Makalah Sejarah, Perubahan besar dan Perkembangannya ( Ilmu Mantiq Aristoteles )



Makalah Pengertian Ilmu Mantiq? Pengertian Ilmu? Definisi ilmu? Pengertian Mantiq? Pengertian Logika?  Pengertian ilmu pengetahuan? Tebak tebakan logika? Pengertian pengetahuan? Perbedaan ilmu dan pengetahuan?Makalah Pengertian Ilmu kalam? Ilmu kalam? 


Logika dan Perkembangannya
Dalam dunia ilmu, argumen dipakai sebagai penguat gagasan. Setiap argumen dapat diuji keabsahannya dgn logika. Maka, untuk mewujudkan argumen yg baik dan benar perlu menguasai logika. Dalam pembacaan ini, penulis sedikitnya telah menggunakn perumusan logika yg diusung Aristoteles sebagai pencipta bentuk-bentuk pengungkapan dan penjelasan baru yg berupa dialektita atau logika. Krna korelasi sebuah pernyataan dan jawaban yg logis akn dapat dibuktikan dgn rumusan tersebut. Kesalahan penyimpulan ditemukan ketika tidak menggunakn hukum, prinsip dan metode berpikir. Berangkat dari upaya pencarian kebenaran tersebut ilmuwan Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles semakin gencar untuk merumuskan perangkat metode berpikir yg rasional.
Perkembangan Ilmu Mantiq
Perkembangan Ilmu Mantiq
Logika dalam perkembangannya mengalami berbagai fase. Bentuk logika formal yg ada dewasa ini ialah perwujudan kolaborasi antara pakar klasik dan modern. Tapi pionir logika formal yg sebenarnya ialah Aristoteles, meskipun dalam pengertian yg berbeda dgn logika formal modern. Pd hakekatnya logika tidak terpisah dari materi, yg pd awalnya merupakn sebuah pemahaman sehingga akn mewujudkan ‘thing’ (sesuatu). Tetapi pakar modern mengawali dari sesuatu sehingga akn muncul pemahaman. Makna awal logika Yunani ialah kalam yg kemudian dimaknai sebagai akal, pikiran dan burhan. Baru sekitar abad ke-2 M bangsa Arab mengadopsinya dan diterjemahkan sebatas segi bahasa yaitu kalam dan talaffud tanpa menghubungkannya dgn makna sebenarnya yg digunakn di Yunani ketika itu. Susunan logika Aristoteles yg sudah tertata rapi disertai peninggalan karya-karyanya dalam jumlah yg banyak dapat dikatakn sebagai salah satu faktor berkembangnya logika Aristoteles ke dunia Arab. Sejarahpun mencatat, banyak karya Aristoteles telah diterjemahkan ke berbagai bahasa seperti Syria, Arab, Persia dan India. Maka tak heran jika metode Aristoteles sangat ‘heboh’ merasuki hampir di segala cabang ilmu pengetahuan.
Ada enam tema besar dalam mantik Aristoteles yaitu, “Categoria Seu Praediecamenta” (al-Maqqûlât), “Perihermenias Seu de Interpretatione” (al-‘Ibârah), “Analytica Priora” (al-Tahlîlât al-Ulâ), “Analytica Posteriora” (al- Tahlîlât al-Tsâniyyah), “Topica, Seu De Locis Communis” (al-Jadal), “De Sophisticis Elenchis” (al-Safsathâ’i). Seiring dgn perkembangan mantik di dunia Arab, logika banyak mengalami perubahan, yaitu dari yg enam menjadi sembilan; ‘Isagog’ (madkhal), ‘Retorika’ (al- Khithâbah), ‘Potikia’ (al- Syi’r). Sembilan tema besar itulah yg banyak berkembang di dunia Arab. Bahkan al-Khawarizmi dalam bukunya ” Mafâtîh al-‘Ulûm” juga mengklasifikasikan mantik ke dalam sembilan tema tersebut. Lain halnya dgn al-Farabi dalam “Ihshâ` al-‘Ulûm” yg tidak mengkategorikan ‘isagog’ (madkhal) sebagai bagian dari mantik.
Sejarah mengisahkan tentang perkembangan ilmu berawal dari penerjemahan gede-gedean yg diprakarsai Khalifah Al-Ma’mun (masa penerjemahan terhadap karya pemikir Yunani dimulai pd masa Khalifah al-Mansur) dari Dinasti Abbasiyah. Ketika itu, Al-Ma’mun bermimpi bertemu dgn Aristoteles. Perbincangan mereka mengarah bahwa sumber kebenaran ialah akal. Segera Al-Ma’mun mengirim delegasi ke Roma guna mempelajari ilmu yg banyak berkembang dan tersimpan, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Yahya bin Khalid bin Barmak ialah ‘Sang Hero’ pd masa itu, krna dia telah berhasil membujuk bahkan membebaskan karya para intelektual Yunani dari genggaman Romawi. Hal yg ditakutkan oleh Raja Romawi dari karya para intelektual Yunani ialah ketika buku-buku tersebut dikonsumsi oleh rakyatnya dan mulai tersebar maka agama Nasrani kemungkinan besar akn ditinggalkan, dan kembali pd agama Yunani. Ilmu asing yg diadopsi Arab diklasifikasikan oleh Khawarizmi berjumlah sembilan cabang ilmu, dan mantik ialah salah satu di antaranya. Ialah Ayyub bin al-Qasim al-Raqi yg menerjemahkan Isagog dari bahasa Suryani ke Arab yg pd awalnya telah diadopsi dari Madrasah Iskandaria.
