Makalah , Pengertian, Macam-macam, Sejarah Qira'at dan Perbedaan Para Qari.

Qiraat

A.    Pengertian

Qirat adalah bentuk jamak dari kata qira’at yang secara bahasa berarti bacaan . Secara istilah , al- Zarqani mengemukakan definisi qira’at sebagai berikut .
“suatu mazhab yang dianut oleh seorang imam qira’at yang berbeda dengan lainnya dalam pengucapan Al-qur’an Al-Karim serta sepakat riwayat- riwayat dan jalur-jalur dari padanya. Baik perbedaan ini dalam pengucapan huruf-huruf maupun dalam pengucapan keadaan-keadaannya “.

Definisi mengandung tiga unsur pokok :

1.      Qiraat dimaksudkan  menyangkut bacaan ayat-ayat Al-qur’an.
2.      Kedua cara baca yang dianut dalam suatu mazhab qira’at di dasarkan atas riwayat dan bukan atas qias atau ijtihad .
3.      Ketiga perbedaan antara qira’at-qira’at bisa terjadi dalam pengucapan huruf-huruf dan pengucapannnya dalam berbagai keadaan .

“Qiraat adalah pengetahuan tentang cara-cara melafalkan kalimat-kalimat Al-qur’an dan perbedaannnya dengan membangsakannya kepada penukilnya “.
Suatu kenyataan dapat dijadikan pegangan dalam masalah qiraah . Suatu kenyataan bahwa banyak mushhaf yang dicetak di belahan dunia Islam sebelah timur berbeda dengan yang di cetak di Afrika Utara misalnya karena qiraah yang umum diikuti dikedua wilayah ini berbeda .Bahkan mushhaf-mushhaf  yang ditulis diatas perintah Kalifah Utsman itu tidak bertitik dan tidak berbaris . Rasulullah saw bersabda :

“Sesungguhnya,Al-qur’an ini diturunkan atas tujuh huruf (cara baca), maka bacalah  (menurut)  mana yang engku anggap  mudah-mudah. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)
Para sahabat tidak semuanya mengetahui semua cara membaca Al-qur’an. Para tabi’i al-tabi’in menerimanya dari tabi’in dan meneruskannya  pula kegenerasi berikutnya. Dengan demikian tumbuhlah berbagai qiraah yang kesemuanya berdasarkan riwayat. Riwayatnya juga sebagian mutawatir dan lainnya tidak .



B.     Macam-Macam Qira’at dan Ahlinya

1.      Macam-macam qira’at dari segi kuantitas

a.      Qira’ah Sab’ah (qira’ah tujuh). Maksud sab’ah adalah imam-iman qira’at yang tujuh. Mereka adalah :
1)      Abdullah bin Katsir Ad- Dari (w. 120. H.) dari Makkah. Ad-Dari termasuk generasi tabi’in.
2)      Nafi’ bin ‘Abrurrahman bin Abu Na’im (w. 169 H) dari Madinah.
3)      Abdullah Al-Yahshibi, terkenal dengan sebutan Abu ’Amir Ad-Dimasyqi (w. 118 H) dari Syam. 

Qira’at ‘Asyarah (qira’at sepuluh). Yang dimaksud qiraat sepuluh adalah qira’at tujuh yang telah disebutkan diatas ditambah dengan tiga qira’at berikut:
1.      Yazid bin Al-Qa’qa Al-Makhzumi Al-Madani.
2.       Ya’qub bin Ishaq bin Yazid bin Abdullah bin Abu Ishaq Al-Hadhrami Al-Bashri (117-205 H).
3.      Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam bin Tsa’lab Al-Bazzaz Al-Baghdadi (w.229).

b.      Qira’at ‘Arba’at Asyrah ( qira’at empat belas). Yang dimaksud qiraat empat belas adalah qira’at sepuluh yang telah disebutkan diatas ditambah dengan empat qira’at sebgai berikut :
1.      As-Hasan Al-Bashri (w. 110 H).
2.      Muhammad bin ‘Abdirrahman, yang terkenal dengan nama Ibn Mahishan (w. 123 H).
3.      Yahya’bin Al-Mubarak Al-Yazidi An-Nahwi As-Baghdadi (202 H).
4.      Abu Al-Farj Muhammad bin Ahmad Asy-Syanbudz (w. 388 H).

