MAKALAH SYARIAT, THARIKAT, HAKIKAT, & MA’RIFAT



Makalah Pengertian Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma’rifat ?  ,Pengertian Syariat ? ,Pengertian Tarekat ? ,Hubungan Tariqat dengan Tasawuf ? ,Sejarah Tariqat ? ,Macam Aliran Tariqat ? ,Pengertian Hakekat adalah ? ,Arti Ma’rifat itu adalah ? ,Hakikat Ma’rifat adalah ? ,Macam Ma’rifat ? ,Tokoh Ma’rifat ? ,Jelaskan Perbedaan Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma’rifat ?  ,Contoh Syariat, Tarekat ? ,contoh Syariat ? ,contoh Hakikat ? ,contoh Ma’rifat?



BAB I

 PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Tasawuf ialah salah satu cabang ilmu Islam yg menekankan dimensi atau aspek spiritual dri Islam.spiritualitas ini dpt mengambil bentukyg beraneka di dlmnya. Dlm kaitannya dgn manusia , tasawuf lebih menekankan aspek rohaninya ketimbang aspek jasmaninya .
 Dlm kaitannya dgn kehidupan, ia lebih menekankan aspek rohaninya ketimbang aspek jasmaninya ,dlm kaitannya dgn pemahaman keagamaan, ia lebih menekankan kehidupan akhirrat ketimbang kehidupan dunia yg fana, sedangkan dlm kaitannya dgn pemahaman keagamaan, ia lebih menekankan aspek esoterik ketimbang eksoterok, lebih menekankan penafsiran batini ketimbang penafsiran lahiriah. Tasawuf dlm arti sikap rohani takwa yg selalu ingin dekat dgn Allah SWT., dihubungkan dgn arti syari’at dlm arti luas yg meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia, baik hablum minallah, hablum minannas, maupun hablum minal ‘alam, mempunyai hubungan yg sangat erat dan saling mengisi antara satu dgn yg lainnya. Untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat dlm arti hakiki harus sepadn, simultan dgn tujuan tasawuf, yaitu melaksanakan hakikat ubudiyah guna memperoleh tauhid yg haqqul yaqin dan makrifatullah yg tahqiq.
Tariqat ialah pengamalan syariat, melaksanakan beban ibadh ( dgn tekun ) dan menjauhkan ( diri ) dri ( sikap ) mempermudah ( ibadh ), yg sebenarnya memang tdk boleh dipermudah. Dan tareqat merupakan jalan atau cara yg ditempuh menuju keridaan Allah.
Tasawuf ialah suatu bidang ilmu keIslaman dgn berbagai pembagian di dlmnya, yaitu tasawuf akhlaki dan tasawuf falsafi.Tahapan tasawuf yaitu syariat, tarekat,ma’rifat, dan hakikat. Dan di sini kita akan membahas mengenai pengertian hakikat, syaria, tarikat, ma’rifat.

PENGERTIAN SYARIAT, THARIKAT, HAKIKAT, & MA’RIFAT
PENGERTIAN SYARIAT, THARIKAT, HAKIKAT, & MA’RIFAT

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yg dimaksud syariat ?
2.      Apa yg dimaksud tarekat ?
3.      Apa yg dimaksud hakikat ?
4.      Apa yg dimaksud ma’rifat ?




BAB II
PEMBAHASAN

A.      SYARIAT


Hubungan Syari’ah dan Tasawuf

Tasawuf dlm arti sikap rohani takwa yg selalu ingin dekat dgn Allah SWT., dihubungkan dgn arti syari’at dlm arti luas yg meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia, baik hablum minallah, hablum minannas, maupun hablum minal ‘alam, mempunyai hubungan yg sangat erat dan saling mengisi antara satu dgn yg lainnya. Untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat dlm arti hakiki harus sepadn, simultan dgn tujuan tasawuf, yaitu melaksanakan hakikat ubudiyah guna memperoleh tauhid yg haqqul yaqin dan makrifatullah yg tahqiq.[1]
Untuk mencapai tujuan tasawuf dlm artian ini, maka seluruh aktifitas syari’at harus digerakkan, dimotivasi, didasarkan dan dijiwai oleh hati nurani yg ikhlas lillahi ta’ala untuk memperoleh ridla Allah dan kemaslahatan umat yg menjdi tujuan syari’at. Setelah itu, memperkokoh dan mentahqiqkan tauhid makrifatullah sebagaimana yg tercantum dlm al-Qur’an, yg artinya:
“dan Akuu tdk menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mreka menyembahku.”(Q.S. adz-Dzariyat:51-56) “tasawuf ialah jiwa yg memberi power kepad syari’at, sedangkan syari’at ialah power itu.”
Syari’at dilaksankan oleh anggota dzahir manusia yg mengadkan dan membuka hubungan dgn Allah SWT., sedangkan powernya melalui rohani batin yg datang langsung dri Allah SWT. Ibarat listrik, kabel ialah syari’at-syari’at lahirnya, sedangkan setrum ialah power melewati kabel yg bersumber dri central dynamo. Power itu ialah wasilah dri Allah SWT. melalui Arwahul Muqaddasah Rasulullah SAW. terus bersambung, berantai melalui ahli silsilah, sejak dri Nabi Muhammad SAW., kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq sampai Syekh Mursyid terakhir.[2]
Para ahli silsilah atau Syekh Mursid itu, bukan perantara, tetapi wasilah carrier, hamilul wasilah, pembawa wasilah. Orang sufi bukanlah manusia akhirat saja, tetapi jga manusia dunia. Dia harus memenuhi fitrahnya. Terutama untuk tercapainya tujuan syari’at Islam, yaitu agama, jiwa, akal,harta dan keturunan.
Imam Malik RA, berkata: “barang siapa bersyari’at saja tanpa bertasawuf, niscaya dia berkelakuuan fasik. Dan barang siapa bertasawuf tanpa bersyari’at, niscaya dia berkelakuuan zindik. Dan barangsiapa yg melakuukan kedua - duanya, maka sesungguhnya dia ialah golongan Islam yg hakiki.”
Imam Ali ad-Daqqaq mengatakan: “perlu diketahui bahwa sesungguhnya syari’at itu ialah hakikat. Bahwa sesungguhnya syari’at itu wajib hukumnya, krna ia ialah perintah Allah SWT. Demikian jga hakikat ialah syari’at untuk mengenal Allah. Hakikat itu wajib hukumnya, krna ia ialah perintah Allah.”(al-Qusyayri: 412)
Dgn demikian, integrasi tasawuf dan syari’at  menjdi syarat mutlak bagi kesempurnaan seorang muslim. Syari’at merupakan elaborasi dri kelima pilar Islam, sedangkan tasawuf berpangkal pad ajaran ihsan,
“an-ta’budallaaha ka-annaka tarah, fa-in-lam takuun tarah, fa-innahu yarak.”
Implikasinya, jika dlm syari’at diwajibkan thaharah sebelum melaksanakan ibadh, maka untuk mampu menembus penglihatan Tuhan, tasawuf mewajibkan penyucian diri melalui pintu taubat.
Kehadiran tasawuf mampu memicu ats-Tsaurah ar-Ruhiyyah dan menjdi spirit bagi pelakuunya. Sebaliknya, syari’at ibarat jalan yg akan dilalui oleh sufi dlm berevolusi. Apabila terlalu banyak hambatan dan lubangannya, jangan harap akan sampai pad terminal akhir.[3]