Pindahnya Madrasah Alexandria ke Syria membawa banyak pengaruh dalam dunia pengetahuan. Penertiban dan penyusunan ketika itu menjadikan logika sebagai pedoman dan ilmu dasar dalam bidang astronomi, kedokteran dan kalam yg berkembang pesat di Arab sekitar abad IX-XI M. Sarjana Islam mulai proaktif dalam mengembangkan ilmu yg bernafaskan sains, termasuk Ibnu Sina (1037 M.), seorang filsuf muslim yg juga dokter dan Abu Bakar al-Razi yg mengawali pembukuan ilmu kedokteran dan farmasi. Ibnu Rusyd (1198 M.) kemudian ikut andil dalam mengkolaborasikan logika Aristoteles dgn ilmu Islam termasuk filsafat dan nahwu. Al-Ghazali juga mulai mengkolaborasikan mantik dgn ilmu kalam pd periode selanjutnya. Maka jika kita telisik kembali dalam perjalanan sejarah, lewat orang-orang muslimlah dunia modern sekarang ini mendapatkan cahaya dan kekuatannya. Pengembangan metode eksperimen dari Timur mempunyai pengaruh penting dalam pola berpikir manusia sehingga mengembangkan metode ilmiah yg menggabungkan cara berpikir baik secara deduktif dan induktif.
Rasionalitas Eropa Klasik-Modern
Perkembangan logika Barat berawal dari masalah teosentris yg sangat berbalik arah dgn perkembangan mantik di Arab-Islam. Pertemuan pemikiran Aristoteles dgn iman kristiani menghasilkan banyak pemikir dan filsuf penting. Mereka sebagian besar berasal dari dua ordo baru yg lahir dalam abad pertengahan, yaitu Dominikan dan Fransiskan. Aliran ini dinamai sebagai filsafat Skolastik (dari kata Latin “scholasticus” yg berarti “guru”). Tema-tema pokok dari ajaran mereka antara lain hubungan iman-akal budi, eksistensi dan hakekat Tuhan, antropologi, etika dan politik. Mereka berusaha untuk memperlihatkan bahwa iman sesuai dgn pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Dan pd masa ini filsafat diajarkan di sekolah-sekolah biara serta universitas mengikuti kurikulum tetap yg bersifat internasional. Berbeda dgn apa yg ditawarkan dunia Islam, sebagaimana pendapat Ibnu Rusyd (1198 M.) bahwa filsafat dan agama mempunyai persamaan, yaitu sama-sama melaporkan prinsip-prinsip wujud tertinggi dan mempunyai tujuan puncak yaitu kebahagiaan manusia. Dalam tataran ini Siger de Brabant menyatakn bahwa agama lebih benar dari pd akal, krna betapapun itu, akal hanyalah akal, yg tidak dapat melampaui posisi agama. Adapun filsafat, laporannya lebih bersifat persuatif sedangkan agama lebih ke imajinatif.
Pengaruh rasionalitas Aristoteles terhadap peradaban Eropa secara periodik terbagi tiga, yaitu pd permulaan abad Masehi (sekitar abad ke-2 dan ke-3 M.), kemudian pd pertengahan abad (sekitar abad ke-13 hingga abad ke-16 M.) dan akhir abad ke-19 M. Yg perlu ditekankan di sini, bahwa otoritas gereja pd pertengahan abad sangat menghegemoni hampir semua wilayah Eropa dgn mengusung etika rasional sebagai titik tolak pemikiran. Sehingga wahyu Tuhan seakn dipaksakn untuk memasuki wilayah akal. Nah, hal inilah yg menimbulkan perpecahan dalam gereja. Mulai abad ke-12 M, gereja mulai menerjemahkan karya sarjana Muslim yg berpusat di Spanyol dan Napoli. Orang Yahudi ketika itu banyak mempelopori penerjemahan kitab kedokteran, logika, matematika, astronomi dan filsafat. Buku filsafat pertama yg diterjemahkan ialah al-Syifa’ karya Ibnu Sina (1037 M.) yg sangat melegenda kemudian mulai melebarkan sayap terhadap karya Al-Farabi dan Al- Kindi. Pengadopsian karya-karya tersebut didukung dgn hadirnya Madrasah Paris yg sedang naik daun sekaligus mendapat ‘restu’ dari Raja Philip dan Agustus. Penyelaman terhadap karya sarjana muslim tidak berjalan mulus bahkan mendapatkan penygkalan dan pembantahan dari pihak gereja yg masih fundamentalis. Krna banyak berlawanan dgn hasil konsensus gereja, maka secara resmi gereja mengeluarkan pelarangan dan pemboikotan terhadap karya Aristoteles pd tahun 1210 M. Maka, langkah selanjutnya yg diambil ialah menerjemahkan karya Aristoteles langsung dari buku Yunani, dan hal itulah yg banyak membantu Thomas Aquinas dalam pembaruan gereja. Di sinilah awal permulaan terbaginya madrasah Eropa menjadi empat pusat keilmuwan, yaitu madrasah Agustine, Dominika, Rasional Latin dan Oxford.
