Tasawuf pada Masa Wali Songo


Berikut ini kami akan memaparkan Tasawuf pada Masa Wali Songo satu per- satu sehingga teman- teman dapatt memahaminya secara detail :

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Penulisan

Tasawuf pada masa wali songo merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai perwujudan darii ihsan yan g berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan Tuhannya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan rasulullah saw, namun tasawuf sebagai ilmu keislaman ialah hasil kebudayaan Islam sebagaimana ilmu -ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid. Pada masa Rasulullah belum dikenal istilah tasawuf, yan g dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat Nabi. Munculnya istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh abu Hasyimal-Kufi (w. 250 H.) dengan meletakkan al-Sufi dibelakang namanya.Penyebaran Tasawuf di tanah air menarik untok dicermati, karena dalaam perkembangannya tidak hanya timbul satu aliran saja, tetapi beberapa aliran yan g berbeda, karena itu pada saat ini saya akan mencoba menguraikan seputar tasawuf pada Masa Wali Songo sebagai pelor penyebaran Islam di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah
          Sesuai yan g telah dijelaskan dalaam latar belakang, pembuatan makalah ini mengacu pada rumusan masalah sebagai berikut :

1.   Bagaimana sejarah para wali ?
2.    Bagaimana tasawuf pada Masa Wali Songo ?


1.3 Tujuan

Pribadi yan g sempurna harus dibangun di atas tiga pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Ihsan – sebagaimana hadits Nabi – ialah beribadah kepada Allah bagaikan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah itu melihat kamu.
1.     Sebagai wahana memperluas wawasan dan pengetahuan tentang PerkembanganTasawuf pada Zaman Wali Songo.
2.     Ikut serta dalaam memberikan penjelasan tentang aliran-aliran tasawuf  .
3.      Semoga bisa menjadi sumbangan yan g berarti bagi perkembangan keilmuan di lingkungan kampus dan masayarakat.

  
BAB II
Sejarah Wali Songo

2.1  Sejarah Wali Songo

"Walisongo" berarti sembilan orang wali. Mereka ialah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yan g persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalaam ikatan darah juga dalaam hubungan guru-murid. Mereka tinggal di pantai utara Jawa darii awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka ialah para intelektual yan g menjadi pembaharu masyarakat pada masanya.


A.    Maulana Malik Ibrahim (Wafat 1419)           

Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Ibrahim ialah anak darii seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yan g menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 darii Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yan g memberinya dua putra. Mereka ialah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya. Daerah yan g ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yan g masih berada dalaam wilayah ke kuasaan Majapahit. Aktivitas pertama yan g dilakukannya ketika itu ialah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untok mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untok mengobati istri raja yan g berasal darii Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Maulana Malik Ibrahim juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah - kasta yan g disisihkan dalaam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yan g ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapatt di kampung Gapura, Gresik, JawaTimur.

B.      Sunan Ampel

Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Di Jawa ia langsung pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri darii Campa, bernama Dwarawati, yan g dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Darii perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya ialah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yan g menunjuk muridnya Raden Patah, putra darii Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untok menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Di Ampel Denta yan g berawa-rawa, daerah yan g dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren.. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yan g sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya ialah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untok berdakwah keberbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yan g menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yan g mengenalkan istilah "Mo Limo" (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untok "tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina." Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demakdan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.


C.     Sunan Giri
           
Sunan Giri ialah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yan g berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangantahun 1442. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas,Gresik. Sunan Giri merupakan buah pernikahan darii Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam darii Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden 'Ainul Yaqin pergi ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalaam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri. Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yan g disebut Giri Kedaton, yan g menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.Terdapatt beberapa karya seni tradisional Jawa yan g sering dianggap berhubungkan dengan Sunan Giri, diantaranya ialah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.



D.     Sunan Bonang

Ia anak Sunan Ampel, yan g berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya ialah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M darii seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama darii pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untok berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yan g mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yan g kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untok berkelana ke daerah-daerah yan g sangat sulit. Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.
 

