Makalah Definisi, Tujuan, Prinsip & Strategi ( Pengelolaan Kelas )




Makalah Pengertian Pengelolan kelas? Manajemen kelas? Pendekatan Komutikatif? Proses belajar mengajar? Keterampilan mengelola kelas? Tujuan pengelolan kelas? Ciri- ciri pengelolan kelas? Strategi motivasi kelas?


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakng

Masalah pokok yg dihadaapi guru, baik pemula maupun yg sudah berpengalaman ialah pengelolaan kellas dan interaksi yg efektif. Aspek yg paling sering didiskusikan oleh penulis profesional dan oleh para pengajar ialah juga pengelolaan kellas. Mengapa demikian? Jawabnya sederhana. Pengelolaan kellas merupakn masalah tingkah laku yg kompleks, dan guru menggunaknnya untk meciptakn dan mempertahankan kondisi kellas sedemikian rupa sehingga anak didik dpat mencapai tujuan pengajaran efisien dan menggunakn mereka dpat belajar. Dlam pengelolahan kellas di butuhkan interaksi atau komunikasi yg efektif, karena komunikasi mempengaruhi dlam proses belajar. Belajar merupakn proses berubahan perilaku di dlam dunia pendidikan. Belajar itu sendiri berarati proses perubahan perilaku yg bersifat relatif permanen, dan tidak disebabkan oleh adaanya proses kedewasaan (Hilgar dan Brown, 1981), juga perubahan yg disengaja ke arah yg berkualitas. Perubahan yg terjadi karena tidak disengaja seperti misalnya patah tulang, menjadi gila dan sebagainya itu bukan proses belajar. Bigge (1982) juga mengatakn bahwa “belajar ialah perubahan yg bersifat abadi padaa individu yg bukan disebabkan oleh warisan genetika”. Dngan demikian pengelolaan kellas yg efektif ialah syarat bagi pengajaran yg efektif. Tugas utama dan paling sulit bagi guru ialah pengelolaan kellas, lebih-lebih tidak adaa satu pun pendekatan yg dikatakn paling baik. Dlam pengelolaan kellas dibutukan strategi dan komunikasi yg efektif untk mengefektifkan proses belajar dan pembelajaran.
Dngan masalah yg bukan rahasia umum lagi, maka kami menarik kesimpulan untk lebih membuka lagi mengenai judul yg akn kami bahas yaitu “Pengelolaan Kellas Ditinjau darii Interaksi Komunikatif”  yg mana di dlamnya terdpat beberapa masalah-masalah pengelolaan kellas, untk lebih jelasnya akn kami paparkan di dlam Pembahasan yaitu padaa Bab II.

B.     Rumusan Masalah

Dlam penulisan makalah ini terdpat beberapa rumusan masalah yg akn kami bahas yaitu:
1.      Pengertian Pengelolaan kellas
2.      Tujuan Pengelolaan Kellas
3.      Prinsip-prinsip Pengelolaan Kellas
4.      Strategi dan Prosedur Pengelolaan Kellas
5.      Masalah pengelolaan kellas
6.      Definisi pendekatan komunikatif (Interaksi)
7.      Ciri-ciri pendekatan komunikatif
8.      Definisi Motivasi
9.       Strategi proses dlam Motivasi Belajar dan Pembelajaran

C.    Tujuan Penulisan
Adaapun tujuan darii penulisan makalah ini ialah untk menambah wawasan penulis dan pembaca dlam bidang pembelajaran khususnya yaitu mengenai pengelolaan kellas dngan interaksi komunikatif siswa. Adaapun rincian yg ingin di capai dlam pembahasan makalah penulis ialah:
1.      Agar dpat memahami pengertian Pengelolaan kellas
2.      Agar dpat mengetahui Tujuan darii Pengelolaan Kellas
3.      Agar mengetahui Prinsip-prinsip dlam pengelolaan Kellas
4.      Agar dpat mengetahui Masalah yg timbul dlam pengelolaan kellas
5.      Agar dpat mengetahui Definisi darii padaa pendekatan komunikatif
6.      Agar mengetahui dan memahami Ciri-ciri pendekatan komunikatif
7.      Agar mengetahui dan memahami definisi dan Strategi  Motivasi dlam Proses Belajar dan Pembelajaran

D.    Manfaat Penulisan

Adaapun manfaat darii penulisan makalah yg kami susun ialah adaa beberapa poin yg dpat di ambil sebagai bahan pembelajaran yg bermanfaat bagi kami padaa khususnya dan kepadaa pembaca padaa umumnya.
Adaapun manfaat yg bisa di ambil darii penulisan makalah ini ialah:
1.      Dpat memahami pengertian Pengelolaan kellas
2.      Dpat mengetahui Tujuan darii Pengelolaan Kellas
3.      Mengetahui Prinsip-prinsip dlam pengelolaan Kellas
4.      Dpat mengetahui Masalah yg timbul dlam pengelolaan kellas
5.      Dpat mengetahui Definisi darii padaa pendekatan komunikatif
6.      Mengetahui dan memahami Ciri-ciri pendekatan komunikatif
7.      Mengetahui Strategi Motivasi dlam Belajar dan Pembelajaran

 
BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN PENGELOLAAN KELLAS
            Pengelolaan kellas merupakn masalah tingkah laku yg kompleks, dan guru menggunaknnya untk menciptakn dan mempertahankan kondisi kellas sedemikian rupa sehingga anak didik dpat mencapai tujuan pengajaran secara efisien dan memungkainkan mereka dpat belajar. Dngan demikian pengelolaan kellas yg efektif ialah syarat bagi pengajaran yg efektif.
            Pengelolaan kellas ialah keterampilan guru untk menciptakn dan memelihara kondisi belajar yg optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dlam proses belajar mengajar. Yg termasuk ke dlam hal ini misalnya  ialah penghentian tingkah laku anak didik yg menyelewengkan perhatian kellas, pemberian hadiah bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa atau penetapan norma kelompok yg produktif.
            Suatu kondisi belajar yg optimal dpat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dlam suasana yg menyenangkan untk mencapai tujuan pengajaran.Juga hubungan interpresonal yg baik antara guru dngan anak didik dan antara anak didik dngan anak didik, merupakn syarat keberhasilan pengelolaan kellas. Pengelolaan kellas yg efektif merupakn prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yg efektif.
            Setiap guru masuk ke dlam kellas, maka padaa saat itu pula ia menghadaapi dua masalah pokok, yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen. Masalah pengajaran ialah usaha membantu anak didik dlam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung, misalnya membuat satuan pelajaran, penyajian informasi, mengajukan pertanyaan, evaluasi dan masih banyak lagi. Sedangkan masalah manajemen ialah usaha untk menciptakn dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar dpat berlangsung secara efektif dan efisien. Misalnya, memberi penguatan, mengembangkan hubungan guru-anak didik, membuat aturan kelompok yg produktif.
            Dngan demikian pengelolaan kellas ialah salah satu tugas guru yg tidak pernah ditinggalkan. Guru selalu mengelola kellas ketika dia melaksanakn tugasnya. Pengelolaan dimaksudkan untk menciptakn lingkungan belajar yg kondusif bagi anak didik, sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien ketika kellas terganggu, guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar.

Pengelolaan kellas terdiri darii dua kata, yaitu pengelolaan dan kellas. Pengelolaan itu sendiri akar katanya ialah “ kelola “, ditambah awal “ pe “ dan akhiran “ an “. Istilah lain darii kata pengelolaan ialah “ manajemen “. Manajemen ialah kata yg aslinya darii bahasa inggris, yaitu “ management “, yg berarti ketatalaksanaan, tata pemimpin, pengelolaan. Manajemen atau pengelolaan dlam pengertian umum menurut Suharsimi Arikunto ( 1990; 2 ) ialah pengadministrasian, pengturan atau penataan suatu kegiatan.
            Sedangkan kellas menurut Oemar Hamlik ( 1987; 311 ), ialah suatu kelompok orang yg melakukan kegiatan belajar bersama, yg mendpat pengajaran darii guru.pengertian ini jelas meninjaunya darii segi anak didik,karena dalm pengertian tersebut adaa frase “ kelompok orang “. Pendpat ini sejalan dngan pendpat Suharsimi Arikunto yg juga mengemukakn pengertian kellas darii segi anak didik. Menurut Suharsimi Arikunto (1988;17) di dlam didaktik terkandung suatu pengertian umum mengenai kellas, yaitu sekelompok siswa yg padaa waktu yg sama menerima pelajaran yg sama darii guru yg sama.
            Hadaari Nawawi memandang kellas darii dua sudut, yaitu:
1.      Kellas dlam arti sempit yakni, ruangan yg dibatasi oleh dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untk mengikuti proses belajar mengajar.
2.      Kellas dlam arti luas ialah satu masyarakat kecil yg merupakn bagian darii masyarakat sekolah, yg sebagai satu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yg secara dinamis menyelenggarakn kegiatan-kegiatan belajar mengajar yg kreatif untk mencapai suatu tujuan.
            Darii uraian tersebut dpatlah dipahami bahwa pengelolaan kellas ialah suatu usaha yg dngan sengaja dilakukan guna mencapai tujuan pengajaran. Kesimplan yg sangat sederhana ialah bahwa pengelolaan kellas merupakn kegiatan pengaturan kellas untk kepentingan pengajaran. Pengertian lain darii pengertian pengelolaan kellas ialah ditinjau darii paham lama yaitu mempertahankan ketertiban kellas. Sedangkan menurut pengertian baru seperti dikemukakn oleh Made Pidarta dngan mengutip pendpat Lois V. Jahnson dan Mary A. Bany, bahwa pengelolaan kellas ialah proses seleksi dan penggunaan alat–alat yg tepat terhadaap problema dan situasi kellas. Dlam hal ini guru bertugas menciptakn, mempertahankan dan memelihara sistem/organisasi kellas. Sehingga individu siswa dpat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya dan energinya padaa tugas-tugas individual.
B.     TUJUAN PENGELOLAAN KELLAS
Menurut Sudirman N, dlam (dkk. 1991; 310), pengelolaan kellas ialah upaya mendayagunakn potensi kellas. Ditambahkan lagi oleh Hadaari Nawawi (1989;115), dngan mengatakn bahwa kegiatan manajemen atau pengelolaan kellas dpat diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kellas dlam mendayagunakn potensi kellas berupa pemberian kesempatan yg seluas-luasnya padaa setiap personal untk melakukan kegiatan-kegiatan yg kreatif dan terarah sehingga waktu dan dana yg tersedia dpat dimanfaatkan secara efisien untk melakukan kegiatan-kegiatan kellas yg berkaitan dngan kurikulum dan perkembangan murid.
Tujuan pengelolaan kellas padaa hakikatnya telah terkandung dlam tujuan pendidikan. Secara umum pengelolaan kellas ialah penyedian fasilitas bagi bermacam macam kegiatan belajar siswa dlam lingkungan sosial, emosional, dlam intelektual dlam kellas. Fasilitas yg demikian itu memungkinkan siwa belajar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yg memberikan kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi padaa siswa. (Sudirman N, 1991, 311)
Suharsimi Arikunto (1988 : 68) berpendpat bahwa tujuan pengelolaan kellas ialah agar setiap anak di kellas dpat bekerja dngan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.
Terkait darii penjelasan diatas dlam hal pengelolaan kellas dpat pula  ditinjau darii segi interaksi komunikatif. Artinya seorang guru dituntut mampu mengatur segala kondisi apapun yg terjadi didlam kellas saat pebelajaran berlangsung agar terciptanya komunikasi dua arah yaitu antara guru dngan murid, murid dngan guru sehingga proses belajar-mengajar dpat berlangsung dngan baik. Hal ini bertujuan untk memudahkan sekaligus meringankan tugas guru atau wali kellas.

