Makalah Kebudayaan Islam dan Islam Kebudayaan (Pengertian, Perbedaan,Pendapat Ulama)



Makalah Pengertian Kebudayaan Islam? Macam Kebudayaan Islam? Perbedaan Islam kebudayaan dan Kebudayaan islam? Contoh Kebudayaan islam di indonesia? Kerajaan islam pertama di indonesia? Akulturasi budaya Islam? Pendapat ulama tentang Islam Kebudayaan? Makalah Perkembangan Islam di indonesia? Penyebaran islam di indonesia? Perkembangan Islam pada masa modern?


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakng

Di kalangan masyarakat Indonesia terdpat kesan bahwa Islam bersifat sempit. Kesan itu timbul darii salah pengertian tentang hakikat Isla. Kekeliruan ini terdpat bukan hanya di kalangan umat Islam sendiri, bahkan jga di kalangan sebagian agamawan-agamamawan Islam.
Kekeliruan itu terjadi karena kurikulum pendidikan agama Islam yg banyak dipakai di Indonesia ditekankan pda pengajaran ibadat, fikih dan tauhid saja. Dan itupun, ibadat, fikih dan tauhid biasanya diajarkan hanya menurut satu madzhab dan aliran saja. Hal ini memberi pengetahuan yg sempit tentang Islam.
Dlam Islam sebenarnya terdpat aspek-aspek selain darii ibadat, fikih dan tauhid saja, ada aspek lain seperti aspek teologi, aspek ajaran spiritual, aspek politik, aspek hukum, aspek sejarah, dan khususnya aspek kebudayaan yg akn kita bahas ini.
Aspek kebudayaan ini sangatlah penting untuk dipelajari sebagai bahan pengetahuan bahwa Agama Islam itu mempunyai budaya, bukan menjadikan Islam sebagai budaya dan menjalankan islam sebagai pengamalan budaya saja, tetapi lebih dariipda itu semua bahwa Islam ialah agama yg mengajarkan hubungan manusia dngan Tuhan dan hubungan manusia dngan mahluk dngan sangat sempurna.

B.     Tujuan Penulisan

Penulisan ini dilakukan guna memenuhi tugsa mata kuliah darii dosen pengampu, selain itu jga tujuan penulisan ini ialah sebagai berikut:
-          Mempelajari tentang kebudayaan Islam
-          Memperdlam wawasan tentang Islam kebudayaan
-          Mengajarkan bagaimana peranan Islam terhadap kehidupan

C.     Rumusan Masalah

Dlam mkalah ini penulis merunuskan beberapa rumusan masalah, diantaranya ialah sebagai berikut :
·         Apa pengertian darii Kebudayaan?
·         Apa perbedaan antara Kebudayaan Islam dan Islam Kebudayaan?
·         Bagaimana pendpat para ulamaa tentang Islam kebudayaan?
·         Apa saja contoh-contoh kebudayaan Islam?
·         Bagaimana peranannya dlam kehidupan?



