Makalah Sejarah Ilmu Mantiq.



Makalah Pengertian Ilmu Mantiq? Pengertiaan Ilmu? Definisi ilmu? Pengertiaan Mantiq? Pengertiaan Logika?  Pengertian ilmu pengetahuan? Tebak tebakan logika? Pengertian pengetahuan? Perbedaan ilmu dan pengetahuan?Makalah Pengertian Ilmu kalam? Ilmu kalam? 



Sejarah Ilmu Mantiq.
 
Bagi bangsa Yunani dan bahkan bangsa di seluruh dunia-, Aristoteles ialah ikon rasionalitas. Dia ialah peletak dasar cara berpikir yg tersusun dalam premis-premis, dan kemudian ditarik sebuah konklusi. Apa yg dilakukan Aristoteles ini disebut logika. Bangsa Yunani yg dahulu diliputi dgn dunia mitos, seakn tercengang dan terhipnotis dgn karya Aristoteles. Posisi Aristoteles sebagai guru Alexander (putra raja Macedonia, Philip) dan guru filsafat di sekolah yg didirikannya di Athena, the Lyceum, menjadikan pemikirannya banyak dikenal di tengah-tengah masyarakat Yunani. Sampai pd tingkatan tertentu, logika Aristoteles mendapatkan tempat yg sangat prestis khususnya dalam dunia pengetahuan. 
Sejarah Ilmu Mantiq
Sejarah ILmu Mantiq

Logika Aristoteles telah mampu merapikan ‘muntahan ide’ Plato yg terabadikan dalam “dialog”nya. Pemikiran-pemikirannya mampu menghegemoni rasionalitas bangsa Yunani, bahkan seolah-olah menutup bayg-banyg dua filsuf besar sebelumya, Socrates dan Plato. Maka, tak berlebihan jika orang Yunani menganggap Aristoteles sebagai Tuhan dan Dewa rasionalitas. Jargon rasionalitasnya mampu meluluhkan ilmuwan pd zamannya demi mengungkap hakekat sebuah kebenaran.Rasionalitas dalam ilmu akn selalu diagungkan seperti halnya demokrasi dalam politik. Logika akn terus berkembang dan mengambil peran yg sangat relevan terhadap segala perkembangan yg ‘tidak mutlak’, terlebih ketika menemukan hal baru yg butuh penalaran. Dalam teorinya, 
Aristoteles selalu melakukan pendekatan rasional. Hal ini tercermin dari setiap karyanya. Bahkan alam semesta, menurutnya, tidak dikendalikan oleh hal-hal yg serba kebetulan. Gerakn alam semesta ini tunduk pd hukum-hukum rasional. Pengamatan empiris dan landasan-landasan logis harus dimanfaatkan dalam mempertanyakn setiap aspek dunia secara sistematis. Dgn ‘dogma’ inilah budaya Eropa mulai bergerak dari hal-hal yg beraromakn mistik dan takhayul menuju rasio.
Perumusan logika oleh Aristoteles dan dijadikannya sebagai dasar ilmu pengetahuan secara epistemologi bertujuan untuk mengetahui dan mengenal cara manusia mencapai pengetahuan tentang kenyataan alam semesta -baik sepenuhnya atau tidak- serta mengungkap kebenaran. Akal menjadi sebuah neraca, krna akallah yg paling relevan untuk membedakn antara manusia dgn segala potensi yg dimilikinya dari makhluk lain. “ Wa Ja’ala Lakum al-Sam’a wa al-Abshâr wa al-Af`idah” ( QS: 67 Ayat 23).
Oleh Ibnu Khaldun kata “af`idah” bermakna akal untuk berfikir yg terbagi dalam tiga tingkatan. Pertama, akal yg memahami esensi di luar diri manusia secara alami. Mayoritas aktifitas akal di sini ialah konsepsi (tashawwur), yaitu yg membedakn apa yg bermanfaat dan apa yg membawa petaka. Kedua, akal yg menelorkan gagasan dan karya dalam konteks interaksi sosial. Aktvitas akal di sini ialah sebagai legalitas (tashdiq) yg dihasilkan dari eksperimen. Sehingga akal di sini disebut sebagai akal empirik. Dan ketiga, akal yg menelorkan ilmu dan asumsi di luar indera, lepas dari eksperimen empirik atau yg biasa disebut “akal nazhari”. Di sini konsepsi (tashawwur) dan legalitas (tashdiq) berkolaborasi untuk menghasilkan konklusi.

