi, guruu meminta siswa untk maju kedepan kelas untk membacakn dan menjelaskan apa isi yg terkandung didlamnya.
b.         Mengaplikasikan ide baru pad situasi lain.
Setelah guruu menerangkan rumus matematika, siswa disuruh  mengerjakn soal-soal baru dngan mengunakn rumus tersebut.
c.         Mengekspresika pendpat siswa sendiri.
Guruu dpat menerima siswa untk berkomentar tentang apakah demonstrasi yg telah dilakukan oleh guruu atau oleh siswa lain efektif atau tidak. Misalnya siswa dimintai pendaoatnya tentang permainan peran yg baru saja dilakukannya.
d.        Soal-soal tertulis.
Untk mengetahui hasil belajar siswa, guruu dpat memberikan soal-soal tertulis untk dikerjakn oleh siswa. Soal-soal itu dpat berbentuk uraian, tes objektif, atau melengkapi lembaran kerja.

B.     Ketrampilan Memberikan Penguatan
 Seorang guruu perlu menguasai keterampilan memberikan penguatan karena penguatan merupakn dorongan bagi siswa untk meningkatkan perhatian.
Penguatan (reinforcement) ialah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yg merupakn bagian darii modifikasi tingkah laku guruu terhadp tingkah laku siswa, yg bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan juga merupakn respon terhadp suatu tingkah laku yg dpat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Penggunaan penguatan dlam kelas dpat mencapai atau mempunyai pengaruh sikap positif terhadp proses belajar siswa dan bertujuan untk meningkatkan perhatian siswa terhadp pelajaran, merangsang dan meningkatkan motivasi belajar dan meningkatkan kegiatan belajar serta membina tingkah laku siswa yg produktif.
Ketrampilan memberikan penguatan terdiri darii beberapa komponen yg perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya oleh mahasiswa calon guruu agar dpat memberikan penguatan secara bijaksana dan sistematis. Komponen-komponen itu ialah : Penguatan verbal, diungkapkan dngan menggunakn kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan dan sebagainya. Dan penguatan non-verbal, terdiri darii penguatan berupa mimik dan gerakn badn, penguatan dngan cara mendekati, penguatan dngan sentuhan (contact), penguatan dngan kegiatan yg menyenangkan, penguatan berupa simbol atau benda dan penguatan tak penuh. Penggunaan penguatan secara evektif harus memperhatikan tiga hal, yaitu kehangatan dan evektifitas, kebermaknaan, dan menghindarii penggunaan respons yg negatif.
1        Pengertian, Tujuan, Dan Manfaat
Penguatan ialah respons terhadp suatu tingkah laku, yg dpat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali tingkah laku tersebut.
Memberi penguatan dlam kegiatan belajar mengajar kelihatannya sederhana, baik dlam organisasinya maupun dlam penerapannya. Umpamanya tanda persetujuan guruu terhadp tingkah laku siswa yg dinyatakn dlam bentuk kata-kata membenarkan, pujian, senyuman, anggukan (bagus! Baik, Anda hebat, Yah, Ini siswa yg patut dicontoh!).
Pemberian penguatan dlam penerapannya harus bijaksanadn sistematis berdasarkan cara dan prinsip yg tepat. Hal ini akn membantu pencapaian beberapa tujuan dan mafaat dlam proses belajar mengajar yaitu:
1.      Meningkatkan perhatian siswa.
2.      Memudahkan siswa dlam peoses belajar mengajar.
3.      Membangkitkan dan memelihara motivasi.
4.      Mengendalikan dan mengubah tingkah laku belajar yg produktif.
5.      Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dlam mengajar.
6.      Mengarahkan cara berfikir tingkat tinggi.
2        Cara penggunaan pemberian penguatan.
Cara penggunaan pemberian penguatan ialah sebagai berikut :
a.       Penguatan pad pribadi tertentu
Penguatan harus jelas ditujukan kepad siswa tertentu dngan menyebutkan namanya sambil memandang kepad siswa yg berkepentingan langsung.
b.      Penguatan kepad kelompok siswa
Penguatan juga dpat diberikan kepad sekelompok siswa; umpamanya apabila satu kelas telah menyelesaikan tugas dngan baik, makaa guruu ,memperbolehkan siswa bekerja bebas atau istirahat, teteapi juga menggunakn keterampilan dasar mengajar memberi penguatan secara verbal (dlam bentuk kata atau kalimat)  seperti: “Bapak bangga dngan kelas ini, mudah-mudahan dpat dipertahankan untk seterusnya. Mari kita bertepuk tangan.”
c.       Pemberian penguatan dngan segera
Penguatan harus segera diberikan begitu tingkah laku atau respons siswa yg diharapkan muncul. “Oh, ya, Bapak/ibu mengucapkan terima kasih atas karya kalian minngu yg lalu.”
d.      Penguatan tidak penuh
Apabila seoarang siswa memberikan jawaban yg benar sebagian, tindakn guruu yg efektif ialah memberi penguatan tidak penuh (partial): “Ya, jawabanmu sudah baik, hannya masih perlu dikembangakn sedikit.”
Tindakn guruu selanjutnya ialah meminta siswa lain untk menyempurnakn jawaban temannya. Anadikan jawaban sisiwa yg bersangkutan sudah sempurna makaa siswa yg pertama tadi dpat menbetahui bahwa jawabannya tidak seluruhnya salah sehinnga ia masih memiliki motivasi untk berusaha menemukan jawaban yg sempurna.
e.       Variasi dlam penggunaan
Apabila setiap kali guruu memberikan penguatan dan kata yg dipakai ialah “bagus”, makaa lama kelamaan  kata ”bagus” ini tidak lagi bermakna bagi siswa. Hal ini berlaku pula pad penguatan dngan gerakn yg bersifat monoton, umpamanya hannya dngan dngan mengacungkan ibu jari saja. Perlu ad variasi dlam penggunaan dlam penentuan jenis komponen penguatan.