Tak seperti Sunan Giri yan g lugas dalaam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yan g disukai masyarakat. Dalaam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya ialah "Suluk Wijil" yan g tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yan g saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yan g menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yan g mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" ialah salah satu karya Sunan Bonang. Dalaam pentas pewayan gan, Sunan Bonang ialah dalang yan g piawai membius penontonnya. Kegemarannya ialah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan).

E.      SunanDrajat

Diperkirakan lahir pada tahun 1470 M. Dia ialah putra darii Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang. Sunan Drajat bernama kecil Raden Syarifuddin atau Raden Qosim putra Sunan Ampel yan g terkenal cerdas. Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau mengambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad XV dan XVI Masehi. Beliau memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36 tahun. Beliau sebagai Wali penyebar Islam yan g terkenal berjiwa sosial, sangat memperhatikan nasib kaum fakir miskin. Beliau terlebih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untok mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran. Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untok mengatur wilayahnya yan g mempunyai otonomi.

Sebagai penghargaan atas keberhasilannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yan g makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayan g Madu darii Raden Patah Sultan Demak pada tahun saka 1442 atau1520 Masehi. Ada 7 ajaran Sunan Drajat yan g terabadikan dalaam sap tangga ke tujuh darii tataran komplek Makam Sunan Drajat, yaitu :

a.       Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain).
b.      Jroning suko kudu eling Ian waspodo (di dalaam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada).
c.        Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalaam perjalanan untok mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan) .
d.       Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu
e.        Heneng - Hening -Henung (dalaam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalaam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita -cita luhur)
f.       Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)
g.      Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yan g miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yan g tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yan g menderita.


F.       Sunan Kalijaga

Dialah wali yan g namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya ialah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan darii tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam. Nama kecil Sunan Kalijaga ialah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman. Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih darii 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yan g lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati.
 

Dalaam dakwah, ia punya pola yan g sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untok berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapatt bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalaam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayan g, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layan g Kalimasada, lakon wayan g Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya ialah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga di makamkan di Kadilangu-selatan Demak

G.     Sunan Kudus

Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung ialah salah seorang putra Sultan di Mesir yan g berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah sepertiSragen,Simohingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali - yan g kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yan g mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh - menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus ialah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat darii arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yan g melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yan g dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untok pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untok itu, ia sengaja menambatkan sapinya yan g diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yan g mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yan g berarti "sapi betina". Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untok menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untok mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yan g tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam darii masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah SunanKudusmengikatmasyarakatnya.Bukan hanya berdakwah seperti itu yan g dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata,bertempurmelawanAdipatiJipang,AryaPenangsang.



H.    Sunan Muria

Ia putra Dewi Saroh --adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya ialah Raden Prawoto. Nama Muria diambil darii tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh darii pusat kota untok menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut ialah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalaam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yan g mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapatt diterima oleh semua pihak yan g berseteru. Sunan Muria berdakwah darii Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni ialah lagu Sinom dan Kinanti.

I.        Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya ialah Nyai Rara Santang, putri darii raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya ialah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim darii Palestina.

Syarif Hidayatullah mendalaami ilmu agama sejak berusia 14 tahun darii para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yan g juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.Dengan demikian, Sunan Gunung Jati ialah satu-satunya"wali songo"yan g memimpin pemerintahan.SunanGunungJati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untok menyebarkan Islam darii pesisir Cirebon ke pedalaaman Pasundan atau Priangan. Dalaam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yan g lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yan g menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yan g kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten. Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur darii jabatannya untok hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalaam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon darii arah barat.


