Makalah Pengertian, Prinsip, Ciri & Macam (Media Pengajaran Matematika)



Makalah Pengertian pengajaran? Metode pembelajaran? Metode? Metodelogi? Pembelajaran? Metode pembelajaran? Metode belajar? Metode mengajar? Artikel pendidikan?


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakng

Penggunaan media dlam pembelajaran sangat dibutuhkan untk mencapai tujuan pengajaran. Adaanya media membantu dlam proses penyampaian materi yg disampaikan oleh komunikator kepadaa komunikan.
Pemahaman tentang media dan manfaatnya juga dibutuhkan oleh seorang komunikan supaya tidak terjadi kesalah pahaman dlam menyampaikan informasi.
Untk itu, dlam makalah ini memuat pembahasan tentang Media Pengajaran meliputi pengertian, manfaat, strategi, dll.

1.2  Rumusan Masalah
(1)   Apa yg dimaksud dngan pengajaran ?
(2)   Seperti apakah prosedur pengajaran dan strategi pengajaran itu ?
(3)   Apa yg dimaksud dngan Media ?
(4)   Apakah yg menjadi landasan teoritis penggunaan media pendidikan ?
(5)   Apa sajakah prinsip, ciri-ciri , dan macam-macam media pengajaran ?
(6)   Apakah manfaat media bagi  pengajaran matematika  ?
(7)   Apakah yg dimaksud dngan Laboratorium dan bagaimana pemanfaatannya dlam pengajaran matematika ?

1.3  Tujuan Penulisan

(1)   Mahasiswa mampu memahami dan mengaplikasikan pengunaan media sesuai dngan fungsinya
(2)   Mahasiswa mengetahui strategi dlam penyampaian informasi melalui media
(3)   Mahasiswa mampu memilih dan menetukan media mana yg sesuai dngan pengajaran matematika

BAB II
PENGAJARAN

2.1 Pengertian

Menurut Nana Sudjana, 1991, pengajaran merupakn proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yg adaa disekitar anak didik, sehingga dpat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Padaa tahap berikutnya mengajar merupakn proses memberikan bimbingan atau bantuan kepadaa anak didik dlam melakukan proses belajar.
Dlam pengajaran, perumusan tujuan ialah yg utama dan setiap proses pengajaran senantiasa diarahkan untk mencapai tujuan yg telah ditetapkan.
Untk itu proses pengajaran harus direncanakn. Ketercapaian tujuan dpat dikontrol sejauh mana tujaun itu telah dicapai. Itulah yg menyebabkan suatu sistem pengajaran selalu mengalami dan mengikuti tiga tahap, yakni Tahap analisis (menentukan dan merumuskan tujuan), tahap sintesis ( perencanaan proses yg akn ditempuh ), dan tahap evaluasi ( mengetes tahap pertama dan kedua).

2.2 Prosedur dan Strategi Pengajaran

Adaa tujuh langkah yg perlu diikuti dlam proses pengajaran, diataranya :
1)      Tetapkanperilaku yg diharapkandiperoleh oleh siswa setelah mempelajari konsep
2)      Mengurangi banykanya atribut yg terdpat dlam konsep yg kompleks dan menjadi atribut-atribut penting dominan
3)      Menyedeiakn mediator verbal yg berguna bagi siswa
4)      Memberikan contoh-contoh yg positf dan yg negatif dlam pengajaran
5)      Menyajikan contoh-contoh
6)      Sambutan siswa dan penguatan (reinforcement)
7)      Menilai belajar konsep
Sementara itu, Strategi pengajaran merupakn penerjemah filsafat atau teori mengajar menjadi rumusan tentang cara mengajar yg ditempuh dlam situasi-situasi khusus atau dlam keadaaan tertentu yg spesifik. Secara teoritik, adaa juga pandangn mengenai proses belajar-mengajar, yg saling bertentangan antara yg satu dngan yg lainnya.
1.      Belajar penerimaan (reception learning). Pendukung utama pandangan tiu ialah Ausubel dan beberapa penganut behavioristic lainnya.
2.      Belajar penemuan (discovery learning). Pendukung  utama pendekatan itu ialah Piaget dan Bruner dan para penganut psikologi kognitif dan humanistik lainnya.
Masing-masing pendekatan pengembangan strategi pengajaran secara global dan berusaha melaksanaknnya. Diatara kedua pendekatan tersebut terdpat pendekatan ketiga yg dianut oleh Cagne dan Landa. Menurut pandangn itu, dlam situasi-situasi tertentu, belajar penerimaan lebih efektif dan efesien, sedangkan dlam situasi-situasi lainnya, belajar penemuan akn lebih baik.
Strategi belajar penerimaan dpat juga disebut “proses informasi” (information procesing), dan belajar penemuan dpat juga disebut “proses pengalaman” (experience procesing).
Langkah-langkah belajar proses informasi ialah sebagi berikut :
1.      Penerimaan yg berkenaan dngan prinsip-prinsip umum, aturan-aturan, dan ilustrasi khusus
2.      Pemahaman terhadaapa prinsip umum. Pengujian dilakukan dngan tes-tes yg menuntut pernyataan ulang tentang prinsip-prinsip dan contoh-contoh yg diberikan.
3.      Partikularisasi, penerapan prinsip umum kedlam situasi atau keadaaan tertentu.
4.      Tindakn, gerakn darii suasana kognitif, dan proses simbol ke suasana pembuatan/tindakn.
Langkah-langkah belajar proses pengalaman ialah sebagai berikut
1.      Tindakn dlam instansi tertentu. Seseorang melakukan tindakn dan melihat pengaruh-pengaruhnya. Pengaruh tersebut mungkin sebagai ganjaranatau hukuman (operant conditioning) atau mungkin memberikan informasi mengenai hubungan sebab akibat.
2.      Pemahaman kasus tertentu. Apabila keadaaan yg sama muncul kembali, maka dia dpat mengantisipasi pengaruh yg bakal terjadi. Seseorang yg telah mempelajari konsekuensi-konsekuensi suatu tindakn berarti telah mempelajari bagaiman bertindak untk mencapai tujuan dlam kasus tersebut.
3.      Generalisasi, yakni menyimpulkan prinsip-prinsip umum berdasarkan pemahaman terhadaapa instansi tersebut. Pemahaman terhadaap prinsip umum tidak berarti sekaligus mampu menyatakn dlam media suatu simbolik.
4.      Tindakn dlam suasana baru, yakni menerapkan prinsip dan mengantisipasi pengaruhnya.
Pendekatan proses belajar yg pertama dikembangkan menjadi strategi Ekspositif,  dan dikembangkan sebagai strategi Discovery.
(1)   Strategi Ekspositif (Ekspisitive lassroom Instruction)
Pengajaran kelas dpat berpedoman padaa bermacam-macam strategi dan taktik. Adaa dua metode dasar yg dpat dipertimbangkan, satu samalin saling berlawanan, yakni sistem satu arah (Teacher Input Sistem), dan sistem dua arah (Teacher Modification System).
Lankah-langakah pokok strategi ekspositif, yaitu :
a.       Penjyajian informasi yg diberikan dlam bentuk penjelasan simbolik atau demonstrasi praktis.
b.      Tes terhadaap resepsi, ungkapan, dan pemahaman.
c.       Menyajikan kesempatan untk menerapkan prinsip umum sebagai latihan dngan suatu contoh tertentu
d.      Menyajikan kesempatan uanutk penerapan kedlam situasi senyatanya informasi yg baru seaja dipelajari.
(2)   Strategi Discovery dlam kelas
Strategi belajar discovery paling baik dilaksanakn dlam kelompok belajaryg kecil. Namun dpat juga dilaksanakna dlam kelompok belajaryg lenih besar. Pendekatan ini dpat dilaksanakn dlam bentuk komunikasi satu arah (ceramah reflektif) atau komunikasi dua arah (discovey terbimbing).
Langkah-langkah strategi discovey ialah sebagai berikut
a.       Menyajikan kesempatan untk bertindak /berbuat dan mengamati konsekuensi tindakn seseorang
b.      Tes terhadaap pemahaman tentang hubungan sebab akibat
c.       Mempertanyakn atau mengamati kegiatan selanjutnya, tes susunan prinsip umum yg mendasari kasus yg diasjikan itu
d.      Penyajian kesempatan-kesempatan guna penerapan hal yg baru saj dipelajari kedlam situasi atau masalah yg nyata.

