Tinjauan Teori Mengenai Teknik Penggandaan Kartu ATM (Skimmer)


Tinjauan Teori Mengenai Teknik Penggandaan Kartu ATM (Skimmer)

22


BAB II


ASPEK HUKUM TENTANG TINDAK PIDANA PENCURIAN DAN TEKNIK PENGGANDAAN KARTU ATM (SKIMMER)


A.  Aspek Hukum Tindak Pidana Pencurian
Kejahatan  merupakan  entitas  yang  selalu  lekat  dengan  dinamika
perkembangan peradaban umat manusia9. Kejahatan yang disebut perilaku
menyimpang selalu ada dan melekat pada tiap bentuk masyarakat, tidak ada
masyarakat yang sepi dari kejahatan, oleh karena itu upaya penanggulangan
kejahatan  sesungguhnya  merupakan  upaya  yang  terus  menerus  dan
berkesinambungan. tidak ada yang bersifat final, hal ini dimaksudkan bahwa
setiap  upaya  penanggulangan  kejahatan  tidak  dapat  menjanjikan  dengan
pasti bahwa kejahatan itu tidak akan terulang   atau tidak akan memunculkan
kejahatan baru. namun demikian, upaya itu tetap harus dilakukan untuk lebih
menjamin perlindungan dan kesejahteraan manusia.
Semakin   majunya   peradaban   manusia,   sebagai   implikasi   dari
perkembangan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi,  muncul  berbagai  jenis
kejahatan berdimensi baru, yang termasuk di dalamnya
cyber crime. Sejalan
dengan itu diperlukannya upaya penanggulangan untuk menjamin ketertiban
dalam masyarakat. dalam perspektif hukum, upaya ini direalisasikan   dengan
hukum pidana. hukum pidana diharapkan mampu memenuhi cita ketertiban
masyarakat.

7 Abdul Wahid. Mohammad Labib, Op Cit, hlm 51



23
Asas hukum mempunyai dua fungsi, fungsi dalam hukum dan fungsi
dalam ilmu hukum
10. Asas dalam hukum mendasarkan eksistensinya pada
rumusan  oleh  pembentuk  undang-undang  dan  hakim  serta  mempunyai
pengaruh normatif yang mengikat para pihak, oleh karena itu hukum pidana
dalam  fungsi  pengendalian  masyarakat,  penyelenggaraan  ketertiban  dan
penganggulangan kejahatan harus berorientasi kepada asas-asas tersebut.
Tindak pidana pencurian diatur dalam Pasal  362 KUHP, selain itu,
diatur pula dalam Pasal  363 KUHP (pencurian dengan pemberatan), Pasal
364  KUHP  (pencurian  ringan),  Pasal  365  KUHP  (pencurian  yang  disertai
dengan  kekerasan/ancaman  kekerasan,  Pasal 367  KUHP  (pencurian  di
lingkungan   keluarga).   Pencurian   dana   nasabah   bank   melalui   modus
penggandaan  kartu  ATM  dilakukan  oleh  pelaku  dengan  cara  mencuri
informasi elektronik milik korbannya, yang dalam hal ini berupa data yang
tersimpan dalam kartu ATM dan PIN  (Personal identification Number) dari
korbannya. Akibat dari perbuatan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan
uang  dari  para  nasabah  bank,  modus  penggandaan  kartu  ATM  dapat
diterapkan  Pasal 363  ayat  (5)  KUHP  yang  mana  dalam  pasal  tersebut
memperluas  pengertian kunci palsu dan perintah palsu sehingga PIN dan data  yang  terekam  dalam  kartu  ATM  yang  digunakan  dalam  pencurian tersebut termasuk di dalamnya.







10  ibid, Hlm. 50



24
Ketentuan tentang pencurian dalam Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) berbunyi:


Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian
kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah
Unsur-unsur dalam Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tersebut terdiri dari 11
1.  Mengambil   barang   artinya   perbuatan   mengambil   barang,   kata
      mengambil dalam arti sempit terbatas pada menggerakan tangan dan
     
jari-jari, memegang barangnya, dan mengalihkannya ketempat orang
     
lain.
2.  Barang  yang  diambil  artinya  merugikan  kekayaan  korban,  maka
     
barang  yang  harus  diambil  harus  berharga,  harga  ini  tidak  selalu
bersifat ekonomis.
3.  Tujuan memiliki barangnya dengan melanggar hukum artinya tindak
     
pidana  pencurian  dalam  bentuknya  yang  pokok  berupa  perbuatan
      mengambil  suatu  benda  yang  sebagian  atau  seluruhnya  adalah
kepunyaan orang lain.




