Makalah Kebudayaan Islam di Indonesia (Pengaruh, Perkembangan,dan Penyebaran)




Makalah Perkembangan Islam di indonesia? Penyebaran islam di indonesia? Perkembangan Islam pada masa modern? Makalah Kebudayaan Islam? Macam Kebudayaan islam di indonesia? Kerajaan islam pertama di indonesia? Akulturasi budaya Islam? 

 

PENDAHULUAN 

A.      Latar belakng

Proses modernisasi dan globalisasi menempatkan bangsa Indonesia dlam arus perubahan besar yg mempengaruhi segala dimensi kehidupan masyarakat, terutama kehidupan budaya. Pda hakekatnya perubahan itu merupakn proses historis yg panjang, yg berkembang darii masa ke masa. Didlam sejarah Indonesia proses tersebut terlihat sejak darii awal pembentukan masyarakat pda masa prasejarah, kedatangan pengaruh kebuidayaan Hindu-Budha, kedatangan agama dan kebuidayaan Islam, serta hadirnya pengaruh Barat, sampai masa kini. Sudah difahami bahwa selama perjalanan sejarah tersebut diatas, bangsa Indonesia beberapa kali berada dlam situasi yg sama, yaitu berhadapan dengan kedatangan budaya lain yg berbeda sifatnya. Oleh karena itu, tidak dpat diingkari bahwa dlam proses yg panjang itu pernah terjadi pula ketegangan dan konflik. Akn tetapi, ketegangan dan konflik tersebut sebenarnya ialah bagian darii proses ke arah penyatuan.
Sebagai negara berkembang yg sedang melaksanakn pembangunan, mka bagi generasi muda Indonesia modern tetap diperlukan pendidikan kebuidayaan, terutama yg berhubungan dengan sejarah kebuidayaan dan peradaban bangsa. Hal ini ditekankan, karena upaya untuk pembangunan sumberdaya manusia yg memiliki kualitas dan integritas tinggi dibutuhkan landasan pemahaman dan kesadaran akn sejarah budaya masyarakat dan bangsa yg mantap. Masyarakat Indonesia masa kini merupakn suatu mozaik yg kompleks, yg akn sulit difahami hakekatnya tanpa mengetahui latar belakng historisnya, baik dlam aspek sosial, politik, ekonomi, maupun kultural. Tanpa mengecilkan arti pengaruh budaya yg lain, harus disadarii bahwa kebuidayaan Islam Indonesia merupakn salah satu unsur pembentuk mozaik budaya Indonesia, dan sudah mulai muncul di Nusantara pda abad XI M.


B.      Rumusan masalah

Darii mkalah ini penulis telah menentukan suatu rumusan mkalah yg akn dikupas pda bab pembahasan diantaranya:
1)      Bagaimana kedatangan Islam di Indonesia?
2)      Bagaimana perkembangan Islam di Indonesia?
3)      Bagaimana pengaruh Islam terhadap kebuidayaan Indonesia?
4)      Bagaimana akulturasi serta sumbangan Islam bagi kebuidayaan di Indonesia?


PEMBAHASAN

A.   ISLAM DAN KEBUIDAYAAN INDONESIA 

a.      Kedatangan Islam

Beberapa ahli menyebutkan bahwa berdasarkan berita Cina darii dinasti Tang, Islam sudah mulai diperkenalkan kepda masyarakat Indonesia pda abad VII-VIII M.[1]
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa pda akhir abad XI M di Indonesia, khususnya di Leran, kota Gresik (Jawa Timur). Pda batu nisan itu tertulis nama Fatimah binti Maimun bin Hibatallah, dan disebutkan bahwa ia meninggal pda tahun 475 H. bersamaan dengan tahun 1082 M. Artinya masih dlam periode kekuasaan kerajaan Kadiri. Darii sisi lain, nama Fatimah tidak diawali oleh gelar apapun, hal ini berarti fatimah ialah seorang rakyat biasa. tidak seperti nama Malik al-Saleh darii Samudra-Pasai yg diawali dengan gelar al-sultan. Dan pda waktu itu pusat kekuasaan yg bercorak Hindu masih kental di kerajaan Kadiri.[2]
Sedangkan data tentang keberadaan orang Islam di Nusantara baru muncul pda abad XIII M, yaitu dlam bentuk nisan berprasasti huruf Arab di kompleks mkam Tuan Makhdum di Barus (pantai barat Sumatra Utara). Prasasti itu memuat nama Siti Tuhar Amisuri, dan tahun meninggalnya, yaitu 602 H. yg bersamaan dengan tahun 1205 M. Dilihat darii namanya, ia ialah seorang wanita bumiputera yg memeluk agama Islam. Dan ia jga seorang anggota masyarakat biasa, karena namanya tidak diawali oleh gelar atau sebutan kebangsawanan. Akn tetapi, pda waktu itu di wilayah Barus belum terbentuk institusi politik atau kerajaan yg bercorak Islam. Meskipun pda waktu itu pula Barus terkenal sebagai produsen kapur di dunia internasional sebelum Masehi.[3]

