Makalah Teori- Teori, Tokoh- tokoh Pembelajaran Matematika




BAB I
PENDAHULUAN

  
1.1            LATAR BELAKANG
Psikologi Sering diterjemahkan menjadi ilmu jiwa. Yakni dri kata psyche yg berarti: jiwa, roh,dan logos yg berarti: ilmu. Sebenarnya terjemahan tersebut kurang tepat, karna bertitik-tolak dri pandangan dualisme manusia, yg menganggap bahwa manusia itu terdiri dri dua bagian jasmani dan rohani. Mengingat bahwa psikologi pendidikan merupakan ilmu yg memusatkan dirinya pda penemuan dan aplikasi prinsip-prinsip dan teknik-teknik psikologi kedlm pendidikan, mkaa ruang lingkup psikologi pendidikan mencakup topik-topik psikologi yg erat hubungannya dgn pendidikan.

1.2 .          RUMUSAN MASALAH
1)      Menjelaskan Teori-Teori yanng berhubungan dgn Psikologi Pembelajaran Matematika.
2)      Mengetahui Tokoh-Tokoh.
3)      Dpt menerapkan Teori-Teori Tsb.

1.3.           TUJUAN PEMBAHASAN
Mkaalah ini disusun bertujuan agar dpt mengetaui,memahami,dan dpt mengerti tentang hal-hal yg berhubungan dgn Teori-Teori Psikologi Pembelajaran Matematika Tentang Teori-Teori diantaranya: Teori Pavlov, Teori Baruda, Teori Piaget, Teori Bruner, Brownell Teori Di-Enes



BAB II
TEORI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
1.      Teori pavlov
Pda saat thondike mengembangkan teorinya, psikologi Amerika sedang berjuang untk menjadi ilmu yg objektif. Strukturalisme dgn metode introspektifnya, kehilangan pengaruhnya. Dgn menggabungkan asosionisme Darwinisme, dan ilmu eksperimenyal, thondike menyajikan psikologi objektif terbaik di Amerika saat itu. Dia adlah bagian penting dri dri gerakan fungsionalis, yg merupakan salah satu gerakan psikologi utama di Amerika.
Pda saat thondik mengerjakan riset utamanya, pavlov uga sedang meneliti proses belajar. Dia juga tidak suka dgn psikologi subjektif dan hampir saja tidak mau mempelajari refleks yg dikondisikan krna bersifat “psikis”. Meskipun Pavlov tidak terlalu menghargai para psikolog, dia cukup menghormati Thondike dan mengakuinya sebagai orang pertama yg melakukan riset sistematis terhadp proses belajar pda binatang.
Pernyataan pavlov tentang penghormatannya pda thondike:
Beberapa tahun setelah mulai bekerja dgn metode baru, saya menyadri bahwa eksperimen yg serupa telah dilakukan di Amerika, dan bkan oleh psikolog tetapi oleh fisiolog. Krnanya saya mempelajari lebih detail publikasi amerika, dan kini saya harus mengakui bahwa orang yg paling berjasa dlm membuka jalan ini adlah E. L. Thondike. Dia telah melakukan eksperimen dua atau tiga tahun lebih awal dripda kamu, dan bukunya harus dianggap sebagai buku klasik, baik itu krna pandangannya yg tegas maupun akurasi hasilnya.
Thondike dan pavlov, meskipun menempuj jalur yg berbedaa dlm banyak hhal, sama-sama menyukai sains dan percaya pda kemampuan sains untk memecahkan banyak problem manusia: “Sains dan ilmu pengetahuan, saint pasti tentang hakikat manusia dan pendekatan yg tulus terhadp sains dgn bantuan metode ilmiah, adlah satu-satunya cara untk membawa manusia keluar dri keterpurukan saat ini dan akan membebaskannya dri hubungan antar manusia yg menyedihkan saat ini” (pavlov, 1928). Pavlov tak pernah berpaling dri pandangan ilmiahnya, dan pda tahun 1936, di usianya yg ke 87 tahun, dia mengirim surat kepda para ilmuan di negerinya (Babkin, 1949)
Ini adlah pesan yg ingin aku sampaikan kepda generasi muda negeriku. Pertama-tama, bertidaklah sistematis. Saya ulangi, sistematis. Berlatihlah untk berlaku sistematis dlm mencari pengetahuan. Pertama-tama pelajarilah dasar-dasar ilmu pengetahuan sebelum berusaha mencapai puncaknya. Jangan melompati satu tahap sebelum Anda menguasainya secara sempurna. Jangan menyembunyikan kekurangan dlm pengetahuan anda denga menutup-nutupinya dgn hipotesis yg berani sekalipun. Berlatihlah untk sabar dan disiplin. Pelajari cara mengerjakan karya ilmiah yg sering mebosankan. Meskipun sayap seekor burung tampak sempurna, burung itu tak pernah bisa terbang jika ia tidak belajar terbang di udara. Fakta meski dilihat oleh ilmuwan. Tanpa fakta, Anda tak akan bisa maju. Tanpa fakta, teori-teori anda akan hampa belaka. Namun, saat studi, bereksperimen atau mengamati, cobalah untk tetap menjaga jarak. Jangan hanya jadi pengumpul fakta tetapi cobalah untk mencoba mengngkap misteri asal usulnya. Berusahalah dgn keras untk menemukan hukum atau kaidah yg mengatur fakta-fakta itu.
Sayrat penting kedua adlah kerendahan hati. Jangan pernah membaygkan bahwa Anda tahu segala-galanya. Betapapun tinggunya penghargaan orang kepda anda, anda harus berani mengatakan “Saya masih bodoh.” Jangan pernah kuasai kesombongan.
Hal ketiga yg diperlukan adlah semangat. Ingat bahwa orang yg mengbdikan sepenuh hidunya jika ia hendak terjun ke dunia ilmu pengetahuan. Dan bahka jika Anda punya dua kehidupan, itu tidak akan cukup. Sains mensyaratkan semangat yg besar dan usaha keras. Bersemangatlah dlm bekerja dan dlm mencari kebenaran.