B.       TAREKAT

Pengertian Tarekat

Asal kata “tarekat” dlm bahsa Arab ialah “thariqah” yg berarti jalan, keadan, aliran, atau garis pad sesuatu.[4]Tarekat ialah jalan yanng ditempuh para sufi dan dpt digambarkan sebagai jalan yg berpangkal dri syariat, sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan disebut thariq. Kata turunan ini menunjukan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan cabang dri jalan utama yg terdiri dri hukum Ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim.[5]
Tak mungkin ad anak jalan tanpa ad jalan utama tempat berpangkal. Pengalaman mistik tak mungkin didpt bila perintah syariat yg mengikat itu tdk ditaati terlebih dahulu dgn seksama.[6]
Menurut Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy mengemukakan tiga macam definisi, yg berturut-turut disebutkan:

 ا لطر يقة هي ا لعمل با الشر يعة و ا لاخذ بعزا ئعها و ا لبعد عن ا لتسا هل
 فيما لا ينبغي ا لتسا هل فيه
Artinya:
“Tariqat ialah pengamalan syariat, melaksanakan beban ibadh ( dgn tekun ) dan menjauhkan ( diri ) dri ( sikap ) mempermudah ( ibadh ), yg sebenarnya memang tdk boleh dipermudah”[7]



االطر يقة هي ا جتنا ب ا لمنهيا ت ظا هرا و با طنا وا متثا ل ا لا وا مر ا لا لهية
 بقد ر ا لطا قة
Artinya:
“Tariqat ialah menjauhi larangan dan melakuukan perintah Tuhan sesuai dgn kesanggupannya, baik larangan yg nyata maupun yg  tdk
( batin ).” 


 الطر يقة هي ا جتنا ب ا محر ما ت و ا لمكرو ها ت و فضو ل ا لمبا حا ت
 و ا دا ء ا لفرا ئض فما ا ستطا ع من ا لنوا فل تحت ر عا ية عا ر ف من ا هل ا لنها ية
Artinya:
“Tariqat ialah meninggalkan yg haram dan makruh, memperhatikan hal-hal mubah ( yg sifatnya mengandung ) fadilah, menunaikan hal - hal yg diwajibkan dan yg disunatkan, sesuai dgn kesanggupan

( pelaksanaan ) di bawah bimbingan seorang arif ( Syekh ) dan ( Sufi ) yg mencita-citakaan dgn suatu tujuan.”[8]

Hubungan Tariqat Dgn Tasawuf

Dlm ilmu tasawuf istilah tarikat tdk saja ditunjukan kepad aturan dan cara-cara tertentu yg ditunjukan oleh seorang syaih tariqat (mursyid) dan bukan pula terhadp kelompok yg menjdi pengikut salah seorang syaih tariqat , tetapi meliputi segala aspek ajaran yg ad di dlm agama Islam, seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Ajaran tersebut merupakan jalan atau cara mendekatkan diri kepad Allah.[9]

Di dlm tariqat yg sudah melembaga, tariqat mencakuup semua aspek ajaran Islam seperti shalat, puasa, zakat, jihad, haji, dan sebagainya, telah diketahui  bahwa tasawuf itu secara umum ialah usaha unuk mendekatkan diri kepad Allah dgn sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan memperbanyak ibadh. Dan ajaran-ajaran tasawuf yg harus ditempuh untuk mendekatkan diri kepad Allah merupakan hakikat tariqat yg sebenarnya, dgn demikian bahwa tasawuf ialah usaha mendekatkan diri kepad Allah, sedangkan tariqat ialah cara atau jalan yg ditempuh seorang dlm usaha mendekatkan diri kepad Allah.


     Sejarah Timbulnya Tariqat

Ditinjau dri segi historisnya, kapan dan tariqat mana yg mula-mula timbul sebagai suatu lembaga, sulit diketahui  dgn pasti , namun De. Kamil Musthafa Asy-syibi dlm tasisnya mengungkapkan tokoh pertama yg memperkenalkan sistem tariqat syaih Abdul Qasiir al-Zailani ( 561 M-1166 H ) di Bagdag, Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i di mesir denagan tariqat Rifa’iyyaah, dan Jalal ad-din ar-rumi (672 H-1273 M) di Parsi.[10]
Pad awal kemunculannya, tariqat berkembang dri dua daerah yaitu, Khusaran ( Iran ) dan Mesopotamia ( Irak ) pad periode  ini mulai timbul beberapa diantara tariqat Yasafiyah yg didirikan oleh Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani.[11]
( 9617 H.1220 M ) tariqat Naqsabandiyah yg didirikan oleh Muhamad Baduddin an-Naqsabandi al-Awisi al-Bukhari ( 1389 M ) di Turkistan, tariqat Khalwatiyah yg didirikan oleh  Umar al-Khalwati (1397 M ).[12]

     Aliran-aliran Tariqat Dlm Islam

1. Tariqat Qadiriyah, yg didirikan oleh Muhy Ad-Din abd al-Qadir al-Jailani ( 471 h/1078 M
2. Tariqat Syadziliyah yg dinisbatkan kepad Nur Ad-Din Ahmad Asy-Syadzili ( 593- 656 H/ 1196-1258 M )
3. Tariqat Naqsabandiyah yg didirikan oleh Muhammad Baharuddin an-Naqsabandi al-Asisial-Bukhari (1389 M ) di Turkistan.
4. Tariqat Yasafiyah dan Khawajaqawiyah, tariqat Yasafiah didirikan oleh Ahmad al-Yasafi ( 562 H/1169 M ) sedangkan Khawajaqawiyah didirikan oleh Abd al-Khaliq al-Ghuzdawani ( 617 H/1220 M )
5. Tariqat Khalwatiyah  yg didirikan oleh al-Khalwati ( 1397 M )
6. Tariqat Syatariyah yg didirikan oleh Abdullah bin Syatar ( 1485 ) di India
7. Tariqat Rifa’iyah yg didirikan oleh Ahmad bin Ali ar-Rifa’i ( 1106-1182 )
8. Tariqat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah yg didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas yg bermukim dan mengajar di Mekah pad pertengahan  abad ke-19
9. Tariqat Summaniyah yg didirkan oleh Muhammad bin Abd al-Karim al-Madni Asy-Syafi’i as-Samman ( 1130-1189/1718-1775 )
10. Tariqat Tijaniah yg didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhamad at-Tijani ( 11501230 H/1737-1815 M ).
11. Tariqat Chistiyah yg didirikan oleh Khwajah Mu’in Ad-Din Hasan
12. Tariqat Mawlawiyah, yg didirikan oleh Syekh al-Kabir Gelminski
13. Tariqat Ni’matullah yg didirikan oleh Syaih Ni’matullah
14. Tariqat Sanusiyah yg didirikan oleh Sayyid  Muhammad bin Ali as-Sanusi.[14]
 
