Makalah Teknik Pembelajaran dan Metode langsung, klasikal, indivdual, tutorial, kumon, quantum, diagnostik dan remidial



BAB I
PENDAHULUAN
I.     Pendahuluan
Pendekatan belajar (approach to learning)dan strategi ternasuk factor yg menentukan tingkat efeiensi dan keberhasilansiswa.
Sering terjadi seorang siswa memiliki kemampuan kognitif yg lebih tinggi dariipad teman-temannya, ternyata hanya mampu mencapai hasil yg sama dngan hasil yg yg dicapai teman-temannya. Bahkan, bukan hal yg mustahil jika suatu saat siswa cerdas tersebut mengalami kemerosotan prestasi sampai ketitik yg lebih rendah dariipad prestasi temannya yg berkapsitas rata-rata. Sebaliknya, seorang yg hanya memiliki kemampuan rata-rata atau sedang dpat mencapai puncak prestasi yg memuaskan lantaran menggunakn pendekatan belajar yg efesien dan efektif. Konsekuensi positifnya ialah harga diri (self estem) siswi tersebut menjolak hingga setara dngan teman-temannya, yg beberapa orang diantara mungkin berkapasitas lebih rendah.
Menurut Gie 1995 efesiensi ialah konsep yg mencerminkan yg terbaik perbandingan terbaik antara usaha dan hasilnya. Suatu kegiatan belajar dikatakn efesien kalau prestasi belajar dpat dicapai dngan usaha minimal untuk hasil yg memuaskan.
Ragam metode belajar:
1.      Metode SQ3R yg dikembangkan Francis P. Robinson di Universitas Negeri Ohio Amerika serikat, metode tersebut bersifat praktis dan dpat di aplikasikan dlam berbagai pendekatan belajar. SQ3R (survey, Question, read, recite, review) yaitu pertama meneliti atau mengidentifikasi dngan cara membantu dan mendorong siswa untuk memeriksa atau meneliti seluruh teks, yg kedua ialah menyusun daftar pertanyaan yg relevan, yg ketiga ialah membacasecara aktif dan mencari jawaban-jawaban atas pertanyaan yg telah dibuat secara berurutan, yg keempat ialah menghafal jawaban yg telah ditemukan dan yg terakhir ialah meninjau ulang seluruh jawaban.
2.      Metode PQ4R, diciptaknoleh Thomas & Robinson (1972) yaitu preview, question, read, reflect, recite, review.

Dlam makalah ini, kami akn membahas materi yg berjudul pendekatan, model dan teknik pembelajaran matematika dngan metode langsung, klasikal, indivdual, tutorial, kumon, quantum, diagnostik dan remidial Alasan kami memilih judul ini karena kami ingin menambah wawasan tentang bagaimana pendekatan, model dantekhnik pembelajaran yg efesien.

b.   Maksud dan Tujuan
Adpun maksud darii penulisan makalah ini ialah sebagai berikut :
1.      Untuk  mengetahuipendekatan, model dan tekhnik pembelajaran yg efesien.
2.      Untuk Memberikan suatu informasi dlam teknik pembelajaran matematika dngan metode langsung, klasikal, indivdual, tutorial, kumon, quantum, diagnostik dan remidial.
3.      Untuk menambah wawasan kami dlam hal menganalisa teknik pembelajaran matematika dngan metode langsung, klasikal, indivdual, tutorial, kumon, quantum, diagnostik dan remidial.
4.      Mengaplikasikan pengetahuan yg telah didpatkan khususnya pengetahuan tentang pendekatan, model dan tekhnik pembelajaran yg efesien.

Adpun tujuan darii penulisan tugas makalah ini, yaitu:
1.      Untuk memenuhi salah satu tugas pad mata kuliah BelajardanPembelajaranMatematika.
2.      Mengetahui pendekatan, model dan tekhnik pembelajaran yg efesien.
3.      Membandingkanpendekatan, model dan tekhnik pembelajaran yg efesien.

c.    Ruang Lingkup Pembahasan
Berdasarkan tugas yg diberikan oleh dosen pengajar kami pad mata kuliah Belajar dan Pembelajaran Matematika, maka kami mambatasi pembahasannya sesuai dngan apa yg telah ditugaskan kepad kami. Adpun pembahasan di dlam makalah ini ialahpendekatan, model dan teknik pembelajaran matematika dngan metode langsung, klasikal, indivdual, tutorial, kumon, quantum, diagnostik dan remidial.

BAB II
PEMBAHSAN

I.     PENGGUNAAN METODE DLAM PEMBELAJARAN
A.  Metode dlam Strategi Pembelajaran Langsung
Strategi pembelajaran langsung sangat diarahkan oleh guru. Metode yg cocok antara lain : ceramah, tanya jawab, demontrasi, latihan, dan drill.
1.                Metode Ceramah
Metode ceramah didefinisikan sebagai suatu cara menyampaikan pesan dan informasi secra satu arah lewat suara yg diterima oleh indra telinga.Dlam konteks pembelajran dikelas etode ceramah dpat diartikan sebagai cara menyajikan pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung pad sekelompok peserta didik. Ceramah dpat digunakn:
1.    Pad waktu memberi informasi,
2.    Ketika orang yg belajar dpat memberi motivasi,
3.    Jika pembicara pandai untuk memberikan “gambar” dlam kata-kata,
4.    Jika kelompok terlalu besar untuk memakai metode lain,
5.    Jika ingin menambah atau menekankan apa yg sudah dipelajari,
Keunggulan metode ceramah ialah :
§  Dpat dipakai orang dewasa.
§  Menghabiskan waktu dngan baik.
§  Dpat digunakn pad kelompok yg besar.
§  Tidak melibatkan terlalu banyak alat pembantu.
§  Dpat dipakai sebagai penambah bahan yg sudah dibaca.
Beberapa kelemahan metode ceramah diantaranya ialah sebagai berikut.
§   Daya tahan peserta didik untuk berkonsentrasi dan mengendalikan alat indra sangat terbatas. Sepeluh menit pertama peserta didik mampu menyerap 70% informasi yg disampaikan. Dan pad sepuluh menit terakhir informasi yg diserap peserta didik hanya 20%.
§   Ketika mendengarkan, peserta didik sangat mudah terganggu karena peserta didik lebih terfokus pad apa yg dilihat (visual) darii pad yg didengar (audio).
§   Peserta didik tidak dpat membandingkan, menganalisis, mengevaluasi gagasan atau informasi yg disampaikan ketika dia sedang berceramah.
Secara umumcara mengatasi kelemahan darii metode ceramah ialah dngan mengkombinasikan dngan metode lain dan menggunakn beberapa teknik pembelajaran dlam pencapainya sebagai berikut.
1.          Membangun minat belajar peserta didik;
a.    Mengawali dngan menampilkan cerita atau gambar yg dpat menarik perhatian peserta didik  terhadp topik yg diajarkan.
b.    Menyajikan kasus yg berkaitkan dngan materi pelajaran.
c.    Mengajukan pertanyaan terhadp peserta didik sehingga mereka termotivasi.
2.         Memaksimalkan pemahaman dan ingatan terhadp peserta didik, dngan cara :
a.    Membuat kata-kata kunci yg berperan sebagai subjudul verbal atau alat memori yg idak lebih darii tujuh kata agar mudah ingat.
b.    Menjelaskan tujuan pembelajaran yg menjadi target kegiatan pembelajaran peserta didik.
c.    Membuat dukungan visual seperti OHP, handout singkat. Hasil peneliatian menunjukan bahwa menggunakn alat bantu visual ini ternyata dpat meningkatkan ingatan peserta didik antara 40% hingga 60%.
3.         Melibatkan peserta didik dlam kegiatan pembelajaran, hal ini dilakukan dngan dua cara yaitu;
a.    Memberhentikan kegiatan pembelajaran secara periodik (membuat jeda) dan menentang peserta didik untuk membuat contoh darii konsep-konsep yg telah dipelajari atau dipresentasikan.
b.    Menyelingi kegiatan pembelajaran dngan aktivitas-aktivitas singkat yg memperjelas topik yg disajikan.
4.    Memperkuat ingatan peserta didik dngan materi pelajaran, hal ini dpat dilakukan dngan cara ;
a.    Mengajukan pertanyaan atau masalah untuk dipecahkan ataundijawab oleh peserta didik,
b.    Meminta kepad peserta didik untuk saling mengulang atau mengevaluasi materi pelajaran yg sudah dipelajari.

2.      Metode Tanya Jawab (Respon)
Metode tanya jawab ialah penyajian materi dngan menggunakn pertanyaan, baik darii guru kepeserta didik, atau darii peserta didik keguru.
Metode tanya jawab biasanya dilakukan untuk menyingkirkan rintangan selama atau sesudah berlangsungnya masa ceramah. Hal ini dpat dilakukan dngan:
§  Mmeperkenankan peserta didik untuk menanyakn soal apa saja tentang bahan pelajaran yg diberikan guru,
§  Guru membuat serangkaian pertanyaan tentang topi yg diberikan dlam ceramah.
Darii sini dpat dilihat keuntungan pengguanaan metode tanya jawab ini, antara lan:
§  Melatih kerjasama,
§  Memusatkan perhatian,
§  Melihat kemajuan,
§  Mengurangi kebosanan,
§  Meningkatkan daya pikir.
Sedangkan kelemahannya, akn menimbulkan frustasi peserta didik apaila guru tidak menggunkan cara0cara bertanya dngan baik, untuk itu guru harus mempunyai keterampilan bertanya.
Langkah yg harus dipersiapkan dlam bertanya ialah :
1.      Merumuskan tujuan sejelas mungkin,
2.      Mencari alasan mengapa menggunakn metode ini,
3.      Metamalkan kemungkinan jawaban-jawaban,
4.      Menetapkan kemungkinan jawaban supaya tidak menyimpang darii pokok.

3.      Metode Demontrasi
Demonnstrasi berarti pertunjukan, maksudnya didlam pembelajaran guru dngan menunjukan apa yg sedang diterangkan. Dngan demikian demontrasi biasanya digunakn dngan memadukan metode ceramah. Secara lengkap demonstrasi ini berfungsi untuk:
1.      Menentukan masalah,
2.      Merupakn ilustrasi darii suatu konsep,
3.      Membantu memecahkan masalah,
4.      Merupakn peninjauan kembali atas suatu eksperimen,
5.      Merupakn klimaks darii suatu penyajian.
Keuntungan darii metode demontrasi ini antara lain :
§  Informasi semakin bermakna dan cepat dimengerti (menghemat waktu)
§  Mengurangi kesalah pahaman terhadp konsep.
§  Lebih hemat darii praktikum.
§  Mengurangi bahaya darii praktikum.
Kerugiannya antara lain :
§  Tidak semua peserta didik dpat melihat demontrasi
§  Kurang memberi kesempatan peserta didik untuk dpat menggunakn alat.
§  Memaksa peserta didik untuk meyakini saja hasil demonstrasi tersebut.
§  Banyak peserta didik yg tidak mengerti hasil demonstrasi.