11   Wirjono  Prodjodikoro,  Tindak-Tindak  Pidana  Tertentu  di  Indonesia,  Refika Aditama, Jakarta, 1967, hlm. 15




25
Tindak  pidana  pencurian  dalam  bentuk  pokok  seperti  yang  diatur
dalam Pasal 362 KUHP diatas, terdiri dari unsur subjektif dan unsur objektif,
yakni sebagai berikut :

1. Unsur subjektif :
Menguasai benda tersebut secara melawan hukum
2.  Unsur objektif :

a.  Barang siapa
b.  Mengambil atau wegnemen yaitu suatu perilaku yang membuat
     
suatu  benda  berada  dalam  penguasaannya  yang  nyata,  atau
     
berada  di  bawah  kekuasaannya  atau  di  dalam  detensinya,
     
terlepas  dari  maksudnya  tentang  apa  yang  ia  inginkan  dengan
benda tersebut;
c.   Sesuatu benda

d.  Yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain.

Menurut  Simons  yang  dimaksud  mengambil  yaitu  membawa  suatu
benda  menjadi  berada  dalam  penguasaannya  atau  membawa  benda
tersebut secara mutlak berada di bawah pengusaannya yang nyata, dengan
kata lain, pada waktu pelaku melakukan perbuatannya, benda tersebut harus
belum berada dalam penguasaannya. Seseorang dapat dinyatakan terbukti
telah  melakukan  tindak  pidana  pencurian  sebagaimana  yang  dimaksud  di
atas, orang tersebut harus terbukti telah memenuhi unsur dari tindak pidana
pencurian yang terdapat di dalam rumusan Pasal 362 KUHP.




26




Pasal 363 ayat (5) KUHP menyebutkan,
Pencurian  yang  dilakukan  oleh  tersalah  dengan  masuk  ketempat
kejahatan  itu  atau  dapat  mencapai  barang  untuk  diambilnya,  dengan
jalan   membongkar,   memecah   atau   memanjat   atau   dengan   jalan
memakai kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu

Tindak pidana pencurian sebagaimana diatur dalam Pasal 363 KUHP
diatas mengandung unsur subjektif dan unsur objektif, yaitu sebagai berikut :

1. Unsur subjektif :
Dengan maksud untuk menguasai secara melawan hukum
2.  Unsur objektif :

a.  Barang siapa;
b.  Mengambil yaitu setiap tindakan yang membuat sebagian harta
     
kekayaan orang lain menjadi berada dalam penguasaannya tanpa
bantuan  atau  tanpa  izin  orang  lain  tersebut,  ataupun  untuk
memutuskan  hubungan  yang  masih  ada  antara  orang  lain  itu
dengan bagian harta kekayaan yang dimaksud;
c.   Sesuatu benda;

d.  Yang sebagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain.

Unsur subjektif maksud untuk menguasai secara melawan hukum di
atas itu merupakan tujuan artinya menguasai secara sepihak oleh pemegang



27
sesuatu   benda   seolah-olah   ia   adalah   pemilik   dari   benda   tersebut,
bertentangan  dengan  sifat  hak,  berdasar  pada  hak  mana  benda  tersebut
berada di bawah kekuasaannya. Unsur benda yang dapat menjadi objek dari
suatu pencurian itu tidak selalu harus berupa benda-benda yang mempunyai
nilai, akan tetapi benda-benda seperti karcis, sebuah anak kunci dan lain-lain
itu juga dapat menjadi objek dari kejahatan tindak pidana pencurian.
Apabila tindak pidana pencurian di dalam bentuknya yang pokok itu
telah dilakukan oleh pelakunya pada keadaan-keadaan yang memberatkan
seperti  yang  disebutkan  dalam  Pasal 363  KUHP,  maka  tindak  pidana
pencurian  itu  mendapat  suatu  kualifikasi  sebagai  suatu  salah  satu  unsur
tindak  pidana  pencurian  yang  dapat  memberatkan  bagi  para  pelaku
kejahatan tersebut.
Undang-Undang  Nomor    11  Tahun    2008  Tentang  Informasi  dan
Transaksi Elektronik mengatur secara umum mengenai kejahatan-kejahatan
teknologi  informasi,  sehingga  pemanfaatan  teknologi  informasi  dilakukan
secara aman untuk mencegah penyalahgunaannya.
Pasal  1  ayat  1  Undang-Undang  Nomor  11  Tahun  2008  Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menjelaskan bahwa :
Informasi  Elektronik  adalah  satu  atau  sekumpulan  data  elektronik,
termasuk  tetapi  tidak  terbatas  pada  tulisan,  suara,  gambar,  peta,
rancangan,   foto,   electronic data interchange (EDI), surat elektronik
(electronic    mail),    telegram,    teleks,    telecopy    atau    sejenisnya,
huruf,    tanda, angka,    kode    akses,    simbol,    atau    perforasi    yang
telah   diolah   yang   memiliki   arti   atau   dapat dipahami oleh orang
yang mampu memahaminya



28
Pasal 1 ayat 5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menyatakan bahwa :
Sistem  Elektronik  adalah  serangkaian  perangkat  dan  prosedur elektronik yang    berfungsi    mempersiapkan,    mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan informasi elektronik.