3.      Prisip-prinsip pemberian penguatan 
a.       Kehangatan dan keantusiasan : Dlam memberikan penguatan hendaknya diwarnai dngan kehangtan dan antusiasme, suara, mimik, dan gerakn guruu ialah petunjuk adnya kehangatan dan keantusiasan sehingga  peenguatan yg diberikan akn menjadi lebih efektif.
b.      Makna : Bila guruu mengatakn kepad seorang siswa , “Karangan anda sangat baik,” padhal karya tersebut bukan hasil siswa tersebut, makaa penguatan yg diberikan tidak bermakna bagi siswa tersebut. Sebaiknya kepad siswa ini guruu menyatakn, “Karangan Anda akn lebih baik jika Anda berusaha sendiri.” Dngan cara ini penguatan yg diberikan itu wajar dan bermakna bagi siswa yg bersangkutan.
c.       Hindarkan pemberian respons yg negatif : Apabila siswa tidak dpat memberikan jawaban yg diharapkan, guruu jangan langsung menyalahkan, tetapi memindahkan giliran untk menjawab pertanyaan tersebut kepad siswa yg lain. Jika pertanyaan tersebut terjawab oleh siswa lain, makaa siswa tadi tidak akn terlalu tersinggung harga dirinya, dan ia menyadri kesalahannya. Keadan ini akn membawa atau membantu dirinya untk tetap berusaha belajar sehingga, apabila mendpat giliran lagi, ia akn mampu menjawabnya.
4.      Komponen-komponen pemberian penguatan
a)      Penguatan verbal.
b)      Penguatan berupa mimik dan gerakn badn.
c)      Pengutan dngan cara mendekati.
d)     Penguatan dngan sentuhan.
e)      penguatan dngan kegiatan yg menyenangkan.
f)       Penguatan berupa simbol atau benda.

C.     Ketrampilan Mengadkan Variasi
Keterampilan mengadkan variasi, baik variasi dlam gaya mengajar, penggunaan media dan bahan pelajaran, dan pola interaksi dan kegiatan. Variasi stimulus ialah suatu kegiatan guruu dlam konteks proses interaksi belajar mengajar yg di tujukan untk mengatasi kebosanan siswa sehingga, dlam situasi belajar mengajar, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, serta penuh partisipasi. Variasi dlam kegiatan belajar mengajar dimaksudkan sebagai proses perubahan dlam pengajaran, yg dpat di kelompokkan ke dlam tiga kelompok atau komponen, yaitu :
1)      Variasi dlam cara mengajar guruu, meliputi : penggunaan variasi suara (teacher voice), Pemusatan perhatian siswa (focusing), kesenyapan atau kebisuan guruu (teacher silence), mengadkan kontak pandang dan gerak (eye contact and movement), gerakn badn mimik: variasi dlam ekspresi wajah guruu, dan pergantian posisi guruu dlam kelas dan gerak guruu ( teachers movement).
2)      Variasi dlam penggunaan media dan alat pengajaran. Media dan alat pengajaran bila ditunjau darii indera yg digunakn dpat digolongkan ke dlam tiga bagian, yakni dpat didengar, dilihat, dan diraba. Adpun variasi penggunaan alat antara lain ialah sebagai berikut : variasi alat atau bahan yg dpat dilihat (visual aids), variasi alat atau bahan yg dpat didengart (auditif aids), variasi alat atau bahan yg dpat diraba (motorik), dan variasi alat atau bahan yg dpat didengar, dilihat dan diraba (audio visual aids).
3)      Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa. Pola interaksi guruu dngan murid dlam kegiatan belajar mengajar sangat beraneka ragam coraknya. Penggunaan variasi pola interaksi dimaksudkan agar tidak menimbulkan kebosanan, kejemuan, serta untk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan siswa dlam mencapai tujuan.
A.    Pengertian dan tujuan
      Diartikan sebagai suatu proses pengubahan dlam pengajaran yg menygkut tiga komponen yaitu, gaya mengajar yg bersifat personal, penggunaan media dan bahan-bahan intruksional, dan pola serta tingkat interaksi guruu dngan siswa.
Tujuan dan manfaatnya ialah:
1.      Dpat menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa terhadp aspek-aspek belajar-mengajar yg relevan.
2.      meningkatkan kemungkina berfungsinya motivasi dan rasa ingin tahu melalui kegiatan penelitian (investigasi) dan penjelajahan (eksplorasi).
3.      membentuk sikap positif terhadp guruu dan sekolah.
4.      kemungkinan para siswa mendpat pelayanan serta individual sehingga memberi kemudahan belajar.
B.     Prinsip-prinsip variasi.
1        variasi hendaknya digunakn dngan maksud tertentu, relevan, dngan tujuan yg hendak dicapai, sesuai dngan tingkat kemampuan siswa dan hakikat pendidikian.
2        variasi harus dilakasanakn secara lancar dan berkesinambungan.
3        Sejalan dngan prinsip 1 dan 2, komponen variasi tertentu memerlukan susunan dan perencanaan yg baik, dicantumkan dlam rencana pelajaran (berstuktur).
C.     Komponen-komponen keterampilan mengadkan variasi.
a>    Variasi dlam gaya mengajar guruu.
1. Penggunaan variasi suara.
2. Pemusatan perhatian.
3. Kesenyapan.
4. Mengadkan kontak pandang.
5. Gerakn badn dan mimik.
6. Pergantian posisi guruu dlam belajar.
b>    Variasi dlam penggunaan media dan bahan pengajaran.
Bahan dan alat akn dpat menambahkan rasa ingin tahu siswa. Yg amat penting lagi ialah media dan bahan yg beragam dpat merangsang pikiran dan hasil belajar yg bermakna dan lebih bertahan lama. Variasi ini dpat digolongkan sebagai berikut:
1)      Variasi alat/bahan yg dpat dilihat. (grafik, gambar, papan buletin, ukiran, peta, dan lain sebagainya).
2)      Variasi alat dan bahan yg dpat didengar. (rekaman suara, radio, musik).
3)      Variasi alat dan bahan yg dpat diraba dan dimanipulasi. (patung, alat mainan, binatang kecil).
c>    Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa.