b.      Institusi Politik

Pda tahapan berikutnya, terbentuklah kerajaan yg bercorak Islam. Di Indonesia kerajaan Islam yg tertua ialah Samudra-Pasai yg terletak di pantai timur Aceh. Di daerah tersebut ditemukan pemkaman kuno, yg nisan-nisannya memuat prasasti dengan bahasa dan huruf Arab. Pda salah satu nisan tersebut tercantum prasasti yg memuat nama al-sultan al Malik al Saleh yg wafat pda tahun 696 H (bertepatan dengan tahun 1297 M). Pencantuman sebutan al-sultan itulah yg menjadi dasar interpretasi keberadaan suatu institusi politik Islam di kawasan tersebut.[4]
Sebelum terbentuk institusi politik Islam, sudah terjadi penyebaran agama Islam secara luas di kalangan masyarakat. Hal itu tersirat di dlam sumber-sumber tertulis yg terkait dengan kawasan tersebut. Marcopolo pda tahun 1292 berkunjung ke beberapa pelabuhan di kawasan itu, seperti Ferlec, mengatakn bahwa penduduk kota beragama Islam, sedangkan penduduk pedlaman masih kafir. Di sisi yg lain sumber tertulis lokal seperti Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu hanya mengkisahkan bahwa Meurah Silu, pemimpin di Samudra-Pasai, diislamkan oleh Fakir Muhammad yg datang darii atas angin. Setelah itu namanya diganti menjadi Malik al-Saleh.[5]
Di Jawa, institusi politik Islam yaitu kesultanan Demak baru lahir pda abad XV, bersamaan dengan mundurnya kerajaan Majapahit. Pergantian pemegang kekuasaan politik darii Majapahit ke Demak pda tahun 1519.[6] Hakekatnya ialah usaha perebutan tahta di antara anggota keluarga raja. Dlam hal ini penguasa Demak yg jga keturunan Bhrawijaya Kertabhumi merasa berhak pula atas kendali kekuasaan kerajaan Majapahit. Meskipun demikian, perbedaan pandangan keagamaan jga memberikan kemungkinan kepda Demak untuk menaklukkan Majapahit.
Sejak masa kejayaan Majapahit sudah ada orang-orang Islam yg tinggal di kota kerajaan, sebagaimana dilihat darii batu nisan Islam kuno di Tralaya. Nisan-nisan kuno tersebut memuat angka tahun tertua, yaitu 1290 C = 1368 M, dan angka tahun termuda 1533 C = 1611 M, tetapi tidak memuat nama sama sekali. Data itu menggambarkan bahwa pda tahun 1368 M, yg masih dlam masa keemasan Majapahit, sudah ada orang Muslim yg tinggal di kota kerajaan, sebab situs Tralaya diduga berada di selatan kraton Majapahit. Beberapa nisan di situs tersebut memuat relief surya majapahit yg diyakini merupakn lambang kerajaan Majapahit, sehingga ditafsirkan bahwa orang yg dimkamkan di tempat tersebut ialah keluarga dekat raja, dan beragama Islam.[7]

c.      Penyebaran Islam

Sebelum kesultanan Demak lahir, penyebaran agama Islam di Jawa sudah dilakukan, baik oleh orang luar maupun oleh bumiputera sendiri. Adapun cara-cara penyebaran yg dilakukan antara lain melalui pernikahan dengan wanita setempat, dakwah, pendidikan, dan kesenian.[8] Sebagian penyebar agama Islam itu, beberapa di antaranya tergolong dlam Wali Sanga, penyebaran Islam jga ditujukan ke pulau-pulau lain, seperti Maluku, Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi. Penyebaran tersebut dipelopori oleh para ulama, termasuk Wali Sanga, dan kemudian mendpat dukungan politis darii para penguasa. Hal tersebut tampak dlam penyebaran Islam misalnya di Kalimantan Selatan. Pda tahap awalnya Islam disebarkan di Nusantara melalui jalur perdagangan, Islam dibawa dan diperkenalkan kepda masyarakat Nusantara oleh para pedagang asing. Hal itu sejalan dengan lalu lintas perdagangan pda abad VII – XVI M, yakni darii Asia Barat dan Asia Selatan ke Asia Timur dan Asia Tenggara, dan sebaliknya. Di samping itu, Islam menyampaikan ajaran agama kepda pihak lain merupakn kewajiban bagi semua orang.[9]
Jalur lain yg jga memegang peran dlam penyebaran Islam di Nusantara ialah tasawuf.[10] Ajaran tasawuf yg diberikan oleh para sufi  mengandung persamaan dengan konsep-konsep pikiran mistis Hindu-Budha yg berkembang di Nusantara pda waktu itu. Hal itulah yg mempermudah Islam diterima oleh masyarakat Nusantara. selain melalui perdagangan, pernikahan, dan tasawuf, penyebaran Islam jga dilakukan melalui pendidikan.[11]
Cara penyebaran Islam yg lain ialah melalui seni, misalnya seni sastra, seni pertunjukan, seni musik, seni pahat, dan seni bangunan.[12] Melalui seni pertunjukan, misalnya wayg yg digemari masyarakat Jawa, ajaran agama Islam dpat disampaikan dengan cara disisipkan dlam lakon-lakon yg masih didasarkan pda ceritera-ceritera Jawa Kuno. Seni bangunan jga dipakai sebagai sarana untuk penyebaran agama Islam di Nusantara.
Pda tahap berikutnya, penyebaran Islam sudah dilakukan oleh orang-orang bumiputera sendiri. Hal ini tampak darii peran para wali di Jawa, dan ulama-ulama lain seperti Dato’ ri Bandang di Sulawesi Selatan, serta Tuanku Tunggang di Parang di Kalimantan Timur. Di dlam sumber-sumber tertulis setempat dikisahkan bahwa mereka menyebarkan agama Islam kepda para pemuka masyarakat, dan mendirikan pesantren yg banyak menarik murid darii berbagai daerah.[13]

d.  Perubahan dan Kesinambungan Budaya

Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia membawa perubahan-perubahan dlam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Candi dan petirtaan tidak dibangun lagi, tetapi kemudian muncul masjid, surau, dan mkam. Sistem kasta di dlam masyarakat dihapus, arca dewa-dewa serta bentuk-bentuk zoomorphic tidak lagi dibuat. Bahkan pda abad XVII M Sultan Agung memunculkan kalender Jawa, yg pda dasarnya merupakn “perkawinan” antara kalender Caka dan Hijriyah. Masjid dan cungkub mkam mengambil bentuk atap tumpang, seperti Masjid Agung Demak, yg bentuk dasarnya sudah dikenal pda masa sebelumnya sebagaimana tampak pda beberapa relief candi.
Pda waktu itu bangunan mkam Islam merupakn hal yg baru di Indonesia, karena tercipta nisan, jirat, dan jga cungkub, dlam berbagai bentuk karya seni. Nisan mkam-mkam tertua di Jawa, seperti mkam Fatimah bin Maimun dan mkam Malik Ibrahim, menurut penelitian merupakn benda yg diimpor dlam bentuk jadi, sebagaimana tampak darii gaya tulisan Arab pda prasastinya dan jenis ornamentasi yg digunakn. Namun, nisan mkam-mkam berikutnya dibuat di Indonesia oleh seniman-seniman setempat. Hal ini antara lain tampak darii ragam hias yg digunakn, misalnya lengkung kurawal, patra, dan sebagainya.
Bahkan di pemkaman raja-raja Binamu di Jeneponto (Sulawesi Selatan) di atas jirat ada patung orang yg dimkamkan. Ini ialah suatu hal yg tidak pernah terjadi di tempat lain.[14]
Pda tata kota, terutama kota kerajaan di Jawa, jga dpat dilihat adanya perubahan dan kesinambungan. Di civic centre kota-kota tersebut ada alun-alun, kraton, masjid agung, dan pasar yg ditata menurut pola tertentu. Di sekelilingnya terdpat bangunan-bangunan lain, serta permukiman penduduk yg jga diatur berkelompok-kelompok sesuai dengan jenis pekerjaan, asal, dan status sosial.