BAB II

PEMBAHASAN


A.    Pengertian Kebudayaan


Di dlam Kamus Besar Bahasa Indonesia hal. 149, disebutkan bahwa: “ budaya “ ialah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” ialah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dngan keseluruhan kecakapan (adat, akhlak, kesenian , ilmu dll). Sedang ahli sejarah mengartikan kebudaaan sebagai warisan ataou tradisi. Bahkan ahli Antropogi melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life, dan kelakuan. Definisi-definisi tersebut menunjukkan bahwa jangkauan kebudayaan sangatlah luas. Untuk memudahkan pembahasan, Ernst Cassirer membaginya menjadi lima aspek :
1)      Kehidupan Spritual
2)      Bahasa dan Kesustraan
3)      Kesenian
4)      Sejarah
5)      Ilmu Pengetahuan.
Aspek kehidupan Spritual, mencakup kebudayaan fisik, seperti sarana (candi, patung nenek moyg, arsitektur), peralatan (pakaian, maknan, alat-alat upacara). Jga mencakup sistem sosial, seperti upacara-upacara (kelahiran, pernikahan, kematian)
Adapun aspek bahasa dan kesusteraan mencakup bahasa daerah, pantun, syair, novel-novel.
Berikut beberapa pengertian kebudayaan menurut S. Takdir Alisyahbana (1986:207-8) :
1.    Kebudayaan ialah suatu keseluruhan yg kompleks yg terjadi darii unsur-unsur yg berbeda-beda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan segala kecakapan yg diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2.    Kebudayaan ialah warisan sosial ataou tradisi.
3.    Kebudayaan ialah cara, aturan dan jalan hidup manusia.
4.    Kebudayaan ialah penyesuaian manusia terhadap alam sekitarnya dan cara-cara menyelesaikan persoalan.
5.    Kebudayaan ialah hasil perbuatan ataou kecerdasan manusia.
6.    Kebudayaan ialah hasil pergaulan ataou perkumpulan manusia.
Dngan demikian, kebudayaan pda dasarnya ialah hasil karya, rasa, dan cita-cita manusia.
Rasa yg meliputi jiwa manusia mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yg mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dlam arti  luas. Agama, ideologi kebatinan dan kesenian yg merupakn hasil ekspresi jiwa manusia yg hidup sebagai anggota masyarakat termasuk di dlamnya. Cipta merupakn kemampuan mental, kemampuan berfikir orang-orang hidup bermasyarakat antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Rasa dan cinta dinamakn pula kebudayaan rohaniah ( spiritual ataou immaterial culture).

B.     Islam Kebudayaan

Apakah Islam itu bagian darii hasil karya, rasa, dan cita-cita manusia?
Nurcholis Majid menjelaskan hubungan agama dan budaya. Menurutnya agama dan budaya ialah dua bidang yg dpat dibedakn namun tak dpat dipisahkan. Agama bernilai mutlak, tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Sedangkan budaya, sekalipun berdasarkan agama, dpat berubah darii waktu ke waktu dan darii tempat ke tempat. Sebagian besar budaya didasarkan pda agama; tidak pernah terjadi sebaliknya. Oleh karena itu, agama ialah primer dan budaya ialah sekunder. Budaya bisa merupakn ekspresi hidup keagamaan, karena ia sub-ordinat terhadap agama, dan tidak pernah sebaliknya (Yustion dkk. Dewan Redaksi, 1993: 172-3)
Dlam pandangan Harun Nasution (lihat Parsudi Suparlan (ed.), 1982: 18), agama pda hakikatnya mengandung dua kelompok ajaran. Kelompok pertama, ajaran dasar yg diwahyukan Tuhan melalui para Rasulnya kepda masyarakat manusia. Ajaran dasar ini terdpat dlam kitab-kitab suci. Hasil Ajaran-ajaran yg terdpat dlam kitab-kitab suci ini memerlukan penjelasan baik mengenai arti maupun cara pelaksanaannya karena merupakn wahyu darii Tuhan bersifat absolut, mutlak(benar), kekal, tidak berubah dan tidak bisa diubah. Kelompok kedua karena merupakn penjelasan dan hasil pemikiran ahli agama pda hakikatnya tidaklah absolut, tidak mutlak(tidak benar) tidak kekal. Kelompok kedua ini bersifat relatif, nisbi(urutan), berubah dan dpat diubah sesuai dngan perkembangan zaman.
Dngan tidak bermaksud menyelaraskan ajaran islam dngan kebudayaan secara ilmu dan substansinya diambil darii ajaran islam.