C.    PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN KELLAS
Dlam rangka memperkecil masalah gangguan dlam kellas, prinsip-prinsip pengelolaan kellas dpat dipergunakn. Maka ialah penting bagi guru untk mengetahui dan menguasai prinsi-prinsip pengelolaan kellas, yg di uraikan berikut ini :
1.      Hangat dan Antusias
Hangat dan antusias diperlukan dlam proses belajar mengajar.guru yg hangat dan akrab engan anak didik selalu menunjukkan antusias padaa tugasnya atau padaa aktivitasnya akn berhasil dlam mengimplementasikan pengelolaan kellas.

2.            Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakn, cara kerja atau bahan-bahan yg menantang akn meningkatkan gairah anak didik untk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yg menyimpang.
3.            Bervariasi
Penggunaan alat atau media atau alat bantu,gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik mengurangi munculnya gangguan, kevariasian dlam penggunaan apa yg dsi sebut diatas merupakn kunci untk tercapainya pengelolaan kellas yg efektif.
4.          Keluesan
Keluesan tingkah laku guru untk mengubah strategi mengajarnya dpat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta menciptakn iklim belajar mengajar yg efektif..
5.          Penekanan padaa hal-hal yg positif
Padaa dasarnya, dlam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan padaa hal-hal yg positif, dan menghindarii pemusatan perhatian anak didik padaa hal-hal yg negatif. Penekanan tersebut dpat dilakukan dngan pemberian penguatan yg positif, dan kesadaaran guru untk menghindarii kesalahan Yg dpat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
6.          Penanaman disiplin diri
    Tujuan akhir darii pengelolaan kellas ialah anak didik dpat mengembangkan disiplin diri                                                                        sendiri. Karena itu,guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untk melaksanakn disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladaan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dlam segala hal bila ingin anak   didiknya iku disiplin berdisiplin dlam segala hal.

D.    STRATEGI PENGELOLAAN KELLAS
Peningkatan mutu pendidikan akn tercapai apabila proses belajar mengajar yg diselenggarakn di kellas benar-benar efektif dan berguna untk mencapai kemampuan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yg diharapkan. Karena padaa dasarnya proses belajar mengajar merupakn inti darii proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakn salah satu faktor yg penting dlam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dlam kellas. Oleh karena itu guru dituntut untk meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yg kompeten akn lebih mampu menciptakn lingkungan belajar yg efektif dan akn lebih mampu mengelola kellasnya sehingga hasil belajar siswa beradaa padaa tingkat yg optimal. Adaam dan Decey (dlam Usman, 2003) mengemukakn peranan guru dlam proses belajar mengajar ialah sebagai berikut: (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kellas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai evaluator. Sebagai tenaga profesional, seorang guru dituntut mampu mengelola kellas yaitu menciptakn dan mempertahankan kondisi belajar yg optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran. Menurut Amatembun (dlam Supriyanto, 1991:22) “Pengelolaan kellas ialah upaya yg dilakukan oleh guru dlam menciptakn dan mempertahankan serta mengembang tumbuhkan motivasi belajar untk mencapai tujuan yg telah di tetapkan”. Sedangkan menurut Usman (2003:97) “Pengelolaan kellas yg efektif merupakn prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yg efektif”. Pengelolaan dipandang sebagai salah satu aspek penyelenggaraan sistem pembelajaran yg mendasar, di antara sekian macam tugas guru di dlamkellas. Berdasarkan uraian di atas, maka fungsi pengelolaan kellas sangat mendasar sekali karena kegiatan guru dlam mengelola kellas meliputi kegiatan mengelola tingkah laku siswa dlam kellas, menciptakn iklim sosio emosional dan mengelola proses kelompok, sehingga keberhasilan guru dlam menciptakn kondisi yg memungkinkan, indikatornya proses belajar mengajar berlangsung secara efektif.