4.      Metode latihan (drill)
Metode latihan sering isebut metode training. Metode ini sesuai untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, serana untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketetapan, kesempatan, dan keterampilan.

Keunggulan darii metode latihan antara lain :
§  Meningkatkan ketetapan dan  kecepatan pelaksanaan.
§  Tidak memerlukan konsentrasi yg tinggi.
§  Gerakn yg kompleks menjdi otimis.
Kelemahan metode latihan antara lain :
§  Menghambat bakat dan inisiatif, karena peserta didik diarahkan ke konformitas dan uniformitas.
§  Membosankan, karena selalu diulang-ulang, apalagi kalau pengulangannya monoton.
§  Membentuk kebiasaan yg kaku, karena penekanna lebih mendpatkan kebiasaan secara tomatis, sehingga tidak memerlukan intlegensia
§  Menimbulkan verbalisme, karena penekanan pad menghafal.

II.  Metode klasikal

Metode klasikal ialah pengajaran pad umumnya yg biasa kita lakukan sehari-hari. Pad metode klasikal itu guru mengajar sejumlah murid dlam ruangan yg kemampuannya memiliki syarat minimum untuk tingkat itu. Murid itu di asumsikan minatnya, kepentingannya, kecakapannya, dan kecepatan belajarnya relatif sama. Mereka masuk (naik) kelas secara bersama dan keluar pun (naik kelas tahun berikutnya) secara bersama pula. Guru pad umumnya mendominasi kelas, murid pad umumnya pasif dan hanya menerima.
Pad metode klasikal guru mengajar siswa secara kelompok dlam ruangan kelas yg banyak murid sekitar 30 sampai 40orang. Pad pengajaran model itu guru tidak mungkin dpat memperhatikan kepentingan murid orang demi orang, baik kecepatan belajarnya, kesenangannya (seleranya), kebiyasaanya belajar, dan lain-lain. Biasanya ad sebagian kecil individu yg terlayani yaitu yg sangat pandai (dngan diberi tugas tambahan) dan anak yg belajar lambat (dngan diberi bimbingan khusus). Tetapi murid-murid pad umumnya secara individual kepentingannya tidak dpat diperhatika. Kebanyakn guru pad umumnya mengajar berdasarkan kepad kemampuan murid pad umumnya, baik kecepatan mengajarnya maupun tingkat kesukaran materi yg diajarkannya. Kecuali tahun 1975, sumber materi pad umumnya ialah buku-buku pelajaran tradisional (antara lain tidak mencantumkan instruksionalnya). Dngan sedikit persiapan (bagi guru berpengalaman tidak perlu lagi membuat persiapannyakarena semua ilmunya itu sudah siap di otaknya) guru memberikan atau mengurutkan apa-apa yg akn diajarkannya. 

Cara mengajarkannya, alat peraga/pengajarannya, alat evaluasina, dan apalagi tujuan instruksionalnya biasanya tidak ditonjolkan aturannya, karena dianggap sudah berpengalaman, siap untuk mengatasi persoalan. Semua kegiatan belajar untuk anak sepenuhnya ad pad tangan guru itu saja. Banyak sedikitnya materi yg diajarkan, cara mengajarkannya, pendekatannya, alat peraganya, urutannya, kecepatan ia mengajar,kriteria keberhasilan siswa belajar, waktu ulangan, dan lain-lain, semuanya ditentukan oleh guru; murid ”tidak mempunyai” hak untuk berbicara. Dan nampaknya aturan mainnya pun terselubung (bukan berarti tidak jujur) tidak terbuka. Setelah tahun 1975, cara mengajar klasik itu diperbaiki yaitu dngan diwajibkan setiap guru menerapkan PPSI ( Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) yg dlam realitanya menulis satuan pelajaran untuk setiap topik yg akn diajarkannya. Dngan demikian guru mengembangkan topik yg akn diajarkannya menjadi terarah, teratur dan terurut karena berdasarkan suatu sistem. Dan dngan dituntutnya sauan pelajarannya dibuat, maka tujuan instruksional khususnya, topiknya ( sub-topiknya), cara mengajarnya, dan kegiatan belajar mengajarnya menjadi jelas.

Permasalahan yg sering timbul atau diadkan secara sengaja ialah:
1.    Ad yg berpendpat bahwa pad (model) sauan pembelajaran yg benar itu hanya satu macam, yaitu yg dianutnya; pola lainnya ialah keliru. Dngan demikian maka setiap guru atau calon guru yg membuat satuan pelajaran harus persis seperti pendpatnya. Ini akn merepotkan calon guru-calon guru yg membuat pola satuan pelajarannya ygberbeda; mungkin ia harus merombak lagi secara menyeluruh. Padhal mungkin calon guru ini memperoleh pengetahuan tentang pola itu darii gurunya/dosennya yg betul-betul menguasai PPSI.
2.    Ad lagi yg berpendpat bahwa kegiatan belajar-mengajar (kegiatan murid-guru) darii sutu satuan pelajaran itu tidak perlu dirinci seperti biasanya dipersyarakn. Menulis kegiatan belajar-mengajar yg sangat terinci dan mendetail.
3.    Pad setiap suatu satuan pelajaran itu selesai disajikan semestinya kita mengetahui kemampuan siswa tentang materi satuan pelajaran berikutnya yg akn diajarkan. Pad umunya mereka belum menguasainya, mungkin ad seorang dua orang yg telah mengenalnya. Oleh karena itu apakah diperlukan adnya pretest untuk keadan seperti itu. Apakah hanya membuang-buang waktu  saja ? berbeda sekali dngan bila  siswa yg akn diberi pelajaran itu baru kita kenal, kita belum mengenal latar belakngnya. Bila pretest itu diselenggarakn, soal-soalnya supaya tidak diterangkan sebelum posttest diselenggarakn. Sebab, bila diterangkan sebelum posttest diselenggarakn, ad kemungkinan siswa belajar materi satuian pelajaran itu hanya darii soal-soal pretestnya saja.

Seorang guru yg melakukan pengajarannya dngan menggunakn satuan pelajaran paling tidak ad 2 tahap kegiatan penting yg harus dilakukan.

1.    Membuat persiapan
Langkah-langkah dlam membuat satuan pelajaran itu ialah :
-  Menjabarkan tujuan instruksional umum (pad umumnya darii kurikulum) kedlam tujuan-tujuan instruksional khusus.
-  Membuat alat evaluasinya, baik untuk pretest maupun posttest.
-  Merinci materi pelajaran dngan jalan menguraikan (kalau diperlukan) top[ik yg ad dlam kurikulum kedlam subtopik-subtopik atau pokok-pokok materi.
-  Menguraikan pokok kegiatan mengajar kedlam langkah-langkah terurut secara logis. Pad tahap ini difikirkan juga tentang pengetahuan prasyarat, teknik mengajar, pendekatan, dan alat peraga/pengajaran yg diperlukan, waktu yg diperlukan baik untuk pretest dan posttest maupun untuk pelaksanaan pengajarannya. Sumber bacaan baik yg kita pakai maupun yg akn dibaca murid dicantumkan.

2.    Pelaksanaan
Kegiatan dlam pelaksanaan pengajaran dngan satuan pelajaran yg harus dilakukan guru ialah :
-  Menyelenggarakn pretest;
-  Melaksanakn pengajaran;
-  Menyelenggarakn posttest.

III.   Metode individual
a.    Metode individual ialah :
-   Lebih memberikan kesempatan kepad siswa kapan dan mengenai apa ia belajar, ia mengatur waktu, tempat, dan materi yg akn dipelajarinya.
-   Siswa belajar sesuai dngan kecepatannya masing-masing, yg pandai belajar lebih cepat dan sebaliknya yg lambat belajar tenang sesuai kecepatannya terseret-sere oleh siswa yg lebih pandai.
-   Pengajaran itu berpusat pad anak.
-   Urutan unit-unit yg siswa pelajari ditentukan (dipilih) oleh siswa itu sendiri, ia tidak usah mengukuti jalur kesenangan gurunya.
-   Siswa belajar secara tuntas.
-   Setiap unit yg dipelajarinya memuat tujuan instruksional khusus yg jelas dan kemampuan siswa pad ahir kegiatan itu diukur berdasarkan kepad tujuan instruksional khusus itu.
-   Guru bertindak sebagai pembimbing atau fasilitator belajar siswa bukan sebagai penilai. Guru membantu bila siswa memerlukannya.
-   Lebih banyak media pendidikan dipergunakn, seperi : film, slaids, piringan hitam, model, dan lain-lain.
-   Hasil test tidak dipakai sebagai penentu apakah ia lulus atau tidak, tetapi lebih bersifat sebagai pengecek kemampuan siswa.
b.    Macam-macam metode individual :
1.      Perencanaan Keller
         Perencanaan keller terutama terdiri atas sebuah buku teks standard an sejumlah pedoman terrulis untuk belajar. Pedoman ini berisi tujuan instruksional khusus tentang unit yg dipelajari dan bertindak sebagai penghubung antara buku teks (materi buku) dngan pertanyaan – pertanyaan. Tipe ini member kesempatan kepad siswa untuk memilih aturan (jalur) unit-unit dipelajarinya. Jalur pilihan ini tercantum (telah dibuat), siswa tinggal memilih saja ; jadi bebas terpimpin. Selain itu tipe ini memberikan keleluasaan kepad  siswa untuk belajar sesuai dngan kecepatannya dan siswa dpat meminta soal test darii bagian administrasi bila ia sudah siap untuk menempuhnya.
Cirri-ciri individual lainnya darii yg 10 butiran itu, kecuali meia banyak, juga dipenuhi. Meski begitu tipe ini tidak menutup kemungkinan untuk menggunakn media pendidikan  lain seperti menggunakn koputer pad waktu menyelesaikan tugas-tugas, menggunakn perekam pita pandang dengar (video tape recorder). Hanya saja materi utamanya ialah tertulis.
Tipe ini disebut perencanaan keller disebabkan sebagai pengembang pemulanya ialah Freds keller.
Kalau kita perhatikan, keunggulan yg utama darii perencanaan keller ini ialah :
·         Anak pandai dpat maju pesat sesuai dngan kecepatannya.
·         Siswa betul-betul menguasai materi dngan baik secara menyeluruh.
        Sedangkan kelemahannya ialah guru tidak dpat mengontrol kecepatan siswa belajar (terutama siswa yg lambat belajar).