C.      HAKIKAT
Para sufi menyebut diri mreka ahl al haqiqah. Penyebutan ini mencerminkan obsesi mreka terhadp kebenaran yg hakiki. Krna itu, mudah dipahami kalau mreka menyebut Tuhan dgn “al-haqq,” seperti yg tercermin dlm ungkapan al Hallaj, “ana al Haqq” (akuu d Tuhan). Obsesi penafsiran mreka terhadp formula “la ilaha illa Allah” yg mreka artikan “tdk ad realitas yg sejati kecuali Allah.”
Bagi mreka Tuhanlah satu-satunya yg hakiki, dlm arti yg betul-betul ad, keberadan yg absolut, sedangkan yg lain keberadannya tdklah hakiki, atau nisbi, dlm arti tergantung pad kemurahan Tuhan. Dialah yg Awal dan yg Akhir, yg Lahir dan yg Batin, penyebab dri segala yg ad dan tujuan akhir, tempat mreka kembali. Ibarat matahari, Dialah yg memberi cahaya kepad kegelapan dunia, dan menyebabkan terangnya objek-objek yg tersembunyi di dlm kegelapan tersebut. Dia jualah pemberi wujud, sehingga benda-benda dunia menyembul dri persembunyiannnya yg panjang.
Al-Qur’an menggambarkan Tuhan sebagai “al-Awwal” dan “al-Akhir”, “al Zahir”, dan “al Batin”. Al-Awwal dipahami para sufi sebagai sumber atau prinsip atau asal dri segala yg ad. Dialah causa prima, sebab pertama dri segala yg ad/ maujudad di dunia ini. Dia yg akhir diartikan sebagai tujuan akhir atau tempat kembali dri segala yg ad di dunia ini, termasuk manusia. Dialah pulau harapan kamana bahtera kehidupan manusia berlayar. Inilah tujuan akhir sang sufi mengorientasikan seluruh eksitensinya.

D.      MA’RIFAT


Pengertian dan Tanda Ma’rifat

Dri segi bahasa, Ma’rifah berasal dri kata ‘arafa, ya’rifu, ‘irfan dan ma’rifah yg artinya mengetahui atau pengalaman.[15] Dan apabila dihubungkan dgn pengalaman tasawwuf, maka istilah ma’rifah di sini berarti mengenal Allah ketika Sufi mencapai suatu maqam dlm tasawuf.
Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama Tasawwuf, antara lain:
a.       Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendpt Ulama’ Tasawuf yg mengatakan:

اَلْمَعْرِفَةُ جَزْمُ قَلْبِ بِوُجُوْدِالْوَاجِبِ الْمَوْجُوْدِ مُتّصِفاً بِساَئِرِالْكَلِماَتِ
Artinya:
Ma’rifah ialah  ketepatan  hati (dlm memercayai hadirnya)wujud yg wajib adnya (Allah) yg menggambarkan segala kesempurnaan.”

b.      Asy-Syekh Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendpt Abuth Thayyib A-Samiriy yg mengatakan:
                                                                       اَلْمَعْرِفَةُ طُلُوْعِ الْحَقِّ، وَهُوَالْقَلْبُ بِمُوَاصَلَةِ الْاَنْوَارِ
Artinya:
Ma’rifah ialah hadirnya kebenaran Allah (pad sufi).... dlm keadan hatinya selalu berhubungan dgn Nur Ilahi...”
c.       Imam Al-Qusyairy mengemukakan pendpt Abdur Rahman bin Muhammad bin Abdillah yg mengatakan:


اْلْمَعْرِفَةُ يُوْجِبُ السّكِينَةَ فيِ الْقَلْبِ كَماَ اَنَّ الْعِلْمَ يُوْجِبُ السّكُوْنَ، فَمَنِ ازْدَادَتْ مَعْرِفَتُهُ اِزْدَادَتْ سَكِيْنَتُهُ
Artinya:
“Ma’rifah membuat ketenangan dlm hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan (dlm akal pikiran). Barang siapa yg meningkat ma’rifahnya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya).[16]


Tdk semua orang yg menuntut ajaran tasawuf dpt sampai kepad tingkatan ma’rifah. Krna itu, Sufi yg sudah mendptkan ma’rifah, memiliki tanda-tanda tertentu, sebagaimana keterangan Dzun Nun Al-Mishri yg mengatakan; ad beberapa tanda yg dimiliki oleh Sufi bila sudah sampai kepad tingkatan ma’rifah, antara lain:
a.         Selalu memancar cahaya ma’rifah padnya dlm segala sikap dan prilakuunya, krna itu, sikap wara’ selalu ad pad dirinya.
b.         Tdk menjdikan keputusan pad sesuatu yg berdasarkan fakta yg bersifat nyata, kerena hal-hal yg nyata menurut ajaran Tasawuf, belum tentu benar.
c.         Tdk menginginkan nikmat Allah yg banyak buat dirinya, krna hal itu bisa membawanya kepad perbuatan yg haram.
Dri sinilah kita dpt melihat bahwa seorang Sufi tdk membutuhkan kehidupan yg mewah, kecuali tingkatan kehidupan yg hanya sekedar dpt menunjang kegiatan ibadhnya kepad Allah SWT., sehingga Asy Syekh Muhammad bin Al-Fadhal mengatakan bahwa Ma’rifah yg dimiliki Sufi, cukup dpt memberikan kebahagiaan batin padnya, krna merasa selalu bersama-sama dgn Tuhannya.

Hakikat Ma’rifat

Ad segolongan orang Sufi mempunyai ulasan bagaimana hakikat ma’rifah. Mreka mengemukakan paham-pahamnya antara lain:
1.      Kalau mata yg ad di dlm hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepalanya tertutup, dan waktu inilah yg dilihat hanya Allah.
2.      Ma’rifah ialah cermin. Apabila seorang yg arif melihat ke arah cermin maka apa yg dilihatnya hanya Allah.
3.      Orang arif baik di waktu tidur dan bangun yg dilihat hanyalah Allah SWT.
4.      Seandainya ma’rifah itu materi, maka semua orang yg melihat akan mati krna tdk tahan melihat kecantikan serta keindahannya. Dan semua cahaya akan menjdi gelap disamping cahaya keindahan yg gilang-gemilang.[17]
”Akan tetapi pengetahuan yg disebut ma’rifah adlh pengetahuan Sufi. Ia dpt mengetahui hakikat Tuhan (ma’rifah). Sehingga ma’rifah hanya dpt diperoleh pad kaum Sufi. Mreka sanggup melihat Tuhan dgn cara melalui hati sanubarinya. Disamping itu jga mreka mreka didlm hatinya penuh dgn cahaya.
Untuk  memperoleh “Ma’rifah” tentang Tuhan, Zunun Al-Misrilah mengatakan:

عَرَفْتُ رَبّى وَلَوْلاَرَبّى لَماَ عَرَفْتُ رَبّىِ
Artinya:
“Akuu mengetahui Tuhan dgn Tuhan dan sekitarnya tdk krna Tuhan akuu tak akan tahu Tuhan.”

