Akar Perbedaan Raka’at Tarawih Dan Pendapat menurut 4 Madzhab

 
Makalah ini akan memaparkan Pengetian, Sejarah dan Perbedaan Jumlah rakaat tarawih menurut 4 mazhab, Menurut Imam Syafi’i menjelaskan dalam kitabnya Al-Umm
“Bahwa shalat malam bulan Ramadhan itu, secara sendirian itu lebih aku sukai, dan saya melihat umat di madinah melaksanakan 39 rakaat, tetapi saya lebih suka 20 rakaat, karena itu diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab

BAB 1

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

1.      Salat Sunat Tarawih / Taraweh / Teraweh

Sholat tarawih adalah sholat yang dikerjakan di malam bulan ramadhan yang dapat dikerjakan secara sendiri-sendiri atau berjamaah bersama-sama. Waktu pelaksanaan sholat tarawih adalah setelah pelaksanaan solat isya sampai dengan terbit fajar shubuh.
Solat trawih hukumnya sunat muakkad / sunat penting yang terdiri dari 8 atau 20 rokaat diakhiri dengan shalat sunah witir 3 roka'at. Setiap dua atau empat roka'at diakhiri satu salam. Pada raka'at kedua ada baiknya membaca surat al-ikhlas setelah membaca surat al-fatihah.
2.      Solat Sunah Witir
Sholat witir adalah ibadah sholat tambahan yang dikerjakan pada malam hari di bulan romadhon yang menjadi penutup ibadah dengan jumlah rakaat yang ganjil. Setiap dua rokaat dilanjutkan dengan satu tahiyat. Hukum solat witir adalah sunat muakkad yang waktu pengerjaan solatnya adalah setelah salat isya atau setelah salat tarawih.
Sholat witir dikerjakan dengan jumlah rokaat yang ganjil. Jika melakukan witir tiga roka'at dapat langsung salam / satu tahiyat. Pada rokaat pertama dibaca surat al-a'laa, rakaat kedua al kafirun dan yang ketiga membaca tiga surat sekaligus berurutan al ikhlas, al falaq dan an naas.


B.     Tujuan Dan Manfaat

1.      Tujuan.
a.       Untuk mengetahui  sejarah solat sunnah Tarawih.
b.      Untuk memahami raka’at solat terawih.
2.      Manfaat.
a.       Mahasiswa.
Dengan makalah ini teman- teman mampu mengetahui lebih dalam tentang beberapa perbedaan raka’at solat sunnah tarawih.
b.      Diharapkan bagi intuisi dapat bergunas sebagai acuan mahasiswa.


Akar Perbedaan Raka’at Tarawih Dan Pendapat menurut 4 Madzhab


BAB II

PEMBAHASAN




A.    SEJARAH SHOLAT TARAWIH.


Rasulullah saw menganjurkan kepada kita untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan memperbanyak Shalat. Abu Hurairah r.a. menceritakan bahwa Nabi saw. Sangat menganjurkan Qiyamul Lail di Bulan Ramadhan dengan tidak mewajibkannya. Kemudian Nabi saw. Bersabda, “Siapa yang mendirikan shalat di malam Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (muttafaq alaih).
Dan fakta sejarah memberi bukti, sejak zaman Rasulullah saw. hingga kini, umat Islam secara turun temurun mengamalkan anjuran Rasulullah ini. Alhamdulillah. Tapi sayang, dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan di beberapa hal yang kadang mengganggu ikatan ukhuwah di kalangan umat. Seharusnya itu tak boleh terjadi jika umat tahu sejarah disyariatkannya shalat tarawih.