Komponen keterampilan mengadkan variasi dlam kelas yg terakhir ialah mengubah pola dan tingkat interaksi anatar guruu dan murid. Pola umum interaksi tersebut sangat banyak ragamnya mulai darii situasi saat guruu mendominasi sepenuhnya kegiatan sampai kepad keadan ketika siswa bekerja sendiri-sendiri secara bebas.

D.    Ketrampilan Menjelaskan
Keterampilan menjelaskan yg mensyaratkan guruu untk merefleksi segala informasi sesuai dngan kehidupan sehari-hari. Setidaknya, penjelasan harus relevan dngan tujuan, materi, sesuai dngan kemampuan dan latar belakng siswa, serta diberikan pad awal, tengah, ataupun akhir pelajaran sesuai dngan keperluan. Yg dimaksud dngan ketrampilan menjelaskan ialah penyajian informasi secara lisan yg diorganisasikan secara sistematik untk menunjukkan adnya hubungan yg satu dngan yg lainnya. Secara garis besar komponen-komponen ketrampilan menjelaskan terbagi dua, yaitu : Merencanakn, hal ini mencakup penganalisaan masalah secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yg ad diantara unsur-unsur yg dikaitkan dngan penggunaan hukum, rumus, atau generalisasi yg sesuai dngan hubungan yg telah ditentukan. Dan penyajian suatu penjelasan, dngan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : kejelasan, penggunaan contoh dan ilustrasi, pemberian tekanan, dan penggunaan balikan.

E.     Ketrampilan Membimbing Diskusi
Hal terpenting dlam proses ini ialah mencermati.aktivitas siswa dlam diskusi. Diskusi kelompok ialah suatu proses yg teratur yg melibatkan sekelompok orang dlam interaksi tatap muka yg informal dngan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakn strategi yg memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yg memberi kesempatan untk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dngan demikian diskusi kelompok dpat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dlamnya ketrampilan berbahasa.
a)      Pengertian Pokok
Diskusi ialah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa yg tergabung dlam satu kelompok untk saling bertukar pendpat tentang sesuatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan, mendpatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah.
Metode diskusi ialah suatu cara penyajian bahan pelajaran, dimana guruu memberi kesempatan kepad para siswa (kelompok-kelompok siswa) untk mengadkan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendpat, membuat kesimpulan atau penyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah .
Forum diskusi dpat diikuti oleh semua siswa didlam kelas dpat pula dibentuk kelompok-kelompok yg lebih kecil. Yg perlu mendpatkan perhatian ialah hendaknya para siswa dpat berpartisipasi secara aktif didlam setiap forum diskusi. Semakin banyak siswa terlibat dan menyumbangkan pikirannya, semakin banyak pula yg mereka pelajari, yg harus diperhatikan ialah masalah peranan guruu. Terlalu banyak “campur tangan” dan “main perintah” darii guruu, dan mengakibatkan siswa tidak akn dpat banyak banyak.
Diskusi dpat dilakukan dlam bermacam-macam bentuk (tipe) dan dngan bermacam-macam tujuan. Berbagai bentuk diskusi yg terkenal ialah sebagai berikut :
Ø  The social problema meeting
Para mahasiswa berbibcang-bincang memecahkan masalah sosial dikelasnya atau disekolahnya dngan harapan setiap siswa akn merasa “terpanggil” untk mempelajari dan bertingkah laku sesuai dngan kaidah-kaidah yg berlaku, seperti dngan guruu atau personel sekolah lainnya, peraturan-peraturan dikelas/sekolah, hak-hak dan kewajiban siswa dan sebagainya.
Ø  The open-ended meeting
Para mahasiswa berbincang-bincang mengenai masalah apa saja yg berhubungan dngan kehidupan mereka sehari-hari dngan kehidupan mereka disekolah, dngan sesuatu yg terjadi di lingkungan sekitar mereka, dan sebagainya.
Ø  The educational-diagnosis meeting
Para siswa berbincang-bincang mengenai pelajaran dikelas dngan maksud untk saling mengoreksi pemahaman mereka atas pelajaran yg telah diterimanya agar masing-masing anggota memperoleh pemahaman yg lebih baik/benar.
b)      Relevansi Metode Diskusi
Teknik diskusi sebagai metode belajar-mengajar lebih cocok dan diperlukan   apabila guruu hendak :
1)        Memanfaatkan berbagai kemampuan yg dimiliki oleh para siswa.
2)        Memberikan kesempatan kepad para siswa untk menyalurkan kemampuannya masing-masing.
3)        Memperoleh umpan balik darii para siswa tentang apakah tujuan yg telah dirumuskan telah dicapai.
4)        Membantu para siswa belajar berfikir teoretis dan praktis lewat berbagai mata pelajaran dan kegiatan sekolah.
5)        Membantu para siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-temannya.
6)        Membantu para siswa menyadri dan mampu merumuskan berbagai masalah yg dilihat, baik darii pengalaman sendiri, maupun darii pelajaran sekolah.
c)      Langkah-Langkah Penggunaan Metode Diskusi
1)      Guruu mengemukakn masalah yg akn didiskusikan dan memberikan pengarahan seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya. Dpat pula pokok masalah yg akn didiskusikan itu ditentukan bersama-sama oleh guruu dan siswa. Dan guruu tersebut menjelaskan judul atau masalah yg akn  didiskusikan itu harus dirumuskan sejelas-jelasnya agar dpat dipahami baik-baik oleh setiap siswa.
2)      Dngan pimpinan guruu, para siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi, memilih pimpinan diskusi (ketua, sekertaris (pencatatan), pelapor (kalau perlu), pengatur tempat duduk, ruangan, saranan, dan sebagainya). Pimpinan diskusi sebaiknya berad ditengah siswa yg :
a)      Lebih memahami/menguasai masalah yg akn didiskusikan.
b)      “berwibawa” dan disenangi oleh teman-temannya.
c)      Berbahasa baik dan lancar bicaranya.
d)     Dpat bertindak tegas, adil, dan demokratis.