UNSUR UNSUR KEBUDAYAAN ISLAMI

Cultural Universal
Sistem Kemasyarakatan
    
Cultural Activity
Trait Complex
Perkawinan
    

Khitbah













Item


Muda-mudi yg hendak menikah





Sistem kemasyarakatan dlam islam disebut sebagai culture universal karena ia terjadi disetiap tempat dan setiap waktu. Perkawinan disebut culture activity kerana perkawinan merupakn unsur yg lebih kecil darii pda unsur sistem kemasyarakatan. Salah satu kegiatan dlam perkawinan ialah khitbah (lamaran ataou pinangan). Sedangkan trait complex karena merupakn unsur yg yg lebih kecil darii perkawinan. Dlam khitbah terdpat muda mudi yg hendak menikah, mereka disebut items karena dlam khitbah masih terdpat unsur wakil pelamar (biasanya tidak langsung oleh yg bersangkutan) benda- benda yg dibawa ketika melamar seperti daun sirih, pinang, ragi dan kapur sirih. Dngan demikian dpat mengetahui bahwa pda tingkat praktis  agama islam merupakn produk  budaya kerena ia tumbuh dan berkembang melalui pemikiran ulamaa dngan cara ijtihad di samping itu tumbuh dan berkembang karena terjadi interaksi sosial di masyarakat.


C.     Perbedaan Islam Kebudayaan dan Kebudayaan Islam

Islam ialah agama yg diturunkan kepda manusia sebagai rohmat bagi alam semesta. Ajaran-ajarannya selalu membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia di dunia ini. Allah swt sendiri telah menyatakn hal ini, sebagaimana yg tersebut dlam ( QS Toha : 2 ) : “ Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kapdamu agar kam menjadi susah “. Artinya bahwa umat manusia yg mau mengikuti petunjuk Al Qur’an ini, akn dijamin oleh Allah bahwa kehidupan mereka akn bahagia dan sejahtera dunia dan akherat. Sebaliknya siapa saja yg membangkang dan mengingkari ajaran Islam ini, niscaya dia akn mengalami kehidupan yg sempit dan penuh penderitaan.
Ajaran-ajaran Islam yg penuh dngan kemaslahatan bagi manusia ini, tentunya mencakup segala aspek kehidupan manusia. Tidak ada satupun bentuk kegiatan yg dilakukan manusia, kecuali Allah telah meletakkan aturan-aturannya dlam ajaran Islam ini. Kebudayaan ialah salah satu darii sisi pentig darii kehidupan manusia, dan Islampun telah mengatur dan memberikan batasan-batasannya.Tulisan di bawah ini berusaha menjelaskan relasi antara Islam dan budaya. Walau singkat mudah-mudahan memberkan sumbangan dlam khazana pemikian Islam.

1.      Arti dan Hakekat Kebudayaan

Aspek seni dpat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu: visual arts dan performing arts, yg mencakup: seni rupa (melukis), seni pertunjukan (tari & musik) Seni Teater (wayg) Seni Arsitektur (rumah, bangunan, & perahu). Aspek ilmu pengetahuan meliputi scince (ilmu-ilmu eksakta) dan humanities (sastra, filsafat kebudayaan dan sejarah).