2.      Pelajaran Mini
         Pelajaran mini atau “minicourse” atau AT (Audio Tutorial) mulai dikembangkan sekitar tahun 1961 oleh Samuel N. postlethwait dlam pelajaran botani di universitas purdue, di Indiana, amerika serikat. Tipe ini terutama dipergunakn untuk ilmu pengetahuan alam praktis seperti geologi atau biologi. Unit pelajaran mini umumnya berupa paket-pake kecil dngan media banyak, yg terdiri atas petunjuk untuk belejar yg berisi tujuan instruksional khusus, rekaman komentar (penjelasan), slaids, film model kaset dan lain-lain.
         Pad pelajaran mini ad ulangan lisan atau tulisan mingguan secara teratur. Guru yg memberikan penilaian apakah TIK-nya sudah dicapai atau belum. Bila siswa belum menguasainya, guru menasehatkannya untuk mengulanginya atau mempelajari materi lain. Tetapi ia tidak dihalangi untuk melanjutkan ke unit berikutnya. Pad umumnya siswa belajar secara tuntas tetapi yg tidakpun boleh terus. Jadi, pad pelajaran mini ini belajar tuntas itu bukan merupakn hal yg pokok, berbeda dngan perencanaan keller. Perbedaan lain dngan perencanaan keller ialah pad pelajaran mini teori yg praktis (aplikasi) diajarkan secara terpadu, sedangkan pad perencanaan keller yg diajarkan terutama mengenai teori.
Keunggulan darii teori mini ialah :
1)   Teori dan bekerja praktek diajarkan secara terpadu.
2)   Siswa-siswa belajar secara bersama ; ini akn mengakibatkan adnya penghematan adnya media pengamatan pendidikan, guru dan lain-lain dan hanya darii saling member pengalaman.
3)   Kebebasan (kecepatan) siswa belajar dikontrol oleh gurunya.
        Sedangkan kelemahannya yg utama ialah siswa yg pandai tidak dpat mengatur waktu belajarnya secara keseluruhan sehingga ia dpat belajar lebih singkat darii semestinya dan yg belajar lambat besar kemungkinan belajarnya tidak tuntas.

3.      Pusat Sumber Materi
          Pusat sumber materi (resource center) terdiri atas beraneka ragam sumber belajar yg berisi tentang macam-macam informasi. sumber blajar itu misalnya : buku pelajaran, buku bacaan, slaids, pita suara, pita pandang dengar, (video tape), piringan hitam, model, gambar, film, film strip, dan lain-lain. Sumber belajar itu tidak disusun sehingga menjadi satu mata pelajaran. Sumber belajar itu dpat dipergunakn untuk berbagai maksud, misalnya untuk penguatan, persiapan untuk ulangan, persiapan mengikuti pelajaran, pengayaan, sekedar hiburan dan lain-lain.
         Pusat sumber belajar itu disediakn untuk murid dan dpat dipakai setiap saat. Siswa dpat memperoleh bimbingan darii guru dlam penggunaannya, tetapi waktu yg tersedia untuk pelajaran ini terbatas; artinya guru tidak tiap saat siap. Murid tidak diarahkan dan ulangannya pun tidak ad, ia belajar bebas. Jadi guru yg diperlukan relative lebih sedikit. Karena itu tipe ini akn lebih cocok untuk institusi yg banyaknya staf (mengajar) terbatas.
         Kalau pad perencanaan keller dan pelajaran mini tujuan instruksional khusus setiap unit itu ad, maka pad tujuan tipe pusat sumber materi ini tidak ad instruksional khusus. Bila kita yg membuatnya dpat saja kita membuat TIK-nya.
         Keunggulan darii pusat sumber materi ialah lebih mungkin dpat diterapkan di sekolah-sekolah yg tenaganya kurang. Siswa yg rajin akn mendpatkan ilmu sabanyak-banyaknya dan seluas-luasnya sedangkan bagi siswa yg malsa sebaliknya.

4.      .Pengajaran Terprogram
         Pengajaran terprogram atau disebut juga pengajaran berprograma merupakn salah satu jenis darii metode individual. Oleh karena itu maka pengajaran terprogram ini harus memiliki (sejalan dngan) cirri-ciri sebagian atau seluruhnya pengajaran individual yg sedang kita bahas, yaitu dpat dipelajari kapan saja (pengulangan, ketinggalan sekolah), siswa belajar sesuai dngan kecepatannya dan lain-lalin.
         Pengajaran terprogram mulanya di kembangkan oleh B.F. Skinner pad tahun 1950 di Amerika serikat. Kerja skinner ini merupakn dasar bagi terjelmanya buku (teks) terprogram, paket-paket pelajaran, dan lain-lain.
         Pengajaran terprogram ialah metode tertulis (buku pelajaran) bersekat-sekat kecil yg dpat dipelajari sendiri kapan saja dan sesuai dngan kecepatannya, yg disusun sedemikian rupa sehingga dngan sederetan langkah-langkah dlam setiap sekatan itu siswa dpat terbimbing sendiri untuk memahami materi (fakta, keterampilan, konsep, dalil, dan lain-lain) yg disajikan. Langkah-langkah itu dlam bentuk ekspositori dan pertanyaan.
         Teori terprogram ini memiliki kelemahan misalnya lebih menjurus kepad pembentukan manusia mesin. Kelemahan lain dlam metode ini ialah akn terjadi kebosanan apalagi bila tidak menarik (tidak berwarna dan lain-lain) ; siswa terus menerus belajar sendiri menonton dngan Tanya-jawab. Siswa pandai menganggap pelajaran itu terlalu bertele-tele, mengulang-ulang, ia merasa terpaksa untuk mngikuti dialog yg menjemukan. Sedangkan bagi anak yg lemah dpat menyebabkan frustasi. Pad pengajaran terprogram pola linear siswa dihadpkan terhadp pertanyaan-pertanyaan yg harus ia jawab.
         Pad metode terprogram pola bercabang, siswa yg keliru itu diberi petunjuk, kekeliruannya ditunjukan sehingga ia mengerti persoalannya itu dan kembali kepad jawaban yg benar.

5.      Pengajaran Dngan Modul
         Pengajaran ini dimulai oleh J.D. Russel pad tahun 1969 di Amerika Serikat. Menurutnya, modul ialah suatu oaket pengajaran yg memuat suatu unit konsep bahan pengajaran yg dpat dipelajari sendiri (self instrucsional).
         Di Indonesia pengajaran dngan modul dimulai tahun 1975 di 8 PPSP IKIP, yaitu di IKIIP Padng, Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Malang, Surabaya, dan Ujung pandang. Selain modul PAMONG, sekarang-sekarang ini sedang dicobakn dngan modul itu di 3 SMP terbuka, yaitu di Kalianda (Lampung), Tegal (Jawa Tengah) dan di Lombok (Nusa Tenggara Timur).

     Butiran yg tidak dimiliki modul kita ialah :
1.    Tidak berpusatkan kepad anak, Modul kita pad umumnya masih menunjukan adnya paksaan kepad siswa agar ia mengikuti cara, selera, kebiasaan penulis modul. Meskipun sukar, sebaiknya penulis modul supaya mulai berusaha menyajikan materi itu dngan menggunakn bebagai teknik mengajar dan berbagai alat peraga pengajaran, agar siswa yg mempelajarinya dpat memilih cara yg sesuai dngan kebiasaannya dan seleranya. Dngan demikian fikiran siswa tidak akn terganggu lagi oleh kebiasan penulis modul yg berbeda-beda.
2.    Tidak ad kesempatan bagi siswa untuk memilih jalur urutan topic-topik yg lebih sesuasi dngan seleranya. Ini merupakn tugas berat bagi penulis, karena penulis harus selalu berfikir alternatif pad setiap kali ia menulis modul. Ia harus menyusun topic-topik secara menyeluruh dlam berbagai jalur yg hirarki dan urutan logisnya benar. Nampaknya tugas ini akn merupakn tugas yg paling berat bagi penulis modul matematika dibandingkan dngan penulis modul bidang studi lain.

3.    Baru sedikit sekali menggunakn berbagai media pendidikan (tidak media banyak) modul kita, boleh dikatakn semua materi utamanya disajikan dlam bentuk tulisan. Karena itu, seperti perencanaan keller, modul ini tidak media banyak. Tetapi bila keadan sudah memungkinkan (biaya, teknisi, dan lain-lain) penyajian materi itu dpat dlam media lain minimum bagi perluasan dan pendlaman dan tentu saja maksimum sebagai penunjang kepad terlaksananya secara konsekuen butiran-butiran tertentu darii cirri-ciri pengajaran individual itu, yaitu pelajaran berpusatkan kepad anak dan pemilihan unit-unit oleh siswa.

     Bagi siswa yg sudah selesai dngan modul tertentu (belum test) mempunyai 3 macam kesempatan :
1.    Maju berkelanjutan tanpa pengayaan;
2.    Maju berkelanjutan dngan pengayaan;
3.    Maju berkelanjutan dngan kelompok yg lebih kecil.

IV.   Metode tutorial
Metode tutorial pad dasarnya sama dngan metode bimbingan, yg bertujuan memberikan bantuan kepad siswa atau peserta didik dpat mencapai prestasi belajar secara optimal. Kegiatan tutorial ini memang sangat dibutuhkan sebab siswa yg dibimbing melaksanakn kegiatan belajar mandiri yg bersumber darii modul-modul dlam bidang study tertentu. Itu sebabnya kegiatan itu sering dikaitkan dngan program pengajaran modular. System pengajaran ini direalisasikan dlam berbagai bentuk, yakni pusat belajar modular, program pembinaan jarak jauh (untuk pegawai), dan sistem belajar jarak jauh. Pendekatan ini perlu ditekuni dlam kerangka study kita tentang strategi belajar nebgajar berdasarkan CBSA karena memang tutorial erat kaitannya dngan belajar mandiri, bahkan merupakn strategi yg menunjang pelaksanaan dan keberhasilan belajar mandiri yg notabene berdasarkan cara belajar siswa aktif. 

Metode tutorial ialah binbingan pembelajaran dlam bentuk pemberian bimbingan, bantuan, petunjuk, arahan, dan motivasi agar para siswa belajar secara efisien dan efektif. Pemberian bantuan berarti membantu suswa dlam mempelajari materi modul. Petunjuk berarti memberikan penjelasan tentang cara belajar secar ehisien dan efektif. Arahan berarti mengarahkan para suswa untuk mencapai tujuan masing-masing modul. Motivas berarti menggerakkan kegiatan para siswa dlam mempelajari modul, mengerjakn tugas-tugas, dan mengikuti penilaian. Bimbingan berarti membantu para siswa memecahkan masalah-masalah belajar.

Tujuan metode tutorial ialah :
Ø Untuk menungkatkan penguasaan pengembangan pengetahuan para siswa sesuai yg dimuat dlam modul-modul : melakukan usaha-usaha pengayaan materi yg relevan.
Ø Untuk menungkatkan kemampuan dan ketrampilan siswa tentang cara memecahkan masalah, mengatasi kesulitan atau hambatan agar mampu membimbing diri sendiri.
Ø Untuk meningkatkan kemampuan siswa tentang cara belajar mandiri dan menerapkannya pad masing-masing modul yg sedang dipelajari.