Dijelaskan pula, bahwa tanda orang makrifat itu ad tiga:
1.      Cahaya makrifatnya tdk memadmkan cahaya wara’nya.
2.      Tdk meyakini ilmu bathiniah yg dpt merusak lahiriah hukum.
3.      Banyaknya nikmat yg dianugerahkan Allah kepadnya dan tdk membawanya pad kebinasaan sampai merusak tabir dan hal-hal yg diharamkan oleh Allah.[18]

Jalan Ma’rifat

Menurut Al-Qusyairi ad tiga yaitu:
1.      Qalb ( اَلْقَلْبُ ) fungsinya untuk dpt mengetahui sifat Tuhan.
2.      Ruh (اَلرُّحُ ) fungsinya untuk dpt mencintai Tuhan.
3.      Sir ( اَلسِّرُّ ) fungsinya untuk melihat Tuhan.
Kedudukan Sir lebih halus dri Ruh dan Qalb. Dan ruh lebih halus qalb. Qalb di samping sebagai alat untuk merasa jga sebagai alat untuk berpikir. Bedanya qalb dgn aql ialah kalau ‘aql tdk dpt menerima pengetahuan tentang hakikat Tuhan, tetapi Qalb dpt mengetahui Hakikat dri segala  yg ad dan manakala dilimpahi suatu cahaya dri Tuhan, bisa mengetahui rahasia-rahasia Tuhan.
Posisi Sir ( اَلسِّرُّ )bertempat di dlm Ruh. Dan ruh ( اَلرُّوْحُ )sendiri berad di dlm qalb. Sir akan dpt menerima pantulan cahaya dri Allah apabila qalb dan ruh benar-benar suci, kosong dan tdk berisi suatu apapun. Pad suasana yg demikian, Tuhan akan menurunkan cahaya-Nya kepad mreka (Sufi). Dan sebaliknya mreka yg melakuukannya ( orang Sufi ) yg dilihat hanyalah Allah SWT.
Pad kedudukan diatas ia (orang Sufi) telah berad pad tingkat “Ma’rifah”. Sifat dri Ma’rifah Tuhan bagi seorang Sufi ialah kontinyu (terus menerus). Semakin banyak mendpt ma’rifah Tuhan, semakin banyak yg diketahui tentang rahasia-rahasia Tuhan. Sehingga orang Sufi semakin dgn Tuhan. Namun untuk memperoleh ma’rifah yg penuh tentang Tuhan mustahil, sebab manusia bersifat terbatas sedangkan Tuhan bersifat tdk terbatas.
Disamping itu, proses sampainya qalb pad cahaya tuhan ini erat kaitannya dgn konsep takhalli, tahalli, dan tajalli. Takhalli yaitu mengosongkan diri sari akhlak tercela dan perbuatan maksiat melalui taubat. Hal ini dilanjutkan dgn Tahalli, yaitu menghiasi diri dgn akhlak yg mulia dan amal ibadh. Sedangkan Tajalli ialah tersingkapnya hijab (penutup) sehingga tampak jelas cahaya Tuhan.[19]

Macam-macam Ma’rifat

Secara garis besar dpt diambil sebuah kejelasannya, bahwa Ma’rifat dpt dibagi kedlm dua kategori : pertama, Ma’rifat Ta’limiyat, dan kedua Ma’rifat Laduniah.

1.    Ma’rifat  Ta’limiyat
Ma’rifat Ya’limiyat merupakan istilah lain Ma’rifat yg di lontarkan oleh al-Ghazali25, dpt di depinisikan sebagai Ma’rifat yg dihasilkan dlm usaha memperoleh Ilmu. ta’limiyat berasal dri kata ta’lama, yuta’limu, ta’liman-ta’limiyatan yg berarti mencari pengetahuan atau dlm arti lain memperoleh ilmu pengetahuan. Sedangkan orang yg yg sedang mencari ilmu disebut muta’alim. Oleh krna itu Ma’rifat ta’limiyat yaitu berjalan untuk mengenal Allah dri jalan yg biasa, “mulai dri bawah hingga keatas”.
Di sisi teori yg lain Ma’rifat ta’limiyat dpt disebut jga dgn Ma’rifat orang salik Pad mulanya salik mengenal alam sebagai ciptaan Tuhan, kemudian mengenal nama-nama-Nya, kemudian mengenal sifat-sifat-Nya dan pad akhirnya mengenal Dzat Pencipta alam -Allah Azza wa jalla-.Adpun penjelasan mengenai Ma’rifat terhadp Asma, Sifat, dan Dzat Tuhan, diuraikan dlm 99 Nama-nama Tuhan, dlm istilah lain disebut asamul al-husna, sebagaimana yg dilontarkan oleh M. Ali Chasan Umar bahwa asma al-husna ialah Nama-nama Allah yg terbaik dan yg Agung, yg sesuai dgn sifat-sifat Allah, yg jumlahnya ad 99 (sembilan puluh sembilan) Nama. Krna itu, adnnya alam semesta menujukan adnya nama-nama Tuhan, nama-nama Tuhan itu menujukan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Tuhan itu ad hubungannya dgn Dzat-Nya, Ilmu-Nya, kekerasan. Keagungan-Nya dan tiad batasnya. Sifat-sifat tersebut itu selalu berdiri sendiri dan bergantung pad Dzat-Nya sebab tdk mungkin kalau ad sifat tetapi tdk ad yg disifati. Adpun yg disifati dgn sifat-sifat yg sempurna ialah Allah Azza wa Jalla. Nama-nama itu disebutkan dlm Firman-Nya :
Artinya  :  “Serulah Allah atau Rahman. Mana saja nama Tuhan yg km seru, Dia ialah ialah mempunyai nama-nama yg baik”. (Q.S. Al-Isra’: 110)
Ma’rifat ta’limiyat secara lebih luas dpt didefinisikan sebagai proses bagaimana cara mengenali Tuhan (Ma’rifat). artinya  salik (muta’alim) memerlukan metode untuk meraih Ma’rifat baik metode yg dilakuukan secara khusus misalnya menjdi murid untuk melakuukan  proses perjalanan ruhani (suluk) dlm tarekat sufi secara metodik, maupun metode yg dilakuukan secara umum atau tarekat yg secara langsung mengkaji dri sumber-sumber Tasawuf atau mengikuti jejak langkah yg dilakuukan oleh Rasulullah, Para sahabat, Tab’iin, Atba At-Tabi’in sampai ulama sekarang yg sejalan dgn al-Quran dan Hadits.
Adpun Arifubillah Muhammad bin Ibrahiim mendefinisikan bahwa hakikat cara (suluk), ialah mengosongkan diri Dri sifat-sifat mazmumah/buruk (dri maksiat lahir dan dri maksiat batin) dan mengisinya dgn sifat-sifat terpuji/mahmudah (dgn taat lahir dan batin). Tujuan dri pad suluk, bukan sekedar untuk maksud mendpt ni’mat dunia dan akhirat atau untuk memperoleh limpahan-limpahan karunia Allah,  arau mendptkan sorotan cahaya (nur), dan lain-lain, sehingga salik (muta’alim) dpt mengetahui suratan nasib. Tetapi suluk bertujuan untuk Allah semata. Dgn jalan suluk, maka semua pelajaran-pelajaran yg dipelajari dlm Tasawuf/ Tarekat, dgn karunia-Nya salik sendiri akan mengalami keyakian dekat dgn Tuhan. Firman Allah:

فَاْسلُكِى سُبُلَ َرّبِكَ ذُللاًّ
Artinya : “Maka tempuhlah jalan Tuhan-Mu yg telah dimudahkan bagimu. Dlm menempuh jalan Tuhan (suluk) maka ahli-ahli Tasawuf/Tarekat merasa yakin akan sapai kepad Tuhan”.