Pd hakekatnya relasi mantik dan filsafat tidak akn terpisahkan, krna ‘berfilsafat’ harus menggunakn akal sehat dgn melepas subjektifitas. Sedangkan agama dasar utamannya ialah kekuatan iman, bukan akal. Pergolakn iman Kristiani banyak tercabik-cabik dalam pertengahan abad pertama, yaitu dgn munculnya asumsi gereja yg menyatakn tidak adanya filsafat dalam agama krna itu sangat mustahil. Melihat tujuan utama agama nasrani ialah “fikratul khallash”, yg menurut sebagian tokoh gereja tidak ada sangkut-pautnya dgn filsafat. Dalam tataran ini, Ludwig Feurbach sependapat dgn keputusan gereja. Berbeda dgn pemikiran Agustine yg banyak menghubungkan wilayah agama dan rasionalitas. Dalam bukunya “De Civitate Dei” dikatakn bahwa filsafat Kristen ialah cinta akn kebenaran, dan kebenaran merupakn ‘kalimah’ yg menyatu dalam tubuh al-Masih. Maka dalam argumen selanjutnya, Agustine tidak mengakui otoritas wahyu, krna nasrani ialah agama yg rasional. Agustine sedikit menjelaskan korelasi antara rasionalitas dan iman, bahwa fungsi akal mendahului iman (Ratio antecedit fidem) guna menjelaskan nilai-nilai kebenaran dalam akidah, sedangkan tujuan iman mendahului akal (Credo ut intelligam) hukumnya wajib agar akal digunakn untuk memikirkan akidah. Dan dari sini dapat ditarik benang merah bahwa tujuan hakiki filsafat ialah bukan berpikir untuk berakidah, melainkan berakidah untuk berpikir. Hal ini sangat berlawanan dgn pernyataan Thomas Aquinas (1274 M.), bahwa berpikir merupakn titik pemberangkatan untuk berakidah. Pemisahan rasionalitas dgn agama juga menjadi bahasan utama oleh Dr. Zaki Najib Mahmud, sejatinya agama berangkat dari wahyu disertai nash-nash ilahiyah yg terjaga, maka ketika membahas ‘rasionalitas agama’ lebih ditujukan kepd proses penalaran yg berangkat dari agama. Nash agama selalu bersifat tunggal, tetapi nash yg berangkat dari penalaran agama akn bervarian selaras dgn perbedaan segi pandangan akal terhadap agama.
Pergulatan sejarah mengisahkan zaman Renaissance ialah yg menjembatani perkembangan rasionalitas dari abad pertengahan ke era modern sekitar tahun 1400-1600 M. dgn tokoh utama Francis Bacon (1562-1626 M.), Nicollo Machiavelli (1469-1527 M.). Mereka mulai menguak kebudayaan klasik Yunani-Romawi kuno yg dihidupkan kembali dalam kesusastraan, seni dan filsafat. Jargon utamanya ialah “Antroposentris” ala mereka, pusat perhatian pemikiran tidak lagi wilayah kosmos, melainkan manusia. Mulai sekarang manusialah yg dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan.
Descartes sebagai filsuf, matematikawan dan ilmuwan Prancis abad pertengahan (1596-1650 M.) memberikan sebuah elaborasi pernyataan yg berlawanan filsafat klasik tetapi justru mengembangkan. Sebuah pertanyaan klasik “apakah asal-muasal pengetahuan manusia itu?” diselaraskan dgn pertanyaan “bagaimana saya tahu?” ialah hepotesa aktif yg menuntut akal untuk proaktif dalam melihat sesuatu. Pengaruh besar yg dicetuskan Descartes ialah pemahaman tentang fisik alam semesta, bahwa seluruh alam -selain Tuhan dan jiwa manusia- bekerja secara mekanis. Oleh krna itu semua peristiwa alami dapat dijelaskan dari sebab musabab mekanis. Atas dasar inilah dia menolak pandangan astrologi, magis dan takhayul, yg berarti juga menolak penjelasan teologis. Dia berpendapat seharusnya para ilmuwan menjauhkan diri dari hal-hal yg bersifat semu dan harus menjabarkan dunia secara matematis. Dia menyusun suatu sistem filsafat dgn metode matematika.
