Psikologi Pembelajaran Matematika dan Implementasi dlm Pembelajaran Matematika dri Teori Thorndike, Teori Skinner, Teori Ausubel dan Teori Gagne


 BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakng
Satu-satunya sebab yg menjdi dasar bagi hidupnya suatu lapangan atau suatu cabang ilmu pengetahuan ialah, bahwa lapangan atau cabang ilmu pengetahuan tadi merasa hrus menunaikan suatu fungsi yg cukup penting. Jdi hendaknya setiap mahsiswa yg mempelajari psikologi pendidikan mengetahui tugas yg hrus dilaksanakn oleh psikologi pendidikan itu dan kemudian menguasai pola pengetahuan serta teknik – teknik yg penting dlm lapangan psikologi pendidkan. Sudah jelas agaknya, bahwa setiap orang dewasa yg normal dlm batas tertentu dpt dikatakn pasti melakukan pekerjaan mengajar dan hal ini terutama berlaku untk setiap orang tua, mau tidak mau setiap orang tua pasti hrus melakukan pekerjaan mengajar. Jdi setiap orang tua dan orang dewasa yg normal tentu akn dpt memetik faedah dri pelajaran psikologi pendidikan Setiap orang yg memengku jabatan keguruan paling sedikit hrus menganggap satu aspek dri psikologi pendidikan sebagai suatu pengetahuan yg hrus dikuasainya, artinya kalau ia ingin melakukan tugas keguruannya itu dgn sebaik – baiknya.

1.2     Rumusan Masalah
ü  Siapakah tokoh-tokoh pencetus psikologi Pembelajaran matematika ?
ü  Bagaimana bunyi teorinya ?
ü  Bagaimana implementasinya dlm pembelajaran matematika /

1.3     Tujuan
·         Mengenal tokoh-tokoh pencetus psikologi pembelajaran
·         Mengetahui teori-teorinya
·         Mampu mengetahui dan mengimplementasikan teori psikologi pembelajaran tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Psikologi Pembelajaran Matematika
Teori belajar disebut jga dgn psikologi belajar yaitu teori yg mempelajari perkembangan intelektual (mental) siswa. Di dlmnya terdiri atas dua hal, yaitu: pertama, uraian tentang apa yg terjdi dan diharapkan terjdi pda intelektual anak, dan yg kedua adlah uraian tentang kegiatan intelektual anak mengenai hal-hal yg bisa dipikirkan pda usia tertentu.
Teori belajar perlu kiranya untk diketahui dan dipahami untk kemudian menjdi dasar dlm melaksanakn proses pembelajaran. Para tokoh-tokoh terkemuka telah mengemukakn beberapa teori belajar yg mendasari pembelajaran yg berpusat pda peserta didik.
Dgn menguasai psikologi pembelajaran, seorang guru dpt mengetahui kemampuan yg telah dimiliki peserta didik, bagai mana proses berpikirnya, dan mampu menciptakn proses pembelajaran sesuai dgn kondisi dan tujuan yg diharapkan.
Di bawah ini akn dibahas 4 teori tentang tokoh-tokoh dlm psikologi pembelajaran matematika, yaitu :

2.1.1 Teori Throndike

 I.     Profil
Throndike lahir pda tahun 1874 di Williamsburg, Massachusert dgn nama lengkap Edward L. Thorndike, putra kedua dri seorang pendeta methodis. Pendidikan beliau di Wesleyan University dan lanjut ke Harvard University. Throndike meninggal pda umur 78 tahun atau tepatnya pda tahun 1949.
                Produktivitas ilmiah Throndike hampir sulit dipercaya. Pda saat dia meninggal tahun 1949 bibliografi.a mencakup 507 buku, monograf, dan artikel jurnal. Throndike tampaknya ingin mengukur segala hal dan autobiografinya, dia melaporkan bahwa sampai usia 60 tahun dia menghabiskan sekitar 20 jam sehari untk membaca dan mendlmi buku dan jurnal ilmiah meskipun dia terutama lebih merupakn sosok periset ketimbang sarjana ilmuan.