Fungsi metode tutorial ialah :
Ø Kulikiler, yakni sebagai pelaksana kurikulum dan GBPP sebagaimana telah dibutuhkan bagi masing-,asing modul dan mengkonsumsikannya kepad siswa.
Ø Instruksional, yakni melaksanakn proses pembelajaran agar para siswa aktif belajar mandiri melalui modul yg telah ditetapkan.
Ø Diagnosis-bimbingan, yakni membantu para siswa yg mengalami kelemahan, hambatan, masalah dalm mempelajari modul berdasarkan hasil penilaian, baik formatif maupun sumatuf, sehingga suswa mampu membimbing diri sendiri.
Ø Administrative, yakni melaksanakn pencetakn, pelaporan, penilaian dan teknisi administrative lainnya sesuai dngan tuntutan program modular.
Ø Personal, yakni memberikan keteladnan kepad suswa seperti penguasaan materi modul, cara belajar, sikap dan perilaku yg secara tak langsung menggugah motivasi belajar mandiri dan motif berprestasi.

Urutan kegiatan dlam prosedur metode tutorial ialah sebagai berikut :
Ø Menentukan, merumuskan, dan menhkaji permasalahan yg dihadpi oleh siswa.
Ø Mencari informasi darii berbagai sumber yg menyebabkan kesulitan dan masalah bagi siswa.
Ø Melaksanakn berbagai pendekatan ke arah pemecahan masalah yg dihadpi oleh siswa.
Ø Memberikan bantuan dan nasehat kepad peserta dan atau mengajarkan kembali materi modul yg dianggap perlu atau dibutuhkan oleh siswa.
Ø Menempatkan kembali peserta yg telah mendpat penyuluhan bimbingan khusus ke dlam siswa kelas.
Ø Melakukan pembinaan terus-menerus dan membantu perkembangan iswa selanjutnya.

Jenis-jenis kegiatan metode tutorial adla :
Ø Pemantapan, yaitu memantapkan pengetahuan yg telah dimiliki oleh siswa sesuai dngan modul yg telah dipelajari sebelumnya.
Ø Pengayaan, yaitu memperluas pengetahuan dan pengalaman siswa sehingga hal-hal yg telah dipelajari darii modul menjadi lebuh jelas, luas, dan terpadu.
Ø Bimbingan, yaitu membantu peserta dlam mengatasi kesulitan dsan pemecahan masalah.
Ø Perbaikan, yaitu memperbaiki kekurangan atau kelemahan-kelemahan siswa dlam mempelajari materi modul, baik dalm suatu bagian maupun dlam keseluruhan bahan modul, melalui pengajaran remedial.
Ø Pembinaan, yaitu membina para siswa terutama dlam hal cara belajar mandiri, pembuatan tugas-tugas, prosedur penilaian dan lain-lain.
Waktu dan pelaksanaan metode tutorial ialah :

Ø Pelaksanaan metode tutorial paling sedikit satu kali untuk setiap modul (misalnya dlam jangka tiga bulan).
Ø Diharapkan kegiatan metode tutorial dilaksanakn setiap bulan pad minggu ketiga atau keempat dlam bulan yg bersngkutan,misalnya pad hari sabtu.
Ø Diharapkan metode  tutorial dilaksanakn kapan saja sesuai dngan dukungan yg diperlukan (misalnya biaya transpor).
Tempat pelaksanaan metode tutorial : metode tutorial dilaksanakn di tempat yg telah ditentukan.

Tujuan, jeni, aspek, dan alat penilaian dalm metode tutorial ialah :

Ø Tujuan : untuk mengetahui tingkat nelajar para siswa setelah mengikuti metode tutorial.
Ø Jenis penilaian : penilaian dilaksanakn dlam bentuk :
a.    Penilaian diagnosis untuk menentukan kesulitan dab masalah.
b.    Penilaian kembali setelah pengayaan remedial.
c.    Penilaian hasil pengajaran kembali setelah penyelenggaraan penyuluhan.
Ø Aspek yg dinilai : aspek-aspek yg dinilai meliuputi :
a.    Pengetahuan (sesuai dngan modul).
b.    Keaktifan belajar.
c.    Tugas penerapan.
Ø Alat penilaian : dpat dipilih sebagai berikut :
a.    Tes tertulis
b.    Kartu partisipasi
c.    Observasi atau wawancara
d.   Kuesioner

V.      STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
A.    Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajran Kooperatif (Cooperative Learning) secara etimologi mempunyai arti belajar bersama antara dua orang atau lebih, sedangkan CL dlam artian yg lebih luas memiliki definisi yg antara lain ialah belajar bersama yg melibatkan antara 4-5 orang, yg berkerja sama menuju kelompok kerja dimana tiap anggota bertanggung jawab secara individu sebagai bagian darii hasil yg tak akn bisa tercapai tanpa adnya kerja sama antar kelompok. Dngan kata, anggota kelompok saling tergantung secara positif.
B.     Karakteristik Strategi Pembelajaran Kooperatif
Sesuai dngan sifatnya pembelajaran kooperatif yg lebih mengedepankan aspek kerjasama memiliki karakteristik sebagai berikut.
1.      Pembelajaran secara Tim
Pembelajaran dilakukan secara tim, dngan tim inilah secara bersama-sama mencapa tujuan yg telah  ditentukan, oleh karenanya tim hrus mampu membuat setiap peserta didik dlam tim belajar.
2.      Pembelajaran dngan manajemen kooperatif
Manajemen memiliki empat pilar yg menjadi fungsi manajemen, yaitu: fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi control. Funsi perencanaan.
3.      Kemampuan untuk bekerja sama
kerja sama dlam kelompok tidak akn efektif manakala setiap anggota tidak memiliki kemauan untuk bekerja sama atau secara terpaksa.
4.      Keterampilan bekerja sama
Tujuan bekerja sama dlam kelompok ialah keberhasilan kelompok bukan hanya individu-individu dlam kelompok secara terpisah, untuk itu kemampuan dan keteramapilan bekerja sama dlam kelomok sangat dibutuhkan agar setiap anggota kelompok dpat menyumbangkan ide, mengemukakn pendpat dan dpat memberikan kepad keberhasilan kelompok.
C.     Prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif
1.      Prinsip ketergantungan positif (positive Interpendence)
Ketergantungan antar anggota dlam anggota akn efektif apabila setiap anggota dlam kelompok mengetahui dngan baik tugas masing-masing sesuai dngan kemampuannya berdasarkan pad job description.
2.      Tanggung jawab perorangan (Individual Accountability)
Keberhasilan dlam kerja kelompok merupakn keberhsilan setiap individu, untuk itu keberhasilan kerja kelompok sangat tergantung darii keberhasilan individu, jadi setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai dngan tugasnya masing-masing.
3.      Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction)
Implementasi pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yg luas kepad setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan.
4.      Partisipasi dan komunikasi (Partisipation Communication)
Diantara tujuan pembelajaran kooperatif ialah melatih peserta didik untuk mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Untuk dpat melakukan partisipasi dan komunikasi, peserta didik perlu dibekali dngan kemampuan-kemampuan berkomunikasi.
D.    Prosedur Strategi Pembelajaran Koopertif
1.      Menetapkan tujuan pembelajaran, aktifitas, dan penghargaan
Yaitu membuat keputusan sejak awal tentang tujuan pembelajaran dan jenis aktifitas yg sesuai dngan mereka. Keputusan harus dibuat tentang apakah tujuan pembelajar diambil darii dominan kognitif (dlam area keahlian akademis), afektif (dlam area sikap dan nilai), atau domain psikomotor (keahlian fisik).
2.      Komposisi kelompok
Yaitu merupakn bentuk praktek yg baik untuk membentuk kelompok yg terdiri darii seorang siswa yg punya kemampuan diatas rata-rata, dua sampai empat siswa dngan kemampuan rata-rata dan seorang siswa dngan kemampuan dibawah rata-rata atau anak-anak dngan kebutuhan khusus.
3.      Kerja sama yg efektif
Yaitu dngan cara menjelaskan kepad siswa bagaimana cara anggota kelompok harus bekerja sama antara satu dngan yg lainnya.
4.      Perilaku yg dpat diterima dan tidak dpat diterima
Guru harus memberikan penjelasan secara tegas tentang apa yg dpat diterima dan tidak dpat diterima dlam kelompok dan menetapkan peraturan untuk pemfungsian kelompok dngan tepat sebelum kelompok mulai mengerjakn tugasnya.
5.      Periode percobaan dan umpan balik
Guru harus memberikan umpan balik kepad kelompok tentang kualitas kelompok dan kinerja individu.
6.      Bantuan darii guru kepad siswa
Guru atau pengajar khusus harus dipersiapkan untuk memberikan bantuan ekstra atau bantuan tambahan kepad siswa yg mempunyai masalah belajar ketika hal itu diperlukan.
7.      Melakukan evaluasi
Guru harus melakukan evaluasi teentang prosedur pembelajaran cooperatif learning. Kebanyakn guru ingin memberikan pertanyaan yg lebih tepat/teliti tentang evaluasi. Kualitas hasil dan jumlah waktu yg diperlukan untuk pembentukan kelompok perlu dipertimbangkan.

E.     Keunggulan dan kelemahan Strategi pembelajaran Kooperatif
Keunggulan :
§  Peserta didik dlam kelompok kooperatif mampu bekerja sama untuk kebaikan kelompok secara keseluruhan ketimbang hanya untuk kebutuhan individu saja.
§  Peserta didik dlam kelompok pembelajaran kooperatif dpat didorong untuk membantu siswa yg mempunyai masalah dlam belajar atau membantu siswa yg cacat.
§  Prosedur pembelajaran kooperatif memudahkan integrasi sosial darii kebutuhan khusus siswa.
§  Pembelajaran kooperatif memudahkan pembagian usaha dan tugas yg dpat disesuaikan dngan kebutuhan individu.
§  Metode pembelajaran kooperatif dpat digunakn untuk menyediakn penghargaan atau reward baik kepad siswa berprestasi tinggi maupun siswa berprestasi rendah. 
Kelemahan :
§  Butuh waktu yg lama untuk memahami filosofi belajar secara kooperatif.
§  Sulit untuk menunjukan peer teaching yg efektif padhal ciri utama pembelajaran kooperatif ialah adnya peserta didik yg saling membelajarkan.
§  Dlam evaluasi sulit untuk memberi penilaian yg obyektif secara individual, karena dlam pembelajaran kooperatif lebih menonjolkan kebersamaan atau kerja kelompok.
§  Butuh waktu yg lama untuk mengembangkan kesadran berkelompok.
§  Kurang memperhatikan aspek motivasi diri untuk menanamkan kepercayaan diri, karena tertutup dngan kepentingan bersama.

