Makalah Mutlaq dan Muqayyad (Perbedaan & Contoh)



Makalah Pengertian Mutlaq menurut ushul fiqih adalah suatu lafadz yang menunjukan pada makna/ pengertian tertentu tanpa dibatasi oleh lafadz lainnya. Makalah Pengertian Muthlaq dan Muqayyad? Pengertian Mutlaq? Arti Mutlaq? Contoh Lafadz Mutlaq? Macam Muthlaq? Pertanyaan Tentang Mutlaq? Perbedaan Mutlaq dan Muqayyad? Pengertian Muqayyad? Arti Muqayyad? Contoh Lafadz Muqayyad? Macam Muqayyad ? Pertanyaan Tentang Muqayyad ?

 


Mutlaq dan Muqayyad


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Empat belas abad yang lalu Nabi Muhammad SAW di utus di muka bumi ini sebagai Rasul umat manusia seluruhnya. Dan pada beliau juga Al-Qur’an diturunkan di muka bumi ini sebagai rahmatan lil ‘alamin. Lantas, kita sebagai orang yang mengimani Al-Qur’an tentu harus mengamalkan apa yang diperintahkan dalam Al-Qur’an dan menjauhi apa yang dilarangnya. Namun seiring berjalannya waktu, para ulama yang sebagai pewaris nabi pun banyak berbeda pendapat tentang pemahaman isi Al-Qur’an dan Hadis Nabi. Salah satu yang diperdebatkan di kalangan ulama itu adalah tentang masalah Mutlaq dan Muqayyad.

B.     Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini  adalah sebagai berikut :
·         Untuk mempelajari materi tentag Mutlaq dan Muqayyad
·         Memahami perbedaan antara Mutlaq dan Muqayyad
·         Mengetahui contoh-contoh Mutlaq dan Muqayyad
·         Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Ushul Fiqh

C.     Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis merunuskan beberapa rumusan masalah, diantaranya adalah sebagai berikut :
·         Apa pengertian dari Mutlaq dan Muqayyad?
·         Apa perbedaan antara Mutlaq dan Muqayyad?
·         Bagaimana pendapat para ulama tentang Mutlaq dan Muqayyad?
·         Apa saja contoh-contoh lafadz Mutlaq dan Muqayyad?
·         Bagaimana penerapannya dalam ilmu ushul fiqh?

D.    Metode Penulisan

Metode penulisan dalam penulisan makalah ini adalah dengan mangambil materi dari berbagai referensi dan memasukannya ke dalam beberapa pembahasan yang termuat didalam penulisan makalah ini.



BAB II

PEMBAHASAN



1.      Pengertian Mutlaq dan Muqayyad


Mutlaq menurut bahasa adalah lepas tidak terikat,sedangkan menurut ushul fiqih adalah suatu lafadz yang menunjukan pada makna/pengertian tertentu tanpa dibatasi oleh lafadz lainnya. Misalnya: kata “meja”, “rumah”, “jalan”, kata-kata ini memiliki makna mutlak karena secara makna kata-kata tersebut telah menunjuk pada pengertian makna tertentu yang telah kita pahami, dan tidak dibatasi oleh kata-kata lain.

Para ulama ushul fiqh memberikan definisi mutlaq dengan berbagai definisi. Namun, semuanya bertemu pada suatu pengertian bahwa yang dimaksud dengan mutlaq ialah suatu lafadz yang menunjukkan hakikat sesuatu tanpa pembatasan yang dapat mempersempit keluasan artinya.
Contoh dalam al qur’an yang berhubungan kifarat zhihar :

"Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.”(QS.Al-Mujaadilah : 3)
Kata raqabah (hamba sahaya) dalam ayat di atas mencakup budak secara keseluruhan (mutlak). Cakupan kata ini tidak terbatas pada satu budak tertentu. Kata ini tidak pula mensyaratkan agama budak tersebut. Jadi, bisa budak mukmin atau budak kafir.
Muqayyad menurut bahasa adalah tidak terlepas yakni terikat,sedangkan menurut ushul fiqih adalah lafadz yang menunjukan pada makna tertentu dengan batasan kata tertentu. Misalnya: ungkapan meja menjadi “meja hijau”, rumah menjadi “rumah sakit”,jalan menjadi “jalan raya”. Kata-kata rumah, jalan dan meja ini sudah menjadi muqayyad karena menunjukan pada pengertian/makna tertentu dan dikaitkan atau diikatkan dengan kata lainnya.
Para ulama juga memberikan dfinisi Muqayyad dengan berbagai  definisi. Namun, semuanya bertemu pada suatu pengertian, yaitu suatu lafadz yang menunjukkan hakikat sesuatu yang dibatasi dengan suatu pembatasan yang mempersempit keluasan artinya.
Contoh dalam al qur’an misalnya kata raqabah yang telah dibatasi dengan kata mu’minah sehingga menjadi “raqabah mu’minah” mengenai kifarat pembunuhan yang berbunyi :




Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.”(QS.An-Nisa’ : 92)

Kata budak mukmin (raqabah mu’minah) dalam ayat di atas tidak sembarangan hamba sahaya, tetapi hanya hamba sahaya yang beriman.

2.      Bentuk – Bentuk Mutlaq dan Muqayyad

Kaidah lafazh mutlaq dan Muqayyad dapat dibagi dalam lima bentuk :

·         Suatu lafazh dipakai dengan mutlaq pada suatu nash, sedangkan pada nash lain digunakan dengan muqayyad; keadaan ithlaq dan taqyinya bergantung pada sebab hukum.
·         Lafazh mutlaq dan muqayyad berlaku sama pada hukum dan sebabnya.
·         Lafazh mutlaq dan muqayyad yang berlaku pada nash itu berbeda baik dalam hukumya ataupun sebab hukumnya.
·         Mutlaq dan muqayyad berbeda dalam hukumnya, sedangkan sebab hukumnya sama.
·         Mutlaq dan muqayyad sama dalam hukumnya tetapi berbeda sebabnya.

3.      Kaidah Lafadz Mutlaq dan Muqayyad

  • Kaidah Mutlaq 

    Hukum mutlak ditetapkan berdasarkan kemutlakannya sebelum ada dalil yang membatasinya.Ketika ada suatu lafadz mutlaq, maka makna tersebut ditetapkan berdasarkan kemutlakannya. Misalnya dalam surat an-Nisa:23 yang menjelaskan tentang perempuan-perempuan yang haram dinikahi laki-laki. Diantara perempuan itu adalah “ibu-ibu istrimu (mertua)”.Ayat ini sifatnya mutlak.Keharaman menikahi ibu mertua tidak memedulikan apakah istrinya sudah digauli atau belum.  

  • Kaidah Muqayyad

    Lafadz muqoyyad tetap dihukumi muqoyyad sebelum ada bukti yang memutlakannya.Muqoyyad berfungsi membatasi lafal-lafal yang mutlaq. Lafal muqoyyad dianggap tetap muqoyyad selama tidak ada bukti yang menjadikannya bersifat mutlaq.Misalnya,Kifarat zihar. Orang yang telah melakukan zihar diharuskan membayar kafarat berupa memerdekakan budak atau puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan sebanyak 60 orang miskin jika dua yang pertama tidak mampu.karena kemutlakannya telah dibatasi, maka yang harus diamalkan adalah muqoyyad-nya.
     
    

Ø   Hukum mutlaq yang sudah dibatasi : Lafadz mutlaq tidak boleh dinyatakan mutlaq jika telah ada yang membatasinya. Jika suatu lafadz mutlaq telah ditentukan batasannya, maka ia menjadi muqoyyad.
Contohnya, ketentuan wasiat dalam Q.S an-Nisa:11 yang lafalnya masih bersifat mutlaq, tidak ada batasan berapa jumlah yang harus dikeluarkan. Kemudian ayat tersebut dibatasi ketentuannya oleh hadis yang menyatakan bahwa wasiat paling banyak sepertiga harta yang ada, sebagaimana hadis Nabi : “Wasiat itu sepertiga dan sepertiga itu sudah banyak.“ (H.R.Bukhari dan Muslim)