Tugas pimpinan diskusi antara lain ialah :
a)      Mengatur dan pengarah acara diskusi.
b)      Pengatur “lalu lintas” percakapan.
c)      Penengah dan penyimpul berbagai pendpat.
3)        Para siswa berdiskusi didlam kelompoknya masing-masing, sedangkan guruu berkeliling darii kelompok satu ke kelompok yg lainnya (kalau ad lebih darii satu kelompok), menjaga ketertiban serta memberikan dorongan dan bantuan sepenuhnya agar setiap anggota kelompok berpartisipasi aktif dan agar diskusi berjalan lancar. Setiap kelompok harus tahu persis apa yg akn didiskusikan dan bagaimana caranya berdiskusi. Diskusi harus berjalan dlam suasana bebas, setiap anggota harus tahu bahwa hak bicaranya sama.
4)        Kemudian tiap kelompok melaporkan hasil diskusinya. Hasil-hasilnya yg dilaporkan itu ditanggapi oleh semua siswa (terutama darii kelompok lain). Guruu memberi ulasan atau penjelasan terhadp laporan-laporan tersebut.
5)        Akhirnya para siswa mencatat hasil diskusi dan guruu mengumpulkan laporan hasil diskusi darii tiap-tiap kelompok sesudah para siswa mencatatnya untk “file” kelas.
d)     Peranan Guruu
Beberapa peranan guruu dlam diskusi antara lain ialah :
1)      Guruu sebagai “ahli” (=expert)
Misalnya dlam diskusi yg hendak memecahkan masalah, makaa guruu dpat bertindak (berperan) sebagai seorang ahli yg mengetahui lebih banyak mengenai berbagai hal darii pad siswanya. Disini guruu dpat memberi tahu, menjawab pertanyaan atau mengkaji (menilai) segala sesuatu yg akn didiskusikan oleh para siswa. Sesuai dngan tugas utamanya yaitu guruu sebagai “agent of instruction”.
2)      Guruu sebagai “pengawas”
Agar diskusi berjalan lancar, benar, dan mencapai tujuannya, disamping sebagai sumber informasi, makaa guruu pun harus bertindak sebagai pengawas dan penilai didlam proses belajar mengajar lewat formasi diskusi ini. Jadi, dlam formasi diskusi ini guruu menentukan tujuannya dan prosedur untk mencapainya.
3)      Guruu sebagai penghubung “kemasyarakatan”
Tujuan yg ditetapkan oleh guruu untk didiskusikan para siswa, meski bagaimanapun dicoba dikhususkan, masih juga mempunyai keterkaitan yg luas dnganhal-hal yg lain dlam kehidupan masyarakat. Dlam hal ini guruu dpat memperjelasnya dan menunjukan jalan-jalan pemecahannya sesuai dngan kriteria yg ad dan hidup dlam masyarakat. Peranan guruu disini ialah sebagai “sosializing agent”.
4)      Guruu sebagai “pendorong” (facilitator)
Terutama bagi siswa-siswa yg belum cukup mampu untk mencerna pengetahuan dan pendpat orang lain maupun merumuskan serta mengeluarkan pendpat sendiri, makaa agar formasi diskusi dpat diselenggarakn dngan baik, guruu masih perlu membantu dan mendorong setiap (anggota) kelompok untk menciptakn dan mengembangkan kreativitas setiap siswa seoptimal mungkin.
e)      Hambatan-Hambatan Didlam Diskusi
Ad dua faktor penghambat didlam diskusi, yaitu yg ad pad pihak siswanya dan materi (bahan) yg didiskusikan.
Faktor penghambat darii pihak siswa sudah jelas persoalannya. Mereka memang sedang dlam proses belajar dan latar belakng mereka jelas berbeda-beda. Ialah tugas guruu untk membimbing mereka melalui berbagai macam peranannya. Namun, guruu harus bisa membatasi diri darii kebiasaan atau kecenderungan terlalu sering mencampuri (intervensi) proses pemikiran atau percakapan para siswa. Dan didlam menjelaskan, guruu juga tidak tergesa-gesa memberikan jawaban atau pemecahan masalah sebelum siswa mencoba mencari dan menemukan sendiri. Kecuali siswa itu sendiri yg perlu mendpat perhatian guruu ialah materi (bahan) yg akn didiskusikan dan tugas apa yg harus dilakukan oleh tiap kelompok dan anggota kelompok.
Hambatan lain yg dlam diskusi biasanya ialah bahwa setiap orang menginginkan segera dicapainya persetujuan atau kesimpulan. Sikap seperti ini mematikan jalan menuju terjadinya perubahan sikap pad para siswa oleh mereka sendiri. Perubahan sikap ini lebih penting darii pad yg lain didlam proses belajar mengajar lewat formasi diskusi. Perubahan sikap yg dimaksud antara lain ialah agar setiap siswa mampu mendengarkan pendpat orang lain, sensitif dan kritis terhadp pendpat yg berbeda,  maupun menanggapai pendpat orang lain yg berbeda, dlam konteks yg sama dan sebagainya. Dlam hubungan ini sama sekali tidak bijaksana apabila guruu selalu mengkritik pendpat siswa, apalagi kritik secara pribadi  (personal critize) terhadp siswa.
f)       Beberapa Keuntungan Metode Diskusi
1)      Metode diskusi melibatkan semua siswa secara langsung dlam proses belajar.
2)      Setiap siswa dpat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan pembelajarannya masing-masing.
3)      Metode diskusi dpat menumbuhkan dan mengembangkan cara berfikir dan sikap ilmiah.
4)      Dngan mengajukan dan mempertahankan pendpatnya dlam diskusi, diharapkan para siswa akn dpat memperoleh kepercayaan akn (kemampuan) diri sendiri.
5)      Metode diskusi dpat menunjang usha-uasaha pengembangan sikap sosial dan sikap demokratis para siswa.
g)      Beberapa Kelemahan Metode Diskusi
1)      Suatu diskusi tak dpat diramalkan sebelumnya meengenai bagaimana hasilnya sebab tergantung kepad kepemimpinan siswa dan partisipasi anggota-anggotanya.
