7 RAGAM PENGGUNAAN BAHASA DALAM KARYA TULIS ILMIAH




Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah merupakaan ragam bahasa berdasarkan pengelompokan menurut jenis pemakaiannya dlam bidang kegiatan sesuai dengaan sifat keilmuan. Bahasa Indonesia harus memenuhi syarat di antaranya benar (sesuai dengaan kaidah bahasa Indonesia baku) logis, cermat dan sistematis. Selain itu Makalah ini juga membahas Ciri Ragam, Sifat dan Syarat dan pengaruh bahasa dalam karya ilmiah.




 BAB I

PENDAHULUAN


1.1.   Latar Belakaang

Kaarya tulis ilmiah menuntut kecermatan bahasa karena kaarya tersebut harus disebarluaskan kepadaa pihak yg tdak secara langsung berhadaapan dengaan penuliss baik padaa saat tulisan diterbitkan atau padaa beberapa tahun sesudah itu. Kecermatan bahasa menjamin bahwa makna yg ingin disampaikan penuliss akaan sama persis seperti makna yg ditangkap pembaca tanpa terikat oleh waktu. Kesamaan interpretasi terhadaap makna akaan tercapai kalau penuliss dan pembaca mempunyai pemahaman yg sama terhadaap kaidah  kebahasaan yg digunakaan. Lebih darii itu, komunikasi ilmiah juga akaan menjadi lebih efektif kalau kedua pihak mempunyai kekayaan yg sama dlam hal kosakata. Ciri bahasa keilmuan ialah kemampuan bahasa tersebut untk mengungkapkan gagasan dan pikiran yg kompleks dan abstrak secara cermat. Kecermatan gagasan dan buah pikiran hanya dpat dilakukan kalau struktur bahasa (termasuk kaidah pembentukan istilah) sudah canggih dan mantap.

Kemampuan berbahasa yg baik dan benar merupakaan persyaratan mutlak untk melakukan kegiatan ilmiah sebab bahasa merupakaan sarana komunikasi ilmiah yg pokok. Bahasa juga bisa dikatakaan sebagai alat yg dipakai untk mempengaruhi dan dipengaruhi.
 
Fungsi bahasa yg dilengkapi oleh sederetan pengertian untk kaarya ilmiah tdak perlu diperdebatkan lagi. Bahasa di dlam proses berpikir tdak sekedar menjadi bumbu, tetapi mempunyai fungsi yg menetukan. Karena itu bahasa yg terpelihara di dlam kaarya ilmiah ialah alat yg terbaik untk menyampaikan tingkatan dan proses berpikir, argumentasi dan penalaran.

BAB II

PEMBAHASAN


Dlam dunia akademik, kaarya tulis ilmiah didefinisikan sebagai tulisan yg didasari oleh pengamatan, peninjauan, penelitian, dan perenungan dlam bidang keilmuan tertentu; disusun menurut metode tertentu dengaan penulissan yg santun, baik, dan benar; atau berdasarkan kaidah baku ragam bahasa tulis. Kebenaran isinya pun harus dpat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Berdasarkan kedlaman kajian permasalahannya, kaarya tulis ilmiah dpat dibedakaan menjadi beberapa bentuk

a.        Laporan penelitian, yaitu tulisan yg merupakaan hasil percobaan, peninjauan, atau observasi sementara.
b.       Kaarya tulis akademik, berupa skripsi tesis, dan disertasi.
c.        Buku teks, yakni diktat atau buku-buku ilmiah yg digunakaan sebagai penunjang bahan ajar (Ekosusilo, 1991; Wibowo, 2008)

Berkenaan dengaan hal di atas, maka suatu tata permainan bahasa tdak mungkin dilepaskan darii hakikat bahasa sebagaimana diyakini oleh aliran Filsafat Bahasa Biasa bahwa makna sebuah kata ialah penggunaannya dlam kalimat, makna kalimat ialah penggunaannya dlam bahasa, dan makna bahasa ialah penggunaannya dlam hidup.

2.1. Penggunaan Bahasa dlam Penulissan kaarya ilmiah

Bahasa ilmiah merupakaan ragam bahasa berdasarkan pengelompokan menurut jenis pemakaiannya dlam bidang kegiatan sesuai dengaan sifat keilmuan. Bahasa Indonesia harus memenuhi syarat di antaranya benar (sesuai dengaan kaidah bahasa Indonesia baku) logis, cermat dan sistematis.
Padaa bahasa ragam ilmiah, bahasa, bentuk, dan ide yg di sampaikan melalui bahasa itu sebagai bentuk dlam, tdiak dpat di pisahkan. 