Ø  Hukum Muqoyyad yang dihapuskan batasannya : Lafal Muqoyyad jika dihadapkan pada dalil lain yang menghapus sifat muqoyyad-nya, maka ia menjadi menjadi mutlaq, artinya, Muqoyyad tidak akan tetap dikatakan muqoyyad jika ada dalil lain yang menunjukan kemutlakannya
Contohnya, Keharaman menikahi anak tiri mempunyai dua sebab, yaitu:
1)      Anak tiri dalam pemeliharaan bapak tiri
2)      ibu dari anak tiri yang dikawininya telah digauli.

 Sebab kedua (telah menggauli ibu dari anak tiri) dipandang sebagai hal yang membatasi, sedangkan alasan pertama hanya mengikuti saja.
Jadi, bila ayah tiri belum menggauli ibu kandung dari anak tiri, maka anak tiri boleh dinikahi, tentu saja dengan menceraikan terlebih dahulu ibu dari anak tiri tersebut. Jadi, hukum mengawini anak tiri yang semula haram (muqoyyad) menjadi halal (karena batasan muqoyyad telah dihapus). 

4.      Hukum Lafadz Mutlaq dan Muqayyad


Jika pada suatu tempat disebutkan dengan lafadz mutlaq, dan ditempat lain dengan lafadz muqoyyad, maka ada empat kemungkinan:

a)      Jika Sebab dan hukum sama, maka Mutlaq harus ditarik ke Muqayyad.Artinya muqoyyad menjadi penjelas terhadap Mutlaq. Kaidahnya adalah:
“Mutlaq dibawa ke muqoyyad jika sebab dan hukumnya sama.”


Contoh Mutlaq :

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi.”(QS.Al-Maidah:3)



Contoh Muqoyyad:

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi.”(QS.Al-An’am : 145)


Karena kedua ayat tersebut memiliki sebab yang sama yaitu hendak makan dan berisi hukum yang sama yaitu haramnya darah, maka hukum mutlaq disandarkan kepada hukum muqoyyad, yaitu hanya darah mengalir yang diharamkan. Sedangkan hati ataupun limpa yang merupakan darah yang tidak mengalir hukumnya halal dimakan.

b)      Jika Sebab dan hukum berbeda, maka masing-masing Mutlaq dan Muqayyad tetap pada tempatnya sendiri.Artinya muqoyyad tidak menjadi penjelas Mutlaq. Kaidahnya adalah :
“Mutlaq tidak dibawa ke muqoyyad jika sebab dan hukumnya berbeda.”




Contoh Mutlaq


Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS.Al-Maidah : 38)

Contoh Muqoyyad:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.”(QS.Al-Maidah : 6)

Dalam pada itu, ada hadis Nabi yang menjelaskan bahwa pemotongan tangan pencuri sampai pergelangan.
Contoh mutlaq surat Al-Maidah:38 menjelaskan tentang potong tangan bagi pencuri sedangkan contoh muqoyyad surat Al-Maidah:6 menjelaskan tentang membasuh tangan sampai siku dalam wudlu. Kedua ayat ini berlainan sebab, yaitu hendak salat dan pencurian, dan berlainan pula dalam hukum, yaitu wudhu dan pemotongan tangan. Karena lafal mutlaq dan muqoyyad pada ayat di atas sebab dan hukumnya berbeda, maka mutlaq tidak dapat disandarkan kepada muqoyyad. Keduanya ditempatkan pada posisinya masing-masing.

c)      Jika Sebab sama sedangkan hukum berbeda, maka masing-masing Mutlaq dan Muqayyad tetap pada tempatnya sendiri. Kaidahnya adalah :
“Mutlaq itu tidak dibawa ke muqoyyad jika yang berbeda hanya hukumnya.”