2.2  Tasawuf  pada Masa Wali Songo

Maraknya pengajian tasawuf dewasa ini, dan kian bertambahnya minat masyarakat terhadap tasawuf memperlihatkan bahwa sejak awal tarikh Islam di Nusantara, tasawuf berhasil memikat hati masyarakat luas. Dalaam banyak buku sejarah diuraikan bahwa tasawuf telah mulai berperanan dalaam penyebaran Islam sejak abad ke-12 M. Peran tasawuf kian meningkat pada akhir abad ke-13 M dan sesudahnya, bersamaan munculnya kerajaan Islam pesisir seperti Pereulak, Samudra Pasai, Malaka, Demak, Ternate, Aceh Darussalam, Banten, Gowa, Palembang, Johor Riau dan lain-lain. Itu artinya Wali Songo yan g sangat berperan dalaam penyebaran Islam di Indonesia khususnya Tanah Jawa, mempunyai andil yan g besar dalaam mengajarkan tasawuf kepada masyarakat.
Pada abad ke-12 M, peranan ulama tasawuf sangat dominan di dunia Islam. Hal ini antara lain disebabkan pengaruh pemikiran Islam al-Ghazali (wafat 111 M), yan g berhasil mengintegrasikan tasawuf ke dalaam pemikiran keagamaan madzab Sunnah wal Jamaah menyusul penerimaan tasawuf di kalangan masyarakat menengah. Hal ini juga berlaku di Indonesia, sehingga corak tasawuf yan g berkembang di Indonesia lebih cenderung mengikuti tasawuf yan g diusung oleh al-Ghazali, walaupun tidak menutup kemungkinanberkembangtasawufdengancorakwarnayan glain. Abdul Hadi W. M. dalaam tesisnya menulis : “Kitab tasawuf yan g paling awal muncul di Nusantara ialah Bahar al-Lahut (lautan Ketuhanan) karangan `Abdullah Arif (w. 1214). 
Isi kitab ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran yan g wujudiyah Ibn `Arabi dan ajaran persatuan mistikal (fana) al-Hallaj”. Ini menunjukan bahwa bahwa disamping tasawuf sunni juga berkembang tasawuf falsafi di masyarakat. Sehingga sejarah mencatat di samping Wali Songo sebagai pengusung tasawuf sunni juga muncul Syekh Siti Jenar sebagai penyebar tasawuf falsafi dengan ajaran ‘manunggaling kawula gusti’. Dengan demikian secara garis besar aliran tasawuf yan g berkembang pada zaman Wali Songo dapatt dikelompokan menjadi dua,yaitu:

1. Tasawuf Sunni
Tasawuf sunni ialah bentuk tasawuf yan g memagari dirinya dengan Al-Qur'an dan Al Hadits secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqamat (tingkat rohaniah) mereka pada dua sumber tersebut. Tasawuf sunni ialah tasawuf yan g mengedepankan praktis, maka termasuk di dalaamnya tasawuf akhlaki dan amali. Dalaam tasawuf sunni terdapatt tiga langkah utama yan g yan g harus dilakukan untok mendekatkan diri kepada Allah SWT:

a. Senantiasa mengawasi jiwa (muraqabah) dan menyucikannya darii segala kotoran.
 Firman Allah SWT: "Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yan g mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yan g mengotorinya". [Asy-Syams : 7-10]



b. Memperbanyak zikrullah.




Firman Allah SWT: "Hai orang-orang yan g beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yan g sebanyak-banyaknya". [Al-Ahzab: 41]. Sabda Rasulullah SAW "Senantiasakanlah lidahmu dalaam keadaan basah mengingat Allah SWT".

c. Zuhud di dunia, tidak terikat dengan dunia dan gemarkan akhirat.

             
Firman Allah SWT: "Dan tiialah kehidupan dunia ini, selain darii main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yan g bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?". (Al-Anaam : 32)





2. Tasawuf Falsafi

Tasawuf Falsafi ialah sebuah konsep ajaran tasawuf yan g mengenal Tuhan (ma'rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ke tinggkat yan g lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma'rifatullah) melainkan yan g lebih tinggi darii itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yan g kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat. Di dalaam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni, kalau tasawuf sunni lebih menonjol kepada segi praktis, sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis sehingga dalaam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis, yan g ini sulit diaplikasikan ke dalaam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.