Perkembangan baru muncul lagi di abad ke-18 M., yg biasa disebut masa enlightment atau Aufklarung, yg mulai menciptakn suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme. Tokoh utamanya ialah John Locke (1632-1704 M.), di Prancis Jean Jacque Rousseau (1712-1778 M.) dan di Jerman ada Immanuel Kant (1724-1804 M.). Atas dasar rasionalisme, empirisme dan idealisme, Barat sampai saat ini mempunyai banyak aliran filsafat, yg kebanyakn hanya berkutat pd satu negara dan kebudayaan.
Nalar Arab - Islam
Terdapat banyak versi kapan mulainya penerjemahan dari Yunani ke Arab. Ada yg mengatakn bahwa penerjemahan itu terjadi pd masa kekuasaan Daulah Bani Umayah, ada juga yg berpendapat pd awal Daulah Abbasiyah. Al-Syahrastani sepakat bahwa mantik lebih dulu memasuki wilayah Arab sebelum zaman penerjemahan, yg berarti sebelum abad ke-8 M. Proses penerjemahan terhadap karya filsuf Yunani didukung oleh upaya ekspansi umat Islam ke beberapa wilayah asing. Namun, mantik dalam masa ini belum menemukan perkembangan pesat, bisa jadi keadaan sosial masyarakatnya memang belum butuh atau aksi pencekalan oleh ulama salaf yg begitu menghegemoni. Sebagian dari ahli sejarah mengatakn, bahwa ilmu mantik mulai masuk ke dalam pemikiran Arab pd abad ke-7 M ketika masa penerjemahan Khalifah Ma’mun.
Menurut Deboura, belum tersebarnya mantik secara meluas disebabkan krna hilangnya beberapa dokumentasi terjemahan buku-buku mantik sebelum abad ke-8 M. Tetapi pendapat ini banyak disangkal oleh sejarawan lain, krna justru pd masa sebelumnya telah muncul ilmu nahwu yg banyak berdialog dgn mantik. Bahkan ulama nahwu dari Basrah ketika itu mendapatkan julukan ahli mantik, krna dalam metodenya banyak menggunakn rasio. Hal tersebut sangat didukung oleh kondisi sosial politik Basrah yg terus berkecamuk, sehingga aksi perlawanan dan pertentangan dari tiap kelompok tak dapat dihindari. Akibatnya, mantik digunakn sebagai senjata perlawanan untuk adu argumentasi. Nah, hal ini sangat berbeda dgn ulama Nahwu Kufah yg cenderung kurang rasionalistik.
Dalam riwayat al-Qadli al-Sha’id al-Andalusi (1070 M./462 H.) dijelaskan, bahwa Ibnu Muqaffa’ (760 M./142 H.) diyakini sebagai penerjemah awal ilmu mantik. Ia telah menerjemahkan tiga buku karya Aristoteles yaitu, Categorias, Pario Hermenais, Analytica, serta Eisagoge karya Porphyry. Hunain bin Ishaq, salah satu ahli bahasa, juga berpartisipasi dalam menerjemahkan berbagai disiplin ilmu Yunani ke dalam bahasa Arab. Bahkan Ishaq juga ikut menerjemahkan dari bahasa Suryani. Dalam buku Thatawwur Mantiq al-Araby dijelaskan, sekitar tahun 800 M. ialah awal penerjemahan buku-buku Yunani, hingga wafatnya murid dan kerabat Hunain bin Ishaq, krna mereka banyak membantu proses penerjemahan.
Organon ialah kitab pertama yg diterjemahkan ke Arab. Orang-orang Nasrani ketika itu juga banyak membantu dalam proses penerjemahan, yg secara tidak langsung pemikiran Aristoteles berkembang biak tidak hanya dalam kedokteran, astronomi dan matematika melainkan mulai menyentuh wilayah teologi Kristen. Maka, dari sini mulai terjadi perbedaan dalam penertiban ilmu antara filsafat Suryani dan Nasrani. Sejak saat itu, mantik menjadi pemeran utama dalam ilmu kedokteran dan mulai berkembang dalam bahasa Arab sekitar abad ke-9 hingga abad ke-11 M. yg diprakarsai oleh Yahya bin Musawiyah, spesialis penerjemah ilmu kedokteran dari Yunani ke Arab. Apalagi didukung dgn hadirnya madrasah di Jundisapur (Persia) yg mengawali pelatihan penerjemahan dari teks Yunani pd awal abad pertama yg akhirnya berpindah ke Bagdad. Maka tak bisa dipungkiri lagi, bahwa dari sinilah lahir sarjana muslim yg berkompetensi tinggi untuk mengenalkan mantik dalam ilmu keislaman, sebut saja Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Razi, Al-Ghazali dst.