Pada awalnya shalat tarawih dilaksanakan Nabi saw. dengan sebagian sahabat secara berjamaah di Masjid Nabawi. Namun setelah berjalan tiga malam, Nabi membiarkan para sahabat melakukan Shalat Tarawih secara sendiri-sendiri. Hingga dikemudian hari, ketika menjadi Khalifah, Umar bin Khattab menyaksikan adanya fenomena shalat tarawih terpencar-pencar di dalam Masjid Nabawi. Terbersit di benak Umar untuk menyatukannya.Umar memerintahkan Ubay bin Kaab untuk memimpin para sahabat melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah. ‘Aisyah menceritakan kisah ini seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Untuk selengkapnya silahkan lihat Al-Lu’lu War Marjan: 436. berdasarkan riwayat itulah kemudian para ulama sepakat menetapkan bahwa Shalat tarawih secara berjama’ah adalah sunnah

Bahkan, para wanita pun dibolehkan ikut berjamaah di masjid, padahal biasanya mereka dianjurkan untuk melaksanakan shalat wajib di rumah masing-masing. Tentu saja ada syarat: harus memperhatikan etika ketika di luar rumah. Yang pasti, jika tidak ke masjid ia tidak berkesempatan atau tidak melaksanakan shalat tarawih berjamaah, maka kepergiannya ke masjid tentu akan memperoleh kebaikan yang banyak.Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Berapa rakaat shalat tarawih para sahabat yang diimami oleh Ubay bin Kaab? Hadits tentang kisah itu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tidak menjelaskan hal ini.

Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Hanya menyebut Rasulullah saw. shalat tarawih berjamaah bersama para sahabat selama tiga malam. Berapa rakaatnya, tidak dijelaskan. Hanya ditegaskan bahwa tidak ada perbedaan jumlah rakaat shalat malam yang dilakukan Rasulullah di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Jadi, hadits ini konteksnya lebih kepada shalat malam secara umum. Maka tak heran jika para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk shalat malam secara umum.

Misalnya, Iman Bukhari memasukkan  hadits ini ke dalam Bab Shalat Tahajjud. Iman Malik di Bab Shalat Witir Nabi saw. (Lihat Fathul Bari 4/250 dan Muwattha’ 141). Inilah yang kemudian memunculkan perbedaan jumlah rakaat. Ada yang menyebut 11, 13, 21, 23, 36, bahkan 39. Ada yang berpegang pada hadits ‘Aisyah dalam Fathul Bari,



“Nabi tidak pernah melakuka shalat malam lebih dari 11 rakaat baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.”



Sebagian berpegang pada riwayat bahwa Umar bin Khattab (seperti yang tertera di Muwattha’ Imam Malik) menyuruh Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dari untuk melaksanakan shalat tarawih 11 rakaat dengan rakaat-rakaat yang  panjang. Namun dalam riwayat Yazid bin Ar-Rumman dikabarkan jumlah rakaat shalat tarawih yang dilaksanakan di zaman Umar Adalah 23 raka’at.
Dalam kitab Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, Imam At-Tirmidzi menyatakan bahwa Sayyidina Umar.ra, Sayyidina Ali.ra, dan sahabat lainnya melaksanakan shalat tarawih 20 Raka’at selain witir.
Pendapat ini didukung Imam At-Tsauri, Imam Ibnu Mubarak, dan Imam Asy-Syafi’i. Di Fathul Bari ditulis bahwa di masa Umar bin Abdul Aziz, kaum muslimin shalat tarawih hingga 36 rakaat ditambah witir 3 rakaat. Imam Malik berkata bahwa hal itu telah lama dilaksanakan. Masih di Fathul Bari, Imam Syafi’i dalam riwayat Az-Za’farani mengatakan bahwa ia sempat menyaksikan umat Islam melaksanakan shalat tarawih di Madinah dengan 39 rakaat dan di Makkah 33 rakaat. Menurut Imam Syafi’i, jumlah rakaat shalat tarawih memang memiliki kelonggaran.

Dari keterangan di atas, jelas akar persoalan shalat tarawih bukan pada jumlah rakaat. Tapi, pada kualitas rakaat yang akan dikerjakan. Ibnu Hajar berkata,



“Perbedaan yang terjadi dalam jumlah rakaat tarawih mucul dikarenakan panjang dan pendeknya rakaat yang didirikan. Jika dalam mendirikannya dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka berakibat  pada sedikitnya jumlah rakaat; dan demikian sebaliknya.”