BAB III
MEDIA PEMBALAJARAN

3.1  Pengertian media
Kata media berasal darii bahasa latin medius yg secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Dlam bahasa arab, media ialah perantara atau pengantaar pesan darii pengirim kepadaa penerima pesan. Gerlach dan Ely (1971) mengatakn bahwa media ialah manusia, materi atau kejadian yg membangun kondisi yg membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Secara lebih khusus, media dlam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagi alat grafis, photografis atau eloktronis auntk menangkap, memproses dan menyusun kembali visual atau verbal.
Para ahli mengungkapkan mengenai definisi media, diantaranya AECT (Association pf education and communication technology, 1997)  memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yg digunakn untk menyampaikan pesan atau informasi. Mediajuga sering diganti dngan kata mediator yg  menurut Eleming (1987;234) ialah penyebab atau alat yg turut campur tangan dlam dua pihak dan mendamaikannya. Dngan istilah mediator ini menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu sebagai mengatur hubungan yg efektif antara dua pihak utama dlam proses belajar siswa dan isi pelajaran. Mediator juga berarti setiap system pengajaran yg melakukan peran mediasi, mulai darii guru sampai kepadaa peralatan paling canggih dpat disebut media. Ringkasnya, media ialah alat yg menyampaikan atau mengantarkan pesan pengajaran.
Heinich mengemukakn istilah medium sebagai perantara yg mengantar informasi antara sumber  dan penerima. Apabila media itu membawa pesan atau informasi yg bertujuan instruksional atau mengandung maksud pengajaran maka media itu disebut media pengajaran.
Media pendidikan sering kali dikenal dngan istilah alat bantu atau media komunikasi. Hamalik mengungkapkan bahwa hubungan komunikasi akn berjalan lancer dngan hasil yg maksimall apabila menggunakn alat bantu yg disebut media komunikasi. Sementara itu, Gagne dan Briggs (1975) mengatakn bahwa media pembelajaran meliputi alat yg secara fisik digunakn utnuk menyampaikan isi materi pengajaran yg terdiri antara lain buku, tape recorder, kaset, dll. Dngan kata lain media ialah komponen sumber belajar atau wahana fisik yg mengandung materi instruksional dilingkungan siswa yg merangsang siswa untk belajar.
Istilah media sering dikaitkan dngan kata teknologi yg berasal darii kata latin tekne (art)  dan logos (ilmu). Menurut Webster (1983;105), “art” ialah keterampilan (skill) yg diperoleh lewat pengalaman, study dan observasi. Sedangkan teknologi tidak lebih darii ilmu yg membahas tentang keterampilan yg diperoleh lewat pengalaman, study dan observasi.
Erat hubungannya dngan teknologi, kita juga mengenal “teknik” yg dlam bidang pengajaran bersifat apa yg sesungguhnya terjadi antar guru dan murid, ia merupakn suatu strategi khusus. Richards dan Rodgers (1982;154)menjelaskan teknik ialah prosedur dan praktek yg sesungguhnya dlam kelas.
Dngan demikian, jika adaa media pengajaran matematika misalnya, maka itu membahas bagaimana kita memakai media dan alat bantu dlam proses mengajar agama, akn  membahas masalah keterampilan, sikap, perbuatan dan strategi mengajarkan matematika.
Dlam kegiatan belajar mengajar, kata media pengajran sering diganti dngan istilah seperti alat pandang dengar, bahan pengajaran (instructional material), komunikasi pandang dengar (audio visual communication),pendidikan alat peraga pandang (educational technology), teknologi pendidikan (educational technology)  alat peraga dan media penjelas.
Diantara batasan tentang media diatas, terdpat cirri-ciri umum yg terkandung padaa setiap batasan , diantaranya :
1.      Media pendidikan memiliki pengertian fisik yg dewasa ini dikenal sebagai hardware(perangkat keras) yaitusesuatu benda yg dpat diliihat, didengar atau diraba pancaindera.
2.      Media pendidikan memiliki pengertian non-fisik yg dikenal sebagai software(perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yg terdpat dlam perangkat keras yg merupakn isi yg ingin disampiakn kepadaa siswa.
3.      Penekanan media pendidikan terdpat padaa visual dan audio
4.      Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu padaa proses belajar baik didlam maupun diluar kelas
5.      Media pendidikan digunakn dlam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dlam proses pembelajaran
6.      Media pendidikan dpat digunakn secara massa
7.      Sikap, perbuatan, organisasi, strategi dan manajemen yg berhubunan dngan penerapan suatu ilmu