Berawal dari ilmu kedokteran, astronomi serta kimia, Al-Kindi mulai memberanikan diri untuk menerjemahkan filsafat Yunani yg sekaligus mendapat persetujuan dari Khalifah al-Ma’mun (850-873 M). Kemudian mantik mulai berdialektika dan mempengaruhi disiplin ilmu Islam lainnya, termasuk nahwu. Mantik dalam hal ini digunakn sebagai rumusan metode dalam pengambilan hukum gramatikal bahasa, terlebih lagi dalam hal silogisme. Pd saat yg bersamaan, ilmu kalam juga mulai merayap dan terus berkembang di tangan Qadariyah, baru diwariskan ke Mu’tazilah sebagai titisan golongan rasionalis. Pertemuan umat Kristen dgn logika menuntut cendekiawan muslim untuk lebih giat mempelajari mantik sebagai upaya dalam menjaga teologi Islam.
Pd dasarnya logika Aristoteles telah hidup dalam budaya Arab kurang lebih satu setengah abad. Penolakn terhadap filsafat termasuk logika Yunani baru terjadi pd masa Imam al-Asy’ari abad keempat Hijriah. Menurut beberapa penulis, penolakn yg sesungguhnya baru terjadi pd masa al-Ghazali yg menulis bukunya Tahâfut al-Falâsifah pd pertengahan kedua abad kelima Hijriah. Penolakn tersebut didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan teologis. Tetapi ada faktor-faktor positif yg terdapat pd logika Yunani sehingga dapat diterima di dunia Islam, di antaranya akurasi logika dan ilmu-ilmu matematika yg memberikan kontribusi luar biasa dalam peradaban Islam. Akibatnya, filsuf dan teolog muslim mempercayai akurasi dan kebenaran logika, bahkan sampai memasuki wilayah ketuhanan (metafisika). Kekaguman akn logika terjadi krna, dulunya, Islam yg hanya mengenal segi-segi intuisi dan perasaan dalam mempertahankan akidah, kemudian mulai beranjak menggunakn mantik dalam menguatkan sendi-sendi akidah Islam sebagaimana disinggung al-Ghazali dalam bukunya, Al-Munqidz min al-Dhalâl.
Logika Aristoteles memberikan perubahan besar dalam dinamika sosial masyarakat Arab, terlebih dalam urusan administrasi negara serta dalam sistem politik sekalipun. Mantik, pd masa itu juga digunakn sebagai piranti tata letak kota, krna Islam sebagai negara sangat membutuhkan sistem baru untuk maju. Tak hanya itu, ide-ide materialisme yg diusung Aristoteles juga berperan dalam problematika pimikiran Arab-Islam, meskipun kontradiksi dalam hal ini tidak dapat dinafikan. Peran logika Aristoteles dapat disimpulkan dalam tiga hal; yaitu sebagai perangkat praktis dan media berargumen yg marak dalam berbagai perdebatan ideologi. Selanjutnya, mantik digunakn sebagai salah satu langkah kesuksesan pola pikir Arab-Islam, sehingga dgn mantik peran akal menjadi primer demi mencapai tingkat keyakinan. Dan terakhir, bahwa logika dijadikan sebagai media (wasîlah) untuk menyatukan berbagai ideologi dan pimikiran menuju hakekat Satu Yg Mutlak, yaitu sumber kebenaran dan pengetahuan.
Perjalanan mantik Arab mengalami sedikit goncangan dari ulama klasik. Bantahan dan sanggahan terhadap al-Kindi kala itu tak dapat dihindari. Krna menurut mereka belajar filsafat sama halnya belajar sesuatu yg menyesatkan. Parahnya, mereka mengklaim bahwa mempelajari filsafat dan mantik ialah bagian dari perbuatan setan. Imam al-Syafi’i banyak mengeluarkan hadist-hadist larangan terhadap pembacaan logika dan filsafat. Salah satunya berbunyi “akn dianggap bodoh lagi diperdebatkan bagi mereka yg mulai meninggalkan bahasa Arab dan berganti mempelajari filsafat Aristoteles”. Pdhal dalam fikih, Imam Syafi’i banyak menggunakn metode eksplorasi (istiqrâ`) untuk mengambil istinbath hukum. Ada pula riwayat yg berbunyi “barang siapa yg mempelajari logika, maka disamakn dgn kaum zindiq”. Sejatinya, masih banyak lagi nash- nash hadist lainnya yg menyatakn pelarangan terhadap mantik dan filsafat, seperti yg sudah dikemas oleh Syeikh Islam Ismail Harawi dalam periwayatannya.