2.      Hubungan Islam dan Budaya

Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara agama ( termasuk Islam ) dngan budaya, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini : mengapa manusia cenderung memelihara kebudayaan, darii manakah desakn yg menggerakkan manusia untuk berkarya, berpikir dan bertindak ? Apakah yg mendorong mereka untuk selalu merubah alam dan lingkungan ini menjadi lebih baik ?
Sebagian ahli kebudayaan memandang bahwa kecenderungan untuk berbudaya merupakn dinamik ilahi. Bahkan menurut Hegel, keseluruhan karya sadar insani yg berupa ilmu, tata hukum, tatanegara, kesenian, dan filsafat tak lain dariipda proses realisasidiri darii roh ilahi. Sebaliknya sebagian ahli, seperti Pater Jan Bakker, dlam bukunya “Filsafat Kebudayaan” menyatakn bahwa tidak ada hubungannya antara agama dan budaya, karena menurutnya, bahwa agama merupakn keyakinan hidup rohaninya pemeluknya, sebagai jawaban atas panggilan ilahi. Keyakinan ini disebut Iman, dan Iman merupakn pemberian darii Tuhan, sedang kebudayaan merupakn karya manusia. Sehingga keduanya tidak bisa ditemukan. Adapun menurut para ahli Antropologi, sebagaimana yg diungkapkan oleh Drs. Heddy S. A. Putra, MA bahwa agama merupakn salah satu unsur kebudayaan. Hal itu, karena para ahli Antropologi mengatakn bahwa manusia mempunyai akal-pikiran dan mempunyai sistem pengetahuan yg digunakn untuk menafsirkan berbagai gejala serta simbol-simbol agama. Pemahaman manusia sangat terbatas dan tidak mampu mencapai hakekat darii ayat-ayat dlam kitab suci masing- masing agama. Mereka hanya dpat menafsirkan ayat-ayat suci tersebut sesuai dngan kemampuan yg ada.
Di sinilah, , bahwa agama telah menjadi hasil kebudayaan manusia. Berbagai tingkah laku keagamaan, masih menurut ahli antropogi,bukanlah diatur oleh ayat- ayat darii kitab suci, melainkan oleh interpretasi mereka terhadap ayat-ayat suci tersebut.
Darii keterangan di atas, dpat disimpulkan bahwa para ahli kebudayaan mempunyai pendpat yg berbeda di dlam memandang hubungan antara agama dan kebudayaan. Kelompok pertama menganggap bahwa Agama merupakn sumber kebudayaaan ataou dngan kata lain bahwa kebudayaan merupakn bentuk nyata darii agama itu sendiri. Pendpat ini diwakili oleh Hegel. Kelompok kedua, yg di wakili oleh Pater Jan Bakker, menganggap bahwa kebudayaan tidak ada hubungannya sama sekali dngan agama. Dan kelompok ketiga, yg menganggap bahwa agama merupakn bagian darii kebudayaan itu sendiri.
Untuk melihat manusia dan kebudayaannya, Islam tidaklah memandangnya darii satu sisi saja. Islam memandang bahwa manusia mempunyai dua unsur penting, yaitu unsur tanah dan unsur ruh yg ditiupkan Allah kedlam tubuhnya. Ini sangat terlihat jelas di dlam firman Allah Qs As Sajdah 7-9 : “ ( Allah)-lah Yg memulai penciptaan manusia darii tanah, kemudian Dia menciptakn keturunannya darii saripati air yan hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakn dan meniupkan ke dlam (tubuh)-nya roh (ciptaan)-Nya “
Selain menciptakn manusia, Allah swt jga menciptakn makhluk yg bernama Malaikat, yg hanya mampu mengerjakn perbuatan baik saja, karena diciptakn darii unsur cahaya. Dan jga menciptakn Syetan ataou Iblis yg hanya bisa berbuat jahat , karena diciptkan darii api. Sedangkan manusia, sebagaimana tersebut di atas, merupakn gabungan darii unsur dua makhluk tersebut.
Dlam suatu hadits disebutkan bahwa manusia ini mempunyai dua pembisik ; pembisik darii malaikat , sebagi aplikasi darii unsur ruh yg ditiupkan Allah, dan pembisik darii syetan, sebagai aplikasi darii unsur tanah. Kedua unsur yg terdpat dlam tubuh manusia tersebut, saling bertentangan dan tarik menarik. Ketika manusia melakukan kebajikan dan perbuatan baik, mka unsur malaikatlah yg menang, sebaliknya ketika manusia berbuat asusila, bermaksiat dan membuat kerusakn di muka bumi ini, mka unsur syetanlah yg menang. Oleh karena itu, selain memberikan bekal, kemauan dan kemampuan yg berupa pendengaran, penglihatan dan hati, Allah jga memberikan petunjuk dan pedoman, agar manusia mampu menggunakn kenikmatan tersebut untuk beribadat dan berbuat baik di muka bumi ini.
Allah telah memberikan kepda manusia sebuah kemampuan dan kebebasan untuk berkarya, berpikir dan menciptakn suatu kebudayaan. Di sini, Islam mengakui bahwa budaya merupakn hasil karya manusia. Sedang agama ialah pemberian Allah untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Yaitu suatu pemberian Allah kepda manusia untuk mengarahkan dan membimbing karya-karya manusia agar bermanfaat, berkemajuan, mempunyai nilai positif dan mengangkat harkat manusia. Islam mengajarkan kepda umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakn pikiran yg diberikan Allah untuk mengolah alam dunia ini menjadi sesuatu yg bermanfaat bagi kepentingan manusia. Dngan demikian, Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “ berbudaya “. Dan dlam satu waktu Islamlah yg meletakkan kaidah, norma dan pedoman. Sampai disini, mungkin bisa dikatakn bahwa kebudayaan itu sendiri, berasal darii agama. Teori seperti ini, nampaknya lebih dekat dngan apa yg dinyatakn Hegel di atas.

