Makalah Munasabah Al- Qur'an, Pengertian Muhkam, Mutasyabihat, Dalil yang Qath’i serta Zhanni, serta Dilalah dan Kedudukan Sunnah.



Makalah Apa Pengertian Muhkam dan Mutasyabihat? ,Jelaskan Perbedaan muhkam dan mutasyabihat ? ,Sebutkan Syarat muhkam dan Mutasyabihat ? ,Sebutkan Macam macam Dalil Mukam dan Mutasyabihat ? , Apa Pengertian Dalil Qath’i ? ,Apa Pengertian Dalil Zhanni ? ,Jelaskan Kehujjahan sunnah, Dilalah dan Kedudukan Sunnah? ,Jelaskan Hadits dari segi bentuk (Fiil, Qauli, dan Taqriri)? , Jelaskan Hadis dari segi jumlah orang yang menyampaikan (mutawatir, masyhur, ahad) ? ,Jelaskan hadis dari segi kualitas (shahih, hasan, dhaif, maudlu) ?


A.    Pengertian Muhkam dan Mutasyabihat


Kata muhkam merupakan pengembangan dari kata “ahkama, yuhkimu, ihkaman” yang secara bahasa adalah atqona wa mana’a yang berarti mengokohkan dan melarang. Dari pengertian itu, maka al-muhkam menurut bahasa adalah berarti yang dikokohkan. Dalam istilah muhkamialah suatu lafadz yang artinya dapat diketahui dengan jelas dan kuat berdiri sendiri tanpa dita’wilkan karena susunannya tertib dan tepat, serta pengertiannya tidak sulit dan masuk akal.Menurut istilah  Muhkam adalah ayat yang maknanya rasional, artinya dengan akal manusia saja pengertian ayat itu sudah dapat ditangkap tetapi ayat-ayatmutasyabih mengandung pengertian yang tidak dapat dirasionalkan. Ayat-ayat al-Qur’an yang muhkam adalah ayat yang dinasikh dan padanya mengandung pesan pernyataan halal, haram, hudud, faraidl, dan semua yang wajib diimani dan diamalkan. Ayat muhkam adalah ayat yang tidak ternask, sementara ayat mutasyabihat adalah ayat yang dinask
Kata mutasyabihat berasal dari kata tasyabuh yang secara bahasa berarti kesamaan atau kesamaran yang mengarah pada keserupaan. Contoh dalam ayat 70 surat al-Baqarah :
Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)."
Dalam istilah, mutasyabih adalah suatu lafadz al-Qur’an yang artinya samar, sehingga tidak dapat dijangkau akal manusia, karena bisa ditakwilkan macam-macam sehingga tidak dapat berdiri sendiri, maka dari itu cukup diyakini adanya saja dan tidak perlu diamalkan, karena merupakan ilmu yang hanya dimengerti ole Allah SWT saja.


B.     Sebab-sebab Adanya Dalil Muhkam dan Mustasyabihat

Secara tegas dapat dikatakan, bahwa sebab adanya ayat muhkam dan mutasyabihat adalah karena Allah SWT menjadikannya demikian itu.
Allah memisahkan ayat antara yang muhkam dan mutasyabihat dan menjadikan ayat muhkan sebagai bandingan ayat yang mutasyabih.


C.    Macam-macam Dalil Mutasyabihat

1)      Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manusia kecuali Allah SWT. seperti isi ayat 34 surat Lukman.
2)      Ayat-ayat mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian yang dalam. Seperti seperti merinci yang mujmal, menentukan yang musytarokmengqoyidkan yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib.
3)      Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya diketahui oleh pakar ilmu dan sains, bukan oleh semua orang, apalagi orang awam.        

Dilalah Al-Qur’an dan Dalil yang Qath’i serta Zhanni

1.      Pengertian


Dalil menurut arti etimologi bahasa Arab ialah pedoman bagi apa saja yang khissi (material) yang ma’nawi (spiritual), yang baik ataupun yang jelek.
Adapun menurut istilah ahli ushul (termenilogi)  ialah sesuatu yang dijadikan dalil, menurut perundangan yang benar, atas hukum syara’ mengenai perbuatan manusia, secara pasti (qath’i) atau dugaan (zhanni).
Dalalah berarti pemahaman atau tanda penunjukkannya untuk sampai kepada madlul, prosesnya berawal dari petunjuk yang mendasarinya (dalil) kemudian dipahami (dalalah) yang akhirnya mengacu kepada pemahaman (madlul).