Hal ini terlihat padaa ciri bahasa karya tulis ilmiah sebagai berikut :

1.       Baku.

Struktur bahasa yg digunakaan sesuai dengaan kaidah bahasa Indonesia baku, baik mengenai struktur kalimat maupun kata. Ragam bahasa baku memiliki dua sifat sebagai berikut :
·         Kecendekiawan: sanggup mengungkapkan proses pemikiran yg rumit diberbagai ilmu dan teknologi.
·         Seragam: padaa hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa. Dengaan kata lain, pembakuan bahasa ialah pencarian titik-titik keseragaman.
Demikian juga pemilihan kata istilah dan penulissan yg sesuai dengaan kaidah ejaan, untk ejaan dan peristilahan berpedoman padaa EYD dan pedoman pembentukan istilah.

2.       Kuantitatif.

Keterangan yg dikemukan padaa kalimat dpat di ukur secara pasti. Contoh: Da’i di Gunung Kidul “kebanyakaan” lulusan perguruan tinggi. Arti kata “kebanyakaan” relatif , mungkin bisa lima, enam atau sepuluh orang. Jadi, dlam tulisan ilmiah tdak benar memilih kata “kebanyakaan” kalimat di atas dpat kitaa benahi menjadi Da’i di Gunung Kidul lima orang lulusan perguruan tinggi, dan adaa tiga orang lagi darii lulusan pesantren.

3.       Tepat.

Ide yg di ungkapkan harus sesuai dengaan ide yg dimaksudkan oleh pemutus atau penuliss dan tdak mengandung makna ganda. Contoh : “ Jamban pesantren yg telah rusak itu sedang di perbaiki.” Kalimat tersebut memiliki makna ganda, yg rusaknya itu mungkin jamban atau mungkin juga pesantren.

4.       Denotatif.

Kata yg digunakaan atau dipilih sesuai dengaan arti yg sesungguhnya dan tdak diperhatikan perasaan karena sifat ilmu yg obyektif.

5.       Jelas.

Maksudnya ialah mengetahui bagian-bagian mana saja yg merupakaan subjek, predikat,  objek, keterangan dan setiap kalimat memenuhi kaidah bahasa.

6.       Lugas

Maksudnya ialah tdak menimbulkan tafsir ganda dan langsung menunjuk ke pokok persoalan.

7.       Komunikatif

Maksudnya ialah apa yg ditangkap pembaca darii tuisan yg disajikan sama dengaan yg dimaksud penuliss. Tulisan disajikan secara logis (masuk akal) dan bersistem(teratur). Oleh karena itu, tata permainan bahasa di dlam kaarya tulis ilmiah yg komunikatif dpat disimak melalui ciri-ciri berikut :

a.       Koheren

Koheren dpat pula dipahami sebagai “harmonis”, “integral”, “kompak”, “terintegrasi”, dan “terpadu”. Dlam hal mengungkapkan suatu masalah dan pemecahannya, koherensi memang sangat diperlukan.
Gorys Keraf, dlam buku klasiknya, Komposisi (1971), menegaskan bahwa koherensi ialah adaanya hubungan yg jelas antara unsur-unsur yg membentuk suatu kalimat; bagaimana hubungan antara subjek dan predikat; hubungan antara predikat dan objek; serta keterangan yg menjelaskan setiap unsur-unsur tersebut. Dlam ungkapan lain, koherensi menekankan segi struktur atau interrelasi antara kata-kata yg menduduki sebuah kata dlam kalimat. Oleh karena itu, bisa terjadi sebuah kalimat atau alinea ditengarai telah mengandung kesatuan pikiran atau mengandung suatu ide pokok yg tunggal, namun koherensinya kurang baik. Akaan tetapi, pendpat Keraf patut diermati secara kritis, karena dlam perspektif Filsafat Bahasa Biasa akaan segera terihat bahwa koherensi di dlam tata permainan bahasa kaarya tulis ilmiah yg komunikatif tdak semata-mata berhubungan dengaan penggunaan struktur atau antar unsur pembentuk kalimat, tetapi terutama mempresentasikan suatu pikiran penulissnya yg mengandung kesatuan dan ktuhanan (Wibowo, 2007). Dpat ditegaskan bahwa, pikiran seorang penuliss padaa dasarnya mengandug nilai estetik, namun nilai estetik itu muncul bila hubungan timbal balik di anatara unsur-unsur pendukungnya berjalan secara satu dan utuh (Wahyu Wibowo, 2010)

b.       Konsisten

Dlam mengungkapkan masalah dan pemecahannya secara ilmiah kitaa memang harus bersikap konsisten, yaitu teguh dan bertanggung jawab dlam artian dpat memikul dan bersedia menyuguhkan bahwa jalan yg kitaa tempuh dlam baik dan benar. Oleh karena itu, kaarya tulis ilmiah yg komunikatif harus didukung oleh fakta atau data yg cukup dan tepercaya (Soeparno, 1997;Wibowo, 2001). Dlam penyusunan kalimat, kitaa tdak diperkenankan melakukan peloncatan ide, atau bahkan menghubungkan ide-ide yg tdak adaa pertalian atau hubungannya.