    II.     Teori Belajar Thorndike
Throndike mungkin adlah ahli teori belajar terbesar sepanjang masa. Dia bukan hanya merintis karya besar dlm teori belajar tetapi jga dlm bidang psikologi pendidikan, perilaku verbal, psikologi komparatif, uji kecerdasan, problem nature nurture, transfer training, dan aplikasi pengukuran kuantitatif untk problem sosiopsikologis.
                Salah satu risetnya dimulai dgn study telepati mental pda anak muda yg dijelaskan bagai deteksi bawah sadr anak terhadp gerakn kecil yg dilakukan oleh Experimenter dan riset yg selanjutnya menggunakn ayam, kucing, tikus ,anjing, ikan, kera, dan akhirnya manusia dewasa.
                Menurut teori trial and error (mencoba-coba dan gagal) ini, setiap organisme jikaa dihadpkan dgn situasi baru akn melakukan tindakn-tindakn yg sifatnya coba-coba secara membabi buta. Jikaa dlm usaha mencoba-coba itu secara kebetulan ad perbuatan yg dianggap memenuhi tuntutan situasi, makaa perbuatan yg kebetulan cocok itu kemudian “dipegangnya”. Krna latihan yg terus menerus makaa waktu yg dipergunakn untk melakukan perbuatan yg cocok itu makin lama makin efesien.
                Sebagai contoh kami kemukakn di sini percobaan Thorndike dgn seekor kucing yg dibuat lapar dimasukkan ke dlm kandang. Pda kandang itu dibuat lubang pintu yg tertutup yg dpt terbuka jikaa suatu pasak di pintu itu tersentuh. Di luar kandang diletakkan sepiring maknan (daging). Bagaimana reaksi kucing itu ? mula-mula kucing itu bergerak ke sana- ke mari mencoba-coba hendak ke luar melalui berbagai jeruji kandang itu. Lama kelamaan pda suatu ketika secara kebetulan tersentuhlah pasak lubang pintu oleh salah satu kakinya. Pintu kandang terbuka dan kucing itupun keluarlah menuju maknan.
                Percobaan diulang lagi. Tingkah laku kucing itupun pda mulanya sama seperti pda percobaan pertama. Hanya waktu yg diperlukan untk bergerak kesana-kemari sampai dpt terbuka lubang pintu, menjdi makin singkat. Setelah diadkn percobaan berkali-kali, akhirnya kucing itu tidak perlu lagi kian kemari mencoba-coba, tetapi langsung menyentuh pasak pintu dan terus keluar mendptkan maknan. 
Jdi, proses belajar menurut Thorndike melalui proses :
a)      Trial and error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan) dan
b)      Law of effect yg berarti bahwa segala tingkah laku yg berakibatkan suatu keadan yg memuaskan (cocok dgn tuntutan situasi ) akn diingat dan dipelajari dgn sebaik-baiknya.
Sedangkan segala tingkah laku yg berakibat tidak menyenangkan akn dihilangkan atau dilupaknnya. Tingkah laku ini terjdi secara otomatis. Otomatisme dlm belajar itu dpt dilatih dgn syarat-syarat tertentu, pda binatang jga pda manusia.
                Thorndike melihat bahwa organisme itu (jga manusia) sebagai mekanismus; hanya bergerak/bertindak jikaa ad perangsang yg mempengaruhi dirinya. Terjdinya otomatisme dlm belajar menurut Thorndike disebabkan adnya law of effect.
                Dlm kehidupan sehari-hari law of effect itu dpt terlihat dlm hal memberi penghargaan /ganjaran dan jga dlm hal memberi hukuman dlm pendidikan. Akn tetapi menurut Thorndike yg lebih memegang peranan dlm pendidikan ialah hal memberi penghargaan/ganjaran dan itulah yg lebih dianjurkan.
                Krna adnya law of effect terjdilah hubungan atau asosiasi antara tingkah laku/reaksi yg dpt mendatangkan sesuatu dgn hasilnya (effect). Krna adnya koneksi antara reaksi dgn hasilnya itu makaa teori Thorndike disebut jga Connectionism.
Teori belajar stimulus-respon yg dikemukakn oleh Thorndike disebut jga dgn koneksionisme. Teori ini menyatakn bahwa pda hakikatnya belajar merupakn proses pembentukkan hubungan antara stimulus dan respon.
Kelemahan teori ini adlah :
ü  Terlalu memandang manusia sebagai mekanismus dan otomatisme belaka disamakn dgn hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yg otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dpt dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak berlaku mutlak bagi manusia.
ü  Memandang belajar hanya merupakn asosiasi belaka antara stimulus dan respons. Sehingga yg dipentingkan dlm belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dgn latihan-latihan atau ulangan-ulangan yg terus-menerus.
ü  Krna proses belajar berlangsung secara mekanistis, makaa “pengertian” tidak dipandangnya sebagai suatu yg pokok dlm belajar. Mereka mengabaikan “pengertian” sebagai unsur yg pokok dlm belajar.
Thorndike mengemukakn bahwa terjdinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut:
(1)     Hukum kesiapan(Law of readiness)
Hukum kesiapan adlah prinsip tambahan yg menggambarkan taraf fisiologis bagi law of effect.Hukum ini menunjukkan keadan-keadan dimana pelajar cenderung untk mendptkan kepuasan atau ketidakpuasaan, menerima atau menolak sesuatu. Menurut Thorndike ad tiga keadan yg demikian itu, yaitu:
1.       Jikaa suatu unit konduksi sudah siap untk berkonduksi, makaa konduksi dgn unit tersebut akn memberi kepuasan, dan tidak akn ad tindakn-tindakn lain untk mengubah konduksi itu.
2.       Unit konduksi yg sudah siap untk berkonduksi apabila tidak berkonduksi akn
menimbulkan ketidak-puasan, dan akn menimbulkan respon-respon yg lain untk mengurangi atau meniadkn ketidak-puasan, dan akn berakibat dilakukannya tindakn-tindakn lain untk mengurangi atau meniadkn ketidak-puasan itu.
3.       Apabila unit konduksi yg tidak siap berkonduksi dipaksa untk berkonduksi, makaa konduksi itu akn menimbulkan ketidak-puasan, dan berakibat dilakukannya tindakn-tindakn lain untk mengurangi atau meniadkn ketidak-puasan itu.
Jdi, apabila kecenderungan bertindak itu timbul krna penyesuain diri atau hubungan dgn sekitar, krna sikap dan sebagainya, makaa  memenuhi kecendrungan itu di dlm tindakn akn memberikan kepuasan, dan dan tidak memenuhi kecendrungan tersebut akn menimbulkan ketidak-puasan. Jdi sebenarnya readiness itu adlah persiapan untk bertindak, ready to act.
Seorang anak yg mempunyai kecenderungan untk bertindak dan kemudian melakukan kegiatan, sedangkan tindaknnya itu mengakibatkan ketidakpuasan bagi dirinya, akn selalu menghindarkan dirinya dri tindakn-tindakn yg melahirkan ketidakpuasan itu.
Seorang anak yg tidak mempunyai kecenderungan untk bertindak atau melakukan kegiatan tertentu, sedangkan orang tersebut ternyata melakukan tindakn, makaa apa yg dilakukannya itu akn menimbulkan rasa tidak puas bagi dirinya. Dia akn melakukan tindakn lain untk menghilangkan ketidakpuasan tersebut.
Dri ciri-ciri di atas dpt disimpulkan bahwa seorang anak akn lebih berhasil belajarnya, jikaa ia telah siap untk melakukan kegiatan belajar.
(2)     Hukum latihan (law of exercise)
Hukum ini mengandung dua hal yaitu:
1.       Law of use: hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akn menjdi bertambah  
lemah atau terlupa kalau latihan-latihan atau penggunaan dihentikan.
2.       Law of disuse: hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akn menjdi bertambah lemah atau terlupa kalau latihan-latihan atau penggunaan dihentikan.
Interpretasi dri hukum ini adlah semakin sering suatu pengetahuan yg  telah terbentuk akibat terjdinya asosiasi antara stimulus dan respondilatih (digunakn), makaa  ikatan tersebut akn semakin kuat. Jdi, hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adlah pengulangan. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi makaa materi pelajaran tersebut akn semakin kuat tersimpan dlm ingatan (memori).
(3)     Hukum akibat (law of effect)
Law of effectini menunjukkan kepda makin kuat atau makin lemahnya hubungan sebagai akibat dri pda hasil respon yg dilakukan. Apabila suatu hubungan atau koneksi dibuat dan disertai atau diikuti oleh keadan yg memuaskan, makaa kekuatan hubungan itu akn bertambah, sebaliknya apabila suatu koneksi dibuat dan disertai atau diikuti oleh keadan yg tidak memuaskan, makaa kekuatan hubungan itu akn bertambah, sebaliknya apabila suatu koneksi dibuat dan disertai atau diikuti oleh keadan yg tidak memuaskan, makaa kekuatan hubungan itu akn berkurang. Konkretnya adlah sebagai berikut: Misalkan seorang siswa diminta untk menyelesaikan suatu soal matematika, setelah ia kerjakn, ternyata jawabannya benar, makaa ia merasa senang/puas dan akibatnya antara soal dan jawabannya yg benar itu akn kuat tersimpan dlm ingatannya. Hukum ini dpt jga diartikan, suatu tindakn yg diikuti akibat yg menyenangkan, makaa tindakn tersebut cenderung akn diulangi pda waktu yg lain. Sebaliknya, suatu tindakn yg diikuti akibat yg tidak menyenangkan, makaa tindakn tersebut cenderung akn tidak diulangi pda waktu yg lain. Dlm hal ini, tampak bahwa hukum akibat tersebut  ad hubungannya dgn pengaruh ganjaran dan hukuman. Ganjaran yg diberikan guru  kepda pekerjaan siswa (misalnya pujian guru terhadp siswa yg dpt menyelesaikan soal matematika dgn baik) menyebabkan peserta didik ingin terus melakukan kegiatan serupa. Sedangkan hukuman yg diberikan guru atas pekerjaan siswa (misalnya celaan guru terhadp hasil pekerjaan matematika siswa) menyebakn siswa tidak lagi mengulangi kesalahannya.Namun perlu diingat, sering terjdi, bahwa hukuman yg diberikan guru atas pekerjaan siswa justru membuat siswa menjdi malas belajar dan bahkan membenci pelajaran matematika.
 Perumusan mengenai law of effect banyak mendpt kritik. Pda pokoknya ad dua    
 macam keberatan yg diajukan keadan,
1.      Kepuasan dan ketidak-puasan itu adlah istilah subyektif, jdi tidaklah tepat untk menggambarkan tingkah laku hewan. Tetapi sebenarnya yg dimaksud dgn Thorndike sebagai keadan yg memuaskan dan tidak memuaskan itu adlah sebagai berikut: keadan yg tidak memuaskan itu adlah keadan dimana hewan tidak berusaha untk mempertahankannya, sering berusaha untk mengakhiri keadan tersebut. Keadan yg memuaskan adlah keadan dimana hewan tidak berusaha untk menghindrinya sering mengulang-ulanginya, jdi, kalau dikatakn bahwa Thorndike kurang obyektif itu sebenarnya adlah kurang tepat.
2.      Pengaruh (effect) dripda apa yg dialami atau terjdi di masa lampau yg dirasakn kini tidak dpt diterima, sebab apa yg lampau adlah sudah lampau, dan pengaruhnya tidak dpt dirasakn kini. Yg dimaksud oleh Thorndike mengenai hal ini adlah demikian:
Pengaruh (effect) itu ternyata di dlm kemungkinan terjdinya respon apabila situasi yg akn datang terjdi; tentang apakah pengaruh itu benar-benar terjdi atau tidak, adlah masalah observasi, jdi bukanlah hal yg hrus ditolak secara apriori.
Memang perumusan-perumusan Thorndike banyak mengandung kelemahan-kelemahan. Kalau dikatakn dgn kata-kata yg sederhana apa yg dimaksud oleh Thorndike itu adlah demikian : hadiah atau sukses akn berakibat dilanjutkannya atau diulanginya perbuatan yg membawa hadiah atau sukses itu, sedang hukuman atau kegagalan akn mengulangi tingkah laku yg membawa hukuman atau kegagalan itu.
Ketiga hukum yg telah dikemukakn itu adlah hukum-hukum primer (primary-laws). Kecuali ketiga hukum-hukum pokok atau hukum-hukum primer itu Thorndike mengemukakn pula lima macam hukum-hukum subside atau hukum-hukum minor (subsidiary laws, minor laws). Kelima hukum subsider tersebut merupakn prinsip-prinsip yg penting di dlm proses belajar, akn tetapi tidak sepenting hukum-hukum primer. Hubungan antara hukum-hukum pokok/primer dan hukum-hukum subsider itu tidak begitu jelas, dan dlm tulisan-tulisan Thorndike yg lebih kemudian hukum-hukum subsider tersebut kadng-kadng dipakai lagi. Adpun ke lima hukum subsider tersebut adlah:
1.        Law of multiple respon,
Merupakn langkah permulaan dlm proses belajar.  Melalui proses “ trial and error “ seseorang akn melakukan  bermacam – macam respons sebelum memperoleh respons yg tepat dlm memecahkan masalah yg di hadpi.
2.        Law of attitude (law of set, law of disposition),
Merupakn situasi di dlm diri individu yg menentukanapakah sesuatu itu menyenangkan atau tidak bagi individu  tersebut. Proses belajar individu dpt berlangsung dgn  baik, lancar, bila situasi menyenangkan dan terganggu bila  situasi tidak menyenangkan.
3.        Law of partial activity (law of prepotency element),
Merupakn prinsip yg menyatakn bahwa manusia memberikan respons hanya pda aspek tertentu sesuai dgn presepsinya dri keseluruhan situasi ( respons selektif ), dgn demikiaian orang dpt memberi respons yg berbeda pda stimulus yg sama.
4.        Law of respon by analog (law of assimilation), dan
Menurut thorndike, manusia dpt melakukan respon pda situasi yg belum dialami krna mereka dpt menghubungkan situasi yg baru yg belum pernah
dialami dgn situasi lama yg pernah mereka alami, selanjutnya terjdi perpindahan ( transfer ) unsur – unsur yg telah mereka kenal kepda situasi baru.