Kecaman dan penolakn terhadap mantik berawal ketika Al-Mutawakkil mulai menduduki kekhalifahan Abbasiyah (846 M/232 H). Penentang terbesar terhadap pemikiran Yunani ialah golongan teolog Asy’ariyah terutama Al-Ghazali (1059-1111 M). Perlawanan tersebut meluas dari wilayah timur hingga barat. Namun barat Islam lebih terpengaruh akn hal ini krna mayoritas bermadzhab Maliki yg tidak lain ialah salafi. Mantik dan filsafat terus dikecam oleh doktrin ke-salafan, sampai pd akhirnya muncul Ibnu Rusyd pemikir besar Islam yg berani melawan mainstream tersebut dgn bukunya Tahâfut al-Tahâfut. Yg juga menjadi komentator atas aliran Aristoteles –selain Ibnu Sina dan Ibn Rusyd- ialah Suhrawardi dgn magnum opusnya “Hikmat al-Isyraq”, yg berisikan kritikan terhadap aliran Paripatetik dan filsafat materialisme yg dianut oleh aliran Stoicisme. Meskipun demikian, perlawanan terus berlanjut bahkan sampai puncaknya pd abad ke-13 dan ke-14 M. Apalagi setelah terbunuhnya filsuf muslim Sahruwardi pd akhir abad ke-12 M., muncul dua penentang papan atas yaitu, Ibnu Sholah (1244 M.) dan Ibnu Taimiyah (1328 M.). Adapun Ibnu Taimiyah melakukan pemboikotan terhadap buku-buku filsafat dan mantik, serta melontarkan predikat ‘kafir’ terhadap Ibnu Sina dalam bukunya “Majmu’ah Rasâ`il al-Kubrâ” (terbitan Kairo, hal 138). Pd masa inilah, pengikisan mantik mulai terlihat. Muncul setelahnya, abad ke-14 M. Imam Al-Dzahabi yg juga melakukan perlawanan terhadap perjalanan filsafat dan mantik Yunani. Hal-hal seperti itulah yg dilakukan ulama salaf guna membendung fitnah dalam pentakwilan teks-teks suci al-Qur’an dan Hadist.
Dalam tataran praktis, asal-muasal masuknya mantik ke dunia Arab melalui jalur kedokteran, dan berakhir ketika mencapai puncak relasinya dgn ilmu kalam oleh Ghazali (al-Iqtishâd fi al-I’tiqâd). Menurut Ibnu Taimiyah, sarjana muslim pertama yg banyak berbicara logika serta menghubungkannya dgn ilmu Islam lain ialah al-Ghazali, maka tak heran jika ketika masuk abad ke-10 M., mantik sudah tidak dalam bentuknya yg dulu (ala Yunani), melainkan mulai disusupi nilai-nilai keislaman. Dialektika mantik dgn disiplin ilmu Islam lainnya semakin tampak, bahkan ketika nahwu dikatakn sebagai ‘mantiknya’ bahasa, maka mantik juga merupakn ‘bahasanya’ akal. Singkatnya, logika berperan sebagai timbangan untuk memutuskan yg baik dan buruk.
Setelah runtuhnya Baghdad abad ke-11 M., Andalusia dijadikan sebagai pusat peradaban keilmuwan kedua. Demikian pula yg terjadi dalam mantik, berakhirnya madrasah Bagdad menjadikan mantik lebih dewasa, artinya yg dipakai saat itu bukan lagi metode Aristoteles melainkan diktat khusus karya Ibnu Sina. Terlihat dari abad-abad selanjutnya sekitar ke-13 dan ke-14 M., karya Ibnu Sina lebih membumi dari pd karya Aristoteles. Di sisi lain, sekitar 970-1030 M. muncul jamaah Ikhawan al-Shafa dgn basis terbesarnya di Basrah. Dalam logika, mereka mengikuti metode Aristoteles tetapi lebih condong kepd Neoplatonisme, terlebih dalam pengertian tentang pitagoras. Banyak buku mantik yg telah dihasilkan oleh para pendahulu mereka, khususnya al-Farabi dalam mengkolaborasikan mantik Yunani dgn pemikiran Arab Islam.
Perjalanan mantik mulai tersebar di Andalusia dan Persia dari abad ke-12 hingga abad ke-13 M. dgn style baru yg mulai terbebaskan dari filsafat. Ketika mantik dianggap hanya dibutuhkan dalam filsafat, Al-Ghazali memberikan inovasi baru yaitu membawa mantik secara perlahan memasuki wilayah kalam, nahwu, fiqh, ushul fiqh dan ilmu sosial. Krna logika ialah perantara dalam segala hal, tidak hanya problem-problem teologis dan filsafat saja. Sejak itu Al-Ghazali melegitimasi umat muslim untuk mempelajari logika dalam kapasitasnya sebagai kewajiban komunal (fardhu kifâyah). Terlebih lagi, buku-buku mantik karya Ibnu Rusyd dan karya Fakhruddin al-Razi menjadi pedoman penting dalam kajian mantik sekaligus menjadi rujukan bagi para sarjana muslim abad ini. Upaya Ibnu Rusyd dalam mengeleminasi logika Yunani ternyata menuai hasil yg tidak mengecewakn.