Imam Syafi’i berkata, 

“Jika shalatnya panjang dan jumlah rakaatnya sedikit itu baik menurutku. Dan jika shalatnya pendek, jumlah rakaatnya banyak itu juga baik menurutku, sekalipun aku lebih senang pada yang pertama.”
 Selanjutnya beliau mengatakan bahwa orang yang menjalankan tarawih 8 rakaat dengan 3 witir dia telah mencontoh Rasulullah, sedangkan yang menjalankan tarawih 23 rakaat mereka telah mencontoh Sayyidina Umar.ra, generasi sahabat dan Tabi’in. Bahkan, menurut Imam Malik, hal itu telah berjala lebih dari ratusan tahun.

Menurut Imam Ahmad, tidak ada pembatasan yang signifikan dalam jumlah rakaat tarawih, melainkan tergantung panjang dan pendeknya rakaat yang didirikan. Imam Az-Zarqani mengkutip pendapat Ibnu Hibban bahwa tarawih pada mulanya 11 rakaat dengan rakaat yang sangat panjang, kemudian bergeser menjadi 20 rakaat tanpa witir setelah melihat adanya fenomena keberatan umat dalam melaksanakannya. Bahkan kemudian dengan alasan yang sama bergeser menjadi 36 rakaat tanpa witir (lihat Hasyiyah Fiqh Sunnah: 1/195)

Jadi, tidak ada alasan sebenarnya bagi kita untuk memperselisihkan jumlah rakaat. Semua sudah selesai sejak zaman sahabat. Apalagi perpecahan adalah tercela dan persatuan umat wajib dibina. Isu besar dalam pelaksanaan shalat tarawih adalah kualitas shalatnya. Apakah benar-benar kita bisa memanfaatkan shalat tarawih menjadi media yang menghubungkan kita dengan Allah hingga ke derajat ihsan?






B.     Tata Cara Melaksanakan Tarawih




Hadits Bukhari yang diriwayatkan Aisyah menjelaskan cara Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam adalah dengan tiga salam. Jadi, dimulai dengan 4 rakaat yang sangat panjang lalu ditambah 4 rakaat yang panjang lagi kemudian disusul 3 rakaat sebagai witir(penutup).Boleh juga dilakukan dengan dua rakaat dua rakaat dan ditutup satu rakaat. Ini berdasarkan cerita Ibnu Umar bahwa ada sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. tentang cara Rasulullah saw. mendirikan shalat malam. Rasulullah saw. menjawab, “Shalat malam didirikan dua rakaat dua rakaat, jika ia khawatir akan tibanya waktu subuh maka hendaknya menutup dengan satu rakaat" (muttafaq alaih, lihat Al-Lu’lu War Marjan: 432). Rasulullah saw. sendiri juga melakukan cara ini (lihat Syarh Shahih Muslim 6/46-47 dan Muwattha’: 143-144).


Dari data-data di atas, Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa Rasulullah saw. kadang melakukan witir dengan satu rakaat dan kadang tiga rakaat. Jadi, sangat tidak pantas jika perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih menjadi isu yang pemecah persatuan umat. Di bulan ramadhan ini ada fenomena unik tentang sholat tarawih. Ya sholat sunnah yang hanya ada d bulan penuh kemuliaan ini dilakukan dengan jumlah rakaat yang berbeda-beda di tiap masjid. Banyak umat muslim yang sholat tarawih sebanyak 11 rakaat namun tidak sedikit pula yang menjalankan sholat tarawih sebanyak 23 rakaat.