5.        Law of associative shifting.
Perpindahan Asosiasi adlah proses peralihan suatu situasi yg telah dikenal ke situasi yg belum dikenal secara bertahap, dgn cara ditambahkanya sedikit demi sedikit unsur – unsur ( elemen ) baru dan membuang unsur – unsur lama sedikit demi sedikit, yg menyebabkan suatu respons dipindahkan dri suatu situasi yg sudah dikenal ke situasi lain yg baru sama sekali.
Selain hukum-hukum di atas, Thorndike jga mengemukakn konsep transfer belajar yg disebutnya transfer of training. Konsep ini maksudnya adlah penggunaan pengetahuan yg telah dimiliki siswa untk menyelesaikan suatu masalah baru, krna di dlm setiap masalah, ad unsur-unsur dlm masalah itu yg identik dgn  unsur-unsur pengetahuan yg telah dimiliki. Unsur-unsur yg identik itu saling berasosiasi sehingga memungkinkan masalah yg dihadpi dpt diselesaikan.Unsur-unsur yg saling berasosiasi itu membentuk satu ikatan sehingga menggambarkan suatu kemampuan. Selanjutnya, setiap kemampuan hrus dilatih secara efektif dan dikaitkan dgn kemampuan lain.  Misalnya, kemapuan melakukan operasi aritmetik (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) yg telah dimiliki siswa, hruslah dilatih terus dgn mengerjakn soal-soal yg berikaitan dgn operasi aritmetik.Dgn demikian kemampuan mengerjakn operasi aritmetika tersebut menjdi mantap dlm pikiran siswa.Jdi, dpt disimpulkan bahwa transfer belajar dpt tercapai dgn sering melakukan latihan.
Eksperimen – eksperimen yg dilakukan oleh Thorndike banyak mengalami perkembangan sehingga timbulah revisi – revisi pda teorinya, antara lain:
a.    Hukum latihan ditinggalkan, krna ditemukan bila pengulangan saja tidak cukup untk memperkuat hubungan stimulus dgn respons, demikian pula tanpa ulangan belum tentu melemahkan hubungan stimulus – respons.
b.    Hukum akibat direvisi, krna dlm penelitianya lebih lanjut ditemukan bahwa hanya sebagian saja dri hukum ini yg benar. Dgn ini makaa untk hukum akibat dijelaskan, bila hadiah akn meningkatkan hubungan stimulus – respons, tetapi hukuman ( punisment ) tidak mengakibatkan efek apa – apa. Dgn revisi ini berarti Thorndike tidak menghendaki adnnya hukuman dlm belajar.
c.    Belongingness, yg intinya, syarat utama bagi terjdinya hubungan stimulus – respons bukannya kedekatan, tetapi adnya saling sesuai antara kedua hal tersebut. Dgn demikian situasi belajar akn mempengaruhi hasil belajar.
d.    Spread of Effeck, yg intinya dinyatakn, akibat dri suatu perbuatan yg dpt menular.

Ciri – Ciri Belajar Menurut Thorndike
Adpun beberapa ciri – ciri belajat menurut Thorndike, antara lain :
1. Ad motif pendorong aktivitas
2. Ad berbagai respon terhadp sesuatu.
3. Ad aliminasi respon - respon yg gagal atau salah
4. Ad kemajuan reaksi – reaksi mencapai tujuan dri penelitiannya itu.

2.1.2 Implementasi Teori Thorndike dlm Pembelajaran Matematika
Aplikasi teori Thorndike sebagai slaah satu aliran psikologi tingkah laku dlm pembelajaran tergantung dri beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yg tersedia. Setiap pembelajaran yg berpegang pda teori belajar behavioristik telah terstruktur rapi, dan mengarah pda bertambahnya pengetahuan pda siswa.Penerapan yg sebaiknya dilakukan dlm pembelajaran matematika adlah sebagai berikut:
a.    Sebelum memulai proses belajar mengajar, pendidik hrus memastikan siswanya siap mengikluti pembelajaran tersebut. Jdi setidaknya ad aktivitas yg dpt menarik perhatian siswa untk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
b.    Pembelajaran yg diberikan sebaiknya berupa pemebelajaran yg kontinu, hal ini dimaksudkan agar materi lampau dpt tetap diingat oleh siswa.
c.     Dlm proses belajar, pendidik hendaknya menyampaikan materi matematika denagn cara yg menyenangkan, contoh dan soal latihan yg diberikan tingkat kesulitannya bertahap, dri yg mudah sampai yg sulit. Hal ini agar siswa mampiu menyerap materi yg diberikan.
d.   Pengulangan terhadp penyampaian materi dan latihan, dpt membantu siswa mengingat materi terkait lebih lama.
e.    Supaya peserta didik dpt mengikuti proses pembelajaran, proses hars bertahap dri yg sederhana hingga yg kompleks.
f.    Peserta didik yg telah belajar dgn baik hrus segera diberi hadiah, dan yg belum baik hrus segera diperbaiki.
g.    Dlm belajar, motivasi tidak begitu penting, krna perilaku peserta didik terutama ditentukan oleh penghargaan eksternal dan bukan oleh intrinsic motivation. Yg lebih penting dri ini ialah adnya respon yg benar terhadp stimulus.
h.   Materi yg diberikan kepda peserta didik hrus ad manfaatnya untk kehidupan anak kelak setelah dri sekolah
i.    Thorndike berpendpt, bahwa cara mengajar yg baik bukanlah mengharapkan murid tahu bahwa apa yg telah di ajarkan, tetapi guru hrus tahu apa yg hendak diajarkan. Dgn ini guru hrus tahu materi apa yg hrus diberikan, respon apa yg diharapkan dan kapan hrus memberi hadiah atau membetulkan respons yg salah.
j.    Tujuan pendidikan hrus masih dlm batas kemampuan belajar peserta didik dan hrus terbagi dlm unit – unit sedemikian rupa sehingga guru dpt menerapkan menurut bermacam – macam situasi.

