MAKALAH TAFSIR, TAKWIL, DAN TAERJEMAH TAFSIRIYAH



Makalah Apa Pengertian Tafsir ?, Pengertian Takwil ? ,Pengertian Terjemah Tafsiriyah ? ,Jelaskan Perbedaan Tafsir, Takwil dan Terjemah Tafsiriyah ? ,Sebutkan Syarat dan Adab Tafsir, Takwil dan Tafsiriyah ? ,Sebutkan Macam macam Metode Penafsiran ? ,Sebutkan Macam Tafsir ? ,Sebutkan Contoh Kitab Tafsir dan Metodologi Penulisannya ? ,Jelaskan Tafsir Pada Zaman Nabi, Sahabat, Tabiin ? ,Jelaskan Fungsi Tafsir ?


A.     PENGERTIAN TAFSIR, TAKWIL, DAN TERJEMAH
1.      Tafsir

Secara etimologi tafsir bisa berarti: الايضاح والبيان (penjelasan), الكشف (pengungkapan) dan كشف المراد عن اللفظ المشكل (menjabarkan kata yang samar ).  Adapun secara terminologi tafsir adalah penjelasan terhadap Kalamullah atau menjelaskan lafadz-lafadz al-Qur’an dan pemahamannya.
Kata tafsir diambil dari kata fassara-yufassiru-tafsiran yang berarti keteranganatau uraian. Al-jurjani berpendapat bahwa kata tafsir menurut bahasa adalah al-kasyf wa al-izhhar yang artinya menyingkap (membuka) dan melahirkan.
2.      Takwil
Arti takwil menurut bahasa berarti menerangkan, menjelaskan. Kata takwil diambil dari kata awwala-yu’awwilu-takwilan. Al-qaththan dan al-jurjani berpendapat bahwa arti takwil menurut bahasa  adalah aru-ruju’ ila al-ashl (kembali pada pokoknya). Adapun  menurut bahasanya menurut az- zarqoni adalah sama dengan arti tafsir.
Adapun pengertian takwil menurut istilah adalah suatu usaha untuk memeahami lafadz- lafadz (ayat-ayat) al-quran melalui pendekatan pemahaman arti yang di kandung oleh lafadz itu. Dengan kata lain takwil berarti mengartikan lafadz dengan beberpa alternative kandungan makna yang bukan merupakan makna lahirnya.
3.       Terjemah
Arti terjemah menurut bahasa adalah salinan dari  sutu bahasa ke bahasa lain.
Adapun yang dimaksud dengan terjemah al-quran menurut ash-shabuni “memindahkan al-quran kebahasa lain yang bukan bahasa arab dan mencetak terjemah ini kedalam beberapa naskah untuk dibaca orang yang tidak mengerti bahasa arab sehingga ia dapat memahami kitab Allah SWT.  Dengan perantara terjemah ini. Pada dasarnya ada 3 corak penerjemahan, yaitu:
a.       Terjemah maknawiyah tafsiriyyah .
b.      Terjemah harfiyah bi al- mitsli .
c.        Terjemah harfiyyah bi dzuni al- mistli.

B.     PERBEDAAN TAFSIR, TAKWIL, DAN TERJEMAH.
TAFSIR
TAKWIL
1.Ar-raghif al-ashfahani: lebih umum dan lebih banyak digunakan untuk lafadz dan kosa kata dalam kitab-kitab yang di turunkan allah dan kitab-kitab lainnya
1.Ar-raghif al-ashfahani: lebih banyak dipergunakan makna dan kalimat dalam kitab-kitab yang di turunkan Allah saja
2.Menerangkan makna lafadz yang tak menerima selain dari satu arti
2.Menetapkan makna yang di kehendaki suatiu lafadz yang dapat menerima banyak makna karena di dukung oleh dalil
3.Al- maturidi: menetapkan apa yang di kehendaki ayat dan menetapkan seperti yang dikehendaki allak
3.Menyeleksi  salah satu makna yang mungkin diterima oleh suatu ayat tanpa meyakinkan bahwa itulah yang di kehendaki Allah
4.Abu thalib ats-tsa’labi: menerangkan makna lafadz, baik berupa hakikat atau majaz
4.Abu thalib ats-tsa’labi: menafsirkan batin lafadz

C.    SYARAT-SYARAT  DAN  ADAB  BAGI  MUFASIR
1.      Syarat-syarat bagi mufasir
Para ulama menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki setiaf mufasir adalah sebagai berikut:
a.       Akidah yang benar,
b.      Bersih dari hawa nafsu,
c.       Mencari penafsiran dari sunah, karena sunah berfungsi sebagai pensyarah qur’an dan penjelasannya.
Adab mufasir
a.       Berniat baik dan bertujuan benar, sebab amal perbuatan itu tergantung niat.
b.      Berakhlak baik.
c.        Taat dan baramal shaleh.
d.      Berlaku jujur dan teliti dalam penukilan, sehinggga mufasir tidak berbicara atau menulis kecuali setelah menyelidiki apa yang di riwayatkannnya.