Pada Pasal tersebut yang dimaksud dengan sistem elektronik adalah
sistem  komputer  dalam  arti  luas,  yang  tidak  hanya  mencakup  perangkat
keras  dan  perangkat  lunak  komputer,  tetapi  juga  mencakup  jaringan
telekomunikasi dan atau sistem komunikasi elektronik. Perangkat lunak atau
program  komputer  adalah  sekumpulan  instruksi  yang  diwujudkan  dalam
bentuk bahasa, kode, skema, ataupun bentuk lain, yang apabila digabungkan
dengan media yang dapat dibaca dengan komputer akan mampu membuat
komputer bekerja untuk melakukan fungsi khusus atau untuk mencapai hasil
yang khusus, termasuk persiapan merancang instruksi tersebut.
Pasal  1 ayat  (14) Undang-Undang Nomor  11 Tahun  2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang berbunyi :
Komputer adalah alat untuk memproses data elektronik, magnetik, optik, atau   sistem   yang   melaksanakan   fungsi   logika,   aritmatika,   dan penyimpanan.



29


Pengertian  dokumen  elektronik  terdapat  dalam  Pasal        1  ayat    (4)
Undang-Undang  Nomor  11  Tahun  2008  Tentang  Informasi  dan  Transaksi
Elektronik  adalah  setiap  informasi    elektronik    yang    dibuat,    diteruskan,
dikirimkan,   diterima,   atau   disimpan   dalam   bentuk   analog,   digital,
elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang   dapat   dilihat,   ditampilkan,
dan/atau    didengar    melalui    komputer    atau    sistem    elektronik, termasuk
tetapi   tidak   terbatas   pada   tulisan,   suara,   gambar,   peta,   rancangan,   foto
atau sejenisnya,   huruf,   tanda,   angka,   kode   akses,   simbol   atau   perforasi
yang    memiliki    makna    atau  arti  atau  dapat  dipahami  oleh  orang  yang
mampu memahaminya.

Pada  Pasal  30  ayat  (2)  Undang-Undang  Nomor  11  Tahun  2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang berbunyi :
Setiap  orang  dengan  sengaja  dan  tanpa  hak  atau  melawan  hukum
mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik dengan cara apa pun
dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen

Elektronik.
Pasal  30  ayat  2  Undang-Undang  Nomor  11  Tahun  2008  Tentang
Informasi  dan  Transaksi  Elektronik  mengandung  unsur-unsur,  baik  unsur
subjektif maupun objektif, yaitu :

Unsur subjektif      :
- dengan sengaja



30
- secara melawan hukum
Unsur Objektif   :
-   mengakses  komputer  dan/atau  sistem  elektronik  dengan  cara  apa
    
pun
-   untuk  tujuan  memperoleh  informasi  elektronik  dan/atau  dokumen
elektronik
Pasal  32  ayat  (1)  Undang-Undang  tentang  Informasi  dan  Transaksi
Elektronik   merupakan   ketentuan   yang   dapat   diakomodasikan   dalam
pencurian  dana  nasabah  bank  melalui  penggandaan  kartu  ATM,  yang
berbunyi :



Setiap  orang  dengan  sengaja  dan  tanpa  hak  atau  melawan  hukum dengan  cara  apapun  mengubah,  menambah,  mengurangi,  melakukan transmisi,  merusak,  menghilangkan,  memindahkan,  menyembunyikan suatu informasi elektronik dan atau dokumen elektronik milik orang lain atau milik publik
Pasal tersebut tidak mengatur secara jelas mengenai perbuatan yang
dilarang. Media teknologi merupakan sarana efektif untuk melakukan kejahatan,
oleh karena itu perbuatan yang dilakukan secara elektronik juga harus diatur
dalam undang-undang agar tidak lolos dari jerat hukum. Untuk itu, penanganan
kasus-kasus pencurian dana nasabah bank melalui modus penggandaan kartu
ATM  (
skimmer)  yang  terjadi  dapat  menggunakan  Pasal  363  ayat  (5)  Kitab
Undang-Undang   Hukum   Pidana (KUHP)   dengan   melakukan   penafsiran
ekstensif  oleh  hakim.  Hal  tersebut  berdasarkan  Pasal    5  ayat  (1)  Undang-
Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, yaitu :



31
Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Ketentuan  ini  dimaksudkan  agar  putusan  hakim  dan  hakim  konstitusi
sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat Hakim sebagai penegak
hukum dan keadilan wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai yang
hidup dalam masyarakat.
12  Dalam menghadapi kasus-kasus pencurian dengan
modus   penggandaan   kartu   ATM (
skimmer)   yang   terjadi   hakim   dapat
menggunakan penafsiran hukum terhadap peraturan perundang-undangan yang masih  relevan  dengan  kasus  skimer,  dalam hal  ini  Pasal  363  ayat(5)    Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)



B.  Tinjauan Teori Mengenai Teknik Penggandaan Kartu ATM (Skimmer)
Perbankan merupakan inti dari sistem keuangan setiap negara. Bank
merupakan  lembaga  keuangan  yang  menjadi  tempat  bagi  perusahaan,
badan-badan pemerintah dan swasta, maupun perorangan menyimpan dana-
dananya,   bank   melayani   kebutuhan   pembiayaan   serta   melancarkan
mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian.
Industri perbankan adalah salah satu bidang jasa yang secara intensif
menyelenggarakan  layanan  dengan  memanfaatkan  media  elektronik (e-
banking).  Sebagian  besar  bank  pada  saat  ini  bahkan  mengandalkan
Teknologi   Informasi   dan   media   elektronik  sebagai   basis   layanannya.