c.        Sistematis

Kaarya tulis ilmiah yg komunikatif harus disusun berdasarkan prosedur yg sistematis pula, yaitu teratur, runtut, berkesinambungan, metodis, dan terorganisir. Sistematika sebuah tulisan padaa umumnya terbagi ke dlam tiga bagian pokok, yaitu pendahuluan, isi, dan simpulan. Serta bagian lain yg dijadikan sebagai penunjang seperti kover, judul, daftar pustaka, dan indeks.
Sehubungan dengaan hal di atas, dpat ditegaskan bahwa sistematika kaarya tulis ilmiah yg sebenarnya ialah halaman-halaman pendahuluan, pendahuluan, bab-bab, simpulan, daftar pustaka, dan indeks.

d.       Konseptual

Konsep ialah kesan mental, suatu pemikiran, ide, atau suatu gagasan yg memiliki derajat kekonkretan dan abstraksi yg digunakaan dlam pemikiran abstrak (Bagus, 2002). Di dlam penulissan kaarya tulis ilmiah yg komunikatif, prosedur atau aturan yg teratur dan runtut harus dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan yg konseptual, karena melalui langkah-langkah yg terkonsep ini akaan menjadikan satu kaarya tulis ilmiah yg terarah dan terfokus.

e.       Komprehensif

Kaarya tulis ilmiah yg komunikatif harus ditulis secara komprehensif yaitu tuntas dan menyeluruh, penelaahannya harus jelas, lengkap, dan rinci. Hal ini berkesinambugan dengaan prinsip koherensi yaitu mengandung pikiran utama yg jelas. Karena apabila diibaratkan, pikiran utama itu ibarat pintu gerbang yg akaan membawa pembacanya ke keseluruhan isi tulisan. Selain itu, dengaan menghidangkan satu pikiran utama yg jelas berarti penulissnya telah menghargai pembacanya. Dengaan demikian, maka dengaan tulisan kitaa akaan menimbulkan simpati pembaca.

f.         Logis

Logika ialah apa pun termasuk ucapan yg dpat dimengerti atau akal budi yg berfungsi baik, teratur, sistematis dan dipahami (Wahyu Wibowo, 2010). Oleh karena itu, logika haruslah menjadi satu hal pokok di dlam penulissan kaarya ilmiah yg komunikatif, karena segala hal yg menjadi penjelas di dlam kaarya tulis ilmiah harus memiliki argumentasi yg dpat diterima oleh nalar yg sehat, valid, dan analitis.
Implikasi darii hal di atas yaitu, kaarya tulis ilmiah dpat diuji kebenarannya baik berdasarkan data dan fakta maupun diuji kembali oleh ilmuwan lain. Di sisi lain, kaarya tulis ilmiah harus bersifat terbuka agar pendpat penuliss dpat diubah apabila muncul bukti atau pendpat baru yg didukung oleh data dan fakta.

g.        Bebas

Bebas, rasa bebas, atau kebasan dpat dimaknai juga dengaan merdeka, mandiri, independen, atau leluasa. Dlam konteks ini kebebasan tdak diartikan sebagi kebebasan ilmuwan yg leluasa atau merdeka berbuat apa pun, tetapi kebebasan yg eksistensial yaitu kebebasan yg menyeluruh yg terkonteks dlam kepribadian bangsa, yg oleh karena itu dpat membedakaannya dengaan nilai-nilai kebebasan yg dianut oleh bangsa lain. Orang yg bebas secara eksistensial akaan mencapai tiarap kedewasaan, otentisitas, dan kematangan rohani, hal yg mestinya memang dimiliki seorang penuliss kaarya tulis ilmiah yg komunikatif.

h.       Bertanggung Jawab

Dlam perspektif etika berarti dpat menjawab jika ditanyai tentang perbuatan-perbuatannya (Bertens, 2002). Dengaan hubungannya dengaan kaarya tulis ilmiah, bertanggung jawab dpat dimaknai sebagai tulisan yg etis, elegan, dan berwawasan yg mencerminkan bahwa penulissnya dpat menjawab jika ditanya apa pun tentang tulisanya tanpa menonjolkan segi-segi emosinya. Itu sebabnya, sebuah kaarya tulis ilmiah yg komunikatif harus ditulis secara seksama, yakni ditulis secara teliti, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan. Dlam pernyataan lain, sebuah kaarya tulis ilmiah dpat dikatakaan mencerminkan tanggung jawab penulissnya bila ditulis secara jelas, jernih, gamblang, konsisten, dan konsekuen.