2.3  Implementasi Tasawuf pada Masa Wali Songo

Wali Songo sebagai figur agamis menjadi simbol kesalihan masyarakat pada saat itu. Sehingga apa yan g dilakukan oleh para wali menjadi contoh yan g baik bagi masyarakat. Dalaam kehidupan Wali Songo mengembangkan sikap hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan, peduli terhadap fakir miskin, bahkan menjadi pelopor dalaam memberantas kemiskinan dan kebodohan.Dalaam memilih tempat tinggal, Wali Songo lebih memilih tempat terpencil, mereka lebih suka hidup di gunung dan perkampungan dariipada di perkotaan. Hal ini sesuai dengan salahsatu ajaran tasawuf yan g disebut dengan‘uzlah(mengasingkan diri).
Pada masa Sunan Giri ajaran tasawuf diadopsi menjadi norma yan g harus dipegang oleh masyarakat, diantara isi darii norma tersebut ialah Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu) Heneng - Hening -Henung (dalaam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalaam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita -cita luhur). Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu).
Wali Songo juga mengajak masyarakat untok selalu berzikir mengingat Allah SWT dan menumbuhkan kesadaran kehambaan, yan g dikemas dalaam bentuk karya seni sesuai dengan budaya setempat, seperti tembang "Tombo Ati", tembang “Lir Ilir”, "Suluk Wijil" yan g dipengaruhi kitab Al Shidiq, perseteruan Pandawa-Kurawa yan g ditafsirkan sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan) dan lain-lain. Disamping implementasi tersebut di atas masih banyak bentuk implementasi lain yan g tidak diungkapkan disini karena keterbatasan referensi.