Ø  PERAN GURU DLAM STRATEGI PENGELOLAAN KELLAS
Padaa dasarnya proses belajar mengajar merupakn inti darii proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakn salah satu faktor yg penting dlam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dlam kellas. Oleh karena itu guru dituntut untk meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yg kompeten akn lebih mampu menciptakn lingkungan belajar yg efektif dan akn lebih mampu mengelola kellasnya sehingga hasil belajar siswa beradaa padaa tingkat yg optimal. Adaam dan Decey (dlam Usman, 2003) mengemukakn peranan guru dlam proses belajar mengajar ialah sebagai berikut: (a) guru sebagai demonstrator, (b) guru sebagai pengelola kellas, (c) guru sebagai mediator dan fasilitator dan (d) guru sebagai valuator.
a)   Guru Sebagai Demonstrator
Guru menjadi sosok yg ideal bagi siswanya hal ini dibuktikan apabila adaa orang tua yg memberikan argumen yg berbeda dngan gurunya maka siswa tersebut akn menyalahkan argumen si orangtua dan membenarkan seorang guru. Guru ialah acuan bagi peserta didiknya oleh karena itu segala tingkah laku yg dilakukannya sebagian besar akn ditiru oleh siswanya. Guru sebagai demonstrator dpat diasumsikan guru sebagai tauladaan bagi siswanya dan contoh bagi peserta didik.
b)   Guru Sebagai Evaluator
Evaluator atau menilai sangat penting ialah rangkaian pembelajaran karena setiap pembelajaran padaa akhirnya ialah nilai yg dilihat baik kuantitatif maupun kualitatif. Rangkaian evaluasi meliputi persiapan, pelaksanaan, evaluasi. Tingkat pemikiran adaa beberapa tingkatan antara lain : Mengetahui, Mengerti, Mengaplikasikan, Analisis, Sintesis (analisis dlam berbagai    sudut) dan  Evaluasi.
Manfaat evaluasi bisa digunakn sebagai umpan balik untk siswa sehingga hasil nilai ini bukan hanya suatu point saja melainkan menjadi solusi untk mencari kelemahan di pembelajaran yg sudah diajarkan. Hal -hal yg paling penting dlam melaksanakn evaluasi. Harus dilakukan oleh semua aspek baik efektif, kognitif dan psikomotorik. Evaluasi dilakukan secara terus menerus dngan pola hasil evaluasi dan proses evaluasi. Evalusi dilakuakn dngan berbagai proses instrument harus terbuka
c) Guru Sebagai Pengelola Kellas
Manager memenage kellas, tanpa kemampuan ini maka performence dan karisma guru akn menurun, bahkan kegiatan pembeajaran bisa kacau tanpa tujuan. Guru Sebagai Pengelola Kellas, agar anak didik betah tinggal di kellas dngan motivasi yg tinggi untk senantiasa belajar di dlamnya. Beberapa fungsi guru sebagai pengelola kellas : Merancang tujuan pembelajaran mengorganisasi beberapa sumber pembelajaran Memotivasi, mendorong, dan menstimulasi siswa. Adaa 2 macam dlam memotivasi belajar bisa dilakukan dngan hukuman atau dngan reaward Mengawasi segala sesuatu apakah berjalan dngan lancar apa belum dlam rangka mencapai tujuan pembelajaran
d)    Guru Sebagai Fasilitator
Seorang guru harus dpat menguasai benar materi yag akn diajarkan juga media yg akn digunakn bahkan lingkungan sendiri juga termasuk sebagai sember belajar yg harus dipelajari oleh seorang guru. Seorang siswa mempunyai beberapa kemampuan menyerap materi berbeda-beda oleh karena itu pendidik harus pandai dlam merancang media untk membantu siswa agar mudah memahami pelajaran. Keterampilan untk merancang media pembelajaran ialah hal yg pokok yg harus dikuasai, sehingga pelajaran yg akn diajarkan bisa dpat diserap dngan mudah oleh peserta didik. Media pembelajaran didlam kellas sangat banyak sekali macamnya misalkan torsu, chart maket, LCD, OHP/OHT, dan lain-lain.
Ø  PENATAAN RUANG KELLAS
Meneciptakn suasana belajar yg menggairahkan  perlu memeperhatikan peraturan/penataan ruang kellas/belajar. Penyusunan dan pengaturan  belajar hendaknya memungkinkan  anak didik duduk berkelompok  dan memudahkan anak didik bergerak secara leluasa. Dlam pengaturan ruang belajar, hal-hal yg diperhatikan ialah :
1.      Ukuran dan bentuk kellas
2.      Bentuk serta ukuran bangku dan meja anak didik
3.      Jumlah anak didik dlam kellas
4.      Jumlah anak didik dlam setiap kelompok
5.      Jumlah kelompok dlam kellas
Komposisi anak didik dlam kelompok (seperti anak didik pandai dngan anak didik kurang pandai, pria dngan wanita).
E.     MASALAH DLAM PENGELOLAAN KELLAS
Keaneka macaman masalah perilaku siswa itu menimbulkan beberapa masalah pengelolaan kellas. Pengelolaan kellas bukanlah hal yg mudahdan ringan. Jangankan bagi guru yg baru menerjunkan diri kedlam dunia pendidikan, bagi guru yg sudah profesional pun sudah merasakn betapa sukarnya mengelola kellas. Menurut made pidarta masalah-masalah pengelolaan kellas yg berhubungan dngan perilaku siswa ialah:
1.      Kurang kesatuan, dngan adaanya kelompok-kelompok, klik-klik, dan pertentangan jenis kelamin.
  1. Tidak adaa standar perilaku dlam bekerja kelompok, misalnya ribut, bercakap-cakap, bergi kesana-kemari, dan sebagainya 
  2. Reaksi negatif terhadaap anggota kelompok, misalnya ribut, bermusuhan, mengucilkan, merendahkan kelompok bodoh dan sebagainya 
  3. Kellas mentolerasi kekeliruan-kekeliruan temannya, ialah menerima dan mendorong perilaku siswa yg keliru. 
  4.  Mudah mereaksi negatif atau terganggu misalnya didatangi monitor, tamu-tamu, iklim yg berubah dan sebagainya 
  5.  Moral rendah, permusuhan dan agresif misalnya dlam lembaga dngan alat-alat belajar kurang, kekurangan uang, dan sebagainya 
  6.  Tidak mampu menyesuaikan dngan lingkungan yg berubah, seperti tugas-tugas tambahan, anggota kellas yg baru, situasi baru dan sebagainya .
Kegiatan interaksi edukatif dngan pendekatan kelompok menghendaki peninjauan padaa aspek perbedaan individual anak didik. Postur tubuh anak didik yg tinggi sebaiknya di tempatkan di belakng. Anak didik yg mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran sebaiknya di tempatkan di depan kellas. Dngan begitu, mata anak didik yg minus dpat melihat tulisan di papantulis dngan cukup baik. Penempatan anak didik yg mengalami ganggung pendengaran didepan akn mempermudah si anak untk menyimak apa yg disampaikan guru.
Pengaturan tempat duduk sebenarnya akn berhubungan dngan permasalahan siswa sebagai individu dngan perbedaan padaa aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Tetapi di dlam perbedaan darii ketiga aspek itu adaa juga terselip persamaannya, persamaan dan perbedaan dimaksud ialah :
1.           Persamaan dan perbedaan dlam kecerdasan (inteligensi)
2.           Persamaan dan perbedaan dlam kecakapan
3.           Persamaan dan perbedaan dlam hasil belajar
4.           Persamaan dan perbedaan dlam bakat
5.           Persamaan dan perbedaan dlam sikap
6.           Persamaan dan perbedaan dlam kebiasaan
7.           Persamaan dan perbedaan dlam pengetahuan /pengalaman
8.           Persamaan dan perbedaan dlam ciri-ciri jasmaniah
9.           Persamaan dan perbedaan dlam minat
10.       Persamaan dan perbedaan dlam cita-cita
11.       Persamaan dan perbedaan dlam kebutuhan
12.       Persamaan dan perbedaan dlam kepribadian
13.       Persamaan dan perbedaan dlam pola-pola dan tempo perkembangan
14.       Persamaan dan perbedaan dlam latar belakng lingkungan
Berbagai persamaan dan perbedaan kepribadian siswa diatas, berguna dlam membantu usaha pengaturan kellas. Terutaman berhubungan dngan masalah bagaimana pola pengelompokan siswa guna menciptakn lingkungan belajar yg aktif dan kreatif, sehingga kegiatan belajar yg penuh kesenangan dan bergairah dpat bertahan dlam waktu yg relatif lama.

F.     PROSEDUR PENGELOLAAN KELLAS
Dimensi pencegahan (preventif) , merupakn tindakn dlam mengatur siswa dan peralatan serta format belajar mengajar yg tepat sehingga menimbulkan kondisi yg menguntungkan bagi berlangsungnya proses belajar-mengajar. Prosedurnya dlam hal ini berupa langkah-Iangkah yg harus direncanakn guru untk menciptakn suatu struktur kondisi yg fleksibel baik untk jangka pendek maupun jangka panjang. Prosedur tindakn pencegahan ini diarahkan padaa pelayanan perkembangan tuntutan dan kebutuhan siswa baik secara individual maupun kelompok-kelompok dpat berupa kegiatan contoh-contoh ataupun berupa informasi.
Dimensi kuratif, merupakn tindakn tingkah laku yg menyimpang yg sudah terlanjur terjadi agar penyimpangan itu tidak berlarut-Iarut. Dlam hal ini guru berusaha untk menimbulkan kesadaaran akn penyimpangan yg dibuat akhirnya akn menimbulkan kesadaaran dan tanggung jawab untk rnemperbaiki diri sendiri melalui kegiatan-kegiatan yg direncanakn dan dpat dipertanggungjawabkan. Berdasarkan dua tindakn dlam kegiatan pengelolaan kellas, maka prosedur pengelolaan kellas yg dpat dilakukan berkaitan dngan kedua tindakn tersebut, yaitu prosedur dimensi pencegahan/preventif dan prosedur dimensi kuratif.
Langkah-Iangkah yg harus ditempuh dlam pengelolaan pencegahan ialah sebagai berikut:
1. Peningkatan kesadaaran diri sebagai guru
Sikap guru terhadaap kegiatan profesinya akn banyak mempengaruhi terciptanya kondisi belajar mengajar atau menciptakn sistem lingkungan yg memungkinkan terjadinya belajar. Oleh karena itu, langkah utama dan pertama yg strategis dan mendasar dlam kegiatan pengelolaan kellas ialah "Peningkatan kesadaaran diri" sebagai guru. Apabila seorang guru sadaar akn profesinya sebagai guru padaa gilirannya akn meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yg merupakn modal dasar bagi guru dlam melaksanakn tugasnya.Implikasi adaanya kesadaaran diri sebagai guru akn tampak dlam sikap guru yg demokratis tidak otoriter, menunjukan kepribadian yg stabil, harmonis serta berwibawa. Sikap demikian padaa akhirnya akn menumbuhkan atau menghasilkan reaksi serta respon yg positif darii siswa.