2.2. Ragam Penulissan Kaarya Ilmiah

1. Ragam Bahasa Tulis

Ragam bahasa merupakaan variasi penggunaan bahasa. Ragam bahasa dpat dibedakaan berdasar padaa
1. pokok pembicaraan
2. media yg digunakaan
3. hubungan antara komunikator dengaan komunikan.
Selanjutnya dlam tulisan ini hanya akaan dibahas ragam  bahasa darii sudut media yg digunakaan yakni ragam bahasa tulisdan darii sudut hubungan antara komunikator dengaan komunikan.
Hal kedua yg membedakaan ragam tulis dan lisan berkaitan dengaan beberapa upaya yg digunakaan dlam ujaran,   misalnya tinggi rendah, panjang pendek, dan intonasi kalimat yg tdak terlambang dlam tata tulis maupun ejaan. Dengaan demikian, penuliss perlu merumuskan kembali kalimatnya jika ingin menyampaikan jangkauan makna yg sama lengkapnya. Lain halnya dengaan ragam lisan, penutur dpat memberiikan tekanan atau jeda padaa bagian tertentu agar maksud ujarannya dpat dipahami. Jadi, ragam bahasa tulis memiliki karakteristik khusus dibandingkan ragam bahasa lisan.
Karakteristik tersebut antara lain :
1. ragam bahasa tulis memiliki banyak penanda metalingual,
2. kalimat berstruktur lengkap, dan
3. klausanya sederhana tetapi memiliki kepadaatan kata dan isi (Brown,1985;  Ansari,1999).

2.         Sifat-Sifat Bahasa yg Digunakaan  dlam Kaarya  Ilmiah

Secara umum penggunaan bahasa dlam kaarya ilmiah harus mengacu padaa sifat-sifat bahasa, meliputi sifat :

a.        Objektif

Bahasa yg objektif ialah bahasa yg menggambarkan sesuatu pengalaman  yg bagi semua khalayak pemakai bahasa, representasi pengalaman linguistik itu dipandang sama. Sebaliknya bahasa subjektif menggambarkan sesuatu pengalaman  (oleh penulissnya) yg berbeda dengaan pengalaman yg dipahami oleh khalayak dlam memahami representasi pengalaman itu karena penuliss membawa pertimbangan sikap, pendpat, dan komentar pribadi. Jadi, keobjektifan bahasa dpat ditingkatkan dengaan meniadaakaan atau meminimalkan pendpat dan sikap pribadi  tersebut. Karena bahasa subjektif wujud dlam bentuk epitet atau ekspresi emosional, modalitas, proses mental, dan makna konotatif maka keobjektifan dpat dicapai dengaan meniadaakaan atau meminimalkan penggunaan bahasa dengaan ciri subijektif di atas.

b.       Impersona

Keimpersonaan bahasa memperlihatkan ketdakterlibatan penuliss artikel dlam teks artikel ilmiah yg disusunnya. Padaa teks artikel ilmiah tdak digunakaan bentuk pronomina saya, kami, kitaa, atau penuliss dengaan tujuan untk menghindarii paparan persona (subjektif). Meskipun kitaa akui bahwa kaarya ilmiah tdak wujud tanpa keterlibatan penuliss, retotika ilmu menuntut agar dlam  teks keterlibatan itu tdak ditampilkan. Untk mempertahankan keimpersonaan teks sehingga tdak terlihat keterlibatan penuliss, Teknis
 Dengaan kespesifikannya, istilah teknis digunakaan dlam Kaarya  ilmiah. Tdak adaa satu disiplin ilmu tanpa istilah teknis. Teknis maksudnya dlam konteks tulisan istilah yg digunakaan berhubungan dengaan istilah dlam satu disiplin ilmu.  Akaan tetapi, penggunaan singkatan (akronim) yg blum lazim disarankan tdak digunakaan. Penggunaan singkatan  dilakukan dengaan  menampilan bentuk penuh terlebih dulu darii uraian akronim yg akaan dibuat diikuti bentuk singkatan dlam tanda kurung pertama. Dlam teks berikutnya bentuk singkatan itu dpat digunakaan secara konsisten.

c.        Praktis

Kepraktisan bahasa artikel ilmiah ditandai dengaan penggunaan teks yg ekonomis dan tdak taksa (ambigiuous). Sebagai contoh kata diteliti  dan digalakkan  berdasarkan  prinsip ini dpat digunakaan sebagai pengganti  mengadaakaan penelitian dan  naik daun karena bentukan pertama lebih ekonomis dan tdak mengandung ketaksaan.  Namun, bentuk frase berdasar padaa, terdiri atas, sesuai dengaan, bergantung padaa  tdak dpat diubah menjadi berdasar, terdiri, sesuai, dan  bergantung   walaupun bentuk tersebut lebih singkat dan hemat karena bentuk yg pertama merupakaan bentuk yg sudah dibakukan dlam bahasa Indonesia (Gay, 1981; Saragih.1999).

3.        Syarat-Syarat Penggunaan Bahasa dlam Kaarya  Ilmiah

Penggunaan bahasa dlam bentuk tulisan formal seperti kaarya tulis ilmiah harus mengikuti syarat-syarat tertentu.

