MAKAALAH PENGANTAR STUDI HADAAITS SYARAT-SYARAT HADAAITS SHOHIH, PEMBAGIAN DAN KEHUJJAHAN HADAAITS DHA’IF


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Syarat-syarat Hadaaits Shohih

1.    Sanadaanya Bersambung
Yg dimaksud dgn sanadaa-nya bersambung ialah bahwa tiap-tiap perawi dlm sanadaa hadaaits  menerima riwayat hadaaits dri perawi terdekat sebelumnya; keadaaan seperti itu sampai akhir sanadaa dri hadaaits itu. Dgn demikian, dpt dikatakn bahwa rangkaian para perawi hadaaits shahih sejak perawi terakhir sampai kepadaa para sahabat yg menerima hadaaits langsung dri Nabi Muhammadaa SAW. bersambung dlm periwayatannya. Dri pengertian ini, makaa jelaslah bahwa hadaaits mursal, muntaqati’, mudal, dan muallaq tdk tergolong dlm hadaaits shahih.

2.    Perawinya Adaail
Kata adaail, menurut bahasa berarti lurus, tdk berat sebelah, tdk dzalim, tdk menyimpang, tulus dan jujur. Seseorang dikatakn adaail apabila padaa dirinya terdpt sifat yg dpt mendorong terpeliharanya ketakwaan, yaitu senantiasa melaksanakn perintah agama dan meninggalkan larangannya, dan terjaganya sifat Muru’ah, yaitu senantiasa berakhlak baik dlm segala tingkah lakunya. Dgn demikian, makaa yg dimaksud dgn perawi yg adaail dlm periwayatan sanadaa hadaaits ialah bahwa semua perawinya disamping harus Islam dan baligh, jga memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a.    Senantiasa melaksanakn segala perintah agama dan meninggalkan semua larangannya.
b.    Senantiasa menjauhi dosa-dosa kecil.
c.    Senantiasa memelihara ucapan dan perbuatan yg dpt menodai muruah.

Sifat-sifat adaail  para perawi dpt diketahui melalui :
a.    Popularitas keutamaan perawi di kalangan ulama ahli hadaaits (perawi yg terkenal keutamaan pribadaainya).
b.    Penilaian dri para kritikus perawi hadaaits  tentang kelebihan dan kekurangan yg adaa padaa diri perawi tersebut.
c.    Penerapan kaidah Al-Jarh wa At-Ta’dil, bila tdk adaa kesepakatan diantara para kritikus perawi hadaaist mengenai kualitas pribadaai para perawi tertentu.

3.    Perawinya Dhabit
Kata dhabit menurut bahasa artinya yg kokoh, yg kuat. Seorang perawi dikatakn dhabit apabila ia mempunyai daya ingat sempurna terhadaap hadaaits yg diriwayatkannya.
Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, perawi yg dhabit ialah mereka yg kuat hafalannya terhadaap segala sesuatu yg pernah didengarnya, kemudian mampu menyampaikan hafalan tersebut manakala diperlukan. Ini artinya bahwa orang yg disebut dhabit harus mendengarkan secara utuh apa yg diterima atau didengarnya, memeahami isinya sehingga tertanam dlm ingatannya, kemudian mampu menyampaikan kepadaa orang lainatau meriwayatkannya sebagaimana mestinya.

Yg dicakup dlm pengertian dhabit padaa periwayatan disini terdiri atas dua kategori, yaitu :
•    Dhabit aa-sadaar, yaitu : terpeliharanya periwayatan dlm ingatan, sejak ia menerima hadaaits sampai ia meriwayatkannya kepadaa orang lain.
•    Dhabit fii al-kitab, yaitu : terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan.
Adaapun sifat-sifat ke-dhabit-an perawi menurut para ulama dpt diketahui melalui:
•    Kesaksian para ulama.
•    Kesesuaian riwayatnya dgn riwayat dri orang lain yg telah dikenal ke-dhabit-annya.

4.    Tdk Syadaaz (janggal)
Yg dimaksud dgn syadaaz atau syudzudz (bentuk jama’ dri syadaaz) disini ialah suatu hadaaits yg bertentangan dgn hadaaits yg diriwayatkan oleh perawi lain yg lebih kuat atau lebih tsiqah. Ini pengertian yg dipegang oleh Asy-Syafi’i dan diikuti oleh kebanyakn para ulama lainnya.
Melihat pengertian syadaaz tersebut, dpt disimpulkan bahwa hadaaits yg tdk syadaaz (ghair syadaaz) ialah hadaaits yg matannya tdk bertentangan dgn hadaaits yg lain yg lebih kuat (tsiqah).

