Makalah Pengertian Thaharah dan Najiz

 

Makalah ini memaparkan Pengertian, Macam-macam Thaharah, Hadats, Najis dan Kotoran

Adapun secara istilah, Thaharah atau bersuci artiny menghilangkan hadats, najis, dan kotoran dengan air atau tanah yang bersih.


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar belakang
Hadas ialah istilah untuk hal-hal yang bisa menghalangi sahnya shalat seseorang. Atau dengan kata lain,hadas ialah kondisi yang menyebabkan seseorang tidak dapat melaksanakan shalat jika berada dalam keadaan tersebut,atau shalatnya batal jika kondisi itu terjadi saat shalat.
Dalam ilmu fikih,hadas dibagi menjadi dua macam yaitu hadas kecil dan hadas besar. Hadas kecil menyebabkan seseorang harus melaksanakan wudu untuk melaksanakan shalat. Sedangkan hadas besar menyebabkan seseorang melakukan mandi -oleh orang Indonesia dinamai dengan mandi besar- juga wudu jika akan melaksanakan shalat.
Junub,haid,dan nifas merupakan hal-hal yang menyebabkan hadas besar. Oleh karena itu,penting bagi umat islam mengetahui apa itu junub,haid,nifas,dan istihadhah serta bagaimana cara bersuci dari hadas besar.
2. Masalah dan Pembatasan Masalah
Pokok pembahasan dalam makalah ini ialah masalah junub, haid, nifas, dan istihadhah. Yang mana dalam pemaparannya nanti dibatasi pada definisi dikatakan junub ; perbedaan antara haid,nifas,dan istihadhah ; batas kapan seseorang bisa dianggap suci serta cara bersucinya ; dan hukum bagi orang junub, haid, dan nifas.
3. Tujuan
Tujuan dari pembahasan makalah ini ialah untuk membantu umat islam dalam memahami junub,haid,nifas,dan istihadhah. Juga mengenai hal-hal yang terkait dengan masalah tersebut seperti kapan seseorang dianggap sudah suci dari hadas besar tersebut,cara bersucinya dan hukum bagi orang yang mengalami hal-hal tersebut.




BAB II
PEMBAHASAN

I.     Pengertian Thaharah
     Thaharah secara lughawi (sematik ialah suci. Menurut istilah (terminologi) ahli fikih, thaharah ialah : menghilangkan sesuatu yang menjadi kendala bagi sahnya ibadah tertentu. Kendala-kendala ada yang sifat atau bendanya nyata sehingga dapat diketahui melalui indra, seperti benda-benda najis. Tetapi ada juga yang sifat atau bedanya tidak nyata (abstrak), seperti hadats-hadats.
Thaharah atau bersuci ialah membersihkan diri dari hadats, kotoran, dan najis dengan cara yang telah ditentukan, Firman Allah swt. Dalam surat Al-Baqarah:222
 إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri
A.    Macam – macam Thaharah
Thahharah dibagi dalam 2 bagian :
1. Suci dari hadats ialah bersuci dari hadats kecil yang dilakukan dengan wudhu atau tayamum, dan bersuci dari hadats besar yang dilakukan dengan mandi.
2. Suci dari najis ialah membersihkan badan, pakaian dan tempat dengan menghilangkan najis dengan air.
B.  Macam-Macam  Air
Air dibagi menjadi tiga :
1.    Air mutlak ialah air yang suci dan menyucikan hadats dan khobats (kotoran manusia dan air kencing) seperti air mengalir, sumber air, air sumur, air hujan, dan air yang diam (Ada dua macam air diam yakni air yang banyak dan air yang sedikit. Air yang banyak ialah air yang mencapai satu kurr).
2.    Air mudhaf ialah air yang suci tetapi tidak menyucikan hadats dan khobats (kotoran) seperti air buah-buahan (air jeruk, air anggur, air delima dll.), atau air yang telah dicampur dengan zat lain seperti air gula, air garam, air kopi, air bunga mawar dll.
3.    Air mutanajjis ialah air mutlak yang bersentuhan dengan benda-benda najis seperti, kotoran, kencing, darah dan lain-lain sehingga tidak suci dan menyucikan. Air mutlak yang sedikit ketika bersentuhan dengan benda najis, maka berubah menjadi mutanajjis, sekalipun tidak berubah salah satu sifatnya, yakni warna, bau dan rasanya. Sedangkan air mutlak yang banyak akan berubah menjadi mutanajjis jika bersentuhan dengan benda najis dan berubah salah satu sifatnya (baunya, rasanya, atau warnanya).
Demikian pula air mutlak lainnya (air yang mengalir, sumber air, air sumur dan air hujan) akan menjadi mutanajjis jika bersentuhan dengan benda najis dan berubah salah satu sifatnya.
Air diam yang bersambung dengan air yang mengalir dihukumi sama dengan air yang mengalir dalam arti air itu tidak menjadi mutanajjis jika bersentuhan dengan benda najis kecuali jika berubah salah satu sifatnya.
Yang dimaksud dengan air hujan di atas ialah air yang tengah turun dari langit atau yang terkumpul darinya di saat hujan turun.
Air musta’mal (air yang sudah terpakai) untuk wudhu’ masih suci dan menyucikan demikian pula yang musta’mal dari hadas besar (mandi wajib) suci dan menyucikan dari hadats dan khobats. Air musta’mal untuk khobats disebut “ghasalah” dan hukumnya mutanajjis.
catatan:
1 kurr kira-kira 374 liter. Kalau menggunakan jengkal tangan [normal] kira-kira panjang tiga setengah, lebar tiga setengah, dalam tiga setengan. [jengkal]