3.2  Landasan Teoritis Penggunaan Media Pengajaran

Menurut Bruner (1966;10-11) adaa tiga tingkatan utam modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial/gambar (ironic), dan pengalaman abstrak (symbolic). Pengalaman langsung ialah mengerjakn. Pengalaman pictorial ialah berupa gambar atau image. Dan padaa tingkatan ketiga siswa membaca atau mendengar. Ketiga tingkat pengalaman in saling aberinteraksi dalalm upaya memperoleh pengalaman (pengetahuan, keterampilan atau sikap) yg baru.
Levie dan Levie (1975) menyikpulkan bahwa hasil stimulus visual membuahkan hasil belajar yg lebih baik untk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, dan menghunungkan fakta dan konsep.
Salah satu gambaran yg paling banyak dijasikan sebagai landasan teori penggunaan media dlam proses belajar ialah  Dale’s Cone of Experience (kerucut pengalaman Dale). Kerucut ini menggambarkan mengenai ketiga pengalaman yg diungkapkan oleh burner.
Abstrak
   Lambang kata
Lambang visual
      Gambar diam, rekaman radio
Gambar hidup pameran
Televisi
Karya wisata
Dramatisasi
Benda tiruan atau pengamatan
Konkret                                               Pengamatan langsung
Tingakat keanbstrakn pesan akn semakin tinggi ketika pesan it dituangkan kedlamlambang seperti chart, grafik atau kata. Indera yg dilibatkan antara lain indera penglihatan dan pendengaran. Meskipun tingkatpartisipasi fisik berkurang, keterlibatan imajinatif semakin bertambah dan berkembang.
3.3  Prinsip – prinsip pemilihan dan penggunaan media

Drs. Sudirman N. (1991) mengemukakn beberapa prinsip pemilihan media pengajaran yaitu :
1.      Tujuan pemilihan
Memilih media yg akn digunakn harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yg jelas. Apakah pemilihan media itu untk pembelajaran, informasi yg bersifat umum, atau untk hiburan. Tujuan pemilihan berkaitan dngan kemampuan berbagai media.
2.      Karakteristik media pengajaran
Setiap media mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat darii segi keampuhan, cara pembuatan ataupun penggunaannya.

3.      Alternatif pilihan
Memilih padaa hakikatnya merupakn proses membuat keputusan darii berbagai alternatif pilihan.
Dlam menggunakn media hendaknya seorang pengajar memperhatikan prinsip tertentu, menurut Dr. Nana Sudjana (1991 : 104) prinsip tersebut meliputi :
1.      Menentukan jenis media dngan tepat
Seorang pengajar sebaiknya memilih terlebih dahulu media manakah yg sesuai dngan tujuan dan bahan pelajaran yg akn diajarkan.
2.      Menetapkan atau memperhitungkan subjek dngan tepat
Perlunya perhitungan apakah penggunaan media sesuai dngan tingkat kematangan/ kemampuan anak didik.
3.      Menyajikan media dngan tepat
Teknik dan metode penggunaan media dlam pengajaran mesti disesuaikan dngan tujuan, bahan metode, dan sarana yg adaa.
4.      Menempatkan atau memperlihatkan padaa waktu, tempat dan situasi yg tepat.
Dlam penggunaan media pengajaran mesti melihat waktu yg tepat dlam penggunaannya, tentu tidak  setiap pertemuan menggunakn media pengajaran.
Dasar pertimbangan pemilihan dan penggunaan media
Supaya media pengajaran yg dipilih tepat, selain memenuhi prinsip-prinsip pemilihan, terdpat pula beberapa faktor dan kreteria yg perlu diperhatikan, diantaranya :
1.      Faktor-faktor yg perlu diperhatikan dlam memilih media pengajaran
a.       Objektivitas
Unsur subjektivitas pengajar dlam memilih media pwngajaran harus dihindarkan. Pengajar tidak boleh memilih suatu media pengajaran atas dasar kesenangan pribadi. Apabila secara objektif, berdasarkan hasil penelitian atau percobaan, suatu media pengajaran menunjukkan keefektifan dan efisiensi yg tinggi, maka pengajar mesti menggunaknnya. Alangkah baiknya pengajar meminta pandangan atau saran darii teman sejawat ataupun melibatkan siswa.
b.      Program pengajaran
Program pengajaran yg akn disampaikan kepadaa anak didik harus sesuai dngan kurikulum yg berlaku, baik isinya, strukturnya, maupun kedlamannya.
c.       Sasaran program
Sasaran program yg dimaksud ialah anak didik yg akn menerima informasi pengajaran melalui media pengajaran.
d.      Situasi dan kondisi
Yg meliputi :
(1)   Situasi dan kondisi sekolah atau tempat dan ruangan yg akn dipergunakn, seperti ukurannya, perlengkapannya, ventilasinya
(2)   Situasi serta kondisi anak didik yg akn mengikuti pelajaran mengenai jumlahnya, motivasnya.
e.       Kualitas teknik
Darii segi teknik, media pengajaran perlu diperhatiakn, apakn sudah memenuhi syarat, seperti gambar-gambar atau alat-alat bantu, dan suara.
f.       Keefektifan dan efisiensi penggunaan
Keefektifan berkenaan dngan hasil yg dicapai, sedangkan efisiensi berkenaan dngan proses pencapaian hasil tersebut. Keefektifan dlam penggunaan media meluputi apakah dngan menggunakn media tersebut informasi pengajaran dpat diserap oleh anak didik dngan optimal, sehingga menimbulkan perubahan tingkah lakunya. Sedangkan efisiensi meliputi apakah dngan media tersebut waktu, tenaga, dan biaya yg dikeluarkan untk mencapai tujuan tersebut sedikit mungkin.
2.      Kriteria pemilihan media pengajaran
Nana Sudjana  dan Ahmad Rifai (1991:5) mengemukakn bahwa dlam memilih media untk kepentingan pengajaran sebaiknya memperhatikan kriteria sebagai berikut :
a.       Ketepatannya dngan tujuan pengajaran
Media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yg telah ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional berisikan unsur-unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, lebih mungkin digunaknnya media pengajaran.
b.      Dukungan terhadaap isi bahan pelajaran.
Bahan pelajaran yg sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami oleh siswa.
c.       Kemudahan memperoleh media
Media yg diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh pengajar padaa waktu mengajar.
d.      Kemudahan guru dlam menggunakn, apa pun jenis media yg diperlukan syarat utama ialah pengajar dpat menggunaknnya dlam proses pembelajaran
e.       Tersedia waktu untk menggunaknnya, sehingga media tersebut dpat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung
f.       Sesuai dngan taraf berpikir siswa, memilih media untk pendidikan dan pengajaran harus sesuai dngan taraf berpikir siswa, sehingga makna terkandung di dlamnya dpat dipahami oleh siswa.