B. ISLAM DAN KEBUIDAYAAN JAWA

a.   Pengertian

Masyarakat jawa, atau suku bangsa jawa, secara antropologi budaya ialah orang-orang yg dlam hidup kesehariannya menggunakn bahasa jawa dengan berbagai ragam bahasa komunikasinya secara turun temurun.[15] sedangkan pengertian Jawa yg dimaksud ialah pulau yg terbentang diantara kepulauan Nusantara, yg banyak menghasilkan jewawut (padi-padian), darii kata itulah kemudian dikenal dengan jawa.
Kebuidayaan jawa telah ada sejak zaman prasejarah, datangnya Hindu dengan kebuidayaannya dipulau jawa melahirkan kebuidayaan Hindu-Jawa. Dengan masuknya islam, kebuidayaan jawa menjadi sifat sinkretis yg memadukan unsur-unsur asli jawa, Hindu Jawa, dan Islam dlam satu kebuidayaan Jawa.[16]
Dlam perkembangannya, kebuidayaan jawa masih tetap pda dasar hakikinya yg menurut berbagai kitab-kitab jawa klasik dan peninggalan lain-lainnya, sebagai berikut:
a)      Orang Jawa percaya dan berlindung kepda sang pencipta, Zat Maha Tinggi, penyebab segala kehidupan, penyebab adanya dunia dan alam semesta yg awal dan Yg akhir.
b)      Orang jawa yakin bahwa manusia ialah bagian darii alam. Manusia dan alam senantiasa saling mempengaruhi, namun manusia sekaligus harus sanggup melawan alam untuk mewujudkan kehendaknya, cita-citanya maupun fantasinya.
c)      Rukun damai berarti tertib pda lahirnya dan damai pda batinnya sekaligus membangkitkan sifat luhur dan perikemanusiaan. Orang jawa menjunjung tinggi amanat yg terangkum dlam sasanti atau semboyan : mamayu hayuning bawana (Memelihara kesejahteraan dunia).
d)     Sikap hidup seperti diatas berlandaskan pda pokok pemikirannya adanya keseimbangan  hidup lahir dan batin, antara iman dan amal, antara kemauan dan kesanggupan, antara kemampuan dan kesungguhan, antara amal ibadah dan partisipasi dlam tata hidup lahir batin sampai pda kesimbangan antara sang Khalik dan makhluk.[17]

b.   Kepercayaan Masyarakat Jawa

a)      Animisme dan Dinamisme

Salah satu ciri masyarakat jawa ialah berketuhanan, suku bangsa jawa sejak masa prasejarah telah memiliki kepercayaan animisme, yaitu suatu kepercayaan tentang adanya roh atau jiwa pda benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan jga pda manusia sendiri, mereka membuat beberapa monumen yg terbuat darii batu-batu besar yg kurang halus pengerjaannya sebagai tempat untuk memuja nenek moyg, agar keluarga mereka terlindung darii roh yg jahat, mereka menyiapkan sesajen dan membakar kemenyan atau bau-bau lainnya yg digemari nenek moyg dan disempurnakn dengan bunyi-bunyian dan tarian.[18]
Seperti halnya upacara-upacara yg lainnya yakni slametan surtanah, slametan telung dino, slametan mitung dino sampai slametan ngewis-ngewisi atau peringatan saat kematian seseorang untuk terakhir kalinya.[19]
Sedangkan dinamisme masyarakat jawa beranggapan bahwa semua yg bergerak itu hidup dan mempunyai kekuatan gaib/ memiliki watak baik atau buruk, dan agar terhindar darii itu mereka menyembahnya dengan jalan mengadakn upacara disertai dengan sesaji, disamping itu merka percaya bahwa apa telah mereka bangun ialah hasil darii adaptasi  pergulatan dengan alam. Kekuatan alam disadarii merupakn penetuan darii kehidupan seluruhnya.[20]

b)      Masa Hindu dan Budha

Bukti-bukti tertua mengenai adanya negara-negara Hindu Jawa berupa prasasti-prasasti darii batu yg ditemukan dipantai utara jawa barat. Darii tulisannya dpat diketahui bahwa prasasti itu merupakn suatu deskripsi mengenai beberapa upacara yg dilakukan oleh raja untuk meresmikan  bangunan irigasi dan bangunan keagamaan abad ke-4, bukti yg lainnya bahwa banyak nama tempat dipulau Jawa  yg berasal darii bahasa sansekerta, yg membuktikan adanya kehendak untuk menciptakn kembali geografi india yg dianggap keramat itu.[21] Bukan hanya gunung-gunungnya, tetapi jga kerajaan-kerajaan yg namanya dipinjam darii Mahabarata.
Seperti halnya pda masa animisme dan dinamisme masyarakat Jawa pda masa kehidupannyapun ada upacara-upacara, yakni wiwit yg diwujudkan pda pemujaan dewi sri, upacara kurban kerbau, pagelaran wayg kulit dan jga penjamasan dan perawatan pusaka serta grebeg, dan sebagainya.