D.    PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TAFSIR
Ilmu tafsir merupakan ilmu yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya, karena pembahasannya berkaitan dengan Kalamullah yang merupakan petunjuk dan pembeda dari yang haq dan bathil. Adapun perkembangan ilmu tafsir dibagi menjadi empat periode yaitu :
a.      Tafsir Pada Zaman Nabi.
Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab sehingga mayoritas orang Arab mengerti makna dari ayat-ayat al-Qur’an. Sehingga banyak diantara mereka yang masuk Islam setelah mendengar bacaan al-Qur’an dan mengetahui kebenarannya. Akan tetapi tidak semua sahabat mengetahui makna yang terkandung dalam al-Qur’an, antara satu dengan yang lainnya sangat variatif dalam memahami isi dan kandungan al-Qur’an. Sebagai orang yang paling mengetahui makna al-Qur’an .
. Contohnya hadits yang diriwayatkan Muslim dari Uqbah bin ‘Amir berkata : “Saya mendengar Rasulullah berkhutbah diatas mimbar membaca firman Allah :
وأعدوا لهم ما استطعتم من قوة
kemudian Rasulullah bersabda :
ألا إن القوة الرمي
Ketahuilah bahwa kekuatan itu pada memanah”.
Juga hadits Anas yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim Rasulullah bersabda tentang Al-Kautsar adalah sungai yang Allah janjikan kepadaku (nanti) di surga.
b.      Tafsir Pada Zaman Shohabat
Adapun metode sahabat dalam menafsirkan al-Qur’an adalah; Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, menafsirkan Al-Qur’an dengan sunnah Rasulullah, atau dengan kemampuan bahasa, adat apa yang mereka dengar dari Ahli kitab (Yahudi dan Nasroni) yang masuk Islam dan telah bagus keislamannya.Penafsiran shahabat yang didapatkan dari Rasulullah kedudukannya sama dengan hadist marfu’ Atau paling kurang adalah Mauquf.
c.       Tafsir Pada Zaman Tabi’in
Metode penafsiran yang digunakan pada masa ini tidak jauh berbeda dengan masa sahabat, karena para tabi’in mengambil tafsir dari mereka. Dalam periode ini muncul beberapa madrasah untuk kajian ilmu tafsir diantaranya:
-  Madrasah Makkah atau Madrasah Ibnu Abbas yang melahirkan mufassir terkenal seperti  Mujahid bin Jubair, Said bin Jubair dan lain-lain.
- Madrasah Madinah atau Madrasah Ubay bin Ka’ab, yang menghasilkan pakar tafsir seperti Zaid bin Aslam, Abul ‘Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab Al-Qurodli.
d.      Tafsir Pada Masa Pembukuan
Pembukuan tafsir dilakukan dalam lima periode yaitu :
Periode Pertama, pada zaman Bani Muawiyyah dan permulaan zaman Abbasiyah yang masih memasukkan ke dalam sub bagian dari hadits yang telah dibukukan sebelumnya. Periode Kedua, Pemisahan tafsir dari hadits dan dibukukan secara terpisah menjadi satu buku tersendiri. Periode Ketiga, membukukan tafsir dengan meringkas sanadnya dan menukil pendapat para ulama’ tanpa menyebutkan orangnya. Hal ini menyulitkan dalam membedakan antara sanad yang shahih dan yang dhaif yang menyebabkan para mufassir berikutnya mengambil tafsir ini tanpa melihat kebenaran atau kesalahan dari tafsir tersebut.
E.     Metode Penafsiran
Metode penafsiran yang banyak dilakukan oleh para mufassir adalah :
1.      Tafsir Bil Ma’tsur atau Bir-Riwayah
Metode penafsirannya terfokus pada shohihul manqul (riwayat yang shohih) dengan menggunakan penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, penafsiran al-Qur’an dengan sunnah, penafsiran al-Qur’an dengan perkataan para sahabat dan penafsiran al-Qur’an dengan perkataan para tabi’in. Dan penafsiran seperi inilah yang sangat ideal yang patut dikembangkan. Beberapa contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah :
a.       Tafsir At-Tobary ((جامع البيان في تأويل أى القران terbit 12 jilid
b.      Tafsir Ibnu Katsir (تفسير القران العظيم ) dengan 4 jilid
c.       Tafsir Al-Baghowy (معالم التنزيل )
d.      Tafsir Imam As-Suyuty (الدر المنثور في التفسير بالمأثور ) terbit 6 jilid.
2.      Tafsir Bir-Ra’yi (Diroyah)
Metode ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
a.      Ar-Ro’yu al Mahmudah (penafsiran dengan akal yang diperbolehkan) dengan beberapa syarat diantaranya:
1)      Ijtihad yang dilakukan tidak keluar dari nilai-nilai al-Qur’an dan as-sunnah
2)      Tidak berseberangan penafsirannya dengan penafsiran bil ma’tsur .