Dngan kriteria pemilihan media tersebut, pengajar dpat lebih mudah menggunakn media mana yg dianggap tepat untk membantu mempermudah tugas-tugasnya sebagai pengajar. Kehadiran media dlam proses pengajaran jangan dipaksakn sehingga mempersulit tugas pengajar, akn tetapi mesti sebaliknya, yaitu mempermudah pengajar dlam menjelaskan bahan pengajaran. Media bukanlah keharusan tetapi sebagai pelengkap jika dipandang perlu untk mempertinggi kualitas belajar mengajar.



3.4  Ciri Media Pengajaran
Gerlach & Ely (1971) mengemukakn adaa tiga cirri media , yaitu
a)      Ciri Fiksiatif (fixative property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek dpat diurut dan disusun kembali dngan media seperti fotografi. Dngan ciri ini, media memungkinkan suatu rekaman yg terjadi padaa suatu waktu tertentu ditransportasikan tanpa mengenal waktu.
b)      Ciri Manipulatif (Manipulatif property)
Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan  karena media memiliki cirri manipulative. Seperti aksi gerakn dpat direkam dngan kamera atu foto. Melalui media, sebuah gambar dpat dimanipulasi, baik itu diedit atau yg lainnya.
c)      Cirri Distributif (Distributive property)
Cirri distribusi darii media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang dan secar bersamaan kejadian tersebut disajikan kepadaa sejumlah besar siswa dngan stimulus pengalaman yg relative sama mengenai kejadian itu.

          Sekali informasi direkam dlam format media apa saja, ia dpat memprosukdi seberapa kalipun dan siap digunakn secara bersamaan diberbagai tempat  atau digunakn secara berulang-ulang disuatu tempat. Konsistensi informasi yg telah direkam akn terjamin sama atauhampir sama dngan aslinya.

3.5  Macam – macam media
a.       Dilihat darii jenisnya :
1)      Media auditif yaitu media yg hanya mengandalkan kemampuan suara saja seperti radio dan piringan hitam. Kekurangan media ini ialah tidak cocok untk orang yg mempunyai kelainan dlam pendengaran.
2)      Media fisual yaitu media yg hanya mengandalkan indera penglihatan. Media ini menampilkan gambar diam seperti film strip, poto, gambar atau lukisan. Dan adaa pula yg menampilkan gambar yg bergerakseperti film kartun.
3)      Media audiovisual yaitu media yg mempunyai unsur suara dan gambar. Media ini dibagi lagi menjadi :
·         Audiovisual diam, yaitu media yg menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara.
·         Audiovisual gerak yaitu media yg dpat menampilkan unsur suara dan gambar yg bergerak seperti video.
Pembagian lain darii media ini ialah :
·         Audiovisual murni yaitu unsur suara maupun gambar berasal darii suatu sumber seperti film
·         Audiovisual tidak murni yaitu unsur suara dan gambarnya berasal darii sumber yg berbeda, contohnya film strip suara dan cetak suara

b.      Dilihat darii daya liputnya
a.       Media dngan daya liput luas dan serentak
Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempatdan ruang serta dpat menjangkau jumlah anak didik yg banyak dlam waktu yg sama.
Contoh : radio dan televisi.
b.      Media dngan daya liput yg terbatas oleh ruang dan tempat
Media ini dlam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yg khusus seperti film, sound slide, film rangkai yg harus menggunakn tempat yg tertutup dan gelap.
c.       Media untk pengajaran individual
Media ini penggunaannya hanya untk seorang diri, seperti modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.

c.       Dilihat darii bahan pembuatannya
a.       Media sederhana
Media ini bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak sulit.
b.      Media kompleks
Merupakn media yg bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunaannya memerlukan ketrampilan yg memadaai.