2. Peningkatan kesadaaran siswa
Meningkatkan kesadaaran diri sebagai guru tidak akn adaa artinya tanpa diikuti meningkatnya kesadaaran siswa sebab apabila siswa tidak atau kurang memiliki kesadaaran terhadaap dirinya tidak akn terjadi interaksi yg positif dngan guru dlam setiap kegiatan belajar mengajar. Padaa akhimya dpat mengganggu kondisi optimal dlam rangka belajar mengajar. Kurangnya kesadaaran siswa terhadaap dirinya ditandai dngan sikap yg mudah marah, mudah tersinggung, mudah kecewa, dan sikap tersebut akn memungkinkan siswa melakukan tindakn-tindakn yg kurang terpuji. Untk menanggulangi atau mencegah munculnya sikap negatif tersebut guru harus berupaya meningkatkan kesadaaran siswa melalui tindakn sebagai berikut:
a. Memberitahukan kepadaa siswa tentang hak dan kewajiban siswa sebagai anggota
kellas.
b Memperhatikan kebutuhan dan keinginan siswa.
c. Menciptakn suasana adaanya saling pengertian yg baik antara guru dan siswa.
3. Sikap Polos dan Tulus darii Guru
Guru dituntut untk bersikap polos dan tulus, artinya guru dlam tindakn dan sikapkeseharian selalu "Apa adaanya" tidak berpura-pura. Tindakn dan sikap demikian akn merupakn rangsangan positif bagi siswa dan siswa akn memberikan respon atau reaksi positif. Penciptaan suasana sosioemosional di dlam kellas akn banyak dipengaruhi oleh polos tidaknya dan tulus tidaknya sikap guru yg padaa gilirannya akn berpengaruh penciptaan kondisi lingkungan yg optimal dlam rangka proses belajar mengajar.
4. Mengenal dan menemukan alternatif pengelolaan
Langkah ini mengharuskan guru agar mampu:
a. Mengidentifikasi berbagai penyimpangan tingkah laku siswa yg bersifat individual atau kelompok. Termasuk di dlamnya penyimpangan yg sengaja dilakukan siswa hanya sekedar untk menarik perhatian guru atau teman -temannya.
b. Mengenal berbagai pendekatan dan pengelolaan kellas dan menggunakn sesuai dngan situasi atau menggantinya dngan pendekatan lain yg telah dipilihnya apabila pilihan pertama mengalami kegagalan.
c. Mempelajari pengalaman guru-guru lainnya baik yg gagal atau berhasil sehingga dirinya mempunyai alternatif yg bervariasi dlam berbagai problem pengelolaan.
5. Menciptakn "kontrak sosial"
Kontrak sosial padaa dasarnya berkaitan dngan "Standar tingkah laku" yg diharapkan dan memberikan gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasannya untk memenuhi tuntutan dan kebutuhan sekolah. Dngan kata lain "Standar tingkah laku yg memadaai dlam situasi khusus". Suatu persetujuan umum tentang bagaimana sesuatu dibuat, tindakn sehari-hari yg bagaimana yg diperbolehkan. Standar tingkah laku ini tidak membatasi kebebasan siswa akn tetapi merupakn tindakn pengarahan ke arah tingkah laku yg memadaai atau yg diharapkan dlam beberapa situasi. Standar tingkah laku harus melalui "Kontrak sosial" dngan siswa. Dlam arti bahwa aturan yg berkaitan dngan nilai atau norma yg turun darii atasan (guru/sekolah) tidak timbul darii bawah akn mengakibatkan aturan tersebut kurang dihormati atau ditaati, sehingga perumusannya perlu dibicarakn atau disetujui bersama oleh guru dan siswa. Kebiasaan yg terjadi dewasa ini aturan-aturan sebagai "Standar tingkah laku" berasal darii atas, siswa hanya menerima apa adaanya dan tidak punya pilihan lain. Kondisi demikian akn memungkinkan timbulnya persoalan-persoalan dlam pengelolaan kellas karena siswa tidak merasa membuat serta memiliki peraturan sekolah yg adaa.
Dlam penyusunan rancangan prosedur pengelolaan kellas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1. Pemahaman terhadaap arti, tujuan dan hakikat pengelolaan kellas.
2. Pemahaman terhadaap hakikat siswa yg dihadaapinya.
3. Pemahaman terhadaap penyimpangan yg dihadaapinya.
4. Pemahaman terhadaap pendekatan-pendekatan yg dpat digunakn dlam
pengelolaan kellas.
5. Pemilikan pengetahuan dan keterampilan dlam membuat rancangan prosedur
pengelolaan kellas.
G.    DEFINISI KOMUNIKASI ( INTERAKSI )
Komunikasi merupakn landasan bagi berlangsungnya suatu bimbingan. Komunikasi  dpat diartikan sebagai suatu proses pemindahan informasi antara dua orang manusia atau lebih, dngan menggunakn simbol-simbol bersama. Komunikasi sekurang-kurangnya melibatkan dua partisipan yaitu pemberi dan penerima. Komunikasi akn lebih efektif apabila tercapai saling pemahaman, yaitu pesan yg disampaikan dpat diterima dan dipahami oleh penerima. Secara umum proses komunikasi sekurang-kurangnya mengandung lima unsur yaitu pemberi, pesan, media, penerima, dan umpan-balik. Secara sederhana komunikasi dpat dikatakn sebagai berikut : Siapa (pemberi)…. Mengatakn apa (pesan)…. Dngan cara apa  (media)…. Kepadaa siapa (penerima)…. Dngan hasil apa (umpan-baliki).
Dlam bimbingan, harus tercipta suatu komunikasi dialogis, daman pihak pemberi dan penerima kedua-duanya berperan sebagai komunikator, yaitu sebagai pemberi pesan sekaligus juga sebagai penerima pesan, dan sebagai penerima sekaligus sebagai pemberi. Dngan demikian, kedua partisipan itu  yaitu konselor dan konseling, berperan aktif dlam saling memberi dan menerima pesan, sehingga dpat meningkatkan pemahaman informasi di antara kedua belah pihak. Dngan arus umpan balik yg tepat, maka kekurangan atau kesalahan akn segera terkoreksi dlam komunikasi yg bersifat dialogis ini. Agar proses komunikasi dpat berlangsung secara efektif, maka sekurang-kurangnya harus mengandung hal-hal sebagai berikut:
1.      Adaa gagasan yg ingin disampaikan oleh pemberi dlam hal ini konselor
2.      Gagasan itu harus dinyatakn dlam suatu bentuk untk dikirimkan (encode)
3.      Adaa alat untk menyampaikan pesan (media)
4.      Gangguan-gangguan pesan harus dihindarii
5.      Pesan harus sampai diterima oleh pihak penerima
6.      Adaanya penafsiran secara tepat oleh pihak penerima (encode)
7.      Adaanya tindak lanjut darii penerima (menyimpan pesan, melakukan tindakn, atau memberi umpan-balik kepadaa pengirim).

1.      Keterampilan-keterampilan komunikasi
Untk terlaksananya suatu komunikasi konseling yg dialogis, dngan mengajak klien berpartisipasi secara aktif, selain darii memahami karakter klien, ialah menguasai materi bahasan dan menguasai keterampilan berkomunikasi dialogis. Sekurang-kurangnya adaa delapan keterampilan dialogis yg harus dikuasai yaitu keterampilan : penghampiran, empati, merangkum, bertanya, kejujuran,asertif, konfrontasi, dan pemecahan masalah. Penjelasannya sebagai berikut.


1.      penghampiran 
penghampiran (attending), merupakn keterampilan dasar dlam setiap proses komunikasi yg bersifat dialogis, karena penghampiran seolah-olah merupakn pembuka pintu pertama untk memulai suatu komunikasi dialogis. Keterampilan penghampiran merupakn keterampilam komunikasi melalui isyarat-isyarat verbal dan non-verbal, sehingga memberikan kemungkinan para mitra memberikan perhatian kepadaa pembicara padaa tahap paling awal. Bila hal ini berhasil dilakukan dngan baik, maka hal itu akn menjadi awal bagi proses komunikasi selanjutnya. Sapaan awal dngan  nadaa suara yg baik ialah merupakn pintu pertama darii penghampiran, misalnya ucapan “Assalamualaikum, sdt.” “Selamat pagi, selamat berjumpa, dsb.” Hal itu dilakukan dngan tekanan suara, sikap sopan, kontak mata, penampilan perawakn, pengamatan, gerak badaan, dsb.
Secara psikologis, penghampiran meupakn suatu situasi yg memberikan suasana hubungan yg sedemikian rupa dimana klien merasa dirinya diterima, merasa dekat, merasa penting, dan dihargai martabatnya.keterampilan penghampiran dpat dikembangkan melalui berbagai cara seperti :
-          ungkapan salam dan sapaan yg sopan, dngan nadaa suara yg baik
-          penampilan diri dngan postur (perawakn) fisik yg meyakinkan
-          gerakn fisik yg disertai dngan perhatian secara menyeluruh
-          pengakuan, sentuhan, dan kontak fisik yg sederhana dan penuh perhatian, disertai dngan sikap yg menunjukkan bahwa kehadiran konselor sebagai sesuatu yg akn memberikan makna bagi klien
-          memelihara kontak mata secara menyeluruh dan tept sesuai dngan situasi dan topic bahasan
-          mengamati dan menyimak dngan penuh perhatian.
2.      Empati
Berempati kepadaa pihak lain merupakn keterampilan dasar dlam berkomunikasi terutama komunikasi dialogis. Empati  mempunyai makna sebagai suatu kesediaan untk memahami orang lain secara paripurna, baik yg  nampak maupun yg terkandung, khususnya dlam aspek perasaan, pikiran, dan keinginan. Dngan berempati kita berusaha menempatkan diri dlam suasana perasaan, pikiran, dan keinginan orang lain akn tetapi mampu menghayati bagaimana perasaan kita apabila beradaa dlam situasi orang lain. Secara psikologis, empati dpat menunjang berkembangnya suasana hubungan yg didasari atas saling pengertian, suasana rasa diterima dan dipahami, dan kesamaan diri.
Keterampilan empati dpat dilakukan dngan memberikan respon dlam bentuk :
-          Sikap menerima dan memahami ungkapan klien, misalnya dngan gerak mata, anggukan, gerak tangan, air muka, dsb.
-          Memberikan perhatian yg mendlam terhadaap ungkapan klien
-          Pernyataan yg menggambarkan ungkapan suasana perasaan yg diungkapkan
-          Memberikan dukungan terhadaap ungkapan tertentu.

3.      Merangkum
Dlam suatu komunikasi dialogis dlam konseling, mungkin akn mengemukakn pesan-pesannya dlam bentuk ungkapan tertentu dan mungkin secara panjang lebar. Sebagai wujud sikap penerimaan kita terhadaap ungkapan tersebut, maka keterampilan yg diperlukan ialah keterampilan merangkum. Keterampilan ini dinyatakn dlam bentuk pemberian respon dngan membuat rangkuman secara tepat terhadaap seua materi yg diungkapkan. Untk itu konselor harus mampu menyimak seluruh pembicaraan bersama dngan klien dngan baik, dan kemudian membuat rangkumannya untk selanjutnya disampaikan sebagai respon konselor terhadaap klien. Keterampilan mebuat rangkuman  yg baik dan tepat dpat memberikan dampak psikologis adaanya rasa diterima, dihargai, dan diakui yg padaa gilirannya dpat menunjang proses konseling selanjutnya.
Keterampilan merangkumkan dpat dilakukan dngan cara-cara seperti ini :
-          Memberikan kesempatan kepadaa klien untk menyampaikan ungkapannya secara lengkap
-          Menunjukkan sikap memberikan perhatian dan menyimaknya dngan penuh perhatian
-          Membuat catatan-catatan seperlunya untk erangkum pembicaraan
-          Padaa akhir klien menyampaikan ungkapannya, konselor memberikan respon dlam bentuk menyampaikan rangkuman pembicaraan.