Kearah menempuh tujuan itu, salik (muta’alim) menempuh bermacam-macam cara yg dpt membawa meraka yg pad akhirnya sampai pad hadirat Allah :al-Ghazali menyebutkan cara tersebut berupa Penyucian jiwa (tazkiyat an-nafs) artinya sesorang harus melakuukan penyucian jiwa  terlebih dahulu. Perolehan Ma’rifat  yg merupakan hasil dri kegiatan penyucian jiwa, harus terlebih dahulu dgn metode mujahadh dan riyadhah. Setelah mendaki stasiun demi stasiun menuju Tuhan, salik (pelakuu tazkiyat an-nafs) hampir dpt dipastikan bahwa telah memperoleh jiwa yg bersih dri segala kejahatan dan dosa, yg diakibatkan dri akhlak-akhlak tercela. Jiwa seperti ini akan bercahaya dgn segala sifat yg terpuji sehingga dpt menangkap gambar suatu informasi atau pengetahuan yg tertera di lauh al-Mahfudh, yg langsung diberikan oleh Allah kepadnya dlm kondisi Ma’rifat.
Adpun fase-fase yg harus ditempuh  kerah mencapai hakikat, salik (muta’alim) dpt melakuukan amal ibadt cara menuju kepad Tuhan dgn menempuh empat fase :
Fase 1. Disebut dgn murhalah amal lahir. Artinya : berkenalan melakuukan amal ibadt yg dipardukan dan sunnat, sebagai mana yg dilakuukan Rosulullah Saw.
Fase 2. disebut amal batin atau moraqabah (mendekatkan diri pad Allah) dgn jalan menyucikan diri dri maksiat lahir dan batin (takhalli), memerangi hawa nafsu, dibarengi dgn amal yg terpuji (mahmudah) dri taat lahir dan batin (tahalli) yg semuanya itu merupakan amal qalb (hati). Setelah hati dan ruhani telah bersir dan diisi dgn amalan batin (dzikir), maka pad fase ini salik didatangkan nur dri Tuhan yg dinamakan nur kesadran.
Fase 3. disebut murhalah riadhah/ melatih diri dan mujahadh/ mendorong diri. Maksud dri dri pad mujahadh yakni melakuukan jihad lahir dan batin  untuk menambah kuatnya kekuasaan ruhani atas jasmani, guna membebaskan jiwa kita dri belenggu nafsu duniawi, supaya jiwa itu menjdi suci, Imam ghazali mengumpamakan seperti kaca cermin yg dpt menangkap sesuatu apapun yg bersifat suci, sehgingga salih dpt menerima informasi hakiki tentang Allah.
Fase 4. disebut murhalah “fana kamil” yaitu jiwa salik telah mencapai pad martabat  menyaksikan langsung yg haq dgn al-haqq (syuhudul haqqi bil haqqi). Pad fase keempat ini, sebagai puncak segala perjalanan, maka didatangkan nur yg dinamakan “nur kehadiran”

2.    Ma’rifat Laduniyah

Ma’rifat laduniyah yaitu Ma’rifat yg langsung dibukakan oleh Tuhan dgn keadan kasf, mengenal kepad-Nya. Jalannya langsung dri atas dgn menyaksikan Dzat yg Suci, kemudian turun dgn melihat sifat-sifat-Nya, kemudian  kembali bergantung kepad nama-nama-Nya. Ibnu ‘Atha’illah memberi istilah lain terhadp Ma’rifat laduniyah dgn sebutan Ma’rifat orang mahjdub. Ma’rifat orang mahjdub yg diungkapkan oleh Ibnu ‘Atha’illah merupakan sebuah Ilmu yg diberikan secara langsung oleh Tuhan kepad manusia yg ad sisi kesamaannya dgn Ma’rifat Laduniyah. Lebih jauh, kalangan sufi tersebut menyatakan bahwa orang yg telah mengenal Allah, jga akan dianugrahi Ilmu laduni. Ilmu laduni merupakan ilmu yg di ilhamkan oleh Allah Swt. Kepad hati hamba-Nya tanpa melalui suatu perantara  (wasitaha), sebagaimana perantara yg pad umumnya dibuat untuk memeperoleh ilmu pengetahuan –seperti talqin dri - sufi.
Tdk sama dgn ilmu pengetahuan yg diperoleh secara biasa (Ma’rifat talimiyat), ilmu laduni bersifat tetap dan tdk dpt hilang atau terlupakan. Seseorang yg telah dianugrahi ilmu laduni disebut dgn ‘alim sejati’ (alim yg sebenarnya). Sebaliknya, seseorang yg tdk memperoleh dri ilmu laduni, belum bisa disebut sebagai alim sejati. Hal ini dinyatakan oleh Abu Yazid al Bistami bahwa “Tdklah disebut sebagai alim (ma’rifat al-mahdjub) jika seseorang masih memeproleh ilmunya dri hapalan-hapalan kitab, krna seseorang yg memperoleh ilmunya dri hapalan, pasti akan mudah melupakan ilmunya. Dan apabila ia lupa, maka bodohlah ia ”Seorang yg ‘alim (ma’rifat laduniyah) ialah orang yg memeproleh ilmunya langsung dri Allah menurut waktu yg dikehendaki-Nya, dgn tdk melalui hapalan dan pelajaran. Orang seperti ini pula menurut Muhammad Nafis disebut sebagai ‘alim ar-Rabani -orang yg berpengetahuan ketuhanan-. Dgn demikian Ma’rifat laduniyah jga dpt disebut Ma’rifat orang Mahjdzub jga dpt disebut ‘alim ar-Rabani yaitu orang yg langsung dibukakan oleh Tuhan untuk mengenal kepad-Nya. Jalannya langsung dri atas dgn menyaksikan Dzat yg Suci, kemudian turun dgn melihat sifat-sifat-Nya, kemudian kemudian kembali bergantung kepad nama-nama-Nya.
Firman Allah dlm al-Qur’an :

اتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَاوَعَلَمْنَاهُ مِنْ لَدُنّاَعِلْمًا الكهف : 65
Artinya : “…yg telah berikan padnya rakmat dri sisi kami, dan yg telah kami ajarkan kepadnya ilmu dri sisi kami” (al-Kahfi : 65).