3.6  Manfaat dan Fungsi Media Pengajaran

Dlam  suatu proses belajar mengajar, terdpat dua unsure yg amat penting ialah  metode mengajar dan media yg digunakn. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan metode belajar mengajar tertentu akn mempengaruhi jenis media pengajaran  yg sesuai, meskipun adaa beberapa aspek lain yg harus diperhatikan dlam memilih  media, antara lain tujuan pengajaran, jrnid tugas dan respon yg diharapkan. Namun dpat dikatakn bahwa media pengajaran ialah sebagi alat bantu mengajar yg turut mempengaruhi iklim, kondisi dan lingkungan belajar yg ditata dan diciptakn guru.
Hamalik (1986) mengemukakn bahwa pemakaian media pengajaran dlam proses belajar mengajar dpat membangkitkan keinginan dan minat yg baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar serta membawa pengaruh psikologi terhadaap siswa. Disamping itu, media pengajaran juga membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dngan menarik dan terpercaya,  memudahkan penafsiran data dan memadaatkan informasi.


Levie & Lentz (1982) mengemukakn empat fungsi media pengajaran, yakni
a.       Fungsi atensi
Fungsi ini merupaka inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untk berkonsentrasi kepadaa isi pelajaran yg berkaitan dngan makna yg ditampilkan. Melalui media gambar memberikan kemudahan untk memperoleh dan mengingat isi pelajaran semakin besar.
b.      Fungsi afektif
Fungsi ini dpat dilihat darii tingkat kenikmatan siswa ketika belajarteks yg bergambar. Gambar ini diharapkan dpat menggugah emosi dan sikap siswa.
c.       Fungsi kognitif
Fungsi ini  terlihat darii temuan-temuan penelitian yg mengungkapkan bahwa lambing gambar memperlancar pencapaian tujuan untk memahami dan mengingat pesan yg terkandung dlam gambar.
d.      Fungsi kompensatoris
Media pengajaran terlihat darii hasil penelitian bahwa media visual memberikan konteks untk memahami teks membantu siswa yg lemah dlam membaca untk mengorganisasikan informasi dlamteks dan mengingatnya kembali.

          Media pengajaran menurut Kemp & Daytori (1985;28) dpat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakn utnuk perorangan,kelompok, pendengar yg jumlahnya besar, yaitu
(1)   memotivasi minat atau tindakn
dpat direalisasikan dngan teknik drama atau hiburan. Hasil yg diharapkan ialah melahirkan minat dan merangsang siswa untk bertindak.
(2)   menyajikan informasi
isi dan bentuk penyajian bersifat umum,berfungsi sebagai pengantar, ringkasan laporan atau pengetahuan latar belakng. Penyajian dpat berbentuk drama atau hiburan.
(3)   memberikan instruksi.
Media berfungsi untk tujuan instruksi dimana informasi yg terdpat dlam media itu harus melibatkan siswa, baik dlam benak maupun dlam bentuk aktivitas yg nyata sehiingga pembelajaran dpat terjadi.
Berikut beberapa dampak positif darii penggunaan media, diataranya :
1)      penyampaian pelajaran menjadi lebih baku
2)      pengajaran bisa lebih menarik
3)      pembelajaran bosa lebih interaktif
4)      lamanya waktu pembelajaran dpat dipersingkat
5)      kualitas hasil belajar dpat ditingkatkan
6)      pengajaran dpat diberikan kapan dan dimana saja
7)      sikap positif siswa dpat ditingkatkan
8)      peran guru dpat berubah kearah yg lebih positif
          Hubungan antara guru dan siswa merupakn elemen penting dlam system pendidikan. Guru hadir untk menyajikan materi pembelajaran dnganbantuan media agar manfaat berikut dpat tercapai, yaitu :
(1)   meningkatkan rasa saling pengertian dan simpati dlam kelas
(2)   membuahkan perubahan yg signifikan tingkah laku siswa
(3)   meningkatnya motifasi belajar
(4)   membawa kesegaran dan variasi bagi pengalaman belajar siswa
(5)   membuat hasil belajar lebih bermakna
(6)   mendorong pemanfaatanyg bermakna
(7)   memberikan umpan balik
(8)   melengkapi pengelaman yg kaya
(9)   memperluas pengalaman da wawasan siswa
          Darii beberapa uraian diatas, dpat disimpulkan bahwa manfaat penggunaan media diantaranya :
(1)   memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dpat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar
(2)   meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga menimbulkan motivasi belajar, dan interaksi yg lebih langsung
(3)   dpat mengatasi keterbatasan ruang, indera dan waktu ;
a.   objek yg terlalu besar dpat diganti dngan gambar
b.  objek yg ter,lalu kecil dpat disajikan dngan bantuan mikroskop
c.    kejadian langka yg terjadi dimasa lalu dpat ditampilkan melalui rekaman video
d.  objek yg amat rumit dpat ditampilkan secara kongkrit melalui film
e.    kejadian yg membahayakn dpat disimulasikan dngan media seperti film
f.   peristiwa alam dpat disajikan dngan rekaman
(4)   membrikan kesamaan pengalaman kepadaa siswa tentang peristiwwa dilingkungan mereka melalui karyawisata.

3.7  Laboratorium
Laboratorium (disingkat lab) ialah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali (Anonim, 2007). Sementara menurut Emha (2002), laboratorium diartikan sebagai suatu tempat untk mengadaakn percobaan, penyelidikan, dan sebagainya yg berhubungan dngan MIPA atau bidang ilmu lain.
Pengertian lain menurut Sukarso (2005), laboratorium ialah suatu tempat dimana dilakukan kegiatan kerja untk mernghasilkan sesuatu. Tempat ini dpat merupakn suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya kebun dan lain-lain.
Berdasarkan definisi tersebut, laboratorium ialah suatu tempat yg digunakn untk melakukan percobaan maupun pelatihan yg berhubungan dngan ilmu fisika, biologi, dan kimia atau bidang ilmu lain, yg merupakn suatu ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka seperti kebun dan lain-lain.
3.8 Fungsi dan Peran Laboratorium
Menurut Sukarso (2005), secara garis besar laboratorium dlam proses pendidikan ialah sebagai berikut:
1.      Sebagai tempat untk berlatih mengembangkan keterampilan intelektual melalui kegiatan pengamatan, pencatatan dan pengkaji gejala-gejala alam.
2.      Mengembangkan keterampilan motorik siswa. Siswa akn bertambah keterampilannya dlam mempergunakn alat-alat media yg tersedia untk mencari dan menemukan kebenaran.
3.      Memberikan dan memupuk keberanian untk mencari hakekat kebenaran ilmiah darii sesuatu objek dlam lingkungn alam dan sosial.