VI.   METODE PEMBELAJARAN KUMON
a.    Pengertian Pembelajaran Kumon
Metode ialah suatu cara yg dipergunakn untuk mencapai tujuan yg telah ditetapkan. Dlam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dngan tujuan yg ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akn dpat melaksanakn tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yg telah dirumuskan yg telah dirumuskan dan dikemukakn para ahli psikologi dan pendidikan (Djamarah, 2002:53).
Sedangkan menurut sedangkan Wina Senjaya (dlam Sudrajat, 2008) metode ialah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Sedangkan Sudrajat menyimpulkan metode pembelajarandpat diartikan sebagai cara yg digunakn untuk mengimplementasikan rencana yg sudah disusun dlam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Metode Kumon dikembangkan oleh Toru Kumon, seorang guru matematika. Ia mengembangkan metode pembelajaran matematika untuk anaknya yg duduk di SD.
Siswa mulai darii bagian yg dpat dikerjaknnya sendiri dngan mudah, tanpa kesalahan. Melalui pencapaian target dngan kemampuannya sendiri, anak-anak akn merasakn kegembiraan dan kepuasan.
Kumon menggali potensi setiap individu dngan metode belajar mandiri yg disesuaikan dngan kemampuan setiap individu. Melalui bimbingan perseorangan dan belajar pad tingkatan yg tepat, Kumon berusaha untuk meningkatkan kemampuan setiap anak dan memaksimalkan potensinya.
Metode Kumon ialah cara belajar perseorangan. Setiap siswa maju dngan kemampuannya sendiri. Pembimbing Kumon memberikan dukungan kepad setiap siswa dlam mengembangkan kemampuan belajar mandiri. Salah satu jurus yg membuat metode ini efektif ialah metode belajarnya. Di program Kumon, pembelajarannya disesuaikan dngan kemampuan masing-masing anak. Karena sesuai dngan potensinya masing-masing, akn lebih mudah bagi anak mempelajarinya. Begitu teknik inti sudah dimengerti anak, ia bisa mempraktikkannya sendiri di rumah dngan berlatih soal-soal. Bila terus dilatih, kemampuannya akn terus terasah.
          Bahkan metode Kumon ini bisa juga diajarkan pad anak usia prasekolah. Karena belum bisa menulis, biasanya mereka diberi alat bantu berupa papan bilangan magnetik, jigzaw puzzle, kartu bilangan dan sebagainya.
          Program Kumon tidak hanya mengajarkan cara berhitung tetapi juga dpat meningkatkan kemampuan si kecil untuk lebih fokus dlam mengerjakn sesuatu dan kepercayaan diri. Kemampuan tersebut akn terlihat darii kemampuan anak dlam menyelesaikan soal dngan cara mereka sendiri. Peserta program akn diajarkan dasar-dasar penghitungan untuk bisa menyelesaikan soal yg lebih sulit.
          Kumon juga memberikan bekal ilmu dasar kalkulus. Kemampuan perhitungan kalkulus ini akn dibutuhkan ketika anak akn memasuki perguruan tinggi dan mengejar karirnya. Kemampuan berhitung juga akn dibayar mahal ketika mereka memasuki dunia kerja. Kemampuan kalkulus sangat diperlukan pad bidang akunting, teknik, kedokteran, geologi, dan sebagainya.
          Metode Kumon juga bermanfaat untuk mempelajari matematika yg lebih luas, misalnya untuk bidang aljabar, trigonometri, dan matematika tingkat lanjut. Di negara-negara lain, metode Kumon sudah dikembangkan untuk materi pelajaran lain seperti pelajaran bahasa inggris, bahasa jepang, bahasa jerman, bahasa perancis, dan sebagainya.Dngan mengikuti Kumon, kemampuan analisis anak dilatih sejak kecil sehingga ia bisa mengatasi masalah dngan baik dan dpat memotivasi dirinya sendiri.
Ø Penerapan Metode Kumon
Dlam penerapannya Lukman (2008) merinci metode kumon ini kedlam 8 tahap, yaitu:
-       Mula-mula, guru menyajikan konsep dan siswa memperhatikan penyajian tersebut
-       Kemudian siswa mengambil buku saku yg telah disediakn, menyerahkan lembar kerja PR yg sudah dikerjaknnya di rumah, dan mengambil lembar kerja yg telah dipersiapkan guru untuk dikerjakn siswa pad hari tersebut.
-       Siswa duduk dan mulai mengerjakn lembar kerjanya. Karena pelajaran diprogram sesuai dngan kemampuan masing-masing, biasanya siswa dpat mengerjakn lembar kerja tersebut dngan lancar.
-       Setelah selesai mengerjakn, lembar kerja diserahkan kepad guru untuk diperiksa dan diberi nilai. Sementara lembar kerjanya dinilai, siswa berlatih dngan alat bantu belajar.
-       Setelah lembar kerja selesai diperiksa dan diberi nilai, guru mencatat hasil belajar hari itu pad “Daftar Nilai”. Hasil ini nantinya akn dianalisa untuk penyusunan program belajar berikutnya.
-       Bila ad bagian yg masih salah, siswa diminta untuk membetulkan bagian tersebut hingga semua lembar kerjanya memperoleh nilai 100. Tujuannya, agar siswa menguasai pelajaran dan tidak mengulangi kesalahan yg sama.
-       Jika siswa sampai mengulang 5 kali, maka guru melakukan pendekatan kepad siswa dan menanyakn tentang kesulitan-kesulitan yg dihadpi.
-       Setelah selesai, siswa mengikuti latihan secara lisan. Sebelum pulang, guru memberikan evaluasi terhadp pekerjaan siswa hari itu dan memberitahu materi yg akn dikerjakn siswa pad hari berikutnya.
-       Matematika mungkin masih menjadi mata pelajaran yg ditakuti banyak anak. Perhitungan yg rumit dan rumus-rumus yg sulit membuat banyak anak tidak menyukai banyak matematika. Mungkin termasuk buah hati Anda. Tapi saat ini sudah banyak metode belajar untuk anak yg mempermudah si kecil mempelajari matematika. Salah satunya Kumon. Mengajarkan anak matematika dngan metode Kumon memang sudah cukup lama populer. Metode yg berasal darii Jepang ini memang dianggap efektif meningkatkan kemampuan matematika anakdisekolah, Salah satu jurus yg membuat metode ini efektif ialah metode belajarnya. Di program Kumon, pembelajarannya disesuaikan dngan kemampuan masing-masing anak. Karena sesuai dngan potensinya masing-masing, akn lebih mudah bagi anak mempelajarinya.
Begitu teknik inti sudah dimengerti anak, ia bisa mempraktikkannya sendiri di rumah dngan berlatih soal-soal. Bila terus dilatih, kemampuannya akn terus terasah. Bahkan metode Kumon ini bisa juga diajarkan pad anak usia prasekolah. Karena belum bisa menulis, biasanya mereka diberi alat bantu berupa papan bilangan magnetik, jigzaw puzzle, kartu bilangan dan sebagainya. Program Kumon tidak hanya mengajarkan cara berhitung tetapi juga dpat meningkatkan kemampuan si kecil untuk lebih fokus dlam mengerjakn sesuatu dan kepercayaan diri. Kemampuan tersebut akn terlihat darii kemampuan anak dlam menyelesaikan soal dngan cara mereka sendiri. Peserta program akn diajarkan dasar-dasar penghitungan untuk bisa menyelesaikan soal yg lebih sulit. Kumon juga memberikan bekal ilmu dasar kalkulus. Kemampuan perhitungan kalkulus ini akn dibutuhkan ketika anak akn memasuki perguruan tinggi dan mengejar karirnya. Kemampuan berhitung juga akn dibayar mahal ketika mereka memasuki dunia kerja. Kemampuan kalkulus sangat diperlukan pad bidang akunting, teknik, kedokteran, geologi, dan sebagainya. Metode Kumon juga bermanfaat untuk mempelajari matematika yg lebih luas, misalnya untuk bidang aljabar, trigonometri, dan matematika tingkat lanjut. Di negara-negara lain, metode Kumon sudah dikembangkan untuk materi pelajaran lain seperti pelajaran bahasa inggris, bahasa jepang, bahasa jerman, bahasa perancis, dan sebagainya. Dngan mengikuti Kumon, kemampuan analisis anak dilatih sejak kecil sehingga ia bisa mengatasi masalah dngan baik dan dpat memotivasi dirinya sendiri.