II.       PENGERTIAN NAJIS
Najis ialah kotoran yang wajib dijauhi oleh seorang muslim dan wajib dicuci jika terimpa najis tersebut.
Allah SWT berfirman :
y7t/$uÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ  
“Dan pakainmu bersiskanlah.” (Al-Muddaatstsir:4)
Dan Rosulullah SAW bersabda :
الطهور شطرالايمان
“Bersuci itu sebagaian dari iman.”

A.       MACAM-MACAM  NAJIS
Macam – macam najis dibagi 3 :
1. Najis mughallazhah (berat/besar), yaitu najis yang disebabkan sentuhan atau jilatan anjing dan babi. Cara menyucikannya ialah dibasuh 7x dengan air dan salah satunya dengan tanah.
2. Najis mukhaffafah (ringan), yaitu najis air seni anak laki – laki yang belum makan atau minum apa – apa selain ASI. Cara menyucikannya dipercikkan air sedangkan air seni anak perempuan harus dibasuh dengan air yang mengalir hingga hilang zat atau sifatnya.
3. Najis mutawassithah (pertengahan), yaitu najis yang ditimbulkan dari air kencing, kotoran manusia, darah,dan nanah. Cara menyucikkannya dibasuh dengan air di tempat yang terkena najis sampai hilang warna, rasa, dan baunya.








B.  MACAM – MACAM  BENDA  YANG  TERMASUK  NAJIS
1. Bangkai ; sesuatu yang mati secara alami, tanpa disembelih dengan nama Allah, sebagai mana firman Allah AWT :
@è% Hw ßÉ`r& Îû !$tB zÓÇrré& ¥n<Î) $·B§ptèC 4n?tã 5OÏã$sÛ ÿ¼çmßJyèôÜtƒ HwÎ) br& šcqä3tƒ ºptGøŠtB ÷rr& $YByŠ %·nqàÿó¡¨B ÷rr& zNóss9 9ƒÍ\Åz ¼çm¯RÎ*sù ê[ô_Í ÷rr& $¸)ó¡Ïù ¨@Ïdé& ÎŽötóÏ9 «!$# ¾ÏmÎ/ 4 Ç`yJsù §äÜôÊ$# uŽöxî 8ø$t/ Ÿwur 7Š$tã ¨bÎ*sù š­/u Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÊÍÎÈ  
“kecuali kalau makan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor.” (Al-an’am:145)
Sebagaimana pengecualian juga terhadap pada bangkai yang darahnya tidak mengalir seperti; semut, lebah, lalat kerbau, lalat biasa, kumbang, dll.maka semuanya ialah suci. Kecuali Asy-syafi’yah, mereka berpendapat : apabila binatang-binatang tersebut jatuh secara sengaja karena perbutan manusiadan jumlahnya banyak sehingga merubah sesuatu yang ada didalamnya, maka najis.