4.      Memupuk rasa ingin tahu siswa sebagai modal sikap ilmiah seseorang calon ilmuan.
5.      Membina rasa percaya diri sebagai akibat keterampilan dan pengetahuan atau penemuan yg diperolehnya.
Lebih jauh dijelaskan dlam Anonim (2003), bahwa fungsi darii laboratorium ialah sebagai berikut :
1.      Laboratorium sebagai sumber belajar
Tujuan pembelajaran matematika dngan banyak variasi dpat digali, diungkapkan, dan dikembangkan darii laboratorium. Laboratorium sebagai sumber untk memecahkan masalah atau melakukan percobaan. Berbagai masalah yg berkaitan dngan tujuan pembelajaran terdiri darii 3 ranah yakni: ranah pengetahuan, ranah sikap, dan ranah keterampilan/afektif.
2.      Laboratorium sebagai metode pembelajaran
Di dlam laboratorium terdpat dua metode dlam pembelajaran yakni metode percobaan dan metode pengamatan
3.      Laboratorium sebagai prasarana pendidikan
Laboratorium sebagai prasarana pendidikan atau wadaah proses pembelajaran. Laboratorium terdiri darii ruang yg dilengkapi dngan berbagai perlengkapan dngan bermacam-macam kondisi yg dpat dikendalikan, khususnya peralatan untk melakukan percobaan.
Adaapun peranan laboratorium antara lain :
(1)   Laboratorium sebagai tempat timbulnya berbagai masalah sekaligus sebagai tempat untk memecahkan masalah tersebut.
(2)   Laboratorium sebagai tempat untk melatih keterampilan serta kebiasaan menemukan suatu masalah dan sikap teliti.
(3)   Laboratorium sebagai tempat yg dpat mendorong semangat peserta didik untk memperdlam pengertian darii suatu fakta yg diselidiki atau diamatinya
(4)   Laboratorium berfungsi pula sebagai tempat untk melatih peserta didik bersikap cermat, bersikap sabar dan jujur, serta berpikir kritis dan cekatan.
(5)   Laboratorium sebagai tempat bagi para peserta didik untk mengembangkan ilmu pengetahuannya (Emha, 2002).

3.8  Pengelolaan Laboratorium

Banyak faktor-faktor yg menyebabkan bergesernya laboratorium sebagai tempat untk mengamati, menemukan, dan memecahkan suatu masalah manjadi ruang kelas ataupun gudang, antara lain :
(1)   Kurangnya kemampuan dlam mengelola laboratorium sekolah.
(2)   Kurangnya pemahaman terhadaap makna dan fungsi laboratorium serta implikasinya bagi pengembangan dan perbaikan sistem pembelajaran MIPA.
(3)   Terbatasnya kemampuan dosen dlam penguasaan mata kuliah.
(4)   belum meratanya pengadaaan dan penyebaran alat peraga MIPA sehingga menyulitkan bagi pusat kegiatan dosen untk menjalankan fungsi pembinaannya kepadaa mahasiswa