4.      Bertanya
Bertanya merupakn salah satu aspek dlam proses komunikasi konseling, baik dlam memulai, selama proses berjalan, ataupun dlam mengakhiri. Keterampilan bertanya merupakn keterampilan yg cukup penting dan strategis dlam komunikasi konseling, sebab dpat menentukan kelancaran proses konseling. Kalau bertanya dilakukan dngan cara yg kurang tepat maka komunikasi akn berjalan kurang efektif, dan sebaliknya komunikasi akn berlangsung dngan efektif apabila menggunakn keterampilan bertanya secara tepat. Mengajukan pertanyaan secara baik dpat memulai suatu hubungan, memelihara hubungan, membangkitkan rasa pengakuan dan kepedulian. Pertanyaan yg baik dpat merangsang orang lain untk lebih terbuka, kreatif, dan berkeinginan untk berbaggi informasi atau pengalaman.
Dlam komunikasi konseling adaa dua macam bentuk pertanyaan, yaitu pertanyaan terbuka dan  pertanyaan tertutup. Pertanyaan terbuka merupakn pertanyaan yg menuntut jawaban secara terbukaoleh klien. Pertanyaan terbuka dpat membantu klien dlam :
1.      Melalui perbincangan
2.      Meminta penjelasan lebih lanjut
3.      Memberikan contoh
4.      Memusatkan padaa perasaan klien.
Pertanyaan tertutup merupakn pertanyaan yg jawabnya sudah pasti dan biasanya bersifat factual. Contoh pertanyaan terbuka misalnya “Bagaimana pendpat anda tentang kegiatan pendidikan selama ini?”. Contoh pertanyaan tertutup misalnya : ”Apakah anda merasa berhasil atau tidak di sekolah ini?”.
Keterampilan bertanya dpat dikembangkan dngan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
-          Perhatikan suasana konseling dan klien
-          Kuasai materi yg berkaitan dngan pentanyaan
-          Ajukan pertanyaan dngan cara yg jelas dan terarah, serta tidak keluar darii topik pembahasan
-          Segera berikan respon balikan terhadaap jawaban pertanyaan yg diajukan, dngan sikap yg baik dan empatik. 

5.      Kejujuran (genuineness)
Dlam komunikasi konseling, konselor selaku komunikator harus mampu menunjukkan kejujuran darii apa yg diungkapkannya sehingga dpat memberikan pesan secara obyektif. Dlam hal ini ia harus mampu menyampaikan sesuatu secara terbuka tanpa harus dimanipulasi. Berkomunikasi secara jujur dan asli merupakn keterampilan komunikasi konseling yg amat penting. Dngan keterampilan ini konselor dpat menyatakn perasaannya mengenai perasaan klien dngan cara yg sedemikian rupa sehngga klien dpat menerima tanpa adaa rasa ketersinggungan. Untk dpat mewujudkan keterampilan ini, konselor harus mau memahami dan mampu menyatakn perasaan yg sesungguhnya kepadaa klien. Keterampilan kejujujan dpat mebantu untk berbagi perasaan terhadaap apa yg dikatakn atau dilakukan klien, dan tetap menjaga hubungan baik.
Respon yg diberikan oleh konselor terhadaap ungkapan klien yg bersifat genuine (asli/jujur) ialah respon dngan cara yg ikhlas dan jujur, secara emosional dan secara langsung menyatakn perasaan sndiri. Misalnya, dlam situasi konseling, tiba-tiba klien mengajukan kritik dan memotong pembicaraan konselor, maka respon konselor terbaik ialah : “Maaf, pembicaraan anda itu  benar, akn tetapi sudikah anda menunggu sampai saya selesai bicara supaya ungkapan anda dpat membantu pembicaraan kita”.
Untk mengembangkan keterampilan kejujuran adaa empat kondisi yg harus diperhatikan, yaitu:
-          Ungkapan perasaan yg sebenarnya
-          Kejadian tertentu yg mebuat perasaan itu
-          Alasan mengapa berperasaan seperti itu
-          Pengaruh perasaan itu terhadaap kegiatan selanjutnya.

6.      Asertif
Asertif  ialah suatu tindakn dlam memberikan respon kepadaa tindakn orang lain dlam bentuk mempertahankan hak azasi sendiri yg mendasar, tanpa melanggar hak azasi orang lain yg mendasar. Dngan asersi, seseorang akn mampu mengakui hak azasi orang lain dan mampu bersikap secara tepat tanpa mengurangi hak azasi sendiri. Dlam komunikasi konseling, keterampilan untk bersikap asertif diperlukan dlam menerima respon klien dan memberikan respon kembali dngan cara yg sedemikian rupa, sehingga klien merasa hak azasinya tidak tergangggu. Misalnya cara anda dngan sopan dlam menghentikan seorang klien yg melakukan perbuatan tertentu yg kurang tepat misalnya membuka sepatu, membuka tas,menerima telepon, dsb.
Keterampilan asertif mencakup keterampilan untk menyatakn pikiran dan perasaan dngan cara jujur dan sopan, dan menghargai hak asasi orang lain. Dngan demikian klien akn merasa tetap beradaa padaa hak asazi dan martabatnya. Keterampilan ini dpat dikembangkan melaluui ungkapan non-verbal dan verbal. Cara non-verbal dilakukan dngan : kontak mata yg baik, membagi waktu secara baik, penampilan dngan tenang, ekspresi muka yg ceria, penampilan postur (perawakn) dngan baik. Cara verbal dpat dilakukan dngan : ungkapan perasaan dan kepercayaan secara jujur dan langsung, menyatakn berpihak padaa klien yg benar, menyatakn rasa hormat dan empati padaa klien, mengambil inisiatif dlam kontak antar pribadi, enawarkan alternative, dan menggunakn suara yg jelas dan menyenangkan.
7.      Konfrontasi
Keterampilan konfrontasi digunakn untk memberikan respon terhadaap pesan seseorang yg mengandung pesan ganda yg tidak sesuai atau saling bertentangan satu dngan lainnya. Dngan keterampilan konfrontasi kita dpat mengenal dan merespon pesan ganda klien, sehingga ia menyadaarinya dan kemudian berkembang kea rah yg lebih baik. Dlam komunikasi konseling, keterampilan konfrontasi merupakn cara konselor untk membetulkan titik perbedaan atau pertentangan dlam situasi sebagai berikut:
1.      Perbedaan antara apa yg dikatakn dan apa yg dilakukan klien, misalnya: “Anda mengatakn bahwa anda selalu membaca Koran setiap hari, tetapi ternyata hari ini anda tidak melakukan hal itu”.
2.      Perbedaan antara apa yg telah dikatakn seseorang dngan apa yg dilaporkan orang lain tentang dia, misalnya: “Anda mengatakn bahwa anda ialah orang miskin dan tidak mampu, akn tetapi tetangga anda mengatakn bahwa anda baru saja membeli mobil baru dan TV berwarna”.
3.      Perbedaan antara apa yg dikatakn dngan apa yg nampak, misalnya: “Anda mengatakn tidak marah, akn tetapi suara dan perbuatan anda menunjukkan kemarahan
Dlam penerapan keterampilan konfrontasi ini, hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
-          Konselor hendaknya memiliki pemahaman yg tepat dan bersikap empati dan jujur.
-          Harus diperhitungkan agar klien mau menerimanya dan tidak memberikan pertahanan atau perlawanan.
-          Harus bersesuaian dngan situasi dan kondisi masalah
-          Harus singkat dan tepat sasaran.

8.      Pemecahan Masalah
Keterampilan pemecahan masalah sangat diperlukan dlam komunikasi konseling untk membantu klien dlam memecahkan masalah-masalah yg dihadaapinya. Dlam dialog yg sifatnya memecahkan masalah, maka pihak konselor harus mampu mengembangkan suatu mekanisme komunikasi yg meberikan kesempatan padaa klien menyampaikan pendpat dan sumbangan pikirannya, menjabarkan dan memilih alternative, mempertimbangkan nilai-nilai, dan membuat rencana tindakn.
Adaa tujuh tahapan yg dpat ditempuh dlam pemecahan masalah, yaitu:
1.      Menjajagi masalah, yaitu tahapan di mana melalui dialog antara konselor dan klien menetapkan masalah yg dihadaapi
2.      Memahami masalah, yaitu tahap lebih lanjut untk lebih mempertegas masalah yg sesungguhnya beserta aspek-aspek yg terkait seperti latar belakng, alasan, tujuan sumber-sumber terkait, dsb.
3.      Membatasi masalah, yaitu tahapan untk bersama-sama menetapkan batas-batas masalah baik darii dimensi waktu maupun ruang, serta sumber-sumber daya penunjangnya.
4.      Menjabarkan alternatif, yaitu konselor dan klien bersama-sama melakukan “curah pendpat” (brainstorming) untk menjabarkan berbagai alternative kemungkinan pemecahan masalah.
5.      Mengevaluasi alternatif, yaitu menilai setiap alternative yg telah yg dikembangkan dlam tahap 4 di atas. Setiap alternatif dievaluasi satu persatu dilihat darii kekuatan, kelemahan peluang, sumber daya, dan prioritasnya.
6.      Memilih alternatif terbaik, yaitu menetapkan alternatif yg dipandang paling tepat berdasarkan hasil evaluasi dlam langkah 5.