c)      Masa Islam

Masuknya Islam di Jawa sampai sekarang masih menimbulkan beberapa pendpat yg beragam. Bukti faktual ialah ditemukannya batu nisan dimkam Fatimah binti Maemun di Leran Gresik, bukti yg lain ialah adanya masjid yg menunjukkan adanya komunitas muslim yg pernah ada, dan jga adanya kaligrafi serta letak tata kota.[22]
Sulit untuk mengetahui tokoh yg pertama kali memperkenalkan islam di Jawa darii fakta tradisional, akn tetapi hal itu dpat ditelusuri melalui alur hubungan negeri Cempa-Majapahit. Ditemukannya beberapa mkam  disitus istana Majapahit, yg pda kesimpulan bahwa mkam tersebut ialah mkam orang-orang muslim dan menunjukkan tahun kejayaan majapahit.[23]
Diantara yg menyebarkan Islam di Jawa dikenal dengan Istilah walisanga, namun Istilah walisanga jga mengandung kontroversi. Disatu sisi ialah sebutan terhadap sembilan orang tokoh Islam di pulau Jawa yg menjadi penyebar islam yakni:
1)      Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan Islam di Jawa Timur.
2)      Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya.
3)      Sunan Bonang ialah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban).
4)      Sunan Drajat jga putra darii Sunan Ampel nama aslinya ialah Syarifuddin, menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu.
5)      Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri (Gresik).
6)      Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di daerah Kudus.
7)      Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan ajaran Islam di daerah Demak.
8)      Sunan Muria ialah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria.
9)      Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di Jawa Barat (Cirebon),
Namun di sisi lain jga dinyatakn sebagai lembaga kewalian yg memang jumlahnya sembilan orang. Walisanga ialah para wali yg datang darii delapan penjuru angin dan ditambah satu yg menjadi titik pusatnya. (Prof. Tjan sebagaimana dikutip Widji Saksono (1999:21-22)). Akn tetapi menurut Asnan Wahyudi dan Abu Khalid yg mengutip Kanz al-Ulum karya Ibnu Batutah dan diteruskan Syeikh Maulana Maghribi bahwa kata itu bermakna lembaga dakwah walisanga, yg mengalami empat kali periode perubahan.
Dan dikatakn pula kekuatan perdagangan dan hukum menunjukkan Kerala yg merupakn salah satu sumber Islamisasi Jawa, kesamaan arsitektur akn semakin mengokohkan posisi ini. Di Kerala, Jawa dan Lombok, masjid-masjid lama lebih banyak terbuat darii kayu darii pda batu bata, mempunyai atap bersusun tiga sama dengan kuil-kuil Hindu Asia Selatan dan Jain.
Islam yg berkembang di Indonesia awalnya ialah sufi yg salah satu cirinya ialah sifatnya yg toleran dan akomodatif terhadap kebuidayaan dan kepercayaan setempat, namun dlam hal ini akn dianggap membawa dampak negatif, yaitu sinkretisme dan pencampur adukan antara islam dan budaya asli, namun aspek positifnya, ajaran yg disinkretasikan tersebut telah menjadi jembatan yg memudahkan Jawa dlam menerima Islam.
Konsep masuknya unsur-unsur simbolisme dan konografi Hindu dan Budha kedlam Islam Jawa sama seperti Islam di timur tengah menyerap unsur-unsur tradisi Hellenistik dan Persia.[24]
Sebagai contoh upacara surtanah, nelung dino, mitung dino, matang puluh, nyatus, mendah, dan nyewu.  tidak dihilangkan tetapi dibiarkan berlanjut diwarnai dan diisi dengan unsur darii agama islam. Midodareni yg merupakn upacara yg dilangsungkan pda malam hari pernikahan, yg mana dsimaksudkan agar keluarga pengantin lebih dekat dengan bidadarii dan saat itu pengantin tidak boleh tidur sampai tengah malam mka saat islam datang diganti dengan pembacaan Al Barzanji, Kalimah Thoyyibah dan Tahlil.[25]
Dlam menghadapi tradisi dan kepercayaan lama, para penyiar islam menyeleksi kepercayaan mana yg dpat diakomodasikan, serta mana yg harus ditolak dan dihilangkan, mka ketika melihat wayg purwa (kulit), yg merupakn gubahan darii epik Ramayana dan Mahabarata, Yg mana antara Wayg dan budaya Jawa ibarat sekeping uang logam yg tak terpisahkan, dan bagi masyarakat Jawa wayg tidak hanya sekedar hiburan, tetapi sebagai media dakwah dan pendidikan serta mengandung makna lebih jauh dan mendlam karena mengungkapkan gambaran hidup semesta (wewaygani urip),mka para Wali mengadakn perubahan secara halus sehingga tanpa terasa nilai-nilai islam dpat masuk dlam karya adi luhung yg dikagumi banyak orang ini.[26]
Upacara-upacara dlam agama Hindu tampak memiliki kekuatan magis, yg diwujudkan dlam bentuk sesaji, sesaji merupakn warisan budaya Hindu sedangkan doa merupakn inti ibadah dlam Islam, keduanya menjadi tradisi dikalangan banyak islam Jawa.
Secara luwes Islam memberikan warna baru pda upacara-upacara itu dengan sebutan kenduren atau selametan, didlam upacara ini yg pokok ialah pembacaan doa.
Darii uraian diatas hubungan antara budaya Jawa dan Islam dlam aspek kepercayaan ritual, menunjukkan secara jelas, baik tersirat maupun tersurat, secara langsung maupun tidak langsung bahkan memang telah terjadi dlam kehidupan keberagaman orang Jawa suatu upaya untuk mengakomodasikan antara nilai-nilai Islam dengan Budaya Jawa pra-Islam.