5.    Tdk Berillat (Ghair Mu’allal)
Kata illat menurut bahasa berati cacat, penyakit, keburukan dan kesalahan baca. Dgn pengertian ini, makaa yg disebut hadaaits berillat ialah hadaaits-hadaaits yg mengandung cacat atau penyakit.
Sedangkan menurut istilah, illat berarti suatu sebab yg tersembunyi atau samar-samar, sehingga dpt merusak keshahihan hadaaits. Dikatakn samar-samar krna jika dilihat dri zhahirnya, hadaaits tersebut terlihat shahih. Adaanya kesamaran padaa hadaaits tersebut, mengakibatkan nilai kualitasnya menjadaai tdk shahih. Dgn demikian, yg dimaksud hadaaits tdk berillat ialah hadaaits-hadaaits yg di dlmnya tdk dpt kesamaran atau keragu-raguan.
Illat hadaaits dpt terjadaai padaa sanadaa, matan ataupun padaa keduanya secara bersamaan. Namun illat paling banyak terjadaai padaa sanadaanya, seperti menyebutkan muttasil terhadaap hadaaits yg munqati’ atau mursal.

2.2    Hadaaits Dha’if

2.2.1    Pengertian Hadaaits Dha’if

Menurut bahasa dha’if berarti ‘Aziz: yg lemah sebagai lawan dri Qawiyyu yg artinya kuat.
Sedang menurut istilah, Ibnu Shalah memberikan definisi :
ما لم يجمع صفات الصحيح ولاصفات الحسن
Artinya:“Yg tdk terkumpul sifat-sifat shahih dan sifat-sifat hasan”.
Zinuddin Al-Traqy menanggapi bahwa definisi tersebut kelebihan kalimat yg seharusnnya dihindarkan, menurut dia cukup :
ما لم يجمع صفات الحسن
Artinya:“Yg tdk terkumpul sifat-sifat hadaaits hasan”
Krna sesuatu yg tdk memenuhi syarat-syarat hadaaits hasan sudah barang tentu tdk memenuhi syarat-syarat hadaaits shahih.
Para ulama memberikan batasan bagi hadaaits dha’if :
الحديث الضعيف هو الحديث الذي لم يجمع صفات الحديث الصحيح ولا صفات الحديث
Artinya:
“Hadaaits dha’if ialah hadaaits yg tdk menghimpun sifat-sifat hadaaits shahih dan jga tdk menghimpun sifat-sifat hadaaits hasan”.
Jadaai dpt diambil kesimpulan bahwa pengertian hadaaits dha’if ialah hadaaits yg lemah, yakni para ulama masih memiliki dugaan yg lemah, apkah hadaaits itu berasal dri Rasulullah atau bukan. Hadaaits dha’if itu jga bukan saja tdk memenuhi syarat-syarat hadaaits shahih tetapi jga tdk memenuhi syarat-syarat hadaaits hasan.
Adaa beberapa alasan yg menyebabkan tertolaknya hadaaits dha’if, yaitu:
1. Adaanya kekurangan padaa perawinya baik tentang keadaailan maupun hafalan para perawinya, misalnya krna:
     Dusta (hadaaits maudlu)
     Tertuduh dusta (hadaaits matruk)
     Fasik, yaitu banyak salah lengah dlm menghafal
     Banyak waham (prasangka) disebut hadaaits mu’allal
     Menyalahi riwayat orang kepercayaan
     Tdk diketahui identitasnya (hadaaits Mubham)
     Penganut Bid’ah (hadaaits mardud)
     Tdk baik hafalannya (hadaaits syadaaz dan mukhtalith)
2. Krna sanadaanya tdk bersambung macam-macam hadaaits yg sanadaanya tdk bersambung, antara lain:
     Kalau yg digugurkan sanadaa pertama disebut hadaaits mu’allaq
     Kalau yg digugurkan sanadaa terakhir (sahabat) disebut hadaaits mursal
     Kalau yg digugurkan itu dua orang rawi atau lebih berturut-turut disebut hadaaits mu’dlal
     Jika tdk berturut-turut disebut hadaaits munqathi’
3. Krna matan (isi teks) yg bermasalah
Selain krna dua hal di atas, kedha’ifan suatu hadaaits bisa jga terjadaai krna kelemahan padaa matan (isi matan). Adaapun Hadaaits Dha’if yg disebabkan suatu sifat padaa matan ialah hadaaits Mauquf (hadaaist yg matanya dinisbahkan padaa sahabat)dan Maqthu’ (hadaaist yg matanya dinisbahkan padaa Tabi’in).