7.      Menetapkan alternatif, yaitu tahapan melaksanakn alternatif yg dipandang paling baik dlam bentuk tindakn nyata.

4.      Komunikasi Antar Pribadi
Komunikasi antar pribadi merupakn proses pemberian dan penerimaan pesan antara dua atau diantara orang-orang dlam kelompok kecil melalui satu saluran atau lebih, dngan melibatkan beberapa pengaruh dan umpan balik. Komunikasi antar pribadi melibatkan hubungan pribadi anatara dua individu atau lebih. Dlam proses konseling, komunikasi antar pribadi memungkinkan terjadinya interaksi yg bersifat pribad yg bersifat pribadi antara konselor dan konseling. Oleh karena itu, keterampilan komunikasi antar pribadi perlu dikuasai oleh para
1.      Perkiraan berdasarkan informasi psikologis
2.      Interaksi berdasarkan pengetahuan yg lebih  jelas
3.      Interaksi berdasarkan aturan yg dibuat secara jelas.
Maksud darii komunikasi antar  pribadi ialah untk:
1.      Menemukan diri sendiri
2.      Menemukan dunia luar
3.      Membentuk dan memelihara hubungan yg bermakna dngan orang lain
4.      Mengubah sikap dan perilaku sendiri dan orang lain
5.      Bermain dan hiburan
6.      Memberikan bantuan .
Untk melangsungkan komunikasi antar pribadi secara efektif, perlu memperhatikan prinsip komunikasi antar pribadi sebagai berikut:
1.      Kita tidak mungkin terhindar darii kehidupan tanpa komunikasi
2.      Semua komunikasi menunjuk kepadaa isi dan hubungan antar partisipan
3.      Komunikasi tergantung padaa pertukaran antar partisipan atas dasar kesamaan system tanda dan makna
4.      Setiap orang berkomunikasi menggunakn rangsangan dan respon berdasarkan sudut pandangnya sendiri
5.      Komunikasi antar pribadi dpat merangsang timbulnya saling meniru atau saling melengkapi perilaku antar individu yg satu dngan yg lainnya.

A.    Persepsi dlam Komunikasi Antar Pribadi
Persepsi ialah proses individu menjadi sadaar dan memberi makna terhadaap objek dan oeristiwa di luar dirinya melalui bermacam alat dria. Persepsi mendasari proses komunikasi antar pribadi, dlam arti bahwa kualitas komunikasi itu akn banyak di tentukan oleh beberapa factor antara lain:
1.      Harapan individu
2.      Kesan pertama
3.      Kesan kelompok
4.      Derajat kesamaan perilaku orang lain
5.      Konsistensi ( ketetapan ) perilaku dlam berbagai situasi
6.      Motivasi internal dan eksternal.
Dlam konseling harus dikembangkan persepsi yg benar dan tepat, baik dlam diri konselor maupun dlam diri klien. Harus dihindarii adaanya persepsi antara konselor dngan klien.
B.     Menyimak dlam Komunikasi Antar Pribadi
Menyimak merupakn keterampilan yg sangat diperlukan dlam proses komunikasi antar pribadi. Menyimak dpat diartikan sebagai suatu aktivitas yg diwujudkan dlam bentuk proses mengirimkan kembali kepadaa pembaca mengenai pikiran kita mengenai makna isi dan perasaan pembicara.
Fungsi dlam menyimak dlam komunikasi antar pribadi ialah sebagai bentuk memperoleh:
1.      Membuat pendengar mengecek pemahaman secara tepat
2.      Penyatakn penerimaan perasaan pembicara
3.      Merangsang pembicara agar memperluas perasaan dan pikiran
4.      Memberitahukan kepadaa pembicara mengenai reaksi pengdengar
5.      Memberikan bimbingan kepadaa pembicara untk menyesuaikan isi pesan-pesannya
Menyimak yg efektif dilaksanakn dngan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Berhenti bicara
2.      Tempatkan pembicara dngan mudah
3.      Bereaksi secara baik
4.      Konsentrasi padaa apa yg sedang di bicarakn
5.      Jangan terlalu tergesah-gesah memberikan tefsiran
6.      Berbagi tanggungjawab dlam komunikasi
7.      Ungkapan dngan cara yg benar
8.      Menyatakn pemahaman
9.      Mengajukan pertanyaan
10.  Bersikap secara baik seperti: bersahabat, sopan, terbuka, sensitif,dsb.

C.    Keefektifan Komunikasi Antar Pribadi
Keefektifan komunikasi antar pribadi dipengaruhi oleh factor-faktor sebagai berikut:
1.      Keterbukaan, yaitu kesediaan membuka diri, mereaksi kepadaa orang lain, merasakn pikiran dan perasaan orang lain,
2.      Empati, yaitu menghayati perasaan orang lain
3.      Mendukung, yaitu kesedian secara spontan untk menciptakn suasana yg bersifat mendukung
4.      Positif, yaitu menyatakn sikap positif terhadaap diri sendri, orang lain, dan situasi
5.      Keseimbangan, yaitu mengakui bahwa kedua belah pihak mempunyai kepentingan yg sama, pertukaran komunikasi secara seimbang
6.      Percaya diri, yaitu merasa yakin kepadaa diri sendiri, bebas darii rasa malu
7.      Kesegaran, yaitu untk segera melakukan kontak disertai rasa suka dan berminat
8.      Manajemen interaksi, yaitu mengendalikan interaksi untk memberikan kepuasan kepadaa kedua belah pihak, mengelola pembicaraan dngan pesan-pesan yg baik dan konsisten
9.      Pengungkapan, yaitu keterlibatan secara jujur dlam berbicara dan menyimak baik secara verbal maupun non-verbal
10.  Orientasi kepadaa orang lain, yaitu penuh perhatian, minat, dan kepedulian kepadaa orang lain.

5.Membuka Diri
Membuka diri merupakn hal yg penting dlam mewujudkan komunikasi antar pribadi secara efektif. Membuka diri merupakn tindakn dngan menunjukkan diri sendiri, sehingga membuat oleh orang lain jadi mengenal diri sendiri. Suatu tindakn dpat disebut membuka diri apabila memiliki karakteristik:
1.      Diri sendiri sebagai isi
2.      Disengaja
3.      Diarahkan kepadaa orang lain
4.      Jujur
5.      Membuka pikiran
6.      Berisi informasi yg tidak terdpat dlam sumber lain
7.      Berlangsung dlam suasana keakraban.
Membuka diri dilakukan dngan  berbagai alasan antara lain:
1.      Katarsis, yaitu sebagai upaya untk melepaskan informasi dri
2.      Klarifikasi diri, yaitu memberikan penjelasan mengenai keyakinan, pendpat, pikiran, sikap, dan perasaan diri dngan menceritakn kepadaa orang lain
3.      Validasi diri, yaitu untk memperoleh persetujuan darii orang lain
4.      Pertukaran, yaitu untk mengajak orang lain membuka dirinya juga
5.      Pembentukan impresi (kesan), yaitu untk membuat kesan tertentu tentang diri sendiri
6.      pemeliharaan dan peningkatan hubungan, yaitu untk membuat hubungan dngan orang lain menjadi lebih baik dan berkembang  
7.      kontrol sosial, yaitu meningkatkan pengendalian terhadaap orang lain dan situasi dimana diri sendiri berhubungan dngan orang lain
8.      manipulasi, yaitu melakukan pembukaan diri dngan diperhitungkan sebelumnya untk mencapai hasil yg diinginkan
Beberapa hal yg harus dipertimbangkan agar membuka diri  dpat efektif anatar lain:
1.      apakah orang lain cukup penting bagi anda?
2.      Apakah resiko membuka diri cukup beralasan?
3.      Apakah sejumlah dan macam membuka diri cukup memadaai?
4.      Apakah membuka diri sesuai dngan situasi yg adaa?
5.      Apakah membuka diri memberikan balasan?
6.      Apakah pengaruhnya konstruktif?
7.      Apakah membuka diri cukup jelas dan dpat dipahami?
6.      Perilaku Komunikasi Non-verbal 
Keterampilan berkomunikasi merupakn salah satu unsur kompetensi konselor dlam melaksanakn konseling, baik individual maupun kelompok. Komunikasi non-verbal merupakn bentuk komunikasi yg ikut mewarnai corak konseling sebagai suplemen, komplemen, dan substitusi komunikasi verbal. Oleh karena itu, para konselor harus memiliki pemahaman dan keterampilan dlam komunikasi non-verbal. Tulisan ini membahas mengenai beberapa aspek perilaku komunikasi non-verbal yg disadur darii buku Gazda, George K. (1984) Grow Counseling: Adevelopmental approach, Boston, Allin and Bacon Inc.
H.    CIRI-CIRI PENDEKATAN KOMUNIKATIF
Adaapun ciri-ciri pendekatan  Komulatif ialah sebagai berikut :
1.      Adaanya kegiatan komunikasi fungsional dan interaksi sosial yg saling berkaitan erat.
2.      Pembelajaran berorientasi padaa pemerolehan kompetensi komunikatif, bukan ketepatan gramatikal.
3.      Pembelajaran diarahkan padaa modifikasi dan peningkatan murid dlam menemukan kaidah bahasa lewat kegiatan berbahasa.
4.      Materi pembelajaran berangkat darii analisis kebutuhan berbahasa pembelajar
Pentingnya faktor afektif dlam belajar bahasa.
Dngan pembelajaran komunikatif, siswa diharapkan mangusai kompetensi komunikatif. Karakteristik kompetensi Komunikatif.
5.     Bersifat dinamis. Kompetensi bahasa selalu berubah-ubah menuju ke arah kemajuan sesuai dngan kemajuan dan berkembangan bahasa.
6.      Meliputi bahasa lisan dan tulis. Siswa dianggap memiliki kompetensi bahasa apabila mereka menguasai bahasa secara lisan dan tulisan baik dlam tataran reseptif maupun produktif.
7.     Bersifat kontekstual sesuai dngan kondisi yg adaa.
8.     Meliputi kompetensi bahasa dan performansi bahasa.
9.      Bersifat relative.
Prosedur pembelajaran dngan menggunakn pendekatan komunikatif menurut (Finnachiaro & Brumfit, 1983)
1.      Penyajian dialog singkat
2.      Pelatihan lisan dialog yg disajikan
3. Penyajian tanya jawab
4.      Penelaah dan pengkajian
5.      Penarikan simpulan
6.      Aktivitas interpretative
7.      Aktivitas produksi lisan
8.      Pemberian tugas
9.      Pelaksanaan evaluasi
I.  DEFINISI MOTIVASI
Dlam lingkup kegiatan konseling, konselor memegang peranan yg amat penting dan strategis. Kelancaran proses seluruh kegiatan konseling, sepenuhnya beradaa dlam tanggungjawab konselor dlam keseluruhan kegiatan konseling. Konselor harus mampu menciptakn situasi agar klien termotivasi untk memenfaatkan konseling sebagai satu upaya dlam menghadaapi masalahnya. Salah satu aspek dlam konseling ialah motivasi, yaitu memberikan dorongan kepadaa klien agar agar mampu melaksanakn perilaku dlam upaya memecahkan masalahnya secara efektif dan produktif. Bagian ini akn mengetengahkan beberapa aspek konsep motivasi dan penerapannya dlam konseling. Isinya akn membahas mengenai pengertian motivasi, beberapa teori tentang motivasi, dan prinsip-prinsip motivasi.
1.      Konsep Motivasi
Memahami motivasi merupakn satu hal yg sangat penting bagi para konselor dlam proses konseling karena beberapa alasan, yaitu :
1.      Klien harus di dorong untk bekerjasama dlam konseling dan senantiasa beradaa dlam situasi itu,
2.      Klien harus senantiasa di dorong untk berbuat dan berusaha sesuai dngan tuntutan,
3.      Motivasi merupakn hal yg penting dlam memelihara dan mengembangkan suasana konseling.
Motivasi dpat diartikan sebagai suatu dorongan untk mewujudkan perilaku tertentu yg terarah kepadaa suatu tujuan tertentu. Motivasi mempunyai karakteristik :
1.      Sebagai hasil darii kebutuhan,
2.      Terarah kepadaa suatu tujuan,
3.      Menopang perilaku.
Motivasi dpat dijadikan sebagai dasar penafsiran, penjelasan, dan penaksiran perilaku. Motif timbul karena adaanya kebutuhan yg mendorong individu untk melakukan tindakn yg terarah kepadaa pencapaian suatu tujuan. Dlam bentuk yg sederhana, motivasi dpat di gambarkan dlam kerangka :
Motif------perilaku------tujuan