3.9  Macam Laboratorium
(1)   Personalized System of Instruction
“Personalized System of Instruction” (PSI) ditemukan oleh Keller (1968) merupakn pendekatan baru dlam bidang pembelajaran. Oleh karena itu PSI sering disebut “The Keller Plan”. Karakteristik darii PSI ialah sebagai berikut :
  1. Kemajuan mahasiswa berdasarkan berdasar padaa langkahnya sendiri, didasarkan padaa irama kerjanya. Adaa yg cepat dan berinisiatif tinggi, adaa yg sedang-sedang saja, dan adaa pula yg lamban dngan semboyan ”biar lambat asal selamat”.
  2. Sebelum mempelajari unit berikutnya, mahasiswa harus membuktikan terlebih dahulu penguasaannya terhadaap pembelajaran dan unit yg sudah dipelajarinya dngan membuat satu atau beberapa tes.
  3. Pelaksanaan perkuliahan yg dijalankan lebih dianggap memberikan motivasi serta dpat memberikan informasi atau tambahan pengetahuan.
  4. Staf pengajar bukan hanya dosen, tetapi juga mahasiswa senior yg berfungsi sebagai tutor.
  5. Materi pembelajaran dibagi dlam unit-unit yg masing-masing terdiri darii : (1) pengantar, (2) tujuan pembelajaran, (3) kegiatan pembelajaran, dan (4) serangkaian pertanyaan yg berfungsi untk memperdlam materi yg telah dipelajari
(2)   Audio Tutorial Method
Pendekatan Audio Tutorial Method (A-T) ini semula dikembangkan oleh Portlethwart (1969-1972) yg merupakn metode dlam pembelajaran biologi di Purdue University. Materi atau bahan pembelajaran dibagi-bagi ke dlam bagian-bagian untk satu minggu lamanya yg berisi teori maupun praktek. Bahan tersebut dimasukkan ke dlam kaset, di mana setiap mahasiswa dngan manempati tempat yg tertentu (semacam “booth” dlam laboratorium bahasa) belajar melalui kaset dngan peralatan laboratorium lain yg tersedia.
Karakteristik darii pendekatan “Audio Tutorial Method” ini ialah :
1.      Pendekatan dngan media “audio tutorial” ini dipakai untk mengatasi besarnya kelas/jumlah mahasiswa dngan memberikan bimbingan dlam pita kaset. Program belajar ialah didasarkan padaa irama kerja atau kecepatan maju mahasiswa sendiri
2.      Dilihat darii segi tertentu ceramah yg dikasetkan dlam bentuk program bimbingan bersifat memberikan motivasi saja.
3.      Diperlukan umpan balik kerja mahasiswa untk dpat mengetahui apakah mahasiswa tersebut dpat melanjutkan belajarnya padaa bagian yg berikut dngan menempuh serangkaian tes.
4.      Tujuan yg diumumkan bersifat “behavioral”.
5.      Dipakai “Criterion Referenced Testing”.
6.      Terdpat integrasi antara teori dan praktek.
7.      Dlam hal ini kaset dpat digolongkan sebagai media.
(3)   Computer Assisted Learning
Istilah “Computer Assisted Learning (CAL)” sering dipakai di kalangan buruh dlam kerajaan Inggris, sedang istilah lain dngan isi yg sama ialah “Computer Assisted Learning (CAL)” yg sering dipakai di kalangan guru-guru di Amerika Serikat. Komputer dlam pendekatan ini dipakai sebagai sarana atau media belajar. Seringkali komputer untk membuat model atau simulasi suatu situasi atau suatu proses yg baik mungkin tersedia untk dipelajari mungkin karena mahalnya atau karena kelangkaannya, sehingga tidak mungkin untk memperoleh pengalaman langsung darii padaanya. Perananan dosen digantikan oleh komputer karena dpat mengisi kekurangan-kekurangan yg terdpat padaa guru/dosen tersebut.
Karakteristik darii “Computer Assisted Learning” sebagai berikut :
1.      Mahasiwa dpat belajar menurut irama kerjanya.
2.      Diperlukan balikan untk memungkinkan segera mengetahui apakah seseorang memenuhi penguasaan atas materi atau untk menentukan dpat atau tidaknya belajar bagian yg berikutnya.
3.      Komputer berfungsi sebagai tutor baik sebagai pemberi informasi, pemberi tugas, pemberi tes, dan menilai hasil tes serta menentukan hasil yg dicapai oleh mahasiswa.
4.      Selain sebagai tutor, komputer juga berfungsi sebagai simulator, sebagai model yg memberikan kepadaa mahasiswa fasilitas untk berhitung simulasi, model-model, dan pemecahan masalah.
(4)   Learning Aids Laborary
“Learning Aids Laborary (LAL)” dpat dirumuskan sebagai pusat di mana mahasiswa terlibat dlam belajar secara individual dngan memakai sarana atau peralatan yg adaa dlam laboratorium, misalnya AVA, komputer, pameran, percobaan sendiri atau studi referensi.
Keberhasilan belajar dngan pendekatan LAL ini sangat tergantung padaa motivasi mahasiswa itu sendiri, karena peralatan dlam laboratorium, baik yg “hardware” maupun “software”nya tergantung padaa niat, kemampuan, dan irama kerja darii mahasiswa sendiri. Laboratorium di sini hanya berfungsi sebagai media belajar-mengajar.
Karakteristik darii “Learning Aids Laborary” ialah :
1.      Amat tergantung darii irama kerja mahasiswa.
2.      Dpat membangkitkan minat dan perhatian mahasiswa.
3.      Seperti kerja laboratorium yg lain mahasiswa dpat menghubungkan dan mengintegrasikan antara teori dan praktek.
4.      Peralatan yg tersedia dlam laboratorium berfungsi sebagai media.
(5)   Modular Laborary
Yg disebut dngan “Modular Laborary (M-L)” ialah laboratorium, di mana mahasiswa, dosen atau orang lain dpat melakukan kegiatan praktek (dlam arti belajar) dngan menggunakn modul-modul yg tersedia. Yg dimaksud dngan modul ialah suatu unit yg berdiri sendiri darii rangkaian suatu perencanaan yg berseri dlam kegiatan pelajaran yg direncanakn untk membantu mahasiswa dlam melaksanakn sesuatu hal yg tertentu akn lebih obyektif. Sedangkan modul itu sendiri dimaksudkan sebagai suatu paket kurikulum yg disediakn untk dpat dipakai belajar sendiri.
Penggunaan modul sebagi metode belajar-mengajar yg bersifat inovatif antara lain dimaksudkan untk mengatasi jumlah kelas yg sulit diperhatikan perbedaan-perbedaan individual darii mahasiswa.
Karakteristik “Modular Laborary” sebagai suatu belajar-mengajar antara lain ialah :
  1. Sistem modul memungkinkan mahasiswa belajar berdasarkaan irama kerja yg dimilikinya.
  2. Menurut penguasaan (mastery learning) atas apa yg telah dipelajarinya sebelum berpindah ke modul yg lebih lanjut.
  3. Dibutuhkan balikan yg dpat menentukan apakah mahasiswa tersebut sudah siap mempelajari modul berikutnya, yaitu berdasarkan hasil tes yg telah ditempuhnya.
  4. Tujuan khusus pembelajaran biasanya dirumuskan “behavioral”.
  5. Terdpat “Criterion Referenced Testing” untk menentukan kesiapan mahasiswa mengambil modul berikutnya.