  1. Secara morfologis bahasa dlam artikel ilmiah harus lengkap. Dlam hal ini wujud setiap kata yg dipakai harus mengandung afiksasi yg lengkap seperti: diuraikan, mempertentangkan, memiliki dan sebagainya. Kata-kata lain yg  tanpa afiksasi  juga harus dimunculkan dlam bentuk yg lengkap.  Kata-kata seperti tdak, sudah dan sebagainya tdak dpat ditulis dengaan bentuk tak atau udah.  
  2. Secara sintaksis bahasa dlam artikel ilmiah harus lengkap yakni memuat unsur-unsur subjek, predikat, dan objek yg dinyatakaan secara eksplisit. Sering ditemukan dlam tulisan ilmiah bentuk pelesapan subjek dlam kalimat kompleks padaahal secara sintaksis subjek tersebut tdak memiliki rujukan yg sama dengaan subjek padaa kalimat induknya atau subjek kedua ini telah jauh terpisah darii subjek pertamanya padaa subjek padaa paragraf seblumnya. Satu kalimat kompleks dpat saja memiliki satu subjek dengaan dua dua predikat bilamana subjek yg dilesapkan itu mempunyai hubungan anaforik dengaan subjek yg masih dipertahankan.
  3. Bahasa dlam artikel ilmiah harus tepat makna dan tunggal arti. Penuliss artikel ilmiah harus menimbang-nimbang  secara seksama setiap kata, ungkapan dan bentuk sintaksis sehingga apa yg dimengerti pembaca sama dengaan yg dimaksud penuliss. Istilah-istilah kembar seperti fonologi- fonetikfonemik harus dipilih penggunaannya sehingga tdak menimbulkan makna yg keliru seperti terlihat dlam kalimat Katz dan Postal (1999) mengemukakaan pendpatnya bahwa bahasa terdiri atas tiga komponen; sintaksik, fonetik, dan semantik.  Komponen kedua dlam kalimat di atas seharusnya fonologi  bukan fonetik karena kedua kata tersebut memiliki pengertian yg berbeda.
  4. Bahasa dlam artikel harus mengikuti kaidah–kaidah sintaktik. Penggunaan kalimat dlam karangan ilmiah harus berupa kalimat yg efektif yakni kalimat yg memenuhi kriteria jelas, sesuai dengaan kaidah tatabahasa, tdak berbelit-belit, tdak bertentangan dengaan kebenaran nalar, dan ringkas. Salah satu contoh kesalahan sintaktis ialah pemakaian kata dariipadaa di belakaang verba. Kesalahan ini terjadi karena penuliss atau pembicara tdak dpat membedakaan subkategori verba secara intuitif menjadi transitif-taktransitif sehingga apa yg seharusnya langsung diikuti  objek disisipi penyeling dariipadaa. Pengertian fungsi sintaktik seperti subjek, predikat, dan objek tampaknya masih blum jelas.
  5. Bahasa artikel ilmiah  harus padaat isi dan bukan padaat kata. Dlam mengungkapkan pikiran ke dlam bentuk bahasa, hal pertama yg harus jelas ialah konsep utama yg ingin dikemukakaan penuliss. Selanjutnya konsep utama ini dilengkapi dengaan subkonsep lain yg relevan. Setelah semua itu sampailah padaa pemilihan kata, frase, dan bentuk sintaksis yg akaan dpat mengungkapkan gambaran ide penuliss sejelas mungkin dengaan penggunaan kata yg seekonomis mungkin.

2.3. Pengaruh penggunaan bahasa dlam penulissan kaarya ilmiah


Adaa 2 pengaruh penggunaan bahasa dlam penulissan kaarya ilmiah yaitu sebagai berikut :

1)       Pengaruh bahasa asing

Untk menciptakaan kalimat yg logis kerapkali terhalangi oleh suatu dugaan bahwa kadaang-kadaang bahasa yg dipergunakaan itu mempunyai kekurangan-kekurangan dlam istilah-istilah atau ungkapan-ungkapan. Pengaruh dan pengambilan bahasa atau kata-kata asing terasa semakin deras dan nyata. Proses ini dpat memperkaya bahasa Indonesia. Pengaruh bahasa asing dpat terlihat jika penuliss itu tdak mampu mendpatkan istilah dlam bahasa Indonesia. Ia seolah-olah kehabisan kata-kata dlam kamus. Pemungutan kata-kata atau istilah istilah-istilah asing padaa dasarnya karena keperluan akaan kata-kata atau istilah-istilah yg tdak diperoleh dlam bahasa indonesia.