VII.     Quantum
Tokoh utama di balik pembelajaran ialah Bobbi deporter, seorang ibu rumah tangga yg kemudian terjun di bidang bisnis properti dan keuangan, dan setelah semua bisnisnya bangkrut akhirnya menggeluti bidang pembelajaran. Dialah perintis, pencetus, dan pengembang utama pembelajaran. Semenjak tahun 1982 deporter mematangkan dan mengembangkan gagasan pembelajaran di Super Camp, sebuah lembaga pembelajaran yg terletak Kirkwood Meadows, Negara Bagian California, Amerika Serikat. Super Camp sendiri didirikan atau dilahirkan oleh Learning Forum, sebuah perusahahan yg memusatkan perhatian pad hal-ihwal pembelajaran guna pengembanga potensi diri manusia. Dngan dibantu oleh teman-temannya, terutama Eric Jansen, Greg Simmons, Mike Hernacki, Mark Reardon, dan Sarah Singer Nourie, deporter secara terprogram dan terencana mengujicobakn gagasan-gagasan pembelajaran kepad para remaja di Super Camp selama tahun-tahun awal dasawarsa 1980an. Dia belajar darii Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria.
Teaching dan Learning merupakn model pembelajaran yg sama-sama dikemas Bobbi deporter yg diilhami darii konsep kepramukaan, sugestopedia, dan belajar melalui berbuat. Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berad di kelas, berhadpan dngan siswa, merencanakn pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola Teaching terangkum dlam konsep TANDUR, yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakn. Sementara itu, Learning merupakn konsep untuk pembelajar agar dpat menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dngan cara cepat, menyenangkan, dan berkesan. Jadi, Teaching diperuntukkan guru dan Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pembelajar. Sebagai guru, Ibu tentunya perlu mendlami keduanya agar bisa menyerap konsep secara utuh dan terintegrasi.
a.     Quantum learning, ialah seperangkat metode dan falsafah belajar yg terbukti efektif.
Quantum learning berakar darii upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yg bereksperimen dngan “ suggestology “ yg pad prinsipnya bahwa sugesti dpat dan mampu mempengaruhi hasil belajar dan setiap detail apa pun memberikan memberikan sugesti positif ataupun negative.
Selain sugesti  Istilah lain darii suggestology ialah accelerated learning ( pemercepatan belajar). Pemercepatan belajar  yg di artikan yaitu memungkinkan siswa untuk belajar dngan kecepatan yg mengesankan, dngan upaya yg normal, dan dibarengi kegembiraan. Cara ini menyatukan unsur-unsur secara sekilas yaitu hiburan, permainan, warna, cara berfikir positif, kebugaran fisik, dan kesehatan emosional yg saling bekerja sama untuk menghasilkan pengamalan belajar yg efektif.
Quantum learning mencakup mencangkup beberapa aspek penting dlam program neurolinguistik (NLP),  yaitu suatu penelitian tentang bagaiman otak mengatur informasi. Program ini meneliti tentang hubungan bahasa dan perilaku dan dpat digunakn untuk menciptakn jalinan pengertian siswa dan guru.
Quantum learning mengabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP dngan teori, keyakinan dan metode. Teori dan strategi belajar antara lain :
1.        Teori otak kanan atau kiri
2.        Teori otak triune ( 3 in 1 )
3.        Pilihan modalitas ( visual, auditorial, dan kinestetik )
4.        Teori kecerdasan ganda
5.        Pendidikan menyeluruh
6.        Belajar berdasarkan pengalaman
7.        Belajar berdasarkan symbol
8.        Simulasi atau permainan
Factor yg mempengaruhi efektifnya quantum learning dibagi menjadi 2 yaitu:
1.         Internal yaitu nilai-nilai dan keyakinan
2.        Factor eksternal  ad tiga yaitu :
-       Lingkungan yg mempengaruhi ialah keadan lingkungan yg positif, amanmendukung, santai, penjelajahan (Exploratory) dan menggembirakn.
-       Fisik, yaitu keadan fisik dngan gerakn, terobosan, perubahan keadan, pearmainan-permainan,fisiologi, estafet dan partisipasi.
-       Suasana, yaitu suasana yg nyaman, cukup penerangan, enak dipandang da nad musiknya.
Sumber-sumber quantum learning ialah :
-       Interaksi yaitu interaksi pengetahuan, pengalaman, hubungan dan inspirasi.
-       Metode yaitu dngan menggunakn metode mencontoh, permainan. Simulasi, dan symbol
-       Belaja untuk mempelajari keterampilan yaitu dngan cara menghafal, membaca, menulis, mencatat, kreaivitas, cara belajar, komunikasi dan hubungan.
b.    Quantum Teaching
Quantum teaching ialah pegubahan belajar yg meriah dngan segala nuasanya dan menyertakn segala kaitan,intrasi, da perbedaan yg maksimalkan momenbelajar. Quantum teaching merangkaikan yg paling baik darii yg terbaik menjadi sebuah paket multi sensori, multikecerdasan, dan kompatibel dngan otak yg pad akhirnya akn melejitan kemampuan guru untuk mengilhami dan kemampuan murid untuk berprestasi.
Kata Quantum sendiri berarti interaksi yg mengubah energi menjadi cahaya. Jadi Quantum Teaching menciptakn lingkungan belajar yg efektif, dngan cara menggunakn unsur yg ad pad siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yg terjadi di dlam kelas. Quantum teaching menunjukkan kepad cara untuk menjadi guru yg lbih baik.
Dlam Quantum Teaching bersandar pad konsep ‘Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka’. Hal ini menunjukkan, betapa pengajaran dngan Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yg mesti dipelajari siswa. Tetapi jauh darii itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakn hubungan emosional yg baik dlam dan ketika belajar.
Dngan Quantum teaching kita dpat mengajar dngan memfungsikan kedua belahan otak kiri dan otak kanan pad fungsinya masing-masing. Penelitian di Universitas California mengungkapkan bahwa masing-masing otak tersebut mengendalikan aktivitas intelektual yg berbeda.
Otak kiri menangani angka, susunan, logika, organisasi, dan hal lain yg memerlukan pemikiran rasional, beralasan dngan pertimbangan yg deduktif dan analitis. Bagian otak ini yg digunakn berpikir mengenai hal-hal yg bersifat matematis dan ilmiah. Kita dpat memfokuskan diri pad garis dan rumus, dngan mengabaikan kepelikan tentang warna dan irama.
Otak kanan mengurusi masalah pemikiran yg abstrak dngan penuh imajinasi. Misalnya warna, ritme, musik, dan proses pemikiran lain yg memerlukan kreativitas, orisinalitas, daya cipta dan bakat artistik. Pemikiran otak kanan lebih santai, kurang terikat oleh parameter ilmiah dan matematis. Kita dpat melibatkan diri dngan segala rupa dan bentuk, warna-warni dan kelembutan, dan mengabaikan segala ukuran dan dimensi yg mengikat.
Quantum teaching memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap  yaitu :
1.    Segalanya berbicara, segala darii lingkungan kelas hingga bahasa tubuh,darii kertas yg dibagikan hingga rancangan pelajaran semuanya mengarah kepad belajar.
2.    Segalanya bertujuan, semuanya yg terjadi dlam perubahan mempunyai tujan.
3.    Pengalaman sebelum pemberian nama, otak kita berkembang dngan pesat dngan adnya rangsangan kompleks yg akn menggerakkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasisebelum mereka memperoleh nama untuk apa yg mreka pelajari.
4.    Akui setiap usaha, belajar mengandung resiko. Berarti melangkah keluar darii kenyataan, pad saat ini siswa patut mendpatkan pengakuan atau kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
5.    Jika layak dipelajari maka layak pula di rayakn, perayaan ialah sarapan pelajar juara. Perayaan memberikan mpan balik mengenai  kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dngan belajar.
            Model quantum teaching, Menurut De porter, B (2004), quantum  teaching mempunyai dua bagian penting yaitu dlam seksi konteks dan dlam seksi isi. Dlam seksi konteks, akn menemukan semua bagian yg dibutuhkan untuk mengubah: suasana yg memberdayakn, landasan yg kukuh, lingkungan yg mendukung, dan rancangan belajar yg dinamis. Sedangkan dlam seksi isi, akn menemukan keterampailan penyampaian untuk kurikulum apapun, disamping strategi yg dibutuhkan siswa untuk bertanggung jawab atas apa yg mereka pelajari: penyanjian yg prima, fasilitas yg luwes, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.
Persamaan Quantum Teaching ini diibaratkan mengikuti konsep Fisika Quantum yaitu:
E = mc2
E = Energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar,semangat)
M = massa (semua individu yg terlibat, situasi, materi, fisik)
C = interaksi (hubungan yg tercipta di kelas)
Berdasarkan persamaan ini dpat dipahami, interaksi serta proses pembelajaran yg tercipta akn berpengaruh besar sekali terhadp efektivitas dan antusiasme belajar pad peserta didik.
Kerangka Rancangan Belajar Quantum Teaching yg dikenal sebagai TANDUR
1.    Tumbuhkan. Tumbuhkan minat dngan memuaskan “Apakah Manfaat Bagiku ” (ambak), danmanfaatkankehidupanpelajar.
2.    Alami. Ciptakn atau datangkan pengalaman umum yg dpat dimengerti semua pelajar.
3.    Namai. Sediakn kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebuah “masukan”.
4.    Demonstrasikan. Sediakn kesempatan bagi pelajar untuk ‘menunjukkan bahwa mereka tahu”.
5.    Ulangi. Tunjukkan pelajar cara-cara mengulang materi dan menegaskan , “Aku tahu dan memang tahu ini”.
6.    Rayakn. Pengakuan untuk penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan.


c.    Perbedaan Quantum Teaching dan Quantum Learning
Quantum Teaching dan Quantum Learning merupakn model pembelajaran yg sama-sama dikemas Bobbi deporter yg diilhami darii konsep kepramukaan, sugestopedia, dan belajar melalui berbuat. Quantum Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berad di kelas, berhadpan dngan siswa, merencanakn pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola Quantum Teaching terangkum dlam konsep TANDUR, yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakn. Sementara itu, Quantum Learning merupakn konsep untuk pembelajar agar dpat menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dngan cara cepat, menyenangkan, dan berkesan. Jadi, Quantum Teaching diperuntukkan guru dan Quantum Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pembelajar. Sebagai guru, Ibu tentunya perlu mendlami keduanya agar bisa menyerap konsep secara utuh dan terintegrasi.
Dlam Quantum Teaching, guru sangat diharapkan sebagai aktor yg mampu memainkan berbagai gaya belajar anak, mengorkestrakn kelas, menghipnotis kelas dngan daya tarik, dan menguatkan konsep ke dlam diri anak. Prinsipnya, bawalah dunia guru ke dunia siswa dan ajaklah siswa ke dunia guru. Dlam Quantum Teaching, tidak ad siswa yg bodoh, yg ad ialah siswa yg belum berkembang karena titik sentuhnya belum cocok dngan titik sentuh yg diberikan guru. Berarti, guru perlu penyesuaian sesuai dngan kondisi siswa dngan berpedoman pad segalanya bertujuan, segalanya berbicara, mengalami sebelum pemberian nama, akui setiap usaha, dan rayakn.
Quantum Learning merupakn strategi belajar yg bisa digunakn oleh siapa saja selain sisiwa dan guru karena memberikan gambaran untuk mendlami apa saja dngan cara mantap dan berkesan. Caranya, seorang pembelajar harus mengetahui terlebih dahulu gaya belajar, gaya berpikir, dan situasi dirinya. Dngan begitu, pembelajar akn dngan cepat mendlami sesuatu. Banyak orang yg telah merasakn hasilnya setelah mengkaji sesuatu dngan cara Quantum Learning. Segalanya dpat dngan mudah, cepat, dan mantap dikaji dan didlami dngan suasana yg menyenangkanteaching dan Learning merupakn model pembelajaran yg sama-sama dikemas Bobbi deporter yg diilhami darii konsep kepramukaan, sugestopedia, dan belajar melalui berbuat.
  1. Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berad di kelas, berhadpan dngan siswa, merencanakn pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola Teaching terangkum dlam konsep TANDUR, yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakn.
  2. Learning merupakn konsep untuk pembelajar agar dpat menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dngan cara cepat, menyenangkan, dan berkesan.Pola Teaching terangkum dlam konsep AMBAK yakni Apa Manfaatnya Bagiku.
Jadi dpat disimpulkan bahwa quantum Teaching diperuntukkan guru dan Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pemikir.