Contoh mutlaq :


Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.”(QS.An-Nisa’ – 43)



Contoh Muqayyad :


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,”(QS.Al-Maidah : 6)


Muqoyyad QS.Al-Maidah:6 tidak bisa menjadi penjelas bagi mutlaq surat QS.An-Nisa:43, karena keduanya berbeda hukum, yang dibicarakan,yaitu tayamum pada QS.An-Nisa:43 dan wudhu pada surat QS.Al-Maidah:6  walaupun sebabnya sama, yaitu hendak salat atau karena hadas (tidak suci). Tangan bisa diartikan dari ujung jari sampai pergelangan, atau sampai siku-siku, atau sampai bahu. 

d)     Jika hukum sama sedangkan sebab berbeda, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat :

·         Menurut golongan syafi’i, mutlaq dibawa kepada muqoyyad
·         Menurut golongan Hanafiyah dan Makiyah, mutlaq tetap pada tempatnya sendiri, tidak dibawa kepada muqoyyad.


Contoh Mutlaq :


Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.”(QS.Al-Mujadilah : 3)



Contoh Muqayyad :


Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.”(QS.An-Nisa’ : 92)

Kedua ayat tersebut berisi hukum yang sama, yaitu pembebasan budak sedangkan sebabnya berlainan, surat Al-Mujadalah:3 karena zihar sedangkan surat an-Nisa:92 karena pembunuhan tidak sengaja.

Menurut golongan Syafi’i, hamba sahaya dalam kifarat zihar haruslah hamba sahaya yang beriman, tidak bisa hanya hamba sahaya saja, karena dalil yang menunjukkan penggabungan ini adalah bahwa hukum kedua kifarat itu sama yakni sama-sama memerdekakan budak walaupun sebabnya berbeda, maka hamba sahaya yang dalam pengertian mutalq dibawa kepada hamba sahaya dalam pengertian muqayyad, yakni hamba sahaya mukmin.

Menurut golongan Hanafiyah dan Malikiyah, pengertian hamba sahaya dalam kifarat zihar tetap saja diartikan hamba sahaya tidak berubah menjadi hamba sahaya yang beriman.Dalam artian tidak ada penggabungan antara pengertian mutlaq dan pengertian muqayyad. Keduanya memiliki arti masing-masing. Hal ini didasarkan karena adanya perbedaan sebab antara mutlaq dan muqayyad, walaupun hukum keduanya sama. 


5.      Hal – Hal yang Diperselisihkan Dalam Mutlaq dan Muqayyad


a)      Kemutalaqan dan kemudayyan terhadap pada sebab hukum, namun masalah (Maudhu’) dan hukumnya sama, menurut jumhur ulama dari kalangan syafi’iyah, malikiyah dan hanafiyah, dalam masalah ini wajib membawa mutlaq kepada muqayyad.
Oleh sebab itu, mereka tidak mewajibkan zakat fitnah kepada hamba sahaya, sedangkan ulama harfiyah tidak membawa lafazh mutlaq pada muqayyad, oleh sebab itu ulama hanafiyah mewajibkan zakat fitrah atas hamba sahaya secara mutlaq.



b)      Mutlaq dan Muqayyad terdapat pada nash yang sama hukumnya namun sebabnya berbeda, masalah ini juga diperselisihkan, menurut Hanafiyah tidak boleh  membawa mutlaq pada muqayyad melainkan masing-masingnya berlaku sesuai dengan sifatnya.
Oleh sebab itu, uylama Hanafiyah pada kifarat dzihar tidak mensyaratkan hamba sahaya mukmin. Sebaliknya, menurut jumhur ulama, harus membawa Mutlaq keppada Muqayyad secara Mutlaq. Namun, menurut ulama Syafi’iyah, Mutlaq dibawa pada Muqayyad apabila ada ‘illat hokum yang sama, yakni dengan jalan Qiyas. (Al-Amidi, 1968 : II : 112).