2)       Gaya Bahasa

Gaya dpat diartikan sebagai keistimewaan atau karakteristik penyajian, konstruksi, atau penyelenggaraan dlam setiap kaarya Ilmiah. Padaa umumnya orang menganggap bahwa tulisan ilmiah tdak memerlukan gaya manapun. Penuliss ilmiah sebaiknya tdak mengikuti pendpat bahwa kaarya ilmiah itu mesti kering dan berat. Banyak orang berpendpat bahwa kaarya ilmiah yg semakin tdak dpat dipahami berarti semakin ilmiahlah kaarya itu. Kaarya ilmiah bukanlah pementasan rahasia tertutup yg menetapkan bahwa hanya penulissnya sendirilah yg boleh membeli karcis untk menonton kaaryanya itu. Dan mudah-sukarnya kaarya ilmiah untk dipahami bukanlah ukuran untk menetapkan nilai kaarya itu tetapi yg diutamakaan dlam penulissan kaarya ilmiah ialah kebenaran akaan fakta-fakta yg diteliti

2.4. Unsur-unsur Bahasa Dlam Penulissan Kaarya Ilmiah

Bahasa ialah alat komunikasi. Dlam suatu karangan, apa pun itu, penggunaan unsur-unsur bahasa yg tepat, memegang peran yg amat penting. Jika hendak menyusun suatu kaarya tulis ilmiah atau makalah, maka sebaiknya tdak memakai ragam bahasa yg biasa digunakaan untk menyusun puisi atau kaarya fiksi. Demikian pula sebaliknya.
Ini artinya, perlu menggunakaan bahasa secara efektif. Menggunakaan bahasa secara efektif berarti menggunakaan unsur-unsur bahasa secara efektif juga. Dengaan demikian, bila ingin menyusun suatu kaarya ilmiah, maka unsur-unsur bahasa ini harus kitaa perhatikan: (a) penggunaan ejaan, (b) penggunaan imbuhan, (c)pemilihan dan penempatan kata, serta (c) penggunaan kata dlam kalimat.

  1. Penggunaan Ejaan

Menurut kurun waktu penetapannya, usia ejaan yg disempurnakaan (EYD) telah mencapai lebih darii dua dasawarsa. Akaan tetapi, sampai sekarang masih dpat kitaa jumpai penggunaan ejaan yg salah-salah. Tdak saja dlam kaarya ilmiah, tetapi juga dlam surat-surat resmi.
Yg dimaksud dengaan ejaan ialah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dlam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca (KBBI).
Kesalahan ejaan yg paling sering dijumpai ialah penggunaan kata depan dan awalan. Penulissan awalan kadaang-kadaang sama dengaan cara penulissan kata depan. Bagi penuliss pemula atau mahasiswa ini penting diperhatikan.

Contoh masalah penggunaan awalan dan kata depan :

Penulissan awalan di-
Salah
Benar
  1. Semua perabot rumahnya habis di lalap api.
  2. Cara yg praktis untk mengelola sampah telah di temukan.
  1. Semua perbot rumahnya habis dilalap api.
  2. Cara yg paling praktis untk mengelola sampah telah ditemukan.

Penulissan kata depan

Salah
Benar
  1. Rumah-rumah dipinggir jalan itu beratap jerami.
  2. Pagi-pagi ibu pergi kepadaa
  1. Rumah-rumah di pinggir jalan itu beratap jerami.
  2. Pagi-pagi ibu pergi ke pasar

Cara penulissan awalan ialah merangkainya dengaan kata dasar yg dibubuhinya. Sedangkan kata depan, penulissannya harus dipisahkan darii kata yg mengikutinya. Kata yg diikuti awalan di- menunjukkan kata kerja. Sedangkan kata yg diikuti kata depan di menunjukkan arah tempat.

Perhatikan contoh penulissan awalan dan kata depan berikut ini !


Penulissan awalan
                Salah                       Benar
                di lihat                    dilihat
                di teliti                    diteliti
                di coba                   dicoba

Penulissan kata depan
                Salah                       Benar
                ditoko                     di toko
                kekiri                      ke kiri
                disamping              di samping


Kata kepadaa dan dariipadaa juga sering salah penulissannya seperti dlam contoh berikut :
a.        Ke padaa saya diserahkan mandat itu.
b.       Darii padaa menderita, lebih baik mati.
Penulissan kata kepadaa dan dariipadaa harus dirangkaikan sebagai berikut :
a.        Kepadaa saya diserahkan mandat itu.
b.       Dariipadaa menderita, lebih baik mati.

  1. Penggunaan Imbuhan

Imbuhan ialah bubuhan (yg berupa awalan, sisipan, akhiran) padaa kata dasar untk membentuk kata baru. Proses pembentukan kata, darii kata dasar dengaan pemberian imbuhan seperti awalan atau akhiran disebut pengimbuhan. Hampir semua pelajar mengetahui proses pengimbuhan, namun sebagian besar pelajar kurang memperhatikan cara penulissan kata berimbuhan sesuai ketentuan.
Berikut ini ialah beberapa  ketentuan penulissan kata yg memperoleh imbuhan:

1.       Imbuhan harus dituliskan serangkai dengaan kata dasarnya.


Contoh:
               
Salah                                       Benar
                di berlakukan                        diberlakukan
                di berlaku kan                      
                peneliti an                             penelitian
                pe nelitian

2.       Gabungan kata (seperti: tanggung jawab, serah terima, nomor dua, nonaktif dan sejenisnya) yg mendpat awalan dan akhiran bersama-sama, harus dituliskan serangkai.