C.    Akar Perbedaan


1.      Perbedaan terjadi karena tidak ada satu pun hadits yang shahih dan sharih (jelas/eksplisit) yang menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih yang dilakukan oleh Rasululullah SAW. Prof. Ali Mustafa Yaqub, MA, menerangkan bahwa tidak ada satu pun hadits yang derajatnya mencapai shahih tentang jumlah rakaat shalat tarawih (yang istilah shalat tarawih memang tidak ada pada masa Rasul) yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Kalau pun ada yang shahih derajatnya, namun dari segi istidlalnya (penunjukan maknanya) tidak menyebutkan jumlah rakaat shalat tarawih.

2.      Perbedaan pandangan apakah shalat tarawih itu sama dengan shalat malam atau keduanya adalah jenis shalat sendiri-sendiri.

Abu Salamah bin Abdurrahman bertanya tentang shalatnya Rasulullah dalam bulan Ramadhan, maka Aisyah ra berkata,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ   حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

Artinya : Tidaklah Rasulullah SAW menambah (rakaat shalat malam) di dalam bulan Ramadhan dan tidak pula diluar bulan Ramadhan dari 11 rakaat. Beliau melakukan sholat 4 rakaat dan janganlah engkau tanya mengenai betapa baik dan panjangnya, kemudian beliau kembali sholat 4 rakaat dan jangan engkau tanyakan kembali mengenai betapa baik dan panjangnya, kemudian setelah itu beliau melakukan sholat 3 rakaat. (HR Bukhori dan Muslim, redaksi menurut Muslim no. 1219, Maktabah Syamilah v. 3).


Hadits ini dijadikan dasar bagi yang berpendapat bahwa shalat tarawih adalah 11 rakaat (termasuk witir).



حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي

1.      Yahya bin yahya

Nama                   : yahya bin yahya bin bakir bin abdul rahman.

Periode                : kibar tabi’in liatbai’n linasbi Litamini Lahna.

Julukan                : Abu Zakariyah.

Tahun Kematian : 226 Hijjriah.



Nama Guru                                                                                         Panggilan

-          Ibrahim bin Said bin Ibrahim bin Abdul Rahman bin Auf.          Abu Isak

-          Ismail bin Jaid dan Abu Ktsir.                                                      Abu Isak

-          Ismail bin ibrahim bin Maksum.                                                    Abu Basir

-          Ismail bin Jaid bin Abu Ktsir.                                                       Abu isak



Nama Murid                                                                                        Panggilan

-          Abdullah bin Abdillah bin Ibrahim.                                              Abu khodir

-          Muslim bin Khujad bin Muslim.                                                   Abu Khasan



Nama Ulama                                                                                       Pandangan

-          Ahmad bin Hanbal.                                                                       Fiqih wazaidah

-          Ishak bin Zahuyah.                       Marayatu Mutalah Walaroyu mitsalun nafisah

-          Akhmad bin Siro.                                                                          Siqoh

-          Ishak bin Hawiyah.                       Marayatu matalah walaroyu mitsalun nafisah

-          Ahmad bin Hambal.                                                                      Siqoh









2.      Malik

Nama                  : Malak bin Anas bin Malik bin Abi Umar.

Periode               : kabar liatbai- Linnasabi: biashabi yanmir.

Julukan               : Abu Abdullah

Kenegaraan        : Madinah

Tahun Kematian : 179 Hijjriah



Nama Guru                                                                                          Panggilan

-          Ibrahim bin Aqiyamah bin Abi Aisy.                                                   -

-          Abu Bakar bin Umar bin Abdul Rahman bin abdullah bin Umar. Abu Bakar

-          Abu Bakar bin Muhammad bin Kumar wa bin Hazam.                 Abu Bakar

-          Abu Bakar bin Umar bin Abdul Rahman bin Abdullah bin Umar.     -

-          Abu Bakar bin Muhammad bin Umar wa bin Hasyim.                Abu Muhammad





Nama Murid                                                                                        Panggilan

-          Ibrahim bin tohamin bin sa’abah.                                      Abu zaid

-          Ibrahim bin Umar bin Maslut.                                                       Abu ishan