Ma’rifat laduniyah tdk jauh bedanya dgn ‘alim Rabbani yg berbeda dgn Ilmu yg dipelajari para Ilmuwan, dlm istilah al-Ghazali disebut dgn Ilmu ta’limiyat. Namun, keduanya tetap berhubungan. Hubungan antara keduanya, menurut al-Ghazali laksana naskah asli dgn duplikatnya. Hal ini mirip dgn teori plato bahwa Ilmu yg ad di alam ide itu lebih murni dri pad ilmu yg telah digelar di alam raya, namun kedunya persis sama, seperti halnya naskah asli dgn duplikatnya atau fotokopinya. Ilmu laduniyah, ‘alim Ar-Rabani, ‘alim sejati, dan Ma’rifat orang mahjdub dpt dicapai oleh para sufi dlm keadan penghayatan Kasyf, sedang ilmu ta’limyah hanya dpt dipelajari oleh para ilmuwan setapak demi setapak dgn susah payah. Oleh krna itu, para sufi tdk tertelan belajar melalui pengkajian buku-buku atau penelitian secara radikal terhadp kenyataan alamiyah seperti halnya ilmuwan. Para sufi menginginkan jalan pintas untuk memperoleh sumber asli dri segala ilmu  yg tersurat di lauh mahfudz. Penghayatan Kasf dan Zauq itu berad dlm kondisi Ma’rifat, krna Ma’rifat memiliki hubungan yg erat dgn musyahadh dan mukasyafah. Ma’rifat itu sendiri merupakan ajaran Tasawuf, yg pad garis besarnya merupakan ajaran kesucian jiwa, yaitu semata-mata untuk memasuki  hadharah al-qudsiyah (hadirat kesucian) atau hadharah Rububiyah (hadirat ketuhanan), akan tetapi dlm hal ini, Ma’rifat lebih signifikan krna keberadan musyahadh dan mukasyafah bergantung pad Ma’rifat dan dgn Ma’rifat pula, ilmu laduni ikut menyertainya.
Dlm hal ini Ibnu ‘Atha’illah mengemukakan hikmahnya sebagai berikut :
اَشْهَدَكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَسْتَشْهَدَكَ فَنَطَقَتْ بِإِلَهِيَّتِهِ الّظَوَهِرُوَتَحَقَّقَتْ بِأَحَدِيـــَّــتِهِ الْقُلُوْبُ وَالسَّرَاِئرِ
Artinya : “Allah memperlihatkan Dzat-Nya kepadmu sebelum Dia menuntut kepadmu harus mengeakuui keberasan-Nya. Maka anggota lahir mengucapkan (mengakuui) sifat ke-Tuhanan-Nya dan hati menyatakan dgn sifat-sifat ke Easaan-Nya.
Maksud perkataan hikmah tersebut ialah “Tuhan menampakan keluhuran dan keagungan Dzat-Nya didlm hati seseorang, setelah itu Allah menunutut persaksian kepadmu mengenai  kebesaran dan keluhuran-Nya dgn melakuukan dzikir dan Ibadh.  Ibadh yg dilakuukan dgn anggota lahir sebagai persaksian mengenai keagungan  dan keluhuran-Nya, dan dzikir yg dilakuukan dlm hati sebagai pengakuuan dri sifat-sifat ke-Esaan-Nya”.[20]

Manfaat Ma’rifat

Semua yg ad di alam ini mutlak ad dlm kekuasaan Allah. Ketika melihat fenomena alam, idealnya kita bisa ingat kepad Allah. Puncak ilmu ialah mengenal Allah (ma'rifatullah). Kita dikatakan  sukses dlm belajar bila dgn belajar itu kita semakin mengenal Allah. Jdi percuma saja sekolahtinggi, luaspengetahuan, gelarprestisius, bila semua itu tdk menjdikan kita makin mengenal Allah.
Mengenal Allah ialah aset terbesar. Mengenal Allah akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tdk, dgn mengenal Allah kita akan merasa ditatap, didengar, dan diperhatikan selalu. Inilah kenikmatan hidup sebenarnya. Bila demikian, hidup pun jdi terarah, tenang, ringan, dan bahagia. Sebaliknya, saat kita tdk mengenal Allah, hidup kita akan sengsara, terjerumus pad maksiat, tdk tenang dlm hidup, dan sebagainya.
Ciri orang yg ma'rifat ialah laakhaufun 'alaihim walahum yah zanuun. Ia tdk takuut dan sedih dgn urusan duniawi. Krna itu, kualitas ma'rifat kita dpt diukur. Bila kita selalu cemas dan takuut kehilangan dunia, itu tandanya kita belum ma'rifat. Sebab, orang yg ma'rifat itu susah senangnya tdk diukur dri ad tdknya dunia. Susah dan senangnya diukur dri dekat tdknya ia dgn Allah. Maka, kita harus mulai bertanya bagaimana agar setiap aktivitas bisa membuat kita semakin kenal, dekat dan taatkepdllah.
Salah satu ciri orang ma'rifat ialah selalu menjaga kualitas ibadhnya. Terjaganya ibadh akan mendatangkan tujuh keuntungan hidup.
Pertama,Hidup selalu berad di jalan yg benar (ontherighttrack).
Kedua,memiliki kekuatan menghadpi cobaan hidup. Kekuatan tersebut  lahir dri terjaganya keimanan.
Ketiga, Allah akan mengaruniakan ketenangan dlm hidup. Tenang itu mahal harganya. Ketenangan tdk bisa dibeli dan ia pun tdk bisa dicuri. Apa pun yg kita miliki, tdk akan pernah ternikmati bila kita selalu resah gelisah.
Keempat,seorang ahli ibadh akan selalu optimis. Ia optimis krna Allah akan menolong dan mengarahkan kehidupannya. Sikap optimis akan menggerakkan seseorang untuk berbuat. Optimis akan melahirkan harapan. Tdk berarti kekuatan fisik, kekayaan, gelar atau jabatan bila kita tdk memiliki harapan.
Kelima, seorang ahli ibadh memiliki kendali dlm hidupnya, bagaikan rem pakem dlm kendaraan. Setiap kali akan melakuukan maksiat, Allah SWT akan memberi peringatan agar ia tdk terjerumus. Seorang ahli ibadh akan memiliki kemampuan untuk bertobat.
Keenam, selalu ad dlm bimbingan dan pertolongan Allah. Bila pad poin pertama Allah sudah menunjukkan jalan yg tepat, maka pad poin ini kita akan dituntun untuk melewati jalan tersebut.
Ketujuh, seorang ahli ibadh akan memiliki kekuatan ruhiyah, tak heran bila kata-katanya bertenaga, penuh hikmah, berwibawa dan setiap keputusan yg diambilnya selalu tepat.
Kemampuan Manusia untuk melakuukan Ma’rifat Allah menciptakan manusia dgn sempurna yaitu diberikannya bentuk tubuh yg baik, akal pikiran dan nafsu, kemudian manusia itu sendiri yg menentukan mampu atau tdknya menggunakan pemberian Allah dgn baik (QS. Attin: 4-5). Ruh sebagai power untuk menghidupkan seluruh anggota badn, Akal sebagai alat untuk menerima ilmu pengetahuan atau untuk mengetahui hakikat sesuatu secara logis tanpa mempertimbangkan hal-hal yg irasional, anggota tubuh seperti panca indra yg hanya dpt merealisasikan secara indrawi tanpa mempertimbangkan pernghalangnya. Dri semua anggota tubuh manusia hanya Hati yg dpt menerima sesuatu yg mutlak dri Allah yg maha kuasa krna hati ialah sebagai tuan dri anggota tubuh, semua aktivitas anggota tubuh digerakkan oleh hati dan hati ialah Allah yg menggerakkan.[21]