2.1.3    Teori Skinner

 I.     Profil
Skinner lahir di Susquehanna, Pensylvannia. Dia meraih gelar master pda tahun 1930 dan meraih Ph.D pda 1931 dri Harvard University gelar B.A. diperoleh dri Hamillton College, New york, dimana dia mengambil jurusan sastra inggris saat di Hamillton, Skinner makn siang bersama Robert Frost, seorang Penyair Besar amerika yg mendorong Skinner untk mengirimkan contoh tulisanya. Frost memuji 3 cerpen karangan Skinner, dan Skinner lalu memutuskan menjdi penulis. Keputusan ini ternyata mengecewakn ayahnya, Seorang pengacar yg berharap putranya menjdi pengacara jga
                Usaha awal Skinner menjdi seorang penulis banyak gagalnya sehingga dia mulai berfikir untk menjdi Psikiater. Dia akhirnya bekerja di industri batu bara sabgai penulis dokumen hukum. Buku pertamanya yg ditulis bersama ayahnya, berisi soal – soal dokumen hukum dan diberi judul “ A Digest of Decisions of the Anthracite Board of Conciliation”. Setelah menyelesaikan buku ini Skinner pindah ke Greenwich village di New York City dimana dia hidup seperti Bohemian (Seniman yg nyentrik) selama 6 bulan sebelum masuk Harvard untk mempelajari Psikologi. Pda saat itu dia sudah tidak suka dgn dunia tulisan sastra. Dlm autobiografinya (1967) dia mengatakn, “Saya gagal menjdi penulis krna saya tidak punya sesuatau yg penting untk dikatakn, namun saya tidak bisa menerima penjelasan ini rasanya kesusastraan itulah yg salah”. Saat dia gagal mendeskripsikan perilaku manusia lewat karya sastra, Skinner berusaha mendeskripsikan perilaku manusia lewat ilmu pengetahuan. Jelas, dia lebih sukses didlm bidang pengetahuan ini.
Skinner mengajar psikologi di University Of Minnesota antara 1936 dan 1945, dan selama masa ini dia menulis buku teksnya yg amat berpengaruh, The Behafior of Organisms 1938. Salah satu mahasiswa Skinner di University of Minnesota adlah W. K. Estes, yg karyanya jga memengaruhi psikologi. Pda 1945, Skinner pindah ke Indiana University untk menjabat ketua jurusan fakultas psikologi. Pda 1948 dia kembali ke Harvard dan tetap di sana sampai akhir hayatnya pda 1990.

