Makalah Hukum Islam Pada Masa Sahabat Rasulullah SAW



Makalah Pengertian Hukum Islam pada masa sahabat? Sumber hukum islam? Ijtihad pada masa Sahabatl? Contoh ijtihad sahabat? 



BAB I
PENDAHULUAN
Telah kita ketahui bahwa sumber penetapan hukum di masa Nabi ialah al-Quran dan as-Sunah. Nabi SAW merupakan rujukan tertinggi dalam berfatwa dan memutuskan hukum. Lalu setelah Nabi wafat dan wahyu tidak turun lagi, kepemimpian umat dalam urusan dunia dan agama beralih ke tangan Khulafa’u Rasyidin dan para sahabat terkemuka. Mereka itulah yang mulai memikul beban dan bangkit dalam tugas berat ini.
Mereka betul-betul menghadapi tugas berat, karena daerah pendudukan Islam semakin luas dan pengaruh Arab menembus ke luar jazirah. Mereka melebarkan kekuasaan samai ke Mesir, Persia dan Irak. Orang berduyun-duyun masuk Islam. Berbagai bangsa bergabung di bawah bendera kekuasaannya. Akhirnya kaum muslimin menyadari kalau mereka tengah menghadapi peristiwa-peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setiap negeri memiliki etika, istiadat dan sistem tersendiri yang dianut dalam pergaulan dan interaksi sesama mereka untuk mencari pijakan hukumnya dalam al-Quran dan as-Sunah.
Tentu saja al-Quran dan Sunnah tidak memuat semua peristiwa yang terjadi dan bakal terjadi pada kaum muslimin secara terperinci. Sebagai konsekuensinya, maka para imam dituntut untuk berijtihad dalam menerapkan ketentuan-ketentuan umum yang sudah ditetapkan dalam al-Quran dan Sunnah.
Dalam makalah ini, kami akan membahas kondisi hukum Islam di masa Khulafa’u Rasyidin, ijtihad yang mereka lakukan dan informasi penting seputar analisis hukum di masa ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    KONDISI HUKUM ISLAM PADA MASA KHULAFA’UR RASYIDIN
Sudah anda ketahui bahwa sumber hukum pada masa Nabi SAW ialah al-Quran dan as-Sunnah. Beliau pada waktu itu merupakan tempat kembali (rujukan) tertingi dalam fatwa dan peradilan. Setelah wafat, wahyupun  terhenti dan beliau meninggalkan untuk umat dua hal besar sebagaimana sabda beliau:
Aku tinggalkan untukmu dua perkara yang apabila kamu berpegang teguh kepadanya, niscaya kamu tidak akan sesat selamanya, yaitu kitab suci al-Quran dan sunah Rasul.” (HR. Malik).

Setelah wafatnya Rasulullah ini, para sahabat besarlah (senior) yang memikul beban perjuangan Islam. Mereka menghadapi tugas yang sulit dan perkara yang besar, lantaran meluasnya daerah Islam ke luar jazirah Arab, seperti Mesir, Persia dan Irak. Karena hal inilah, orang-orang muslim mendapatkan dirinya dihadapkan kepada peristiwa dan kejadian baru yang belum pernah dialaminya dalam sepanjang hidupnya.
Peristiwa dan kejaidan itu semua membuat mereka sibuk mencari penyelesaian hokum-hukumnya dalam al-qurandan as-sunnah. Tam,pak jelas bahwa kedua sumber tersebut belm menetapkan hokum masalah-maslah yang melanda kaum muslimi itu.
Untungnya, Rasulullah telah menyiapkan bagi mereka jalan berijtoihad, melatih dan meridhai mereka serta menetapkan pahala atas ijtihad mereka, benar atu salah.[1] Karenanya, mereka mencurahkan kemampuanya dan bersemangat mengeluarkan hokum-hukum permasalahan yang mereka hadapi.
Istinbath (mengeluarkan hukum dari nash umum) pada masa ini terbatas pada kasus-kasus atau peristiwa yang terjadi saja, mereka tidak mengkhayalkan masalah-maslah yang belum terjadi (prediksi) dan megira-ngira bakal terjadi, lalu mencari hukumnya sebagaimana yang dilakukan ulama mutaakhiri.

Adapun cara para sahabat mengistinbathkan hukum dapat dilihat dalam hadits yang riwayatkan  al-Baghawy  dari Maimun bin Mahran, yaitu:
“Abu Bakar, apabila diadukan kepadanya perselisihan, ia melihat klepada kitabullah. Apabila ditemukan hokum yang dpat memutuskan perkara mereka, ia putuskan dengan hukum tersebut. Tapi bila tidak mendapatkan dalam kitabullah dan mengetahui sunnah Rasulullah tentanghal itu, maka ia memutuskan dengan sunnah tersebut. Bila tidak ditemukan juga (dalam sunnah), ia betanya kepada sahabat; apakah diantara kalian yang tahu Rasulullah menetapkn hokum dalam masalah ini terkadang beliau memperoleh berita bahwa Rasulullah pernah memutuskan perkara seperti itu dan terkadang tidak. Bila tidak diperoleh, ia mengumpulkan tokoh-tokoh msyarakat untuk bermuyawarah. Bila diperoleh kesepakatan hukumnya, ia memutuskan degan hasil kespeakatan tersebut.”
Umarbin khatabjuga melakukan hal yang sama. Dari riwayat ini jelas bahwa mereka dalam berfatwa sersandar kepada empat hal yang merupakan sumber hokum pada masa itu, yaitu al-quran, sunnah rasulullah, ijma’ dan ra’yu.[2]