VIII.  Diagnostic
a.    Pengertian
Bebrapa pengertian diagnosis yaitu:
  1. Proses pemeriksaan terhadp hal-hal yg tidak beres atau bermasalah
  2. Kegiatan untuk menentukan jenis penyakit dngan meneliti gejala-gejalanya
  3. Proses menentukan hakekat kelainan atau ketidakmampuan melalui penelitian terhadp fakta yg dijumpai, selanjutnya untuk menentukan permasalahan yg dihadpi
  4. Diagnosis ialah penentuan jenis masalah, kelainan atau ketidakmampuan dngan meneliti latar belakng penyebabnya atau dngan cara menganalisis gejala yg tampak
Diagnosis merupakn istilah teknis (terminology) yg diadopsi darii bidang medis. Menurut Thorndike dan Hegen diagnosis diartikan sebagai:
  1. Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yg dialami seorang dngan melalui pengujian dan studi yg saksama mengenai gejala-gejalanya (symptons)
  2. Studi yg seksama terhadp fakta tentang suatu hal untuk menemuka karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yg esensial.
  3. Keputusan yg dicapai setelah dilakukan suatu studi yg seksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.
Dngan demikian, di dlam pekerjaan diagnostic bukan hanya sekedar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakng darii suatu kelemahan atau pentakit terentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan (predicting) kemungkinan dan menyarankan tindakn pemecahannya.
b.    Pengertian kesulitan belajar
Burton (1952:622-624) mengidentifikasikan seorang siswa kasus dpat dipandang atau dpat di duga mengalami kesulitan belajar kalau yg bersangkutan mengalami kegagalan(failure) tertentu dlam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Kegagalan belajar di definisikan oleh burton sebagai berikut:
1.      Apabila dlam batas tertentu siswa tiak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan( level of  mastery ) mminimal dlam pelajaran tertentu, seperti yg ditetapkan oleh orang dewasa atau guru dan termasuk ke dlam kelompok siswa lower group.
2.      Apabila tidak dpat mengerjakn atau mencapai prestasi yg semestinya(berdasarkan ukuran tingkat kemampuannya: inteligansi, bakat) dan diamalkan akn dpat mengerjaknnya atau mencapai suatu prestasi, namun ternyata tidak sesuai dngan kenyataanya. Siswa ini dpat di golongkan kedlam golongan under archieviers.
3.      Apabila tidak dpat mewujudkan tugas-tugas perkembangan, termasuk penyesuaian social sesuai dngan pola organismiknya (his organismic pattern) pad fase perkembangan tertentu, seperti yg berlaku pad kelompok social dan usia yg bersangkutan. Siswa ini dpat dikatagorikan ke dlam slow learners.
4.      Apabila tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan ( level of mastery )yg di perlukan sebagai persyaratan ( prerequisite ) bagi kelanjutan ( continuity ) pad tingakn pelajaran berikutnya. Siswa ini dikatagorikan ke dlam slow learners atau belum matang ( immature ) sehingga mungkin harus menjadi pengulang ( repeaters ) pelajaran.
Darii uraian diatas dpat disimpulkan bahwa seorang siswa diduga mengalami kesulitan belajar kalau yg bersangkutan tidak berhasil mencapai taraf kualifkasi hasil belajar tertentu ( berdasarkan ukuran kriteria keberhasilan atau ukuran tingkat kapasitas atau kemampuan dlam program pelajaran time allowed dan tingkat perkembangannya ).
c.    Diagnostic  kesulitan belajar
Diagnostic kesulitan belajar yaitu suatu proses upaya untuk memahami jenis dan karakteristik serta latar belakng kesulitan-kesulitan belajar dngan menghimpun atau mempergunakn berbagi data atau informasi selengkap dan seobjektif mungkn untuk mengambil kesimpulan dan keputusan serta mencari alternative kemungkinan pemecahannya.
Ad beberapa kesulitan belajar diantaranya:
1.    Gejala yg tampak pad peserta didik yg ditandai dngan prestasi belajar yg rendah atau dibawah kriteria yg telah ditetapkan atau kriteria minimal.  Prestasi belajarnya lebih rendah dibandingkan prestasi teman-temannya,  atau lebih rendah dibandingkan prestasi belajar sebelumnya.
2.    Menunjukkan adnya jarak antara prestasi belajar yg diharapkan dngan presiasi yg dicapai.
3.    Prestasi belajar yg dicapai tidak sesuai dngan kapasitas inteligensinya.  Kesulitan belajar peserta didik tidak selalu disebabkan oleh inteligensinya yg rendah.
Ciri anak yg mengalami kesulitan  belajar
1.    Prestasi belajarnya rendah
2.    Usaha yg dilakukan tidak sebanding dngan hasilnya
3.    Lamban mengerjakn tugas
4.    Sikap acuh dlam mengkiuti pelajaran
5.    Menunjukkan perilaku menyimpang
6.    Emosional (mudah marah, tersinggung, rendah diri dll)


d.   Prosedur dan teknik diagnostic kesulitan belajar
Permasalahanbelajar menurut Warkitri dkk.Diantaranya:
  1. Kekacauan belajar (Learning disorder) : Belajar anak terganggu karena adnya respon yg bertentangan sehingga anak bingung untuk memahami bahan belajar
  2. Ketidakmampuan belajar (Learning disability)  Atau anak tidak mampu belajar atau menghindarii kegiatan belajar dg berbagai sebab atau alasan
  3. Learning disfunctions: proses belajar anak tidak berfungsi dngan  baik meskipun anak normal
  4. Under achiever: prestesi belajar anak rerndah tetapi potensi intelektualnya diatas normal
  5. Lambat belajar (Slow learner): anak lambat dlam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu yg lebih lama
Menurut  Sumadi Suryobrata:
  1. Grade level: anak tidak naik kelas sampai dua kali
  2. Age level:  umur anak tidak sesuai dngan kelasnya
  3. Inteligence level  :  anak mengalami under achiever
  4. General level:  anak mengalami gangguan dlam  beberapa  mata pelajaran
Cara Mengenal Anak Berkesulitan Belajar
1.    Teknik non-tes diantaranya Wawancara, Observasi, Angket, Sosiometri, Biografi, Pemeriksaan kesehatan, Dokumentasi
2.    Teknik tes dngan cara Psikotes dan Achievement  tes
Secara umum langakah-langkah pelaksanaan diagnostic kesulitan belajar selaras dngan langkah-langkah pelaksanaan bimbingan belajar.

Ross dan Stanley (1956:332-341) menggaariskan tahapan-tahapan diagnosis (the level of diagnosis) itu sebagai berikut:
1.Bagaimana kelemahan itu dpat dicegah?
2.Penyembuhan-penyembuhan apakah yg disarankan?
3.mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi?
2.dimanakah kelemahan-kelemahan itu dpat dilokalisasikan?
1.siapa-siapa siswa yg mengalami gangguan?