C.  ISLAM DAN KEBUIDAYAAN MELAYU

a.      Sejarah Islam dlam kebuidayaan Melayu Indonesia

Melayu bukanlah suatu komunitas etnik atau suku bangsa, yg dlam hal ini masyarakat merupakn kumpulan etnik-etnik serumpun yg menganut agama yg sama dengan menggunakn bahasa yg sama. Etnik-etnik serumpun yg lain pda umumnya menempati suatu daerah tertentu, tetapi orang Melayu tidak, dimanapun berada bahasa dan agama mereka sama, yaitu bahasa melayu dan agama islam. Karena itu tidak mengherankan apabila ke-Melayuan identik dengan ke-susastraan Islam.[27]
Kepulauan melayu merupakn gerbang masuk terdepan bagi pelayaran ketimur. Karena itu tidak heran jika kerajaan-kerajaan islam pertama, seperti samudra pasai (1270-1514 M) dan Malaka (1400-1511 M) muncul di kebuidayaan melayu.
Abad ke-13 agama Islam mulai berkembang pesat dikepulauan Melayu, karena pda saat itu agama Hindu dan Budha mengalami kemunduran pda peranan politiknya. Yg ditandai dengan mundurnya kerajaan Sriwijaya dan Swarnabhumi, yg disebabkan oleh rongrongan dua kerajaan Hindu Jawa-Kediri dan Singasari, kemudian ditandai dengan krisis ekonomi yg membelitnya.[28]
Dlam agama Islam tidak mengenal sistem kasta dan kependetaan, oleh karena itu seluruh lapisan masyarakat dpat masuk dlam pendidikan dan intelektual, Islam jga sebagai agama kitab, belajar menulis dan membaca diwajibkan bagi pemeluknya. Islam jga mendorong terjadinya perubahan besar dlam jiwa bangsa melayu dan kebuidayaannya, dengan ilmu dan intelektual menyebabkan terjadinya proses perubahan sosial, ekonomi dan politik  secara mendasar.
Perubahan-perubahan tersebut seperti yg terjadi pda saat kerajaan Aceh Darussalam, Seperti dlam tatanan politik khususnya dlam kewarganegaraan Islam jga memberikan warna tersendiri dengan adanya sistem kerajaan, dengan dasar negara ialah Islam dan hukum diambil darii Al Qur’an, Al Hadits, Ijma’ Ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah dan Qias, gelar raja ialah Sultan Imam Adil dan pejabat dengan bernama Wazir. Adapun lembaga-lembaga dlam pemerintahannya seperti Majelis Mahkamah Rakyat, Balai Furdhoh, Balai Majelis Mahkamah. Seperti halnya pda sistem pemerintahan pda sistem ekonomi jga seperti  adanya Baitul Maal yg dipimpin oleh Wazir Derham dan membuat mata uang yakni Derham. Begitu pula pda kehidupan sosial dibentuklah lembaga sosial yakni Balai Baitul Musafir, Balai Baitul Fakir wal Miskin, Balai Silaturrahim dan Balai Darul Asyikin. Yg mana kesemua itu ialah  pengaruh.
Abad ke-16 dikepulauan Melayu dan pesisir Jawa tradisi intelektual Islam mulai terbentuk, kitab-kitab keagaamaan dan sastra Islam yg ditulis dengan produktifnya dengan bahasa Melayu dan Jawa Madya. Pengaruh tasawuf sangat dominan dlam pemikiran keagamaan dan penulisan karya sastra. Pokok-pokok yg dibahas dlam kitab-kitab melayu meliputi bidang fiqih, syari’ah, ushuluddin, kalam, falsafah, akhlak, tafsir qur’an, hadits dan lainnya.[29]
Abad ke-18, terjadi proses ortodoksi atau penekanan terhadap syari’ah. Beberapa tarikat sufi mengalami pembaruan dan tumbuh menjadi organisasi keagamaan pda aktivisme keduniaan.
Gerakn-gerakn keagamaan tumbuh menjadi gerakn kebangsaaan, seperti sarekat islam menekankan pda perjuangan politik dan jga Muhammadiyyah menekankan pda bidang sosial seperti pendidikan dan dakwah.
Penempatan pusat-pusat kajian dlam agama Islam yaitu istana, pesantren dan pasar. Istana sebagai pusat kekuasaan berperan dibidang politik dan penataan kehidupan sosial. Pesantren berperan dibidang pendidikan, sebagai pusat kegiatan tariqat sufi, pda saat itulah pesantren mampu membentuk jaringan kepemimpinan intelektual dan penyebaran agama dlam berbagai tingkatan dan antar daerah.[30]

b.    Nilai budaya masyarakat Melayu

Usaha dlam memajukan kebuidayaan Melayu berlangsung sangat baik. Berbagai kegiatan dlam usaha menghidupkan kebuidayaan Melayu sering dilakukan, mulai darii penerbitan buku, festival, seminar, sampai pemberian penghargaan dlam memajukan kebuidayaan Melayu. Semua itu jelas menunjukkan adanya kesadaran genersi Melayu akn kebesaran kebuidayaan mereka dan pentingnya menjaga kesinambungan kebuidayaan Melayu itu sendiri sekarang dan nanti, bahkan jga memajukannya sampai pda tingkat yg tertinggi.
unsur-unsur penting darii kebuidayaan Melayu[31] yaitu :
1)      Bahasa Melayu, sejak abad ke-7 bahasa Melayu sudah menjadi lingua-franca (bahasa penghubung) dlam dunia perdagangan, disamping itu bahasa Melayu jga menghasilkan corak atau watak dlam bahasa itu sendiri.
2)      Beradat istiadat Melayu, hal ini terlihat dlam pepatah Melayu mengatakn ”Biar mati anak jangan sampai mati adat”. Artinya kalau mati anak ributnya hanya satu kampung, kalau mati adat akn ribut atau gempar satu negara.
3)      Beragama Islam, Islam merupakn salah satu sumber isi sekaligus bentuk kebuidayaan Melayu dlam kehidupan sehari-hari baik dlam lingkungan keluarga maupun masyarakat. Kebuidayaan Melayu jga mengajarkan hal-hal yg dilarang maupun yg diperbolehkan, yg sesuai dengan ajaran Islam.

Etos kerja Melayu[32] meliputi :

a.      Hubungan manusia dengan Tuhan

Pda hakekatnya manusia hidup didunia ini mencari kebahagiaan dunia dan akhirat. Artinya manusia dlam melakukan kegiatan sehari-hari itu harus berpegang pda dua sisi kebutuhan yaitu: kebutuhan jasmani (kebutuhan raga manusia) dan kebutuhan rohani (kebutuhan manusia dlam mencapai ketenangan jiwa) melalui jalur agama. Kedua kebutuhan tersebut harus saling  melengkapi dan berjalan secara seimbang, sesuai dengan konsep atau sikap hidup masyarakat Melayu, berpegang teguh pda pepatah lama yg mengatakn ”Bekerjalah kamu seakn-akn hidup selamanya dan beribadahlah kamu seakn-akn mati esok”.
Dlam kebuidayaan Melayu diberikan tuntunan hidup yg baik, yakni dengan diterapkannya berbagai kegiatan pda perilaku masyarakat Melayu sehari-hari, misalnya cara berpakaian, cara bergaul, cara memperoleh dan mempergunakn harta benda dan lain sebagainya. Perilaku diatas tidak terlepas darii ajaran-ajaran agama.