Demikian lah isi surat pavlov kepda ilmuwan di negerinya. Ia mengingikan mereka menjadi ilmuan yg sebaik-baiknya ilmuwan. Dgn tiga pesan inti dri surat tersebut. Pertama, menjadi ilmuwan itu harus mampu bertindak sistematis. Kedua, menjadi ilmuwan itu harus memiliki kerendahan hati. Setinggi apapun penghargaan yg diberikan beranilah mengatakan “Saya masih bodoh” dan jangan pernah dikuasai kesombongan. Ketiga, bahwa menjadi seorang ilmuwan sangat diperlukan semangat yg tinggi krna sains dan ilmu pengetahuan mensyaratkan semangat yg besar dan usaha keras untk orang-orang yg benar-benar ingin terjun kedlmnya.
pavlov seorang ahli psikologi-refleksologi dri Rusia,teorinya yaitu teori classical condition.Ia mengadkan percobaan-percobaan dgn anjing.Secara ringkas percobaan-percobaan pavlov dpt kita uraikan sebagai berikut:
Seekor anjing yg telah dibedah sedemikian rupa,sehingga kelenjar ludahnya berad diluar pipinya,dimasukkan ke kamar yg gelap .Di kamar itu hanya ad sebuah lubang yg terletak didepan moncongnya,tempat menyodorkan mkaanan atau menyorotkan cahaya pda waktu diadkan percobaan-percobaan.Pda moncongnya yg telah dibedahitu dipasang sebuah pipa (sedang) yg dihubungkan dgn sebuah tabung di luar kamar.Dgn demikian dapta diketahui keluar tidaknya air liur dri moncong anjing itu pda waktu diadkan percobaan-percobaan.Alat-alat yg dipergunakan dlm percobaan-percobaan itu ialah mkaanan , lampu senter untk menyorotkan bermacam-macam warna, dan sebuah bunyi-bunyian.
Dri hasil eksperimen dgn menggunakan anjing tersebut, Pavlov akhirnya menemukan beberapa hukum pengkondisian, antara lain:
1.      Pemerolehan/Penguasaan (acquisition)
Pemerolehan atau penguasaan bagaimana individu mempelajari sesuatu gerak balas atau respon baru, membuat pasangan stimulus netral dgn stimulus tak bersyarat berulang-ulang hingga muncul respons bersyarat atau yg disebut acquisition atau acquisition training (latihan untk memperoleh sesuatu).
Para peneliti sering kali membuat stimulus netral bersamaan dgn stimulus bersyarat atau berbeda beberapa detik selisih waktu pemberiannya dan segera menghentikan secara serempak. Prosedur ini biasanya disebut dgn pengkondisian secara serempak. Prosedur ini lebih sederhana dan efektif dlm melatih orang atau hewan. Kadng peneliti juga menggunakan prosedur yg berbeda, yakni dgn menghentikan stimulus netral terlebih dahulu sebelum stimulus tak bersyarat, walaupun prosedur ini jarang digunakan dlm pengkondisian. Memasangkan stimulus netral dgn stimulus tak bersyarat selama latihan untk memperoleh sesuatu akan berfungsi sebagai penguat atau reinforcement bagi respons bersyarat.
1.      Generalisasi (generalizatition)
Rangsangan yg sama akan menghasilkan tindak balas yg sama. Pavlov menggunakan bunyi loceng yg berlainan nad, tetapi anjing masih mengeluarkan air liur. Ini menunjukkan bahawa organisme telah terlazim, dgn dikemukakan sesuatu rangsangan tak terlazim akan menghasilkan gerak balas terlazim (air liur) walaupun rangsangan itu berlainan atau hampir sama.
Contoh : anak kecil yg merasa takut pda anjing galak, tentu akan memberikan respons rasa takut pda setiap anjing. Tapi melalui penguatan dan pemadman diferensial, rentang stimulus rasa takut menjadi menyempit hanya pda anjing yg galak saja.
2.      Diskriminasi (Discrimination)
Diskriminasi berlaku apabila individu berkenaan dpt membedakan atau mendiskriminasi antara rangsangan yg dikemukakan dan memilih untk tidak bertindak atau bergerak balas.
Contoh : Anak kecil yg takut pda anjing galak, mkaa akan memberi respon rasa takut pda setiap anjing, tapi ketika anjing galak terikat dan terkurung dlm kandang mkaa rasa takut anak itu menjadi berkurang
4.    Pemadman/penghapusan (extinction)
Penghapusan berlaku apabila rangsangan terlazim tidak diikuti dgn rangsangan tak terlazim, lama-kelamaan individu/organisme itu tidak akan bertindak balas. Setelah respons itu terbentuk, mkaa respons itu akan tetap ad selama masih diberikan rangsangan bersyaratnya dan dipasangkan dgn rangsangan tak bersyarat. Kalau rangsangan bersyarat diberikan untk beberapa lama, mkaa respons bersyarat lalu tidak mempunyai pengut/reinforce dan besar kemungkinan respons bersyarat itu akan menurun jumlah pemunculannya dan akan semakin sering tak terlihat seperti penelitian sebelumnya. Peristiwa itulah yg disebut dgn pemandaan (extinction). Beberapa respons bersyarat akan hilang secara perlahan-lahan atau hilang sama sekali untk selamanya. Dlm kehidupan nyata, mungkin kita pernah menjumpai realitas respons emosi bersyarat.
Contoh : Ad dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan yg biasa bermain bersama. Pda saat mereka menginjak dewasa, menjadi seorang gadis dan pemuda, tiba-tiba tumbuh perasaan cinta pda diri pemuda kepda gadis tersebut, tetapi tidak demikian dgn sang gadis. Pda saat pemuda teman sejak kecilnya itu menyatakan cintanya, gadis tersebut menolak dgn alasan perasaan kepda pemuda itu hanya sebatas teman. Namun, krna pemuda itu sangat mencintai sang gadis, dgn menggunakan berbagai cara yg dpt membahagaikan, ia berusaha untk mengambil hati gadis itu agar menerima cintanya. Misalnya, dgn selalu memberikan perhatian, memberikan segala yg disukai oleh gadis itu, dan lain sebagainya. Ketika perhatian dan kebaikannya kepda gadis tersebut dilakukan berulang-ulang mkaa pda suatu saat hati sang gadis menjadi luluh dan akhirnya menerima cinta pemuda tersebut.
Dri hasil percobaan-percobaan yg dilakukan dgn anjing itu pavlov mendptkan kesimpulan bahwa gerakan-gerakan refleks itu dpt dipelajari ; dpt berubah krna mendpt latihan.sehingga dgn demikian dpt dibedakan dua refleks,yaitu
a)      refleks wajar(unconditioned reflex) – keluar air liur ketika melihat mkaanan yg lezat dan,
b)      refleks bersyarat / refleks yg dipelajari (conditioned reflex) – keluar air liur krna menerima/bereaksi terhadp warna sinar tertentu,atau terhadp suatu bunyi tertentu.