            Perlu diingat bahwa kerangka ini tidak sederhana yg digambarkan, karena dlam kenyataannya motivasi itu merupakn suatu proses yg kompleks, sesuai dngan kompleksnya kondisi perilaku manusia dngan segala aspek-aspek yg terkait, baik eksternal maupun internal.
            Adaa lima hal yg menjadi alasan bahwa motivasi itu merupakn suatu proses yg kompleks, yaitu :
1.      Motif yg menjadi sebab darii tindakn seseorang itu, tidak dpat diamati akn tetapi hanya diperkirakn.
2.      Individu mempunyai kebutuhan atau harapan yg senantiasa berubah dan berkelanjutan.
3.      Manusia emuaskan kebutuhannya dngan bermacam-macam cara.
4.      Keppuasan dlam suatu kebutuhan tertentu dpat mengarah kepadaa intensitas kebutuhan.
5.      Perilaku yg mengarah kepadaa tujuan, tidak selamanya dpat menghasilkan kepuasan.
Sesuai dngan kerangka dan kelima alasan diatas, maka darii setiap proses motivasi dan perilaku akn menghasilkan berbagai peristiwa yg bervariasi antara individu yg satu dngan lainnya, ataupu padaa setiap individu dlam waktu dan tempat yg berbeda. Setiap orang selalu terdorong untk melakukan tindakn yg mengarah kepadaa pencapaian tujuan yg telah diinginkan. Bilamana tujuan itu dpat tercapai, maka kemungkinan ia akn memperoleh kepuasan. Akn tetapi, tidak selamanya setiap perbuatan itu dpat mencapai tujuan yg diingikan dan menghasilkan kepuasan. Dlam situasi seperti itu individu akn mengalami kegagalan dan merasakn kecewa yg selanjutnya dpat menimbulkan suatu keadaaan yg disebut frustasi. Dlam keadaaan frustasi ini adaa dua kemungkinan tindakn sebagai reaksi seseorang terhadaap kegagalan dan kekecewaanya, yaitu tindakn yg tergolong konsrtuktif, dan tindakn yg tergolong defensif.
Reaksi yg tergolong konsrtuktif ialah apabila individu mampu menghadaapi kegagalan itu secara realistik, dan mampu melakukan tindakn untk menanggulangi kegagalan secara realistic, dan dpat dibenarkan menurut norma yg berlaku. Reaksi seperti inilah yg paling banyak diharapkan terjadi padaa setiap orang. Untk itu diharapkan agar orang mampu menghadaapi sesuatu secara realistis dan rasional. Reaksi yg tergolong defensif, ialah bentuk perilaku reaksi yg di tunjukkan untk mempertahankan atau melidungi dirinya darii kegagalan yg dihadaapi. Padaa umumnya tindakn defensive ini terjadi dlam keadaaan kurang disadaari dan kehilangan kontrol diri, sehingga dpat menimbulkan keadaaan yg makin sulit dan bahkan dpat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental.
Darii bentuk perwujudannya, adaa beberapa bentuk perilaku defensif sebagai reaksi frustasi yg disebut :
1.      Rasionalisasi, yaitu dngan jalan mencari-cari dalih atau alasan untk menutupi kegagalan.
2.      Proyeksi, yaitu melempar sebab-sebab kegagalannya kepadaa pihak di luar dirinya.
3.      Kompensasi, yaitu mencari sukses dlam bidang lain untk menutupi kegagalan dlam satu bidang.
4.      Regresi, yaitu berperilaku kekanak-kanakn.
5.      Menarik diri, yaitu menghindarkan diri darii keadaaan yg tidak menyenangkan baik secara psikis maupun secara fisik.
6.      Represi, yaitu dngan menekan atau melupakn hal-hal yg tidak menyenangkan.
7.      Agresi, yaitu melakukan perlawanan atau penyerangan terhadaap hal-hal yg dianggap sebagai penyebab kegagalannya.
8.      Sublimasi, yaitu dngan mencari penyaluran atau tujuan pengganti.
9.      Cemas tak berdaya, yaitu keadaaan diam tak berdaya tanpa melakukan apa-apa.

3.Teori Motivasi
            Teori-teori motivasi dpat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu teori dngan pendekatan :
1.      Isi (content).
2.      Proses
3.      Penguatan.
Teori dngan pendekatan  isi lebih banyak menekankan padaa faktor apa yg membuat indvidu melakukan suatu tindakn dngan cara tertentu. Yg tergolong kedlam kelompok teori ini misalnya Teori Jenjang Kebutuhan  darii Maslow. Teori pendekatan proses,  tidak hanya menekankan padaa factor apa yg mebuat individu bertindak dngan cara tertentu, tetapi juga bagaimana indivudi termotivasi. Contoh teori kelompok ini misalnya teori motif berprestasi (achievement motive) darii McClelland. Teori dngan pendekatan penguatan, lebih menekankan padaa faktor-faktor yg dpat meningkatkan suatu tindakn dilakukan atau yg dpat mengurangi suatu tindakn. Yg tergolong teori ini misalnya Teori Operant Conditioning (skinner).
Ø  Macam-macam motivasi belajar
Dlam membahas macam-macam motivasi belajar, adaa dua macam sudut pandang, yakni motivasi yg berasal darii dlam pribadi seseorang yg biasa disebut ”motivasi intrinsik” dan motivasi yg berasal darii luar diri seseorang yg biasa disebut ”motivasi ekstrinsik”.
Motivasi Intrinsik
Menurut Syaiful Bahri (2002:115) motivasi intrinsik yaitu motif-motif yg menjadi aktif atau berfungsinya tidak memerlukan rangsangan darii luar, karena dlam diri setiap individu sudah adaa dorongan untk melakukan sesuatu. Sejalan dngan pendpat diatas, dlam artikelnya Siti Sumarni (2005) menyebutkan bahwa motivasi intrinsik ialah motivasi yg muncul darii dlam diri seseorang. Sedangkan Sobry Sutikno (2007) mengartikan motivasi intrinsik sebagai motivasi yg timbul darii dlam diri individu sendiri tanpa adaa paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. Darii beberapa pendpat tersebut, dpat disimpulkan, motivasi intrinsik ialah motivasi yg muncul darii dlam diri seseorang tanpa memerlukan rangsangan darii luar.