2. Darah: sama saja apakah darah itu mengalir atau darah haidh dan yang lainya. Najisnya darah sesuai dengan firman Allah SWT ;
@è% Hw ßÉ`r& Îû !$tB zÓÇrré& ¥n<Î) $·B§ptèC 4n?tã 5OÏã$sÛ ÿ¼çmßJyèôÜtƒ HwÎ) br& šcqä3tƒ ºptGøŠtB ÷rr& $YByŠ %·nqàÿó¡¨B ÷rr& zNóss9 9ƒÍ\Åz ¼çm¯RÎ*sù ê[ô_Í ÷rr& $¸)ó¡Ïù ¨@Ïdé& ÎŽötóÏ9 «!$# ¾ÏmÎ/ 4 Ç`yJsù §äÜôÊ$# uŽöxî 8ø$t/ Ÿwur 7Š$tã ¨bÎ*sù š­/u Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÊÍÎÈ  
“kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor.” (Al-An’am; 145)
Adapun najisnya darah haidh ialah, dari hadits asma binti Abu Bakar As-Siddiq.ra bahwa  Nabi Muhammad SWA bersabda tentang tentang darah yang mengenai baju,; “hendaklah dikerik darahnya, lalu digosok dengan air,kemudian shalatlah dengan memakai baju tersebut,”(mutafaq alih)
3. Nanah biasa dan nanah yang tercampur darah; maka keduanya ialah najis karena diqiyaskan kepada darah. Akan tetapi dimaafkan jika keduanya ialah sedikit, karena memang sangat sulit untuk menghindarinya.
4. muntah ; sama saja apakah itu muntah manusia atau bukan maka hukumnya najis. Sebagaimana dari Aisyah.ra sesungguhnya Rosulullah SAW bersabda: Apabila salah seorang diantara kamumuntah ketika sedang melaksanakan shalat maka segeralah pergi berwudhu.” (HR. Idnu Majah)

C. HUKUM MENGHILANGKAN NAJIS
Wajib hukumnya menghilangkan najis dari tubuh, baju,serta tempat orang yang akan shalat. Kecuali dimaafkan karena sulit untuk menghilangkan, dan berat menghindarinya.

Adapun dalilnya tentang baju orag yang akan shalat, hal ini sebagaimana firman Allah SWT,;
y7t/$uÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ  

dan pakaianmu bersihkan.”( Al-Muddatsir;4)
Adapun tentang tubuh, maka tubuh lebih layak untuk dibersikan dari pada baju yang tertera dalam ayat, adapun tentang tempat maka menghilangkan najis dimaksudkan agar memperindah suasana oarng yang akan shalat, suasana munajat dengan Tuhannya. Tempat sama pentingnya seperti baju.




D.  MENYUCIKAN NAJIS
1. Menyucikan baju dan tubuh jika terkena najis. Wajib hukumnya mencuci baju dan tubuh dengan air sampai najis benar-benar hilang dari keduanya, apabila najisnya telihat seperti darah dan sejenisnya.
2. Mencuci tanah/lantai. Membersihkan tanah/lantai, caranya dengan menyiramkan air seelah hilang inti najisnya. Hal ini sesuai dengan hadist dari Abu Hurairah.ra ia berkata,; “telah datang seorang Arab Badui kemudian dia kencing dilantai masjid, lalu para sahabat berdiri untuk memarahinya, maka Nabi SWA bersbda, “biarkanlah dia, dan siramlah kencingnya dengan air satu ember besar atau satu ember kecil, karena diutus kepada kalin semua untuk mempermudah bukan diutus untuk mempersulit kalian.”(HR.Al-Jamaah kecuali Muslim)
3. Membersihkan minyak samin (mentega) dan sejenisnya. Cara membersihkan minyak samin yag telah membeku ialah dengan diambil minyak yang najis dan sekelilingnya. Sebagaimana hadist dari ibnu Abbas.ra Bhwa Nabi SAW ditanya tentang seekor tikus yang jatuh kedalam minyak samin? Maka rosul menjawab ;”angkatlah tikus dan apa yang ada disekelilingnya, kemudian buang dan makanlah minyak saminnya.” (HR. Al-Bukhari).
4. Membersihkan kulit bangkai. Cara membersihkan kulit bangkai ialah dengan menyamaknya. Hal ini berdasarkan hadist dai Ibnu Abbas ra, Bahwa Nabi SAW bersabda” Apabila kulit disamak,maka dia telah menjadi suci.”
5. Membersihkan sesuatu yang mengkilap (kaca), dan setiap benda yang tidak memiliki pori-pori (lubang). Seperti cermin,pisau,kuku,tulang,kaca,dan bejana-bejana yang menkilap. Maka cara membersihkan alas kaki yang terkena najis ialah menyiramnya dengan air.