Yg dimaksud refleks yg di kondisikan diungkapkan oleh pavlov sebagai brikut:
Saya akan menyebutkan dua ekspermen sederhana yg bdpt dilakukan dgn sukses oleh semua orang. Kami memasukan kedlm mulut anjing semacam larutan asam moderat; asam ini akan menghasilkan reaksi defensif pda hewan itu; dgn gerakan mulut yg kuat larutan asam itu akan mengeluarkan cairan, dan pda saat yg sama air liur dlm jumlah banyak akan mulai mengalir, pertama kemulut dan kemudian melimpah dan mencairkan larutan asam dan membersihkan membran lendir di rongga mulut. Sekarang kita ke eksperimen kedua. Sebelum memasukan larutan yg sama ke mulut anjing, kami beberapa kali memperkenalkan sesuatu agen eksternal kepda hewan itu, misalnya suara tertentu. Apa yg terjadi kemudian? Kita cukup mengulang suara itu dan reaksi yg serupa dgn percobaan pertama akan muncul gerakan mulut yg sama dan pengeluaran air liur yg sama.
Demikian yg dipaparkan oleh pavlov.
Kemudian dlm sumber lain dikatakan dgn nama berbeda tentang teori pavlov ini:
1.      Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yg dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yg salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), mkaa refleks dan stimulus lainnya akan meningkat. 
2.      Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yg dituntut. Jika refleks yg sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, mkaa kekuatannya akan menurun.
Demikianlah mkaa menurut teori conditioning belajar itu adlah suatu proses perubahan yg terjadi krna adnya syarat-syarat (conditions).yg kemudian menimbulkan reaksi (response).Untk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertenutu.Yg terpenting dallam belajar menurut teori conditioning ialah adnya latihan-latihan yg kontinu.Yg diutamkaan dlm teori ini adlah hal belajar yg terjadi secara otomatis.Namun pda manusia teori ini hanya dpt kita terima dlm hal-hal belajar tertentu saja ; umpamanya dlm belajar yg mengenai skills (kecekatan-kecekatan) tertentu dan mengenai pembiasaan pda anak-anak kecil.
Berikut ini ringkasan teori pavlov tentang fungsi otakk:
Pavlov memandang otakk sebagai semacam mosaik titik – titik eksitesi dan hambatan. Setiap poin di otakk berhubungan dgn satu kejadian enviromental. Berdasarkan pda apa yg dialami pda suatu saat, pola eksitasi dan hambatan yg berbeda akan muncul di otakk dan pola itu akan menjadi perilaku. Ketika koneksi temporer pertama kali dibentuk oleh otakk, ad tendensi bagi stimulus yg dikondisikan untk memberi efek umum di otakk. Setelah proses belajar berlanjut eksitasi yg disebabkan oleh stimulus positif dan hambatan yg disebabkan oleh stimulus negatif menjadi terkonsentrasi di area spesifik di otakk.
Pavlov tidak pernah menjelaskan bagaimana semua prosedur ini berinteraksi untk menimbulkan perilaku yg terkoordinasi baik yg kita lihat dri semua organisme namun dia menunjukkan keheranannya bahwa perilaku yg sistematis tidak muncul dri banyak faktor pengaruh tersebut.
Karya Pavlov mengenai pengkondisian telah menyediakan kerangka untk memahami bagaimana organisme mengantisipasi kejadian di masa depan. Krna CS mendahului kejadian yg signifikan secara biologis (UR) mkaa mereka menjadi sinyal untk kejadian yg memungkinkan organisme itu mempersiapkan diri dan menjalankan perilaku yg tepat. Pavlov, menyebut stimuli yg memberi sinyal kejadian yg penting secara biologis (CS) ini sebagai first signal system. Selain itu, manusia juga menggunakan bahasa yg terdiri dri simbol – simbol realitas. Seseorang mungkin merespon kata bahaya sebagaimana merespon situasi yg aktual yg berbahaya. Pavlov menyebut kata yg melambangkan realitas itu sebagai sinyal dri sinya atau second signal system. Sinyal – sinyal yg muncul bisa diorganisasikan dlm sistem kompleks yg akan memandu perilaku banyak manusia.
3.      Teori baruda
Baruda mengemukakan bahwa siswa belajar itu melalui meniru. Pengertian meniru di sini bkan berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yg dilakukan oleh orang lain, terutama guru. Jika tulisan guru baik, guru berbicara sopan santun, tingkah laku yg terpuji, menerangkan dgn jelas dan sistematis, mkaa siswa akan menirunya.  Jika contoh yg dilihat kurang baik mkaa ia pun akan menirunya.
Proses pembentukan perilaku itu adlah krna adnya keteladnan. Keteladnan itu akan menimbulkan ikutan oleh yg lainnya sehingga menjadi sebuah respon. Respon itu yg nantinya akan mengubah seseorang apakah akan itu kepda keteladnan itu ataukah malah justru bertahan pda dirinya sendiri. (Conny R. Semiawan)
3. Teori piaget
Jean piaget lahir pda 9 Agustus 1896 di Neuchatel, Swiss. Ayahnya adlah ahli sejarah yg mengkhususkan diri di bidang sejarah literatur abad pertengahan. Piaget pda awalnya tertarik pda biologi, dan ketika dia berusia 11 tahun, dia memublikasikan artikel satu halaman tentang burung pipit albino yg dilihatnya ditaman. Antara usia lima belas dan delapan belas tahun, dia memublikasikan sejumlah artikel tentang kerang. Piaget mencatat bahwa krna publikasinya banyak, dia ditawarkan posisi kuantor koleksi kerang di Museum Ganeva saat dia masih duduk di sekolah menengah.
Saat remaja piaget berlibur bersama walinya, seorang sarjana Swiss. Melalui kunjungan bersama walinya inilah Piaget mulai tertarik pda filsafat pda umumnya dan epistemologi pda khususnya. Epistemologi adlah cabang filsafat yg membicarakan hakikat pengetahuan. Minat piaget pda biologi dan epistemologi terus berlanjut di sepanjang hayatnya dan tampak jelas hampir di semua tulisan teoritisnya.
Kemudian beberapa lama dia bekerja di laboraturium binet hingga akhirnya ia keluar. Piaget meninggalkan laboraturium binet untk menjadi direktur riset Jean-Jacquess Rousseu Institute di Ganeva, Swiss, di mana dia bisa melakukan penelitian sendiri, menggunakan metode sendiri. Tak lama setelah bergabung dgn institute itu, karya utama pertamanya tentang psikologi perkembangan mulai muncul. Piaget yg tidak pernah mengikuti kuliah tentang psikologi secara tak terduga menjadi otoritas penting dlm psikologi anak. Dia melanjutkan karyanya, dgn mempelajari tiga anaknya sendiri. Dia dan istrinya melakukan observasi yg cermat atas ketiga anak mereka selama bertahun-tahun dan meringkas temuannya dibeberapa buku. Penggunaan anak sendiri sebagai sumber informasi penyusunan teorinya telah dikritik banyak pihak. Namun observasi yg lebih luas, dgn menggunakan lebih banyak anak, ternyata cocok dgn observasi Piaget, dan krnanya kritik itu bisa dibungkam.