12 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika: Jakarta, 2000, hlm 112



32
Sehingga  layanan  perbankan  yang  diselenggarakannya  kini  menawarkan berbagai kemudahan yang dapat dimanfaatkan masyarakat setiap saat dan dimana saja, tidak dibatasi jarak, ruang dan waktu.

Jenis teknologi (e-banking) dan media elektronik yang digunakan antara lain adalah13:
1.  Layanan  perbankan  online,  memungkinkan  terjadinya  hubungan  dan
      transaksi  antar  cabang  secara  real  time (seketika)  melalui  jaringan
komputer    sehingga    memudahkan,    mempercepat    pengelolaan/
manajemen  serta  pelayanan.  Tidak  ada  penundaan  akibat  hambatan
komunikasi  dan  pertukaran  data,  informasi  transaksi  antar  cabang.
Bahkan antar bank yang memiliki kerjasama kini juga telah melakukan
pertukaran informasi dan data secara online sehingga memudahkan dan
meniadakan hambatan transaksi antar nasabah yang berbeda bank;
2.    Layanan    jaringan    mesin    ATM        (Automated    Teller    Machine),
memungkinkan   masyarakat   untuk   melakukan   transaksi   perbankan melalui  mesin  ATM  misalnya  untuk  pembayaran,  pengiriman  atau penerimaan, pengambilan tunai dan penyetoran  (terbatas). Mesin ATM tersebar  luas  di  seluruh  Indonesia  dan  bahkan  di  seluruh  dunia (kerjasama antar penyelenggara layanan ATM);




13 http://www.idsirtii.or.id diakses selasa 1 juni 2010 pukul 23.00 WIB




33


3.  Layanan   jaringan   EDC     (Electronic   Data   Capture),   memungkinkan
masyarakat   untuk   melakukan   transaksi   pembelanjaan/konsumsi   di counter merchant secara elektronik menggunakan kartu debit atau kartu kredit maupun kartu tunai (voucher elektronik);
4.  Layanan phone banking, memungkinkan masyarakat untuk melakukan
     
transaksi  perbankan  melalui  telepon.  Media  elektronik  yang  serupa
      adalah layanan SMS banking/mobile banking untuk mendukung aktivitas
     
dan mobilitas masyarakat;
5.  Layanan internet banking, memungkinkan masyarakat untuk melakukan
      transaksi  perbankan  melalui  media  jaringan  komputer  global  yaitu
internet;
6.  Layanan  kartu  kredit,  kartu  cicilan  dan  untuk  pembayaran  tunda
     
sejenisnya.
Semua bank nasional pada saat ini telah terhubung secara online dan
ada  yang  bergabung  dengan  jaringan  kerjasama  layanan  e-banking  lokal
maupun internasional untuk memperluas jaringan dan meningkatkan efisiensi
layanan  serta  sekaligus  meminimalisir  biaya  operasional  dan  perawatan.
Misalnya  untuk  layanan  ATM  yang  kini  paling  banyak  digunakan  oleh
nasabah perbankan, pihak bank tidak hanya menyediakan layanan ini melalui
jaringan mesin ATM yang dimiliki sendiri, melainkan juga bergabung dengan
jaringan mesin ATM yang diselenggarakan oleh pihak lain baik itu lokal (ATM
Bersama) dan internasional (Plus, Cirrus, Alto, Link dll. yang memiliki jutaan
ATM di seluruh dunia). Nasabah pengguna kartu ATM tidak harus tergantung



34
dan melakukan transaksi dari mesin ATM bank yang bersangkutan, nasabah
bank juga   dapat menggunakan ATM lain yang memiliki kerjasama dengan
bank penerbit asalnya, biasanya logo jaringan ATM yang didukung tertera di
setiap kartu ATM, sehingga pengguna bisa memilih. Semua bank nasional
kini menerbitkan kartu ATM, bahkan beberapa bank nasional secara otomatis
akan  memberikan  kartu  ATM  kepada  nasabah  untuk  setiap  pembukaan
rekening baru. Diperkirakan pada akhir tahun 2009 di Indonesia ada sekitar
50  juta pengguna kartu ATM aktif dimana sebagian besar dari kartu ATM
tersebut juga berfungsi sebagai kartu debit (dapat digunakan sebagai media
pembayaran elektronik di merchant pembelanjaan yang memiliki kerjasama
dengan bank)
Berdasarkan  Pasal  1  angka  (2)  Undang-Undang  Nomor.  10  tahun
1998 Tentang Perbankan atas Perubahan Undang-Undang Nomor. 7 tahun
1992, pengertian Bank adalah:

Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam  bentuk  simpanan  dan  menyalurkannya  kepada  masyarakat dalam  bentuk  kredit  dan  atau  bentuk-bentuk  lainnya  dalam  rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak

Pasal  5  ayat  (1)  Undang-Undang  Nomor  10  Tahun  1998  Tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan
(selanjutnya disebut Undang-Undang Perbankan) menyebutkan bahwa jenis



35
bank dibedakan menjadi  2  (dua) yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan
Rakyat. Pada undang-undang tersebut juga diatur mengenai kegiatan usaha
yang dapat dilakukan oleh kedua jenis bank tersebut. Menurut Pasal 1 ayat
(3)  Undang-Undang  Perbankan  bahwa  Bank  Umum  yaitu  bank  yang
melaksanakan  kegiatan  usaha  secara  konvensional  dan/atau  berdasarkan
prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran. Sebagai bagian dari sistem keuangan dan sistem pembayaran
suatu Negara, bank telah menjadi bagian dari sistem keuangan dan sistem
pembayaran dunia14. Mengingat hal yang demikian, maka begitu suatu bank
telah memperoleh izin berdiri dan beroperasi dari otoritas moneter Negara
yang bersangkutan, bank tersebut menjadi milik masyarakat. Oleh karena itu,
eksistensinya  bukan  saja  harus  dijaga  oleh  para  pemilik  bank  itu  sendiri, tetapi juga oleh masyarakat nasional dan global.
Penggunaan   teknologi   informasi   dan   komunikasi   di   perbankan
nasional  relatif  lebih  maju  dibandingkan  sector  lainnya.  Berbagai  jenis
teknologinya diantaranya meliputi Automated Teller Machine (ATM), internet
banking,
dan Sistem Kliring Elektronik. Bank Indonesia sendiri lebih sering
menggunakan  istilah  Teknologi  Sistem  Informasi (TSI)  Perbankan  untuk
semua   terapan   teknologi   informasi   dan   komunikasi   dalam   layanan
perbankan. Beberapa diantaranya terkait dengan layanan perbankan di  garis
depan  atau front end, seperti ATM dan komputerisasi system perbankan,
dan beberapa kelompok lainnya bersifat back end, yaitu teknologi-teknologi



14 Adrian Sutedi, Op Cit, Hlm 1




36
yang  digunakan  di  lembaga  keuangan,  merchant,  atau  penyedia  jasa
transaksi. Penggunaan mesin ATM memberikan kemudahan bagi nasabah
bank,  lewat  sarana  ATM  nasabah  dapat  melakukan  aktifitas  pengecekan
rekening, transfer dana antar rekening, hingga pembayaran tagihan-tagihan
rutin bulanan seperti (listrik, telepon) melalui rekening banknya. Banyak yang
bisa  didapatkan  nasabah  dengan  dengan  memanfaatkan  layanan  ATM,
terutama  bila  dilihat  dari  waktu  dan  tenaga  yang  dapat  dihemat  karena
transaksi melalui ATM dapat dilakukan tanpa melalui kantor-kantor bank.
ATM atau terminated Teller Machine merupakan terminal elektronik
yang   disediakan   lembaga   keuangan   atau   perusahaan   lainnya   yang
membolehkan  nasabah  untuk  melakukan  penarikan  tunai  dari  rekening
simpanannya di bank, melakukan setoran, cek saldo, atau pemindahan dana.
ATM  atau  anjungan  tunai  mandiri,  ini  adalah  saluran  electronic  banking
paling   populer   yang   kita   kenal.   Fitur   tradisional   ATM   adalah   untuk
mengetahui saldo dan melakukan penarikan tunai. Dalam perkembangannya
fitur
semakin    bertambah    yang    memungkinkan    untuk    melakukan
pemindahbukuan antar rekening, pembayaran kartu kredit, listrik dan telepon,
pembelian (voucher  dan  tiket)  dan  transfer  ke  bank  lain (dalam  suatu
switching jaringan ATM). selain bertransaksi melalui mesin ATM, kartu ATM
dapat  pula  digunakan  untuk  berbelanja  di  tempat  perbelanjaan,  berfungsi
sebagai kartu debit. oleh karena itu maka sering disebut bahwa ATM sebagai
mesin sejuta umat dan segala bisa, karena beragam fitur dan kemudahan
penggunaannya.