6.      Alasan Masing-masing Golongan


a)      Alasan Hanafiyah

Merupakan suatu prinsip bahwa kita melaksanakan dalalah lafaza atas semuahukum yang dibawa saja, sesuai dengan sifatnya, sehingga lafazh mut;aq tetap pada kemutlakannya dan lafazh muqayyad tetap pada kemuqayyaddannya. Tiap-tiap nash merupakan hujjah yang berdiri sendiri. Pembatasan terhadap keluasan makna yang terkandung pada mutlaq tanpa dalil dari lafazh itu sendiri berarti mempersempit yang bukan dari perintah syara’.
Berdasarkan pada ini lafazh mutlaq tidak bisa dibawa pada muqayyad, kecuali apabila terjadi saling menafikkan antara dua hokum, yakni sekiranya mengamalkan salah satunya membawa pada tanaqud (saling bertentangan). (Al-Bazdawy, 1307,II:290)

b)      Alasan Jumhur Ulama’


Al-Qur’an itu merupakan kesatuan hokum yang utuhdan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya berkaitan, sehingga apabila ada suatu kata dalam al-qur’an yang menjelaskan hokum berarti hukukm itu sama pada setiap tempat yang terdapat kata itu.(Asy-Syafi’i).
Alasan kedua, muqayyad itu harus menjadi dasar untuk menafikkan dan menjelaskan maksud lafazh mutlaq, sebab mutlaq itu kedudukanyya bisa dikatakan sebagai orang diam, yang tidak menyebut qayyid. Disini ia tidak menunjaukkan adanya qayiid dan tidak pula menolaknya, sedangkan muqoyyid sebagai orang yang berbicara , yang menjelaska adanya taqyid. Disini tampak jelas adanya kewajiban memakai qayyid ketika adanya dan menolaknya apabila tidak adanya. Sehingga kedudukannya sebagai penafsir. Oleh sebabitu , ia lebih baik dijadikan sebagai dasar untuk menjelaskanmaksud mutlaq. (Al-Amidi, 1968, II :112).


BAB III

PENUTUP

1.      Kesimpulan

Mutlaq adalah suatu lafadz yang menunjukan pada makna/pengertian tertentu tanpa dibatasi oleh lafadz lainnya. Contoh: lafadz ” hamba sahaya/ raqabah ”. Muqayyad adalah lafadz yang menunjukan pada makna tertentu dengan batasan kata tertentu. Contoh: ” hamba sahaya yang mukmin/ raqabah mu’minah” yang berarti budak mukmin bukan budak lainnya.

Kaidah Mutlaq adalah Lafadz mutlaq tetap dalam kemutlakannya hingga ada dalil yang membatasinya dari kemutlakan itu, sedangkan Kaidah Muqayyad adalah Wajib mengerjakan yang Muqayyad kecuali jika ada dalil yang membatalkannya.

Hukum lafal mutlaq dan muqayyad jika bertemu ada 4 bagian yaitu:
a)      Sebab dan hukum sama, maka Mutlaq ditarik ke Muqayyad.
b)      Sebab dan hukum berbeda, maka Mutlaq tidak ditarik ke Muqayyad.
c)      Sebab sama, tapi hukum berbeda, maka Muqayyad dan Mutlaq berdiri sendiri
d)     Sebab berbeda, tapi hukum sama, maka menurut golongan Syafi’i Mutlaq ditarik ke Muqayyad., sedangkan menurut golongan Hanafiyah Muqayyad dan Mutlaq berdiri sendiri.

2.      Kritik dan Saran

Jadikanlah makalah ini sebagai media untuk memahami diantara sumber-sumber Islam (Mutlaq dasn Muqayyad) demi terwujudnya dan terciptanya tatanan umat (masyarakat) adil dan makmur. Dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Maka dari itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan dan konstruktif demi kesempurnaan penulisan makalah.



DAFTAR PUSTAKA


·         FirdausUshul Fiqh (metode mengkaji dan memahami hukum islam secara komprehensif), Jakarta: Zikrul Hakim, 2004.

·         Yahya, Mukhtar dan FatchurrahmanDasar-Dasar Pembinaan Hukum Islami.Bandung :Al-Ma’rif, 1993.

·         Prof. Dr. Rahmat Syafi’I, MA, Ilmu Ushul Fiqh.         Bandung:Al-Ma’arif, 2008

Visitor