2)      Suatu diskusi memerlukan keterampilan-keterampilan tertentu yg belum pernah dipelajari sebelumnya.
3)      Jalannya diskusi dpat dikuasai (didominasi) oleh beberapa siswa yg “menonjol”.
4)      Tidak semua topik dpat dijadikan pokok diskusi, tetapi hanya hal-hal yg bersifat problematis saja yg dpat didiskusikan.
5)      Diskusi yg mendlam memerlukan waktu. Siswa tidak boleh merasa dikejar-kejar waktu, perasaan dibtasi waktu menimbulkan kedangkalan dlam diskusi, sehingga hasilnya tidak bermanfaat.
6)      Apabila suasana diskusi hangat dan siswa sudah berani mengemukakn buah pikiran mereka, makaa biasanya sulit untk membatasi pokok masalahnya.
7)      Didlam diskusi, sering terjadi murid yg kurang berani mengemukakn pendpatnya.
8)      Jumlah siswa didlam kelas yg terlalu banyak akn mempengaruhi kesempatan setiap siswa untk mengemukakn pendpatnya.
Untk mengatasi beberapa kelemahan tersebut, Drs.Yusuf Djajadisastra (1982) mengemukakn saran mengenai usaha-usaha yg dpat dilakukan antara lain ialah :
1)      Murid-murid dikelompokan menjadi kelompok-kelompok kecil, misalnya lima orang murid setiap kelompok. Kelompok kecil ini harus terdiri darii murid-murid yg pandai dan kurang pandai, yg pandai bicara dan kurang pandai bicara, murid laki-laki dan murid perempuan. Hal ini harus diatur benar-benar oleh guruu. Disamping itu, harus pula diperhatikan agar murid-murid yg sekelompok itu benar-benar dpat bekerjasama. Dan dlam setiap kelompok harus ditetapkan ketua kelompoknya.
2)      Agar tidak menimbulkan rasa “kelompok-isme”, ad baiknya apabila untk setiap diskusi dngan tipik atau problema baru selalu dibentuk lagi kelompok-kelompok baru dngan cara melakukan pertukaran anggota-anggota kelompok. Dngan demikian semua murid akn pernah akn pernah mengalami berkerjasama dngan semua teman sekelasnya.
3)      Topik-topik atau problema yg akn dijadikan pokok-pokok diskusi dpat diambil darii buku-buku pelajaran murid, surat kabar, kejadian sehari-hari disekitar sekolah, dan kegiatan dimasyarakat yg sedang menjadi pusat perhatian penduduk setempat.
4)      Mengusahakn penyesuaian waktu dngan tepat topik yg dijadikan pokok diskusi. Membagi-bagi diskusi didlam beberapa hari/minggu berdasarkan pembagian topik kedlam topik-topik yg lebih kecil lagi (subtopik). Keleluasaan berdiskusi dpat pula dilakukan dngan menyelenggarakn suatu pekan diskusi , dimana seluruh pekan itu dipergunakn untk mendiskusikan problema-problema yg telah dipersiapkan sebelumnya.
5)      Menyiapkan dan melengkapi semua sumber data yg diperlukan, baik yg tersedian disekolah maupun yg terdpat diluar sekolah.
Dngan memperhatikan ketentuan-ketentuan tersebut kelemahan metode diskusi dpat dikurangi. Berhasil tidaknya penggunaan metode diskusi ini banyak bergantung pad kecakapan guruu didlam membimbing murid-muridnya berdiskusi.
Demikian pula cara atau kebiasaan mengajar guruu dan kebiasan belajar murid-murid akn sangat mempengaruhi berhasil atau tidaknya penggunaan metode diskusi. Guruu yg otoriter, yg selalu memperhatikan kekuasaan dikelas, sehingga murid-muridnya sepanjang tahun tidak pernah memperoleh kesempatan mengemukakn pendpatnya, tentu tidak akn mampu mengajar dngan menggunakn metode diskusi, dimana justu murid-muridlah yg akn mendpat kesempatan untk mengemukakn pendpatnya. Demikian murid-murid yg jiwanya sudah terlalu lama tertekan oleh cara guruu mengajar yg otoriter tidak akn mampu menggunakn kesempatan berdiskusi dlam jam pelajaran yg tersedian itu. Semangat dan hasrat mengemukakn pendpat pad murid-murid ini sudah membeku kalau tidak hendak dikatakn sudah mati. Kelas semacam ini selalu sunyi senyap, karena tidak seorangpun berhasrat mengajukan pertanyaan. Hidup mereka sudah dicerkam ketakutan. Murid-murid takut kalau guruunya itu nanti akn tersinggung atas pertanyaan yg mereka ajukan kepadnya.
Dlam metode diskusi tidak demikian halnya. Metode ini ialah untk guruu-guruu yg berjiwa demokratis. Dngan metode ini pula murid-murid dibimbing untk menghayati tata cara kehidupan di kelas yg demokratis. Guruu membimbing dan mendidik murid-muridnya untk hidup dlam suatu suasana yg penuh tanggung jawab. Berdiskusi bukan hanya berarti asal berbicar saja tanpak memprtanggung jawabkan apa yg dikemukakn. Setiap orang yg berbicara atau mengemukakn pendpat harus berdasarkan prinsip-prinsip tertentu yg dpat dipertanggung jawabkan. Menerima pendpat yg benar dan menolak pendpat yg salah ialah suatu cara betapa metode ini dpat digunakn untk mendidik murid-murid menjadi berjiwa demokratis.

F.      Keterampilan Mengajar Kelompok dan Individual
Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, yg mensyaratkan guruu agar mengadkan pendekatan secara pribadi, mengorganisasi-kan, membimbing dan memudahkan belajar, serta merencanakn dan melaksana-kan kegiatan belajar-mengajar. Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3 – 8 orang untk kelompok kecil, dan seorang untk perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guruu memberikan perhatian terhadp setiap siswa serta terjadinya hubungan yg lebih akrab antara guruu dan siswa dngan siswa.