Contohnya : Aqimu al-Sholah  perintah shalat wajib shalat

Dalil dibagi menjadi 2 macam yaitu :

a.       Dalil atau Nash Qath’i

Difahami secara tertentu, tidak ada menerima ta’wil, tidak ada tempat bagi pemahaman arti Dalil atau nash yang qath’i ialah nash yang menunjukkan kepada makna yang bisa selain kemungkinan itu. Contohnya dalam Surah An-Nisa’ : 12. Dalil qathi’ dibagi menjadi 2 yaitu dalil wurud dan Qath’i Dalalah.

b.      Dalil atau Nash Zhanni

Dalil atau nash yang zhanni ialah nash yang menunjukkan atas makna yang memungkinkan untuk ditakwilkan atau dipalingkan dari makna asalanya (lughawi) kepada makna yang lain. Dalil zhanni ada dua macam, yaitu Zhanni al-Wurud dan Zhanni al-Dalalah.

 Kehujjahan Sunnah serta Dilalah dan Kedudukan Sunnah.
1.      Pengertian

As-Sunnah dalam bahasa Arab berarti tradisi, kebiasaan, adat istiadat. Dalam terminology Islam, berarti perbuatan, perkataan, dan keizinan Nabi Muhammad saw (af’alu, aqwalu, dan taqriru). As-Sunnah dalam pengertian istilah ialah segala yang dipindahakan dari Nabi Muhammad saw berupa perkataan, perbuatan, ataupun tqrir yang mempunyai kaitan dengan hukum.

Hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw walaupun hanya sekali saja beliau mengerjakannya sepanjang hidupnya dan walaupun hanya seorang saja yang meriwayatkannya. Sunnah atau Hadits dapat dibagi berdasarkan kriteria dan klasifikasi sebagai berikut :
Ø  Ditinjau dari segi bentuknya terbagi menjadi :
a.       Fi’il, yaitu perbuatan Nabi.
b.      Qauli, yaitu perkataan Nabi.
c.       Taqriri, yaitu perizinan Nabi, yang artinya perilaku sahabat yang disaksikan oleh Nabi, tetapi Nabi tidak menegurnya atau melarangnya.
Ø  Ditinjau dari segi jumlah orang yang menyampaikannya menjadi :
a.       Mutawatir
b.      Masyhur
c.       Ahad
Ø  Ditinjau dari segi kualitas hadits, terbagi menjadi :
a.       Shahih
b.      Hasan
c.       Dhaif
d.      Maudlu
Ø  Ditinjau dari segi diterima atau tidaknya, terbagi menjadi :
a.       Maqbul
b.      Mardud
Ø  Ditinjau dari segi orang yang berbuat atau berkata-kata, hadits terbagi menjadi  
a.       Marfu’, yaitu betul-betul Nabi saw yang pernah bersabda, berbuat dan memberi izin.
b.      Mauquf, yaitu sahabat Nabi yang berbuat dan Nabi tidak menyaksikan perbuatan sahabat.
c.       Maqtu’, yaitu tabi’in yang berbuat. Artinya perkataan tabi’in yang berhubungan dengan soal-soal keagamaan.

2.      Bukti-bukti kehujjahan as-Sunnah banyak sekali, yaitu : 

Ø  Nash-nash al-Qur’an

Karena allah SWT dalam beberapa ayat kitab al-Qur’an telah memerintahkan mentaati Rasul-Nya. Menurut-Nya taat kepada Rasul-Nya berarti taat kepada-Nya.
Ijma’ para sahabat r.a semasa hidup Nabi dan setelah wafatnya mengenai keharusan mengikuti sunnah Nabi.
Dalam al-Qur’an Allah SWT telah mewajibkan kepada manusia beberapa ibadah fardhu secara global tanpa penjelasan (secara rinci) tidak dijelaskan di dalamnya mengenai hukum-hukumnya atau cara memakainya (melaksanakannya).

Visitor