Tokoh Ma’rifat

Dlm litelatur tasawuf, dijumpai dua orang tokoh yg mengenalkan paham ma’rifat, yaitu al-Ghazali dan Dzannun al-Misri.[22]
Al-Gazali mengakhiri masa pertualangannya, krna telah mendpt “pegangan” yg sekuat-kuatnya untuk kembali berjuang dan bekerja di tengah masyarakat. Pegangan itu ialah “Paham Sufi” yg diperolehnya berkat ilham Tuhan di tanah suci Mekkah dan Madinah.
Mengakhiri hidup menyendiri dan masuk kembali ke tengah masyarakat, sesudah bertahun-tahun lamanya menggali-gali kebenaran untuk dirinya sendiri, krna dia tetap beribadt dan tetap berbuat amal di mana saja dia berad, tetapi persoalannya ialah jalan mana yg benar ditempuh untuk meyakinkan kebenaran itu kepad khayalak ramai.
Sesudah mendpt ilham yg benar di bawah lindungan Ka’bah maka terbukalah pikirannya untuk berkumpul dgn segenap keluarganya. Hidup pertualangan yg berjalan 10 tahun lamanya, sudah cukup membosankannya, dan timbullah pikiran yg normal untuk kembali hidup di tengah masyarakat.
Terhadp hal ini, Al-Ghazali mengatakan: “kemudian panggilan anak-anak dan cinta keluarga menarik sebagai besi berani supaya akuu pulang ke tanah air. Akuu bersiap-siap akan pulang sesudah bertahun-tahun akuu menjauhinya krna mengutamakan hidup berkhalwat dan menyendiri untuk membersihkan jiwa mengingat Tuhan. Peristiwa-peristiwa hidup, kepentingan hidup berkeluarga dan desakan-desakan hidup telah mengubah tujuan hidupku, mengacukan pikiran berkhalwat, sehingga timbullah kegelisahan batin yg tdk membersihkan suasana hidupku lgi. Sungguhpun begitu, tdklah putus harapanku dan segala arah yg melintang akuu singkirkan ke pinggir, supaya dpt akuu pulang kembali”.
Hatinya sudah bulat untuk pulang. Tetapi sebagai orang besar, tdklah mungkin dia pulang dgn tdk ad panggilan resmi dri pihak pemerintah. Kebetulan datanglah panggialan yg ditunggu-tunggunya itu. Perdana Mentri Fakhrul Mulk, putera dri Nizamul Mulk almarhum, telah memintanya supaya segara pulang ke Niesabur untuk memimpin Universitas Nizamiyah yg di tanggalkannya.
Pad 499 H = 1105 M, Al-gazali pulang kembali ke Niesabur dgn hati yg penuh bangga sebagai seorang pahlawan yg gagah yg pulang dangan kemenangan dri suatu pertempuran terhadp kepulangannya ini, dikatakan oleh H.K. Sherwani: “Malik Shah was Succeeded by his youngest son, mahmud, was in turn succeeded by his eldest by brother barqijaruq, while another of Malik Shahs son, Sanjar, gevernor of Khorrasan, made Nizamul Mulk’s son Fakru’l Mulk his shief minister, and he, true to tradition of his illustrious melalui jalan yg aneh-aneh. Dikatakan bahwa waktu Rabiah menghadpi maut, ia minta teman-temannya meninggalkannya, dan ia menyilakan pad para utusan Tuhan lewat. Waktu teman-teman itu berjalan keluar, mreka mendengar Rabiah mengucapkan syahadh, dan ad suara yg menjawab, “Sukma, tenanglah kembalilah kepad Tuhanmu, legakan hatimu pad-Nya, ini akan memberikan kepuasan kepad-Nya”.
Diantara doa-doa yg tercatat berasal dri Rabiah ad doa yg dipanjatkannya pad waktu larut malam, diatas atap rumahnya. “Tuhanku, bintang-bintang bersinar gemerlapan, manusia sudah tidur nyenyak, dan raja-raja telah menutup pintunya, tiap orang yg bercinta sedang asyik masuk dgn kesygannya, dan di sinilah akuu sendirian bersama Engkau.”
Doa lain : “Ya Rabbi, bila akuu menyembah-Mu krna takuut akan neraka bakarlah diriku di dlmnya. Bila akuu menyembahmu-Mu krna harap akan surga jauhkanlah akuu dri sana. Namun jika akuu menyembah-Mu hanya demi Engkau maka janganlah Kau tutup Keindahan Abadi-Mu.[23]
Adpun Dzannun al-Misri berasal dri Naubah, suatu Negeri yg terletak diantara Sudan dan Mesir. Lahir pad tahun 180H/799M dan wafat pad tahun 246H/865M.[24] Menurut Hamka, beliaulah yg banyak sekali menambahkan jalan menuju Tuhan, yaitu mencintai Tuhan, menuruti garis perintah yg diturunkan dan takuut terpalingkan dri jalan yg benar.[25] Dlm sebuah hikayat, Dzunnun terkenal sebagai orang yg tinggi ilmu agamanya serta mustajab do’anya. Dlm sebuah cerita disebutkan bahwa nama Dzunnun muncul ketika terjdi sebuah peristiwa yg menunjukkan karomah yg dimilikinya. Pad saat mengadkan perjalanan, Dzunnun dituduh mencuri batu berharga yg mengakibatkan dirinya disiksa. Namun merasa tdk melakuukan, Dzunnun berdoa dan memohon kepad Allah tentang kebenaran. Akhirnya do’anya dikabulkan melalui ribuan ikan yg membawa batu berharga di mulutnya dan mendekati kapal kemudian menyerahkan kepad saudagar yg menuduhnya mencuri.
Dlm sejumlah kitab, Dzunnun dikabarkan sebagai orang zuhud dan berilmu tinggi. Kema’rifatannya tentang Tuhan mampu menembus batas-batas kosmik manusia biasa. Dlm sufi terdpt beberapa tingkatan ma’rifat. Yg pertama ialah tingkatan yg paling rendah yg berad pad orang awam. Tingkatan ini mengakuui adnya Tuhan serta membenarkan apa yg disampaikan Rasul-Nya. Kedua tingkatan Teolog atau Filosof. Tingkatan ini mengetahui Tuhan berdasarkan pertimbangan empiris dan penciptaan, dan belum menyaksikan langsung dlm penyingkapan bathin. Tingkatan yg ketiga ialah tingkatan yg paling tinggi didlm kema’rifatan, yaitu mengetahui keberadan, sifat dan perilakuu Tuhan melalui sanubarinya. Menurut Dzunnun, kema’rifatan dpt dilihat dgn mengetahui ciri-cirinya yaitu selalu bertaqwa kepad Allah, dan senantiasa bersyukur.
Dlm tingkatan ketaqwaan, Dzunnun jga menyinggung masalah khauf atau rasa takuut kepad Allah serta mahabbah kepad Allah. Tuhan harus dicinyai dri segalanya. Seseorang yg mencintai khaliq akan berbuat apa saja untuk dicintainya bahkan masuk neraka sekalipun ialah lebih baik dimata Dzunnun dri pad berpisah dri sang khaliq. Dlm berbagai pandang yg disampaikan, Dzunnun ternyata banyak membawa dampak dan inspirasi bagi ulama’ sesudahnya.[26]