Definisi logika sebagai ilmu untuk meneliti hukum-hukum berpikir dgn tepat harus mempunyai titik pembenaran tentang kebenaran itu sendiri. Maka ahli mantik dalam hal ini mencapai sebuah konklusi, yaitu ketika sebuah pernyataan sesuai dgn kenyataannya maka itu benar dan pernyataan yg didasarkan pd koherensi logis ialah benar, krna kekuatan pikir kita sebatas kebenaran yg kita ketahui. Pikiran yg tidak didasarkan pd kebenaran tidak memiliki kekuatan. Jika aklamasi mengarah kepd logika ialah representasi dari segala kebenaran pengetahuan, maka akn timbul pertanyaan ‘ke-independensian’ logika, apakah termasuk dari bagian sebuah pengetahuan atau hanya sebagai ‘kacung’ ilmu pengetahuan? Stoicisme mengklasifikasikan ilmu menjadi tiga tema besar, yaitu metafisika, dialektika dan etika. Dan dialektika ialah logika. Maka mereka lebih cenderung memasukkan logika sebagai bagian dari Filsafat. Berbeda dgn Ibnu Sina (1037 M.) dalam bukunya al-Isyârât wa al-Tanbîhât yg memisahkan logika sebagai ilmu independen sekaligus sebagai pengantar. Dalam hal ini, Al-Farabi (950 M.) juga berpendapat bahwa mantik ialah Ra’îs al-‘Ulum yg independen. Keterpengaruhan mantik arab dgn neo-platonisme dan Aristoteles sangat jelas jika dilihat dalam hal ini, krna essensi dari pd logika itu sendiri ialah ketetapan hukum untuk mengetahui sesuatu yg belum diketahui. Dan sejatinya tidak ditemukan perbedaan yg mendalam, hanya dari sisi pandangnya saja yg membuat seakn berbeda.
Ibnu Khaldun mengklasifikasikan ilmu menjadi dua; pertama ilmu murni-independen (‘ulûm maqshûdah bi al-dzât) seperti ilmu syari’at yg mencakup ilmu tafsir, hadits, fikih dan kalam, dan ilmu filsafat yg mencakup fisika dan ketuhanan. Kedua, ilmu pengantar (âliyah-wasîlah) bagi ilmu-ilmu murni-independen, seperti ilmu bahasa Arab dan ilmu hitung sebagai pengantar ilmu-ilmu syari’ah, dan mantik sebagai pengantar filsafat. Pengkajian terhadap ilmu pengantar hendaknya hanya sebatas kapasitasnya sebagai sebuah alat bagi ilmu independen. Krna jika tidak demikian, ilmu alat atau pengantar tersebut akn keluar dari arah dan tujuan awal, dan bisa mengaburkan pengkajian ilmu-ilmu independen. Pembahasan panjang lebar terhadap ilmu pengantar inilah yg banyak dilakukan oleh ulama khalaf. Dalam perkembangan selanjutnya, hanya ilmu independenlah yg dapat disebut sebagai ilmu. Sedangkan ilmu perantara bukan disebut ilmu. Terlepas dari ilmu atau bukan, bisa dikatakn tujuan sebenarnya mantik atau logika bukanlah sebagai peletak hukum berpikir melainkan berpikir untuk memperoleh kebenaran, yg salah atau yg benar.

Visitor