Komponen ketrampilan yg digunakn ialah: ketrampilan mengadkan pendekatan secara pribadi, ketrampilan mengorganisasi, ketrampilan membimbing dan memudahkan belajar dan ketrampilan merencanakn dan melaksanakn kegiatan belajar mengajar.
Diharapkan setelah menguasai delapan ketrampilan mengajar yg telah dijelaskan di atas dpat bermanfaat untk mahasiswa calon guruu sehingga dpat membina dan mengembangkan ketrampilan-ketrampilan tertentu mahasiswa calon guruu dlam mengajar. Ketrampilan mengajar yg esensial secara terkontrol dpat dilatihkan, diperoleh balikan (feed back) yg cepat dan tepat, penguasaan komponen ketrampilan mengajar secara lebih baik, dpat memusatkan perhatian secara khusus kepad komponen ketrampilan yg objektif dan dikembangkannya pola observasi yg sistematis dan objektif.
Darii delapan kompetensi yg telah dijelaskan di atas, yg paling penting bagi guruu ialah bagaimana cara guruu dpat menggunakn agar proses pembelajaran dpat berjalan baik. Selaha satu faktor yg dpat mengukur proses pembelajaran dpat berjalan dngan baik, makin banyaknya jumlah siswa bertanya.
Sikap Beradptasi di Kelas yg Menjadi Perhatian Guruu
Banyak cara yg dilakukan guruu untk menyajikan materi kepad siswa, ad yg sambil duduk di bangku guruu, sambil menyandar pad meja guruu, duduk menyamping di meja siswa, sambil berjalan bolak balik arak kiri dan kanan siswa, diam pad satu titik, berpangku tangan, tangan masuk kantong dan lain sebagainya. Hal ini boleh-beleh saja dilakukan, tetapi yg harus diperhatikan dlam penyampaian materi jangan sampai terganggunya konsentrasi siswa, melain yg harus dipikirkan ialah tebangunnya semangat dan perhatian siswa terhadp materi yg disampaikan guruu. Untk mencai hal tersebut ad beberapa hal yg harus diperhatikan guruu diantaranya :
Ø  Memandang kesemua siswa Guruu yg baik ialah guruu yg dpat melihat semua siswa secara merata. Pandangan yg merata ini, tentu akn menumbuhkan semangat awal bagi siswa untk terus mengikuti pembelajaran yg telah dirancang oleh guruu. Sebaliknya yg dilakukan guruu, proses pembelajaran akn terganggu pula Pad dasarnya memandang kesemuaan siswa ialah sebagai faktor kontrol bagi guruu, apakah siswa tetap terfokus (memberikan perhatian) dlam pembelajaran tersebut. Bila kontrol ini terlepas, biasanya siswa akn memanfaatkan kesempatan tersebut untk melakukan hal-hal lain seperti :
1)      mengobrol dngan teman sebangku (di luar kontek materi pelajaran),
2)      mengerjakn sesuatu (mengerjakn tugas lain, membaca buku lain, dan menggambar sesuatu diluar kontek), menguap, mengelamun dan lain sebagainya.
Mengalamun yg dilakukan siswa, ialah suatu perbuatan yg sulit diketahui guruu karena siswa tersebut duduk dngan manis, dan tetap memperhatikan kearah guruu, dan tidak bergerak. Guruu yg selalu memberikan pandangan kepad siswa, akn cepat mengetahuai mana sisiwa yg betul memperhatikan dan mana yg perhatiannya kosong.
Ø  Menghadpi Siswa Bertanya Ad beberapa hal yg sering dilakukan guruu secara tidak sengaja, atau merupakn suatu kebiasaan terhadp pertanyaan siswa sebagai berikut :
1)      kurang fokus perhatian guruu untk mendengarkan atau memperhatikan pertanyaan siswa, hingga mengakibatkan siswa terhenti untk bertanya.
2)      Memotong atau tidak memberikan sepenuhnya kepad siswa untk menyampaikan suatu masalah.
3)      Merendah pertanyaan siswa, “ Apakah kalian dpat memahami pertanyaan temanmu tadi”
4)      Mengabaikan pertanyaan siswa. “Guruu tidak mencatat pertanyaan siswa, sehingga beberapa pertanyaan ditanyakn kembali pad siswa.

G.    Ketrampilan Mengelola Kelas
Keterampilan mengelola kelas, mencakupi keterampilan yg berhubungan dngan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yg optimal, serta pengendalian kondisi belajar yg optimal.
Pengelolaan kelas ialah ketrampilan guruu untk menciptakn dan memelihara kondisi belajar yg optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dlam proses belajar mengajar. Dlam melaksanakn ketrampilan mengelola kelas makaa perlu diperhatikan komponen ketrampilan yg berhubungan dngan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yg optimal (bersifat prefentip) berkaitan dngan kemampuan guruu dlam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran, dan bersifat represif ketrampilan yg berkaitan dngan respons guruu terhadp gangguan siswa yg berkelanjutan dngan maksud agar guruu dpat mengadkan tindakn remedial untk mengembalikan kondisi belajar yg optimal.

H.    Ketrampilan Bertanya
Yg mensyaratkan guruu harus menguasai teknik mengajukan pertanyaan yg cerdas, baik keterampilan bertanya dasar maupun keterampilan bertanya lanjut Ad yg mengatakn bahwa “berpikir itu sendiri ialah bertanya”.
Bertanya merupakn ucapan verbal yg meminta respon darii seseorang yg dikenal. Respon yg di berikan dpat berupa pengetahuan sampai dngan hal-hal yg merupakn hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakn stimulus efektif yg mendorong kemampuan berpikir. Dlam proses belajar mengajar, bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yg tersusun dngan baik dan teknik pelontaran yg tepat akn memberikan dampak positif. Pertanyaan yg baik di bagi manjadi dua jenis, yaitu pertanyaan menurut maksudnya dan pertanyaan menurut taksonomo Bloom. Pertanyaan menurut maksudnya terdiri darii :
Pertanyaan permintaan ( compliance question), pertanyaan retoris (rhetorical question), pertanyaan mengarahkan atau menuntun (prompting question) dan pertanyaan menggali (probing question). Sedangkan pertanyaan menurut taksonomi Bloom, yaitu: pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowlagde question), pemahaman (conprehention question), pertanyaan penerapan (application question), pertanyaan sintetis ( synthesis question) dan pertanyaan evaluasi (evaluation question).