Piaget memublikasikan sekitar 30 buku dan lebih dri 200 artikel dan terus melakukan riset produktifnya di University of Ganeva sampai dia meninggal pda 1980. Teori perkembangan intelektual anak adlah teori yg ekstensif dan rumit, dan disini kita hanya akan meringkas unsur-unsur esensialnya saja.  
Piaget seorang penganut aliran kognitif yg kuat,mengemukakan bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dri tiga tahapan,yakni
a)      Asimilasi
Yaitu suatu proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yg sudah ad dlm benak siswa
b)      Akomodasi
Yaitu suatu penyesuaian struktur kognitif kedlm situasi yg baru.
c)      Equilibrasi (Penyeimbang)
Yaitu suatu penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi
Bagi seseorang yg sudah mengetahui prinsiip penjumlahan,jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian,mkaa proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan(yg sudah ad di benak siswa) dgn prinsip perkalian (sebagai informasi baru),inilah yg disebut proses asimilasi.Jika seseorang diberikan sebuah soal perkalian,mkaa situasi ini disebut akomodasi,yg dlm hal ini berarti aplikasi prinsip perkalian tersebut dlm situasi yg baru dan spesifik.Agar seseorang tersebut dpt terus berkembang dan menambah ilmunya,mkaa yg bersangkutan menjaga stabilitas mental dlm dirinya,diperlukan proses penyeimbang antara “dunia luar” dan “dunia dlm”.Tanpa proses ini,perkembangankognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tak teratur(disorganized).
Dlm hal ini,dua orang yg mempunyai jumlah informasi yg sama di otakknya mungkin mempunyai kemampuan equilibrasi yg berbeda.Seseorang dgn kemampuan equilibrasi yg baik akan mampu “menata” berbagai informasi ini dlm urutan yg baik,jernih,dan logis.Sedangkan rekannya yg tidak memiliki kemampuan equilibrasi sebaik itu akan cenderung menyimpan semua informasi yg ad secara kurang teratur,krna itu orang ini juga cenderung mempunyai alur berpikir ruwe,tidak logis,berbelit-belit.
Menurut piaget,proses belajar harus disesuaikan dgn tahap perkembngan kognitif yg dilalui siswayg dlm hal ini piaget membaginya menjadi empat tahap,yaitu
a)      Tahap sensori motor (ketika anak berumur 1,5 sampai 2 tahun)
b)      Tahap pra-operasional (2/3 sampai 7/8 tahun)
c)      Tahap operasional konkrit(7/8 sampai 12/14 tahun) ,dan
d)     Tahap operasional formal (14 tahun atau lebih)
Proses belajar yg dialami seorang anak yg sudah mencapai tahap kedua(praoperasional) dan lain lagi yg dialami siswa lain yg telah sampai ke tahap yg lebih tinggi lagi.Secara umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorsng semakin teratur(dan juga semakin abstrak) cara berpikirnya.Dlm kaitan ini seorang guru dpt memahami tahap-tahap perkembangan anak didiknya ini,serta memberikan materi belajar dlm jumlah dan jenis yg sesuai dgn tahap-tahap tersebut.
Guru yg mengajar ,tetapi tidak menghiraukan tahapan-tahapan ini akan cenderung menyulitkan para siswanya.Misalnya saja,mengajarkan konsepabstrak tentang matematika kepda sekelompok siswa SD ,tanpa adnya usaha untk “mengkonkritkan” konsep tersebut,tidak hanya akan percuma,tetapi justru akan lebih membingungkan para siswa.
Menurut Piaget, pengalaman pendidikan harus dibangun di seputar struktur kognitif pembelajar. Anak-anak berusia sama dan kultur yg sama cenderung memiliki struktur kognitif yg sama, tetapi adlah mungkin bagi mereka untk memiliki struktur kognitif yg berbeda dan krnanya membutuhkan jenis materi belajar yg berbeda pula. Di satu sisi, materi pendidikan yg tidak bisa diasimilasikan ke struktur kognitif anak tidak akan bermakna bagi si anak. Jika, dis sisi lain, materi bisa diasimilasi secara komplet, tidak aka nad proses belajar yg terjadi. Agar belajar terjadi, materi perlu sebagian sudah diketahui dan sebagian belum. Bagian yg sudah diketahui akan diasimilasi, dan bagian yg belum diketahui akan menimbulkan modifikasi dlm struktur kognitif anak. Modifikasi ini disebut akomodasi, yg dpt disamkaan dgn belajar.
Jadi, menurut   Piaget, pendidikan yg optimal membutuhkan pengalaman yg menantang bagi si pembelajar sehingga proses asimilasi dan akomodasi dpt menghasilkan pertumbuhan intelektual. Untk menciptakan jenis pengalaman ini, guru harus tau level fungsi struktur kognitif siswa. Mkaa kita melihat, baik itu Piaget (wakil dri paradigma kognitif) maupun kaum behavioris, telah mendptkan kesimpulan yg sama mengenai pendidikan yakni, pendidikan harus di individualisasika. Piaget mendptkan kesimpulan ini dgn menyadri bahwa kemampuan untk mengasimilasi akan bervariasi dri satu anak ke anak yg lain dan bahwa materi pendidikan harus disesuaikan dgn struktur kognitif anak. Behavioris mencapai kesimpulannya dgn menyadri bahwa penguatan haruslah kontingen (bergantung) pda perilaku yg tepat, dan penyaluran penguat yg tepat membutuhkan hubungan tatap muka antara satu orang dan satu murid atau antara murid dan materi pendidikan.  
4.Teori Brunner
Bruner yg memilikinamalengkap Jerome S.Brunerseorangahlipsikologi (1915) driUniversitas Harvard, AmerikaSerikat, telahmempeloporialiranpsikologikognitif yg memberidorongan  agar pendidikan memberikan perhatian pda pentingnya pengembangan berfikir. Bruner banyak memberikan pandangan mengenai perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar,atau memperoleh pengetahuan dan mentransformasi pengetahuan.Dasar pemikiran teorinya memandang bahwa manusia sebagai pemproses, pemikir dan pencipta informasi. Bruner menyatakan belajar merupakan suatu proses aktif yg memungkinkan manusia untk menemukan hal-hal baru diluar informasi yg diberikan kepda dirinya.