2.2.2    Pembagian Hadaaits Dha’if
1.    Hadaaits dha’if krna gugurnya rawi
a. Hadaaits Mursal
Kata “Mursal” secara etimologi diambil dri kata “irsal” yg berarti “Melepaskan”, adaapun pengertian hadaaits mursal secara terminology ialah hadaaits yg dimarfu’kan oleh tabi’in kepadaa Nabi Saw. Artinya, seorang tabi’in secara langsung mengatakn, “bahwasanya Rasulullah Saw bersabda…..”
Sebagai contoh, seperti hadaaits yg diriwayatkan oleh Imam Malik dlm kitab Al-Muwqaththa’, dri Zaid bin Aslam, dri Atha’ bin Yasar, bahwasnya Rasulullah Saw bersabda:
ان سدة الحر من فيح جهنم
“sesungguhnya cuaca yg sangat panas itu bagian dri uap neraka Jahannam”

b. Hadaaits Munqati
Hadaaits munqati menurut bahasa artinya terputus. Menurut sebagian para ulama hadaaits, hadaaits munqati’ ialah hadaaits yg dimana didlm sanadaanya terdpt seseorang yg tdk disebutkan namanya oleh rawi, misalnya perkataan seorang rawi, “dri seseorang laki-laki”. Sedang menurut para ulama lain bahwa hadaaits muntaqi’ ialah hadaaits yg dlm sanadaanya terdpt seorang rawi yg gugur (tdk disebutkan) dri rawi-rawi sebelum sahabat, baik dlm satu atau beberapa tempat, namun rawi yg gugur itu tetap satu dgn syarat bukan padaa permulaan sanadaa.

c. Hadaaits Mudal
Hadaaits mudal menurut bahasa, berarti hadaaits yg sulit dipahami. Para ulama member batasan hadaaits mudal ialah hadaaits yg gugur dua orang rawinya atau lebih secara beriringan dlm sanadaanya, contohnya: “telah sampai kepadaaku, dri Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
للملةك طعامه وكسوته بالمعروف (رواه مالك)
Artinya:
“Budak itu harus diberi makaanan dan pakayan secara baik”. (HR. Malik)

d. Hadaaits Muallaq
Hadaaits muallaq menurut bahasa berarti hadaaits yg tergantung. Dri segi istilah, hadaaits muallaq ialah hadaaits yg gugur satu rawi atau lebih diawal sanadaa. Contoh: Bukhari berkata, kala Malik, dri Zuhri,dri Abu Salamah, dri Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:
لاتقاضلوابين الأنبياء
Artinya:
“Jangan lah kamu melebihkan sbagian Nabi dan sebagian yg lain”. (HR. Bukhari)
Menurut kesimpulan diatas tadaai dpt diambil kesimpulan bahwa hadaaits dha’if krna gugurnya rawi artinya tdk adaanya satu, dua, atau beberapa rawi, yg seharusnya adaa dlm suatu sanadaa, baik padaa permulaan, pertengahan, maupun diakhir sanadaa hadaaits ini terbagi menjadaaiempat, yaitu: hadaaits mursal (melepaskan), hadaaits muqati’(terputus), hadaaits mudal (yg sulit dipahami), dan hadaaits muallaq (tergantung).