E. Batas Suci dan Cara Bersuci
Batas suci dari junub ialah setelah tidak mengeluarkan air mani.
Masa haid ialah masa dimana seorang wanita mengeluarkan darah haid. Penentuan masa haid berguna untuk menentukan kapan seorang wanita muslimat boleh dikatakan sudah suci dari darah haidnya, sehingga wanita muslimat tersebut dapat mengerjakan ibadah-ibadah agama Islam seperti biasanya.
Dalam hal ini, pendapat-pendapat para ulama tersebut yaitu :
1. Menurut Imam Malik, masa terpendek haid tidak terbatas, sedangkan masa terpanjang ialah 15 hari.
2. Menurut Imam Hanafi, masa terpanjang haid seorang wanita ialah 10 hari, sedangkan masa terpendeknya ialah 3 hari.
3. Menurut Imam Syafii, masa terpendeknya ialah sehari semalam atau dapat juga disebut selama 24 jam, sedangkan masa terpanjangnya ialah 15 hari 15 malam. Menurut kebiasaan seorang wanita yang berhaid ialah 6 hari 6 malan atau 7 hari 7 malam. Jadi, apabila haidnya 6 hari, maka batas sucinya ialah 24 hari.
Kadar terkecil dari darah nifas ialah setetes, atau satu gelombang aliran darah yang keluar. Masa paling lama seorang wanita mengalami nifas ialah 60 hari. Biasanya, seorang wanita mengalami nifas selama 40 hari. Semua ini berlandaskan penelitian. Ummu Salamah r.a. pernah menceritakan:
Artinya: Wanita-wanita yang mengalami nifas pada masa Rasulullah saw (biasanya) berdiam diri selama 40 hari (H.R. Abu Daud dan Turmudzi)
Sementara istihadhah bukanlah penyebab hadas besar. Seorang wanita tetap diwajibkan melaksanakan shalat, puasa bila ia mengeluarkan darah istihadhah.
Adapun cara bersuci dari junub, haid dan nifas ialah dengan mandi (ghusl). Mandi menurut syara ialah meratakan air pada seluruh badan untuk membersihkan/mengangkat hadas. Cara menghilangkan hadas besar dengan mandi wajib, yaitu membasuh seluruh tubuh mulai puncak kepala/ujung rambut hingga ujung kaki.
Fardhu/rukun mandi ialah sebagai berikut:
1. Niat, yakni menyengaja mandi untuk menghilangkan hadas besar. Niat sekurang-kurangnya dilakukan ketika akan mengerjakan amalan pada waktu pertama kali.
2. Membasuh seluruh badan dengan air Badan yang dibasuh dimulai dari ujung rambut ke ujung kaki. Saat mandi, seseorang harus yakin bahwa air yang ia siramkan ke seluruh badan meresap dan menyentuh permukaan kulit, meski ia tertutup oleh jenggot atau bulu lainnya.
 Sebagian ulama mengatakan bahwa sebelum menyirami seluruh badan dengan air, seseorang harus membersihkannya terlebih dahulu dari segala najis yang menempel, baru setelah itu ia bisa membasuh keseluruhan badan.
Adapun sunah-sunah mandi yaitu:
1. Membaca basmalah
2. Berwudu sebelum mandi
3. Menggosok badan dengan tangan
4. Menyilang-nyilangi rambut dan celah-celah anggota
5. Memulai membasuh kepala lalu membasuh anggota-anggota badan yang sebelah kanan dahulu
6. Membasuh anggota badan sebanyak tigakali
7. Beriring, yaitu tidak lama waktunya antara membasuh sebagian anggota yang satu dengan yang lainnya.




BAB III 
PENUTUP

1. Kesimpulan
Orang yang sedang mengalami junub, haid dan nifas tidak diperbolehkan mengerjakan shalat dan membaca al-Quran. Seorang wanita yang ketika berpuasa mengalami haid jadi ia harus menunda puasanya dan meng-qada pada hari lain saat sudah tidak sedang haid. Darah istihadhah suci tidak mengakibatkan seorang wanita meninggalkan shalat dan puasa.

2. Saran
Mengingat pentingnya bersuci sebelum melaksanakan ibada mahdhah, jadi dianjurkan untuk mempelajari fikih ibadah agar tidak sembarangan dalam melaksanakan ibadah.





DAFTAR PUSTAKA

 Rasjid, Sulaiman.2004.Fiqih Islam.Bandung.Sinar Baru Algensindo.
Ø
 Ridwan, T.2007.Memahami Fiqih.Sragen: Akik PustakaØ
 www.google.comØ



 



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
BAB I   PENDAHULUAN................................................................................. 1
BAB II  PEMBAHASAN................................................................................... 2
I. Pngertian Thaharah.............................................................................. 2
A. Macam-macam Taharah ................................................................ 2
B. Macam-macam Air........................................................................ 2
II. Pengertian Najis................................................................................. 4
A.  Macam-macam Najis..................................................................... 4
B.  Macam-macam benda yang termasuk Najis ................................. 5
C.  Hukum menghilangkan Najis ....................................................... 6
D.  Menyucikan Najis.......................................................................... 7
E.   Batas suci dan cara bersuci ........................................................... 8
BAB III   PENUTUP ......................................................................................... 10
ii
 
ii
 
DAFTAR PUSTAKA

Visitor