Menurut Bruner, dlm prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:
1.      Tahap informasi (tahap penerimaan materi)
Dlm tahap ini, seorangsiswa yg sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yg sedang dipelajari.
2.      Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)
Dlm tahap ini, informasi yg telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau ditransformasikan menjadi  bentuk yg abstrak atau konseptual.
3.      Tahap evaluasi
Dlm tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi yg telah ditransformasikan tadi dpt dimanfaatkan untk memahami gejala atau masalah yg dihadpi.
J. S. Bruner dlm belaja rmatematika menekankan pendekatan dgn bentuk spiral.Pendekatan spiral dlm belajar mengajar matematika adlah menanamkan konsep dan dimulai dgn benda kongkrit secara intuitif, kemudian pda tahap-tahap yg lebih tinggi (sesuai dgn kemampuan siswa) konsep ini diajarkan dlm bentuk yg abstrak dgn menggunakan notasi yg lebih umum dipakai dlm matematika. Penggunaan konsep Bruner dimulai dri cara intuitif  keanalisis dri eksplorasi kepenguasaan. Misalnya, jika ingin menunjukkan angka 3 (tiga) supaya menunjukkan sebuah himpunan dgn tiga anggotanya.
Contoh himpunan tiga buah mangga.Untk menanamkan pengertian 3 diberikan 3 contoh himpunan mangga.Tiga mangga sama dgn 3 mangga.
Brunner (1960) mengusulkan teorinya yg disebut free discovery learning.Menurut teori ini,proses belajar akan berjalan dgn baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepda siswa untk menemukan suatu aturan(termasuk konsep,teori,definisi dan sebagainya) melalui contoh-contoh yg menggambarkan (mewakili) aturan yg menjadi sumbernya.Dgn kata lain,siswa dibimbing secara induktif untk memahami suatu kebenaran umum.Untk mamahami konsep kejujuran,misalnya,siswa pertama-tama tidak menghafal definisi kata kejujuran,tetapi mempelajari contoh-contoh konkrit tentang kejujuran.Dri contoh-contoh itulah siswa dibimbing untk mendefinisikan kata “kejujuran”.
Lawan dri pendekatan ini disebut “belajar ekspositori” (belajar dgn cara menjelaskan).Dlm hal ini siswa disodori sebuah informasi umum dan diminta untk menjelaskan  informasi ini melalui contoh-contoh khusus dan konkrit.Dlm contoh diatas,mkaa siswa pertama-tama diberi definisi tentang kejujuran,dan dri definisi itulah siswa diminta untk mencari contoh-contoh konkrit yg dpt menggambarkan makna tersebut.Proses belajar ini jelas berjalan secara deduktif.
Disamping itu,Brunner mengemukakan perlunya ad teori pembelajaran yg akan menjelaskan asas-asasuntk merancang pembelajaran yg efektif dikelas.Menurut pandangan Brunner bahwa teori belajar itu bersifat deskriptif,sedangkan teori pembelajaran itu bersifat perspektif.Misalnya,toeri belajar memprediksi berpa usia maksimum seorang anak untk belajar penjumlahan,sedangkan teori pembelajaran menguraikan bagaimana cara-cara mengajarkan penjumlahan.

5.Teori brownell
Salah satu ahli yg memberikan sumbangan pikiran dlm teori belajar adlah William Artur Brownell dilahirkan tanggal 19 mei 1895 dan wafat pda tanggal 24 mei 1977, yg mendedikasikan hidupnya dlm dunia pendidikan. Brownell (1935) “…he characterized his point of view as the “meaning theory.” In developing it, he laid the foundation for the emergence of the “new mathematics.” He showed that understanding, not sheer repetition, is the basis for children's mathematical learning…” pda penelitiannya mengenai pembelajaran anak khususnya pda aritmetika mengemukakan belajar matematika harus merupakan belajar bermakna dan belajar pengertian atau yg dikenal dgn Meaning Theory (teori bermakna) dan dlm perkembangannya ia meletakkan pondasi munculnya matematika baru. Jika dilihat dri teorinya ini sesuai dgn teori belajar-mengajar Gestalt yg muncul pda pertengahan tahun 1930. Dimana menurut teori Gestalt, latihan hafalan atau yg dikenal dgn sebutan drill adlah sangat penting dlm kegiatan pengajaran. Cara drill diberikan setelah tertanam pengertian.
Khusus dlm hubungan pembelajaran matematika di SD, Meaning Theory (teori makna)  yg diperkenalkan oleh Brownel merupakan alternatif dri Drill Theory (teori latihan hafal/ulangan).
Teori Drill dlm pengajaran matematika berdasarkan kepda teori belajar asosiasi yg lebih dikenal dgn sebutan teori belajar stimulus respon yg dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874-1949). Teori belajar ini menyatakan bahwa pda hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. Menurut hukum ini belajar akan lebih berhasil bila respon siswa terhadp suatu stimulus segera diikuti rasa senang atau kepuasan. Rasa senang atau puas ini bisa timbul sebagai akibat siswa mendpt pujian atau ganjaran sehingga ia merasa puas krna sukses yg diraihnya dan sebagai akibatnya akan mengantarkan dirinya ke jenjang kesuksesan berikutnya.
Menurut teori drill ikatan antara stimulus (soal) dan respon (jawab) itu bisa dicapai oleh siswa dgn latihan berupa ulangan (drill), atau dgn kata lain dgn latihan hapal atau menghapal. Intisari pengajaran matematika menurut teori drill adlah sebagai berikut:
Matematika (aritmatika) untk tujuan pembelajaran (belajar mengajar) dianalisis sebagai kumpulan fakta (unsur) yg berdiri sendiri dan tidak saling berkaitan.
b.      Anak diharuskan untk menguasai unsur-unsur yg banyak sekali tanpa diperhatikan pengertiannya.
c.       Anak mempelajari unsur-unsur dlm bentuk seperti yg akan digunakan nanti pda kesempatan lain.
d.      Anak akan mencapai tujuan ini secara efektif dan efisien dgn melalui pengulangan atau drill.