2.    Hadaaits Dha’if karna Cacat padaa Rawi atau Matan
a. Hadaaits Maudu’
Hadaaits maudu’ ialah hadaaits yg bukan hadaaits Rasulullah Saw tapi disandarkan kepadaa beliau oleh orang secara dusta dan sengaja atau secara keliru tanpa sengaja, contoh:
لايدخل ولد الزنا الجنة الي سبع ابتاء
Artinya:
“Anak jin tdk masuk surga hingga tujuh turunan”.

b. Hadaaits Matruk atau Hadaaits Matruh
Hadaaits matruk ialah hadaaits yg diriwayatkan oleh seorang rawi, yg menurut penilayan seluruh ahli hadaaits terdpt catatang pribadaainya sebagai seorang rawi yg dha’if, contoh: hadaaits riwayat Amr bin Syamr, dri Jabir Al-Ju’fi, dri Haris, dri Ali. Dlm hal ini Amr termasuk orang yg hadaaitsnya ditinggalkan.

c. Hadaaits Munkar
Hadaaits munkar ialah hadaaits yg diriwayatkan oleh rawi yg dha’if yg berbeda dgn riwayat rawi yg tsigah (terpercaya). Contoh:
من اقام الصلاة واتي الزكاة وحج وصام وقري الضيق ودخل الجنة.
Artinya:
“barang siapa mendirikan shalat, menunaikan zakat, melakukan haji, berpuasa, dan menjamu tamu, makaa dia masuk surga”.

d. Hadaaits Muallal
Muallal menurut istilah para ahli hadaaits ialah hadaaits yg didlmnya terdpt cacat yg tersembunyi, yg kondosif berakibat cacatnya hadaaits itu, namun dri sisi lahirnya cacat tersebut tdk tampak. Contoh:
قال رسولوالله صلي الله عليه وسلم : البيعان بالخيار مالم يتفرفا
Artinya:
“Rasulullah bersabda: penjual dan pembeli boleh berikhtiar, selama mereka masih belum berpisah”


e. Hadaaits Mudraj
Hadaaits mudraj ialah hadaaits yg dimasuki sisipan, yg sebenarnya bukan bagian hadaaits itu. Contoh:
قال رسولوالله صلي الله عليه وسلم: انا زعيم، والزعيم الحميل لمن أمن بي واسلم وجاهدفي سبيل الله يبيت في ريض الجنة (رواه النسائ)
Artinya:
“Rasulullah Saw bersabda: saya itu ialah Zaim dan Zaim itu ialah penanggungjawab dri orang yg beriman kepadaaku, taat danberjuang di jalan Allah, dia bertempat tinggal di dlm surga.” (HR. Nasai)

f. Hadaaits Maqlub
Hadaaits maqlub ialah hadaaits yg terdpt didlmnya terdpt perubahan, baik dlm sanadaa maupun matannya, baik yg disebabkan pergantian lafaz lain atau disebabkan susunan kata yg terbalik, contoh:
إذا سجد احدكم فلا يبرك كمايبرك البعير وليضع يديه قبل وكبته
Artinya:
“ Apabila salah seorang kamu sujud, jangan menderum seperti menderumnya seekor unta, melinkan hendaknya meletakkan kedua tanggannya sebelum meletakn kedua lututnya,” (HR. Al- Turmudji, dan mengatakaknnya hadaaits ini gharib)

g. Hadaaits Syaz
Hadaaits syaz ialah hadaaits yg diriwayatkan oleh seorang rawi yg terpercaya, yg berbeda dlm matan atau sanadaanya dgn riwayat rawi yg relatif lebih terpercaya, serta tdk mungkin dikompromikan antara keduanya. Contoh: hadaaits syaz dlm matan ialah hadaaits yg diriwayatkan oleh muslim, dri Nubaisyah Al-Hudzali, dia berkata, Rasulullah bersabda:
ايام التشريق ايام اكل وشرب
Artinya:
“hari-hari tasyrik ialah hari-hari makaan dan minum”
Jadaai, kesimpulan bahwa hadaaits yg cacat rawi dan matan atau kedua-duanya digolongkan hadaaits dha’if yg terbagi menjadaai tujuh, yaitu: hadaaits maudu’ (palsu), hadaaits matruk (yg ditinggalkan) atau hadaaits matruh (yg dibuang), hadaaits munkar(yg diingkari), hadaaits muallal (terkena illat), hadaaits mudras (yg dimasuki sisipan), hadaaits maqlub (yg diputar balik), dan hadaaits syaz (yg ganjil).