    II.     Teori Skinner
Belajar menurut pandangtan Skinner adlah suatu perubahan dlm kemungkinan atau peluang terjdinya respons.Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yg terjdi melalui interaksi dgn lingkungannya, yg kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku.
Teori pembiasaan perilaku respons ini merupakn teori belajar yg berusia paling muda dan masih sangat berpengaruh di kalangan para ahli psikologi belajar masa kini. Penciptanya bernama Burrhus Fredic Skinner.
Dlm salah satu eksperimennya, skinner menggunakn seekor tikus yg ditempatkan dlm sebuah peti yg kemudian terkenal dgn nama “ Skinner Box” peti sangkar ini terdiri atas 2 macam komponen pokok, yakni: manipulandum adlah komponen yg dpt dimanipulasi dan geraknnya berhubungan dgn reinforcement.
Dlm eksperimen tadi mula-mula tikus itu mengeksplorasi peti sangkar dgn cara lari ke sana kemari, mencium benda-benda yg ad di sekitarnya, mencakar dinding,dsb. Aksi-aksi seperti ini disebut “emitted behavior: (tingkah laku yg terpancar), yakni tingkah laku yg terpancar dri organisme tanpa mempedulikan srimulus tertentu.kemudian pda gilirannya, secara kebetulan salah satu emitted behavior tersebut (seperti cakaran kaki depan atau sentuhan moncong) dpt menekan pengungkit. Tekanan pengungkit ini mengakibatkan munculnya butir-butir maknan ke dlm wadhnya.
Jelas sekali bahwa eksperimen skinner di atas mirip sekali dgn trial and error learning yg ditemukan oleh Thorndike. Dlm hal ini, fenomena tingkah laku belajar menurut Thorndike selalu melibatkan kepuasan, sedangkan menurut skinner fenomena tersebut melibatkan penguatan.
Dlm teori Skinner dinyatakn bahwa penguatan terdiri atas penguatan positif dan penguatan negatif. Contoh penguatan positif diantaranya adlah pujian yg diberikan pda anak setelah berhasil menyelesaikan tugas dan sikap guru yg bergembira pda saat anak menjawab pertanyaan.
Menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yg terpenting dlm belajar adlah adnya penguatan (reinforcement ) dan hukuman (punishment).Penguatan dan Hukuman. Penguatan (reinforcement) adlah konsekuensi yg meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akn terjdi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adlah konsekuensi yg menurunkan probabilitas terjdinya suatu perilaku.
Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat, penguatan dibagi menjdi dua bagian yaitu :
a. Penguatan positif adlah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat krna diikuti dgn stimulus yg mendukung (rewarding). Bentuk-bentuk penguatan positif adlah berupa hadiah (permen, kado, maknan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
b. Penguatan negatif, adlah penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons meningkat krna diikuti dgn penghilangan stimulus yg merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Skinner membedakn adnya 2 macam respons, yaitu :
a.         Respondent respons; respons yg ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu.
Contohnya : keluar air liur setelah setelah melihat maknan tertentu .
b.        Operant respons yaitu respons yg timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yg demikian itu disebut reinforcer, krna perangsang itu memperkuat respon yg telah dilakukan oleh organisme. Jdi yg demikian itu mengikuti (dan krnanya memperkuat) sesuatu tingkah laku tertentu yg telah dilakukan. Seorang anak yg belajar (telah melakukan perbuatan) lalu mendpt hadiah, makaa ia akn menjdi lebih giat belajar (responnya menjdi lebih kuat).
Di dlm kenyataan, respon jenis pertama (respondent response) sangat terbatas adnya pda manusia. Sebaliknya operant response merupakn bagian terbesar dri tingkah laku manusia dan kemungkinan untk memodifikasinya hampir tak terbatas. Oleh krna itu, skinner lebih memfokuskan pda respons atau jenis tingkah laku yg kedua ini.
Skiner menambahkan bahwa jikaa respon siswa baik (menunjang efektivitas pencapaian tujuan) hrus segera diberi penguatan positif agar respon tersebut lebih baik lagi, atau minimalnya perbuatan baik itu dipertahankan.
Skinner menyebutkan praktek khas menempatkan binatang percobaan dlm “kontigensi terminal”. Maksudnya, binatang itu hrus berusaha penuh resiko, berhasil atau gagal, dlm mencari jalan lepas dri kurungan atau maknan. Bukannya demikian itu prosedur yg mengena ialah membentuk tingkah-laku binatang itu melalui urutan Sitimulus-respon-penguatan yg diatur secara seksama.
Skinner menggambarkan praktek “tugas dan ujian” sebagai suatu contoh menempatkan pelajar yg manusia itu dlm kontigensi terminal jga. Skinner menyarankan penerapan cara pemberian penguatan komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pda stimulus dan melakukan studi yg cocok terhadp tingkah laku. Hukuman hrus dihindri krna adnya hasil sampingan yg bersifat emosional dan tidak menjamin timbulnya tingkah laku positif yg diinginkan. Analisa yg dilakukan Skinner tersebut diatas meneliti peran penguat berkondisi dan alami, penguat positif dan negative, dan penguat umum.
Dgn demikian beberapa prinsip belajar yg dikembangkan oleh Skinner antara lain:
a.  Hasil belajar hrus segera diberitahukan kepda siswa, jikaa salah dibetulkan, jikaa benar  diberi penguat.
b.  Proses belajar hrus mengikuti irama dri yg belajar.
c.  Materi pelajaran, digunakn sistem modul.
d.  Dlm proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
e. Dlm proses pembelajaran, tidak digunakn hukuman. Namun ini lingkungan perlu diubah, untk menghindri adnya hukuman.
f. Tingkah laku yg diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan dgn digunaknnya jadwal variable rasio reinforce
g.  Dlm pembelajaran, digunakn shaping.
Disamping itu pula dri eksperimen yg dilakukan B.F. Skinner terhadp tikus dan selanjutnya terhadp burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
  1. Law of operant conditining yaitu jikaa timbulnya perilaku diiringi dgn stimulus penguat, makaa kekuatan perilaku tersebut akn meningkat.
  2. Law of operant extinction yaitu jikaa timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning  itu tidak diiringi stimulus penguat, makaa kekuatan perilaku tersebut akn menurun bahkan musnah.
Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori kondisioning operan menurut Skinner adlah :
1.       Mempelajari keadan kelas berkaitan dgn perilaku siswa
2.       Membuat daftar penguat positif
3.       Memilih dan memnentukan urutan tingkah laku yg dipelajari serta jenis penguatnya
4.       Membuat program pembelajaran berisi urutan perilaku yg dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku dan evaluasi.
Teori Skinner sangat berpengaruh terhadp pendidikan, khususnya dlm lapangan metodologi dan teknologi pembelajaran. Program-program inovatif dlm bidang pengajaran sebagian besar disusun berdasarkan teori Skinner.
Dewasa ini teori skinner sangat besar pengaruhnya, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara pengaruhnya. Di dlm dunia pendidikan, khususnya dlm lapangan metodologi dan teknologi pengajaran, pengaruh ini sangat besar. Program-program inovatif dlm bidang pengajaran sebagian besar disusun berdasar atas teori Skinner tersebut.
2.1.4.                      Implementasinya dlm Pembelajaran matematika
Beberapa aplikasi teori belajar Skinner dlm pembelajaran adlah sebagai berikut:
a.       Bahan yg dipelajari dianalisis sampai pda unit-unit secara organis.
b.      Hasil berlajar hrus segera diberitahukan kepda siswa, jikaa salah dibetulkan dan jikaa benar diperkuat.
c.       Proses belajar hrus mengikuti irama dri yg belajar. Materi pelajaran digunakn sistem modul.
d.      Tes lebih ditekankan untk kepentingan diagnostik.
e.      Dlm proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
f.        Dlm proses pembelajaran tidak dikenakn hukuman.
g.       Dlm pendidikan mengutamakn mengubah lingkungan untk mengindri pelanggaran agar tidak menghukum.
h.      Tingkah laku yg diinginkan pendidik diberi hadiah.
i.         Hadiah diberikan kadng-kadng (jikaa perlu)
j.        Tingkah laku yg diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
k.       Dlm pembelajaran sebaiknya digunakn pembentukan (shaping).
l.         Mementingkan kebutuhan yg akn menimbulkan tingkah laku operan.
m.    Dlm belajar mengajar menggunakn teaching machine.
n.      Melaksanakn mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing krna tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau  tamat sekolah dlm waktu yg berbeda-beda.
2.1.5. Teori Ausubel
        I.            Profil
David  Paul Ausubel  ( 1918 – 2008 ) merupakn seorang ahli Psikologi Pendidikan, Sains kognitif, dan jga pembelajaran pendidikan sains. Lahir pda 25 Oktober 1918 dan dibesarkan di Brooklyn, New York Amerika Serikat . Beliau mendpt Pendidikan di Universitas Pennsylvania dan mendpt  ijazah kehormatan pda tahun  1939 dlm bidang Psikologi kemudian Ausubel menamatkan pelajaranya di sekolah kesehatan di Universitas Middlesex dan ikut dlm bagian kemiliteran Amerika serikat dlm hal ini dibagian kesehatan umum dan mampu memperoleh gelar M. A. dan P.Hd. di jurusan Pengembangan  Psikologi dri Universitas Columbia dan melanjutkan gelar profesornya dlm beberapa Universitas lain.
Ditahun 1973 dia berhenti dri dunia akademisi dan melanjutkan hidupnya untk mengabdikan diri dlm bidang praktik pskiatris, semasa dia menjalani praktik psikiatris dia berhasil menerbitakn beberapa buku dan jga artikel di jurnal tentang praktik psikiatris dan jga psikologi. Di tahun 1976 dia menerima Penghargaan Thorndike  dri Asosiasi Psikologi Amerika untk “ Penghargaan terhormat Psikologi untk Pendidikan”.
Ditahun 1994 dia meninggalkan dunia kehidupan seorang Psikolog Professional dan memfokuskan dirinya untk menulis hingga di akhir hayatnya dia meninggalkan seorang istri bernama Pearl dan 2 orang anak bernama Fred dan Laura Ausabel.
      II.            Teori Pembelajaran Ausubel
David Ausubel adlah seorang ahli psikologi pendidikan. Teori pembelajaran Ausubel merupakn  salah satu  teori pembelajaran yg menjdi dasar dlm pembelajaran koperatif.  Menurut Ausubel  bahan subjek yg dipelajari kanak-kanak mestilah bermakna (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakn suatu proses mengaitkan informasi baru pda konsep-konsep relevan yg terdpt dlm  struktur kognitif seseorang.
Pembelajaran bermakna jga adlah satu proses pembelajaran yg mana informasi baru dihubungkan dgn struktur pengertian yg sudah dimiliki seseorang kanak-kanak yg sedang melalui proses pembelajaran. Pembelajaran bermakna terjdi apabila seorang kanak-kanak dpt mengaitkan  fenomena baru ke dlm struktur pengetahuan mereka.  Ini berarti bahan subjek itu mestilah  sesuai dan  relevan dgn struktur kognitif yg dimilikinya.
Selanjutnya Ausubel mengatakn bahwa ad dua jenis pembelajaran, ialah pembelajaran bermakna (meaningful  learning) dan pembelajaran menghafal (rote learning). Bahan pelajaran yg dipelajari hruslah bermakna.  Pembelajaran menghafal adlah tidak bermakna kerana kanak-kanak memperoleh pengetahuan baru tanpa mengaitkannya dgn pengetahuan sedia ad dlm struktur kognitif mereka. Seseorang kanak-kanak sehrusnya  belajar dgn menoganisasikan fenomena, pengalaman dan fakta-fakta baru ke dlm  skemata yg telah dipelajari. 
Ausubel jga mendakwa bahawa faktor paling penting yg mempengaruhi pembelajaran adlah apa yg kanak-kanak telah mengetahui.  Oleh itu, mengenal pasti pengetahuan sedia ad kanak-kanak adlah satu tugas yg penting sebelum guru memulakn sesuatu pengajaran.
a.                             Pembelajaran Verbal dgn Penyusunan Awal 
Penyusunan Awal (Advance Organizers) telah diperkenalkan oleh Ausubel
untk  menyesuaikan skema kanak-kanak  dgn bahan pembelajaran, supaya pembelajaran optima  berlaku.  Salah satu strategi untk memastikan wujudnya kesesuaian tersebut ialah  memulakn pembelajaran berpandukan kepda “penyusunan awal”. Ia merupakn  struktur yg menerangkan hubungan antara konsep-konsep yg hendak disampaikan pda hari tersebut.
Fungsi penyusunan awal ialah untk menjelaskan kepda kanak-kanak tentang  perkara-perkara yg perlu difahami bagi sesuatu tajuk pelajaran. Penyusunan awal  jga boleh menghubungkan konsep baru dgn konsep yg telah dipelajari. Jdi  terdpt tiga tujuan  penggunaan penyusunan awal, yaitu memberi gambaran tentang  apa yg penting dlm pelajaran, menjelaskan hubungan antara konsep yg akn dihuraikan dan menggerakkan minda pelajar untk ingat semula konsep berkaitan yg telah dipelajari. Ausubel mementingkan penyusunan konsep dlm satu bentuk pengetahuan yg disusun secara  hirarki  iaitu dri konsep yg umum ke spesifik. Konsep tersebut  adlah tersusun dan dikaitkan secara bermakna. Ide yg umum dlm subjek itu sepatutnya dipersembahkan dahulu dan dijelaskan secara terperinci dri segi butirannya.
Ausubel jga mengemukakn pembelajaran verbal (lisan) bermakna (meaningful verbal learning), termasuk pentingnya maklumat lisan, idea dan hubungan antara idea yg dikenali sebagai Konsep Penyusunan Awal.