  6. Fungsi modul di sini ialah sebagai media dlam proses belajar-me
(6)   Integrated Laborary
“Integrated Laborary (IL)” ialah laboratorium yg terintegrasi berusaha mengintegrasikan, menyatakn disiplin yg terpisah-pisah atau sub-sub disiplin ke dlam satu paket belajar dngan media laboratorium yg terintegrasikan. Misalnya laboratorium kimia, fisika, dan biologi apalagi disatukan dlam satu paket maka merupakn integrasi darii disiplin ilmu kimia, ilmu fisika, dan ilmu hayat. Yg dipersatukan mungkin pula dalah sub disiplin ilmunya, misalnya kesatuan program laboratorium untk kimia organik, kimia anorganik, kimia analitis, dan kimia fisis.
Contoh lain, Ilmu Pengetahuan Sosial amat dekat hubungannya dngan Pendidikan Moral Pancasila. Oleh karenaya demi pemakaian laboratorium yg berdayaguna dan berhasilguna maka “Integrated Laborary” untk kedua disiplin atau bidang studi tersebut amat bermanfaat.
Karakteristik IL ialah sebagai berikut :
1.      Terdpat tumpang tindih antar bidang studi (interdisciplinary overlap).
2.      Terdpat tumpang tindih dlam satu bidang studi (intradisciplinary overlap), misalnya laboratorium kimia yg dipakai untk kimia organik, biokimia, kimia analisis, kimia fisis, dan sebagainya.
3.      Terdpatnya simulasi profesional (profesional simulation).
4.      Padaa karya dlam arti penuh dngan kerja karena didisain untk dipergunakn bekerja, belajar dlam berbagai bidang studi, disiplin atau sub disiplin ilmu.
(7)   Project Work (Belajar dngan Bekerja)
Belajar dngan bekerja atau “Project Work” merupakn suatu pengalaman belajar tersendiri, di mana mahasiswa dihadaapakn kepadaa masalah-masalah konkrit yg harus dipecahkan. Proyek di sini diartikan sebagai suatu unit praktek darii suatu kegiatan yg memiliki nilai pendidikan untk menuju kepadaa satu atau lebih tujuan konkrit dlam hal penyelidikan dan pemecahan masalah yg sering dipakai dlam penggunaan materi fisik, direncanakn untk disempurnakn oleh mahasiswa dan dosen dlam menuju suatu kehidupan nyata yg wajar.
Dlam laboratorium “Project Work”, mahasiswa atas nasehat dosen pembimbing memilih satu topik proyek. Atas dasar pilihan itu dipilih kepustakaan untk mendpatkan informasi. Informasi ini merupakn dasar penyusunan rencana kerja untk mencapai tujuan yg telah dirumuskan terlebih dahulu. Barulah kemudian menyusul fase kerja lapangan, eksperimen dngan berbagai alat yg tersedia atau bila perlu dibuat terlebih dahulu. Langkah-langkah yg dilaksanakn dan masalah yg timbul serta hasil-hasil yg kerja ilmiah. Selama proses berlangsung, pembimbing proyek memberikan kesempatan kepadaa mahasiswa untk berkonsultasi mengenai masalah-masalah yg dihadaapi.
Adaa tiga tipe dlam “Project Work” , yakni (1) Proyek dipakai sebagai sarana untk mendpatkan keterampilan dan pengetahuan, (2) Proyek dipakai sebagai alat untk secara umum mengembangkan keterampilan dan sikap, dan (3) Orientasi proyek di mana proyeknya sendiri merupakn penentu utama darii isi pembelajaran.
Karakteristik dariipadaa “Project Work” ini ialah :
1.      Kemajuan mahasiswa ditentukan oleh irama kerjanya.
2.      Membutuhkan pembimbing.
3.      Tumpang tindih antar bidang studi (interdisciplinary overlap).
4.      Dpat pula terjadi tumpang tindih dlam satu bidang satu bidang (intradisciplinary overlap).
5.      “profesional simulation”
6.      Orientasinya padaa riset.
7.      Topik dpat dipilih sendiri oleh mahasiswa.
8.      Merupakn rencana untk belajar yg di dlamnya terdpat pengalaman belajar.
9.      Biasanya dilaksanakn oleh mahasiswa dlam bentuk tim.
(8)   Participation in Research
Dlam model “Participation in Research (PIR)” mahasiswa ikut serta dlam riset nyata yg sedang diadaakn oleh fakultas atau lembaga lain, misalnya Lembaga Penelitian, Lembaga Pengabdian padaa masyarakat, dan sebagainya. Riset yg sedang dilaksanakn itu merupakn laboratorium di mana mahasiswa mendpatkan pengetahuan langsung, baik terori maupun praktek darii pengalaman kerja dlam riset tersebut. Dlam riset inilah mahasiswa mempelajari konsep yg dipadukan dlam praktek dlam kehidupan yg nyata.
Karakteristik darii padaa “Participation in Research” ini ialah :
1.      Kemajuan mahasiswa yg sejalan dngan irama kerjanya.
2.      Tersedia tutor.
3.      Terjadi tumpang tindih dlam satu bidang studi (intradisciplinary overlap).
4.      Simulasi profesional.
5.      Orientasi riset.
6.      Rencana kerja/aktivitas.
7.      Biasanya dilaksanakn dlam bentuk tim.
8.      Di samping macam-macam laboratorium yg didasarkan padaa segi pendekatan, macam-macam laboratorium dpat pula didasarkan padaa bidang studi atau kelompok bidang studi, yakni :
9.      Laboratorium untk bidang scince, misalnya laboratorium IPA, laboratorium Matematika, dan sebagainya.
10.  Laboratorium untk bidang studi tertentu, misalnya laboratorium Bahasa, laboratorium PMP, laboratorium IPS, dan sebagainya.
11.  Untk bidang keguruan, misalnya PSB merupakn laboratorium di mana PSB dpat memberikan fasilitas yg adaa untk mempelajari bidang ini, misalnya AVA untk program pembelajaran mikro. Sekolah Latihan dpat pula merupakn laboratorium keguruan, dan sebagainya.
12.  Untk bidang keterampilan, misalnya laboratorium Keterampilan PKK, Laboratorium Keterampilan Jasa, laboratorium Keterampilan Kerajinan, dan laboratorium Keterampilan Teknik.

BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Penggunaan media pengajaran sangat dibutuhkan untk menunjang dlam proses penyampaian informasi kepadaa komunikan. Pemilihan media pengajaran yg tepat mampu membantu proses pengajaran menjadi lebih optimal dan terkesan tidak monoton. Selain itu media pengajaran tersebut juga mampu merangsang dan mendorong kreatifitas terdidik dlam mengeksplorasi pengetahuan dngan alat-alat yg sudah tersedia.
4.2  Saran

Sebagai pengajar, diharapkan mampu memberikan metode pengajaran yg menarik dan mampu menciptakn suasana yg tidak monoton dan dituntut jua menggunakn fasilitas yg adaa dilingkungan pendidikan tersebut secara optimal, serta diiharapkan juga mampu mengendalikan peserta didik secara jasmani dan rohani.
Diharapkan juga peserta didik, pendidik dan instansi yg terkait ikut menjaga dan merawat media pengajaran tersebut.

Visitor