Contoh:
Salah                                                       Benar
pertanggungan jawab                          pertanggungjawaban
dipertanggungjawab kan                    dipertanggungjawabkan
dinomor duakaan                                                 dinomorduakaan
di nonaktif kan                                      dinonaktifkan


Kata berimbuhan lainnya yg perlu mendpat perhatian ialah: penglepasan, mengetapkan, diketemukan. Penulissan kata-kata tersebut kurang tepat. Penulissannya yg benar ialah pelepasan, menerapkan, ditemukan.
Sementara itu, partikel pun adaa yg dituliskan serangkai, adaa juga yg dituliskan terpisah darii kata yg diikutinya. Partikel pun yg mengikuti kata kerja, kata benda, dan kata sifat harus ditulis terpisah darii kata-kata tersebut.

Contoh:
                Kata benda
                                di sekolah pun                      bukan                     di sekolahpun
                                di rumah pun                        bukan                     di rumahpun
                                di kantor pun                        bukan                     di kantorpun

Kata sifat
                                Sakit pun                                bukan                     sakitpun
                                Tingginya pun                       bukan                     tingginyapun


Kata kerja
                                berjalan pun                         bukan                     berjalanpun
                                berlari pun                            bukan                     berlaripun

Kata bilangan
                                seribu pun                             bukan                     seribupun
                                seratus pun                           bukan                     seratuspun
                                setahun pun                          bukan                     setahunpun
               

                Namun adaa beberapa perkecualian. Beberapa kata seperti adaapun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, dan walaupun, penulissan partikel pun telah diterima serangkai.
                Pelajar perlu membaca pedoman ejaan yg disempurnakaan. Dlam pedoman itu dpat dibaca berbagai kaidahmengenai penempatan titik, koma, titik koma, titik dua, penulissan awalan dan kata depan, penulissan kata depan, penulissan kata dasar yg memperoleh imbuhan, dan sebagainya.

  1. Pemilihan dan Penempatan Kata

Kata merupakaan faktor penting dlam merancang tulisan. Tulisan yg baik ditentukan oleh cara penulissan dan penempatan kata. Pemilihan dan penempatan kata mempengaruhi sekaligus memberiikan warna sebuah tulisan.
Menurut Drs. Mustakim (1993:70), ketepatan dlam pemilihan kata perlu memperhatikan komponen situasi, bentuk, dan makna. Komponen tersebut saling mempengaruhi. Komponen bentuk disesuaikan dengaan situasi, situasi tdak terlepas dengaan makna, makna tdaka terlepas dengaan bentuk.

Hal yg perlu diperhatikan saat menyusun karangan yaitu bahasa yg dipergunakaan. Dlam konteks menyusun makalah atau kaarya ilmiah, bahasa yg dipergunakaan hendaknya mencerminkan ragam yg resmi. Artinya, bahsa gaul, bahasa daerah, atau bahasa asing yg bukan padaa tempatnya harus dihindarii.


v  Pemakaian Kata bentuk jamak

Dlam karangan atau tulisan ilmiah sering ditemukan penggunaan kata bentuk jamak yg salah, baik yg mengandung makna jamak maupun yg dinyatakaan dlam bentuk ulang.

Contoh kata bermakna jamak:
          semua, para, banyak, beberapa.
Contoh kata dlam bentuk ulang yg bermakna jamak:
          negara-negara, ibu-ibu, hasil-hasil.

Perhatikan penggunaanya dlam kalimat berikut:

Salah

a.        Semua siswa kelas III SMA 1 Kota Bima dijadikan sampel.
b.        Para hadirin dipersilahkan berdiri.
    1. Para ibu-ibu pengurus PKK Kota Bima siap mengikuti lomba.
    2. Banyak orang-orang Oi Foo yg menderita demam berdarah.
    3. Beberapa wakil-wakil darii negara-negara sahabat menghadiri acara pelantiakaan presiden Republik Indonesia.

Benar

a.       Siswa kelas III SMA 1 Kota Bima dijadikan sampel.
b.        Hadirin dipersilahkan berdiri.
c.        Ibu-ibu pengurus PKK Kota Bima siap mengikuti lomba.
d.       Banyak orang Oi Foo yg menderita demam berdarah.
e.        Beberapa wakil darii negara-negara sahabat menghadiri acara pelantiakaan presiden Republik Indonesia.

v  Pemakaian kata yg memiliki makna yg sama

Perhatikan dua contoh kalimat dibawah ini:
1.       Kebudayaan daerah ialah merupakaan sumber kebudayaan nasional.
2.       Parit-parit dibersihkan agar supaya tdak tergenang air.
Pemakaian kata yg memiliki makna yg sama, seperti agar supaya dan ialah merupakaan dlam kalimat di atas, sebaiknya dihindarii. Dengaan demikian, penulissan kalimat yg benar ialah:
a.        Kebudayaan daerah merupakaan sumber kebudayaan nasional.
b.       Parit-parit dibersihkan agar tdak tergenang air.