Bagaimanapun, hafalan (rote memorization) tidak dianggap sebagai pembelajaran bermakna.
b.    Pembelajaran Ekspositori/ Deduktif
David Ausubel  mengemukakn teori pembelajaran yg menyatakn bahwa manusia memperoleh ilmu kebanyaknnya dlm bentuk  pembelajaran resepsi dan bukan  pembelajaran penemuan. Model pembelajaran ini kadng-kadng dikenali sebagai Model Pembelajaran Ekspositori atau deduktif.  
Teori  pembelajaran ekspositori yg dikemukakn oleh Ausubel menekankan penerangan bahan pembelajaran oleh guru dlm bentuk fakta yg tersusun dan dijelaskan mengikut urutan serta dgn fakta yg lengkap. Ausubel menegaskan pembelajaran  sepatutnya berkembang dlm bentuk  deduktif dripda umum kepda spesifik atau dripda prinsip kepda contoh.  Tugas guru ialah menyusun konsep dan prinsip untk dipersembahkan kepda  pelajar.
2.1.6 Implementasi Teori Ausubel untk Mengajar          
Teori  pembelajaran dan pengajaran Ausubel boleh digunakn dlm pengajaran  sains  sekolah rendah  dgn memberikan perhatian kepda dua perkara berikut:
·      Ausubel mencadngkan supaya guru menggunakn pembelajaran  deduktif atau  pengajaran ekspositori krna guru dpt menyampaikan maklumat yg lengkap dlm susunan yg teratur supaya  kanak-kanak dpt memahami keseluruhan konsep.
·   Menggunakn penyusunan awal dlm pengajaran untk menggalakkan kanak-kanak   mengingati  semula konsep yg telah dipelajari dan mengaitkannya dgn konsep baru yg akn dipelajari serta mengingatkan mereka tentang perkara-perkara penting dlm sesuatu tajuk pelajaran.

2.1.7 Teori Gagne
I. Profil
Robert Mills Gagne (21 Agustus 1916 – 28 April 2002), Gagne lahir diAndover Utara, Massachusetts.25 Ia mendptkan gelar A.B dri Universitas Yalepda tahun 1937 dan gelar Ph.D dri Universitas Brown pda tahun 1940. Diaadlah seorang Professor dlm bidang psikologi dan psikologi pendidikan diConnecticut College khusus wanita (1940-1949), Universitas Negara bagianPensylvania (1945-1946), Professor di Departemen penelitian pendidikan diUniversitas Negara bagian Florida di Tallahasse mulai tahun 1969. Gagne jgamenjabat sebagai direktur riset untk angkatan udara (1949-1958) di Lackland,Texas dan Lowry, Colorado. Ia pernah bekerja sebagai konsultan dri departemenpertahanan (1958-1961) dan untk dinas pendidikan Amerika Serikat (1964-1966), selain itu ia jga bekerja sebagai direktur riset pda Institut penelitianAmerika di Pittsburgh (1962-1965).Hasil kerja Gagne memiliki pengaruh besar pda pendidikan Amerika danpda pelatihan militer dan industri. Gagne dan L. J. Briggs ad diantara pengembangan awal dri teori desain sistem instruksional yg menunjukkanbahwa semua komponen dri pelajaran atau periode instruksi dpt dianalisis dan semua komponen yg dpt dirancang untk beroperasi bersama-sama sebagai suatu rencana untk pengajaran.

II. Teori Gagne
Teori Pembelajaran Gagne memperkenalkan  5 jenis atau peringkat pembelajaran. Setiap jenis atau peringkat pembelajaran itu memerlukan arahan yg berlainan. Faktor  luaran dan dlman adlah berbeda mengikut setiap peringkat /jenis pembelajaran. Keberkesanan utama pembelajaran pda peringkat ini adlah untk mengenal pasti keperluan dan pengisian bagi melengkapkan pembelajaran peringkat tersebut.
Menurut gagne belajar merupakn kegiatan yg kompleks, dan hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebabkan :
1.       Stimulasi yg berasal dri lingkungan
2.       Proses kognitif yg dilakukan oleh pelajar
Dgn demikian dpt ditegaskan, belajar adlah seperangkat proses kognitif yg mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi dan menjdi kapabilitas baru.
Gagne (1970) mengemukakn bahwa belajar adlah perubahan yg terjdi dlm kemampuan manusia yg terjdi setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.belajar terjdi apabila suatu situasi stimulus bersama dgn isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dri waktu sebelum ia mengalami situasi ituke waktu setelah ia mengalami situasi tadi. Gagne berkeyakinan, bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dlm diri dan faktor luar diri dimana keduanya saling berinteraksi. Komponen-komponen dlm proses belajar menurut Gagne (1970) dpt digambarkan sebagai Stimulus (S)-----Respon). S yaitu situasi yg memberi stimulus, sedangkan R adlah respons atau stimulus itu, dan garis diantaranya adlah hubungan antara stimulus dan respon yg terjdi dlm diri seseorang yg tidak dpt kita amati, yg bertalian dgn sistem alat syaraf dimana tejdi transformasi perangsang yg diterima melalui alat dria. Stimulus itu merupakn input yg berad diluar individu, sedangkan respons adlah outputnya, yg jga berad diluar individu sebagai hasil belajar yg dpt diamati (Nasution, 2000:136).
Menurut Gagne belajar terdiri dri tiga komponen penting yakni kondisi eksternal yaitu stimulus dri lingkungan dlm acara belajar. Kondisi internal yg menggambarkan keadan internal dan proses kognitif siswa, dan hasil belajar yg menggambarkan informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif. Kondisi internal belajar iniberinterkasi dgn kondisi eksternal belajar, dri interaksi tersebut tampaklah hasil belajar.
Menurut Gagne ad tiga tahap dlm belajar yaitu (1) persiapan untk belajar dgn melakukan tindakn mengarahkan perhatian, pengharapan, dan mendptkan kembali informasi; (2) pemerolehan dan unjuk perbuatan (performansi) digunakn untk persepsi selektif sandi semantik, pembangkitan kembali, respon, dan penguatan; dan (3) alih belajar yaitu pengisyaratan untk membangkitkan dan memberlakukan secara umum (Dimyati dan Mujiono, 1999:12).

Tabel: 1.1
Hubungan antara Fase Belajar dan Acara Pembelajaran
Permberian Aspek Belajar
Fase Belajar
Acara Pembelajaran
Persiapan untk belajar
1.    Mengarahkan perhatian



2.    Ekspentansi

3.    Retrival (informasi dan keterampilan yg relevan untk memori kerja)
Menarik perhatian siswa dgn kejdian yg tidak seperti biasanya, pertanyaan atau perubahan stimulus.
Memberitahu siswa mengenai tujuan belajar
Merangsang siswa agar mengingat kembali hasil belajar (apa yg telah dipelajari) sebelumnya.
Pemerolehan dan unjuk perbuatan
4.    Persepsi selektifatas sifat stimulus
5.    Sandi simantik
6.    Retrival dan respons
7.    Penguatan
Menyiapkan stimulus yg jelas sifatnya
Memberikan bimbingan belajar
Memunculkan perbuatan siswa
Memberikan balikan informatif
Retrival dan alih belajar
8.    Pengisyaratan
9.    Pemberlakuan secara umum
Menilai perbuatan siswa
Meningkatkan retensi dan alih belajar

Peran aspek belajar adlah hal-hal yg erat kaitannya dgn belajar mempunyai hubungan dgn fase belajar dlm implementasinya dilakukan dlm acara pembelajaran.
Gagne mengemukakn 8 tipe belajar yg membentuk suatu hierarki dri paling sederhana sampai paling kompleks yakni :
1)        Belajar tanda-tanda atau isyarat (Signal Learning)
2)        Belajar hubungan stimulus-respons dimana respons bersifat spesifik, tidak umum dan kabur.
3)        Belajar menguasai rantai atau rangkaian hal .
4)        Belajar hubungan verbal atau asosiasi verbal
5)        Belajar membedakn berbagai gejala-gejala.
6)        Belajar konsep-konsep yaitu corak belajar yg dilakukan dgn menentukan ciri-ciri yg khas yg ad dan memberikan sifat tertentu pula pda berbagai objek.
7)        Belajar aturan atau hukum-hukum
8)        Belajar memecahkan masalah.