Brownell mengemukakan ad tiga keberatan utama berkenaan dgn teori drill pda pengajaran matematika.
a.   Teori drill memberikan tugas yg harus dipelajari siswa yg hampir tidak mungkin dicapai. Menurut hasil penelitian menunjukkan anak yg tahu 3 + 6 = 9 ternyata tidak tahu dgn baik, bahwa 6 + 3 = 9. Penelitian lain menunjukkan bahwa penguasaan 3 + 6 = 9 tidak menjamin dikuasainya 13 + 6 = 19, 23 + 6 = 29 atau 43 + 6 = 49, dan sebagainya.
b.    Keberatan yg lainnya berkaitan dgn reaksi yg dihasilkan oleh drill. Pda saat guru memberikan drill pda keterampilan aritmetika, ia berasumsi bahwa murid akan berlatih sebagai reaksi dri yg telah ditentukan. Misalkan pda waktu guru memberi tugas 4 + 2 = 6 dan 9 – 5 = 4, ia mengharap semua siswa akan dgn diam berfikir atau mengucapkan dgn keras, 4 dan 2 sama dgn 6,  9 dikurangi 5 sama dgn 4. Guru percaya dgn sering mengulanginya akhirnya siswa selalu menjawab 6 dan 4 untk ke dua tugas tersebut. Kemudian melalui penelitian diketahui bahwa hanya 40% dri siswa yg dpt menjawab dgn benar berdasarkan ingatannya. Kegiatan ini menunjukkan bahwa drill tidak menghasilkan respons otomatis untk siswa-siswa di kelas 1 dan kelas 2 SD, pdahal tugas dan beban belajar mereka relatif lebih sedikit bila dibandingkan dgn kelas-kelas yg lebih atas.
c.  Aritmetika adlah paling tepat dipandang sebagai suatu sistem berpikir kuantitatif. Pandangan ini merupakan kriteria  penilaian suatu sistem pengajaran matematika yg memadi atau tidak. Jelas dri sudut pandanga ini, teori drill dlm pengajaran aritmetika tidak memadi, sebab pengajaran melalui drill tidak menyediakan kegiatan untk berfikir secara kuantitatif. Agar siswa dpt berfikir secara kuantitatif ia harus mengetahui maksud dri apa yg dipejarinya (mengerti), yg tidak pernah menjadi perhatian dri sistem pengajaran aritmetika melalui drill (balapan).
Menurut teori makna, anak itu harus melihat makna dri apa yg dipelajarinya, dan ini adlah isu  utama pda pembelajaran matematika. Teori makna mengakui perlunya drill dlm pembelajaran matematika, bahkan dianjurkan jika memang diperlukan. Jadi, drill itu penting, tetapi drill dilakukan apabila suatu konsep, prinsip atau proses telah dipahami dgn mengerti oleh para siswa.
          Menurut brownell kemampuan mendemosntrasikan operasi-operai hitung secara mekanis dan otomatis tidaklah cukup. Tujuan  utama dri pengajaran aritmetika adlah mengembangkan atau pentingnya kemampuan berfikir dlm situasi kuantitatif.
Brownell mengusulkan agar pengajaran aritmetika pda anak lebih menantang kegiatan berfikirnya dri pda kegiatan mengingatnya. Program aritmetika di SD haruslah membahas tentang pentingnya (significance) dan makna (meaning) dri bilangan. Pentingnya bilangan (the significance of number) adlah nilainya atau pentingnya dlm kehidupan keseharian manusia.
Pengertian signifikansi bilangan bersifat fungsional atau dgn kata lain penting dlm kehidupan sosial manusia. Sedangkan makna bilangan (the meaning of number) adlah bersifat intelektual, yaitu bersifat matematis sebagai suatu sistem kuantitatif.
Menurut Brownell dlm belajar orang membutuhkan makna, bkan hanya sekedar respon otomatis yg banyak. Mkaa dgn demikian teori drill dlm pembelajaran matematika yg dikembangkan atas dasar teori asosiasi atau teori stimulus respon, menurutnya terkesan bahwa proses pembelajaran matematika khususnya aritmetika dipahami semata-mata hanya sebagai kemahiran.
Teori belajar William Brownell didasarkan atas keyakinan bahwa anak-anak pasti memahami apa yg sedang mereka pelajari jika belajar secara permanen atau secara terus menerus untk waktu yg lama. Salah satu cara bagi anak-anak untk mengembangkan pemahaman tentang matematika adlah dgn menggunakan benda-benda tertentu ketika mereka mempelajari konsep matematika. Teori belajar William Brownell dikenal seebagai meaning theory.

6. teori dewey
John Dewey adlah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). Teori Dewey tentang sekolah adlah "Progressivism" yg lebih menekankan pda anak didik dan minatnya dripda mata pelajarannya sendiri. Mkaa muncullah "Child Centered Curiculum", dan "Child Centered School". Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yg belum jelas, seperti yg diungkapkan Dewey dlm bukunya "My Pedagogical Creed", bahwa pendidikan adlah proses dri kehidupan dan bkan persiapan masa yg akan datang. Aplikasi ide Dewey, anak-anak banyak berpartisipasi dlm kegiatan fisik, baru peminatan.
John Dewey memaknai pendidikan sebagai proses pembaruan makna-makna pengalaman lewat transmisi insidental dan intensional. Dgn usaha demikian, pendiidkan membantu manusia merealisasikan segala kemampuan yg ad dlm dirinya untk menjad pribadi yg mandiri.
Ialah sesuatu yg penting harus pula kelihatan dlm kegunaannya. Oleh Krna itu pertanyaan what is harus dikembangkan menjadi what for dlm filsafat praktis. “Menurut John Dewey, kita harus sanggup bertindask, tidak selalu terjerumus dlm pertengkaran ideologis yg mandul tanpa isi, melainkan berusaha memecahkan masalah dgn tindakan konkrit,”
Bandingkan pendpt Dewey tsb dgn sabda Rasulullah SAW "didiklah anak-anakmu untk jamannya yg bkan jamanmu"
Aspek pengalaman dlm pendidikan dpt kita lihat dlm buah pikiran John Dewey.(1859-1952). Dewey berpendpt bahwa pendidikan adlah proses rekonstruksi dan reorganisasi pengalaman-pengalaman. Melalui pengalaman seseorang akan memperoleh makna dan sekaligus peluang untk memperoleh pengalaman berikutnya. Untak itulah J.Dewey menegaskan bahwa konsep pengalaman merupakan intipati pendidikan. Kunci untk memahami diri dan dunia kita menurut Dewey, tiad lain adlah pengalaman-pengalaman kita sendiri. Dgn kata lain J.Dewey mencita-citakan adnya strategi pendidikan moral yg mengangkat pengalaman hidup anak didik. Pengalaman hidup ini bisa berasal dri aktivitas keseharian, ataupun dri kegiatan yg diprogramkan oleh lembaga-lembaga tertentu.