b.      Hubungan manusia dengan lingkungan dan Masyarakat

Pda dasarnya manusia ialah makhluk sosial, artinya keberadaan mereka tidak dpat dilepaskan darii hubungan dengan manusia yg lain. Dlam kebuidayaan Melayu hubungan antar manusia terbagi menjadi dua yakni:
1)      Hubungan Vertikal, seseorang yg mengutamakn hubungan ini lebih bersifat individualitis, menilai tinggi anggapan bahwa manusia itu harus berdiri sendiri, namun dlam penyampaiannya tetap memerlukan bantuan orang lain.
2)      Hubungan Horizontal antar manusia dengan sesamanya, seseorang yg mengutamakn hubungan ini akn menjalin hubungan yg baik kepda sesamanya.
Nilai budaya tradisional Melayu secara umum menggambarkan hubungan manusia dengan sesamanya lebih bersifat koleteral dan demokratis. Yakni sikap yg selalu dibina dan dipelihara ialah sikap yg mengutamakn persaudaraan dan rasa kekeluargaan. Salah satu sarana yg dpat memperluas dan mempererat jaringan kekeluargaan pda masyarakat Melayu ialah perkawinan.

c.       Hubungan manusia pda lingkungan alam

Pda umumnya dlam kehidupan masyarakat Melayu, mereka membedakn wujud alam menjadi 2 yaitu :
1)   Alam gaib, pda dasarnya pemikiran orang Melayu mengenai alam gaib merupakn sisa-sisa kepercayaan lama sebelum orang Melayu memeluk Islam yakni animisme dan dinamisme. Pemikiran tentang adanya alam gaib membuat kepercayaan adanya kekuasaan diluar kekuasaan manusia, seperti adanya gunung, laut, hutan dan sebagainya. Untuk menjembatani hubungan manusia dengan alam, masyarakat meminta bantuan kepda pawang, bomo atau dukun, yg mana dipercayai memiliki mantera-mantera tertentu.
2)   Alam Nyata yakni alam semesta ciptaan Tuhan, yg keberadaannya bisa dilihat dan dirasakn oleh manusia.

D. PERSENTUHAN ISLAM DENGAN KEBUIDAYAAN MELAYU DAN JAWA.

Dlam islam terdpat ajaran Tauhid, yaitu suatu konsep sentral yg berisi ajaran bahwa Tuhan ialah pusat darii segala sesuatu, dan manusia harus mengabdikan diri sepenuhnya kepda-Nya. Konsep ini dijelaskan dlam beberapa literatur dengan penjelasan yg berbeda. Dipesantren-pesantren tradisional salafi, lâ ilâha illa Allâh sering ditafsirkan sebagai berikut: pertama, lâ maujûd illa Allâh (tidak ada yg “wujud” kecuali Allah); kedua, lâ majbûd illa Allâh (tidak ada yg disembah kecuali Allah); ketiga lâ maqshûd illa Allâh (tidak ada yg dimaksud kecuali Allah); dan keempat lâ mathlûd illa Allâh (tidak ada yg diminta kecuali Allah).
Implikasi darii doktrin itu ialah tujuan darii kehidupan manusia hanyalah keridhoan-Nya. Doktrin hidup harus diorientasikan untuk pengabdian kepda Allah inilah yg merupakn kunci suatu ajaran islam. Dengan demikian, konsep mengenai kehidupan dlam islam ialah konsep teosentris, yaitu bahwa seluruh kehidupan berpusat pda Tuhan. (Kuntowijoyo, 1991 : 229).
Doktrin Tauhid mempunyai arus balik kepda manusia. Dlam banyak ayat Al-Qurán kita temukan bahwa iman, yaitu keyakinan religius yg berakar pda pandangan teosentris, selalu dikaitkan dengan amal, yaitu perbuatan atau tindakn manusia. Dlam surat Al-Áshar [103] ayat 2-3 dikatakn bahwa manusia benar-benar dlam kerugian kecuali orang-orang yg beriman dan beramal saleh. Oleh karena itu, antara iman (yg teosentris) dan amal saleh (yg antroposentris) tidak dpat dipisahkan. Ini berarti bahwa iman (Tauhid) harus diaktualisasikan menjadi aksi kemanusiaan. Atas dasar itulah Kuntowijoyo (1991 : 229) berpendpat bahwa konsep teosentrisme dlam islam ternyata bersifat humanisnik. Artinya, Islam mengajarkan bahwa manusia harus memusatkan diri kepda Tuhan tetapi tujuannya untuk kepentingan manusia itu sendiri. Humanisme-teosentris inilah, yg merupakn nilai inti darii seluruh ajaran islam.[33] Darii tema sentral tersebut muncul sistem simbol, sistem yg terbentuk karena proses dialektik antara nilai dan kebuidayaan.
Indonesia pernah mengalami dualisme kebuidayaan, yaitu antara kebuidayaan keraton dan kebuidayaan populer.[34] Dua jenis kebuidayaan ini sering dikategorikan sebagai kebuidayaan tradisional. Pda bagian berikut kita akn melihat pengaruh islam terhadap kedua bentuk kebuidayaan tradisional itu.
Kebuidayaan istana atau kebuidayaan keraton dikembangkan oleh abdi dalem atau pegawai istana, mulai darii pujangga sampai arsitek. Raja berkepentingan menciptakn simbol-simbol kebuidayaan tertentu untuk melestarikan kekuasaannya. Biasanya bentuk-bentuk kebuidayaan yg diciptakn  untuk kepentingan itu berupa mitos. Dlam sastra kerajaaan, mitos-mitos itu dihimpun dlam babad, hikayat, dan lontara. Hampir semua mitos dlam sastra semacam ini berisi tentang kesaktian raja, kesucian, atau kualitas suprainsani raja. Efek yg hendak dicapai darii penciptaan mitos-mitos tersebut ialah agar rakyat loyal terhadap kekuasaan raja.
Meskipun dlam keraton terdpat pengaruh hinduisme, tetapi islam pun cukup berpengaruh, misalnya, klaim raja di Jawa untuk melegitimasikan kekuasaannya. Disatu sisi ia menentukan silsilah yg menyatakn bahwa dirinya keturunan para dewa (hinduisme), tetapi disisi lain, ia jga mengaku sebagai keturunan para nabi (islam).[35]
Konsep kekuasaan jawa sungguh berbeda dengan konsep kekuasaan islam. Dlam kebuidayaan jawa dikenal konsep raja Absolut, islam justru mengutamakn konsep raja adil, almalik al ádil. Akn tetapi suatu hal yg perlu dicatat ialah kebuidayaan keraton di luar jawa memiliki konsep yg lebih dekat dengan gagasan islam. Di Aceh, misalnya raja memiliki sebutan al-Malik al-‘adil. Ini berarti kebuidayaan keraton di jawa lebih mengutamakn kekuasaan, sedangkan kebuidayaan keraton di luar jawa lebih mengutamakn keadilan. Perbedaan lain antara kebuidayaan jawa dan islam ialah dlam kebuidayaan jawa, ketertiban masyarakat didasarkan atas kemutlakn kekuasaan raja, sedangkan dlam islam, ketertiban sosial akn terjamin jika peraturan-peraturan syariah ditegakkan. Dengan kata lain, kebuidayaan keraton di jawa mementingkan kemutlakn kekuasaan raja untuk tertib sosial, sedangkan islam mementingkan hukum yg adil untuk tegaknya ketertiban sosial. Karena terjadi perbedaan yg begitu tajam, yg sering terjadi ialah ketegangan antara islam dengan kebuidayaan keraton jawa.[36]