Asas-asas Robert gagne merupakn hasil dri pencariannya akn faktor-faktor yg berpengaruh pda hakikat belajar yg kompleks yg terjdi pda diri seseorang. Risetnya dimulai pda tahun 1960-an, ketika timbul rasa kekecewaan atas “teori belajar yg besar”.
Penelitiannya dilakukan terhadp masalah pelatihan di kalangan militer menunjukkan bahwa penguatan, penyebaran hal berlatih, dan pembiasaan untk mengenal respons ternyata tidak memadi untk merancang keperluan pengajaran. Penyelidikan-penyelidikan ini merupakn awal dri karya penelitian Gagne dlm landasan psikologis dri pembelajaran yg efektif.
Adpun analisa yg dilakukan Gagne dimulai dgn konsep tentang hirarki belajar, yaitu, keterampilan-keterampilan tertentu yg diperlukan bagi belajar keterampilan-keterampilan yg rumit. Kemudian ia menemukan lima golongan belajar yg khas dan yg menguraikan baik peristiwa lingkungan maupun tahap-tahap pengolah informasi yg diperlukan bagi setiap golongan belajar.
Berdasarkan analisisnya tentang kejdian-kejdian belajar, Gagne (Dahar, 1991:143-145) menyarankan adnya kejdian-kejdian instruksi yg ditujukan pda guru dlm menyajikaan suatu pelajaran pda sekelompok siswa.

Kejdian-kejdian instruksi itu adlah:

1. Mengaktifkan Motivasi
Langkah pertama dlm pembelajaran adlah memotivasi para siswa untk belajar. Kerap kali ini dilakukan dgn membangkitkan perhatian mereka dlm isi pelajaran, dan mengemukakn kegunaannya.
2. Memberitahu Tujuan-tujuan Belajar

Kejdian instruksi kedua ini sangat erat kaitannya dgn kejdian instruksi pertama.Sebagian dri mengaktifkan motivasi para siswa ialah dgn memberitahu mereka tentang mengapa mereka belajar, apa yg mereka pelajari, dan apa yg akn mereka pelajari.Memberi tahu tujuan belajar jga menolong memusatkan perhatian para siswa terhadp aspek-aspek yg relevan tentang pelajaran.
3. Mengarahkan Perhatian

Gagne mengemukakn dua bentuk perhatian. Bentuk perhatian pertama berfungsi untk membuat siswa siap menerima stimulus-stimulus. Bentuk kedua dri perhatian disebut persepsi selektif. Dgn cara ini siswa memperoleh informasi yg mana yg akn diteruskan ke memori jangka pendek, cara ini dpt ditolong dgn cara mengeraskan suara pda suatu kata atau menggaris bawah suatu kata atau beberapa kata dlm satu kalimat.
4. Merangsang Ingatan

Menurut Gagne bagian yg paling kritis dlm proses belajar adlah pemberian kode pda informasi yg berasal dri memori jangka pendek yg disimpan dlm memori jangka panjang. Guru dpt berusaha untk menolong siswa-siswa dlm mengingat atau mengeluarkan pengetahuan yg disimpan dlm memori jangka panjang itu.Cara menolong ini dpt dilakukan dgn mengajukan pertanyaan-pertanyaanpda siswa, yg merupakn suatu cara pengulangan.

5. Menyediakn Bimbingan Belajar

Untk memperlancar masuknya infomasi ke memori jangka panjang, diperlukan bimbingan langsung dlm pemberian kode pda informasi. Untk mempelajari informasi verbal, bimbingan itu dpt diberikan dgn cara mengkaitkan informasi baru itu dgn pengalaman siswa.
6. Meningkatkan Retensi

Retensi atau bertahannya materi yg di pelajari (jdi tidak terlupakn) dpt diusahakn oleh guru dan siswa itu sendiri dgn cara sering mengulangi pelajaran itu. Cara lain adlah dgn memberi banyak contoh, menggunakn tabel-tabel, menggunakn diagram-diagram dan gambar-gambar.
7. Melancarkan Transfer Belajar

Tujuan transfer belajar adlah menerapkan apa yg telah dipelajari pda situasi baru. Untk dpt melaksanakn ini para siswa tentu diharapkan telah menguasai fakta-fakta, konsep-konsep, dan keterampilan-keterampilan yg dibutuhkan.
8. Mengeluarkan Penampilan dan Memberikan Umpan Balik

Hasil belajar perlu diperlihatkan melalui suatu cara, agar guru dan siswa itu sendiri mengetahui apakah tujuan belajar telah tercapai. Untk itu sebaiknya guru tidak menunggu hingga seluruh pelajaran selesai. Sebaiknya guru memberikan kesempatan sedini mungkin pda siswa untk memperlihatkan hasil belajar mereka, agar dpt diberi umpan balik, sehingga pelajaran selanjutnya berjalan dgn lancar. Cara-cara yg dilakukan adlah pemberian tes atau mengamati perilaku siswa umpan balik bila bersifat positif menjdi pertanda bagi siswa bahwa ia telah mencapai tujuan belajar.
                Penampilan-penampilan yg dpt diamati sebagai hasil belajar menurut Gagne disebut keterampilan-keterampilan. Hasil-hasil belajar dpt berupa keterampilan-keterampilan intelektual yg memungkinkan seseorang berinteraksi dgn lingkungan melalui penggunaan simbol-simbol atau gagasan gagasan, strategi-strategi kognitif yg merupakn proses-proses kontrol dan dikelompokkan sesuai fungsinya.
Kegiatan belajar memecahkan masalah ini biasanya meliputi 5 langkah yaitu :
1)        Mengidentifikasi masalah
2)        Merumuskan dan membatasi masalah
3)        Menyusun pertanyaan-pertanyaan
4)        Mengumpulkan data
5)        Analisis dri sejumlah permasalahan belajar tersebut sehingga dpt merumuskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting mengenai belajar serta penarikan kesimpulan.
Kemampuan dan ketekunan guru dlm memecahkan masalah belajar siswanya dgn menggunakn langkah-langkah tersebut, amat penting sebagai upaya yg dpt membantu memecahkan masalah belajar peserta didiknya. Pemecahan masalah belajar berimplikasi pda keberhasilan belajar yg terukur dan jga mutu belajar ditandai dgn  mutu lulusan yg kompetitif. Uraian di atas memberi penegasan bahwa belajar menurut Gagne adlah seperangkat proses kognitif yg mengubah sifat stimulasi lingkungan melewati pengelolaan informasi, dan menjdi kapabilitas baru. Interaksi belajarnya melalui stimulus melalui kondisi eksternal dri pendidik yg dpt direspons kondisi internal dan proses kognitif siswa.

Ø  Kondisi Belajar Robert Gagne
1.       Asas Belajar
Menurut Gagne (1974,1977a), kunci bagi pengembangan teori belajar yg bersifat menyeluruh ialah mengenali faktor-faktor yg memperjelas sifat yg rumit belajarnya seseorang. Gagne memulai proses belajar dgn melakukan kupasan atas berbagai performasi dan keterampilan yg dilakukan orang dan kemudian memberikan penjelasan atas adnya keragaman ini.