37
Dalam   dunia   perbankan,   nasabah   merupakan   konsumen   dari
pelayanan jasa perbankan, berada dalam dua posisi yang dapat bergantian
sesuai  dengan  sisi  mana  mereka  berada.  Eksistensi  bank  sebagai  suatu
lembaga keuangan tergantung mutlak pada kepercayaan mutlak dari para
nasabahnya yang mempercayakan dana dan jasa-jasa lain yang dilakukan
mereka  melalui  bank  pada  khususnya  dan  dari  masyarakat  luas  pada
umumnya.   Oleh   karena   itu   bank   sangat   berkepentingan   agar   kadar
kepercayaan  masyarakat,  yang  sudah  maupun  yang  akan  menyimpan
dananya, maupun yang telah atau akan menggunakan jasa-jasa bank lainnya
dapat  terpelihara  dengan  baik  dalam  tingkat  yang  tinggi.  Mengingat  bank
adalah bagian dari sistem keuangan dan sistem pembayaran, masyarakat
luas  berkepentingan  atas  kesehatan  dari  sistem-sistem  tersebut.  Adapun
kepercayaan masyarakat kepada bank merupakan unsur paling pokok dari
eksistensi  suatu  bank  sehingga  terpeliharanya  kepercayaan  masyarakat
terhadap  perbankan  adalah  juga  kepentingan  masyarakat  banyak.    Untuk
memenuhi  kebutuhan  masyarakat,  bank  memudahkan  nasabahnya  dalam
bertransaksi secara tunai maupun non tunai. Berdasarkan hal tersebut, bank
menyediakan  fasilitas  ATM  untuk  mempermudah  transaksi  perbankan.
Seiring dengan perkembangan teknologi dan semakin maraknya kejahatan
menggunakan teknologi informasi, serta adanya kelemahan dalam system
pelayanan  ATM,  maka  dimungkinkan  terjadinya  pencurian  dana  nasabah
melalui modus
skimmer.




38
Skimmer merupakan nama populer alat yang digunakan oleh pelaku pencurian dana nasabah bank melalui modus penggandaan kartu ATM, di internet  alat  tersebut  dijual  murah  dan  dapat  dengan  mudah  diperoleh dengan harga sekitar lima ratus ribu sampai satu juta lima ratus ribu rupiah, skimmer sebenarnya merupakan hardware/ perangkat keras electronic data capture (EDC) atau penangkap informasi elektronik yang terdapat pada kartu ATM yang biasa digunakan oleh bank-bank dan merchant untuk mengolah data yang terdapat pada kartu ATM atau kartu kredit.
Modusnya dengan menempelkan alat yang dinamakan Skimmer pada
slot untuk memasukan kartu ATM di mesin ATM, alat ini digunakan untuk
mengambil informasi yang terdapat pada
magnetic stripe kartu ATM, kartu
kredit, ataupun kartu lainnya yang metode penggunaannya sama. Prinsipnya
kartu jenis ini menyimpan data di dalam pita magnetik yang kemudian dapat
dibaca  ulang  menggunakan  alat  yang  memiliki
 head  pembaca  seperti  di
dalam perangkat  tape recorder,  dengan  cara digesekan. Setelah  nasabah
bank memasukan kartu ATMnya ke dalam mesin ATM alat skimmer ini akan
melakukan perekaman data yang terdapat pada magnetik kartu ATM, cara
kerja  teknologi  pita  magnetik  pada  kartu  pada  dasarnya  adalah  ketika
digesek  itulah  isi  data  pita  dibaca,  dikirim,  diterjemahkan  dan  diolah
pemroses   di   sisi   pusat   untuk   memeriksa   identitas   pemegang   kartu,
keabsahan   dari   kartu   itu   sendiri   dan   juga   keabsahan   transaksinya.
Pengambilan  data  yang  diperlukan  oleh  pelaku  kejahatan  untuk  mencuri
dana nasabah melalui ATM pelaku juga menggunakan
spy cam atau kamera



39
perekam yang berbentuk kecil yang diselipkan oleh pelaku disekitar ruang
dalam ATM, fungsi spy cam ini untuk merekam nomor pin yang ditekan oleh
nasabah ketika menggunakan mesin ATM,   setelah itu pelaku memindahkan
data yang tercatat pada skimmer ke komputer, dan memindahkan data yang
dimilikinya tersebut pada magnetik stripe kartu yang baru sehingga hasilnya
pelaku  memiliki  duplikasi  kartu  ATM  yang  digunakan  korbannya  tersebut,
kejahatan yang dilakukan para pelaku dengan memanfaatkan para nasabah
yang mengambil uang di ATM.
Pada prinsipnya, saat ini ada dua jenis kartu yang digunakan sebagai
media  untuk  layanan  ATM,  debit,  kartu  elektronik  dan  sebagainya,  yaitu
magnetic  stripe  card  dan  jenis  chip  (smart  card)15.  Magnetic  stripe  card
merupakan  kartu  yang  mengikuti  standar  ISO/IEC  untuk  ukuran,  bentuk,
karakteristik   bahan   magnetik   yang   digunakan,   penempatan   jalur   pita
magnetik,  hingga  format  penyimpanan  data.  Prinsipnya  kartu  jenis  ini
menyimpan data di dalam pita magnetik yang kemudian dapat dibaca ulang
menggunakan  alat  yang  memiliki
 head  pembaca  seperti  di  dalam  tape
recorder  dengan  cara  digesekan.  Masyarakat  awam  menyebut  kartu  ini
dengan istilah  kartu gesek . Kartu magnetik digunakan luas oleh masyarakat
untuk    berbagai    macam    keperluan,    mulai    dari    kartu    identitas
karyawan/mahasiswa  hingga  kartu  akses  kamar  hotel,  bukan  hanya  kartu
ATM/debit atau kartu kredit, sehingga perangkat pembaca (
reader/skimmer),
maupun  untuk  menulis (
recorder)  serta  perangkat  lunak  lainnya  untuk