3.      Sikap Islam terhadap Kebudayaan

Islam, sebagaimana telah diterangkan di atas, datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepda kehidupan yg baik dan seimbang. Dngan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yg telah dianut suatu masyarakat, akn tetapi dlam waktu yg bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar darii hal-hal yg yg tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dlam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yg berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yg beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.
Prinsip semacam ini, sebenarnya telah menjiwai isi Undang-undang Dasar Negara Indonesia, pasal 32, walaupun secara praktik dan perinciannya terdpat perbedaan-perbedaan yg sangat menyolok. Dlam penjelasan UUD pasal 32, disebutkan : “ Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dngan tidak menolak bahan-bahan baru darii kebudayaan asing yg dpat memperkembangkan ataou memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Idonesia “. 
Hal-hal di atas merupakn sebagian contoh kebudayaan yg bertentangan dngan ajaran Islam, sehingga umat Islam tidak dibolehkan mengikutinya. Islam melarangnya, karena kebudayaan seperti itu merupakn kebudayaan yg tidak mengarah kepda kemajuan adab, dan persatuan, serta tidak mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia, sebaliknya justru merupakn kebudayaan yg menurunkan derajat kemanusiaan. Karena mengandung ajaran yg menghambur-hamburkan harta untuk hal-hal yg tidak bermanfaat dan menghinakn manusia yg sudah meninggal dunia.
Dlam hal ini al Kamal Ibnu al Himam, salah satu ulamaa besar madzhab hanafi mengatakn : “ Sesungguhnya nash-nash syareat jauh lebih kuat dariipda tradisi masyarakat, karena tradisi masyarakat bisa saja berupa kebatilan yg telah disepakati, seperti apa yg dilakukan sebagian masyarakat kita hari ini, yg mempunyai tradisi meletakkan lilin dan lampu-lampu di kuburan khusus pda malam- malam lebaran. Sedang nash syareat, setelah terbukti ke-autentikannya, mka tidak mungkin mengandung sebuah kebatilan. Dan karena tradisi, hanyalah mengikat masyarakat yg menyakininya, sedang nash syare’at mengikat manusia secara keseluruhan., mka nash jauh lebih kuat. Dan jga, karena tradisi dibolehkan melalui perantara nash, sebagaimana yg tersebut dlam hadits : “ apa yg dinyatakn oleh kaum muslimin baik, mka sesuatu itu baik “

D.    Macam-macam Kebudayaan Islam

Islam telah membagi budaya menjadi tiga macam :


1.      Kebudayaan yg tidak bertentangan dngan Islam.

Dlam kaidah fiqh disebutkan : “ al adatu muhakkamatun “ artinya bahwa adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat, yg merupakn bagian darii budaya manusia, mempunyai pengaruh di dlam penentuan hukum. Tetapi yg perlu dicatat, bahwa kaidah tersebut hanya berlaku pda hal-hal yg belum ada ketentuannya dlam syareat, seperti ; kadar besar kecilnya mahar dlam pernikahan, di dlam masyarakat Aceh, umpamanya, keluarga wanita biasanya, menentukan jumlah mas kawin sekitar 50-100 gram emas. Dlam Islam budaya itu syah-syah saja, karena Islam tidak menentukan besar kecilnya mahar yg harus diberikan kepda wanita. Menentukan bentuk bangunan Masjid, dibolehkan memkai arsitektur Persia, ataoupun arsitektur Jawa yg berbentuk Joglo.
Untuk hal-hal yg sudah ditetapkan ketentuan dan kreterianya di dlam Islam, mka adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat tidak boleh dijadikan standar hukum. Sebagai contoh ialah apa yg di tulis oleh Ahmad Baaso dlam sebuah harian yg menyatakn bahwa menikah antar agama ialah dibolehkan dlam Islam dngan dalil “ al adatu muhakkamatun “ karena nikah antar agama sudah menjadi budaya suatu masyarakat, mka dibolehkan dngan dasar kaidah di atas. Pernyataan seperti itu tidak benar, karena Islam telah menetapkan bahwa seorang wanita muslimah tidak diperkenankan menikah dngan seorang kafir.