2.3    Kehujjahan Hadaaits Dha’if
Cacat yg terdpt padaa hadaaits dha’if berbeda-beda. Hal ini berimbas padaa tingkatan (martabat) hadaaits-hadaaits dha’if jga mengalami perbedaan. Dri hadaaits yg mengandung cacat padaa rawi (sanadaa) atau matannya, yg paling rendah martabatnya ialah hadaaits maudhu’, kemudian hadaaits matruk, hadaaits munkar, hadaaits muallal, hadaaits mudraj dan hadaaits maqlub. Sedangkan untk hadaaits yg gugur rawi atau sejumlah rawinya yg paling lemah ialah hadaaits muallaq, hadaaits mu’dhal, hadaaits munqathi’ dan hadaaits mursal.
Berkaitan dgn hal tersebut makaa dlm hal kebolehannya (kehujjahan) hadaaits dha’if untk diamalkan terdpt beberapa pendpt:

Pendpt pertama, hadaaits dha’if tersebut dpt diamalkan secara mutlak, yakni baik yg berkenaan dgn masalah halal dan haram, maupun yg berkaitan dgn kewajiban dgn syarat tdk adaa hadaaits lain yg menerangkannya. Pendpt ini disampaikan oleh beberapa imam, seperti imam Ahmadaa bin Hambal, Abu Dawud dan sebagainya. Pendpt ini tentunya berkenaan dgn hadaaits yg tdk terlalu dha’if, krna hadaaits yg dha’if itu ditinggalkan para ulama’. Disamping itu pula hadaaits dha’if itu tdk boleh bertentangan dgn hadaaits yg lain.

Pendpt kedua, dipandang baik mengamalkan hadaaits dha’if dlm fadaaitul amal, baik yg berkaitan dgn hal-hal yg dianjurkan maupun dilarang. Segolongan ulama’ yg dipimpin oleh Syaikh Muhyiddin an-Nawawi menyatakn : sudah menjadaai kesepakatan ulama akn diperbolehkannya menggunakn hadaaits dha’if sebagai dalil untk fadaaitul amal. Ibnu Daqiq al’Id memberikan syarat dibolehkannya penggunaan hadaaits dha’if dlm fadaaitul amal:
    Hadaaits dha’if itu harus benar-benar adaa berdasarkan sumber yg asli. Artinya bukan rekayasa seseorang.
    Tdk menganggapnya sebagai hadaaits shahih ketika mengamalkannya, tetapi menganggapnya sebagai langkah antisipatif saja.
    Telah disepakati untk diamalkan, yaitu hadaaits dha’if yg tdk terlalu dha’if.
    Hadaaits dha’if yg bersangkutan beradaa di bawah suatu dalil yg umum, sehingga tdk bisa diamalkan hadaaits dha’if yg sama sekali tdk memiliki dalil pokok.

Pendpt yg ketiga, hadaaits dha’if sama sekali tdk dpt diamalkan, baik yg berkaitan dgn fadaaitul amal maupun yg berkaitan dgn halal-haram.
Dlm hal ini pemakaalah lebih sependpt dgn pendpt yg ketiga, yakni hadaaist dha’if sama sekali tdk dpt diamalkan baik yg berkaitan dgn Fadaaitul amal maupun yg berkaitan dgn halal-haram. Dgn alasan bahwasanya masih banyak hadaaits shahih yg lebih kuat dasar hukumnya yg masih bisa dijadaaikan sandaran hukum.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Syarat-syarat Hadaaits Shohih antara lain:
•    Sanadaanya Bersambung
•    Perawinya Adaail
•    Perawinya Dhabit
•    Tdk Syadaaz (janggal)
Hadaaits dha’if ialah hadaaits yg lemah, yakni para ulama masih memiliki dugaan yg lemah, apkah hadaaits itu berasal dri Rasulullah atau bukan. Hadaaits dha’if itu jga bukan saja tdk memenuhi syarat-syarat hadaaits shahih tetapi jga tdk memenuhi syarat-syarat hadaaits hasan.
Pembagian hadaaits dha’if adaa dua bagian yaitu: hadaaits dha’if krna gugurnya rawi dan cacat padaa rawi dan matan.
Status kehujjahan sebuah hadaaits dha’if dipandang hujjah apabila dpt diamalkan secara mutlak, dipandang baik mengamalkanya dan hadaaits dha’if yg sama sekali tdk dpt di amalkan.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadaa, Muhammadaa danM. Mudzakir. 2006. Ulumul Hadaaits. Bandung: CV Pustaka Setia.
Dhuha, Syamsu. 2012.armayant.blogspot.com/2012/06/makaalah-macam-macam-hadaaits-dhaif.html.
Mudasir. 1999. Ilmu Hadaais. Bandung: CV Pustaka Setia.

Visitor