15 http://topengdigital.blogsome.com/skimmer . diakses selasa 1 Juni 2010 pukul 22.30
WIB




40
enkripsi/deskripsi data dijual bebas di pasaran. Bukan hal yang luar biasa
apabila terjadi penggandaan kartu ATM karena perangkatnya tersedia dan
tidak memerlukan keterampilan yang khusus untuk melakukannya, apalagi
teknologi ini sudah digunakan selama lebih dari dua puluh tahun sehingga
berbagai kelemahan telah diketahui luas dan karenanya sudah sepatutnya
mulai digantikan dengan teknologi lainnya yang lebih maju dan aman. Kartu
teknologi  baru  adalah  jenis  chip/
smart  card.  Bentuknya  seperti  yang
digunakan pada telepon selular  (GSM/CDMA SIM/RUIM card), ukuran dan
formatnya  diatur  oleh  standar  internasional (ISO).  Chip  tersebut  bisa
berfungsi  sebagai  memori  saja  maupun  juga  sebagai  mikroprosesor  atau
sekaligus keduanya. Pada dasarnya adalah sistem komputer dalam satu chip
yang  ditanamkan  pada  kartu  plastik.  Cara  kerjanya  dapat  melalui  kontak
langsung   dengan   cara   ditancapkan   maupun   secara   nirkabel,   cukup
ditempelkan dari jarak dekat pada mesin pembaca atau kombinasi keduanya.
kelebihan
 smart  card  terutama  adalah  kemampuan  pengolahan  transaksi
secara  offline,  artinya  tidak  harus  terkoneksi  real  time  ke  server  atau
pengolah  pusat,  hal  tersebut  karena  seluruh  data  pada  dasarnya  telah
ditanamkan  di  dalam  chip,  bukan  hanya  identitas  tetapi  juga  termasuk
besarnya  dana  atau saldo  yang  tersedia,  bahan  dimungkinkan melakukan
transaksi  langsung     dari  pengguna  ke  pengguna  tanpa  melalui  bank,
sehingga kartu jenis ini dapat digunakan   untuk beberapa fungsi sekaligus.
Smart  card  juga  relatif  aman  dibanding  magnetic  card,  karena
memiliki kemampuan memproses sendiri selain sebagai memori, maka relatif




41
lebih sulit digandakan dibandingkan jenis kartu magnetik yang bersifat hanya
sebagai  memori  saja.  Perlu  peralatan  khusus  untuk  mencetak smart  card
yang harganya jauh lebih mahal dan oleh vendor/penyedia hanya disediakan
dalam jumlah terbatas.
Keamanan memang faktor utama dalam penggunaan ATM. Karena
sebagaimana  kejahatan  yang  berkembang  di  Indonesia,  transaksi  di  ATM
juga rawan terhadap pengintaian dan penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang
tidak bertanggung jawab. Sebuah mesin ATM selayaknya dilengkapi standar
keamanan yang lengkap untuk menjamin bahwa fungsi yang disediakan di
mesin ATM hanya dimanfaatkan oleh mereka yang betul-betul berhak.
Berdasarkan pasal  1 angka  (16) Undang-Undang no.10 tahun  1998
Tentang Perbankan atas perubahan Undang-Undang no.7 tahun 1992, yang
dimaksud dengan pengertian nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa
bank, dalam hal ini pihak nasabah merupakan unsur yang sangat berperan
sekali  dalam  dunia  perbankan  bersandar  kepada  kepercayaan  dari  pihak
masyarakat  atau  nasabah.  Dengan  demikian  guna  mencegah  merosotnya
kepercayaan  masyarakat  terhadap  lembaga  perbankan.  Pemerintah  harus
berusaha  memberikan  perlindungan  dan  perhatian  yang  khusus  kepada
masyarakat.
Berdasarkan  peraturan  bank  Indonesia  no.  9/15/PBI/2007  tentang
penerapan  manajemen  resiko  dalam  penggunaan  teknologi  informasi  oleh
bank umum tercantum dalam pasal  1 ayat  (3) menyatakan bahwa layanan
perbankan  melalui  media  elektronik  atau  selanjutnya  disebut
 electronic