2.      Kebudayaan yg sebagian unsurnya bertentangan dngan Islam , kemudian di “ rekonstruksi” sehingga menjadi Islami.

Contoh yg paling jelas, ialah tradisi Jahiliyah yg melakukan ibadah haji dngan cara-cara yg bertentangan dngan ajaran Islam , seperti lafadh “ talbiyah “ yg sarat dngan kesyirikan, thowaf di Ka’bah dngan telanjang. Islam datang untuk meronstruksi budaya tersebut, menjadi bentuk “ Ibadah” yg telah ditetapkan aturan-aturannya. Contoh lain ialah kebudayaan Arab untuk melantukan syair-syair Jahiliyah. Oleh Islam kebudayaan tersebut tetap dipertahankan, tetapi direkonstruksi isinya agar sesuai dngan nilai-nilai Islam.

3.      Kebudayaan yg bertentangan dngan Islam.

Seperti, budaya “ ngaben “ yg dilakukan oleh masyarakat Bali. Yaitu upacara pembakaran mayat yg diselenggarakn dlam suasana yg meriah dan gegap gempita, dan secara besar-besaran. Ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan bagi orang yg meninggal supaya kembali kepda penciptanya. Upacara semacam ini membutuhkan biaya yg sangat besar. Hal yg sama jga dilakukan oleh masyarakat Kalimantan Tengah dngan budaya “tiwah“ , sebuah upacara pembakaran mayat. Bedanya, dlam “ tiwah” ini dilakukan pemkaman jenazah yg berbentuk perahu lesung lebih dahulu. Kemudian kalau sudah tiba masanya, jenazah tersebut akn digali lagi untuk dibakar. Upacara ini berlangsung sampai seminggu ataou lebih. Pihak penyelenggara harus menyediakn maknan dan minuman dlam jumlah yg besar , karena disaksikan oleh para penduduk darii desa-desa dlam daerah yg luas. Di daerah Toraja, untuk memkamkan orang yan meninggal, jga memerlukan biaya yg besar. Biaya tersebut digunakn untuk untuk mengadakn hewan kurban yg berupa kerbau. Lain lagi yg dilakukan oleh masyarakat Cilacap, Jawa tengah. Mereka mempunyai budaya “ Tumpeng Rosulan “, yaitu berupa maknan yg dipersembahkan kepda Rosul Allah dan tumpeng lain yg dipersembahkan kepda Nyai Roro Kidul yg menurut masyarakat setempat merupakn penguasa Lautan selatan ( Samudra Hindia ).

E.     Peran Islam dlam Kehidupan

Menurut Emile Durkheim(1858-1917), ahli sosiologi darii Perancis, memperkenalkan masyarakat organis. Durkheim percaya bahwa norma-norma akn terancam oleh pembagian kerja yg berlebihan. Dlam pandangan nya, masyarakat praindustri disebut masyarakat mekanis, individu-individu menjalankan perannya masing-masing: sebagai ayah, suami, pemburu, pendeta dan yg lainnya. Semua peran ataou fungsi itu diteruskan darii generasi kegenerasi dngan perubahan sekecil mungkin. Sebaliknya masyarakat modern ialah masyarakat organis, produk pembagian kerja dan diferensiasi yg dihasilkan oleh proses industry. Masyarakat organis bersifat inovatif dan kompleks. Agama, dlam pandangan Emil Durkheim, meliputi semua kehidupan dlam masyarakat pertama, tetapi tempatnya menjadi lebih terbatas dlam masyarakat kedua. (david e. apter, 1988:377)
Oleh sebab itu, peran agama Islam dlam kehidupan sosial diantaranya ialah sebagai berikut:

1.         Hubungan Tauhid Dngan Ilmu Pengetahuan


Darii segi kebudayaan, agama merupakn universal cultural; artinya terdpat disetiap daerah kebudayaan dimana saja masyarakat dan kebudayaan itu berada, Allah SWT. berfirman:
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepda anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepda anaknya: “hai anakku, jangan kamu mempersekutukan Allah; sesungguhnya mempersekutukan Allah ialah benar-benar kezaliman yg besar”.”
Perintah meng-esa-kan Tuhan mengandung arti bahwa manusia hanya boleh tunduk kepda Tuhan. Ia tidak boleh tunduk kepda selain-Nya karena ia ialah puncak ciptaan-Nya (Nurcholis Majid, 1998:18).

Allah berfirman:
“Allahlah yg menunjukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dpat berlayar pdanya dngan izin-nya, dan supaya kamu dpat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur”. (QS. al-jatsiyah[45]:12)
dan AllahU berfirman :
“… maha suci tuhan yg telah menundukkan semua ini bagi kami, pdahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya”. (QS. al-zukhruf[43]13).
Konsekuensi darii tauhid ialah bahwa manusia harus menguasai alam dan haram tunduk kepda alam. Menguasai alam berarti menguasai hukum alam; dan darii hukum alam ini, ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan.

2.      Paradigma Ilmu-Ilmu Islami

Allah berfirman:
“sesungguhnya dlam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yg berlayar di laut membawa apa yg berguna bagi manusia, dan apa yg AllahU turunkan darii langit berupa air , lalu dngan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yg dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdpat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kamu yg memikirkan.”
Mengenal dan beriman kepda Allah dpat dilakukan melalui tanda-tanda yg diberikan-Nya, melalui diri kita sendiri, jagat raya, wahyu, ataoupun benda-benda lainnya.
Manusia yg hendak menyingkap rahasia Allah melalui tanda-tanda_Nya berupa jagat raya, menggunakn perangkat berupa ilmu-ilmu fisik, seperti ilmu fisika, kimia, sosiologi, ekonomi dan sebagainya. Dngan demikian, jalur manapun yg digunakn manusa dlam rangka menyingkap tabir kekuasaan-nya, akn melahirkan manusia yg semakin dekat dngan tuhan, paradigma ini sekaligus merupakn jawaban terhadap dikotomi ilmu agama dan ilmu non agama. pda dasarnya ilmu agama dan ilmu non agama hanya dpat dibedakn untuk kepentingan analisis, bukan untuk dipisahkan apalagi dipertentangkan.

3.      Ilmu Eksakta Ditangan Umat Islam.

Ilmu eksakta yg dimaksud disini ialah ilmu-ilmu yg membahas masalah-masalah yg bersifat empiris dan bersifat”pasti.” Dlam beberapa literatur dijelaskan mengenai sumbangan umat Islam terhadap matematika, anstronomi, kimia, optic, dll.

a.    Matematika
Diantara tokoh yg paling masyhur dlam bidang matematika ialah Khawarizmi. Dialah yg menulis buku ilmu hitung dan aljabar .
Jga Umar al-Khayam dan al-Thusi ialah ulamaa yg terkenal dlam bidang ilmu matematika. Angka nol ialah ciptaan umat Islam . Pda tahun 873 m. Angka nol telah dipakai di dunia Islam.
b.    Astronomi
Di dunia Islam yg terkenal ilmunya dlam bidang astronomi ialah Umar Khayam dan al-Farazi. Mereka menulis buku-buku tentang astronomi yg kemudian diterjemahkan ke dlam bahasa Latin untuk kemudian diajarkan di Eropa.
c.    Kimia
Ulamaa muslim yg terkenal dlam bidang kimia ialah Jabir bin Hayyan dan Zakaria al-Arazi yg dikenal di Eropa dngan sebutan Gaber dan Rhazes.
Pda zaman kejayaan Yunani, kimia banyak dibangun berdasarka spekulasi. Sedangkan pda zaman kejayaan Islam, kimia dikembangkan atas dasar percobaan dan eksprimen.

d.   Optik
Ulamaa yg terkenal dlam bidang optik ialah Ibnu Haitsam, yg berpendpat bahwa benda dpat dilihat karena benda mengirim cahaya ke mata, dan pernyataan ini dibenarkan oleh pengetahuan modern.