E. INOVASI DAN PENGARUH ISLAM DLAM SATRA, SENI, DAN ARSITEK

Ekspresi estetik islam di Indonesia dpat dilihat dlam dua bidang, yaitu sastra dan arsitek. Kecenderungan sastra sufistik (transendetal) telah muncul di Indonesia sekitar tahun 1970. Kemunculan sastra berkecenderungan sufistik ditandai munculnya karya-karya yg ditulis pda tahun tujuh puluhan, diantaranya Godlob dan alam makrifah kumpulan cerpen Danarto; Khotbah Di Atas Bukit karya Kuntowijoyo, dan Arafah karya M. Fudoli Zaini. Disusun karya-karya berikutnya seperti sanu Infinitina Kembar (1985) karya Motinggo Busye (alm.). (Abdul Hadi WM dlam Yustiono dkk. (Dewan Redaksi), 1993: 74).
Di antara karya Kuntowijoyo yg berkecenderungan sufistik selain ber khotbah Di Atas Bukit, ialah sepotong kayu untuk Tuhan, Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, dan Burung Kecil Bersarang Diatas Pohon. Dlam karyanya yg berjudul Sepotong Kayu Untuk Tuhan Kuntowijoyo menceritakn kecintaan seseorang kepda Tuhan tanpa pamrih. Alkisah seorang lelaki tua yg tinggal disebuah dusun terpencil, ditinggalkan istrinya yg sedang menjenguk cucunya. Istrinya yg cerewet itu selalu menyebutnya sang pemalas. Ketika tinggal sendirian, semangatnya bangkit, ia tahu tidak jauh darii tempatnya sedang dibangun sebuah surau dipinggir sungai. Gagasan untuk membantu membangun suraupun tumbuh. Ia diam-diam menebang kayu untuk membantu pembangunan surau itu. Berbeda dengan yg lain, ia ingin menyumbangkan secara rahasia. Mka dihanyuykannya kayu-kayu itu kesungai. Ia berharap kayu itu berhenti tidak jauhdarii surau yg sedang dibangun. Namun setelah ia menghanyutkan kayu tengah malam banjir datang, kayu-kayu itu berbawa banjir; tidak berhenti di dekat surau seperti yg diharapkannya. Meskipun dmikian dengan sentuhan iman, penyumbang tua itu berkata, “Tidak ada yg hilang, sampai kepda-Mu-kan Tuhan?”.[37]
Ekspresi estetik islam lainnya tergambarkan dlam arsitek masjid-masjid tua. Citra masjid tua ialah contoh darii interaksi agama dengan tradisi arsitek pra-islam di Indonesia dengan instruksi kayu dan atap tumpang terbentuk limas. Umpamanya masjid Demak, masjid Kudus, Masjid Cirebon, dan Masjid Banten sebagai cikal-bakal masjid di Jawa. Sedangkan di Aceh dan Medan corak masjid tua memperlihatkan sistem atap kubah. Masjid-masjid tua di Aceh dan Medan merupakn penerus darii gaya masjid Indo-Parsi dengan ekspresi struktur bangunan yg berbeda dengan corak masjid atap tumpang.[38]
Seni kaligrafi menduduki tempat terhormat. Waygpun dijadikan sarana oleh para wali dan raja untuk menyebarkan islam. Dilihat darii segi bentuknya, wayg berkembang setelah dikembangkan oleh para wali dengan adanya wayg beber, wayg purwa, wayg klitik, dan wayg golek.[39]
Nurcholish Madjid menegaskan bahwa budaya dpat dibedakn tetapi tidak dpat dipisahkan . cara berfikir yg benar dlam kaitannya dengan masalah tradisi dan inovasi, menghendaki kemampuan untyk membedakn antara keduanya. Akn tetapi, kebanyakn orang sulit melakukannya. Mka lahirlah kekacauan dlam menentukan hierarki nilai yaitu penentuan mana yg lebih tinggi dan mana yg lebih rendah, atau penentuan mana yg absolut dan mana yg relatif.

F. ISLAM DAN ADAT MELAYU DI SULAWESI SELATAN DAN ACEH

Pengaruh Islam dlam budaya sulawesi selatan antara lain tergambarkan dlam sulapa eppa’e (pepatah orang tua kepda anaknya yg hendak merantau. Bunyi sulapa eppa’e ialah sebagai berikut)

Abu Bakkareng tettong riolo
Ummareng tettong di atau
Bagenda Ali tettong ri abeo
Usmang tettong ri munri
Kun fayakun
Barakka la illaha illa’llah
Muhammadaun rasulullah

Abu Bakar berdiri didepan
Umar berdiri di sebelah kanan
Baginda Ali berdiri di sebelah kiri
Usman berdiri di belakng