Untk meningkatkan partisipasi siswa dlam proses belajar mengajar, guruu perlu menunjukkan sikap yg baik pad waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban siswa. Dan harus menghindarii kebiasaan seperti : menjawab pertanyaan sendiri, mengulang jawaban siswa, mengulang pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan dngan jawaban serentak, menentukan siswa yg harus menjawab sebelum bertanya dan mengajukan pertanyaan ganda.
Dlam proses belajar mengajar setiap pertanyaan, baik berupa kalimat tanya atau suruhan yg menuntut respons siswa sehingga dpat menambah pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, di masukkan dlam golongan pertanyaan. Ketrampilan bertanya di bedakn atas ketrampilan bertanya dasar dan ketrampilan bertanya lanjut.
Ketrampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen dasar yg perlu diterapkan dlam mengajukan segala jenis pertanyaan. Komponen-komponen yg di maksud ialah : Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singakat, Pemberian acuan, pemusatan, Pemindah giliran, Penyebaran, Pemberian waktu berpikir dan pemberian tuntunan.
Sedangkan ketrampilan bertanya lanjut merupakn lanjutan darii ketrampilan bertanya dasar yg lebih mengutamakn usaha mengembangkan kemampuan berpikir siswa, memperbesar pertisipasi dan mendorong siswa agar dpat berinisiatif sendiri.
Ketrampilan bertanya lanjut di bentuk di atas landasan penguasaan komponen-komponen bertanya dasar. Karena itu, semua komponen bertanya dasar masih dipakai dlam penerapan ketrampilan bertanya lanjut. Adpun komponen-komponen bertanya lanjut itu ialah : Pengubahan susunan tingkat kognitif dlam menjawab pertanyaan, Pengaturan urutan pertanyaan, Penggunaan pertanyaan pelacak dan peningkatan terjadinya interaksi.
Prinsip-prinsip yg harus digunakn dlam penggunaan keterampilan membuka dan menutup pelajarn ialah: Bermakna, dan Berurutan dan berkesinambungan.

BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Seorang guruu harus mempunyai keterampilan dasar mengajar, hal ini sangatlah penting sebagai syarat menjadi seorang guruu. Seorang guruu professional telah mengikuti beberapa pelatihan yg berkaitan dngan keterampilan dasar mengajar. Turney (1973) mengemukakn 8 (delapan) keterampilan dasar mengajar, yakni: keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan memberikan penguatan, keterampilan mengadkan variasi, keterampilan menjelaskan, ketrampilan membimbing diskusi, ketrampilan mengajar kelompok dan individual, keterampilan mengelola kelas,  keterampilan bertanya. 
Membuka pelajaran ialah kegiatan yg dilakukan oleh guruu untk mencipatakn suasana siap mental dan untk menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pad hal-hal yg akn dipelajari. Pusat perhatian dlam waktu membuka dan menutup pelajaran ialah kegiatan yg ad kaitannya langsung dngan penyampaikan bahan pelajaran.
Menutup pelajaran ialah kegiatan yg dilakukan oleh guruu untk mengakhiri kegiatan inti pelajaran dngan maksud untk :
1.      Memberika gambaran menyeluruh tentang apa yg telah dipelajari,
2.      Menetahui tingakat pencapaian siswa, dan
3.      Tingkat keberhasilan guruu dlam proses belajar-mengajar. 

membuka dan menutup pelajaran dngan baik  di kelas ialah dngan maksud agar diperoleh pengaruh positif terhadp proses dan hasil belajar.
Komponen – komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran
1.      Membuka pelajaran, meliputi : menarik perhatian siswa (seperti gaya mengajar guruu, penggunaan media pembelajaran, pola interaksi yg bervariasi, dan yg lainnya), menimbulkan motivasi (seperti dngan kehangatan dan keantusiasan, dngan menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakn ide yg bertentangan, atau dngan memperhatikan minat siswa), memberi acuan (seperti mengemukakn tujuan dan batas-batas tugas, menyarankan langkah-langkah yg akn dilakukan, mengingatkan masalah pokok yg akn dibahas, mengajukan pertanyaan-pertanyaan), dan membuat kaitan (Membuat kaiatan antara aspek-aspek yg relevan darii mata pelajaran yg telah dikenal oleh siswa; Guruu membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dngan pengetahuan yg telah diketahui siswa; Guruu menjelaskan konsep atau penertiannya terlebih dahulu sebelum bahan pelajaran tersebut dijelaskan secara rinci). Setiap komponen terdiru darii beberapa kelompok asspek dan kegiatan yg saling berkesinambungan  dan bersifat integratif.
2.      Menutup pelajaran : Cara yg dpat dilakukan oleh guruu dlam menutup pelajaran ialah meninjau kembali pelajaran yg telah disampaikan (seperti : merangkum pelajaran, membuat ringkasan, mengevaluasi, Mengaplikasikan ide baru pad situasi lain, Mengekspresika pendpat siswa sendiri).
 Seorang guruu perlu menguasai keterampilan memberikan penguatan karena penguatan merupakn dorongan bagi siswa untk meningkatkan perhatian.
Penguatan (reinforcement) ialah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yg merupakn bagian darii modifikasi tingkah laku guruu terhadp tingkah laku siswa, yg bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi.
Ketrampilan memberikan penguatan terdiri darii beberapa komponen yg perlu dipahami dan dikuasai penggunaannya oleh mahasiswa calon guruu agar dpat memberikan penguatan secara bijaksana dan sistematis. Komponen-komponen itu ialah : Penguatan verbal, diungkapkan dngan menggunakn kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan dan sebagainya. Dan penguatan non-verbal, terdiri darii penguatan berupa mimik dan gerakn badn, penguatan dngan cara mendekati, penguatan dngan sentuhan (contact), penguatan dngan kegiatan yg menyenangkan, penguatan berupa simbol atau benda dan penguatan tak penuh. Penggunaan penguatan secara evektif harus memperhatikan tiga hal, yaitu kehangatan dan evektifitas, kebermaknaan, dan menghindarii penggunaan respons yg negatif. Cara penggunaan pemberian penguatan ialah : Penguatan pad pribadi tertentu, Penguatan kepad kelompok siswa, Pemberian penguatan dngan segera, Penguatan tidak penuh, Variasi dlam penggunaan.