2.       Asumsi Dasar
Asumsi yg dipakai sebagai dasar bagi usaha Gagne berasal dri hakikat belajarnya orang, dan ciri-ciri khusus dri proses belajar yaitu:
Hakikat Belajar Orang. Unsur  yg merupakn factor dlm konsepsi belajar menurut Gagne yaitu hubungan antara belajar dan perkembangan keanekaan belajar yg ad pda diri seseorang.
Belajar dan Perkembangan Manusia. Menurut model pertumbuhan kesiapan, pola pertumbuhan tertentu hrus terjdi sebelum belajar ad manfaatnya. Dan menurut model Piaget memberikan perkembangan intelek sebagai internalisasi dri bentuk berfikir logis yg berkembang kea rah yg makin lama makin rumit. Sedangkan model yg dijelaskan Gagne memberikan peranan utama pda belajar. Menurut pandangannya, belajar itu merupakn faktor yg luas yg dibentuk oleh pertumbuhan, perkembangan dri tingkah laku itu merupakn hasil dri efek komulatif dri belajar.
Model Belajar Komulatif. Belajar komulatif artinya banyak keterampilan yg telah dipelajari memberikan sumbangan bagi belajar keterampilan yg bahkan lebih rumit.
Keanekaan Belajar Orang. Menurut pandangan Gagne, teori-teori belajar yg ad sebelumnya itu hanya memberikan gambaran terbatas mengenai hakikat ikhwal belajar pda manusia.
Batasan Belajar. Kapasitas orang untk belajar memungkinkan diperolehnya berbagai pola tingkah laku yg hampir-hampir tidak ad batasnya.

3.       Komponen Belajar
Kupasan Gagne atas belajar yg terjdi pda manusia menemukan adnya lima golongan atau ragam belajar. Kelimanya ialah informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, dan siasat kognitif. Ragam belajar ini menggambarkan kapabilitas dan untk perbuatan (performansi) yg berlainan.

Ø  Penerapan Pendidikan
Konsep hirarki belajar dan penggunaan analisa tugas itu telah menjdi bagian padu dri rancangan kurikulum untk pengembangan belajar di sekolah melalui berbagai mata ajaran sekolah.
Berbagai teknik penelitian telah dilakukan untk menyelidiki keterampilan-keterampilan hirarki. Dijalankannya penelitian ini telah menunjukkan bahwa keterampilan intelek yg diketahui secara tepat dpt membantu penguasaan belajar keterampilan yg lebih kompleks sifatnya.

Ø  Soal-soal Pembelajaran di Kelas
Ancangan yg digunakn Robert Gagne untk mengupas belajar itu dijalankan dri sudut keperluan pembelajaran. Sebagai hasilnya, karyanya itu menunjukkan adnya isu-isu penting bekenaan dgn pembelajaran yg terjdi dikelas, diantaranya:
Ciri-ciri Siswa. Perbedaan perseorangan, kesiapan, dan motivasi merupakn isu yg berlaku baik untk penggunaan ancangan sistem bagi merancang pembelajaran untk guru kelas. Gagne dan Briggs membahas isu ini sehubungan dgn maksud rancangan pembelajaran dan penyampaian pembelajaran.
Pembedaan Perseorangan. Keefektivan pembelajaran dipengaruhi oleh beberapa keadan perbedaan perseorangan yg ad di antara para siswa. Termasuk disini ialah perbedaan dlm siasat kognitif dan kecepatan belajar. Akn tetapi, yg khususnya penting artinya ialah perbedaan dlm kapabilitas masukan para siswa. Metode untk mengimbangi adnya perbedaan perseorangan dlm penyampaian pembelajaran di antaranya ialah pengajaran dgn kelompok kecil, tutorial, belajar mandiri, dan sistem pembelajaran individualisasi.
Kesiapan. Bagi Gagne kesiapan perkembangan dipandang sebagai kapabilitas yg relevan dri seseorang. Kesiapn itu bukanlah soal kematangan yg di mana hrus terjdi pertumbuhan tertentu sebelum dpt berlangsung belajar sesuatu. Demikian pun kesiapan bukannya soal internalisasi bentuk-bentuk fikiran logis yg terjdi secara berangsur-angsur sebagaimana disarankan Piaget. Gagne menyatakn bahwa kedua model ini memberikan peranan kedua terhadp pengaruh belajar dlm perkembangan manusia. Akn tetapi, krna belajar itu sifatnya komulatif, kesiapan untk belajar yg baru itu mengacu ke tersedianya kapabilitas prasyarat yg sensual.
Motivasi. Pekerjaan merancang pembelajaran agar efektif meliputi langkah mengenali motif siswa dan menyalurkannya kea rah kegiatan yg produktif sehingga akhirnya tujuan pendidikan tercapai. Meskipun sering diperlakukan sebagai ciri yg tunggal sifatnya, motivasi itu ad dua jenis, yg umum dan yg khusus.


2.1.8.        Implementasi Teori Gagne Terhadp Pembelajaran Matematika
Dlm pembelajaran menurut Gagne peranan guru lebih banyak membimbing peserta didik, guru dominan sekali peranannya dlm membimbing peserta didik. Di dlm mengajar memberikan serentetan kegiatan dgn urutan sebagai berikut:
·         Membangkitkan dan memelihara perhatian
·         Merangsang siswa untk mengingat kembali konsep, aturan dan keterampilan yg relevan sebagai prasyarat
·         Menyajikaan situasi atau pelajaran baru
·         Memberikan bimbingan belajar
·         Memberikan feedback atau balikan
·         Menilai hasil belajar
·         Mengupayakn transfer belajar
·         Memantapkan apa yg dipelajari dgn memberikan latihan-latihan untk menerapkan apa yg telah dipelajari.












BAB III
PENUTUP

3.1.   Kesimpulan
·      Teori Thorndike ini menyatakn bahwa pda hakikatnya belajar merupakn proses pembentukkan hubungan antara stimulus dan respon. Salah satu penerapan yg sebaiknya dilakukan dlm pembelajaran matematika adlah sebelum memulai proses belajar mengajar, pendidik hrus memastikan siswanya siap mengikuti pembelajaran tersebut. Jdi, setidaknya ad aktivitas yg dpt menarik perhatian siswa untk mengikuti kegiatan belajar mengajar.      
·      Dlm teori Skinner dinyatakn bahwa penguatan terdiri atas penguatan positif dan penguatan negatif.
·      Teori pembelajaran Ausubel merupakn satu teori pembelajaran yg menjdi dasar dlm pembelajaran koperatif.  Menurut Ausubel  bahan subjek yg  dipelajari kanak-kanak mestilah bermakna (meaningfull). Salah satu penerapanya adlah sebaiknya dlm proses pembelajaran adlah seorang pengajar mampu memberikan gambaran sebelum memulai materi agar  dpt dijangkau oleh pengetahuan para peserta didik.
·      Menurut gagne, Belajar merupakn kegiatan yg kompleks. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Dgn demikian belajar adlah seperangkat proses kognitif yg mengubah sifat stimulus lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjdi kapabilitas baru.         
                                                                         
3.2. Saran
Setelah kita membandingkan beberapa teori di atas dpt disimpulkan semuanya masih memiliki kekurangan. Tetapi, pilihlah penerapan teori yg baik dan tinggalkan yg buruk (negatif). Untk menjdi seorang pendidik, jangan lupakn untk mengamati perilaku siswa apabila ad umpan balik yg bersifat positif menjdi pertanda bagi siswa bahwa ia telah mencapai keberhasilannya dlm belajar.
DAFTAR PUSTAKA

Gredler, M. E. 1994. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: PT Raja Grafindo          Persad.
Purwanto, M,Ngalim. 1998. Psikologi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Witherington, H.C. 1983. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Aksara Baru.
Hergenhann,B.R, Olson dan Matthew H. 2008. Theories Of Learnings. Jakarta: Kencana Prenad Media Group.
Syah Muhibbin, M.Ed. 1997. Psikologi Pendidikan Dgn Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Dr. H. Sagala Syaiful, M.Pd. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.


Visitor