Motivasi Ekstrinsik
Menurut A.M. Sardiman (2005:90) motivasi ekstrinsik ialah motif-motif yg aktif dan berfungsinya karena adaanya perangsang darii luar. Sedangkan Rosjidan, et al (2001:51) menganggap motivasi ekstrinsik ialah motivasi yg tujuan-tujuannya terletak diluar pengetahuan, yakni tidak terkandung didlam perbuatan itu sendiri. Sobry Sutikno berpendpat bahwa motivasi ekstrinsik ialah motivasi yg timbul akibat pengaruh darii luar individu, apakah karena ajakn, suruhan atau paksaan darii orang lain sehingga dngan keadaaan demikian seseorang mau melakukan sesuatu. Darii beberapa pendpat di atas, dpat disimpulkan, motivasi ekstrinsik ialah motivasi yg timbul dan berfungsi karena adaanya pengaruh darii luar.
J.      STRATEGI MOTIVASI DLAM PROSES BELAJAR
1.      Memberi angka
Angka dlam hal ini sebagai simbol darii nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa yg justru untk mencapai angka/nilai yg baik. Sehingga yg dikejar hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yg baik. Angka-angka yg baik itu bagi para siswa merupakn motivasi belajar yg sangat kuat. Yg perlu diingat oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka tersebut belum merupakn hasil belajar yg sejati dan bermakna. Harapannya angka-angka tersebut dikaitkan dngan nilai afeksinya bukan sekedar kognitifnya saja.
2. Hadiah
Hadiah dpat menjadi motivasi belajar yg kuat, dimana siswa tertarik padaa bidang tertentu yg akn diberikan hadiah. Tidak demikian jika hadiah diberikan untk suatu pekerjaan yg tidak menarik menurut siswa.
3. Kompetisi
Persaingan, baik yg individu atau kelompok, dpat menjadi sarana untk meningkatkan motivasi belajar. Karena terkadaang jika adaa saingan, siswa akn menjadi lebih bersemangat dlam mencapai hasil yg terbaik.
4.       Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaaran kepadaa siswa agar merasakn pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras ialah sebagai salah satu bentuk motivasi yg cukup penting. Bentuk kerja keras siswa dpat terlibat secara kognitif yaitu dngan mencari cara untk dpat meningkatkan motivasi belajar.
5.      Memberi Ulangan
Para siswa akn giat belajar kalau mengetahui akn diadaakn ulangan. Tetapi ulangan jangan terlalu sering dilakukan karena akn membosankan dan akn jadi rutinitas belaka.
6.      . Mengetahui Hasil
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi belajar anak. Dngan mengetahui hasil belajarnya, siswa akn terdorong untk belajar lebih giat. Apalagi jika hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa pasti akn berusaha mempertahankannya atau bahkan termotivasi untk dpat meningkatkannya.
7.      Pujian
Apabila adaa siswa yg berhasil menyelesaikan tugasnya dngan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian ialah bentuk reinforcement yg positif dan memberikan motivasi yg baik bagi siswa. Pemberiannya juga harus padaa waktu yg tepat, sehingga akn memupuk suasana yg menyenangkan dan mempertinggi motivasi  belajar serta sekaligus akn membangkitkan harga diri.
8.      Hukuman
Hukuman ialah bentuk reinforcement yg negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi alat motivasi belajar anak. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman tersebut.
Hal senadaa juga diungkapkan oleh  Fathurrohman dan Sutikno (2007: 20) motivasi belajar siswa dpat ditumbuhkan melalui beberapa cara yaitu:
a) Menjelaskan tujuan kepadaa peserta didik.
Padaa permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yg akn dicapainya kepadaa siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dlam belajar.
b) Hadiah.
Hadiah akn memacu semangat mereka untk bisa belajar lebih giat lagi. Berikan hadiah untk siswa yg berprestasi. Di samping itu, siswa yg belum berprestasi akn termotivasi untk bisa mengejar siswa yg berprestasi.
c) Saingan/kompetisi.
Guru berusaha mengadaakn persaingan di antara siswanya untk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yg telah dicapai sebelumnya.
d) Pujian.
Siswa yg berprestasi sudah sewajarnya untk diberikan penghargaan atau pujian. Pujian yg diberikan bersifat membangun. Dngan pujian siswa akn lebih termotivasi untk mendpatkan prestasi yg lebih baik lagi.
e) Hukuman.
Cara meningkatkan motivasi belajar dngan memberikan hukuman. Hukuman akn diberikan kepadaa siswa yg berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dngan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Bentuk hukuman yg diberikan kepadaa siswa ialah hukuman yg bersifat mendidik seperti mencari artikel, mengarang dan lain sebagainya.
f)  Membangkitkan dorongan kepadaa peserta didik untk belajar.
Strateginya ialah dngan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik. Selain itu, guru juga dpat membuat siswa tertarik dngan materi yg disampaikan dngan cara menggunakn metode yg menarik dan mudah dimengerti siswa.
g)  Membentuk kebiasaan belajar yg baik.
Kebiasaan belajar yg baik dpat dibentuk dngan cara adaanya jadwal belajar.
h) Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun kelompok.
Membantu kesulitan peserta didik dngan cara memperhatikan proses dan hasil belajarnya.  Dlam proses belajar terdpat beberap unsur antara lain yaitu penggunaan metode untk mennyampaikan materi kepadaa para siswa. Metode yg menarik yaitu dngan gambar dan tulisan warna-warni akn menarik siswa untk  mencatat dan  mempelajari materi yg telah disampaikan..
i)                    Menggunakn media pembelajaran yg baik, serta harus sesuai dngan tujuan pembelajaran.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Di dlam proses belajar, atau lebih luasnya proses pendidikan, terkandung unsur-unsur  yg mendukungnya. Unsur-unsur iitu ialah orang yg belajar, pihak yg membantu menyebabkan belajar, dan faktor-faktor lain yg mempengaruhi kedua pihak tersebut. Dlam melaksanakn fungsi masing-masing, terri unsur yg masuk pula di dlamnya unsur komunikasi. Disamping faktor-faktor darii unsur yg pertama, faktor komunikasi ini bahkan sanggup menyentuh semua aspek yg terjadi dlam proses tadi. Orang yg ingin belajar, tanpa berkomunikasi, tidak mungkin dpat melaksanakn keinginannya. Orang yg mempunyai prakarsa membelajarkan, tanpa berkomunukasi, tidak akn dpat mewujudkan prakarsanya. Semuanya membutuhkan komunikasi. Menurut Berlo (1960), belajar merupakn komunikasi. “berbicara tentang komunikasi dlam konteks personal artinya berbicara tentang bagaimana orang belajar” . tanpa media proses belajar bisa terjadi, terutama apabila terjadi balikan atau umpan balik darii pihak sasaran (komunikasi) kepadaa penyampai atau sumber pesan secara berlanjut. Apabila proses komunikasi tersebut timbulnya perubahan perilaku padaa pihak sasaran, terutama perubahan dlam domain kognitif, efektif, dan psikomotor, maka prosesnya sudah beradaa padaa suasana pendidikan. Istilah “komunikasi pendidikan” dan “komunikasi instruksional” .

1.      Pengertian pengelolaan kellas ialah suatu usaha yg dngan sengaja dilakukan guna    mencapai tujuan pengajaran. Kesimpulan sederhananya ialah pengelolaan kellas merupakn kegiatan pengaturan kellas untk kepentingan pengajaran.
2.      Tujuan Pengelolaan Kellas ialah menyediakn fasilitas bagi bermacam macam kegiatan belajar siswa dlam lingkungan sosial, emosional, dlam intelektual dlam kellas.
3.      Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kellas ialah Hangat dan Antusias, Tantangan, Bervariasi, Keluesan, Penekanan padaa hal-hal yg positif, Penanaman disiplin diri
4.      Dlam pengaturan ruang belajar, hal-hal yg diperhatikan ialah : Ukuran dan bentuk kellas, Bentuk serta ukuran bangku dan meja anak didik, Jumlah anak didik dlam kellas, Jumlah anak didik dlam setiap kelompok, Jumlah kelompok dlam kellas.
5.      Masalah Dlam Pengelolaan Kellas ialah: Kurang kesatuan, Tidak adaa standar perilaku dlam bekerja kelompok, Reaksi negatif terhadaap anggota kelompok, Kellas mentolerasi kekeliruan-kekeliruan temannya, Mudah mereaksi negatif atau terganggu misalnya didatangi monitor, Moral rendah, permusuhan, Tidak mampu menyesuaikan dngan lingkungan yg berubah.
6.      Beberapa pendpat tentang pendekatan komunikatif  ialah Penguasaan secara naluri, Pendekatan yg mengintegrasikan pengajaran, Pendekatan yg mendasarkan pandangannya terhadaap penggunaan bahasa sehari-hari secara nyata.
7.      Adaapun ciri-ciri pendekatan  Komunikatif ialah sebagai berikut :
a.       Adaanya kegiatan komunikasi fungsional dan interaksi sosial yg saling berkaitan erat
b.      Pembelajaran berorientasi padaa pemerolehan kompetensi komunikatif, bukan ketepatan gramatikal
c.       Pembelajaran diarahkan padaa modifikasi dan peningkatan murid dlam menemukan kaidah bahasa lewat kegiatan berbahasa
d.      Materi pembelajaran berangkat darii analisis kebutuhan berbahasa pembelajar
Pentingnya faktor afektif dlam belajar bahasa.

B.     Saran
Kami menyadaari akn kekurangan dlam makalah ini, maka pembaca dpat menggali kembali sumber-sumber lainnya, untk menyempurnaknnya. Jadi kami harapkan kritik yg membangun darii anda sekalian, untk kami lebih bisa baik dan sempurna lagi dlam pembuatan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembacanya.


DAFTAR PUSTAKA

Ivor K. Davies, Pengelolaan Belajar, Cv. Rajawali, Jakarta, 1991.
  Syaiful Bahri Djamarah, dkk, Strategi Belajar Mengajar I, Jakarta :Rineka Cipta, 2002.
  Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak didik dlam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka                                                                                                                         Cipta, 2002.
  Majid, Abdul. 2005. Perencanaan pembelajaran. Bandung: Rosda Karya.
  Popham, W. James. 1992. Teknik mengajar secara sistematis. Jakarta: Rineka Cipta.
  Setiawan, Conny dkk. 1985. Pengelolaan kellas. Jakarta: Gramedia.


Visitor