D.      Penggunaan Kata Dlam Kalimat

Menyusun kata menjadi kalimat ialah merangkai beberapa kata untk membentuk satu pengertian atau makna yg lengkap. Maksudnya, kata-kata yg terdpat dlam sebuah kalimat bukanlah sederetan kata-kata yg tdak berarti.

Perhatikan sederetan kat di bawah ini: 

     
  Ali buku buku di toko membeli
Sederetan kata-kata di atas tdak membentuk suatu pengertianyg lengkap. Untk memperoleh sebuah pengertian yg lengkap, kitaa perlu mengubah urutan kata-kata tersebut menjadi:
        Ali membeli buku di toko
        Setelah urutan kata-katanya diatur, susunan kata-kata itu kini telah memberiikan suatu pengertian. Dengaan demikian, setiap pertanyaan yg diajukan berdasarkan pengertian yg dimaksud, akaan memperoleh jawabannya:
        Siapa membeli buku di toko?
        Ali membeli apa di toko?
        Di mana Ali membeli buku?
        Melihat uraian di atas, berarti kitaa dpat membentuk sebuah kalimat dengaan mengawalinya melalui pengajuan beberapa pertanyaan terlebih dahulu. Dengaan cara ini, kitaa menghindarii mendaftar sejian banyak kata dan mengurutkannya.
Misalnya:
a.        Apakah Ali membeli majalah?
Jawabannya: Tdak.
                        Ali tdak membeli majalah.
b.       Apakah Ali membaca buku?
Jawabannya: Tdak.
                        Ali membeli buku
Jawaban di atas pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakaan suatu kalimat.


BAB III

PENUTUP


3.1.   Kesimpulan

v  Bahasa memiliki kontribusi yg sangat penting dlam penulissan kaarya ilmiah, hal tersebut dpat dilihat darii ciri-ciri sebagai berikut :
a.        Baku
b.       Lugas
c.        Jelas
d.       Kuantatif
e.       Denotatif
f.         Tepat
g.        Komunikatif
Untk menciptakaan suatu kaarya tulis ilmiah yg komunikatif diperlukan beberapa hal, yaitu:
·         Koheren
·         Konsisten
·         Sistematis
·         Konseptual
·         Komprehensif
·         Logis
·         Bebas
·         Bertanggung Jawab
v  Sifat Bahasa Kaarya Tulis Ilmiah
Sifat bahasa dlam penulissan kaarya ilmiah meliputi, sebagai berikut:
a.        Objektif
b.       Impersona
c.        Praktis
v  Syarat Bahasa Kaarya Ilmiah
Syarat bahasa dlam kaarya ilmiah meliputi sebagai berikut:
a.        Lengkap secara morfologis
b.       Lengkap secara sintaksis
c.        Tepat makna dan tunggal arti
d.       Berkaidah sintaktik
e.       Padaat isi
v  Unsur-unsur bahasa dlam penulissan kaarya ilmiah
a.        Penggunaan ejaan
b.       Penggunaan imbuhan
c.        Pemilihan dan penempatan kata
d.       Penggunaan kata dlam kalimat
v  Pengaruh bahasa dlam penggunaan bahasa kaarya ilmiah
Bahasa di dlam penulissan kaarya ilmiah dipengaruhi oleh dua hal, yaitu:
a.        Pengaruh bahasa asing
b.       Pengaruh gaya bahasa

DAFTAR PUSTAKA

Achmad H.H.P, A Aleka. 2010. Bahasa Indonesia untk Perguruan Tinggi. Jakarta: Kencana Prenadaa Media Group
Sofyan, Agus Nero, Drs, M. Hum dkk. 2007. Bahasa Indonesia Dlam Penulissan Kaarya Ilmiah. Bandung: Badaan Perkuliahan Dasar Umum
Mulyono, Datu dkk. 2000. Metode Penulissan dan Penyajian Kaarya Ilmiah. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Nurdin, Irman Mokhamad, dkk. 2008. Bahasa Indonesia 3 Untk SMK/MAK Semua Program Kejuruan. Jakarta: Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional
Komaruddin, Drs. 1974. Metode Penulissan Skripsi dan Tesis. Bandung: Angkasa
Wibowo, Wahyu. 2010. Tata Permainan Bahasa Kaarya Tulis Ilmiah. Jakarta: Bumi Aksara
Rasjid  Lamuddin, Dkk. 1984. Bahasa Indonesia. Jakarta : Nina Dinamika
Hendry G.Tarigan, 2008 Menuliss sebagai keterampilan berbahasa. Bandung : Angkasa
Hasnun, Anwar. 2006. Pedoman Menuliss Untk Siswa SMP dan SMA. Yogyakarta: C.V Andi Offset.

Visitor