2.      Macam –macam qira’ah ditinjau dari segi kualitas ada 6 :
1.      Mutawatir, yaitu apa yang dinukil oleh sejumlah orang, tidak mungkin terjadi kebohongan sampai kepada tidak penghabisan ini yang biasa dalam qiraah .
2.      Masyhur, yakni qira’at yang memiliki sanad sahih dengan kaidah bahasa arab dan tulisan Mushaf Utsmani.
3.      Ahad ,yaitu tidak sah sanadnya.
 Nabi pernah membaca Nabi membaca rafârifa dan ‘abâqariya dalam surat al-Rahmân ayat 76
“Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.”
4.      Syaaz, yaitu yang tidak sah sanadnya.
5.       Maudhu yang tidak mempunyai asalnya.
6.      Al Mudrik (sisipan) , yaitu menambah-nambah dalam bacaan atas bentuk tafsir .

Menurut jumhud, qiraat tujuh ini adalah mutawatir. Kata Nawawi dalam kitabnya. Syahrul Mazahib yang tidak boleh membaca dalam sembahyang ialah qiraah yang tidak sah sanadnya, karena dia bukan Al-qur’an.

3.       Sejarah Munculnya Qiraat

          Perbedaan cara membaca Al-qur’an atau dengan istilah qiraat Al-qur’an, bukan tanpa sebab. Qiraat muncul dengan sebab situasi dan kondisi tertentu. Dari beberapa riwayat dan naskah sejarah, kronologi sebab munculnya qiroat Al-Qur’an dimulai pada masa khalifah Utsman bin Affan.

Untuk menentukan diterimanya sebuah qiroat para ulama menetapkan kriteria-kriteria sebagai berikut.

a.       Muttawatir, yaitu qiroat yang diturunkan dari beberapa orang dan tidak mungkin terjadi kebohongan.
b.      Sesuai dengan kaidah bahasa Arab.
c.       Sesuai dengan kaidah Mushaf Utsman.
d.      Mempunyai sanad yang sahih.


C.    Sebab Perbedaan Para Qari’

Terdapat beberapa perbedaan qiroat, ada qiroat sab’ah (qiroat tujuh), qiroat        as-syarah (qiroat sepuluh), qiroat arba’ata ‘asyar (qiroat empat belas).  Hal ini            terjadi akibat salah satu atau beberapa sebab:
1.      Perbedaan dalam i’rab atau harakat kalimat tanpa perubahan makna dan bentuk kalimat.
2.      Perbedaan pada I’rob dan harakat (baris) kalimat sehingga mengubah maknanya
3.      Perbedaan dan perubahan huruf tanpa berubah i’rab dan bentuk tulisannya, sementara maknanya berubah. 

D.    Hikmah adanya perbedaan qira’at dalam al-Qur’an

        Pada garis besarnya, terdapat dua macam hikmah pokok sehubungan dengan adanya perbedaan qira’at al-Qur’an yaitu, hikmah secara umum dan hikmah secara khusus.

1.      Hikmah secara umum.

a.       Untuk memberi kemudahan bagi umat islam, khususnya bagi bangsa Arab, dalam membaca al-Qur’an. Hal ini karena mereka terdiri atas berbagai suku bangsa (kabilah), yang masing-masing memiliki lahjat (dialek bahasa) yang berbeda-beda.
b.      Mempersatukan umat islam dikalangan bangsa Arab, yang relatif baru, dalam satu bahasa yang dapat mengikat persatuan diantara mereka, yaitu bahasa yang dengannya al-Qur’an diturunkan, dan dapat mengakomodasi atau menampung unsur-unsur bahasa Arab dari kabilah-kabilah lainnya.

2.      Hikmah secara khusus

        Adapun hikmah secara khusus yang berkenaan dengan maksud atau kandungan ayat, khususnya yang berkaitan dengan ayat-ayat hukum, dapat dikemukaan sebagai berikut :
a.       Mengukuhkan atau menguatkan ketentuan hukum yang telah disepakati dan diijma’kan oleh para ulama.
b.      Mentarjih-kan hukum yang di-ikhtilaf-kan oleh para ulama.
c.       Dapat menggabungkan dua ketentuan hukum yang berbeda.

Visitor