-          Ibrahim bin muhammad bin Halis bin Isma bin Isma.                  Abu Ishaq

-          Ibrahim bin Umar bin matluf.                                                       Abu Ishaq

-          Ibrahim bin Muhammad bin Halis bin asma’i bin wajhal.            Abu Ishak







3.      Said Abi said Azmaqbuli

Nama                  : Said bin abi Said

Periode               : Lassiti Minattabi’in

Julukan               : Abu Said

Kenegaraan        : Madinah

Tahun Kematian : 123 Hijjriah



Nama Guru                                                                                         Panggilan

-          Abu said nawali limahali.                                                  Abu Said

-          Ishan bin abdullah bin halis bin haqli.                                           Abu Yakub

-          Anas bin malik bin nasih bin zaid.                                                Abu hamizah



Nama Murid                                                                                        Panggilan

-          Ibrahim bin fadil.                                                                          Abu Ishan

-          Asmah bin Zaid.                                                                           Abu Said

-          Ishan bin abi Lafad                                                                              -

Nama Ulama                                                                                       Pandangan

-          Ahmad bin Hambal.                                                                      Laysa bini bas

-          Ali bin Lamadinni.                                                                        Siqof

-          Liazali.                                                                                          Siqof

-          Ali bin Limadinni.                                                                         Siqof

-          Liazali.                                                                                          Siqof



4.      Aisyah

Nama                  : Aisyah binti Abi Banah Lissodif

Periode               : sahabi- Linasabi

Julukan               : Amun Abdullah

Kenegaraan        : Madinah

Tahun Kematian : 58 hijjriah



Nama Guru                                                                                         Panggilan

-          Said bin hadih bin samaif bin antiq.                                             Abu yahya

-          Jadimah binti wahab.                                                                          -

-          Jadimah binti wahab.                                                                          -

-          Hamzah bin umar bin umayyah.                                                   Abu Solih

-          Hamanial binti hamsi.                                                                         -



Nama Murid                                                                                        Panggilan

-          Ibrohim bin yazid bin syahid.                                                       Abu Asma

-          Ibrahim bin abid bin fah bin yati.                                                        -

-          Ibrahim bin yazid bin syaroq.                                                       Abu asma

-          Ibrohim bin yazid bin qobish.                                                       Abu Umar

-          Ibrohim bin yazid.                                                                         Abu Asma



Kalaupun bisa disepakati bahwa shalat tarawih adalah termasuk shalat malam yang dimaksud oleh hadits diatas, maka sebenarnya hadits diatas tidaklah melarang untuk shalat malam lebih dari 11 rakaat. Bagaimana mungkin jumlah rakaatnya shalat malam Rasul berbeda-beda padahal bersumber dari satu orang, yakni Aisyah. 


Sedangkan Imam Nawawi menjelaskan bahwa jumlah rakaat salat malamnya Rasulullah SAW berbeda-beda karena bergantung kondisi, masih luangnya waktu, karena udzur atau lagi sakit, atau saat beliau sudah lanjut usia, sebagaimana riwayat Aisyah:

( فَلَمَّا أَسَنَّ صَلَّى سَبْع رَكَعَات )

Ketika beliau sudah lanjut usia beliau shalat (malam) 7 raka’at. (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim,  3/70, Maktabah Syamilah v. 3)

Jadi, sebenarnya dari sini saja bagi yang menyatakan shalat malam dengan tarawih itu sama maupun yang mengatakan berbeda–seharusnya sudah tidak perlu dipersoalkan mau shalat malam berapa rakaat, dan tidak ada bidah dalam jumlah rakaat ini, perbedaan yang ada hanya terbatas mana yang dianggap lebih afdhal, lebih baik atau lebih disukai (mustahab).


3.     Perbedaan riwayat yang menyatakan shalat tarawih secara jelas, yang dilakukan pada masa Umar bin Khattab (keduanya diriwayatkan Imam Malik ra).