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Tasawuf dlm arti sikap rohani takwa yg selalu ingin dekat dgn Allah SWT., dihubungkan dgn arti syari’at dlm arti luas yg meliputi seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia, baik hablum minallah, hablum minannas, maupun hablum minal ‘alam, mempunyai hubungan yg sangat erat dan saling mengisi antara satu dgn yg lainnya. Untuk mencapai kemaslahatan dunia dan akhirat dlm arti hakiki harus sepadn, simultan dgn tujuan tasawuf, yaitu melaksanakan hakikat ubudiyah guna memperoleh tauhid yg haqqul yaqin dan makrifatullah yg tahqiq.
Tariqat ialah pengamalan syariat, melaksanakan beban ibadh (dgn tekun) dan menjauhkan (diri) dri (sikap) mempermudah (ibadh), yg sebenarnya memang tdk boleh dipermudah. Dan tareqat merupakan jalan atau cara yg ditempuh menuju keridaan Allah.
        Hubungan tasawuf dgn tareqat yaitu, tasawuf ialah usaha mendekatkan diri kepad Allah, sedangkan tariqat ialah cara atau jalan yg ditempuh seorang dlm usaha mendekatkan diri kepad Allah.
Adpun sejarah timbulnya tareqat, Harun Nasution menyatakan bahwa setelah al-Ghazali memenghalalkan tasawuf yg sebelumnya yg dikatakan sesat, tasawuf berkembang didunia Islam, melalui tarikat. Tariqat ialah organisasi dri pengikut-pengikut sufyn besar, yg bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya, tariqat memakai suatu tempat pusat kegiatan yg disebut ribat, ini merupakan tempat murid-murid berkumpul melestarikan ajaran tasawufnya.
Para sufi menyebut diri mreka ahl al haqiqah. Penyebutan ini mencerminkan obsesi mreka terhadp kebenaran yg hakiki. Krna itu, mudah dipahami kalau mreka menyebut Tuhan dgn “al-haqq,” seperti yg tercermin dlm ungkapan al Hallaj, “ana al Haqq” (akuu ialah Tuhan). Obsesi penafsiran mreka terhadp formula “la ilaha illa Allah” yg mreka artikan “tdk ad realitas yg sejati kecuali Allah.”
Ma’rifah berasal dri kata ‘arafa, ya’rifu, ‘irfan dan ma’rifah yg artinya mengetahui atau pengalaman. Dan apabila dihubungkan dgn pengalaman tasawwuf, maka istilah ma’rifah di sini berarti mengenal Allah ketika Sufi mencapai suatu maqam dlm tasawuf.




DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon. 2000, Ilmu Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia
Hasan F Abdillah. 2004. Tokoh-tokoh Masyhur Dunia Islam. Surabaya: Jawara.
Hilal, Ibrahim. 2002. Tasawuf Antara Agama dan Filsafat. Bandung: Pustaka Hidayah.
Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Jilid III, Beirut: Dar al-Fikr,t.t.
Makluf, Luis. 1986,  Al-Munjid Fi Al-Lughat Wa Al-A’lam. Bairut: Dar Al-Masyrik
Mustafa, Ahmad. 2008. Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.
Mustofa, A. 2007, Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia
Mustofa, A. 2010, Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia
Nasution, Harun,1983, Falsafah dan Mistisisme dlm Islam, Jakarta: Bulan Bintang.
Nasution, Harun. 1986, Perkembangan Tasawuf Di Dunia Islam. Jakarta: Depag RI
Renard, John. 2006. Mencari Tuhan Menyelam ke Dlm Samudra Makrifat. Bandung: Mizan.
Schimel, Annemarie. 1986, Dimesti Mistik Dlm Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus
Solihin, M. 2008,  Ilmu Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia
Tebba, Sudirman. 2006. Merengkuh Makrifat Menuju Ekstase Spiritual. Jakarta: Pustaka Irvan.
Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya. 2011. Studi al-Qur’an. Surabaya: IAIN Sunan Ampel.
Yunus, Mahmud, 1990, Kms Arab Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung.



[1] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dlm Islam, (Jakarta:Bulan Bintang, 1983).
[2] Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr,t.t.), hlm. 162-178.
[3] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dlm Islam, hlm. 62.
[4] Luis Makluf, Al-Munjid fi Al-Lughat wa Al-A’lam ( Bairut: Dar Al-Masyriq, 1986 ), hal.465.
[5] M. Solihin, Ilmu Tasawuf (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008 ), hal.203.
[6] Annemarie Schimel, Dimensi Mistik dlm islam ( jakarta: Pustaka Firdaus, 1986 ), hal.101.
[7] A. Mustofa, Akhlak Tasawuf ( Bandung: Pustaka Setia, 2007 ),hal.280.
[8]A. Mustofa, Akhlak Tasawufhlm.280-281.
[9] Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi, Pengantar Ilmu Tasawuf ( Sumatra Utara, 1981/1982 ),hal.273.
[10]M. Solihin, Ilmu Tasawuf, hlm.207.
[11] Harun Nasution, Perkembangan Tasawuf di Dunia Islam,hlm.24.
[12] Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf ( Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000 ), hal.167.
[13]Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf, hlm.168.
[14]M. Solihin, Ilmu Tasawuf,hlm.217-218.
[15]Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabay, Studi al-Qur’an, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2011), hlm. 303.
[16] Ahmad Mustafa, Akhlak Tasawuf, hlm. 254.
[17] Sudirman Tebba, Merengkuh Makrifat Menuju Ekstase Spiritual, (Jakarata: Pustaka Irvan: 2006), hlm. 161.
[18] Sudirman Tebba, Merengkuh Makrifat Menuju Ekstase Spiritual,hlm. 162.
[19] Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabay, Studi al-Qur’an, hlm. 306-307.
[22] Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabay, Studi al-Qur’an, hlm. 309.

[23] Ahmad Mustafa, Akhlak Tasawuf, hlm. 271.
[24] Abdillah F Hasan, Tokoh-tokoh Masyhur Dunia Islam, (Surabaya: Jawara, 2004), hlm. 137.
[25] Tim penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi al-Qur’an, hlm. 310.
[26] Abdillah F Hasan, Tokoh-tokoh Masyhur Dunia Islam, hlm. 137-138

Visitor