Beberapa contoh kitab tafsir yang menggunakan metodologi ini diantaranya :
1)      Tafsir Al-Qurtuby (الجامع لأحكام القران )
2)      Tafsir Al-Jalalain (تفسير الجلالين)
3)      Tafsir Al-Baidhowy (أنوارالتنزيل و أسرار التأويل)
b.      Ar-Ro’yu Al- mazmumah (penafsiran dengan akal yang dicela / dilarang), karena bertumpu pada penafsiran makna dengan pemahamannya sendiri. Dan istinbath (pegambilan hukum) hanya menggunakan akal/logika semata yang tidak sesuai dengan nilai-nilali syariat Islam. Diantara contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah:
1.      Tafsir Zamakhsyary (الكشاف عن حقائق التنزيل و عيون الأقاويل في وجوه التأويل )
2.      Tafsir syiah “Dua belas” seperti (مرأة الأنوار و مشكاة الأسرار للمولي عبد اللطيف الكازاراني ) jugaمع البيان لعلوم القران لأبي الفضل الطبراسي
3.      Tafsir As-Sufiyah dan Al-Bathiniyyah seperti tafsir حقائف التفسير للسلمي و عرائس البيان في حقائق القران لأبي محمد الشيرازي
F.     CONTOH KITAB TAFSIR DAN METODOLOGI PENULISANNYA
1.      Nama Kitab : جامع البيان في تفسير أي القران atau yang lebih dikenal dengan  tafsir al-Tabary.
Pengarangnya : Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thobary (224 – 310 H)
Jumlah jilid : 12 jilid besar.
Keistimewaannya : Tafsir ini merupakan referensi bagi para mufassirin terutama penafsiran binnaqli/biiriwayah. Tafsir bil aqli karena istinbath hukum, penjabaran berbagai pendapat dengan dan mengupasnya secara detail disertai analisa yang tajam. Ia merupakan tafsir tertua dan terbagus.
-          Meteologi penulisan tafsir
Penulis menafsirkan ayat al-Qur’an dengan jelas dan ringkas dengan menukil pendapat para sahabat dan tabi’in disertai sanadnya. Jikalau dalam ayat tersebut ada dua pendapat atau lebih, di sebutkan satu persatu dengan dalil dan riwayat dari sahabat maupun tabi’in yang mendukung dari tiap-tiap pendapat kemudian mentarjih (memilih) diantara pendapat tersebut yang lebih kuat dari segi dalilnya. Beliau juga mengii’rob (menyebut harakat akhir), mengistimbat hukum jikalau ayat tersebut berkaitan dengan masalah hukum.
2.      Tafsir Ibnu Katsir
     Nama kitab : تفسير القران العظيم lebih dikenal dengan Tafsir Ibnu Katsir.
     Jumlah jilid : 4 Jilid
     Nama penulis : Imaduddin Abul Fida’ Ismail bin Amr bin Katsir (w 774 H)
     Keutamaanya : Merupakan tafsir terpopuler setelah tafsir At-Thobary dengan
metode bil ma’tsur.
-          Metodologi penulisannya:
Penulis sangat teliti dalam mentafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan menukil perkataan para salafus sholeh. Ia menafsirkan ayat dengan ibarat yang jelas dan mudah dipahami. Menerangkan ayat dengan ayat yang lainnya dan membandingkannya agar lebih jelas maknanya. Beliau juga menyebutkan hadits-hadits yang berhubungan dengan ayat tersebut dilanjutkan dengan penafsiran para sahabat dan para tabi’in. Beliau juga sering mentarjih diantara beberapa pendapat yang berbeda, juga mengomentari riwayat yang shoheh atau yang dhoif(lemah).  
3.      Tafsir Al-Qurtuby
     Nama kitab : الجامع لأحكام القران
     Jumlah jilid : 11 jilid dengan daftar isinya.
 Nama penulisnya : Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurtuby (w 671 H).   
     Keutamaanya : Ibnu Farhun berkata,” tafsir yang paling bagus dan paling banyak   manfaatnya, membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, serta menerangkan I’rob, qiroat, nasikh dan mansukh”.
- Metode penulisannya: Penulis terkenal dengan gaya penulisan ulama’ fiqih., dengan menukil tafsir dan hukum dari para ulama’ salaf dengan menyebutkan pendapatnya masing-masing. Dan membahas suatu permasalahan fiqhiyah dengan mendetil. Membuang kisah dan sejarah, diganti dengan hukum dan istimbat dalil, juga I’rob, qiroat, nasikh dan mansukh.
4.      Tafsir Syinqithy
    Nama kitab : أضواء البيان في إيضاح القران بالقران
     Jumlah jilid : 9 jilid.
   Nama penulisnya : Muhammad Amin al-Mukhtar As-Syinqithy
Metodologi penulisannya: Menekankan penafsiran bil-ma’tsur dengan dilengkafi qira’ah as-sab’ah dan qiro’ah syadz (lemah) untuk istisyhad (pelengkap). Menerangkan masalah fiqih dengan terperinci, dengan menyebut pendapat disertai dalil-dalilnya dan mentarjih berdasarkan dalil yang kuat.

Visitor