B.     IJTIHAD PADA MASA KHULAFA’UR RASYIDIN
After the time of the prophet came the era of the great sahabah and the rightly guided khulafa’. This period lasted from 11 to 40 AH. Reciters (qurra’) was the term used at the time to denote those sahabah who had a good understanding of fiqh and gave fatawa.[3]

Khulafa’u Rasydin
a.      Abu Bakar Shidiq (632-634 M)
Ia seorang ahli hukum yang tinggi mutunya dan dikenal sebagai orang yang orang yang jujur dan disegani. Tindakan-tiondakan penting yang dilakukannya.
1.      Pidatinya pada waktu pelantikan yang berbunyi:
“Aku telah kalian pilih sebagai khalifah, kepala Negara tetapaku bukanlah yang terbaik dianata kalian. Karena jika aku melakukan seskuatu yang benar ikutilah dan bantulah aku, tetapi jika aku melakukn kesalahan, perbaikilah sebab, menurut pendapatku, menyatakan yang benar ialah amanat, membohongi rakyat ialah pengkhianat.” selanjutnyabeliau berkata: “ikutilah perintahlku selama kumengokuti perinth Allah dan rasul-Nya. Jika aku tidak mengikuti perintah Allah dan rasul-Nya, kalian berhak untuk tidak patuh kepadaku dan aku pun tidak akan menuntut kepatuhan kalian.”

Kata-kata ini menjadi dasar dalam mnentukan hubungan antra rakyat dengan penguasa, anatara pemerintah dan warga Negara.
2.      Cara yang dilakukan dalam memecahkan persoalan, mula-mula dicarinya wahyu dalam wahyu tuhan. Kemudian dalam dunah nabi, kemudian abu baker bertanya kepada sahabat nabi yang dikumpulkan dalam majlis. Majlis ini melakukan ijtihad lalutimbullah consensus bersama yang disebut ijma.
a. Pembentukan panitia khusus yang bertugas mengunpulkan catatan ayat-ayat al-quran yang telah ditulis di zaman nabi pada bahan-bahan darurat seperti pelepah-pelepah kurma, tulang-tulan unta, kemudian dihiimpun dalam suatu naskah. Panitia ini dipimpin oleh Zaid bin Tsabit, salah seorang sekretaris nabi Muhammad.

b.      Umar bin Khathab (634-644 M)
Tindakannya:
1.      Turut aktif menyiarkan agama islam sampaike palestina, syiria, irak dan Persia serta ke mesir.
2.      Menetapkan tahun hijriah sebagai tahun islam yang terkenal.
3.      Menetapkan kebiasaan shalat tarawih
4.      Dan Lain Sebagainya


c.       Usman bin Affan (644-656 M)
Tindakannya:
1.      Menyalin dan membuat al-Quran standar yang disebut dengan kodifikasi al-Quran.
2.      Membentuk kembali panitia yang dihimpun oleh Zaid bin Tsabit, menyalin kembali naskah-naskah al-Quran ke dalam lima mushaf, kemudian dikirim ke ibu kota propinsi (Mekkah, Kairo, Damaskus, dan Baghdad). Naskah usmani ialah naskah yang disalin pada masa pemerintahannya yang. Sebagai kenangan atas jasa-jasanya disebut juga al-Imam.

d.      Ali bin Abi Thalib (656-662 M)
Dalam pemerintahannya timbul bibit perpecahan yang bermuara pada perang saudara dan timbulnya kepompok-kelompok,[4] sehingga pada masanya lebih berpokus pada kemananan Negara.



BAB III
PENUTUP
1.      Ketika pada masa ini, masalah-masalah baru bermunculan karena berbagai faktor dan peristiwa seperti perluasan Islam ke luar jazirah Arab, banyak orang-orang yang masuk Islam yang membawa budaya baru, yang menuntut kejelasan hukum.
2.      Kewenangan membuat hukum pada masa ini, dipelopori oleh Khulaf’u Rasyidin sebagai imam, dengan cara musyawarah dengan merujuk pada sumber utama.
3.      Fiqh Islam tidak ditetapkan secara total, tetapi hanya memberikan fatwa pada masalah yang benar-benar terjadi.
4.      Sumber yang digunakan pada masa ini ialah al-Quran, Sunah Rasulullah, ‘Ijma dan Ra’yu.
Demikianlah kesimpulan yang bisa kita ambil dari uraian singkat ini. Semoga bermanfaat.

REFERENSI
-          Al-‘Alwani, Taha Jabir Source Methodology in Islamic Jurisprudence (Usul al-Fiqh al-Islami), USA: International Institute of Islamic Thought, 1994
-          As-Sayis, Syekh Muhammad Ali, Tarikh al-Fiqh al-Islam (Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam), Jakarta: Akademika Pressindo, 1996
-          Ramulyo, Mohd. Idris, Asas-Asas Hukum Islam, Sejarah Timbul dan Berkembangnya Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 1997



[1] . Pemberian pahala ini dinyatakan Nabi SAW dalam sabdanya: “Apabila seorang hakim berijtihad dan ijtihadnya itu mengena (benar), maka ia mendapat dua pahala. Dan apabila ia berijtihad namun ijtihadnya itu salah, maka ia hanya mendapat satu pahala.” (HR. Muslim)
[2] . Syekh Muhammad ali-as-Sayis, Tarikh al-Fiqh al-Islam (Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam), (Jakarta: Akademika Pressindo, 1996), cet-I, halaman 58-60
[3] . Taha jabir al-‘alwani, Source Methodology in Islamic Jurisprudence (Usul al-Fiqh al-Islami), (USA: International Institute of Islamic Thought, 1994), h 20

[4] . Mohd. Idris Ramulyo, Asas-Asas Hukum Islam, Sejarah Timbul dan Berkembangnya Kedudukan Hukum Islam dalam Sistem Hukum di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 1997), Cet II, h 169-172

Visitor