Relasi Mantik dgn Disiplin Ilmu Islam Lainnya
Al-Ghazali menyatakn bahwa teologi retoris sangat kering jika hanya berkutat dgn logika tanpa menyentuh epistem demonstratif, sehingga butuh sebuah upaya harmonisasi demi mencapai teologi yg mampu menghilangkan skeptisisme. Mantik dalam pandangan al-Ghazali terbagi dua, yaitu mantik Aristoteles yg mencakup segala pengetahuan kecuali teologis, dan mantik “kasyfi” yg hanya mencakup masalah ketuhanan. Tapi menurut Ibnu Khaldun, logika empirik (mantiq hissi) juga dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari mantik, yg mendasari problematika kemasyarakatan. Dalam relasinya dgn ilmu kalam, al-Ghazali lebih mengunggulkan metode analogi (qiyâs) daripd eksplorasi (istiqrâ’) krna dianggap tidak dapat membenarkan teori ketuhanan, terwujud dari ketidakseragaman antara dunia metafisis dan realita. Syahdan, ilmu Kalam yg diusung al-Ghazali bukan dalam artian harfiahnya (yaitu: pembicaraan), melainkan dalam pengertian pembicaraan yg bernalar dan menggunakn logika. Maka ciri khas ilmu kalam ialah rasionalitas atau logika.
Ekspansi ilmu mantik dalam tataran teoritis tidak mengalami perkembangan signifikan pd abad ke-13 hingga abad ke-14 M. Masa setelah hadirnya Ibnu Rusyd dapat dikatakn sebagai masa melangsungkan kembali kritikan-kritikan beserta ulasannya dari golongan rasionalis sebut saja Al-Iji, Al-Thusi dan Sa’aduddin Al-Taftazani. Dalam beberapa kurun waktu selanjutnya merupakn masa kritikan terhadap pemakaian metode pikiran dalam memahami soal-soal akidah, salah satunya ialah Ibnu Taymiyah, Ibnu Sholah, Ibnu Hazm, dan Ibnu Al- Qaym. Nah, baru ketika beranjak ke abad selanjutnya perkembangan mantik berupa penertiban materi yg sengaja diselaraskan oleh al-Tustari di kedua madrasah abad pertengahan. Al-Taftazani dan Al-Jurjani juga turut andil dalam memperjelas mantik. Maka standarisasi mantik telah sempurna sekitar abad ke-15 M. sampai sekarang.
Laju perkembangan rasionalitas dalam kancah keilmuwan terlebih di Arab Islam sangat pesat. Pola pikir tiap sekte dan aliran selalu mengatasnamakn akal. Model penalaran al-Asy’ari dapat dikategorikan sebagai ‘orthodox style’, krna lebih setia dgn teks suci agama dibandingkan dgn mu’tazilah dan filsuf. Meskipun masih dalam lingkaran Islam, tapi penalaran yg dipakai mu’tazilah dan filsuf kebanyakn produk Yunani, sehingga mulai melakukan pendekatan ta’wil atau interpretasi metaforis terhadap kalam Tuhan, yg mereka anggap “mutasyabihât”. Nah, hal ini disebabkan kuatnya peranan unsur mantik serta dialektika. Maka sistem ini dinamakn ilmu kalam atau teologi rasional. Sebenarnya tidak hanya mu’tazilah dan filsuf saja yg mengedepankan nalar, tapi al-Asy’ari pun menggunakn argumen dan dialektika logis meskipun dalam tataran sekunder. Metodologi alAsy’ari yg aristotelian dgn ciri rasional-deduktif rupanya paling mendapatkan simpatisan, terutama sekali ketika dua abad kemudian Al-Ghazali muncul dgn membawa kekuatan argumennya yg luar biasa. Bisa disebut bahwa madzhab ini sebagai jalan tengah dari berbagai ekstremitas. Praktis, semua titik-titik penting keagamaaan mereka dukung dgn argumen dan dialektik yg logis, bahkan menjadi inspirator orisinil bagi pemikiran keislaman. Sebagaimana pembahasan dalam teologi, pusat argumentasi kalam al-Asy’ari berada pd upayanya untuk membuktikan adanya Tuhan yg menciptakn seluruh jagad raya dari ketiadaan (ex nihilo) serta pembuktian adanya hari akhir dan malaikat. Konsep ‘kasb’ termasuk salah satu teori yg diyakini pengikut al-Asy’ari, krna pengolahan argumentasinya dinilai sangat logis.