Dari Saib bin Yazid ia berkata:

أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً قَالَ وَقَدْ كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئِينَ حَتَّى كُنَّا نَعْتَمِدُ عَلَى الْعِصِيِّ مِنْ طُولِ الْقِيَامِ

Artinya : “Umar bin Al-Khottob telah memerintahkan Ubay bin Kaab dan Tamim Ad-Dariy supaya keduanya mengimami orang-orang dengan melaksanakan sholat 11 rakaat, dia berkata: dan sesungguhnya qari (imam) membaca ratusan ayat (dalam satu rakaat) sampai kami bersandar pada tongkat kami karena lamanya berdiri’. (Imam Malik, Al Muwaththo, hadits no 232, Maktabah Syamilah v. 3)


Dalam kitab Fathul Bary di jelaskan kalau mereka dalam satu rakaat membaca 200 ayat, Ubay bin Kaab mengimami laki laki, Tamim Ad Dary mengimami perempuan (ditempat yang berbeda), atau disebutkan Ubay bin Kaab mengimami dan dilain waktu Tamim Ad Dary yang mengimami (Ibn Hajar Al Asqalany, Fathul Bary, 6/292)

D.   Tarawih 4 madzhab


Ada beberapa Perbedaan pendapat rakaat tarawih menurut 4 mazhab, mengenai bilangan rakaat yang dilakukan kaum muslimin pada bulan Ramadhan sebagai berikut:

1.      Madzhab Hanafi


Sebagaimana dikatakan Imam Hanafi dalam kitab Fathul Qadir bahwa Disunnahkan kaum muslimin berkumpul pada bulan Ramadhan sesudah Isya’, lalu mereka shalat bersama imamnya lima Tarawih (istirahat), setiap istirahat dua salam, atau dua istirahat mereka duduk sepanjang istirahat, kemudian mereka witir (ganjil).

Walhasil, bahwa bilangan rakaatnya 20 rakaat selain witir jumlahnya 5 istirahat dan setiap istirahat dua salam dan setiap salam dua rakaat = 2 x 2 x 5 = 20 rakaat.



2.      Madzhab Maliki


Dalam kitab Al-Mudawwanah al Kubro, Imam Malik berkata, Amir Mukminin mengutus utusan kepadaku dan dia ingin mengurangi Qiyam Ramadhan yang dilakukan umat di Madinah. Lalu Ibnu Qasim (perawi madzhab Malik) berkata “Tarawih itu 39 rakaat termasuk witir, 36 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir” lalu Imam Malik berkata “Maka saya melarangnya mengurangi dari itu sedikitpun”. Aku berkata kepadanya, “inilah yang kudapati orang-orang melakukannya”, yaitu perkara lama yang masih dilakukan umat.

Dari kitab Al-muwaththa’, dari Muhammad bin Yusuf dari al-Saib bin Yazid bahwa Imam Malik berkata, “Umar bin Khattab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim al-Dari untuk shalat bersama umat 11 rakaat”. Dia berkata “bacaan surahnya panjang-panjang” sehingga kita terpaksa berpegangan tongkat karena lama-nya berdiri dan kita baru selesai menjelang fajar menyingsing. Melalui Yazid bin Ruman dia berkata, “Orang-orang melakukan shalat pada masa Umar bin al-Khattab di bulan Ramadhan 23 rakaat”.

Imam Malik meriwayatkan juga melalui Yazid bin Khasifah dari al-Saib bin Yazid ialah 20 rakaat. Ini dilaksanakan tanpa wiitr. Juga diriwayatkan dari Imam Malik 46 rakaat 3 witir. Inilah yang masyhur dari Imam Malik.



3.      Madzhab as-Syafi’i


Imam Syafi’i menjelaskan dalam kitabnya Al-Umm, “bahwa shalat malam bulan Ramadhan itu, secara sendirian itu lebih aku sukai, dan saya melihat umat di madinah melaksanakan 39 rakaat, tetapi saya lebih suka 20 rakaat, karena itu diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab. Demikian pula umat melakukannya di makkah dan mereka witir 3 rakaat.