4.      Sains Dunia Islam Masa Kini.

Sains di dunia Islam sekarang ini sangat menyedihkan. Nurcholis Madjid (1998:9) menyatakn bahwa dunia Islam merupakn kawasan bumi yg paling terbelakng diantara penganut-penganut agama besar. Umat Islam sangat terbelakng dlam bidang sains dan ketinggalan oleh Eropa Utara, Amerika Utara, Australia, dan Selandia Baru yg memeluk Protestan; oleh Eropa Selatan dan Amerika Selatan yg menganut Khatolik Romawi; oleh Eropa Timur yg menganut khatolik Ortodoks; oleh Israel yg menganut agama Yahudi; oleh India yg mayoritas memeluk agama Hindu; oleh Cina, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura yg menganut agama Budha-Konfusianis; oleh Jepang yg menganut agama Budha-Taois;dan oleh Thailand yg menganut agama Budhis. ”jadi, ”tegas Nurcholis Madjid, ” tidak ada satupun agama besar dimuka bumi ini yg lebih rendah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya dariipda Islam. ”Tugas kita sekarang ialah menangkap kembali ajaran Islam yg otentik dan dinamis sehingga mendorong akselerasi kebangkitan penguasaan ilmu-ilmu eksakta sehingga umat Islam terhindar darii kemunduran, sebagaimana slogan Bung Karno: ”kita harus mampu menangkap api Islam dan meninggalkan abunya. ”



BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Darii pembahasan diatas kita dpat menyimpulkan bahwa “ kebudayaan” ialah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.
Nurcholis Majid menjelaskan hubungan agama dan budaya. Menurutnya agama dan budaya ialah dua bidang yg dpat dibedakn namun tak dpat dipisahkan. Agama bernilai mutlak, tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Sedangkan budaya, sekalipun berdasarkan agama, dpat berubah darii waktu ke waktu dan darii tempat ke tempat. Sebagian besar budaya didasarkan pda agama; tidak pernah terjadi sebaliknya. Oleh karena itu, agama ialah primer dan budaya ialah sekunder.
Islam, sebagaimana telah diterangkan di atas, datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepda kehidupan yg baik dan seimbang. Dngan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yg telah dianut suatu masyarakat, akn tetapi dlam waktu yg bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar darii hal-hal yg yg tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dlam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yg berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yg beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.

B.     KRITIK DAN SARAN

Dngan Selesainya Pembuatan mkalah ini saya berharap dpat memahami secara mendlam tentang Islam dan Kebudayaan: Islam Kebudayaan dan Peran Islam dlam Kehidupan. Tentunya pembuatan mkalah ini diharapkan bemanfaat untuk orang lain ataou setidaknya untuk diri sendiri. Kritik dan saran sangat diperlukan sekali dlam kesempurnaan mkalah ini, sebab tanpa adanya kritik dan saran mka saya tidak akn mengetahui kesalahan dan kekurangan mkalah ini. Saya berharap ada kritik dan saran yg dpat saya terima.



DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hakim, Atang. 2008. Metodologi Studi Islam, cet x. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Roberson, Roland, (ed)., 1992. Agama: Dlam Analisa dan Interretasi Sosiologis. Terj. Achmad Fedyani Saifuddin. Jakarta: CV. Fajawali.
Wahid, Abdurrahman ET. All, 1997. Dialog : Kritik dan Identitas Agama, Yogyakarta: Seri Dian I Tahun I.
http://bayu96ekonomos.wordpress.com/anda-tertarik/artikel-sosial-budaya/islam-sebagai-ideologi-dan-islam-sebagai-budaya/.

Visitor