Halide (Yustiono dkk., (dewan redaksi), 1993: 257-8) menjelaskan bahwa sulapa eppa’e mengandung ajaran kepemimpinan seorang emimpib akn sukses apabila memiliki watak dan sikap jujur, bijaksana, sabar, berani, adil, ilmuan, dan hartawan. Sahabat yg termasuk al khulafah al-rasyidun di atas merupakn gambaran darii sifat-sifat itu. Abu Bakar ialah simbol kejujuran, kebijaksanaan, dan kesabaran: Umar ialah simbol keberanian dan keadilan: Ali bin Abi Thalib ialah simbol ilmuan: dan Usman bin Affan ialah simbol hartawan.
Salah satu yg menarik darii artikel yg ditulis oleh Halide ialah peranan kitab barzanji. Kitab gubahan Syekh Ja’far al Barzanji ini dinilai berperan penting dlam kehidupan masyarakat sulawesi selatan. Ia selalu membaca dlam upacara perkawina, memasuki rumah baru, melahirkan anak, khitanan, khataman Al-Qur’an, dan terutama dlam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Begitu besarnya cinta masyarakat kepda Nabi Muhammad SAW melalui maulidan dan pembacaan kitab Barzanji, Halide memandang bahwa kecintaan mereka berlebihan. Pendpat itu berdasarkan pda ungkapan kelong (nyanyian) Maudu Lompoa antara lain berbunyi sebagai berikut.

Manna tena kussambayg
Assala maudu mama
Antama tonja
Ri suruga pipanyamang
Kaddeji kunipapile
Assambayg na maudu
Kualleangi
A’maudu rinabbiya
Balukangi tedongnu
Pappi taggalang tananu
Naniya sallang
Nupa ‘maudukang ri nabbiya

Walaupun saya tidak sembahyg
Asalkan saya bermaulid
Saya akn masuk jga
Ke dlam syurga yg nikmat
Andaikata aku disuruh memilih
Bersembahyg atau bermaulid
Lebih kusukai bermaulid para nabi
Juallah kerbaumu
Gadaikan sawahmu
Supaya ada nanti
Dipakai bermaulid pda Nabi
(Halide dlam Yustiono dkk., (dewan redaksi) 1993: 262).








PENUTUP

Di dlam perjalanannya, suatu kebuidayaan memang lazim mengalami perubahan dan perkembangan. Oleh karena itu, corak kebuidayaan di suatu daerah berbeda-beda darii jaman ke jaman. Perubahan itu terjadi karena ada kontak dengan kebuidayaan lain, atau dengan kata lain karena ada kekuatan darii luar. Hubungan antara para pendukung dua kebuidayaan yg berbeda dlam waktu yg lama mengakibatkan terjadinya akulturasi, yg mencerminkan adanya pihak pemberi dan penerima.
Tidak dipungkiri bahwa selama itu tentu terjadi ketegangan serta konflik. Akn tetapi hal tersebut ialah bagian darii proses menuju akulturasi. Faktor pendukung terjadinya akulturasi ialah kesetaraan serta kelenturan kebuidayaan pemberi dan penerima, dlam hal ini kebuidayaan Islam dan pra-Islam.
Setelah mengetahui bahwa terjadi akulturasi dan perubahan sehingga terbentuk kebuidayaan Indonesia-Islam, mka perlu difikirkan bagaimana pengembangannya pda masa kini dan masa mendatang. Dlam hal budaya materi memang harus dilakukan pengembangan-pengembangan sesuai dengan kemajuan teknologi, supaya tidak terjadi stagnasi, tetapi tanpa meninggalkan kearifan-kearifan yg sudah dihasilkan.
Hasil akulturasi menunjukkan bahwa Islam memperkaya kebuidayaan yg sudah ada dengan menunjukkan kesinambungan, namun tetap dengan ciri-ciri tersendiri. Hasil akulturasi jga memperlihatkan adanya mata rantai-mata rantai dlam perkembangan kebuidayaan Indonesia. Supaya mata rantai-mata rantai tersebut tetap kelihatan nyata, harus dilakukan pengelolaan yg terintegrasi atas warisan-warisan budaya Indonesia. Hal ini perlu dikemukakn dan ditekankan, mengingat banyak warisan budaya yg terancam keberadaannya, terutama karena kurangnya kepedulian dan pengertian masyarakat Indonesia sendiri.


DAFTAR PUSTAKA




[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta:Amzah, 2010), hlm.48.
[2] Ibid., hlm 52.
[3] Ibid., hlm 59.
[4] Ibid., hlm. 53.
[5] Ibid., hlm. 55.
[6] Ibid., hlm. 72.
[7] Ibid., hlm. 74.
[8] Eri Rosatria, Sejarah Kebuidayaan Islam, (Jakarta:Dirjen Pendidikan Islam Depag RI, 2009), hlm. 39.
[9] Ibid., hlm. 40.
[10] Ibid., hlm. 42.
[11] Ibid., hlm. 44.
[12] Ibid., hlm. 47.
[13] Ibid., hlm. 50.
[14] Inajati, Adrisijanti Romli, 1991, Mkam-Mkam Kesultanan dan Para Wali Penyebar Islam di Pulau Jawa, (Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, 1991), hlm.29.
[15] Darori Amin, Islam & Kebuidayaan Jawa, (Yogyakarta: Gamma Media, 2000), hlm. 28-29.
[16] Ibid., hlm.32.
[17] Ibid., hlm.34.
[18] Ibid., hlm. 35.
[19] Ibid., hlm. 36.
[20] Ibid., hlm. 37.
[21] Ibid., hlm.38.
[22] Ibid., hlm. 42.
[23] Fatah Syukur, Sejarah Peradaban Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2009), hal. 92.
[24] Ibid., hlm. 102.
[25] Opcit., hlm. 72.
[26] Ibid., hlm. 83.
[27] Nata Abuddin, Metodologi Studi Islam, (Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2006), hlm.49
[28] Harsono,T. Dibyo, Kebudaya Melayu, (Jakarta; Gama Media, 2000), hlm. 28
[29] Ibid., hlm. 32.
[30] Ibid., hlm. 35.
[31] Ibid., hlm. 42.
[32] Ibid., hlm. 44.
[33] Hasjmy, Ahmad, Sejarah Kebuidayaan Islam di Indonesia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990) , hlm. 64.
[34] Ibid., hlm. 72.
[35] Ibid., hlm. 75.
[36] Ibid., hlm. 82.
[37] Ibid., hlm.
[38] Ibid., hlm.
[39] Ibid., hlm.

Visitor