Kajian fikih berkembang pd saat peralihan zaman Umawiyah ke zaman Abbasiah, yaitu berdirinya “school of thought” oleh Abu Hanifah (699-767 M.) yg terbentuk dalam lingkungan Irak. Kekuatan politik untuk menjabarkan penalaran ajaran Islam sangatlah riil, terlihat dari ekspansi yg berimbas juga pd kodifikasi penalaran dalam setiap ilmu. Analogi yg banyak digunakn madzhab ini ialah qiyas dan pertimbangan kebaikan umum (istihsan). Kemudian Syafi’i meneruskan tema aliran pemikiran gurunya Anas Ibnu Malik dan mulai mengembangkannya. Dalam tataran ini, Syafi’i sangat berjasa dgn teori yg dirumuskannya, sebagai dasar teoritis Sunnah dan pembentukan analogi atau qiyas sebagai metode rasional untuk mengembangkan hukum itu. Sementara itu konsensus ulama (ijma’) juga diterima Syafi’i sebagai bentuk kebiasaan masyarakat. Maka, titik tolak fikih berkat Syafi’i ada empat yaitu Kitab Suci, hadist Nabi SAW, ijma’ dan qiyas.
Dalam disiplin ilmu nahwu, mantik dgn analogi-nya sangat berperan penting. Kecenderungan pemakaian qiyas seiringan dgn munculnya gramatika dan kaedah bahasa, terutama oleh para ulama bahasa yg ada di Bashrah. Mereka lebih memilih mengkiaskan dgn metode sima’i terhadap dalil fasih yg mereka pakai untuk ber-istinbath. Ketelitian dalam mengambil argumen merupakn ciri khas mereka, berbeda halnya dgn ahli nahwu Kufah. Untuk menetapkan qiyas mereka tidak sepenuhnya selektif terhadap dalil-dalil yg akn dipakai, hal ini bisa dikrnakn keterpengaruhan pemikiran mereka dgn corak filsafat Persia yg lebih mengutamakn logika akal dari pd dalil. Adapun faktor lainnya, yaitu keterbatasan sumber-sumber dalil di samping letak geografisnya yg jauh dari pusat keilmuan dan peradaban. Tidak hanya model qiyas yg digunakn ahlu nahwu dalam pengambilan hukum, krna ternyata teori illat atau apologi juga banyak difungsikan.
Jika diruntut dari awal perkembangan mantik, sudah berapa cabang keilmuan yg telah disisipi kekuasaan logika? Bahkan sampai kepd pengetahuan yg bertendensi iluminasi atau intuisi sekalipun, hal ini membuktikan bahwa peran akal beserta rumus-rumusnya akn selalu dibutuhkan meskipun ada beberapa hal yg dapat berjalan tanpanya. Tasawuf sebagai disiplin ilmu irasional, dalam beberapa halnya-pun menggunakn teori dan asas logika. Politik, sosial, kedokteran, aritmatika, dan masih banyak disiplin ilmu lain yg pasti membutuhkan aturan berpikir untuk mencapai sebuah kebenaran yg dituju. Namun, kebenaran ilmu pengetahuan sifatnya relatif, sedangkan agama kebenaran yg dituju ialah sebuah kebenaran mutlak.
Epilog
Itulah sekelumit proses berpikir manusia, sebuah perjalanan panjang dalam rangka merelevansikan diri terhadap peradaban manusia yg tak kunjung usai. Bahwa rasional sejatinya irasional, krna bertolak dari sebuah pengandaian yg tidak dapat terpenuhi. Yaitu, segala sesuatu pastinya dapat dimengerti seseorang. Sikap rasionalis mencerminkan seseorang suka akn tantangan. Dikatakn seperti itu, sebab dia harus benar-benar memperhatikan, memeriksa dan menjawabnya. Berbeda dgn irasionalis, yg menolak tantangan semata- mata krna keyakinan. Lawan rasionalisme ialah fedeisme, yaitu sebuah sikap yg membatasi diri pd iman, akal dan wahyu Tuhan, dan sekaligus menganggap penggunaan nalar manusia tidaklah perlu. Sekalipun, mereka juga tidak menyadari bahwa kemampuan manusia untuk bernalar merupakn ciptaan Tuhan.
Dgn sebuah historitas, mungkin kita akn sedikit mengetahui bahwa hantaman dan pengikisan mantik pd abad pertengahan ialah problematika terbesar, yg bahkan sama sekali tidak terpikirkan oleh Aristo sendiri sebagai pencetak awal logika. Dan yg patut dihargai ialah upaya akselarasi-akselarasi oleh ulama Islam sebelum di bawa ke Barat, yg setidaknya menjadikan metode ini mulai diterima. Bisa jadi perihal tersebut juga sedikit melegakn Aristoteles, bahwa ternyata masih ada pembela-pembela intelektual terhadap karyanya yg terseok-seok melawan arus peradaban terutama oleh para agamawan.
Kompleksitas yg dipresentasikan akal akn bertaut kelindan sampai suatu masa yg tak terbatas, boleh jadi akn menuju pd sebuah kesempurnaan misteri, bahkan sebaliknya. Tetapi apapun itu, akal tetaplah akal, yg telah menyumbangkan peradaban besar dari sejengkal langkah manusia.

Visitor