Lalu beliau menjelaskan dalam Syarah al-Manhaj yang menjadi pegangan pengikut Syafi’iyah di Al-Azhar al-Syarif, Kairo Mesir bahwa shalat Tarawih dilakukan 20 rakaat dengan 10 salam dan witir 3 rakaat di setiap malam Ramadhan.



4.      Madzhab Hanbali


Imam Hanbali menjelaskan dalam Al-Mughni suatu masalah, ia berkata, “shalat malam Ramadhan itu 20 rakaat, yakni shalat Tarawih”, sampai mengatakan, “yang terpilih bagi Abu Abdillah (Ahmad Muhammad bin Hanbal) mengenai Tarawih adalah 20 rakaat”.

Menurut Imam Hanbali bahwa Khalifah Umar ra, setelah kaum muslimin dikumpulkan (berjamaah) bersama Ubay bin Ka’ab, dia shalat bersama mereka 20 rakaat. Dan al-Hasan bercerita bahwa Umar mengumpulkan kaum muslimin melalui Ubay bin Ka’ab, lalu dia shalat bersama mereka 20 rakaat dan tidak memanjangkan shalat bersama mereka kecuali pada separo sisanya. Maka 10 hari terakhir Ubay tertinggal lalu shalat dirumahnya maka mereka mengatakan, “Ubay lari”, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan as-Saib bin Yazid.

Dari apa yang kami sebutkan itu kita tahu bahwa para ulama’ dalam empat madzhab sepakat bahwa bilangan Tarawih 20 rakaat. Kecuali Imam Malik karena ia mengutamakan bilangan rakaatnya 36 rakaat atau 46 rakaat. Tetapi ini khusus untuk penduduk Madinah. Adapun selain penduduk Madinah, maka ia setuju dengan mereka juga bilangan rakaatnya 20 rakaat.

Para ulama ini beralasan bahwa shahabat melakukan shalat pada masa khalifah Umar bin al-Khattab ra di bulan Ramadhan 20 rakaat atas perintah beliau. Juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang shahih dan lain-lainnya, dan disetujui oleh para shahabat serta terdengar diantara mereka ada yang menolak. Karenanya hal itu menjadi ijma’, dan ijma’ shahabat itu menjadi hujjah (alasan) yang pasti sebagaimana ditetapkan dalam Ushul al-Fiqh.





Kesimpulan


Tidak ada batasan jumlah rakaat, baik shalat malam maupun shalat tarawaih (kalau dianggap berbeda dg shalat malam). Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani menulis berbagai pendapat tentang jumlah rakaat shalat tarawih, yakni 11, 13, 21,23, 24,26 (tanpa witir), 33, 36,39,41, 47 rakaat.


Perbedaan yang ada adalah dalam rangka meringankan (11 rakaat terlalu lama berdiri maka rakaatnya ditambah, sehingga bisa duduk dulu). Jadi pembahasan jumlah rakaat kaitannya dengan kualitas bacaan shalatnya. Ibnu Hajar berkata, Perbedaan yang terjadi dalam jumlah rakaat  tarawih mucul dikarenakan panjang dan pendeknya rakaat yang didirikan. Jika dalam mendirikannya dengan rakaat-rakaat yang panjang, maka berakibat pada sedikitnya jumlah rakaat dan demikian sebaliknya.






DAFTAR PUSTAKA




1.      http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2670-shalat-tarawih-11-ataukah-23-rakaat.html

2.http://organisasi.org/pengertian_penjelasan_dan_tata_cara_shalat_sunat_tarawih_dan_solat_witir_arti_definisi_syarat_praktek_ibadah_sholat_sunah

3.      http://emka.web.id/ke-nu-an/2010/jumlah-raka%e2%80%99at-shalat-tarawih-menurut-madhab-empat/

Visitor