42
banking   adalah   layanan   yang   memungkinkan   nasabah   bank   untuk memperoleh  informasi,  melakukan  komunikasi,  dan  melakukan  transaksi perbankan  melalui  media  elektronik  antara  lain  ATM,  phone  banking, electronic fund transfer, internet banking, mobile phone.
Selain itu tercantum dalam pasal 1 ayat (7) yang menyatakan bahwa
disaster recovery center  (DRC) adalah fasilitas pengganti pada saat pusat
data  (data center) mengalami gangguan atau tidak dapat berfungsi antara
lain karena tidak adanya aliran listrik ke ruang computer, kebakaran, ledakan
atau kerusakan pada computer, yang digunakan sementara waktu selama
dilakukannya  pemulihan  pusat  data  bank  untuk  menjaga  kelangsungan
kegiatan usaha.
Pihak nasabah merupakan unsur   yang sangat penting dalam dunia
perbankan,  apabila  ada  kerusakan  terhadap  jaringan
 electronic  banking
maka pihak bank harus memberikan perlindungan terhadap nasabah guna
mencegah  merosotnya  kepercayaan  masyarakat  terhadap  pihak  bank.
Sebagaimana   teknologi   lainnya,   selain   memiliki   kelebihan   berupa
kemudahan  dan  manfaat  luas  yang  meningkatkan  kualitas  kehidupan
manusia,   maka   layanan   perbankan   elektronik   juga   memiliki   banyak
kelemahan  yang  patut  diwaspadai  dan  diantisipasi,  sehingga,  teknologi
tersebut tetap dapat dipakai, manfaatnya terus dinikmati oleh umat manusia
namun  juga  harus  ada  tanggung  jawab,  pengawasan  dan  upaya  untuk
memperbaiki kelemahan, menanggulangi permasalahan yang mungkin timbul
serta yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran dan menanamkan



43
pemahaman tentang resiko dari pemanfaatan teknologi yang digunakan oleh
layanan  perbankan  itu  terutama  kepada  masyarakat  luas,  pengguna/
nasabah, pemerintah/regulator, aparat penegak hukum dan penyelenggara
layanan  itu  sendiri (bank,  merchant.),  karena  masalah  keamanan  adalah
tanggung  jawab  bersama,  semua  pihak  harus  turut  serta  berperan  aktif dalam upaya pengamanan.
Kerjasama semua pihak yang terkait pemanfaatan teknologi ini sangat
diperlukan. Ada sebuah istilah dalam dunia information security yaitu  your
security is my security ,16  artinya semua pihak pasti memiliki titik kerawanan
dan karenanya masing-masing memiliki potensi risiko yang mungkin dapat
dieksploitasi  oleh  pihak  lain  yang  berniat  tidak  baik.  Maka  apabila  terjadi
insiden terkait kerawanan itu, seluruh komponen yang saling terkait harus
turut  bertanggung  jawab  untuk  menanggulangi  dan  meningkatkan  upaya
meminimalisir  resiko  serta  mencegah  kejadian  serupa  di  masa  depan,
misalnya, bank tidak mungkin melakukan pengamanan apabila nasabah tidak
memiliki   pemahaman   mengenai   kemungkinan   risiko   kerawanan   dan
kelemahan  pada  sistem  elektronik  yang  digunakan.  Sebaliknya,  nasabah
yang telah berhati-hati sekalipun akan dapat menjadi korban apabila bank
lalai atau gagal di dalam pengawasan dan upaya peningkatan pengamanan
sistem secara terus-menerus.
Demikian  juga  apabila  aturan  dari  pemerintah  lemah  dan  penegak
hukum  tidak  memiliki  kemampuan  yang  memadai  untuk  terus  mengikuti




16
Ibid.




44
perkembangan sistem dan teknologi maka ketika terjadi insiden akan sulit untuk  melakukan  penindakan  terhadap  semua  pihak  yang  seharusnya bertanggung jawab, sehingga semuanya saling terkait, tidak berdiri sendiri, pihak yang berniat jahat akan selalu memilih celah kerawanan yang paling lemah sebagai pintu masuk, sehingga semua pihak turut bertanggung jawab dan harus saling membantu  (bekerjasama) untuk mengawasi, memperbaiki dan menutup celah tersebut tanpa saling menyalahkan karena justru akan berakibat  melemahkan  peran  dan  potensi  setiap  pihak  dalam  upaya pengamanan bersama.
Setiap pihak adalah satu simpul rangkaian rantai pengamanan dan
semua   saling   bergantung   satu   sama   lain,   karenanya   semua   sama
pentingnya. Masyarakat pada umumnya dan nasabah pada khususnya harus
terus  mendapatkan  update  informasi  tentang  masalah  keamanan  di  dunia
perbankan, bahkan bila diperlukan bank harus melakukan kampanye secara
umum  agar  masyarakat  dan  nasabah  paham  adanya  ancaman  bahaya.
Misalnya, harus dijelaskan kondisi di sekitar mesin ATM dan prosedur serta
etika yang sebaiknya diterapkan ketika memanfaatkan layanan tersebut.


Visitor