2.4  Kontroversi Tasawuf Syekh Siti Jenar

Salah satu bagian ajaran yan g disampaikan Syek Siti Jenar ialah ajaran "Sangkan Paraning Dumadi" artinya asal darii segala ciptaan. Menurut Syek Siti Jenar bahwa pangkal darii segala ciptaan ialah Dzat Wajibul Wujud yan g tak terdefiniskan yan g diberi istilah "awang uwung" (Ada tetapi Tidak Ada, Tidak Ada tetapi Ada) yan g keberadaannya hanya mungkin ditandai oleh kata "tan kena kinaya ngapa" yan g disebut dalaam Al Quran "Laisa Kamitslihi Syaiun" artinya " tidak bisa dimisalkan dengan sesuatu”. Inilah tahap Ahadiyah. Darii keberadaan Yan g Tak Terdefinisikan itulah Dzat Wajibul Wujud. Yan g Tak Terdefinisikan mewahyukan Diri sebagai Pribadi Ilahi yan g disebut Allah. Inilah tahap Wahdah dimana Yan g Tak Terdefinisikan mewahyukan diri menjadi Rabbul Arbab. Darii tahap wahdah ini kemudian mewahyukan Diri sebagai Nur Muhammad. Inilah tahap Wahidiyah dimana Yan g Tak Terdefinisikan mewahyukan diri sebagai Rabb. Nur Muhammad ini kemudian mewahyukan Diri menjadi semua ciptaan yan g disebut mahluk, baik yan g kasat mata maupun tidak kasat mata.
Dengan pandangan itu konsep keesaan (tauhid) Ilahi yan g diajarkan Syekh Siti Jenar tidak bisa disebut wahdatul wujud, karena di dalaam doktrinnya disebutkan bahwa "Dia Yan g Esa sekaligus Yan g Banyak (al wahid al katsir), Dia ialah Yan g Wujud secara bathin dan Yan g Maujud secara dhahir, sehingga disebut Yan g Wujud sekaligus Yan g Maujud(Ad-Dhahir Al Bathin)".Berbagai pandangan muncul dalaam memberi tanggapan terhadap tasawuf Syekh Siti Jenar dengan ajaran “manunggaling kawula gusti”-nya, diantaranya :
1.      Menganggap Syekh Siti Jenar Sesat, dengan alasan ajaran tasawufnya telah tercampuri ajaran filsafat, yan g mengatakan bahwa makhluk itu merupakan pancaran darii sang Khalik (Teori Emanasi), sehingga dia berani menyatakan diri sebagai tuhan karena dirinya mewarisi sifat-sifat tuhan.
2.      Menganggap Syekh Siti Jenar Tidak Sesat, dengan alasan ajaran Syekh Siti Jenar lebih memberikan tekanan pada filsafat ketuhanan dan filsafat kebenaran dengan kata lain bukan lagi berhenti pada tataran syariat, tetapi telah melangkah pada tataran yan g lebih tinggi yakni hakekat.
Sebagaimana diketahui tahapan tasawuf itu meliputi syariat, tarekat, hakekat dan makrifat. Hanya saja ketika ajaran ini disampaikan kepada orang awam maka akan menimbulkan penafsiran yan g berbeda tentang Tuhan. Karena itu Wali Songo sepakat untok melenyapkan Syekh Siti Jenar dalaam rangka melindungi pemahaman ketauhidan
mayoritas orang awam pada saat itu.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sejak awal tarikh Islam di Nusantara, tasawuf berhasil memikat hati masyarakat luas. Wali Songo sebagai penyebar Islam di Indonesia mempunyai andil yan g besar dalaam penyebaran tasawuf.Secara garis besar aliran tasawuf yan g berkembang pada zaman Wali Songo dapatt dikelompokan menjadi dua, yaitu :
1.      Tasawuf Sunni
Tasawuf sunni ialah bentuk tasawuf yan g memagari dirinya dengan Al-Qur'an dan Al Hadits secara ketat, serta mengaitkan ahwal (keadaan) dan maqamat (tingkat rohaniah) mereka pada dua sumber tersebut. Tasawuf sunni ialah tasawuf yan g mengedepankan praktis, maka termasuk di dalaamnya tasawuf akhlaki dan amali. 
2.      Tasawuf Falsafi
 Tasawuf Falsafi ialah sebuah konsep ajaran tasawuf yan g mengenal Tuhan (ma'rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ke tinggkat yan g lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma'rifatullah) melainkan yan g lebih tinggi darii itu yaitu wihdatul wujud ( kesatuan wujud ). Implementasi tasawuf pada masa Wali Songo ditandai dengan mengembangkan sikap, hidup sederhana, lebih menyukai hidup di tempat terpencil, mengadopsi nilai-nilai tasawuf dalaam norma-norma kehidupan dan senantiasa untok berdzikir dan bertafakur yan g diwujudkan dalaam suatu karya seni agar menarik masyarakat.Ajaran manunggaling kawula gusti yan g dibawa oleh Syekh Siti Jenar, telah menimbulkan kontroversi di masyarakat, satu pihak menyesatkan dengan alasan ajaran tasawufnya telah dicampuri oleh filsafat, pihak lain menganggap tidak sesat dengan alasan syekh siti jenar tidak hanya mengajarkan fase syariat saja tetapi telah melangkah kepada hakekat, sebagaimana diketahui bahwa fase tasawuf terdiri darii syariat,tarekat,hakekatdanmakrifat

3.2 Kritik dan Saran
               Jadikanlah makalah ini sebagai media untok memahami ajaran taswuf pada masa wali songo demi terwujudnya dan terciptanya tatanan umat yan g adil dan makmur. Kami sadar, dalaam penulisan makalah ini masih terdapatt banyak kekurrangan. Maka darii itu, penulis sangat mengharapkankritik dan sarannya demi kesempurnaanpenulisan makalah selanjutnya.



Sekian darii kami mengenai Tasawuf pada Masa Wali Songo semoga bisa bermanfaat untok anda para kaula muda mudi yan g haus akan pengetahuan


Visitor