7.Teori di-enes
Zoltan P. Dienes adlah seorang matematikawan yg memusatkan perhatiannya pda cara-cara pengajaran terhadp anak-anak. Dasar teorinya bertumpu pda teori pieget, dan pengembangannya diorientasikan pda anak-anak, sedemikian rupa sehingga sistem yg dikembangkannya itu menarik bagi anak yg mempelajari matematika.
Dienes berpendpt bahwa pda dasarnya matematika dpt dianggap sebagai studi tentang struktur, memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur. Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dlm matematika yg disajikan dlm bentuk yg konkret akan dpt dipahami dgn baik. Ini mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dlm bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dgn baik dlm pengajaran matematika.
Makin banyak bentuk-bentuk yg berlainan yg diberikan dlm konsep-konsep tertentu, akan makin jelas konsep yg dipahami anak, krna anak-anak akan memperoleh hal-hal yg bersifat logis dan matematis dlm konsep yg dipelajarinya itu.
Dlm mencari kesamaan sifat anak-anak mulai diarahkan dlm kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dlm permainan yg sedang diikuti. Untk melatih anak-anak dlm mencari kesamaan sifat-sifat ini, guru perlu mengarahkan mereka dgn mentranslasikan kesamaan struktur dri bentuk permainan yg satu ke bentuk permainan lainnya. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yg ad dlm permainan semula..
Menurut Dienes konsep-konsep matematika akan berhasil jika dipelajari dlm tahap-tahap tertentu. Dienes membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap, yaitu:
1.      Permainan bebas
Dlm setiap tahap belajar, tahap yg paling awal dri pengembangan konsep bermula dri permainan bebas. Permainan bebas merupakan tahap belajar konsep yg aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Anak didik diberi kebebasan untk mengatur benda. Selama permainan pengetahuan anak muncul. Dlm tahap ini anak mulai membentuk struktur mental dan struktur sikap dlm mempersiapkan diri untk memahami konsep yg sedang dipelajari. Misalnya dgn diberi permainan block logic, anak didik mulai mempelajari konsep-konsep abstrak tentang warna, tebal tipisnya benda yg merupakan ciri/sifat dri benda yg dimanipulasi.
2.      Permainan yg menggunakan aturan (games)
Dlm permainan yg disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-poladn keteraturan yg terdpt dlm konsep tertentu. Keteraturan ini mungkin terdpt dlm konsep tertentu tapi tidak terdpt dlm konsep yg lainnya. Anak yg telah memahami aturan-aturan tadi. Jelaslah, dgn melalui permainan siswa diajak untk mulai mengenal dan memikirkan bagaimana struktur matematika itu. Makin banyak bentuk-bentuk berlainan yg diberikan dlm konsep tertentu, akan semakin jelas konsep yg dipahami siswa, krna akan memperoleh hal-hal yg bersifat logis dan matematis dlm konsep yg dipelajari itu. Menurut Dienes, untk membuat konsep abstrak, anak didik memerlukan suatu kegiatan untk mengumpulkan bermacam-macam pengalaman, dan kegiatan untk yg tidak relevan dgn pengalaman itu. Contoh dgn permainan block logic, anak diberi kegiatan untk membentuk kelompok bangun yg tipis, atau yg berwarna merah, kemudian membentuk kelompok benda berbentuk segitiga, atau yg tebal, dan sebagainya. Dlm membentuk kelompok bangun yg tipis, atau yg merah, timbul pengalaman terhadp konsep tipis dan merah, serta timbul penolakan terhadp bangun yg tipis (tebal), atau tidak merah (biru, hijau, kuning).
3.      Permainan kesamaan sifat
Dlm mencari kesamaan sifat siswa mulai diarahkan dlm kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dlm permainan yg sedang diikuti. Untk melatih dlm mencari kesamaan sifat-sifat ini, guru perlu mengarahkan mereka dgn menstranslasikan kesamaan struktur dri bentuk permainan lain. Translasi ini tentu tidak boleh mengubah sifat-sifat abstrak yg ad dlm permainan semula. Contoh kegiatan yg diberikan dgn permainan block logic, anak dihadpkan pda kelompok persegi dan persegi panjang yg tebal, anak diminta
mengidentifikasi sifat-sifat yg sama dri benda-benda dlm kelompok tersebut
(anggota kelompok).
4.      Permainan representasi
Representasi adlah tahap pengambilan sifat dri beberapa situasi yg sejenis. Para siswa menentukan representasi dri konsep-konsep tertentu. Setelah mereka berhasil menyimpulkan kesamaan sifat yg terdpt dlm situasi-situasi yg dihadpinya itu. Representasi yg diperoleh ini bersifat abstrak, Dgn demikian telah mengarah pda pengertian struktur matematika yg sifatnya abstrak yg terdpt dlm konsep yg sedang dipelajari. Contoh kegiatan anak untk menemukan banyaknya diagonal poligon (misal segi dua puluh tiga) dgn pendekatan induktif seperti berikut ini.
SegitigaSegiempatSegilimaSegienamSegiduapuluhtiga
0 diagonal 2 diagonal 5 diagonal .....diagonal ……. diagonal
5.      Permainan denga simbolisasi
Simbolisasi termasuk tahap belajar konsep yg membutuhkan kemampuan merumuskan representasi dri setiap konsep-konsep dgn menggunakan simbol matematika atau melalui perumusan verbal. Sebagai contoh, dri kegiatan mencari banyaknya diagonal dgn pendekatan induktif tersebut, kegiatan berikutnya menentukan rumus banyaknya diagonal suatu poligon yg digeneralisasikan dripola yg didptanak.
6.      Permainan dgn formalisasi
Formalisasi merupakan tahap belajar konsep yg terakhir. Dlm tahap ini siswa-siswa dituntut untk mengurut kan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan sifat-sifat baru konsep tersebut, sebagai contoh siswa yg telah mengenal dasar-dasar dlm struktur matematika seperti aksioma, harus mampu
merumuskan teorema dlm arti membuktikan teorema tersebut. Contohnya, anak didik telah mengenal dasar-dasar dlm struktur matematika seperti aksioma, harus mampu merumuskan suatu teorema berdasarkan aksioma, dlm arti membuktikan teorema tersebut.