Prisip-prinsip pemberian penguatan, yaitu : Kehangatan dan keantusiasan, Makna, Hindarkan pemberian respons yg negatif
Variasi dlam kegiatan belajar mengajar dimaksudkan sebagai proses perubahan dlam pengajaran, yg dpat di kelompokkan ke dlam tiga kelompok atau komponen, yaitu : Variasi dlam cara mengajar guruu, Variasi dlam penggunaan media dan alat pengajaran, Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa.
Variasi diartikan sebagai suatu proses pengubahan dlam pengajaran yg menygkut tiga komponen yaitu, gaya mengajar yg bersifat personal, penggunaan media dan bahan-bahan intruksional, dan pola serta tingkat interaksi guruu dngan siswa.
Tujuan dan manfaatnya ialah: Dpat menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa terhadp aspek-aspek belajar-mengajar yg relevan; meningkatkan kemungkina berfungsinya motivasi dan rasa ingin tahu melalui kegiatan penelitian (investigasi) dan penjelajahan (eksplorasi); membentuk sikap positif terhadp guruu dan sekolah; kemungkinan para siswa mendpat pelayanan serta individual sehingga memberi kemudahan belajar.
Prinsip-prinsip variasi : digunakn dngan maksud tertentu, relevan, dngan tujuan yg hendak dicapai, variasi harus dilakasanakn secara lancar dan berkesinambungan, memerlukan susunan dan perencanaan yg baik, dicantumkan dlam rencana pelajaran (berstuktur).
Komponen-komponen keterampilan mengadkan variasi meliputi dlam gaya mengajar guruu, Variasi dlam penggunaan media dan bahan pengajaran, Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa.
ketrampilan menjelaskan ialah penyajian informasi secara lisan yg diorganisasikan secara sistematik untk menunjukkan adnya hubungan yg satu dngan yg lainnya.
Secara garis besar komponen-komponen ketrampilan menjelaskan terbagi dua, yaitu : Merencanakn, hal ini mencakup penganalisaan masalah secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yg ad diantara unsur-unsur yg dikaitkan dngan penggunaan hukum, rumus, atau generalisasi yg sesuai dngan hubungan yg telah ditentukan.
Dlam penyajian suatu penjelasan, dngan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : kejelasan, penggunaan contoh dan ilustrasi, pemberian tekanan, dan penggunaan balikan.
Diskusi ialah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa yg tergabung dlam satu kelompok untk saling bertukar pendpat tentang sesuatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan, mendpatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah.
Diskusi dpat dilakukan dlam bermacam-macam bentuk (tipe) dan dngan bermacam-macam tujuan. Berbagai bentuk diskusi yg terkenal ialah sebagai berikut :
Ø  The social problema meeting
Ø  The open-ended meeting
Ø  The educational-diagnosis meeting
Beberapa Keuntungan Metode Diskusi
1.      Melibatkan semua siswa secara langsung dlam proses belajar.
2.      Dpat menguji tingkat pengetahuan dan penguasaan bahan pembelajaran
3.      Dpat menumbuhkan dan mengembangkan cara berfikir dan sikap ilmiah.
4.      Diharapkan para siswa akn dpat memperoleh kepercayaan akn (kemampuan) diri sendiri.
5.      Dpat menunjang usha-uasaha pengembangan sikap sosial dan sikap demokratis para siswa.
Komponen ketrampilan yg digunakn ialah: ketrampilan mengadkan pendekatan secara pribadi, ketrampilan mengorganisasi, ketrampilan membimbing dan memudahkan belajar dan ketrampilan merencanakn dan melaksanakn kegiatan belajar mengajar.
Pengelolaan kelas ialah ketrampilan guruu untk menciptakn dan memelihara kondisi belajar yg optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dlam proses belajar mengajar.
Dlam melaksanakn ketrampilan mengelola kelas makaa perlu diperhatikan komponen ketrampilan yg berhubungan dngan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yg optimal (bersifat prefentip) berkaitan dngan kemampuan guruu dlam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran, dan bersifat represif ketrampilan yg berkaitan dngan respons guruu terhadp gangguan siswa yg berkelanjutan dngan maksud agar guruu dpat mengadkan tindakn remedial untk mengembalikan kondisi belajar yg optimal.
Sedangkan ketrampilan bertanya lanjut merupakn lanjutan darii ketrampilan bertanya dasar yg lebih mengutamakn usaha mengembangkan kemampuan berpikir siswa, memperbesar pertisipasi dan mendorong siswa agar dpat berinisiatif sendiri.
Prinsip-prinsip yg harus digunakn dlam penggunaan keterampilan membuka dan menutup pelajarn ialah: Bermakna, dan Berurutan dan berkesinambungan.

a.       Saran
Jadikanlah makaalah ini sebagai media untk menambah wawasan dan pembelajaran. Dlam penulisan makaalah ini masih terdpat banyak kekurangan. Makaa darii itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan dan konstruktif demi kesempurnaan penulisan makaalah.
 

DAFTAR PUSTAKA

Dr.Suharsimi Arikunto,Pengelolaan Kelas Dan Siswa,Jakarta:CV Rajawali,1992.
Drs.Syaiful Bahri Djamarah (1997),Strategi Belajar Mengajar,Jakarta:PT Rineka
Cipta,1997.
Dr.Suharsimi Arikunto,Manajemen Penganjaran,Jakarta:PT Rineka Cipta,1993.
Drs.B.Suryono Subroto,Proses Belajar Mengajar Di Sekolah,Jakarta:PT Rineka Cipta,1997.


Visitor