Darii skema tersebut, tampak bahwa keempat langkah yg pertama darii diagnosis itu merupakn usaha perbaikan atau penyembuhan. Sedangkan langkah yg kelima merupakn usaha pencegahan.
Burton (1952:640-652) menggariskan agak lain, yaitu berdasarkan pad teknik dan instrument yg digunakn dlam pelaksanaanya sebagai berikut:
1.      General diagnosis, pad tahap ini lazim dipergunakn tes baku, seprti yg dipergunakn untuk evaluasi pengukuran psikologis dan hasil belajar. Sasarannya, untuk menemukan siapakah siswa yg diduga mengalami kelemahan tertentu.
2.      Analistik diagnosi, pad tahap ini yg lazimnya digunakn ialah tes diagnostic. Sasarannya, untuk mengetahui diman letak kelemahan tersebut.
3.      Pyscologicial diagnosis, pad tahap ini teknik pendekatan dan instrument yg digunakn antara lain:
-          Observasi
-          Analisis karya tulis
-          Analisis proses dan respons lisan
-          Analisis berbagai catatan objektif
-          Wawancara
-          Pendekatan laboratories dan klinis
-          Studi kasus
Sasaran kegiatan diagnosis pad langkah ini pda dasarnya ditunjukkan untuk memahami karakteristik dan factor-faktor yg menyebabkan terjadinya kesulitan.
Perbedaan pokok denag prosedur dan teknik bimbingan belajar yg bersifat umum bahwa hasil akhir ( output)  layanan bimbingan itu berupa perubahan darii siswa (terbimbing) setelah menjani tindakn penyembuhan (treatment) sedangkan hasil akhir (output) darii layanan diagnostic kesulitan belaja baru sampai pad rekomendasi tentang kemungkinan alternative tindakn penyembuhan. sendangkan teknik penyembuhan, khususnya yg bertalian dngan usaha remedial teaching.
e.    Pelaksanaan Diagnosis Kesulitan Belajar
1.    Mengidentifikasi anak yg mengalami kesulitan belajar
2.    Mengumpulkan data dan analisis data
3.    Menentukan masalah belajar yg dirasakn / dialami (diagniosis)
4.    Saran pemberian bantuan (prognosis)
5.    Penanganan / mengatasi kesulitan belajar
6.    Evaluasi dan Tindak lanjut
XI.Remedial
a.    Pengertian Pengajaran Remedial
1.    Pengajaran remedial bersifat kuratif atau korektif
2.    Pengajaran khusus yg bertujuan untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yg jadi penghambat atau yg dpat menimbulkan masalah atau kesulitan belajar anak
3.    Pengajaran individual yg diberikan kepad anak yg mengalami kesulitab belajar, agar anak mampu mengikuti pembelajaran secara klasikal  sedhingga hasil belajarnya optimal
4.    Pelaksanaan pengajaran remedial harus disesuaikan dngan karakteristik kesulitan belajar yg dialami anak.
b.    Pentingnya  Pengajaran Remedial
  1. Dlam proses pembelajaran  tidak semua anak  didik  mencapai hasil belajar  sesuai dngan kemampuan-nya. Jadi dlam setiap pembelajaran pasti ad anak yg mengalami kesulitan belajar 
  2. Adnya kresulitan belajar anak berarti belum tercapai perubahan tingkahlaku  sebagai hasil belajar
  3. Untuk mengatasi kesulitan belajar diperlukan teknik bimbingan balajar salah satu diantaranya  pengajaran remedial
c.    Tujuan Pengajaran Remedial
       Membantu anak mencapai hasil belajar sesuai dngan tujuan pengajaran yg telah ditetapkan dlam kurikulum. Secara khusus tujuan pengajaran remedial membantu anak yg mengalami kesulitan belajar agar mencapai prestasi belajar yg diharapkan melalui penyembuhan atau perbaikkan dlam aspek kepribadian atau dlam proses belajar mengajar.
d.   Fungsi Pengajaran Remedial
1.         Fungsi Korektif
2.         Fungsi Pemahaman
3.         Fungsi Penyesuaian
4.         Fungsi Pengayaan
5.         Fungsi Akselerasi
6.          Fungsi Terapeutik
e.    Pendekatan Pengajaran Remedial
a.    Pendekatan Kuratif, didasarkan atas kenyataan empiric bahwa ad seseorang atau sebagian anggota kelas kelompok belajar yg dpat dipandang tidak mampu menyelesaikan program secara sempurna sesuai dngan kriteria keberhasilan yg ditetapkan.
Sasaranpokoktinaknkuratifialah:
1.    Siswa yg prestasinya jauh sekali dibawah batas criteria keberhasilan minimal, diusahakn pad suatu saat tertentu dpat memadi criteria keberhasilan minimal tersebut.
2.    Siswa yg sedikit masih kurang atau bahkan telah tinggi sekalipun prestasinya darii ukuran kriteria keberhasilan minimal paa suatu saatt akn di sempurnakn atau di perkaya bahkan mungkin ditingkatkan kepad program yg lebih tinggi lagi.
Teknik pendekatan pengajaran remedial kuratif yaitu:
-       Pengulangan, sejalan dngan upaya diagnostiknya, pengulangan ini terjadi bebrapa tingkatan, diantaranya:
a.       Pad setiap akhir jam tertentu,
b.      Pad setiap akhir unit (satuan bahan) pelajaran tertentu,
c.       Pad akhir setiap satuan program studi.
Pelaksanaan layanan pengajaran remedial diberikan dan diorganisasikan:
    1. Secara perseorangan, apabila siswa yg memerlukan bantuan itu jumlahnya terbatas.
    2. Secara kellompok, apabila sejumlah siswa yg mengalami kesalahn atau kesulitan bersama.
-       Pengayaan dan Penguatan, ditunjukan kepad siswa yg mengalami kelemahan sangat mendasar, kelemahan yg ringan bahkan secara akademi kemungkin sangat kuat.
Materi program pengayaan bersifat:
a.    Ekivalen (horizontal) dngan program utama sehingga nilai bobot kreditnya dpat diperhitungakn bagi siswa yg bersangkutan atau sekadr.
b.    Suplemener, dngan tidak menambah bobot tertetu yg penting dpat menngkatkan penguasaan pengetahuan atau ketrampilan bagi siswa yg reltif lemah dan memberikan dorongan serta kesibukan kepad siswa yg cepat belajar untuk mengisi kelebihan waktunya dibandingkan teman sekelasnya.
-       Percepatan, diberikan layanan kepad kasus berbakat tetapi menunjukkan kesulitan psikosial dngan jalan mengadkan akselerasi.
Pelaksanaanya ialah dngan promosi penuh status akademinya ke tingkat yg lebih tnggi sebatas kemampuannya atau maju berkelanjutan yaitu hanya promosi beberapa bidangatau pelajaran yg lebih terbatas kemampuannya tetapi setatus akademisnya tetap bersama teman seangkatannya.
b.      Pendekatan Preventif yg ditunjukan kepad siswa tertentu yg berdasarkan data atau informasi yg anda dpat di antisipasikan atau di prediksikan setidak-tidak nya patut didugaakn mengalami kesulitan dlam menyelesaikan suatu program studi tertentu yg akn ditempuhnya.
Sasaran pokok darii pendekatan preventif ini berusaha sedpatmungkin agar hambatan-hambatan yg diantisipasikan itu dpat di reduksi seminimal mungkin sehingga siswa yg bersangkutan diharapkan dpat mencapai prestasi dan kemampuan penyesuaian sesuai dngan kriteria keberhasilan yg ditetapkan. Pendekatan ini bertolak darii hasil pre-test atau evaluasi.
Teknik layanan pengajaran yg bersifat remedial preventif yaitu:
-       Kelompok belajar homogen
-       Layanan Individual
-       Pengajaran Kelas Khusus
-       Pendekatan pengembangan     
f.     Metode Pembelajaran Remedial
- Metode Pemberian Tugas
- Metode Diskusi
- Metode Tanya jawab
- Metode Kerja Kelompok
- Metode Tutor Sebaya
- Metode Pengajaran Individual
g.    Pelaksanaan Pengajaran Remedial
-       Penelaahan kembali kasus
-       Pemilihan alternatif tindakn
-       Pemberian layanan khusus
-       Pengukuran  kembali hasil belajar
-       Re-evaluasi dan Re-diagnostik
h.    Evaluasi pengajaran remedial
a.    Tujuan Evaluasi
Strategi dasar termasuk beberapa teknik pengajaran remedial yg dpat dipertimbangkan oleh para guru. Meskipun setiap alternatif model pendekatan itu seara teoritis mungkin dpat dipergunakn, namun belum tentu setiap model akn cocok bagi setiap orang.Oleh karena itu, para guru seharusnya mempunyai kemampuan melakukan pilihan model mana yg dipandang paling cocok baginya. Suatu penilaian rasional, mau tidak mau melibatkan suatu tindakn penelian (evaluasi). Setiap tindakn evaluasi sudah lazim memrlukan adnya suatu perangkat kriteria atau tolak ukur sebagai pegangan, suatu cara atau teknik pengumpulan dan pengolahan data informasi untuk menunjukan gambaran seberapa jauh objek yg dievaluasi itu memadi atau tidaknya sesuai kriteria yg ditetapkan.
b.    Perangkat kriteria kebaikan suatu model strategi atau teknik pendekatan pengajaran remedial
1.    Suatu model strategi atau teknik pendekatan pengajaran remedial dpat dipandang baik kalau terdpat indikator yg didukung oleh data atau informasi yg memadi bahwa model itu :
2.    Serasi dngan tujuan (pemecahan permasalahan), jenis atau jumlah tingkat atau karakteristik kasus berikut permasalahannya, kemampuan teknis dan keperbadian guru yg bersangkutan, serta daya dukung fasilitas instrumental atau tempat, lingkungan, waktu, kesempatan.
3.    Efektif yg ditujukan oleh adnya peningkatan prestasi belajar atau kemampuan penyusuain diri pad siswa sesuai dngan kriteria keberhasilan yg diharapkan.
4.    Efesian yg didukung oleh minimalnya waktu yg digunakn untuk mencapai peningkatan prestasi dan kemampuan penyesuaian siswa tersebut itu.
Kriteria pertama (keserasian) data atau informasinya relatif sukar untuk dikuantifikasikan disamping menygkut banyak aspek yg beragam sumbernya. Oleh karena itu, cara peniliannya akn  lebih banyak  berfat pertimbangan (judgement) saja dariipad penilainnya (dlam hal ini guu yg bersangkutan). Lain halnya dngan kedua dan ketiga (efektivitas dan efesiensi) mudah di catatan angkanya. Tapi mtingkatpenyesuaiandiripadkriteriakeduajugaaknlebihbanyakmempertimbangkan. Padkriteriaitu di perlukan data atauinformasi yg serupasifatnya empiric da nad juga yg bersifatrasional.Menpertimbangkankondisitersebuthendaknyamampuuntukmempergunaknkeduacarayaitupendekatansecararasionaldan empiric.
1.    Pendekatanrasionalterhadpmasalahkesersiansuatu model strategipengajaran remedial yaitu di kembangkandlam :
a.       Membentukpertanyaanpadsetiapaspek yg dinilai

2.    Remedial empiric terhadp masalah keserasian suatu model strategi dan teknik pengajaran remedial.
Russel mengemukakn suatu model perhitungan antara keaktifan dan kelancaran suatu system pengajaran yg mempunyai nilai diagnostic atau remedial yg mempergunakn data atau informasi angka nilai presentasi belajar siswa dngan menggunakn formula yaitu nilai prestasi sama dngan nilai post tes dikurangi nilai pre tes.




BAB III
PENUTUP
a.    Kesimpulan
-       Strategi pembelajaran langsung sangat diarahkan oleh guru. Metode yg cocok antara lain : ceramah, tanya jawab, demontrasi, latihan, dan drill.
-       Metode klasikal ialah pengajaran pad umumnya yg biasa kita lakukan sehari-hari. Pad metode klasikal itu guru mengajar sejumlah murid dlam ruangan yg kemampuannya memiliki syarat minimum untuk tingkat itu. Murid itu di asumsikan minatnya, kepentingannya, kecakapannya, dan kecepatan belajarnya relatif sama. Mereka masuk (naik) kelas secara bersama dan keluar pun (naik kelas tahun berikutnya) secara bersama pula. Guru pad umumnya mendominasi kelas, murid pad umumnya pasif dan hanya menerima.
-       Metode individual ialah :
a.       Lebih memberikan kesempatan kepad siswa kapan dan mengenai apa ia belajar, ia mengatur waktu, tempat, dan materi yg akn dipelajarinya.
b.      Siswa belajar sesuai dngan kecepatannya masing-masing, yg pandai belajar lebih cepat dan sebaliknya yg lambat belajar tenang sesuai kecepatannya terseret-sere oleh siswa yg lebih pandai.
c.       Pengajaran itu berpusat pad anak.
d.      Urutan unit-unit yg siswa pelajari ditentukan (dipilih) oleh siswa itu sendiri, ia tidak usah mengukuti jalur kesenangan gurunya.
e.       Siswa belajar secara tuntas.
f.       Setiap unit yg dipelajarinya memuat tujuan instruksional khusus yg jelas dan kemampuan siswa pad ahir kegiatan itu diukur berdasarkan kepad tujuan instruksional khusus itu.
g.      Guru bertindak sebagai pembimbing atau fasilitator belajar siswa bukan sebagai penilai. Guru membantu bila siswa memerlukannya.
h.      Lebih banyak media pendidikan dipergunakn, seperi : film, slaids, piringan hitam, model, dan lain-lain.
-       Metode tutorial pad dasarnya sama dngan metode bimbingan, yg bertujuan memberikan bantuan kepad siswa atau peserta didik dpat mencapai prestasi belajar secara optimal.
-       Pembelajran Kooperatif (Cooperative Learning) secara etimologi mempunyai arti belajar bersama antara dua orang atau lebih, sedangkan CL dlam artian yg lebih luas memiliki definisi yg antara lain ialah belajar bersama yg melibatkan antara 4-5 orang, yg berkerja sama menuju kelompok kerja dimana tiap anggota bertanggung jawab secara individu sebagai bagian darii hasil yg tak akn bisa tercapai tanpa adnya kerja sama antar kelompok. Dngan kata, anggota kelompok saling tergantung secara positif.
-       Kumon, Siswa mulai darii bagian yg dpat dikerjaknnya sendiri dngan mudah, tanpa kesalahan. Melalui pencapaian target dngan kemampuannya sendiri, anak-anak akn merasakn kegembiraan dan kepuasan.
-       quantumTeaching diperuntukkan guru dan Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pemikir.
-       diagnosis yaitu:
a.       Proses pemeriksaan terhadp hal-hal yg tidak beres atau bermasalah
b.      Kegiatan untuk menentukan jenis penyakit dngan meneliti gejala-gejalanya
c.       Proses menentukan hakekat kelainan atau ketidakmampuan melalui penelitian terhadp fakta yg dijumpai, selanjutnya untuk menentukan permasalahan yg dihadpi
d.      Diagnosis ialah penentuan jenis masalah, kelainan atau ketidakmampuan dngan meneliti latar belakng penyebabnya atau dngan cara menganalisis gejala yg tampak
-       Remedial ialah pengajaran khusus yg bertujuan untuk menyembuhkan atau memperbaiki proses pembelajaran yg jadi penghambat atau yg dpat menimbulkan masalah atau kesulitan belajar anak.
b.    Saran
Semoga makalah yg kami susun ini dpat bermanfaat dan memenuhi tugas kelompok yg diberikan.



DaftarPustaka
Ahmad, Abu. 1997. Strategibelajarmengajar. Bandung: CV puetakasetia.
Depoter, Bobbi dan Mike Hernachi. 1922. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
Depoter, Bobbi dkk. 2010. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.
Fendi, Rused.1991. Pengantar Kepad Guru untuk mengembangkan potensi dlam pengajaran matematika untuk meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
Juneddkk. 2008. StrategiPembelajaran. STAIN Cirebon. Pustaka S1 PGMI.
Syah, Muhibbin. 2003. PsikologiBelajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Syamsudin abiding. 2007. Psikologikependidikan. Bandung: PT.Roskadya.






Visitor