Pda tahap formalisasi anak tidak hanya mampu merumuskan teorema serta membuktikannya secara deduktif, tetapi mereka sudah mempunyai pengetahuan tentang sistem yg berlaku dri pemahaman konsep-konsep yg terlibat satu sama lainnya. Misalnya bilangan bulat dgn operasi penjumlahan peserta sifat-sifat tertutup, komutatif, asosiatif, adnya elemen identitas, dan mempunyai elemen invers, membentuk sebuah sistem matematika. Dienes menyatakan bahwa proses pemahaman (abstracton) berlangsung selama belajar. Untk pengajaran konsep matematika yg lebih sulit perlu dikembangkan materi matematika secara kongkret agar konsep matematika dpt dipahami dgn tepat. Dienes berpendpt bahwa materi harus dinyatakan dlm berbagai penyajian (multipleembodiment),sehingga anak-anak dpt bermain dgn bermacam-macam material yg dpt mengembangkan minat anak didik. Berbagai penyajian materi (multipleembodinent) dpt mempermudah proses pengklasifikasian abstraksi konsep.










BAB III
IMPLEMENTASI DLM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
1.      Teori pavlov
Secara umum kita dpt mengatakan bahwa setiap kali kejadian metral dipasangkan dgn kejadian bermakna, akan terjadi pengkondisian klasik. Jelas penyandingan seperti ini selalu ad di setiap waktu.ketika suatu parfum yg sering dipakai oleh guru favorit pda suatu waktu di kemudian hari tercium lagi, bau itu akan mengingatkan kenangan pda sekolah; belajar matematika dlm situasi yg menegangkan dan guru galak mungkin akan menyebabkan munculnya sikap negatif terhadp matematika; sering dihukum  dgn menulis dan menulis terus mungkin akan menyebabkan sikap negatif terhadp kegiatan menulis; mendpt pelajaran sulit di pagi  hari mungkin menyebabkan ketidaksukaan pda pelajaran jam pertama di pagi hari; dan guru yg ramah dan menyenangkan mungkin akan mengilhami murid untk berkarier menjadi guru. Perasaan kecemasan yg dikaitkan dgn kegagalan di sekolah mungkin menimbulkan masalah di luar sekolah. Anda ingat bahwa efek Garcia menunjukkan bahwa aversi yg kuat terhadp suatu situasi dpt muncul apabila pengalaman negatif diasosiasikan dgn pengalaman itu. Jadi, hewan yg mkaan suatu mkaanan dan menjadi sakit akan menghindri mkaanan itu. Adlah mungkin jika pengalaman di kelas adlah buruk, murid mungkin akan seumur   hidup mengembangkan aversi terhadp pendidikan. Selain itu, murid yg punya sikap negatif terhadp pendidikan mungkin akan menyerang guru, merusak sekolah, atau berkelahi dgn murid lain untk menyalurkan frustasinya.
Meskipun pengaruh pengkondisian klasik di sekolah cukup kuat, pengaruh itu biasanya insidental. Tetapi prinsip pengkondisian klasik dpt dipakai dlm program pendidikan, seperti dlm kasus Albert. Keika teknik Pavlovian dipakai untk memodifikasi perilaku, situasinya tampak menyerupai brainwashing ketimbang pendidikan. Contoh dri prinsip Pavlovian yg digunakan untk memodifikasi sikap adlah iklan televisi. Pengiklan menggunakan prosedur menyandingkan suatu objek (produk) dgn sesuatu yg lain (seperti kekayaan, kesehatan, kemudaan, seks, atau prestise). Secara bertahap, produk itu akan menyebabkan pemirsa menganggap produk itu membuat mereka memiliki atau merasakan situasi seperti yg di tampilakan di iklan. Mkaa, seseorang mungkin akan merasa lebih sukses jika menghisap rokok merek X, menjadi lebih seksi krna mengendarai mobil merek tertentu, atau bahkan merasa lebih muda dan cantik krna menggunakan sampo merek tertentu.
Sekali lagi, aspek “insidental” dri pendidikan ini jelas terjadi di sepanjang waktu di sekolah. Modifikasi sikap dan emosi terhadp belajar berdasarkan pengkondisian klasik harus dilakukan dgn hati-hati agar mendptkan program pendidikan yg benar-benar efektif.













BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Dri materi diatas kita dpt menyimpulkan bahwa banyak sekali teori pembelajaran yg dikemukakan oleh tokoh-tokoh didunia,antara lain yaitu pavlov,bruner,piaget,dewey,brownell,di-enes,baruda,dan masih banyak lagi yg lainnya.Pendpt dan pandangan mereka pun berbeda-beda.
Pavlov sendiri dgn percobaan-percobaannya menyimpulkan bahwa gerakan-gerakan refleks dpt dipelajari,dpt berubah krna mendpt latihan.Namun pda manusia teori ini hanya dpt kita terima  dlm hal-hal belajar tertentu saja.
Piaget mengemukakan bahwa proses belajar itu ad tiga tahapan,yakni asimilasi,akomodasi dan equilibrasi.piaget membagi tahap perkembangan kognitif menjadi empat,yaitu
1.      Tahap sensori motor (ketika anak berumur 1,5 sampai 2 tahun)
2.      Tahap pra-operasional (2/3 sampai 7/8 tahun)
3.      Tahap operasional konkrit(7/8 sampai 12/14 tahun) ,dan
4.      Tahap operasional formal (14 tahun atau lebih)
Bruner dgn teorinya free discovery learning,dewey degan teori Progressivism,dan lain sebagainya.pda intinya teori-teori itu sama ,bertujuan bagaimana agar siswa atau peserta didik mendpt suatu pendidikan atau pengajaran yg baik,yg mana di perlukan berbagai tahapan tahapan dan syarat syarat yg harus ditempuh baik pendidik maupun peserta didik.


DAFTAR PUSTAKA
·         Drs.M.Ngalim purwanto,MP ,Psikologi pendidikan ,Remaja rosdakarya ,Bandung,1988
·         Dr.Hamzah B.Uno,MPda ,Orientasi baru dlm psikologi pembelajaran,Bumi aksara
·         Ag.Soejono,Aliran baru dlm pendidikan,bagian ke-1,C.V.Ilmu,Bandung
·         Margaret E.Bell Gredler , Belajar dan membelajarakan , RajaGrafindo Persad
·         Hergenham,B.R, Olson dan Matthew H.2008.Theories of Learning.Jakarta:Kencana prenad Media Group.
·         Sarwono, Sarlito Wirawan. 1979. Berkenalan dgn Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.
·         Mulyati, Psikologi Belajar, Yogyakarta: C.V. Andi Offset. 2005
·         Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta. 1998
·         Syah, Muhibbin, Psikologi Belajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persad. 2006





Visitor